Showing posts with label Belajar Menjadi Ibu Profesional. Show all posts

Belajar Merencanakan Keuangan


Belajar Merencanakan Keuangan

Bismillahirrahmanirrahim

Kemarin ceritanya saya menghadiri seminar yang diadakan salah satu teman sekomunitas, Teh Nunuy FIM dengan CERIA (Cerita Ibu dan Anak). Tema seminar ini tentang Millenial Penakluk Dunia; Agama Melekat, Prestasi Melesat, Finansial Menguat. Duuh, berat ya temanya. Tapi justru karena berat itulah, saya jadi penasaran untuk datang. Apalagi kesempatan kali ini pembicaranya kece-kece. Ada Mbak Fanny Yulinda yang sudah terkenal sebagai finance advisor dan Mbak Dewi Nur Aisyah yang keren banget karena segudang prestasi akademiknya di samping menjadi ibu.

Nah, sekarang saya mau coba membagikan apa yang sedikit saya pahami tentang perencanaan keuangan yang disampaikan oleh Mbak Fany.

~~~

Kalau ditanya berapa penghasilan per bulan, setiap orang pasti bisa menjawab dengan cepat dan tepat. Lalu ketika ditanya berapa pengeluaran per bulan, sudah bisa dipastikan akan ada banyak yang bingung menjawabnya, mulai memperkirakan nominalnya, atau bahwa ada yang tidak bisa menjawab sama sekali. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya cuma satu. Karena kita tidak pernah merencanakan akan kemana uang kita setiap bulannya.

Hal ini juga terjadi kepada saya. Kadang tahu berapa jumpah pengeluaran, tapi lebih sering tidak tahunya. Ya itulah yang terjadi, karena saya dan mungkin juga buibu dan calon ibu yang membaca tulisan ini jarang bahkan tidak pernah merencanakan keuangan.

Perencanaan Keuangan?

Sebelum membahas panjang lebar tentang perencanaan keuangan, kita mesti tahu dulu nih apa itu perencanaan keuangan. Kalau dari penjelasan Mbak Fany simpelnya perencanaan keuangan itu adalah proses mencapai tujuan-tujuan keuangan kita. Jadi harus selalu ada perencanaan nih untuk setiap rupiah yang kita punya.

Terus rencana yang dimaksud itu yang seperti apa sih? Jadi, rencana keuangan yang dimaksud ini bukan tentang rencana mau beli apa dan mengeluarkan uang untuk apa ya. Hehehe. Tapi ini lebih kepada kemana perginya atau alokasi si uang ini sendiri. Mbak Fany bilang kalau setidaknya ada tiga hal yang berkaitan dengan perencanaan ini, yaitu manajemen kekayaan, manajemen asuransi, manajemen pesiun.

Nah loh, manajemen belajannya kok tidak ada? Tenang, buibu dan calon ibu. Manajemen belanja itu masuk ke dalam manajemen kekayaan kok. Nanti akan saya jabarkan sebatas pemahaman saya yang terbatas juga ya. Hihihihi.

Kenapa Merencanakan Keuangan?

Ini nih sebelumnya saya juga sering bingung kenapa harus direncanakan segala. Alasan yang diberikan Mbak Fany sangat masuk akal dan membantu saya meyakinkan diri lagi untuk rajin mengeek keuangan sebenarnya. Pertama, jelas karena faktor ekonomi di mana nilai uang semakin tahun semakin beda, harga kebutuhan pokok menaik cepat tapi penghasilan menaiknya lambat atau justru tetap alias gak naik. Duuuh!

Kedua adalah tentang kondisi-kondisi di luar kendali kita seperti ketika kita atau ada anggota keluarga yang sakit bahkan meninggal. Dan yang terakhir adalah karena kita cuma punya peluang mengendalikan pengeluaran, bukan pemasukannya. Hehe. Alasan terakhir ini miris sih tapi memang benar adanya >,<

Terus solusinya bagaimana dong? Harus hemat? Waah mengencangkan ikat pinggang demi hemat dan menahan diri kayaknya akan sangat sulit buat sebagian orang. Kalau harus gulung lengan baju untuk cari pemasukan tambahan pun kayaknya kurang efektif kalau kita tetap tidak mengatur pengeluaran. Jawaban sebenarnya adalah be wise spender!

Be wise spender mungkin jadi jawaban yang sangat muluk untuk kita yang masih belajar tentang perencanaan keuangan. Tapi kalau dipikir-pikir memang ini masalah kita yang sering kebablasan dengan pengeluaran; karena tidak bijak dengan uang. Kalau kata Mbak Fany, ini karena kita belum mengubah pandangan kita terhadap uang. Maksudnya adalah ketika kita menilai bahwa uang adalah segalanya yang membuat hidup ini bisa lebih mudah, lebih nyaman, sehingga kita bisa menikmati apapun sesuai keinginan kita. Minset seperti di atas inilah yang berbahaya, karena akhirnya kita malah memilih mengeluarkan uang karena gengsi, bukan karena benar-benar butuh.

“Money is not everything, but everything need money.”

Quote di atas bisa menjadi acuan kita bagaimana semestinya uang yang kita punya dialirkan. Wise spenders akan selalu memikirkan bagaimana mendapatkan kebutuhannya dengan nilai uang yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Dari sinilah nanti kita berangkat merencanakan keuangan kita.

Langkah-Langkah Perencanaan Keuangan

Sebelum merencanakan keuangan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah dengan melakukan financial check up. Apa lagi itu? Ini adalah tahapan kita mengenali keuangan kita sendiri selama ini atau sebelum kita belajar merencanakan keuangan. Untuk melakukan financial check up ini, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Bagi yang sudah menikah bisa dimulai dari menyepakati siapa yang akan mengatur keuangan keluarga untuk yang single, sudah tahulah ya pastinya akan mengurus keuangan dirinya sendiri. Langkah selanjutnya adalah cek semua pemasukan dan pengeluaran tetap dan tidak tetap kita setiap bulan.  Kemudian kita juga harus mengecek kekayaan yang kita punya. Kekayaan ini bisa dihitung dengan mengurangi aset yang kita punya dengan hutang-hutang yang sedang dicicil atau belum dibayar.

Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan keuangan. Bagian ini sifatnya jangka panjang dan kita harus tahu keuangan kita nanti akan dikeluarkan untuk apa saja. Semua yang tertulis dari tujuan keuangan ini harus disertai nominal dan jangka waktunya. Misalnya 2 tahun lagi punya Rp50.000.000 untuk menikah, 8 tahun lagi untuk naik haji sekeluarga Rp120.000.000, atau 10 tahun lagi punya Rp600.000.000 untuk membeli rumah dan kendaraan pribadi, dan sebagainya.

Setelah semua tujuan keuangan kita tertulis, barulah kita mulai mengatur perencanaan keuangan. Sebelum memulai langkah ini, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah semua yang tercatat harus relaistis. Dalam mengatur perencanaan keuangan ini sangat disarankan untuk membagi keuangan kita ke dalam beberapa pos disertai dengan persentase dari penghasilan tiap bulan. Contoh pos-pos pengeluaran yang umum adalah membagi pengeluaran ke pos sedekah 2.5%, tabungan dan dana darurat 10%, biaya hidup 40%, dan pos membayar hutang 30%. Persentase dari pos-pos ini adalah presentase yang sangat disarankan oleh Mbak Fany dan para financial advisor lainnya. Terutama untuk persentase biaya hidup dan pembayaran hutang ya, mohon jangan coba-coba melebihi persentase di atas :)

Untuk lebih jelasnya tentang langkah perencanaan keuangan di atas, Mbak Fany memberikan worksheet untuk peserta seminar yang bisa digunakan untuk mengatur keuangan bulanan. Worksheet ini sangat mudah dipahami menurut saya dan sangat membantu memetakan keuangan. Pada worksheet di bawah ini, ada kolom budget dan aktual. Pada kolom budget adalah dana yang kita punya untuk tipe pengeluaran tersebut dan sifatnya bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi keuangan bulanan kita. Sedangkan untuk kolom aktual adalah nilai realistis yang kita keluarkan pada bulan itu. Setelah itu barulah kita masukkan selisih dari budget dan aktual di kolom selisih. Di kolom selisih inilah kita bisa melihat apakah pengeluaran kita sesuai rencana, di bawah rencana, atau justru melebihi rencana.

Worksheet perencanaan keuangan

Tips and Tricks

Setelah tahu langkah-langkah perencanaan keuangan, ada beberapa tips dan tricks dari Mbak Fany yang disampaikan dan saya pikir sangat bermanfaat nih untuk diterapkan setidaknya oleh saya.

Pisahkan tabungan pribadi dan dana darurat. Awalnya saya bingung kenapa mesti dipisah, toh sama-sama tabungan saya. Ternyata ini terkait dengan tujuan dari uang itu sendiri. Tabungan akan tetap menjadi tabungan yang tidak akan digunakan sampai tujuan keuangan itu sendiri tercapai. Baca lagi bagian menetapkan tujuan keuangan  di atas ya :) Dan sedangkan dana darurat adalah dana yang bisa digunakan saat kondisi darurat sehingga tabungan pribadi kita tidak terganggu jika ada situasi yang tak terkendali.

Buat lebih dari satu rekening bank. Untuk rekening bank ini, Mbak Fany bilang kalau kita bisa membagi rekening ke dalam 3 jenis, yaitu rekening tabungan utuh (yang tidak boleh digunakan sama sekali), rekening dana darurat, dan rekening kebutuhan sehari-hari. Untuk rekening tabungan utuh sebaiknya jangan membuat kartu ATM-nya, karena toh tidak akan digunakan. Untuk rekening dana darurat, kita bisa tetap memiliki kartu ATM-nya tetapi sangat disarankan tidak pernah membawa kartu ATM-nya. Tapi jika tiga rekening dianggap terlalu banyak, kita bisa menggunakan dua rekening berbeda saja. Rekening pertama untuk tabungan dan dana darurat, rekening kedua untuk kebutuhan sehari-hari. Eh tapi peraturan kartu ATM tetap harus dijalankan ya. Kartu ATM untuk rekening tabungan dan dana darurat tetap tidak boleh dibawa berpergian.

Terakhir adalah tips dan tricks tentang arus masuk dan keluar uang. Jika ada pengeluaran tambahan, kita bisa mengakalinya dengan membuat penghasilan tambahan. Misalnya buibu dan calon buibu di sini membuat pos pengeluaran untuk salon dan pulsa dari penghasilan sampingan berupa online shop. Jadi, ada atau tidaknya pos untuk salon dan pulsa tergantung dengan penghasilan online shop tadi.

Kira-kira begitulah tentang perencanaan keuangan yang saya pahami dari pemaparan Mbak Fany. Semoga apa yang saya sampaikan ulang ini bisa dipahami buibu dan calon buibu yang membaca dan bisa diaplikasikan dengan baik. Allahumma aamiin. Untuk sesi kedua, sesi sharing bersama Mbak Dewi insya Allah tulisannya menyusul setelah ini ya ^^

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat dan menginspirasi dalam kebaikan.

@fatinahmunir | 24 Desember 2018


24 December 2018
Posted by Fatinah Munir

Review NHW MIIP #9: Berubah Atau Kalah



Berubah Atau Kalah

Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka. – HR Hakim.

Berubah adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau kita tidak pernah berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9 ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW #9, akan muncul berbagai perubahan kecil dari setiap lini kehidupan.

Andaikata hanya 10% saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan kecil menjadi gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar. Untuk itu kita perlu mencari yang namanya tipping point agar perubahan-perubahan yang kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.

The tipping point: the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change. –Malcolm Gladwell

Tipping point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan. Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference.

Tidak perlu orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan bunda lakukan. Kalau bisa dengan suami dan anak-anak sebagai satu tim, itu sudah cukup. Namun apabila tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan bunda, meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.

Dalam ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya, Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi sebuah ide atau gerakan.

Connector

Connector adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi. Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apa pun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk lebur dan bersosialisasi. Tidak hanya sekadar gaul dan kenal banyak orang,  connector juga harus punya sensitivitas untuk bertanya. “Siapa, ya, yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini?”atau “Bagaimana cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk berkolaborasi?”

Maven

Maven adalah mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti maven yang punya antusiasme dalam berbagi bisa menarik orang-orang ke sebuah gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.

Salesman

Salesman, tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu saja dibutuhkan untuk “menjual” apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan kemampuan mempersuasinya yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun, orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik dengan apa pun yang dibicarakannya.

Kebanyakan dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa menjual gagasan kita ke pihak lain, ada connector yang berpikir strategis untuk menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pintar dan senang berbagi.

Setiap orang punya tipping point. Titik di mana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, melainkan titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Selamat berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9

Lihatlah potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu, baru merambah ke luar.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional.

Sumber bacaan:

Malcolm Gladwell, Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference, 2000
Materi Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2018
Hasil Nice Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #4, 2018
14 August 2018
Posted by Fatinah Munir

NHW MIIP #9: Bunda Sebagai Agen Perubahan



Bunda Sebagai Agen Perubahan

Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar bunda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat.
Rumus yang dipakai adalah PASSION + EMPHATY = SOCIALVENTURE.

Socialventure adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social enterpreneur adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan enterpreneur. Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.

Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki, sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. Mulailah dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama ini. Apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dan membagikan sebuah solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain. Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan kita.
Setelah selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada di sekitar kita.
Bagaimana caranya? Buatlah table dengan tiga kolom yang berisi rumusan  PASSION,  EMPHATY , SOCIALVENTURE.

Selamat menjadi agen perubahan!

Everyone is a Changemaker
(Setiap orang adalah agen perubahan)

Salam Ibu Profesional
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Untuk menjawab tantangan kali ini, saya membuat draf saya sendiri terkait passion, emphaty, dan socialventure yang akan saya buat.

PASSION saya ada pada ​pendidikan autisme dan inklusi, literasi dengan hard skill dan soft skill​menulis juga mengajar.

EMPHATY yang saya punya berkaitan dengan social issue  ​penolakan pada anak berkebutuhan khusus (bully, takut mendekat atau didekati), anggapan disabilitas sebagai penyakit. Dampaknya anak berkebutuhan khusus kekurangan akses di lingkungan, sulit terlibat dalam lingkungan umum, dan sulit mandiri karena minim dukungan masyarakat. Maka sebagai sasaranya, saya membidik ​seluruh masyarakat awam, orang tua anak berkebutuhan khusus, dan guru umum.

SOCIALVENTURE yang saya buat adalah ​mensosialisasikan kedisabilitasan kepada masyarakat umum melalui platform media sosial, memberikan informasi dan bimbingan kepada orang tua anak berkebutuhan khusus dan guru umum. Ide ini terwujud dalam bentuk komunitas
bernama Kitainklusi.

Alhamdulillah, projek ini sedang berjalan dan sedang berproses untuk terus menjadi lebih baik agar bisa lebih bermanfaat buat masyarakat lebih luas. Kitainklusi ini bisa diakses melalui instagram @kitainklusi dan wesite www.kitainklusi.com. Berbagai pertanyaan mengenai kedisabilitasan bisa diajukan melalui email kitainklusi@gmail.com atau via DM instagram @kitainklusi.

@fatinahmunir | Jakarta, 14 Agustus 2018



Posted by Fatinah Munir

MIIP #9: Bunda Sebagai Agen Perubahan



Bunda Sebagai Agen Perubahan


Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.

Keberadaan Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena mendidik satu perempuan sama dengan mendidik satu generasi.

Maka apabila ada satu ibu membuat perubahan akan terbentuk perubahan satu generasi yaitu generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.

Darimanakah mulainya? Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang mungkin menjadi misi spesifik hidup kita. Kita harus paham jalan hidup kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai cara menuju sukses.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran pertama Bunda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi Change Maker Family. Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. Karena sejatinya amalan-amalan yang dicintai adalah amalan yang langgeng ( terus menerus) walaupun sedikit. 

Kalau di Jepang mereka mengenal pola Kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik). Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran kedua yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini, atau di negara ini. Lihatlah kemampuan Bunda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.

Start From The Emphaty

Inilah kuncinya. Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga, sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah emphaty maka tambahkan passion, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali solusi di masayarakat.

Keluarga tetap nomor pertama, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, lampu merah. Artinya bunda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.

Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan rasa tentram.

Salam,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber Bacaan :
Masaaki Ima, Kaizen Method, Jakarta , 2012
Ashoka Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty, 2010
Materi-materi hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016
Video di https://youtu.be/tDKZAKpH-GI


Posted by Fatinah Munir

Review NHW MIIP #8: Misi Hidup dan Produktivitas




Misi Hidup dan Produktivitas

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengerjakan NHW#7 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan NHW dan ada yang memang bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya ROAD MAP dalam kuliah kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya.

Pola BE-DO-HAVE yang kita gunakan ini akan membuka mindset kita terlebih dahulu akan sebuah makna produktif, kemudian mengerjakan sesuai dengan jalan hidupnya, dan akhirnya mendapatkan hasil dan pencapaian yang cocok antara kehendak kita dan kehendak Allah. Hal ini akan membuat bunda lebih mantap melangkah, apalagi kalau dihubungkan dengan pertanyaan NHW#8.

Pertanyaan di NHW #8 itu saling berkaitan, mari kita simulasikan berrsama, kemudian aplikasikan sesuai dengan diri bunda masing-masing.

Ambil satu saja dari aktivitaa yang Anda SUKA dan BISA. Misalnya memasak.

Mental seperti apa yang harus Anda miliki untuk menjadi seperti yang Anda inginkan? (BE) Misalnya sebagai seorang individu, Anda sudah memiliki prinsip, baik saja tidak cukup, kita mesti beda. Kemudian memiliki prinsip tidak mau sekedar memasak.

Apa yang harus Anda lakukan untuk menjadi seperti yang Anda harapkan? (DO) Misal saya mulai mencoba hal baru, termasuk resep baru setiap bulan. Sehingga muncul karya-karya unik. Saya sangat menyukai produk-produk gluten free, karena berkaitan dengan diri saya sendiri. Sehingga saya melakukan penelitian tentang prosuk makanan gluten free.

Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sudah memiliki yang Anda harapkan? (HAVE) Contohnya saya akan memiliki rumah "healthy food" , saya akan memiliki legacy dalam hidup saya ttg makanan "gluten free" ini sehingga anak Indonesia akan tumbuh dengan sehat tanpa bergantung dengan gandum.

Setelah itu kita susun langkah-langkahnya.

Life Time Purpose. Saya ingin memperjuangkan Indonesia Bebas Gandum, dengan mulai menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap gandum.


Strategic Planning. Dalam waktu 5 tahun ke depan saya ingin dikenal sebagai ahli gluten free, sehingga saya konsisten mempelajari hal tersebut mulai dar sekarang.

New Year Resolution. Dalam kurun waktu 2017-2018 ini saya ingin menerapkan program "One Month One Recipe" sehingga akan muncul 12 resep baru gluten free dalam 1 tahun ini, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarga di sekitar saya.

Apabila sampai sekarang Anda masih galau belum menemukan apa sebenarnya yang akan Anda lakukan, jangan khawatir. Mari kita kuatkan proses, karena proses itu HAK kita dan hasil itu HAK ALLAH.

Nah untuk lebih menguatkan proses, silakan buat list dan tempel di rumah, ada banyak contohnya di internet ya.

Ini contoh menguatkan BE-DO-HAVE mingguan sampai ketemu ranah produktivitas bunda. Tahapannya; ambil ranah yang Anda SUKA dan BISA dulu, simulasikan di form BE-DO-HAVE, susun lifetime purpose, strategic plan dan new year resolution, turunkan secara mingguan aktivitas-aktivitas yang harus Anda capai untuk bisa menjadi bunda produktif.

Demikian review NHW#8 silakan dicermati sekali lagi, karena ini akan menjadi pijakan untuk tahap berikutnya.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan :
David Y, The "Be Do Have" Paradigm, Avenue South, 2013
Tim Matrikulasi IIP, Misi dan Produktivitas, 2018
Hasil Nice Homework #8, peserta Matrikulasi IIP Batch #5

Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

@fatinahmunir | 25 Juli 2018




25 July 2018
Posted by Fatinah Munir

NHW MIIP #8: Misi Hidup dan Produktivitas



Misi Hidup dan Produktivitas

Bunda, setelah di materi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sebagai berikut:

Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan BE-DO-HAVE ini. Mental seperti apa yang harus anda miliki untuk menjadi seperti yang anda inginkan ? (BE) Apa yang harus anda lakukan untuk menjadi seperti yang anda harapkan ? (DO) Apa yang akan anda lakukan apabila anda sudah memiliki yang anda harapkan? (HAVE)

Perhatikan 3 aspek dimensi waktu berikut dan isilah. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution) Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulsi IIP

***

Agak kurang semangat sebenarnya melewati pekan kedelapan di kelas matrikulasi ini. Bukan karena materinya yang tidak menarik, tapi saya pikir karena masalah dari dalam diri saya sendiri. Bahkan semangat ini mengendur di hampir setiap aktivitas saya, kecuali saat sudah di kelas, di depan murid-murid besar saya. Alhamdulillah semangatnya masih sama seperti sebelum-sebelumnya, masih stabil. Setelah sediit saya telisik, sepertinya semangat yang mengendur untuk ikut kelas IIP, mengerjakan tugas, dan mengerjakan hal lainnya ini karena kesehatan saya yang beberapa hari lalu menurun.
Alasan lainnya karena tampaknya saya rindu aktivitas saya yang dulu, mengikuti berbagai aktivitas di luar rumah, bertemu banyak orang. Di bandingkan dengan sekarang, saya memilih menghabiskan banyak waktu untuk berdiam diri di dalam rumah bersama ibu dan kakak. Tapi hasilnya saya merasa tidak melakukan apa-apa dan ingin bertemu banyak orang, meskipun saya tidak selalu terlibat dan menjadi pusat perhatian di sana.

Well, bismillah! Setelah membaca review tugas sebelumnya, membaca materi baru dan resume diskusinya, membaca tugas dan diskusinya, lalu membaca lagi tugas saya sebelumnya di NHW #7, saya tutup dengan membuka beberapa referensi di internet tentang tugas kali ini. Fiuh! Semuanya saya lakukan dengan separuh hati dan badan. T_T Hiks. Maafkan saya, Uni Trisa. Saya akan coba membuat tugas kedelapan ini!

\(T_T )/~~~

Setelah di materi sebelumnya tentang produktivitas sekarang saatnya berlatih menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga di NHW #8 ini. Untuk mengerjakan tugas ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkan misi hidup ini secara teknis sebagai berikut.

Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah ditulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)

Agak sulit memilih satu aktivitas yang saya suka dan saya bisa. Huhuhu T_T saya suka semua yang saya suka. Apalagi semuanya berhubungan untuk mencapai misi hidup saya. Jadi menulis dua hal di sini. Saya harap dua hal ini bisa saya maksimalkan hingga menembus batas saya. Saya memilih mengajar murid autisme dan menulis hal-hal berkaitan dengan autisme dan pendidikan khusus.

Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini!
Mental seperti apa yang harus kamu miliki untuk menjadi seperti yang kamuinginkan ? (BE)

Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan tugas sebelum-sebelumnya, saya ingin menjadi seorang pendidik murid-murid autisme yang professional, yang bisa mengembangkan metode pendidikan, pengajaran, dan pendampingan. Saya ingin melakukan banyak penelitian terkait keautistikan dan menulis banyak buku tentang hal ini.

Karena saya ingin menjadi seorang pendidik, peneliti, sekaligus penulis, saya pikir saya harus memiliki kemampuan mengajar yang baik agar saya bisa menjadi seorang pendidik yang tidak hanya mengedepankan jenjang karier. Untuk menjadi seorang pendidik sekaligus peneliti, saya harus memiliki kemampuan mengobservasi setiap anak dengan cermat. Untuk membersamai murid-murid autisme, kemampuan ini memang sangat dibutuhkan berkali-kali lipat dengan kemampuan berkali-kali lipat juga dibandingkan dengan mengajar murid-murid umum. Terlebih lagi dalam penelitian, saya pikir saya sangat perlu memiliki kemampuan ini, mengobservasi dengan cermat dan apik.

Selanjutnya setelah mendidik dan meneliti, saya perlu memiliki kemampuan menulis dengan terstruktur untuk tujuan ilmiah maupun menulis dengan bahasa ringan. Kedua kemampuan ini guna untuk menyampaikan segala temuan saya selama di kelas dan untuk memaparkan hasil observasi. Kemampuan menulis secara terstruktur membantu saya menuliskan penelitian dengan baik, sedangkan kemampuan menulis dengan bahasa ringan yang saya miliki akan sangat membantu banyak orang tua dan masyarakat awam memahami keautistikan melalui tulisan saya.

Apa yang harus kamu lakukan untuk menjadi seperti yang kamuharapkan ? (DO)

Untuk menjadi seorang pendidik professional dan memiliki tiga kemampuan yang saya tuliskan di bagian “Be”di atas, saya sadar akan ada banyak hal yang harus saya lakukan. Beberapa hal ini saya sadari juga adalah hal yang harus saya perjuangkan prosesnya. Tidak akan mudah, tapi saya harus melewatinya. Semoga Allah SWT Melancarkan! Allahumma amiin.

Pertama saya harus meningkatkan jam terbang saya dalam mengajar. Sudah lama saya memutuskan hanya akan mengajar di satu tempat saya, yakni di tempat sekarang saya mengajar. Saya sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran les private atau semacamnya, karena saya ingin menyisihkan waktu untuk keluarga dan mengembangkan diri di bidang lainnya. Oleh karena hal ini, saya harus memaksimalkan waktu saya di kampus untuk membersamai murid-murid besar saya. Di samping itu saya harus banyak membaca buku dan journal untuk memperbaharui pengetahuan saya di bidang pendidikan. Saya juga harus mengikuti berbagai diskusi pendidikan dalam bentuk seminar ataupun open discussion di offline dan online.

Kedua, bersamaan dengan ini saya juga harus memaksimalkan kemampuan saya untuk mengamati setiap murid besar saya. Kendati hanya 5 hari sepekan dan membersamai keseluruhan 45 murid besar, saya harus memaksimalkan waktu dan kemampuan saya untuk mengobservasi keunikasn setiap keunikan mereka, menemukan minat, bakat, kesukaan, ketidaksukaan, dan kebutuhan mereka secara beriringan. Tidak hanya untuk mendukung kemampuan saya mengajar, kemampuan observasi ini sangat saya butuhkan untuk melakukan penelitian saya nantinya.

Ketiga, yang harus saya lakukan adalah menulis setiap hari.Saya harus menulis satu tulisan per hari. Tulisan yang saya buat bisa berupa tentang murid saya yang berdasarkan hasil observasi, berupa artikel pendidikan autisme, ataupun terjemahan dari artikel yang say abaca. Satu tulisan per hari ini akan saya posting di blog pribadi saya. Untuk tulisan yang belum siap dipublikasikan, saya akan merapikannya untuk diposting esok harinya.

Keempat, melanjutkan kuliah di luar negeri dan melakukan banyak penelitian. Bagian ini adalah hal yang sangat saya dambakan dan nantikan pelaksanaannya. Kenapa harus di luar negeri? Karena sedikit sekali universitas yang mengadakan sekolah master untuk pendidikan khusus. Hanya ada dua universitas se-Indoensia. Di samping itu, lebih banyak referensi yang dapat saya gunakan jika saya melanjutkan kuliah di luar negeri. Seperti buku-buku dan jurnal penelitian yang lebih banyak dan lebih mudah diakses, pusat-pusat pelayanan pendidikan khusus yang tersedia di luar negeri, dan juga asosiasi peneliti yang sebidang dengan ilmu saya juga sangat aktif di luar Indonesia.

Hah! Entah kenapa kalau berbicara tentang hal ini seperti ada yang bergerak di hati saya, seperti ada yang tumbuh. Semakin lama membicarakan hal ini, sesuatu itu akan semakin tumbuh dan membuat dada saya penuh sesak. Agak sulit dideskripsikan seberapa besar keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Saya hanya bisa mengatakan kalau saya yakin suatu hari nanti saya bisa melakukan hal ini, kuliah luar negeri, di University of Tsukuba, Jepang, ataupun di University of Birmingham, Inggris. Insya Allah!

Apa yang akan kamu lakukan apabila sudah memiliki yang kamu harapkan? (HAVE)

Setelah menjadi pendidik professional, masih sama seperti yang pernah saya jabarkan di tugas sebelumnya, saya ingin mendirikan pusat pelayanan berbasis al-Qur’an untuk autisme baik yang anak-anak ataupun dewasa. Di dalam pusat pelayanan inilah terdapat pelayanan pendidikan dan pelatihan untuk autisme dengan pendekatan al-Qur’an. Bismillah!

Yang ingin dicapai dalam kurun waktu kehidupan (lifetime purpose)

Dalam hidup ini ada tiga hal yang ingin saya capai sesuai dengan Learning Design yang saya buat di NHW #5 lalu. Ketiga hal itu adalah menjadi seorang pendidik professional untuk murid autisme, menjadi ibu professional bersama dengan teman-teman Institute Ibu Profesional, dan menjadi penghuni surga bersama keluarga saya tercinta.

Yang ingin dicapai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan (strategic plan)

Untuk mencapai dan menjadi sesuai dengan harapan saya, dalam 5-10 tahun ke depan saya ingin melakukan:

·         Melakukan research mandiri
·         Melakukan beberapa research sebagai research student di University of Tsukuba
·         Lulus master pendidikan dari University of Tsukuba
·         Menjadi dosen pendidikan autisme
·         Menerbitkan journal penelitian
·         Menerbitkan buku pendidikan khusus (minimal 3 buku)
·         Menerbitkan buku terjemahan pendidikan khusus (minimal 3 buku)
·         Mendirikan lembaga pelayanan pendidikan autisme bersama beberapa rekan pendidik autisme

Yang ingin dicapai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)

·         Menikah, agar segera terlaksana misi menjadi ibu professional. Hehehe ^^
·         Menulis 1 artikel per hari
·         Menerbitkan 1 buku pendidikan khusus
·         Mengadakan kelas guru setiap bulan bersama kitainklusi
·         Lolos beasiswa research student di University of Tsukuba


Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH

***

Seperti biasa, untuk teman-teman pembaca yang ingin lebih mengerti tentang NHW ini, di bawah ini saya menampilkan resume dari diskusi yang kami lakukan di kelas.

Resume Diskusi NHW #8

Pertanyaan 1

Bagaimana jika aktivitas di kuadran suka dan bisa sangat bertolak belakang dengan kesibukan yg selama ini kita jalani. Misalkan saat ini kita sibuk mengurus online shop tetapi di kuadran suka bisa, kita ingin melakukan kegiatan bakti sosial. Mana yang didahulukan atau di pelajari lebih dulu? Bagaimana cara mengatur waktunya? Terimakasih.

Jawaban 1

Kuncinya adalah manajemen waktu, Mbak :)

Sediakan waktu untuk mengurus online shop dan melakukan kegiatan bakti sosial, bisa juga melakukan kegiatan bakti sosial di hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mengajak keluarga untuk ikut berpartisipasi agar bisa bersama sama keluarga mengisi waktu luang dengan kegiatan positif :)

Pertanyaan 2

Bun, yang lifetime purpose itu apakah sesuatu yang sifatnya sudah fixed atau tidak berubah-ubah lagi atau bisa berubah sewaktu-waktu. Misalnya karena faktor tertentu? Terimakasih.

Jawaban 2

Kita hanya bisa merencanakan, Mbak :) Allah yang menentukan. Jadi sangat ada kemungkinan berubah sewaktu waktu karena beberapa faktor.

Pertanyaan 3

Uni, mau tanya tentang pertanyaan bagian C nomor 1. Ini jawabannya harus konkrit atau abstrak ya? Maksud saya pasti semua ibu-ibu di sini tujuan kehidupan di akhirnya ingin jadi ibu dan istri yang sukses, bahagia, solehah, dan lainnya yang sebenarnya sulit terukur. Atau yang dimaksud jawaban konkrit bahwa nanti di akhir umur saya ingin ada legacy berupa hal yang terlihat jelas gitu semacam; sekolah untuk anak-anak kurang mampu atau punya perusahaan konveksi atau bakery atau apa gitu sesuai poin yang dipilih sebelumnya. Soalnya saya sering jawab hal-hal abstrak, eh, ternyata maksudnya hal-hal konkrit hahaha. Mohon pencerahannya.

Jawaban 3

Konkrit, Mbak. Detail dan bisa dicapai.

Iya, contohnya punya atau membuat sekolah untuk anak - anak yang kurang mampu, dan sebagainya.

Pertanyaan 4

Saya mau Tanya di poin a dan b. Apakah harus ambil salah satu ranah yang suka dan bisa.
Bagaimana jika dua atau lebih apakah boleh?

Jawaban 4

Saat ini ambil salah satu dulu, Mbak. Kalau kata Bu Septi one bit a time, seriusan satu hal dulu sampai selesai, baru pindah ke ranah lainnya.

@fatinahmunir | 25 Juli 2018
Posted by Fatinah Munir

MIIP #8: MIsi Spesifik Hidup dan Produktivitas



Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas

Bunda, perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi materi pokok di kelas bunda produktif. Sebelumnya kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Be Professional, Rejeki will Follow

Tagline Ibu Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.

“Rejeki will follow’ bisa dimaknai bahwa rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.

Uang Akan Mengikuti Sebuah Kesungguhan, Bukan Bersungguh-Sungguh Karena Uang

Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh ( usia 14 tahun ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang disebut sebagai (mid-life crisis). 

Maka sekarang, jalankan saja yang anda BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.

Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tsb apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar, energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek, rasa ingin tahunya tinggi sehingga membuat semangat belajar tinggi, imunitas tubuh naik sehingga jarang sakit karena bahagia itu imunitas tubuh yang paling tinggi.

Ada 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas. Kita harus menjadi (memiliki mental) seperti orang yang kita harapkan (be). Kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya kita lakukan (do). Kita mempunyai semua yang kita inginkan (have)

Dari aspek dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution).

Setelah mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir memang harus diubah. Berikutnya mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Buatlah prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”. 

Demikian sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka diskusi dan nanti kami akan lebih detilkan materi ini secara real di NHW #8 berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di NHW #7.

Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi IIP

Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA PRODUKTIF, 2014
Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif, 2016
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda produktif, Salatiga, 2015

Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional

***

Resume Diskusi Materi #8

Pertanyaan 1

Saya belum paham yang dimaksud dengan 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas. Bisa dijelaskan dengan contohnya, Uni Trisa?

Jawaban 1

Saya langsung mencontohkan aja ya, Mbak.

Be (kita ingin menjadi apa). pengajar untuk anak anak kita atau masyarakat

Do (kita ingin melakukan apa). Belajar untuk menambah ilmu (belajar apa saja?) Mengajar (mengajar apa, mengajarnya siapa, mengajarnya di mana saja, dan lain-lain),  memberikan motivasi untuk anak anak  atau masyarakat, dan lainnya.

Have (kita ingin memiliki apa).
Ingin punya modul ajar sendiri, ingin punya sekolah, dan sebagainya.

Pertanyaan 2

Bagaimana bila kita sudah menetapkan 3 periode yg ingin kita capai, namun di pertengahan jalan kita berubah pikiran atau berubah tujuan. Apakah harus mengulang periode tersebut dari awal atau bisa dilanjutkan saja?

Jawaban 2

Coba pikirkan kembali dan evaluasi terlebih dahulu, apa yang membuat kita berubah pikiran. Jika memang mengharuskan kita untuk merubah tujuan, kita bisa mulai lagi dengan tujuan yang baru. Tapi yang lama jangan langsung ditinggal begitu saja, selesaikan dulu jika ada target yang harus diselesaikan. Misalnya, saya punya target bisa karate. Di tengah jalan, tiba-tiba saya ingin berpindah haluan ke berenang. Saya harus menyelesaikan karate dulu sampai satu tahap (misal sabuk kuning), baru pindah haluan. Atau saya punya target membuat  buku, di tengah jalan saya memutuskan  untuk jadi blogger saja. Saya harus menyelesaikan buku yang sedang dibuat tersebut, baru pindah haluan.

Hal ini mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas pilihan yg kita ambil. Jadi tidak mudah berpindah haluan jika tidak alasan yang sangat kuat.

Harus mengulang atau dilanjutkan? Tergantung situasi saat itu mba. Jika masih berhubungan, lanjutkan. Tapi jika berubah sama sekali, mengulang dari awal. Namun, yakinlah apa yang kita lakukan sebelumnya tidak ada yang sia-sia. Minimal hal yang telah berlalu, dapat  membentuk pola pikir kita.

Misalnya, saya jurusan teknik, tapi saat lulus kuliah saya malah beralih ke dunia anak. Setelah saya pikir pikir, ternyata jurusan teknik membentuk pola pikir saya untuk bekerja secara sistematis dalam keseharian. Jadi, tidak ada hal sia sia dari apa yg kita kerjakan di masa lampau. Selalu ada benang merahnya. Kalau Bu Septi menyebutnya the connection.

Pertanyaan 3

Bagaimana jika aktivitas suka dan bisa kita rasa jauh hubungannya dengan misi hidup yang sebelumnya kita tentukan. Lalu apa yang mendasari Mbak Trisa menentukan misi hidup? Saya suka sekali kalo urusan dengan keadministrasian (pencatatan, filling dokumen). Apa ya peran lebih yang bisa saya ambil selama berkegiatan di rumah?

Jawaban 3

Bisa dimulai mengadministrasikan kegiatan anak di rumah, Mbak. Setiap malam, catat apa saja yang dilakukan anak, adakah perkembangannya dari hari ke hari, setiap minggu evaluasi bersama anak. Sudah melakukan apa ya kita minggu kemarin, apa yg kita pelajari seminggu kemaren (semuanya di catat). Minggu depan kita akan melakukan apa ya.

Buatkan tabel khusus seperti input data di kantor. Jika konsisten selama setahun, dua tahun, tiga tahun dan seterusnya, mba bisa lihat hasilnya. Nanti bisa dishare ke teman-teman bagaimana mencatat atau mendokumentasikan kegiatan anak dengan baik.

Tidak hanya dengan anak, bisa dengan diri sendiri, atau orang lain. Setelah itu mungkin bisa menulis, merancang aplikasi yang berhubungan dengan administrasi dalam rumah, dan lainnya.

@fatinahmunir | 25 Juli 2018

Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -