Showing posts with label Belajar Menjadi Ibu Profesional. Show all posts
Belajar Merencanakan Keuangan
Belajar Merencanakan Keuangan
Bismillahirrahmanirrahim
Kemarin ceritanya saya menghadiri seminar yang diadakan salah
satu teman sekomunitas, Teh Nunuy FIM dengan CERIA (Cerita Ibu dan Anak). Tema
seminar ini tentang Millenial Penakluk
Dunia; Agama Melekat, Prestasi Melesat, Finansial Menguat. Duuh, berat ya
temanya. Tapi justru karena berat itulah, saya jadi penasaran untuk datang.
Apalagi kesempatan kali ini pembicaranya kece-kece. Ada Mbak Fanny Yulinda yang
sudah terkenal sebagai finance advisor dan Mbak Dewi Nur Aisyah yang keren
banget karena segudang prestasi akademiknya di samping menjadi ibu.
Nah, sekarang saya mau coba membagikan apa yang sedikit
saya pahami tentang perencanaan keuangan yang disampaikan oleh Mbak Fany.
~~~
Kalau ditanya berapa penghasilan per bulan, setiap orang
pasti bisa menjawab dengan cepat dan tepat. Lalu ketika ditanya berapa
pengeluaran per bulan, sudah bisa dipastikan akan ada banyak yang bingung
menjawabnya, mulai memperkirakan nominalnya, atau bahwa ada yang tidak bisa
menjawab sama sekali. Kenapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya cuma satu. Karena
kita tidak pernah merencanakan akan kemana uang kita setiap bulannya.
Hal ini juga terjadi kepada saya. Kadang tahu berapa
jumpah pengeluaran, tapi lebih sering tidak tahunya. Ya itulah yang terjadi,
karena saya dan mungkin juga buibu dan calon ibu yang membaca tulisan ini
jarang bahkan tidak pernah merencanakan keuangan.
Perencanaan
Keuangan?
Sebelum membahas panjang lebar tentang perencanaan
keuangan, kita mesti tahu dulu nih apa itu perencanaan keuangan. Kalau dari
penjelasan Mbak Fany simpelnya perencanaan keuangan itu adalah proses mencapai
tujuan-tujuan keuangan kita. Jadi harus selalu ada perencanaan nih untuk setiap
rupiah yang kita punya.
Terus rencana yang dimaksud itu yang seperti apa sih?
Jadi, rencana keuangan yang dimaksud ini bukan tentang rencana mau beli apa dan
mengeluarkan uang untuk apa ya. Hehehe. Tapi ini lebih kepada kemana perginya
atau alokasi si uang ini sendiri. Mbak Fany bilang kalau setidaknya ada tiga
hal yang berkaitan dengan perencanaan ini, yaitu manajemen kekayaan, manajemen
asuransi, manajemen pesiun.
Nah loh, manajemen belajannya kok tidak ada? Tenang,
buibu dan calon ibu. Manajemen belanja itu masuk ke dalam manajemen kekayaan
kok. Nanti akan saya jabarkan sebatas pemahaman saya yang terbatas juga ya.
Hihihihi.
Kenapa
Merencanakan Keuangan?
Ini nih sebelumnya saya juga sering bingung kenapa harus
direncanakan segala. Alasan yang diberikan Mbak Fany sangat masuk akal dan
membantu saya meyakinkan diri lagi untuk rajin mengeek keuangan sebenarnya. Pertama,
jelas karena faktor ekonomi di mana nilai uang semakin tahun semakin beda,
harga kebutuhan pokok menaik cepat tapi penghasilan menaiknya lambat atau
justru tetap alias gak naik. Duuuh!
Kedua adalah tentang kondisi-kondisi di luar kendali kita
seperti ketika kita atau ada anggota keluarga yang sakit bahkan meninggal. Dan yang
terakhir adalah karena kita cuma punya peluang mengendalikan pengeluaran, bukan
pemasukannya. Hehe. Alasan terakhir ini miris sih tapi memang benar adanya >,<
Terus solusinya bagaimana dong? Harus hemat? Waah mengencangkan
ikat pinggang demi hemat dan menahan diri kayaknya akan sangat sulit buat
sebagian orang. Kalau harus gulung lengan baju untuk cari pemasukan tambahan
pun kayaknya kurang efektif kalau kita tetap tidak mengatur pengeluaran. Jawaban
sebenarnya adalah be wise spender!
Be wise spender mungkin jadi jawaban yang sangat muluk
untuk kita yang masih belajar tentang perencanaan keuangan. Tapi kalau
dipikir-pikir memang ini masalah kita yang sering kebablasan dengan
pengeluaran; karena tidak bijak dengan uang. Kalau kata Mbak Fany, ini karena
kita belum mengubah pandangan kita terhadap uang. Maksudnya adalah ketika kita
menilai bahwa uang adalah segalanya yang membuat hidup ini bisa lebih mudah,
lebih nyaman, sehingga kita bisa menikmati apapun sesuai keinginan kita. Minset
seperti di atas inilah yang berbahaya, karena akhirnya kita malah memilih
mengeluarkan uang karena gengsi, bukan karena benar-benar butuh.
“Money
is not everything, but everything need money.”
Quote di atas bisa menjadi acuan kita bagaimana
semestinya uang yang kita punya dialirkan. Wise spenders akan selalu memikirkan
bagaimana mendapatkan kebutuhannya dengan nilai uang yang sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhannya. Dari sinilah nanti kita berangkat merencanakan
keuangan kita.
Langkah-Langkah
Perencanaan Keuangan
Sebelum merencanakan keuangan, hal pertama yang harus
kita lakukan adalah dengan melakukan financial
check up. Apa lagi itu? Ini adalah tahapan kita mengenali keuangan kita
sendiri selama ini atau sebelum kita belajar merencanakan keuangan. Untuk
melakukan financial check up ini, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan.
Bagi yang sudah menikah bisa dimulai dari menyepakati siapa yang akan mengatur
keuangan keluarga untuk yang single, sudah tahulah ya pastinya akan mengurus
keuangan dirinya sendiri. Langkah selanjutnya adalah cek semua pemasukan dan pengeluaran tetap dan tidak tetap kita setiap bulan.
Kemudian kita juga harus mengecek
kekayaan yang kita punya. Kekayaan ini bisa dihitung dengan mengurangi aset
yang kita punya dengan hutang-hutang yang sedang dicicil atau belum dibayar.
Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan keuangan. Bagian ini sifatnya jangka panjang dan kita
harus tahu keuangan kita nanti akan dikeluarkan untuk apa saja. Semua yang
tertulis dari tujuan keuangan ini harus disertai nominal dan jangka waktunya. Misalnya
2 tahun lagi punya Rp50.000.000 untuk menikah, 8 tahun lagi untuk naik haji
sekeluarga Rp120.000.000, atau 10 tahun lagi punya Rp600.000.000 untuk membeli
rumah dan kendaraan pribadi, dan sebagainya.
Setelah semua tujuan keuangan kita tertulis, barulah kita
mulai mengatur perencanaan keuangan.
Sebelum memulai langkah ini, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah
semua yang tercatat harus relaistis.
Dalam mengatur perencanaan keuangan ini sangat disarankan untuk membagi
keuangan kita ke dalam beberapa pos disertai dengan persentase dari penghasilan
tiap bulan. Contoh pos-pos pengeluaran yang umum adalah membagi pengeluaran ke
pos sedekah 2.5%, tabungan dan dana darurat 10%, biaya hidup 40%, dan pos
membayar hutang 30%. Persentase dari pos-pos ini adalah presentase yang sangat
disarankan oleh Mbak Fany dan para financial advisor lainnya. Terutama untuk
persentase biaya hidup dan pembayaran hutang ya, mohon jangan coba-coba
melebihi persentase di atas :)
Untuk lebih jelasnya tentang langkah perencanaan keuangan
di atas, Mbak Fany memberikan worksheet untuk peserta seminar yang bisa
digunakan untuk mengatur keuangan bulanan. Worksheet ini sangat mudah dipahami
menurut saya dan sangat membantu memetakan keuangan. Pada worksheet di bawah
ini, ada kolom budget dan aktual. Pada kolom budget adalah dana yang kita punya
untuk tipe pengeluaran tersebut dan sifatnya bisa berubah-ubah sesuai dengan
kondisi keuangan bulanan kita. Sedangkan untuk kolom aktual adalah nilai
realistis yang kita keluarkan pada bulan itu. Setelah itu barulah kita masukkan
selisih dari budget dan aktual di kolom selisih. Di kolom selisih inilah kita
bisa melihat apakah pengeluaran kita sesuai rencana, di bawah rencana, atau
justru melebihi rencana.
![]() |
| Worksheet perencanaan keuangan |
Tips and Tricks
Setelah tahu langkah-langkah perencanaan keuangan, ada
beberapa tips dan tricks dari Mbak Fany yang disampaikan dan saya pikir sangat
bermanfaat nih untuk diterapkan setidaknya oleh saya.
Pisahkan tabungan
pribadi dan dana darurat. Awalnya saya bingung kenapa mesti dipisah, toh
sama-sama tabungan saya. Ternyata ini terkait dengan tujuan dari uang itu
sendiri. Tabungan akan tetap menjadi tabungan yang tidak akan digunakan sampai
tujuan keuangan itu sendiri tercapai. Baca lagi bagian menetapkan tujuan
keuangan di atas ya :) Dan sedangkan
dana darurat adalah dana yang bisa digunakan saat kondisi darurat sehingga
tabungan pribadi kita tidak terganggu jika ada situasi yang tak terkendali.
Buat lebih dari
satu rekening bank. Untuk rekening bank ini, Mbak Fany bilang kalau kita
bisa membagi rekening ke dalam 3 jenis, yaitu rekening tabungan utuh (yang
tidak boleh digunakan sama sekali), rekening dana darurat, dan rekening
kebutuhan sehari-hari. Untuk rekening tabungan utuh sebaiknya jangan membuat
kartu ATM-nya, karena toh tidak akan digunakan. Untuk rekening dana darurat,
kita bisa tetap memiliki kartu ATM-nya tetapi sangat disarankan tidak pernah
membawa kartu ATM-nya. Tapi jika tiga rekening dianggap terlalu banyak, kita
bisa menggunakan dua rekening berbeda saja. Rekening pertama untuk tabungan dan
dana darurat, rekening kedua untuk kebutuhan sehari-hari. Eh tapi peraturan
kartu ATM tetap harus dijalankan ya. Kartu ATM untuk rekening tabungan dan dana
darurat tetap tidak boleh dibawa berpergian.
Terakhir adalah tips dan tricks tentang arus masuk dan keluar uang. Jika
ada pengeluaran tambahan, kita bisa mengakalinya dengan membuat penghasilan
tambahan. Misalnya buibu dan calon buibu di sini membuat pos pengeluaran untuk
salon dan pulsa dari penghasilan sampingan berupa online shop. Jadi, ada atau
tidaknya pos untuk salon dan pulsa tergantung dengan penghasilan online shop
tadi.
Kira-kira begitulah tentang perencanaan keuangan yang
saya pahami dari pemaparan Mbak Fany. Semoga apa yang saya sampaikan ulang ini
bisa dipahami buibu dan calon buibu yang membaca dan bisa diaplikasikan dengan
baik. Allahumma aamiin. Untuk sesi kedua, sesi sharing bersama Mbak Dewi insya
Allah tulisannya menyusul setelah ini ya ^^
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat dan
menginspirasi dalam kebaikan.
@fatinahmunir | 24 Desember 2018
Review NHW MIIP #9: Berubah Atau Kalah
Berubah Atau Kalah
Barang
siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang
beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah termasuk
orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin
dialah tergolong orang yang celaka. – HR Hakim.
Berubah
adalah sebuah keniscayaan bagi kita semua, karena kalau kita tidak pernah
berubah, maka sejatinya kita sudah mati. Maka dengan membaca Nice Homework #9
ini, kami bangga dengan banyaknya ide-ide perubahan yang sudah teman-teman
tuangkan dalam tulisan. Kebayang tidak, andaikata dari seluruh peserta
matrikulasi Ibu Profesional ini menjalankan langkah pertama perubahan yang
sudah dituangkan dalam ide-ide di NHW #9, akan muncul berbagai perubahan kecil
dari setiap lini kehidupan.
Andaikata
hanya 10% saja yang berhasil menjadikan ide perubahan ini menjadi sebuah
gerakan nyata, maka sudah ada sekitar 100 lebih perubahan kecil menjadi
gerakan-gerakan positif baru yang memicu munculnya perubahan besar. Untuk itu
kita perlu mencari yang namanya tipping point agar perubahan-perubahan yang
kita lakukan bisa memberikan impact perubahan yang besar.
The
tipping point: the point at which a series of small changes or incidents
becomes significant enough to cause a larger, more important change. –Malcolm
Gladwell
Tipping
point adalah titik di mana usaha-usaha kecil yang dilakukan berakumulasi
menjadi satu hal besar yang cukup signifikan untuk dianggap sebagai perubahan.
Istilah tipping point sudah lama digunakan dalam bidang sosiologi, tapi baru
populer setelah dibahas secara mendalam oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya
yang berjudul The Tipping Point: How
Little Things Can Make a Big Difference.
Tidak perlu
orang banyak untuk menyukseskan gerakan yang akan bunda lakukan. Kalau bisa
dengan suami dan anak-anak sebagai satu tim, itu sudah cukup. Namun apabila
tidak memungkinkan, maka temukan beberapa orang yang satu visi dengan bunda,
meski dengan misi yang berbeda-beda, pasti akan bertemu.
Dalam
ekonomi, ada Pareto Rule yang menyatakan bahwa 80% dari pekerjaan yang ada
sebenarnya diselesaikan hanya oleh 20% orang, yang berarti gerakan kita harus
punya 20% orang spesial ini untuk bisa mencapai tipping point. Di bukunya,
Gladwell mengupas tentang tiga jenis orang yang menentukan kesuksesan adopsi
sebuah ide atau gerakan.
Connector
Connector
adalah mereka dengan kemampuan bersosialisasi luar biasa yang bisa
menghubungkan orang dari berbagai bidang. Sepanjang yang kami tahu, suatu
gerakan bisa jadi besar kalau bisa merangkul banyak orang untuk berkolaborasi.
Inilah mengapa kita perlu tipe-tipe connector di komunitas atau gerakan apa
pun. Mereka adalah jenis orang yang secara natural selalu percaya diri untuk
lebur dan bersosialisasi. Tidak hanya sekadar gaul dan kenal banyak orang, connector juga harus punya sensitivitas untuk
bertanya. “Siapa, ya, yang saya kenal yang bisa membantu gerakan ini?”atau “Bagaimana
cara menghubungkan si A dari bidang ini dan si B dari bidang itu untuk
berkolaborasi?”
Maven
Maven adalah
mereka dengan pengetahuan sangat luas yang senang mengakumulasi informasi dan
membagikannya. Bisa dibilang maven adalah orang-orang yang sangat senang
belajar. Tidak hanya jadi nerd yang menyimpan semua ilmunya sendiri, maven
senang membagikan temuan-temuan barunya kepada orang lain. Orang-orang seperti
maven yang punya antusiasme dalam berbagi bisa menarik orang-orang ke sebuah
gerakan, melalui api mereka dalam menyebarkan insight bermanfaat.
Salesman
Salesman,
tentu, adalah mereka yang punya kemampuan persuasi luar biasa. Salesmen tentu
saja dibutuhkan untuk “menjual” apa sebenarnya misi yang dibawa, dengan
kemampuan mempersuasinya yang sangat hebat. Tanpa berniat menjual pun,
orang-orang yang gifted sebagai salesman selalu bisa bikin orang tertarik
dengan apa pun yang dibicarakannya.
Kebanyakan
dari sebuah gerakan memiliki kemampuan salesman, tapi tidak punya connector dan
maven untuk mengimbangi. Maka sejatinya kita perlu 3 orang saja di awal
membangun sebuah gerakan perubahan di sekitar kita, ada salesman yang bisa
menjual gagasan kita ke pihak lain, ada connector yang berpikir strategis untuk
menghubungkan pihak A dan B, serta maven yang pintar dan senang berbagi.
Setiap orang punya tipping point. Titik
di mana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak,
dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu,
tipping point bukan titik balik, melainkan titik perubahan. Ia merupakan titik
kritis dari kondisi A ke kondisi B.
Selamat
berkolaborasi untuk menemukan tipping point teman-teman semua dengan ide-ide
perubahan yang sudah dituangkan dalam bentuk NHW#9
Lihatlah
potensi kekuatan di keluarga kita terlebih dahulu, baru merambah ke luar.
Salam Ibu
Profesional,
Tim
Matrikulasi Ibu Profesional.
Sumber bacaan:
Malcolm
Gladwell, Tipping Point: How Little
Things Can Make a Big Difference, 2000
Materi
Matrikulasi sesi #9, Ibu Sebagai Agen Perubahan, 2018
Hasil Nice
Homework #9 para peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #4, 2018
NHW MIIP #9: Bunda Sebagai Agen Perubahan
Bunda Sebagai Agen Perubahan
Bunda, kalau
sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat
isu sosial di sekitar bunda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di
keluarga dan masyarakat.
Rumus yang dipakai
adalah PASSION + EMPHATY = SOCIALVENTURE.
Socialventure
adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara
individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik
untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sedangkan social enterpreneur
adalah orang yang menyelesaikan isu sosial di sekitarnya menggunakan kemampuan
enterpreneur. Sehingga bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari
rasa emphaty, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan
passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri.
Hal ini akan
membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan
kemampuan enterpreneur yang kita miliki, sehingga untuk melakukan perubahan
tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. Mulailah
dari yang sederhana, lihat diri kita, apa permasalahan yang kita hadapi selama
ini. Apabila kita bisa menyelesaikan permasalahan kita dan membagikan sebuah
solusi, bisa jadi ini menjawab permasalahan yang dihadapi oleh orang lain.
Karena mungkin banyak di luar sana yang memiliki permasalahan yang sama dengan
kita.
Setelah
selesai dengan permasalahan kita sendiri, baru keluar melihat isu sosial yg ada
di sekitar kita.
Bagaimana
caranya? Buatlah table dengan tiga kolom yang berisi rumusan PASSION, EMPHATY , SOCIALVENTURE.
Selamat
menjadi agen perubahan!
Everyone is
a Changemaker
(Setiap
orang adalah agen perubahan)
Salam Ibu
Profesional
Tim
Matrikulasi Ibu Profesional
Untuk
menjawab tantangan kali ini, saya membuat draf saya sendiri terkait passion,
emphaty, dan socialventure yang akan saya buat.
PASSION saya ada pada pendidikan
autisme dan inklusi, literasi dengan hard skill dan soft skillmenulis juga
mengajar.
EMPHATY yang saya punya berkaitan
dengan social issue penolakan pada anak
berkebutuhan khusus (bully, takut mendekat atau didekati), anggapan disabilitas
sebagai penyakit. Dampaknya anak berkebutuhan khusus kekurangan akses di
lingkungan, sulit terlibat dalam lingkungan umum, dan sulit mandiri karena
minim dukungan masyarakat. Maka sebagai sasaranya, saya membidik seluruh
masyarakat awam, orang tua anak berkebutuhan khusus, dan guru umum.
SOCIALVENTURE yang saya buat adalah
mensosialisasikan kedisabilitasan kepada masyarakat umum melalui platform
media sosial, memberikan informasi dan bimbingan kepada orang tua anak berkebutuhan
khusus dan guru umum. Ide ini terwujud dalam bentuk komunitas
bernama
Kitainklusi.
Alhamdulillah,
projek ini sedang berjalan dan sedang berproses untuk terus menjadi lebih baik
agar bisa lebih bermanfaat buat masyarakat lebih luas. Kitainklusi ini bisa
diakses melalui instagram @kitainklusi dan wesite www.kitainklusi.com. Berbagai pertanyaan mengenai
kedisabilitasan bisa diajukan melalui email kitainklusi@gmail.com atau via DM
instagram @kitainklusi.
@fatinahmunir | Jakarta, 14 Agustus 2018
MIIP #9: Bunda Sebagai Agen Perubahan
Bunda Sebagai Agen Perubahan
Perempuan
khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen
perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua
orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama
berupa akal, naluri, dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat,
keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana
keduanya memiliki porsi prioritas yang sama.
Keberadaan
Ibu di masyarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah,
demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada
peningkatan kualitas masyarakat. Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita
selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena mendidik satu perempuan sama
dengan mendidik satu generasi.
Maka apabila
ada satu ibu membuat perubahan akan terbentuk perubahan satu generasi yaitu
generasi anak-anak kita. Luar biasa kan impactnya.
Darimanakah
mulainya? Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah aktivitas yang
mungkin menjadi misi spesifik hidup kita.
Kita harus paham jalan hidup kita
ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai cara menuju sukses.
Setelah
menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran pertama Bunda, yaitu keluarga.
Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita
menjadi Change Maker Family. Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang
selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap
sebuah perubahan. Karena sejatinya amalan-amalan yang dicintai adalah
amalan yang langgeng ( terus menerus) walaupun sedikit.
Kalau di Jepang
mereka mengenal pola Kaizen (Kai = perubahan, Zen = baik). Kaizen adalah suatu
filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan
secara terus menerus dan berkesinambungan.
Setelah
terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran kedua
yaitu masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada
misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di Kecamatan ini, di kota ini,
atau di negara ini. Lihatlah kemampuan Bunda, mampu di level mana. Maka
jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal kecil yang kita bisa.
Start From The Emphaty
Inilah
kuncinya. Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan
yang sudah kita lakukan di keluarga, sehingga aktivitas kita di masyarakat
tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling
mendukung dan melengkapi.
Setelah emphaty maka tambahkan passion, hal ini akan membuat kita
menemukan banyak sekali solusi di
masayarakat.
Keluarga
tetap nomor pertama, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka
itu warning lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang.
Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, lampu merah. Artinya bunda
harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarkat.
Inilah
indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi
dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk
ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini
dengan rasa tentram.
Salam,
Tim
Matrikulasi IIP
Sumber
Bacaan :
Masaaki Ima,
Kaizen Method, Jakarta , 2012
Ashoka
Foundation, Be a Changemaker: Start from the Emphaty, 2010
Materi-materi
hasil diskusi keluarga bersama Bapak Dodik Mariyanto, Padepokan Margosari, 2016
Video di https://youtu.be/tDKZAKpH-GI
Review NHW MIIP #8: Misi Hidup dan Produktivitas
Misi Hidup dan Produktivitas
Terima kasih untuk teman-teman yang
sudah mengerjakan NHW#7 dengan bersungguh-sungguh. Perbedaan dari orang yang
sama-sama belajar itu adalah dari kesungguhannya. Ada yang hanya sekedar
menggugurkan kewajiban yang penting sudah mengumpulkan NHW dan ada yang memang
bersungguh-sungguh mengerjakan untuk menjadikannya ROAD MAP dalam kuliah
kehidupannya. Maka di NHW #8 ini kita akan melihat bagaimana produktivitas
seorang bunda bisa erat berkaitan dengan misi spesifik hidupnya.
Pola BE-DO-HAVE yang kita gunakan ini
akan membuka mindset kita terlebih dahulu akan sebuah makna produktif, kemudian
mengerjakan sesuai dengan jalan hidupnya, dan akhirnya mendapatkan hasil dan
pencapaian yang cocok antara kehendak kita dan kehendak Allah. Hal ini akan
membuat bunda lebih mantap melangkah, apalagi kalau dihubungkan dengan
pertanyaan NHW#8.
Pertanyaan di NHW #8 itu saling
berkaitan, mari kita simulasikan berrsama, kemudian aplikasikan sesuai dengan
diri bunda masing-masing.
Ambil satu saja dari aktivitaa yang Anda SUKA dan BISA. Misalnya memasak.
Mental seperti apa yang harus Anda miliki untuk menjadi seperti yang Anda
inginkan? (BE) Misalnya
sebagai seorang individu, Anda sudah memiliki prinsip, baik saja tidak cukup,
kita mesti beda. Kemudian memiliki prinsip tidak mau sekedar memasak.
Apa yang harus Anda lakukan untuk menjadi seperti yang Anda harapkan?
(DO) Misal saya
mulai mencoba hal baru, termasuk resep baru setiap bulan. Sehingga muncul
karya-karya unik. Saya sangat menyukai produk-produk gluten free, karena
berkaitan dengan diri saya sendiri. Sehingga saya melakukan penelitian tentang
prosuk makanan gluten free.
Apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sudah memiliki yang Anda
harapkan? (HAVE)
Contohnya saya akan memiliki rumah "healthy food" , saya akan
memiliki legacy dalam hidup saya ttg makanan "gluten free" ini
sehingga anak Indonesia akan tumbuh dengan sehat tanpa bergantung dengan
gandum.
Setelah itu kita susun langkah-langkahnya.
Life Time Purpose. Saya ingin memperjuangkan Indonesia Bebas Gandum, dengan mulai
menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap gandum.
Strategic Planning. Dalam waktu 5 tahun ke depan saya ingin dikenal sebagai ahli gluten free,
sehingga saya konsisten mempelajari hal tersebut mulai dar sekarang.
New Year Resolution. Dalam kurun waktu 2017-2018 ini saya ingin menerapkan program "One
Month One Recipe" sehingga akan muncul 12 resep baru gluten free dalam 1
tahun ini, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan keluarga di sekitar saya.
Apabila sampai sekarang Anda masih
galau belum menemukan apa sebenarnya yang akan Anda lakukan, jangan khawatir.
Mari kita kuatkan proses, karena proses
itu HAK kita dan hasil itu HAK ALLAH.
Nah untuk lebih menguatkan proses,
silakan buat list dan tempel di rumah, ada banyak contohnya di internet ya.
Ini contoh menguatkan BE-DO-HAVE
mingguan sampai ketemu ranah produktivitas bunda. Tahapannya; ambil ranah yang Anda
SUKA dan BISA dulu, simulasikan di form BE-DO-HAVE, susun lifetime purpose,
strategic plan dan new year resolution, turunkan secara mingguan
aktivitas-aktivitas yang harus Anda capai untuk bisa menjadi bunda produktif.
Demikian review NHW#8 silakan
dicermati sekali lagi, karena ini akan menjadi pijakan untuk tahap berikutnya.
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulasi Ibu Profesional
Sumber Bacaan :
David Y, The "Be Do Have" Paradigm, Avenue South, 2013
Tim Matrikulasi IIP, Misi dan Produktivitas, 2018
Hasil Nice Homework #8, peserta Matrikulasi IIP Batch #5
Disusun oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
@fatinahmunir | 25 Juli 2018
NHW MIIP #8: Misi Hidup dan Produktivitas
Misi Hidup dan Produktivitas
Bunda, setelah di materi #8 kita belajar
tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas
keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara
teknis sebagai berikut:
Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang
sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan BE-DO-HAVE ini. Mental seperti apa yang
harus anda miliki untuk menjadi seperti yang anda inginkan ? (BE) Apa yang
harus anda lakukan untuk menjadi seperti yang anda harapkan ? (DO) Apa yang
akan anda lakukan apabila anda sudah memiliki yang anda harapkan? (HAVE)
Perhatikan 3 aspek dimensi waktu berikut dan
isilah. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime
purpose). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic
plan). Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year
resolution) Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH
atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
Tim Matrikulsi IIP
***
Agak kurang semangat sebenarnya melewati pekan kedelapan di
kelas matrikulasi ini. Bukan karena materinya yang tidak menarik, tapi saya
pikir karena masalah dari dalam diri saya sendiri. Bahkan semangat ini
mengendur di hampir setiap aktivitas saya, kecuali saat sudah di kelas, di
depan murid-murid besar saya. Alhamdulillah semangatnya masih sama seperti
sebelum-sebelumnya, masih stabil. Setelah sediit saya telisik, sepertinya
semangat yang mengendur untuk ikut kelas IIP, mengerjakan tugas, dan
mengerjakan hal lainnya ini karena kesehatan saya yang beberapa hari lalu
menurun.
Alasan
lainnya karena tampaknya saya rindu aktivitas saya yang dulu, mengikuti
berbagai aktivitas di luar rumah, bertemu banyak orang. Di bandingkan dengan
sekarang, saya memilih menghabiskan banyak waktu untuk berdiam diri di dalam
rumah bersama ibu dan kakak. Tapi hasilnya saya merasa tidak melakukan apa-apa
dan ingin bertemu banyak orang, meskipun saya tidak selalu terlibat dan menjadi pusat
perhatian di sana.
Well,
bismillah! Setelah membaca review tugas sebelumnya, membaca materi baru dan
resume diskusinya, membaca tugas dan diskusinya, lalu membaca lagi tugas saya
sebelumnya di NHW #7, saya tutup dengan membuka beberapa referensi di internet
tentang tugas kali ini. Fiuh! Semuanya saya lakukan dengan separuh hati dan
badan. T_T Hiks. Maafkan saya, Uni Trisa. Saya akan coba membuat tugas
kedelapan ini!
\(T_T )/~~~
Setelah di
materi sebelumnya tentang produktivitas sekarang saatnya berlatih menemukan
misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga di NHW #8 ini. Untuk
mengerjakan tugas ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkan misi hidup
ini secara teknis sebagai berikut.
Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah ditulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
Agak sulit memilih satu aktivitas yang saya
suka dan saya bisa. Huhuhu T_T saya suka semua yang saya suka. Apalagi semuanya
berhubungan untuk mencapai misi hidup saya. Jadi menulis dua hal di sini. Saya
harap dua hal ini bisa saya maksimalkan hingga menembus batas saya. Saya
memilih mengajar murid autisme dan menulis hal-hal berkaitan dengan autisme dan
pendidikan khusus.
Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini!
Mental
seperti apa yang harus kamu miliki untuk menjadi seperti yang kamuinginkan ?
(BE)
Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan tugas
sebelum-sebelumnya, saya ingin menjadi seorang pendidik murid-murid autisme
yang professional, yang bisa mengembangkan metode pendidikan, pengajaran, dan
pendampingan. Saya ingin melakukan banyak penelitian terkait keautistikan dan
menulis banyak buku tentang hal ini.
Karena saya ingin menjadi seorang pendidik,
peneliti, sekaligus penulis, saya pikir saya harus memiliki kemampuan mengajar yang baik agar saya bisa menjadi
seorang pendidik yang tidak hanya mengedepankan jenjang karier. Untuk menjadi
seorang pendidik sekaligus peneliti, saya harus memiliki kemampuan mengobservasi setiap anak dengan cermat. Untuk
membersamai murid-murid autisme, kemampuan ini memang sangat dibutuhkan
berkali-kali lipat dengan kemampuan berkali-kali lipat juga dibandingkan dengan
mengajar murid-murid umum. Terlebih lagi dalam penelitian, saya pikir saya
sangat perlu memiliki kemampuan ini, mengobservasi dengan cermat dan apik.
Selanjutnya setelah mendidik dan meneliti,
saya perlu memiliki kemampuan menulis
dengan terstruktur untuk tujuan ilmiah maupun menulis dengan bahasa ringan.
Kedua kemampuan ini guna untuk menyampaikan segala temuan saya selama di kelas
dan untuk memaparkan hasil observasi. Kemampuan menulis secara terstruktur
membantu saya menuliskan penelitian dengan baik, sedangkan kemampuan menulis
dengan bahasa ringan yang saya miliki akan sangat membantu banyak orang tua dan
masyarakat awam memahami keautistikan melalui tulisan saya.
Apa
yang harus kamu lakukan untuk menjadi seperti yang kamuharapkan ? (DO)
Untuk menjadi seorang pendidik professional
dan memiliki tiga kemampuan yang saya tuliskan di bagian “Be”di atas, saya
sadar akan ada banyak hal yang harus saya lakukan. Beberapa hal ini saya sadari
juga adalah hal yang harus saya perjuangkan prosesnya. Tidak akan mudah, tapi
saya harus melewatinya. Semoga Allah SWT Melancarkan! Allahumma amiin.
Pertama
saya harus meningkatkan jam terbang saya dalam mengajar. Sudah
lama saya memutuskan hanya akan mengajar di satu tempat saya, yakni di tempat
sekarang saya mengajar. Saya sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran les
private atau semacamnya, karena saya ingin menyisihkan waktu untuk keluarga dan
mengembangkan diri di bidang lainnya. Oleh karena hal ini, saya harus
memaksimalkan waktu saya di kampus untuk membersamai murid-murid besar saya. Di
samping itu saya harus banyak membaca buku dan journal untuk memperbaharui
pengetahuan saya di bidang pendidikan. Saya juga harus mengikuti berbagai
diskusi pendidikan dalam bentuk seminar ataupun open discussion di offline dan
online.
Kedua,
bersamaan dengan ini saya juga harus memaksimalkan kemampuan saya untuk
mengamati setiap murid besar saya. Kendati hanya 5
hari sepekan dan membersamai keseluruhan 45 murid besar, saya harus
memaksimalkan waktu dan kemampuan saya untuk mengobservasi keunikasn setiap
keunikan mereka, menemukan minat, bakat, kesukaan, ketidaksukaan, dan kebutuhan
mereka secara beriringan. Tidak hanya untuk mendukung kemampuan saya mengajar,
kemampuan observasi ini sangat saya butuhkan untuk melakukan penelitian saya
nantinya.
Ketiga,
yang harus saya lakukan adalah menulis setiap hari.Saya
harus menulis satu tulisan per hari. Tulisan yang saya buat bisa berupa tentang
murid saya yang berdasarkan hasil observasi, berupa artikel pendidikan autisme,
ataupun terjemahan dari artikel yang say abaca. Satu tulisan per hari ini akan
saya posting di blog pribadi saya. Untuk tulisan yang belum siap
dipublikasikan, saya akan merapikannya untuk diposting esok harinya.
Keempat,
melanjutkan kuliah di luar negeri dan melakukan banyak penelitian. Bagian
ini adalah hal yang sangat saya dambakan dan nantikan pelaksanaannya. Kenapa
harus di luar negeri? Karena sedikit sekali universitas yang mengadakan sekolah
master untuk pendidikan khusus. Hanya ada dua universitas se-Indoensia. Di
samping itu, lebih banyak referensi yang dapat saya gunakan jika saya
melanjutkan kuliah di luar negeri. Seperti buku-buku dan jurnal penelitian yang
lebih banyak dan lebih mudah diakses, pusat-pusat pelayanan pendidikan khusus
yang tersedia di luar negeri, dan juga asosiasi peneliti yang sebidang dengan
ilmu saya juga sangat aktif di luar Indonesia.
Hah! Entah kenapa kalau berbicara tentang hal
ini seperti ada yang bergerak di hati saya, seperti ada yang tumbuh. Semakin
lama membicarakan hal ini, sesuatu itu akan semakin tumbuh dan membuat dada
saya penuh sesak. Agak sulit dideskripsikan seberapa besar keinginan saya untuk
melanjutkan kuliah di luar negeri. Saya hanya bisa mengatakan kalau saya yakin
suatu hari nanti saya bisa melakukan hal ini, kuliah luar negeri, di University
of Tsukuba, Jepang, ataupun di University of Birmingham, Inggris. Insya Allah!
Apa
yang akan kamu lakukan apabila sudah memiliki yang kamu harapkan? (HAVE)
Setelah menjadi pendidik professional, masih
sama seperti yang pernah saya jabarkan di tugas sebelumnya, saya ingin
mendirikan pusat pelayanan berbasis al-Qur’an untuk autisme baik yang anak-anak
ataupun dewasa. Di dalam pusat pelayanan inilah terdapat pelayanan pendidikan
dan pelatihan untuk autisme dengan pendekatan al-Qur’an. Bismillah!
Yang
ingin dicapai dalam kurun waktu kehidupan (lifetime purpose)
Dalam hidup ini ada tiga hal yang ingin saya
capai sesuai dengan Learning Design yang saya buat di NHW #5 lalu. Ketiga hal
itu adalah menjadi seorang pendidik professional untuk murid autisme, menjadi
ibu professional bersama dengan teman-teman Institute Ibu Profesional, dan
menjadi penghuni surga bersama keluarga saya tercinta.
Yang
ingin dicapai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan (strategic plan)
Untuk mencapai dan menjadi sesuai dengan
harapan saya, dalam 5-10 tahun ke depan saya ingin melakukan:
·
Melakukan research mandiri
·
Melakukan beberapa research sebagai
research student di University of Tsukuba
·
Lulus master pendidikan dari University
of Tsukuba
·
Menjadi dosen pendidikan autisme
·
Menerbitkan journal penelitian
·
Menerbitkan buku pendidikan khusus
(minimal 3 buku)
·
Menerbitkan buku terjemahan pendidikan
khusus (minimal 3 buku)
·
Mendirikan lembaga pelayanan
pendidikan autisme bersama beberapa rekan pendidik autisme
Yang
ingin dicapai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution)
·
Menikah, agar segera terlaksana misi
menjadi ibu professional. Hehehe ^^
·
Menulis 1 artikel per hari
·
Menerbitkan 1 buku pendidikan khusus
·
Mengadakan kelas guru setiap bulan
bersama kitainklusi
·
Lolos beasiswa research student di
University of Tsukuba
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH
***
Seperti
biasa, untuk teman-teman pembaca yang
ingin lebih mengerti tentang NHW ini, di bawah ini saya menampilkan resume dari
diskusi yang kami lakukan di kelas.
Resume Diskusi
NHW #8
Pertanyaan 1
Bagaimana jika aktivitas di kuadran suka dan
bisa sangat bertolak belakang dengan kesibukan yg selama ini kita jalani.
Misalkan saat ini kita sibuk mengurus online shop tetapi di kuadran suka bisa,
kita ingin melakukan kegiatan bakti sosial. Mana yang didahulukan atau di
pelajari lebih dulu? Bagaimana cara mengatur waktunya? Terimakasih.
Jawaban 1
Kuncinya adalah manajemen waktu, Mbak :)
Sediakan waktu untuk mengurus online shop dan
melakukan kegiatan bakti sosial, bisa juga melakukan kegiatan bakti sosial di
hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Mengajak keluarga untuk ikut berpartisipasi agar
bisa bersama sama keluarga mengisi waktu luang dengan kegiatan positif :)
Pertanyaan 2
Bun, yang lifetime
purpose itu apakah sesuatu yang sifatnya sudah fixed atau tidak
berubah-ubah lagi atau bisa berubah sewaktu-waktu. Misalnya karena faktor
tertentu? Terimakasih.
Jawaban 2
Kita hanya bisa merencanakan, Mbak :) Allah
yang menentukan. Jadi sangat ada kemungkinan berubah sewaktu waktu karena beberapa
faktor.
Pertanyaan 3
Uni, mau tanya tentang pertanyaan bagian C
nomor 1. Ini jawabannya harus konkrit atau abstrak ya? Maksud saya pasti semua
ibu-ibu di sini tujuan kehidupan di akhirnya ingin jadi ibu dan istri yang
sukses, bahagia, solehah, dan lainnya yang sebenarnya sulit terukur. Atau yang
dimaksud jawaban konkrit bahwa nanti di akhir umur saya ingin ada legacy berupa
hal yang terlihat jelas gitu semacam; sekolah untuk anak-anak kurang mampu atau
punya perusahaan konveksi atau bakery atau apa gitu sesuai poin yang dipilih
sebelumnya. Soalnya saya sering jawab hal-hal abstrak, eh, ternyata maksudnya
hal-hal konkrit hahaha. Mohon pencerahannya.
Jawaban 3
Konkrit, Mbak. Detail dan bisa dicapai.
Iya, contohnya punya atau membuat sekolah
untuk anak - anak yang kurang mampu, dan sebagainya.
Pertanyaan 4
Saya mau Tanya di poin a dan b. Apakah harus
ambil salah satu ranah yang suka dan bisa.
Bagaimana jika dua atau lebih apakah boleh?
Jawaban 4
Saat ini ambil salah satu dulu, Mbak. Kalau
kata Bu Septi one bit a time, seriusan satu hal dulu sampai selesai, baru
pindah ke ranah lainnya.
@fatinahmunir | 25 Juli 2018
MIIP #8: MIsi Spesifik Hidup dan Produktivitas
Misi Spesifik Hidup dan Produktivitas
Bunda,
perjalanan kita untuk menemukan misi hidup selaras dengan perjalanan
produktivitas hidup kita. Maka materi menemukan misi hidup ini, akan menjadi
materi pokok di kelas bunda produktif. Sebelumnya
kita sudah memahami bahwa “Rejeki itu
pasti, Kemuliaan yang harus dicari”. Sehingga produktivitas hidup kita ini
tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan
seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup
kita bagi alam semesta.
Be Professional, Rejeki will Follow
Tagline Ibu
Profesional di atas menjadi semakin mudah dipahami ketika kita masuk ranah
produktif ini. “Be Professional” diartikan sebagai bersungguh-sungguh
menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan
peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan
kebermanfaatan untuk sesama.
“Rejeki will
follow’ bisa dimaknai bahwa rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang
membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan
bersungguh-sungguh tidaknya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.
Uang Akan Mengikuti Sebuah Kesungguhan,
Bukan Bersungguh-Sungguh Karena Uang
Pada
dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang.
Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau”
untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?”
maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.
Kalau di
pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak
pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh (
usia 14 tahun ke atas). Maka kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau
dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan
proses pendidikan kita sebelumnya, dan tidak perlu lagi mengalami hal tersebut
di saat usia paruh baya yang secara umum dialami oleh sebagian manusia yang
disebut sebagai (mid-life crisis).
Maka
sekarang, jalankan saja yang anda BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena
Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah
kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup
kita.
Seseorang
yang sudah menemukan misi hidup tsb apabila menjalankan aktivitas produktif
akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan
misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri selalu bersemangat
dengan mata berbinar-binar, energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak
pernah capek, rasa ingin tahunya tinggi sehingga membuat semangat belajar
tinggi, imunitas tubuh naik sehingga jarang sakit karena bahagia itu imunitas
tubuh yang paling tinggi.
Ada 3 elemen yang harus kita ketahui
berkaitan dengan misi hidup dan produktivitas. Kita harus menjadi (memiliki
mental) seperti orang yang kita harapkan (be). Kita harus melakukan hal-hal
yang seharusnya kita lakukan (do). Kita mempunyai semua yang kita inginkan
(have)
Dari aspek
dimensi waktu ada 3 periode yang perlu kita perhatikan. Apa yang ingin kita
capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose). Apa yang ingin kita
capai dalam kurun waktu 5-10 tahunke depan ( strategic plan). Apa yang ingin
kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution).
Setelah
mendapatkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, maka mulailah berkomitmen
untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir memang harus diubah. Berikutnya
mulai susun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk
menunjang sebuah produktivitas hidup kita.Mulailah dengan menetapkan target
waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau
indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Buatlah
prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar
yang terlalu panjang, karena hal tersebut membuat kita “gagal fokus”.
Demikian
sekilas tentang pentingnya misi hidup dengan produktivitas, silakan dibuka
diskusi dan nanti kami akan lebih detilkan materi ini secara real di NHW #8
berbasis dari kekuatan diri teman-teman yang sudah dituliskan di NHW #7.
Salam
Ibu Profesional,
Tim
Matrikulasi IIP
Sumber bacaan:
Antologi para Ibu Profesional, BUNDA
PRODUKTIF, 2014
Materi Matrikulasi IIP, Bunda Produktif,
2016
Materi kuliah rutin Ibu Profesional, kelas bunda
produktif, Salatiga, 2015
Disusun oleh tim Matrikulasi Institut Ibu
Profesional
***
Resume Diskusi Materi #8
Pertanyaan 1
Saya belum
paham yang dimaksud dengan 3 elemen yang harus kita ketahui berkaitan dengan
misi hidup dan produktivitas. Bisa dijelaskan dengan contohnya, Uni Trisa?
Jawaban 1
Saya langsung
mencontohkan aja ya, Mbak.
Be (kita ingin menjadi apa). pengajar
untuk anak anak kita atau masyarakat
Do (kita ingin melakukan apa). Belajar
untuk menambah ilmu (belajar apa saja?) Mengajar (mengajar apa, mengajarnya
siapa, mengajarnya di mana saja, dan lain-lain), memberikan motivasi untuk anak anak atau masyarakat, dan lainnya.
Have (kita ingin memiliki apa).
Ingin punya
modul ajar sendiri, ingin punya sekolah, dan sebagainya.
Pertanyaan 2
Bagaimana
bila kita sudah menetapkan 3 periode yg ingin kita capai, namun di pertengahan
jalan kita berubah pikiran atau berubah tujuan. Apakah harus mengulang periode tersebut
dari awal atau bisa dilanjutkan saja?
Jawaban 2
Coba
pikirkan kembali dan evaluasi terlebih dahulu, apa yang membuat kita berubah
pikiran. Jika memang mengharuskan kita untuk merubah tujuan, kita bisa mulai
lagi dengan tujuan yang baru. Tapi yang lama jangan langsung ditinggal begitu
saja, selesaikan dulu jika ada target yang harus diselesaikan. Misalnya, saya
punya target bisa karate. Di tengah jalan, tiba-tiba saya ingin berpindah
haluan ke berenang. Saya harus menyelesaikan karate dulu sampai satu tahap
(misal sabuk kuning), baru pindah haluan. Atau saya punya target membuat buku, di tengah jalan saya memutuskan untuk jadi blogger saja. Saya harus
menyelesaikan buku yang sedang dibuat tersebut, baru pindah haluan.
Hal ini
mengajarkan kita untuk bertanggung jawab atas pilihan yg kita ambil. Jadi tidak
mudah berpindah haluan jika tidak alasan yang sangat kuat.
Harus mengulang
atau dilanjutkan? Tergantung situasi saat itu mba. Jika masih berhubungan,
lanjutkan. Tapi jika berubah sama sekali, mengulang dari awal. Namun, yakinlah
apa yang kita lakukan sebelumnya tidak ada yang sia-sia. Minimal hal yang telah
berlalu, dapat membentuk pola pikir
kita.
Misalnya,
saya jurusan teknik, tapi saat lulus kuliah saya malah beralih ke dunia anak.
Setelah saya pikir pikir, ternyata jurusan teknik membentuk pola pikir saya
untuk bekerja secara sistematis dalam keseharian. Jadi, tidak ada hal sia sia
dari apa yg kita kerjakan di masa lampau. Selalu ada benang merahnya. Kalau Bu
Septi menyebutnya the connection.
Pertanyaan 3
Bagaimana
jika aktivitas suka dan bisa kita rasa jauh hubungannya dengan misi hidup yang
sebelumnya kita tentukan. Lalu apa yang mendasari Mbak Trisa menentukan misi
hidup? Saya suka sekali kalo urusan dengan keadministrasian (pencatatan,
filling dokumen). Apa ya peran lebih yang bisa saya ambil selama berkegiatan di
rumah?
Jawaban 3
Bisa dimulai
mengadministrasikan kegiatan anak di rumah, Mbak. Setiap malam, catat apa saja
yang dilakukan anak, adakah perkembangannya dari hari ke hari, setiap minggu
evaluasi bersama anak. Sudah melakukan apa ya kita minggu kemarin, apa yg kita
pelajari seminggu kemaren (semuanya di catat). Minggu depan kita akan melakukan
apa ya.
Buatkan
tabel khusus seperti input data di kantor. Jika konsisten selama setahun, dua
tahun, tiga tahun dan seterusnya, mba bisa lihat hasilnya. Nanti bisa dishare
ke teman-teman bagaimana mencatat atau mendokumentasikan kegiatan anak dengan
baik.
Tidak hanya
dengan anak, bisa dengan diri sendiri, atau orang lain. Setelah itu mungkin
bisa menulis, merancang aplikasi yang berhubungan dengan administrasi dalam
rumah, dan lainnya.
@fatinahmunir | 25
Juli 2018







