Showing posts with label Sesurga Bersama Bapak. Show all posts
Pada Jumat 14
Setiap Jumat hendak datang, selalu ada rasa yang berbeda.
Sesak yang tak pernah terbendung, seperti semua perasaan memaksa untuk dibebaskan
dari dada. Ketika matahari Kamis hendak turun, selalu ada wajahnya yang menahan
sakit dengan segenap rahasia yang rapi disimpannya.
Mata sayunya masih lekat terlihat di mata saya, hingga menjelang
Jumat datang saya lebih sering tak sanggup mememejamkan mata. Lalu berharap
Kamis malam itu pun saya tidak terpejam sedikit pun demi terakhir kali
membersamai malamnya.
Setiap matahari Jumat muncul sayup-sayup, perasaan-perasaan
yang tertahan selalu semakin memberatkan dada. Semakin kencang memaksa untuk
diluapkan entah dengan jeritan di balik bantal atau tangisan di antara suara
air keran yang sengaja dideraskan.
Tangannya yang keriput dan kasar masih terasa di tangan
saya, hingga saya selalu membayangkan bagaimana khikmatnya mencium tangan itu
untuk terakhir kalinya. Bagaimana nikmatnya mencium keningnya yang mendingin
untuk terakhir kalinya, tepat setelah salat subuh dan tanpanya.
Pada Jumat, semua perasaan yang ada selalu semakin
menyesakkan saja, Pak. Lalu tumpah melebihi biasanya, bersama airmata dan doa-doa
yang mengalir deras untukmu, Pak. Sama seperti Jumat 14 itu, saat Bapak pergi dan
semua impian saya menjadi tak lagi berarti.
Selalu sayang dan rindu, Pak.
Terima kasih lagi untuk semua yang Bapak lakukan selama
ini.
Semoga Allah hadiahkan surga terbaik-Nya buat Bapak.
Semoga bisa bertemu lagi di surga, Pak.
@fatinahmunir | Jumat, 14 Desember 2018
Sesak!
hanya mau dipeluk bapak
walau cuma sebentar
walau cuma dalam mimpi
Rindu Dialog pada Satu Satu
Bismillahirrahmanirrahim
Selalu ada resolusi baru di setiap awal hari di tahun
masehi. Setiap sosial media tampilannya dipenuhi harapan-harapan
dan kisah-kisah yang tertinggal dengan serpihan hikmah yang layak di kenang. Tulisan
saya kali ini bukan tentang resolusi-resolusi yang akan dibumbung tinggi selama
365 hari ke depan. Bukan pula tentang kisah-kisah impian yang telah dicapai di
tahun sebelumnya. Bukan. Kali ini, saya ingin menuturkan tentang sebuah dialog
kecil yang menjadi kenangan besar bagi saya, yang terjadi pada tanggal yang
sama di tahun sebelumnya.
Pada hari pertama di tahun masehi ini, yang saya rasakan
adalah sebuah kenangan yang tidak pernah saya duga bahwa kenangan itu akan menjadi kali terakhir
saya mendapatkannya. Hari itu, pada hari pertama di tahun masehi sebelumnya, dihabiskan
dengan menahan air mata di dalam kamar sambil berbicara dengan bapak.
Malam sebelumnya, bersama seorang sahabat, saya bermalam di
salah satu masjid di Jakarta untuk mendengarkan tausiyah, tahajjud, dan
muhasabah bersama hingga waktu dhuha. Di pertengahan agenda inilah, saat mata
masih terbuka meski hari sudah lewat dari tengah malam, saya meminta bantuan
teman saya untuk memilih salah satu kopiah yang dijual di taman masjid.
Sambil menerka-nerka ukuran kopiah yang cocok untuk bapak
dan dibantu oleh penjual kopiah, alhamdulillah terpilihlah sebuah kopiah coklat
sederhana. Selain berharap ukuran kopiah ini akan cocok untuk bapak, saya
sangat berharap bapak mau menerima hadiah kecil saya ini.
Keesokan harinya, selepas shalat zuhur, di dalam kamar bapak
yang beliau pun baru selesai shalat zuhur, saya memberikan kopiah yang sudah
saya siapkan. Ada ragu dan malu saat memberikannya kepada beliau. Saya hanya
berucap, “Tadi malam Lis liat ini di bazar, siapa tau cocok buat bapak.”
Saya khawatir bapak akan menjawab, “Ngapain beli-beli itu?
Kan bapak masih punya kopiah.” Atau “Kopiah bapak masih ada, ini bapak simpen
aja ya. Kalau ada Paman Kyai ke sini, kasih ke Paman Kyai aja ya!” dan banyak lagi kalimat yang menggambarkan ketidaksukaan bapak jika diberikan hadiah.
Ya, begitulah biasanya bapak menanggapi setiap barang yang
saya berikan. Kendati dengan alasan masih ada barang yang sama yang masih layak
dipakai, tapi biasanya barang itu sudah memudar warnanya atau sudah rusak di
beberapa bagiannya. Begitupula dengan kopiah yang biasanya bapak gunakan, kopiah
rajut dengan lubang di salah satu sisinya dan kopiah hitam yang sudah memudar hitamnya. Hanya satu kopiah terbaik bapak, yang hanya digunakan beliau untuk shalat Jumat dan
shalat Hari Raya.
Jikapun bapak menerima pemberian saya, biasanya bapak akan
menyimpannya dan akan meminta izin kepada saya untuk memberikan barang
tersebut kepada yang lebih membutuhkan atau sebagai hadiah untuk orang yang
beliau hormati. Misalnya saja beberapa set baju koko dan celana pemberian saya
yang beliau berikan kepada Abah Kyai atau Paman Kyai yang sedang berkunjung ke
rumah.
Tapi kali ini reaksi bapak berbeda dari biasanya. Untuk
pertama kalinya bapak tersenyum dan tidak ada raut ketidaksukaan di wajah
beliau.
“Bismillah. Alhamdulillah. Bagus ini,” kata bapak sambil
memakai kopiah pemberian saya di depan cermin dan memantaskannya di atas kepala bapak, “Muat nih. Ini cocok sama baju kokoh bapak
yang coklat. Makasih ya, Nak. Semoga berkah!”
Terkejut. Senang. Terharu. Ingin menangis sambil memeluk
bapak, tapi semuanya tertahan.
“Dipake loh, Pak. Awas aja tau-tau dikasih ke orang!” kata
saya sambil mengalihkan air mata yang hampir saja tumpah.
“Iya dipake setiap shalat. Alhamdulillah. Berkah!” sahut
bapak sambil meletakkan kopiah pemberian saya di atas meja, bersebelahan dengan
al-Quran beliau.
***
Bagi teman-teman yang membaca pengalaman ini, pengalaman di hari pertama pada tahun
masehi lalu ini, mungkin terlihat ini hanya pengalaman sederhana yang tidak tampak istimewa.
Pengalaman ini mungkin tampak kecil dan tidak memiliki banyak makna. Itu pula
yang saya rasakan saat bapak masih bisa saya tatap matanya dan saya peluk
tubuhnya.
Tapi mengalaman ini menjadi sangat istimewa bagi saya
setelah saya menyadari ini adalah kali pertama dan terakhir bapak mau menerima
hadiah kecil saya. Setelah diri ini tidak lagi mampu melihat wajahnya dan
memeluk tubuhnya, pengalaman ini menjadi bergitu berharga. Lalu saya berharap
tahun lalu saya tidak menahan air mata saya. Saya berharap tahun lalu saya
tidak menahan diri saya untuk memeluk bapak setelah bapak berucap, “Terima
kasih, Nak!” pada hadiah kecil yang saya berikan, yang tidak akan pernah
sebanding dengan pengorbanan bapak selama ini kepada saya.
Rindu. Ada rindu yang berkecamuk dalam dada saat setiap
orang saling menghantarkan ucap selamat di pergantian tahun baru masehi
semalam. Rindu. Ada rindu yang berkelindan dalam tiap-tiap kenangan yang terlintas
dalam pikiran semalam. Rindu. Ada rindu yang bergumpal dan mengajak diri ini hanya ingin
sendirian, memeluk erat diri sendiri rapat-rapat dengan harap bapak di sana
bisa merasakan rindu saya yang teramat berat.
Rindu. Terpaut rindu pada kesederhanaan bapak di
kesehariannya. Bapak yang tidak pernah membicarakan pakaian baru dan perilah keduniaan lainnya di setiap
beralihnya waktu. Yang bapak pikirkan adalah keberkahan dan keselamatan dunia akhirat yang semoga senantiasa meliputi diri kami. Terpaut rindu pada kelembutan bapak dalam
bertutur dan bersikap. Yang tak pernah sekalipun bapak meninggikan suara atau
meluncurkan tangannya dengan kasar kepada kami yang ada di rumah. Terpaut rindu
pada diamnya bapak yang memiliki lapisan makna. Yang tidak ada sedikit pun keluh
kesah yang tersampaikan melalui mulutnya, hanya untaian doa dan harapan agar kesabaran dan kekuatan selalu Allah limpahkan setiap kali uji-Nya datang.
Pada bapak, apa kabar di sana? Saya merindukan bapak di
sini. Semoga Allah senantiasa melapangkan kuburmu selapang taman-taman surga,
menerangi dan menghangatkan kuburmu seterang dan sehangat waktu dhuha, dan
menyejukkan tempatmu dengan tiupan angin surge-Nya. Pakaian terbaik dan tempat
tinggal terbaik semoga menjadi milikmu di sana, Pak, sebagai pengganti
kesederhanaan yang bapak pilih selama di sini. Allahumma amiin.
@fatinahmunir |
Jakarta, 1 Januari 2018
Bahasa Rindu
Bagaimanakah bahasa rindu?
Adakah
ia dalam sepucuk surat berisi puisi-puisi ingin bertemu?
Bagaimanakah
bahasa rindu?
Adalah
ia terlantun dalam ayat-ayat-Nya bersama untaian doa ampunan
Bagaimanakah
sebaik-baiknya membahasakan rindu? Itulah pertanyaan yang menyelimuti pikiran
saya di hari-hari pertama bapak berpulang. Saya hanya berharap ada cara terbaik
yang dapat saya lakukan agar rindu ini bisa sampai dengan bahasa yang indah dan
menenangkan. Kemudian ingatan saya melayang pada potongan kebersamaan dengan
bapak, ketika bapak pernah berpesan tentang bahasa rindu yang paling indah
untuk yang merindu dan dirindukan.
***
Dulu
setiap selepas subuh atau di antara maghrib dan isya, sering sekali bapak memastikan
apakah saya sudah membaca al-Qur’an atau belum. Jika saya menjawab belum, bapak
akan meminta saya membaca al-Qur’an sesegera mungkin. Jika saya menjawab sudah,
bapak akan meminta saya berdoa untuk keluarga kami yang masih hidup ataupun
sudah tiada. Biasanya bapak akan secara khusus menyebut nama salah satu
abangnya yang meninggal beberapa tahun lalu. Abah Nasir namanya, seorang abang
yang sangat dekat dan begitu disayangi bapak.
“Doakan
emak bapak supaya sehat sejahtera. Doakan kakek nenek juga juga Abah Nasir-mu,
supaya lapang dan terang kuburnya,” begitulah kurang lebih cara bapak menyuruh.
Pernah sesudah
shalat ashar saya melihat bapak mengaji di dalam kamar. Beliau menghadap
kiblat, memunggungi pintu kamar yang terbuka lebar. Saat itu tidak ada
siapa-siapa di rumah kecuali saya dan bapak saja. Dari luar kamar, sekilas saya
melihat bapak mengaji dengan kepala sangat menunduk. Suara bapak terdengar
serak.
Selepas
menyelesaikan bacaan al-Qur’annya, bapak keluar kamar dan duduk-duduk santai di
teras rumah. Saya menghampiri bapak, menemani bapak duduk sambil memastikan
bahwa beliau baik-baik saja. Saat itu, seperti biasa bapak selalu mengawali
pembicaraan dengan topik yang tidak bisa diduga, “Begini rasanya kangen, Nak. Kangen
banget ke orang yang sudah tidak bisa dilihat wajahnya,” suara bapak sedikit
bergetar.
Saya
bertanya, “Kenapa, Pak?”
“Bapak
kangen sama saudara bapak. Kangen sama Abah Nasir-mu yang dari kecil selalu
nemenin bapak,” tampak mata bapak berkaca-kaca.
Cepat-cepat
bapak mengusap matanya sebelum air matanya jatuh, “Kalau kamu kangen sama
seseorang, baca al-Qur’an saja. Kalau nanti bapak atau emakmu sudah tidak ada
terus kamu kangen emak bapak, baca al-Qur’an saja. Berdoa supaya kebaikan al-Qu’an
itu juga mengalir ke orang-orang yang kamu kangenin ya!”
“Hu’uh!”
jawab saya dengan sekali anggukan meskipun saat itu saya tidak begitu paham dan
kurang bisa merasakan apa yang sedang bapak rasakan kepada almarhum abangnya,
Abah Nasir.
***
Sekarang.
Setelah bapak pergi, saya tahu apa yang bapak rasakan saat itu. Saya mengerti bagaimana
sesaknya dada bapak saat beliau merindu Abah Nasir. Saya paham bagaimana rindu
itu menjadi-jadi saat diri ini ingin bertemu, mendengar suaranya, bahkan ingin
sekali memeluknya namun semua itu mustahil dilakukan sudah. Sekarang saya memahami
rasa itu dengan sebenar-benarnya.
Tidak
ada yang bisa dilakukan selain menumpahkan seluruh rindu itu pada air mata,
begitulah mulanya buat saya. Itulah yang saya lakukan setiap kali melihat foto
bapak dan berharap bisa melihat wajah bapak saat saya sudah di rumah. Tetapi bersamaan dengan datangnya kerinduan
itu, pesan bapak tentang membahasakan kerinduan itupun datang. Seolah-olah saat
itu saya mendengar bapak berbisik kepada saya, “Bapak juga kangen,” lalu bapak
mengulang pesan yang pernah beliau sampaikan. “Bacalah al-Qur’an setiap kamu
kangen bapak! Doakan bapak setiap kamu kangen bapak!”
Begitu
saja berulang-ulang pesan itu terngiang dalam ingatan, setiap kali rindu itu
datang. Kadang rindu ini kerap datang di sembarang tempat, bahkan rindu ini
bisa datang saat saya melintasi sebuah warung mie ayam tempat saya dan bapak biasa
makan berdua hampir di setiap Sabtu siang. Air mata kerinduan ini akan begitu
saja meleleh dari ujung mata meski saya sudah berusaha keras menahannya.
Jika
rindu itu datang lagi, sementara waktu saya akan memilih menyendiri dalam kamar
yang dikunci. Saya hanya ingin menikmati kerinduan yang saya rasakan sendiri
dan berusaha membahasakan rindu ini dengan cara yang pernah bapak ajarkan;
membaca al-Qur’an. Meskipun setiap ayat al-Quran yang dibaca membuat rindu ini
semakin memuncak karena semakin mengingatkan saya pada bacaan al-Qur’an bapak,
tetapi sungguh setelahnya saya bisa merasakan ketenangan di antara rindu yang
menjejal.
Bagaimanakah
bahasa rindu? Adalah bahasa Tuhan dalam ayat-ayat-Nya. Yang meski tangis
membersamai bacaan al-Qur’an kita, tetapi itulah sebaik-baiknya bahasa yang
digunakan untuk mengungkapkan kerinduan. Seperti pesan bapak pada rindu yang
kini saya rasakan, maka mendoakan beliau dan memanjangkan bacaan al-Qur’an
adalah sebaik-baiknya bahasa untuk menyampaikan kerinduan.
Semoga
Allah alirkan setiap kebaikan dari bacaan al-Qur’an untuk bapak di sana.
Semoga
Allah luaskan rahmat-Nya untuk bapak di surga terbaik-Nya. Semoga lapang dan
terang benderang tempat bapak di sana. Aamiin.
Allahummaghfirlahu,
warhamhu, wa’afihi wa fu’anhu.
Jakara, Agustus 2017
Yang selalu merindumu, Pak
@fatinahmunir
Kalau Kamu Sayang Bapak
Sore itu saya telat berbenah rumah. Usai shalat Ashar, saya tidak langsung berbenah seperti menyapu dan mengepel. Kalau saya tidak salah ingat, saya malah asik menonton acara di televisi dan akhirnya saya baru mulai menyapu pukul 17.00.
Menyapu rumah dengan ukuran yang
cukup besar ditambah membenah segala barang-barang keponakan yang berceceran
menghabiskan waktu setengah jam untuk saya menyapu dan mengembalikan semua
barang pada tempatnya. Kurang lebih pukul 17.30 saya baru selesai menyapu dan dilanjutkan mengepel. Itu pun
saya sambil menonton kontes memasak untuk anak-anak di televisi.
Kala saya sudah mengepel lebih dari
separuh rumah, azan maghrib di televise berkumandang. Ibu yang saat itu tahu
saya masih mengepel langsung berteriak dari kamarnya, “Taro itu kain pel.
Shalat dulu. Dari tadi bukannya ngepel malah mantengin tipi. Kebiasaan banget
sih kamu!”
Mendengar ibu mengomel, saya hanya
menjawab, “Iya.” Tapi dengan badungnya seusai azan maghrib saya tidak langsung
berwudhu, malahan saya melanjutkan mengepel sampai pukul 18.15.
Seusai mengepel, saya pergi ke atas.
Mengambil air wudhu di kamar mandi atas lalu mengerjakan shalat maghrib di
kamar atas. Saat saya hendak takbir, jam di kamar sudah menunjukkan pukul 18.30. Saya shalat seperti biasa. Lalu
saya tadarus sebentar, kemudian keluar kamar dilanjutkan dengan menyalakan
laptop, bersiap mengerjakan tugas.
Baru
saja jemari saya menekan tuts-tuts pada keyboard laptop, tetiba bapak
mendatangi saya dan bertanya, “Tadi shalat apa?”
“Shalat
maghrib,” saya menjawab dengan wajah tetap mengarap pada layar laptop.
“Dari
tadi ngapain?” nada bicara bapak sudah mulai marah, meskipun suara bapak tidak
meninggi.
“Ngepel
dulu. Tanggung udah mau selesai,” jawab saya.
“Kan
udah bapak bilangin, kalau sudah azan semua aktivitas berhenti. Ngepel itu
habis ashar, bukan pas mau maghrib. Bapak gak suka kamu berbenah rumah tapi
shalatnya ngakhirin begitu. Shalat itu bukan asal shalat. Yang diitung Allah
itu bukan shalat atau nggaknya aja. Kamu shalat di awal atau di akhir waktu
juga diitung saya Gusti Pangeran. Inget orang tua, Nak. Orang tua ini juga kena
tanggung jawab di akhirat. Kalo kamu sayang sama bapak, sayang sama orang tua,
ya shalat dibenerin, awal waktu. Kerjain apa diajarin Allah sama Rasul! Jangan
mentingin berbenah aja.”
“Iya,
Pak,” jawab saya dengan suara yang rendah. Selama bapak berbicara panjang, saya
terdiam dan hanya bisa mendengarkan.
“Iya,
dijalanin. Dilaksanain!” kata bapak sambil pergi meninggalkan saya.
“Hu’um,”
jawab saya sambil menahan air mata menyadari bahwa diri saya sudah bersalah.
Tidak hanya bersalah pada bapak, tapi juga pada Allah SWT.
Sudah
hampir sebulan peristiwa ini terjadi. Tapi semua ucapan bapak masih terdengar
jelas di telinga saya. Berkali-kali saya merasa takut dan bersalah atas kelalaian
saya dalam beribadah yang pernah saya lakukan sebelumnya. Sejak saat itu sampai
sekarang, tak ada yang dapat saya lakukan kecual memperbaiki ibadah saya sambil
bermunajat agar Tuhan senantiasa mengalirkan pahala dari amal ibadah saya
kepada kedua orang tua saya.
Bincang di Atas Motor
Pagi itu, saat matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya dari balik gumpalan awan, seperti biasa di hari libur, bapak ada di rumah dan aku tetap sok sibuk dengan aktivitas di luar rumah. Di setiap pagi seperti ini bapak akan mengantarkanku meski hanya sampai terminal –karena trauma dan bekas operasi di mata, bapak tidak bisa mengemudikan kendaraan dalam jarak jauh.
Di atas motor tua miliknya, bapak memboncengiku. Seperti
biasa, kami akan berbincang selama perjalanan menuju terminal. Kami melewati
sebuah flyover yang menghubungkan KS. Tubun dengan Jati Bunder. Saat bapak
melajukan motornya ke atas flyover tampak seorang ibu mendorong gerobak di sisi
kiri jalan. Bapak mengeraskan suaranya sambil menunjuk ke arah ibu yang
mendorong gerobak, “Lihat itu! Perempuan tapi dorong gerobak buat jualan. Itu
namanya mandiri dan kuat.”
Sambil mendengarkan ucapan bapak, mataku terus tertuju pada
ibu yang mendorong gerobak itu hingga sosoknya menghilang di kejauhan. Ucapan
bapak tak berhenti sampai di situ, bapak kembali berucap, “Kamu juga harus
kayak gitu. Mandiri dan kuat.”
“Hu’uh,” jawabku singkat, seperti biasa hanya mendengarkan
bapak dan bicara seperlunya.
“Lis, perempuan juga harus mandiri dan kuat. Tapi kamu juga
harus tahu batasnya, harus tahu kodrat. Jadi harus tetap hormat sama
laki-laki,” lanjut bapak.
Tanpa terasa, kami hampir tiba di terminal dan aku harus
segera turun. Saat aku hendak mencium tangan bapak, bapak sempat terdiam.
Seperti ada yang ditunggunya. “Perempuan itu mudah masuk surga, tapi mudah
masuk neraka. Kuncinya ada di sini. Jaga baik-baik ini,” kata bapak sambil
mengarahkan jemarinya yang besar ke depan mulutnya.
Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, meski sekadar
sahutan “hu’uh”. Hanya anggukan yang aku berikan pada bapak, bersama dengan
airmata yang tertahan. Aku mencium tangan bapak lalu menyeberang menuju sebuah
bus yang akan membawaku ke tempat lain. Aku melihat bapak masih di tempatnya.
Bus yang kunaiki mulai melaju, bapak tersenyum pada kondektur bus dan
melambaikan tangan kepadaku.






