Showing posts with label Pendidikan Khusus. Show all posts
Apresiasi Setiap Proses dan Progres
![]() |
| Photo by Suzanne D. Williams on Unsplash |
Progres atau perkembangan yang signifikan dan
terus-menerus pasti menjadi impian setiap orang tua dan pendidik untuk individu
berkebutuhan khusus. Apalagi jika progres yang dipunya dapat membantu mereka
untuk bisa lebih beradaptasi di lingkungannya atau untuk mencapai tujuan
belajar yang lebih tinggi lagi. Tapi sayangnya kita, termasuk saya, sering sering sekali kecewa dengan progres yang tidak
tampak. Pertanyaannya, apakah
benar sama sekali tidak ada progres atau perkembangannya? Jangan-jangan
sebenarnya ada progres yang dicapai tapi kita tidak pernah menganggapnya
sebagai suatu progress?
Sepertinya sih banyak yang mengalami kondisi kedua, ya? Biasanya kita tidak pernah engeh atas progres-progres kecil yang
telah diraih oleh murid atau anak. Padahal sekecil apapun pencapaian yang
diraih, itu juga progress loh! Kalau sudah seperti ini yang keliru bukan
progresnya yang tidak signifikan, tapi diri kita sebagai pendidik, terapis, ataupun
orang tua yang membuat target terlalu tinggi. Alasannya cuma satu, yaitu karena
kita tidak mengenal dengan baik siapa individu berkebutuhan khusus yang sedang
ditangani.
Kalau sudah begini, biasanya kemungkinan yang terjadi pada pendidik adalah
kecewa pada diri sendiri. Atau paling tidak pendidik jadi menyalahkan pihak
lain atas minimnya progres yang didapat, salah satunya adalah menyalahkan pihak
orang tua si murid. Kalau dari sudut pandang orang tua, biasanya orang tua akan
menganggap kalau anaknya ditangani oleh pendidik atau terapis yang kurang kompeten.
Ujung-ujungnya orang tua akan memindahkan anaknya ke sekolah atau tempat terapi
lain. Siklusnya akan terus saja begini selama pendidik dan orang tua belum
menyadari bahwa setiap progress, sekecil apapun perkembangan yang dimiliki anak
adalah pencapaian yang perlu diapresiasi.
Hasilnya? Tidak ada hasilnya sama sekali. Coba deh teman-teman perhatikan setiap anak
berkebutuhan khusus yang sering sekali berpindah sekolah ataupun berpindah
tempat terapi. Apakah ada progres yang sangat signifikan? Pasti kebanyakan
tidak menunjukkan progres yang signifikan.
Penanganan
yang diberikan kepada setiap individu berkebutuhan khusus sama seperti
titik-titik yang dihubungkan satu sama lainnya. Jika penanganan yang
diberikan terus diganti dari satu sekolah ke sekolah lainnya dan dari satu
tempat terapi ke tempat terapi lainnya, itu sama seperti menghubungkan
titik-titik di tempat berbeda. Kalau sudah terus berpindah sekolah atau tempat
terapi, apakah setiap titik yang terhubung akan menjadi sesuatu yang utuh.
Tentu tidak, kan?
Berbeda
dengan setiap titik yang terhubung dan terus dilakukan dengan konsisten, sehingga
titik-titik tersebut menjadi garis utuh. Titik-titik kecil ini sama
seperti progres-progres kecil yang muncul pada anak. Tidak tampak tapi tetap
ada. Tentunya titik-titik ini akan tanpak setelah berkumpul menjadi garis. Dan
yang bisa mengumpulkan setiap titik ini hanya konsistensi dan apresiasi kita
atas titik-titik kecil atau progres-progres kecil yang dicapai anak.
Jadi untuk setiap kita, saya dan teman-teman yang
membanca tulisan ini, tidak ada salahnya untuk mengapresiasi setiap progres
yang telah kita capai bersama dengan individu berkebutuhan khusus yang telah
kita bersamai. Jangan
sia-siakan perjuangan bersama hanya karena kita luput mengapresiasi setiap progres
yang dicapai.
Sekecil apapun progres yang diraih adalah sebuah
pencapaian besar setelah berkali-kali pertemuan di ruang kelas ataupun di ruang
terapi. Sekecil apapun progres yang didapat, ada lelah yang kita punya sebagai
pendidik atau terapis, ada jerih payah usaha dari orang tua yang telah
mengantar-menunggu-menjemput. Jangan lupa, ada juga perjuangan dari individu
berkebutuhan khusus yang kita bersamai. Mereka juga berjuang untuk bisa mendengarkan
dan memahami instruksi dengan benar dan melakukannya sesuai dengan instruksi
yang diberikan. Semuanya
punya peran untuk sama-sama berjuang menggabungkan setiap titik menjadi garis. Dengan mengapresiasi setiap proses dan progres yang dicapai, sama dengan mengapresiasi setiap usaha yang telah dilakukan selama membersamai individu berkebutuhan khusus.
Lisfatul Fatinah Munir | 16 Oktober 2019
Selamat merayakan syukur!
Selamat merayakan syukur!
Kenapa Memilih Menjadi Pendidik Autisme Dewasa?
![]() |
| Photo by Carli Jeen on Unsplash |
Lingkungan terdekat saya adalah alasan
utama mengapa saya memutuskan memperdalam pendidikan autism dewasa. Qodarullah,
keponakan saya diagnosis memiliki spektrum autisme sejak 2002, saat usianya dua
tahun. Ketika saya memutuskan kuliah pendidikan khusus, keponakan saya sudah
memasuki usia sebelas. Itu artinya keponakan saya akan meninggalkan usia
anak-anak dan akan masuk ke usia remaja awal.
Selama menjalani perkuliahan, saya
sangat berharap bisa mendapatkan ilmu pendidikan autisme dewasa. Sayangnya,
hingga saya lulus tidak ada satupun matakuliah yang mengakomodasi harapan dan
rasa ingin tahu saya. Saya
tidak menemukan jawaban dari rasa penasaran saya, karena selama di kampus tidak
ada satu pun matakuliah yang mempelajari pendidikan individu dengan autism di
usia remaja dan dewasa –demikian juga dengan individu berkebutuhan khusus
lainnya. Ya, semua yang pernah saya pelajari selama kuliah hanya pendidikan
untuk individu berkebutuhan khusus di usia anak-anak. Dan sepertinya sampai
saat ini pun belum ada matakuliah yang membahas pendidikan individu
berkebutuhan khusus hingga usia dewasa. Daripada menyerah, tidak terakomodasinya
rasa penasaran saya di kampus justru membuat saya semakin semangat untuk
mempelajari sendiri pendidikan autisme dewasa. Oleh sebab itu saat mencoba
mencari tahu sendiri, baca-baca sendiri walaupun tidak semaksimal belajar
langsung dengan dosen.
Ketika itu beberapa dosen yang saya tanyakan mengenai pendidikan autism
dewasa kerap kali mengatakan kalau sulit mempelajari pendidikan autisme dewasa,
karena tidak banyak referensi dalam negeri. Setiap kali
mendapatkan jawaban semacam ini, sejujurnya saya merasa sedih. Sebab itu
artinya masih sedikit orang yang memikirkan solusi jangka panjang atas
keberadaan individu dengan autisme.
![]() |
| Photo by Robin Worall on Unsplash |
Bagaimana nasib mereka setelah menerima layanan pendidikan dan lulus sekolah? Apakah pendidikan yang sudah mereka terima cukup membuat mereka mandiri, seperti tujuan pendidikan nasional? Apa indikator mandiri untuk individu autisme dewasa? Akankah mereka terus tergantung pada lembaga pendidikan dan pelatihan hingga mereka tua?
Pertanyaan-pertanyaan di atas berputar
di kepala saya dan alhamdulillah menjadi modal buat saya untuk terus semangat mempelajari
pendidikan individu autisme dewasa walaupun katanya susah. Selepas kuliah, saya
juga bertekad akan bekerja di lembaga pendidikan khusus untuk individu autisme
dewasa. Alhamdulillah. Sekarang saya sudah berada di lingkungan yang sangat
saya dambakan sejak dulu, mengajar individu autisme dewasa.
Memasuki tahun keempat membersamai
individu autisme dewasa yang sering saya sebut murid-murid besar, tidak hanya
membuat rasa penasaran dan keingintahuan saya sejak kuliah terbayar. Lebih dari
sekadar itu, sampai saat ini saya justru menjadi merasa masing snagat minim
pengetahuan tentang individu autisme dewasa dan lebih belajar banyak dari kasus
murid-murid besar yang saya bersamai.
Semakin saya mengenal dunia pendidikan individu autisme dewasa, semakin
saya sadar bahwa layanan pendidikan dan pelatihan untuk individu autisme dewasa
saat ini masih belum cukup mengakomodasi kebutuhan mereka. Satu hal penting yang saya sadari adalah masih sangat banyak hal
yang harus dipersiapkan di masa transisi mereka, yakni masa sebelum mereka
memasuki usia dewasa. Belum lagi perencanaan jangka panjang terhadap
kemandirian mereka. Di sinilah saya tahu kalau keponakan saya dan murid-murid
besar saya membutuhkan layanan pendidikan dan pelatihan yang jauh lebih kompleks
daripada yang mereka butuhkan di usia anak-anak.
Ditambah lagi dengan curhatan orang tua murid yang masih saja
bingung harus kemana dan apa yang harus dilakukan setelah lulus dari tempat
belajar sekarang. Padahal tempat saya mengajar sekarang adalah sekolah
lanjutan untuk individu autisme dewasa yang telah lulus sekolah. Menemukan
fakta ini membuat saya semakin sadar bahwa masih sangat sedikit awareness (kesadaran dan kepedulian)
orang-orang akan keberadaan individu dengan autism secara utuh sebagai
individu, seorang manusia yang juga layak hidup sebagaimana manusia pada
umumnya. Seperti hidup mandiri, diterima di lingkungan sekitar, bersosialisasi
dengan banyak orang, berteman, dan sebagainya.
![]() |
| Photo by Ian Schneider on Unsplash |
Saya sempat berpikir sepertinya
terlambat sekali bagi saya untuk mempelajari individu autisme dewasa, sedangkan
keponakan saya yang menjadi alasan utama saya ada di sini sudah hampir memasuki
usia duapuluh. Tapi tidak lama setelah pemikiran ini muncul, saya optimis insya
Allah semua yang saya pelajari tidak terlambat dan tidak sia-sia. Walaupun terlambat untuk
menangani keponakan saya, tapi semoga apa yang saya lakukan bisa bermanfaat
buat lebih banyak individu autisme dewasa di luar sana, bisa membantu sesama
pendidik dan orang tua. Bukan hanya karena ingin terus memberikan yang
terbaik saat membersamai keponakan saya, tetapi juga ingin setiap individu autisme
dewasa di Indonesia dan dunia menerima kebermanfaat ilmu yang saya punya dan program-program temuan yang saya lakukan untuk masa depan
individu denga autisme yang jauh lebih baik. Karena saya ingin setiap individu autisme
dewasa di Indonesia kelak bisa diterima dengan baik di lingkungan masyarakat,
diperlakukan selayaknya manusia, diberi kesempatan untuk mandiri dan
mengaktualisasikan diri, serta menjadi bagian lingkungan sosial seutuhnya tanpa
ada sekat ambigu bernama “normal”. Insya Allah, suatu hari nanti dan saya akan
memulainya.
Lisfatul Fatinah Munir | 8 Oktober 2019
Membersamai Individu Berkebutuhan Khusus di Antara Ketakutan dan Kesempatan
![]() |
| Photo by Joshua Sukoff on Unsplash |
Jadi
singkatnya dalam tahap awal Social Club ini setiap individu dengan autisme yang
terlibat akan hangout tanpa orang tua mereka. Semua hal yang berkaitan
dengan agenda hangout ini direncanakan oleh mereka sendiri. Saya dan
rekan-rekan pengajar yang terlibat hanya bertugas sebagai pengikut dan
menjembatani komunikasi mereka jika mereka saling tidak memahami maksud satu
sama lainnya.
Beberapa
hari sebelum hangout ternyata muncul hal-hal yang tidak terlalu saya
perhitungkan, yaitu perasaan-perasaan orang tua mereka melepas mereka hangout
sendirian tanpa orang tua. Takut dan khawatir adalah respon yang sewajarnya
muncul dari orang tua mereka. Saat itu saya dan rekan-rekan pengajar lainnya
juga takut dan khawatir sekali, tapi kami juga sangat ingin mencoba dan
memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa merasakan bagaimana menjadi “orang
dewasa” seperti pada umumnya.
Tapi sekali
lagi, entah kenapa saya luput untuk memikirkan kecemasan yang akan muncul dari
orang tua mereka. Di mana ketakutan dari orang tua mereka pasti jauh lebih
besar dari ketakutan yang kami punya. Saat itu saya pikir orang tua mereka akan
tenang saja karena tim kami sudah mengumumkan apa saja perencanaan yang sudah
ditetapkan oleh anak-anak mereka. Tapi orang tua tetaplah orang tua dan
sepertinya saya kurang memberikan empati saya di sini. Hiks T___T
Okay. Setelah
saya meyakinkan orang tua mereka untuk melepas dengan hati bahagia dan percaya,
agenda hangout yang sudah direncanakan akhirnya berjalan dengan lancar.
Alhamdulillah. Huhuhuhu. Terharu sangat selama membuntuti mereka hangout.
Terlebih ketika melihat bagaimana mereka berusaha sebisa mungkin untuk beradaptasi
dengan kondisi dan tempat yang baru, termasuk ketika mereka berusaha untuk
berperilaku adaptif, menentukan berbagai hal yang sangat kontekstual dan bisa
jadi hal-hal tersebut adalah kali pertama mereka melakukannya.
Sepulang
dari hangout, semua pertanyaan orang tua sama. “Bagaimana tadi? Bisa?”
“Iya! Sangat
bisa!” itu jawaban yang kami sampaikan dengan sangat yakin.
Di sinilah
saya mulai benar-benar menyadari bahwa hidup murid-murid besar saya benar-benar
hanya terombang-ambing di antara ketakutan dan kesempatan. Sebagaimana pengalaman
hangout bersama, pengalaman bepergian jauh dengan transportasi umum, dan
beradaptasi di lingkungan luar tidak akan pernah terwujud jika kami tetap
bertahan di rasa takut. Lalu mereka pun akan kehilangan kesempatan untuk
mencapai itu semua.
![]() |
| Photo by Bram on Unsplash |
Di sinilah
saya mulai berpikir kalau saja saya dan orang tua mereka sama-sama takut dan
saling menguatkan rasa takut untuk memulai Social Project ini, pasti
kesempatan-kesempatan emas mereka untuk merasakan bagaimana “menjadi orang dewasa”
yang bepergian ke tempat umum tidak akan pernah mereka rasakan. Terlebih lagi
mereka pasti akan semakin jauh dari kesempatan diterima di lingkungan yang
lebih luas.
Berangkat
dari pengalaman ini, saya semakin dan semakin menyadari bahwa rasa takut untuk
membersamai individu berkebutuhan khusus itu sangatlah wajar. Yang tidak wajar
adalah ketika kita berlama-lama dalam rasa takut, memperkuat takut dengan
kekhawatiran sehingga hilang sudah kesempatan mereka untuk belajar. Merasakan
takut lalu mengubah takut menjadi semangat memberikan kesempatan adalah cara
yang saya pilih untuk membersamai individu berkebutuhan khusus. Karena dari
rasa takut yang saya punya, saya jadi bisa lebih peka untuk mematangkan persiapan
dan perencanaan dalam memberikan mereka kesempatan yang lebih luas lagi untuk
menjadi individu seutuhnya.
Lisfatul Fatinah Munir | 7 Oktober 2019
Awal yang Salah dari Guru Pendidikan Khusus
"It takes special people to teach special students"
Belakangan ini saya sering mendapatkan pesan lewat Instagram dari guru-guru muda yang baru bertugas di SLB ataupun Sekolah Inklusif. Menariknya ada beberapa pertanyaan yang mirip, yaitu tentang tahap awal penanganan anak dan keselarasan antara praktik di lapangan dengan teori yang sudah dipelajari di kampus. Beberapa contoh kasus dari pertanyaannya kurang lebih seperti di bawah ini.
Bagaimana kita bisa mengajar anak yang kita tidak tahu diagnosis disabilitasnya apa?
Bagaimana jika murid dengan spektrum autisme sekaligus disabilitas intelektual tidak dapat mengikuti materi belajar di kelas? Kenapa kita perlu mengajarkan materi akademik?
Bukannya mengajarkan life skills itu jauh lebih penting buat murid berkebutuhan khusus?
Duh! Aku bingung banget, nih, menghadapi murid di Sekolah Inklusif yang beragam banget kedisabilitasannya?
Beberapa tahun lalu saat pertama kali secara resmi menjadi pengajar di lembaga saya sekarang bekerja, saya juga sering mempertanyakan hal-hal seperti di atas. Pertanyaan tentang diagnosis ini, sih, yang sering sekali saya lontarkan di awal-awal. Sampai akhirnya saya teringat salah satu pesan dosen saya tentang kondisi murid-murid berkebutuhan khusus yang akan saya hadapi.
Diagnosis bukanlah senjata yang dibutuhkan guru pendidikan khusus, karena guru pendidikan khusus yang bisa mengenali dan memahami kebutuhan muridnya akan tetap bisa mengajar dengan baik tanpa tahu diagnosisnya. Begitu kurang lebih pesan beliau. Sejak saat itu, kurang lebih beberapa bulan setelah pertama kali saya mengajar, saya mencoba mengenyampingkan diagnosis dan mulai refleksi diri.
Salah Berpijak Hingga Salah Langkah
Kalau dipikir-pikir memang tidak sepenuhnya diagnosis kedisabilitasan murid itu tidak dibutuhkan. Mengetahui diagnosis kedisabilitasan murid memang perlu, tapi itu bukan hal utama yang dibutuhkan untuk mengajar. Apalagi kalau hasil diagnosis sudah menjadi label atau identitas pada anak, sehingga membuat kita para pendidik, staf di lembaga pendidikan, hingga orang tua hanya fokus pada diagnosis dan menutup mata atas kemampuan yang tampak dan mengenyampingkan kelebihan yang dimiliki murid.
Kalau bukan berangkat dari diagnosis, lalu harus mulai dari mana? Jawabannya ada di pesan dosen yang saya tulis di atas. Yakni mulailah dari mengenali dan memahami kebutuhan murid. Berangkatlah dari kondisi kelebihan dan kekurangan masing-masing murid. Kekurangan dan kelebihan murid, sekecil apapun itu, adalah hal yang semestinya menjadi pijakan utama guru pendidikan khusus sebelum melangkah ke dalam program belajar yang dirancang sesuai kebutuhan murid.
![]() |
| Photo by Suhyeon Choi on Unsplash.com |
Ingat, Langkah Pertama Dimulai dari Kita!
Tapi beberapa tahun belakangan mengajar, saya menemukan hal yang cukup menarik tentang mengenali dan memahami kebutuhan murid. Ternyata mengenali kelebihan dan kekurangan murid saja tidak cukup untuk memulai langkah pertama dalam proses membersamai mereka. Ada hal yang luput dari diri banyak pendidik, termasuk saya, hal yang semestinya melekat pada setiap pendidik dan tidak hanya bersifat prosedural antara identifikasi murid, asesmen, penanganan, dan evaluasi. Ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu kita jarang memandang murid-murid berkebutuhan khusus sebagai manusia dan secara tidak langsung malah memandang mereka sebagai objek dari suatu projek ataupun program. Sejujurnya saat masih memandang murid-murid saya sebagai objek, saya merasa sering tertekan dengan target-target program yang tidak tercapai.
Awalnya saya merasa hal ini biasa saja, wajar kalau saya tertekan oleh target-target program yang tidak tercapai. Tapi untuk siapa program ini? Program ini bukan untuk saya, ini untuk murid-murid saya. Yang seharusnya menjadi fokus saya bukanlah keberhasilan saya, melainkan bagaimana murid-murid saya berproses dan mencapai target program sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya. Akhirnya, saya merasakan bagaimana program yang sudah dirancang tidak bisa berjalan secara maksimal jika saya tetap melihat murid-murid saya sebagai objek atau benda mati yang harus diperbaiki melalui program-program yang saya rancang.
Memulai dari diri sendiri dengan memahami diri sendiri sebagai guru pendidikan khusus yang mendidik murid-murid berkebutuhan khusus, ciptaan Tuhan yang juga bernyawa seperti saya, juga memiliki perasaan sebagaimana manusia pada umumnya, dan memiliki cara berpikir yang sedikit berbeda dari kita pada umumnya. Dan mereka sejatinya adalah murid-murid yang begitu menggemaskan dengan keunikan masing-masingnya. Memanusiakan hubungan dengan murid. Ini langkah pertama yang semestinya perlu dilakukan oleh setiap guru pendidikan khusus. Tidak peduli seminim apapun kemampuan mereka, sekecil apapun progres yang dimiliki, hubungan yang memanusiakan adalah langkah pertama yang harus kita ambil setelah menemukan pijakan yang tepat.
Praktik Memanusiakan Hubungan
Teman-teman guru pendidikan khusus mungkin bingung apa yang dimaksud dengan memanusiakan hubungan? Bagaimana memanusiakan hubungan? Apa bedanya dengan menjalankan hubungan seperti guru dan murid pada umumnya?
Melihat murid-murid berkebutuhan khusus yang kita bersamai adalah menyadari bahwa mereka juga sama seperti kita pada umumnya. Hanya saja, mereka memiliki keterbatasan untuk melakukan banyak hal seperti kita dan selebih sering mereka justru tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk berperilaku dan bersikap seperti kebanyakan orang.
Dalam melakukan langkah pertama dengan memanusiakan hubungan dengan murid-murid berkebutuhan khusus kita, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Ketiga hal ini bukan sesuatu yang rumit. Saya yakin setiap orang pasti bisa melakukannya, hanya butuh kesabaran yang dilipatgandakan dan komitmen untuk melakukannya. Cobalah untuk tetap tenang di kondisi apapun dan biasakan memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan.
Tetap tenang berarti kita tidak boleh panik walaupun murid-murid kita panik, marah, menangis, ataupun sangat mengganggu lingkungan sekitarnya. Ingat, loh, peran kita sebagai pendidik adalah membantu mereka untuk mengontrol cara mereka mengungkapkan emosi, bukan ikut masuk dalam emosi yang sedang mereka alami. Memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan adalah hal yang sangat membutuhkan kesabaran dan komitmen tinggi untuk membiasakannya. Nah, memberikan kesempatan di sini artinya bisa sangat luas. Bisa dengan cara mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan, bertanya tentang apa yang mereka rasakan, atau dengan terus mengobservasi perilaku yang muncul dan menemukenali penyebab munculnya perilaku-perilaku tersebut. Butuh waktu memang untuk melakukannya, mendengarkan murid yang mungkin belum mengungkapkan sesuatu melalui verbal ataupun mendengarkan murid yang belum mampu bercerita sesuai urutan. Tapi tetaplah berikan mereka kesempatan walau hanya beberapa menit.
Tidak mudah memang melakukannya. Tapi jika tidak dimulai sejak sekarang, akan ada banyak murid-murid berkebutuhan khusus yang terlantarkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak dimulai dari sekarang, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan profesi kita secara moral. Jika kita bisa segera memulainya dari sekarang, niscaya tidak ada lagi kebingungan dalam membersamai murid, karena sepanjang prosesnya kita akan semakin memahami setiap murid.
Sekali lagi, diagnosis memang penting tapi bukan senjata utama untuk membersamai murid-murid berkebutuhan khusus. Pahami dan kenali setiap hal dari murid-murid spesial kita, sekecil apapun kelebihan dan kekurangannya, lalu jalinlah hubungan yang memanusiakan. Butuh waktu lama dari langkah pertama hingga kita meraih hasil dari target program belajar yang kita rancang untuk mereka, tapi percayalah selama prosesnya kita akan menjadi guru pendidikan khusus yang lebih bahagia dari sebelumnya dan mereka akan menjadi murid yang bahagia bersama kita.
![]() |
| Photo by Leonardo Toshiro on Unsplash.com |
“Students are like flowers. They bloom at different times.”
(@edutopia)
Lisfatul Fatinah Munir | 1 Oktober 2019
Hari Anak dan Hubungannya dengan Anak Berkebutuhan Khusus
![]() |
| Photo by Ben Wicks on Unsplash |
"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu."
(Ki Hajar Dewantara)
Kemarin di media sosial ramai sekali pembahasan Hari Anak
2019. Akun komunitas ataupun personal mengirimkan ucapan selamat hari anak.
Saya jadi penasaran, kenapa ada hari
anak dan apakah ada pembahasan tentang anak-anak berkebutuhan khusus dari
pengadaan hari anak ini.
Saya iseng googling
dan baca beberapa artikel juga modul dari UNICEF. Saat membaca artikel-artikel
ini saya baru tahu kalau tanggal 23 Juli hanya Indonesia yang memperingati Hari
Anak, sedangkan Hari Anak Seduni jatuh pada tanggal 20 November.
Hal pertama yang saya cari tahu adalah kenapa sih ada
hari anak. Kalau secara global, hari anak itu sendiri sepertinya dibuat untuk
dirayakan atau diperingati oleh anak-anak sendiri, bukan orang tua, pendidik,
atau lainnya. Saya berpikir seperti ini karena di dalam artikel ataupun modul
yang saya baca tertulis, kira-kira artinya seperti ini, “Dengan adanya hari anak diharapkan anak-anak di seluruh dunia bisa
berkumpul dan menyadari keberadaan mereka yang berharga untuk dunia.”
![]() |
| Photo by Mrkus Spiske on Unsplash |
Hari Anak dan Hak Anak
Jadi kurang lebih awalnya hari anak dicanangkan untuk
membuat anak-anak mengenal diri mereka lebih jauh lagi, menyadari keberhargaan
mereka, dan berkumpul dengan anak-anak lain untuk sama-sama menikmati masa
anak-anak mereka. Meskipun begitu, saat ini sepertinya orang-orang sudah mulai
memperluas makna hari anak. Banyak kalangan yang berlomba-lomba saling
mengedukasi untuk memperhatikan hak-hak anak sesuai fitrahnya sebagai
anak-anak. Pembahasan hak-hak anak ini dibahas di Konvensi Hak Anak PBB (United Nation Children Right Convention).
Hasil dari
Konvensi Hak Anak adalah ada empat ruang lingkup hak anak yang harus diterima
setiap anak di dunia ini. Pertama adalah hak bertahan hidup, di dalamnya
ada hak hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar hidup seperti hak mendapatkan gizi
dan nutrisi, tempat tinggal, akses kesehatan, dan kualitas hidup sesuai
standard. Hak kedua adalah hak untuk berkembang yang di dalamnya terdapat hak
pendidikan, bermain, menikmati waktu luang, menjalankan aktivitas sesuai budaya
masing-masing, hak mengakses informasi, dan hak kebebasan berpikir,
berkeyakinan, dan beragama. Ketiga
adalah hak untuk dilindungi, yaitu hak aman dari pelecehan dan eksploitasi,
perlindungan untuk anak-anak pengungsi, hak keamanan dalam kasus kriminalitas,
perlindungan kerja, serta hak perlindungan dan rehabilitasi untuk anak yang mengalami berbagai macam kekerasan.
Hak keempat atau terakhir adalah hak keterlibatan yang merupakan hak anak untuk
menyampaikan pendapat, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan
anak, dan hak bersosialisasi dengan nyaman.
Cukup luas, ya, ternyata cangkupan hak-hak anak. Saya
jadi penasaran, nih, dan coba mencari tahu apakah dalam memperingati hari anak dan
pembahasan hak anak di Konvensi Hak Anak juga dibahas tentang anak-anak
berkebutuhan khusus. Ternyata ada, Alhamdulillah. Senangnya… Mungkin karena efek jiwa guru pendidikan
khususnya sudah mendarah daging, ya, saya benar-benar senang saat membaca
pembahasan tentang anak berkebutuhan khusus di tengah pembahasan hari anak dan
hak anak.
Hak Anak Berkebutuhan Khusus
Dari sumber-sumber yang saya baca terkait hari anak dan hak anak, selain mendapatkan empat hak anak di atas, ada hak lain yang dimiliki anak berkebutuhan khusus. Eh iya, sebelum membahas hak anak berkebutuhan khusus, ada fakta yang dipaparkan saat Konvensi Hak Anak terkait dengan anak berkebutuhan khusus yang menjadi alasan utama mengapa hak anak berkebutuhan khusus ini perlu dan penting dibahas terpisah dari hak anak pada umumnya. Fakta yang dimaksud adalah di berbagai negara, baik itu negara berkembang ataupun maju, masih terjadi diskriminasi dan pengucilan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus juga keluarga dari anak berkebutuhan khusus tersebut.
Dibahas lagi nih di dalam Konvensi Hak Anak, kalau
pendiskriminasian pada anak berkebutuhan khusus dan keluarganya bisa terjadi
secara langsung, tidak langsung, dan campuran keduanya. Diksriminasi langsung
adalah ketika anak berkebutuhan khusus mendapatkan perlakuan yang berbeda dari
anak umunya. Diskriminasi tidak langsung terjadi ketika ada kebijakan yang
pelaksanaan kebijakan tersebut bertentangan dan tidak memenuhi kebutuhan anak
berkebutuhan khusus, atau bahkan kebijakannya justru memberi hambatan baru
untuk anak berkebutuhan khusus. Diskriminasi tidak langsung ini biasanya datang
dari kebijakan pemerintah itu sendiri atau budaya masyarakat yang kadang
memberikan efek lebih buruk daripada diskriminasi langsung. Sedangkan
diskriminasi campuran adalah gabungan dari pendiskriminasian langsung dan tidak
langsung yang terjadi beriringan atau bersamaan.
Berdasarkan fakta
di atas komite konvensi seperti mengingatkan kita bahwa kendala sesungguhnya
bukan pada anak berkebutuhan khusus itu sendiri, tapi ada pada kombinasi
budaya, sosial, sikap, dan sarana prasarana yang ditemui anak berkebutuhan
khusus dalam kehidupan sehari-harinya. Miris tapi memang begini kenyataanya. Sebagai pengajar sekaligus orang yang memiliki anggota keluarga yang
berkebutuhan khusus, saya juga merasakan bagaimana keluarga saya menerima
perlakuan tidak nyaman dan cukup didiskriminasikna oleh orang-orang sekitar.
Oke. Berangkat dari fakta-fakta ini hak-hak anak
berkebutuhan khusus penting untuk dibahas bersama. Setidaknya ada empat hak
anak berkebutuhan khusus yang saya rangkum dari modul yang dikeluarkan UNICEF,
yaitu 1) hak memperoleh layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan,
2) hak mendapatkan pendidikan, 3) hak dilindungi dari kekerasan, eksploitasi,
dan pelecehan, dan 4) hak untuk dilibatkan. Keempat hak khusus anak
berkebutuhan khusus ini sepintas kok mirip-mirip hak anak pada umumnya yang
sudah dibahas sebelumnya ya? Tapi setelah saya baca kembali, ternyata ada
beberapa detail yang berbeda dan memang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan
khusus.
Hak Memperoleh Layanan Kesehatan, Intervensi Dini, dan Kesejahteraan
Ketika ada anak
yang terdeteksi atau terdiagnosis memiliki kebutuhan khusus, hak pertama yang
harus diterima adalah layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan.
Sejenak saya berpikir, kok yang pertama layanan kesehatan? Kenapa bukan layanan
pendidikan?
Alasannya adalah karena umumnya anak berkebutuhan khusus
juga memiliki gangguan kesehatan dan tidak sedikit anak berkebutuhan khusus
yang meninggal di usia anak-anak atau tidak dapat bertahan hidup disebabkan
tidak memperoleh layanan kesehatan primer yang layak. Dituliskan juga nih kalau
bahkan beberapa negara juga kesulitan memberikan layanan kesehatan yang layak
untukindividu berkebutuhan khusus usia anak-anak ataupun dewasa.
Komite Konvensi Hak Anak beranggapan kalau layanan
kesehatan primer segera diperoleh anak setelah anak didagnosis memiliki
kebutuhan khusus, maka anak dan keluarganya akan mudah memperoleh info dari
tenaga kesehatan terkait intervensi lanjutan. Intervensi lanjutan yang dimaksud
adalah intervensi setelah pelayanan kesehatan diterima. Contohnya adalah
intervensi dini atas kekhususan anak, seperti terapi sensori integrasi untuk
anak dengan autisme, pemasangan alat bantu dengar untuk anak tuli, dan
sebagainya.
Hak Mendapatkan Pendidikan
Pada hak kedua ini, Komite
Konvensi Hak Anak mengusung prinsip lifelong
learning opportunity atau kesempatan belajar seumur hidup sebagai hak anak
berkebutuhan khusus. Pendidikan yang dimaksud di sini tentu saja pendidikan
sesuai dengan kebutuhan anak, misalnya sekolah khusus hingga sekolah inklusi.
Tidak berhenti sampai di situ, Komite Konvensi Hak Anak juga menyebutkan
Indivudual Education Program (Program Pembelajaran Individu/PPI) juga menjadi
bagian dari hak anak. Dalam sumber lainnya saya juga menemukan bahwa PPI ini
terus diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus hingga mereka berusia dewasa,
disesuaikan dengan kebutuhan pada usia dan perkembangannya.
Salah satu rancangan program yang dibutuhkan anak
berkebutuhan khusus yang pernah saya baca adalah Individual Transition Program
(Program Transisi Individu/PTI), yaitu rancangan program yang dibuat khusus
mencapai kebutuhan anak di masa dewasanya. Seperti namanya, rancangan program
ini dijalankan ketika anak memasuki masa transisi, yakni ketika berusia remaja
hingga remaja akhir. PTI ini sendiri berjalan bersamaan dengan PPI. Jadi PTI
bukan program yang penggantikan IEP.
Hak Dilindungi dari Kekerasan, Eksploitasi, dan Pelecehan
Sebagian besar dari kita mungkin beranggapan kalau
kekerasan dan pelecehan selalu berhubungan dengan seksual. Tapi pada konteks
pembahasan hak anak berkebutuhan khusus
dalam Konvensi Hak Anak, kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan mencakup banyak
hal. Mulai dari kekerasan dan pelecehan seksual, perisakan fisiki dan
psikis, eksploitasi tenaga dan ekonomi, human trafficking (jual beli manusia),
dan banyak hal lainnya yang terkait dengan keadilan dan kesejahteraan anak.
Dalam World Report on Violence Against Children, Sekretaris
Jenderal PBB menyebutkan anak
berkebutuhan khusus sering menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan
karena sosok mereka yang easy victim.
Maksudnya adalah kondisi anak berkebutuhan khusus pada dasarnya lebih lemah
daripada anak umumnya secara fisik ataupun akal, sehingga akan cenderung minim
perlawanan secara fisik ataupun melakukan pengaduan ketika menerima kekerasan,
eksploitasi, dan pelecehan.
Pada Konvensi Hak Anak juga dibahas terkait layanan keamanan. Salah
satunya adalah layanan pengaduan dan panggilan darurat yang umumnya menggunakan
telepon. Dengan layanan telepon darurat ini, anak dengan gangguan pendengaran
atau tuli dan anak yang punya gangguan bicara tidak memiliki akses atau layanan
khusus untuk melakukan pengaduan.
Problem kebijakan layanan ini masih menjadi pekerjaan
rumah untuk dunia, termasuk negara maju sekalipun. Oleh sebab itu, orang-orang
yang ada di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat memberikan
pendidikan kepada mereka terkait hal-hal keamaan jika ada kejadian yang tidak
menyenangkan di kemudian hari. Lebih jauh lagi, masyarakat juga diharapkan bisa
ikut berkerja sama menjaga anak berkebutuhan khusus agar terhindar dari tindak
kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan. Jika memungkinkan, lingkungan di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan pula untuk
ikut menyuarakan hak-hak keamanan anak berkebutuhan khusus.
Hak untuk Dilibatkan
Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa anak
berkebutuhan khusus hanya bisa menerima invervensi, tidak punya keinginan tertentu
untuk dirinya sendiri, dan tidak punya harapan atau impian. Anggapan ini tidak
sepenuhnya benar. Anak berkebutuhan khusus yang tidak mengalami gangguan
kognitif atau memiliki IQ rata-rata dan di atas rata-rata faktanya memiliki
pandangan, harapan, dan tujuan sendiri. Hanya saja mereka tidak mampu
mengungkapkan hal-hal tersebut karena kurangnya kemampuan komunikasi ataupun
tidak adanya kesempatan untuk menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan
dan tidak adanya kesempatan untuk dilibatkan.
Saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang
yang memiliki keautistikan. Dalam salah satu pembahasan buku tersebut
dituliskan kurang lebih seperti ini.
“Sebagai
seorang yang memiliki keautistikan, saya memang tidak mampu berkomunikasi
dengan baik, tapi bukan berarti saya tidak ingin berkomunikasi dengan orang
lain. Saya juga ingin menjalin hubungan. Saya ingin memiliki teman. Sama
seperti kalian.”
Lalu bagaimana sih melibatkan anak berkebutuhan khusus
yang dimaksud di sini? Komite Konvensi Hak Anak memberikan penjelasan bahwa
ketika anak berkebutuhan khusus sudah memasuki usia dewasa atau ketika sudah mencapai
masa perkembangan memiliki konsep yang realistis, anak sudah dapat dilibatkan untuk
merancang pencapaian tujuan program belajar, peraturan belajar, dan sebagainya.
Contoh lebih sederhananya, jika anak berkebutuhan khusus belum memiliki
kemampuan yang cukup dalam ranah konsep realistisnya, maka orang-orang di
sekitar anak harus memberikan anak kesempatan untuk melakukan berbagai hal sesuai
kemampuannya. Pada hak ini orang tua, saudara kandung dan keluarga, pendidik,
terapis, psikolog, perawat, dan siapapun yang terlibat dalam penanganan anak
harus saling bekerja sama dalam memenuhi hak anak untuk dipercaya, didengar,
dan dimanusiakan seutuhnya.
![]() |
| Photo by Scott Webb on Unsplash |
Setelah membaca tulisan di atas, mungkin banyak yang
berkomentar, “Untuk memenuhi empat ruang lingkup hak dasar anak saja sepertinya
sangat berat dilakukan di Indonesia, apalagi ditambah empat hak khusus untuk
anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti harus mengumpulkan tenaga seumur hidup
dan membutuhkan perjuangan yang tidak berujung!”
Betul. Memang sulit untuk memenuhi empat ruang lingkup
hak dasar anak plus empat hak khusus
untuk anak berkebutuhan khusus. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkink kan?
Hal yang sulit tidak akan menjadi mudah ketika kita terus mengeluh tanpa
memulai kan? Kita tidak akan tahu persis seberapa sulit memenuhi hak-hak anak
berkebutuhan khusus jika kita tidak mencobanya.
Pilihan terbaik dari kondisi sekarang, di mana Indonesia
masih terus berkembang, adalah dengan memulainya dari sekarang, dari diri
sendiri, dan dari lingkungan terdekat. Jangan lupa juga untuk berbagi informasi
terkait hak-hak anak berkebutuhan khusus dan mengajak orang lain untuk ikut
memenuhi hak mereka. Pelan-pelan saja. Sedikit demi sedikit.
Tidak pernah ada keajaiban dalam penanganan dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus. Jika kelak pemenuhan hak anak-anak berkebutuhan khusus terlaksana secara merata, maka itu semua karena perjuangan-perjuangan kecil yang telah kita lakukan sejak sekarang.
Selalu semangat membersamai anak-anak berkebutuhan khusus!
(/ ^^)/
Lisfatul Fatinah Munir | 24 Juli 2019
Versi singkat dari tulisan ini saya publikasikan
sebagai konten khusus Hari Anak Nasional di @kitainklusi
24 July 2019
Posted by Fatinah Munir
FAQ; Galau Kuliah Pendidikan Luar Biasa
Sudah cukup lama saya tidak menulis
artikel tentang Pendidikan Khusus ataupun kisah kasus murid yang sedang saya
tangani. Kali ini saya ingin menuliskan sedikit hal tentang Pendidikan khusus
yang belakangan banyak ditanyakan teman-teman, khususnya teman-teman yang ingin
mendaftar di perguruan tinggi, melalui email ataupun akun instagram saya.
Sebelumnya, beberapa tahun lalu saya
pernah menulis tentang seluk beluk Pendidikan Khusus di jurusankuliah.tumblr.com dan saya repost diblog ini. Tapi tampaknya dari informasi dalam tulisan tersebut muncul lagi
pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Pendidikan Khusus terutama hal
yang bersifat pengalaman pribadi yang tidak dapat diakomodir pada tulisan
sebelumnya. Oleh sebab itu, tulisan berformat FAQ ini insya Allah akan menjawab
banyak pertanyaan-pertanyaan yang sering masuk ke email dan pesan instagram
saya. Semoga membantu ya ^^
Oh iya, sebagai review saya merupakan
lulusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta angkatan masuk 2011
–masih sangat muda untuk menjadi guru kata teman-teman seprofesi di Singapura,
tapi di Indonesia saya malah dibully sebagai jomblo *eh. Sekali lagi, selamat
menikmati sepotong tulisan ini, semoga bermanfaat :)
Q :
Bagaimana sih cara kakak masuk Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri
Jakarta?
A :
Saya masuk melalui Ujian Masuk Bersama (UMB) awal 2011. Saat itu, UMB adalah
jalur masuk universitas yang terakhir sebelum ujian mandiri dibuka di
masing-masing universitas di Indonesia.
Q :
Apa saja persiapan kakak sebelum ujian masuk Pendidikan Luar Biasa Universitas
Negeri Jakarta?
A :
Meminta restu orang tua adalah hal pertama dan utama yang harus dilalui.
Setelah restu dikantongi, saya belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan
hasil ujian “Lolos Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta”. Seperti
yang pernah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya, saat ujian masuk universitas
ini saya masih berstatus sebagai mahasiswa Farmasi Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah, Jakarta. Saya memutuskan untuk ikut ujian masuk
universitas lagi karena ketertarikan saya pada Fisika dan Kimia tidak membuat
saya ingin menggelutinya sebagai profesi. Maka saya tetapkan menjadi guru
anak-anak berkebutuhan khusus adalah passion yang akan saya dalami sekaligus
sebagai profesi saya kelak. Alhamdulillah sekarang hal itu sudah terwujud :)
Little advices:
Apa yang saya lakukan beberapa tahun
lalu –pindah kuliah, sebenarnya bukan contoh baik bagi adik-adik yang saat ini
membaca tulisan saya dan ingin masuk universitas. Ada baiknya adik-adik kenali
diri dan jujur pada diri sendiri terhadap passion yang dimiliki. Kemudian tentukan
ingin seperti apa kalian lima hingga sepuluh tahun lagi. Sebab jika teman-teman
berpikir, “Coba dulu deh satu semester, nanti kan bisa ikut ujian lagi.” Itu
keliru, sebab ada banyak hal yang hilang selama kita “mencoba”, salah satunya
adalah usia :) So, mind your step before getting your real goal!
Q :
Susah gak sih, Kak, ujian masuk Pendidikan Luar Biasa?
A :
Susah atau tidaknya, menurut saya tergantung teman-teman bertanya pada siapa
dan bagaimana teman-teman berusaha. Pendidikan Luar Biasa merupakan cabang ilmu
sosial, sehingga materi ujiannya pun merujuk pada ilmu sosial. Tapi karena saya
dari jurusan eksak, saya mengikuti ujian ilmu campuran. Bagi saya saat itu
cukup susah, sebab saya harus mempelajari ilmu sosial sekaligus mereview pelajaran
eksak yang pernah saya pelajari di SMA satu tahun sebelumnya. Tapi kita harus tetap optimis. Perlu
dingat baik-baik bahwa usaha tidak akan pernah mengingkari hasil. Jika kita
berusaha bersungguh-sungguh, berdoa, dan meyakini Allah pasti Membantu, niscaya
kita akan diberi kemudahan. Pasti! :)
Q :
Bagaimana cara kakak belajar sebelum masuk universitas?
A :
Saat itu saya mencoba fokus pada materi yang akan diujikan saja dan memperbanyak
latihan-latihan soal. Saya meminjam semua soal latihan ujian masuk universitas
kepada teman SMA saya dan saya pelajari setiap soalnya, bahkan kadang saya
membacanya berulang-ulang. Saya tidak menghapal jawabannya, tetapi saya
memperlajari pembahasan soalnya dengan betul-betul. Pembahasan soal, sependek
pengalaman saya saat itu, cukup membantu saya menjawab soal dengan rumpun
materi yang sama tetapi pertanyaanya berbeda. Sebagai tambahan, saya juga
membeli buku saku materi ujian masuk universitas untuk ilmu sosial. Buku ini
benar-benar buku saku, kecil dan isinya sangat to the point. Buku ini
termasuk sangat membantu saya memahami beberapa soal yang tidak ada
pembahasannya. Untuk teman-teman dari kelas eksak tetapi ingin memilih jurusan
sosial di universitas mungkin bisa menggunakan cara ini.
Waktu belajar saya pun tidak banyak
saat itu. Saya hanya memiliki waktu kurang dari 2 bulan untuk belajar mandiri
sebelum ujian masuk universitas. Yang saya lakukan adalah saya selalu
menghabiskan waktu minimal 4 jam untuk persiapan ujian. Karena masih terus
kuliah di Farmasi, saya mematok waktu belajar masing-masing 2 jam di waktu
siang dan malam, tetapi biasanya akan lebih lama dari 2 jam di malam hari.
Little advices:
Karena tipe belajar setiap orang
berbeda, cara ini mungkin efektif buat saya yang suka di depan buku dan laptop
berlama-lama, tapi mungkin tidak efektif untuk teman-teman yang mudah bosan.
Teman-teman bisa mengembalikan cara belajar kepada tipe belajar masing-masing,
tetapi harus tetap fokus pada tujuan ya :)
Q :
Apakah ada materi khusus yang diujikan untuk bisa masuk Pendidikan Luar Biasa?
A :
Berdasarkan yang saya alami 2011 lalu, tidak ada materi khusus atau ujian
tambahan untuk masuk Pendidikan Luar Biasa. Pada beberapa universitas mungkin
ada ujian tambahan seperti tes wawancara dan tes bakat setelah peserta ujian dinyatakan
lulus ujian tertulis. Sayangnya, saya kurang tahu di universitas mana yang
menerapkan system seperti itu. Di Universitas Negeri Jakarta sendiri menerapkan
ujian tambahan untuk jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Seni Musik, dan Seni
Tata Busana.
Q :
Kak, apakah lulusan Pendidikan Luar Biasa hanya bisa bekerja di SLB? Kan SLB
gak banyak, Kak?
A :
I see. Pertanyaan semacam ini biasanya menanyakan prospek kerja seorang
lulusan Pendidikan Luar Biasa. Mulanya saya juga memikirkan itu, tapi karena
saya yakin dengan pilihan saya jadi saya lanjut saja. Cita-cita saya saat itu cuma ingin menjadi Duta Pendidikan Khusus Indonesia, hehehe. Cita-cita itu
masih ada sampai sekarang sebenarnya, semoga tercapai, amiin.
Oh ya, tentang prospek pekerjaan ini sebenarnya sudah saya ulas di tulisan beberapa tahun lalu di sini. Prospek guru pendidikan khusus itu sangat banyak. Masya Allah banyaknya, hingga setiap hari saya selalu menerima setidaknya dua atau tiga lowongan pekerjaan untuk tenaga pengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
Bekerjanya tidak harus selalu di SLB, tetapi bisa juga sebagai guru pendamping (shadow teacher), guru pendidikan khusus (GPK), guru private, hingga permintaan menjadi terapis ke rumah. Sebenarnya secara professional, menjadi terapi bukanlah pekerjaan guru melainkan ranah profesi para terapis yang sekolah terapis dan memiliki sertifikat praktik. Saran saya, kalau sudah memilih menjadi guru, silahkan pilih perkerjaan sebagai guru saja ya, sebab terapis itu beda cabang ilmu meskipun guru pendidikan khusus cukup tahu tentang ilmu tersebut :)
Oh ya, tentang prospek pekerjaan ini sebenarnya sudah saya ulas di tulisan beberapa tahun lalu di sini. Prospek guru pendidikan khusus itu sangat banyak. Masya Allah banyaknya, hingga setiap hari saya selalu menerima setidaknya dua atau tiga lowongan pekerjaan untuk tenaga pengajar anak-anak berkebutuhan khusus.
Bekerjanya tidak harus selalu di SLB, tetapi bisa juga sebagai guru pendamping (shadow teacher), guru pendidikan khusus (GPK), guru private, hingga permintaan menjadi terapis ke rumah. Sebenarnya secara professional, menjadi terapi bukanlah pekerjaan guru melainkan ranah profesi para terapis yang sekolah terapis dan memiliki sertifikat praktik. Saran saya, kalau sudah memilih menjadi guru, silahkan pilih perkerjaan sebagai guru saja ya, sebab terapis itu beda cabang ilmu meskipun guru pendidikan khusus cukup tahu tentang ilmu tersebut :)
Beranjak ke pertanyaan selanjutnya,
di bawah ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman
yang sedang galau memilih jurusan pendidikan luar biasa. Semoga jawaban di
bawah ini bisa semakin membantu teman-teman keluar dari kegalauan ya :)
Q :
Kak, aku orang yang gak sabaran, tapi aku pengin banget jadi guru anak-anak
berkebutuhan khusus. Apakah orang yang gak sabaran kayak aku bisa jadi guru
seperti kakak?
A :
Pertanyaan ini
pertama kali saya dapatkan awal tahun lalu melalui email, tetapi lambat laun
semakin banyak yang menanyakan pertanyaan serupa ini via email ataupun
instagram. Sebenarnya saya juga merasa kalau saya bukan orang yang sabaran.
Permasahalan lainnya bagi saya pribadi adalah saya orang yang tidak tegaan.
Saya bisa mudah menangis ketika melihat sesuatu yang menurut saya menyedihkan,
ini jelas-jelas akan menjadi masalah jika saya terus menangis di depan
anak-anak yang semestinya saya ajarkan. Hehehe.
Tapi ternyata di lapangan saya
belajar menata emosi. Pengalaman berkali-kali masuk kelas sejak semester dua
mengajarkan saya bagaimana mengolah emosi selama di kelas, jangan sampai
pekerjaan kita tercampur dengan rasa iba yang tidak bisa terkontrol. Pengalaman
pertama saya di kelas justru di luar dugaan. Saya sempat tidak makan minum
selama sehari dan teman saya di kelas justru muntah-muntah setelah mengajar.
Pengalaman ini pernah saya tuliskan di sini.
Well, sabar adalah proses yang harus
dilalui guru pendidikan khusus dari hari ke hari. Saya kurang bisa menjabarkan
proses seperti apa dan bagaimana menjalani prosesnya, sebab setiap kisah saya
di kelas adalah pembelajar sabar dan syukur bagi saya sendiri. Dan saya yakin setiap guru pendidikan khusus memiliki kisah masing-masing untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dari sebelumnya. Insya Allah
teman-teman akan menemukan jawabannya ketika teman-teman sudah di dalam kelas
bersama anak-anak berkebutuhan khusus yang menjadi murid teman-teman. Terlepas
dari hal itu, plongkan hati ketika ingin mengajar dan tetap ingat tujuan awal
kita memutuskan dunia pendidikan khusus sebagai bagian dari dunia kita. Insya
Allah, setiap melangkahkan kaki ke kelas menjadi langkah baru untuk memahami
arti sabar, syukur, cinta, dan kasih yang sejatinya :)
Q :
Bagaimana cara kakak meyakinkan orang tua untuk masuk Pendidikan Luar Biasa?
Saya bingung meyakinkan orang tua saya yang memandang sebelah mata jurusan
Pendidikan Luar Biasa :(
A :
Honestly, ini adalah the first most popular question I got ^^ Banyaaaak
sekali curhatan yang berisi permasalahn ini. BIsa dibilang hampir setiap pesan
di email ataupun instagram terselip pertanyaan ini :D
Well, sebelum menjawab
pertanyaannya, bagaimana meyakinkan orang tua mungkin akan saya ganti dengan
bagaimana mendapatkan restu orang tua. Ini menjadi masalah bagi saya juga saat
itu. Apalagi kondisi saya saat itu sudah menjadi mahasiswa Farmasi, memilih
ikut ujian masuk universitas lagi demi sebuah jurusan pendidikan itu sama saja
membalikkan dunia saya saat itu. Tapi saya tidak dapat membohongi diri saya
sendiri dan memaksa enjoy di dalam laboratorium T,T
Alright, it’s gonna take a long written
to answer. Harap
bersabar membacanya :)
Meyakinkan Diri Sendiri. Untuk meyakinkan kedua orang tua
saya, hal yang paling pertama kali saya lakukan adalah meyakinkan diri saya sendiri.
Loh , kalau sudah memutuskan memilih, kenapa harus meyakinkan diri sendiri
lagi, Kak? It’s okay loh untuk meyakinkan diri lagi, berpikir berkali-kali
sebelum memutuskan. Terlebih lagi memilih jurusan kuliah sama dengan menentukan
nasib teman-teman untuk tiga hingga lima tahun ke depan. Harapannya setelah
teman-teman berpikir dan meyakinkan diri sendiri tidak ada saling gugat
pendapat atau menyalahkan jika suatu hari teman-teman mereka salah memilih
jurusan :)
Dulu, selama berhari-hari saya
memikirkan banyak pertanyaan terhadap keputusan saya. Apa yang membuat saya
ingin kuliah lagi di jurusan Pendidikan Luar Biasa? Seperti apa masa depan saya
ke depan jika saya memilih fokus ke pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan
khusus? Apakah saya yakin dengan pilihan saya? Semua pertanyaan itu saya
tanyakan berkali-kali kepada diri saya sendiri sebelum saya menghadap Emak
Bapak. Alhamdulillah, jawaban dari pertanyaan saya kepada diri sendiri ini bisa
saya gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Emak Bapak :)
Cari tahu alasan orang tua tidak yakin atas pilihan kita sebagai guru pendidikan khusus. Setiap kegelisahan pasti ada sebabnya, demikian juga kegelisahan orang tua kita akan pilihan kita. Biasanya orang tua ragu saat mengetahui anaknya ingin kuliah di pendidikan luar biasa karena dua hal; sikap anak yang dalam pandangan orang tua tidak cocok dengan pekerjaannya kelak dan prospek pekerjaan atau kesejahteraan di masa depan. Ini based on my own true story ya. Hehehe :D
Untuk mengatasi ketidakyakinan orang tua akan sikap kita yang tidak cocok dengan pekerjaan nantinya, saya mencoba meyakinkan dengan menunjukkan perubahan sikap saya. Ya..., bisa dihitung sambil menyelam minum air, sambil membujuk orang tua kita belajar melatih diri sendiri sebelum terjun ke lapangan. Hehehe. Kemudian untuk meyakinkan orang tua bahwa kesejahteraan saya akan terjamin selepas lulus dan menjadi tenaga profesional dalam pendidikan khusus adalah saya menyampaikan beberapa fakta yang saya temui tentang pendidikan khusus juga target-target saya.
Saat itu sedang marak sekolah inklusif, jadi saya menjadikan sekolah inklusif yang bertebaran di mana-mana sebagai contoh kecil peluang kerja yang besar, sebab lulusan pendidikan luar biasa sangat sedikit sedangkan jumlah anak berkebutuhan khusus semakin banyak. Di samping itu saya paparkan tentang sekolah-sekolah international dan sekolah alam yang dominan mencari lulusan pendidikan luar biasa sebagai tenaga pengajarnya. Sebagai tambahan saya ceritakan kepada kedua orang tua saya tentang target saya untuk menjadi dosen, sehingga saya juga menyampaikan rencana-rencana yang akan saya jalani selama perkuliahan berlangsung hingga saya menjadi dosen kelak. Alhamdulillah, dengan waktu yang agak panjang di setiap obrolan tentang kuliah di pendidikan luar biasa dapat membuahkan hasil yang baik bagi saya. Orang tua saya semakin yakin kalau saya yakin dan sudah matang memilih pendidikan luar biasa sebagai pendidikan lanjut yang akan saya ambil :)
Cari tahu alasan orang tua tidak yakin atas pilihan kita sebagai guru pendidikan khusus. Setiap kegelisahan pasti ada sebabnya, demikian juga kegelisahan orang tua kita akan pilihan kita. Biasanya orang tua ragu saat mengetahui anaknya ingin kuliah di pendidikan luar biasa karena dua hal; sikap anak yang dalam pandangan orang tua tidak cocok dengan pekerjaannya kelak dan prospek pekerjaan atau kesejahteraan di masa depan. Ini based on my own true story ya. Hehehe :D
Untuk mengatasi ketidakyakinan orang tua akan sikap kita yang tidak cocok dengan pekerjaan nantinya, saya mencoba meyakinkan dengan menunjukkan perubahan sikap saya. Ya..., bisa dihitung sambil menyelam minum air, sambil membujuk orang tua kita belajar melatih diri sendiri sebelum terjun ke lapangan. Hehehe. Kemudian untuk meyakinkan orang tua bahwa kesejahteraan saya akan terjamin selepas lulus dan menjadi tenaga profesional dalam pendidikan khusus adalah saya menyampaikan beberapa fakta yang saya temui tentang pendidikan khusus juga target-target saya.
Saat itu sedang marak sekolah inklusif, jadi saya menjadikan sekolah inklusif yang bertebaran di mana-mana sebagai contoh kecil peluang kerja yang besar, sebab lulusan pendidikan luar biasa sangat sedikit sedangkan jumlah anak berkebutuhan khusus semakin banyak. Di samping itu saya paparkan tentang sekolah-sekolah international dan sekolah alam yang dominan mencari lulusan pendidikan luar biasa sebagai tenaga pengajarnya. Sebagai tambahan saya ceritakan kepada kedua orang tua saya tentang target saya untuk menjadi dosen, sehingga saya juga menyampaikan rencana-rencana yang akan saya jalani selama perkuliahan berlangsung hingga saya menjadi dosen kelak. Alhamdulillah, dengan waktu yang agak panjang di setiap obrolan tentang kuliah di pendidikan luar biasa dapat membuahkan hasil yang baik bagi saya. Orang tua saya semakin yakin kalau saya yakin dan sudah matang memilih pendidikan luar biasa sebagai pendidikan lanjut yang akan saya ambil :)
Perkenalkan Pendidikan Luar Biasa
dengan Elegant. Sebelum
saya menggiring percakapan tentang ingin ikut ujian masuk Pendidikan Luar
Biasa, saya sedikit demi sedikit bercerita tentang anak-anak berkebutuhan
khusus kepada Emak Bapak saya. Selain karena keponakan pertama saya juga
berkebutuhan khusus, saya mulai menjadikan kasus keponakan saya sebagai contoh.
Saya juga menceritakan peluang-peluang pekerjaannya. Ya sebab tak dapat
dipungkiri, pekerjaan yang worthy menjadi pertimbangan kedua orang tua juga.
Nyatakan Keinginan dengan Komunikasi
yang Mudah Diterima. Setelah
sedikit demi sedikit membiasakan Emak Bapak mendengar hal-hal berkaitan
pendidikan anak berkebutuhan khusus, saya memutuskan untuk masuk pada obrolan
tentang niat saya untuk mendaftar ujian masuk universitas lagi. Di sini seingat
saya, saya memulai percakapan dengan mengungkapkan “kepura-puraan” saya untuk
tetap nyaman berlama-lama di dalam laboratorium Farmasi. Saya mengakui
kesalahan fatal saya karena telah membohongi diri sendiri dan tidak bisa
berbuat apa-apa selain mengikuti saran-saran yang saya telah mentah-mentah
hanya karena gengsi semata. Kemudian saya menggiring membiacaraan kepada
jurusan Pendidikan Luar Biasa yang ingin saya ambil. Memang mulanya orang tua
saya kaget. Kok jomplang banget jurusannya? Itulah respon pertama yang paling
saya ingat. Lalu kamu yakin kan ini jurusan yang kamu mau dan bukan karena
ikut-ikutan saran orang? itulah pertanyaan selanjutnya yang saya terima dan
saya jawab dengan jawaban yang sudah saya siapkan saat saya bertanya pada diri
sendiri. Butuh waktu memang bagi orang tua untuk memberikan jawaban, tetapi itu
wajar. Sebab orang tua akan memikirkan banyak hal dan memiliki kekhawatiran
akan masa depan kita :)
Little advices:
Saat berbicara dengan orang tua,
bicaralah dengan baik-baik. Tidak emosi, berbicara dengan tenang, dan suara
rendah, bukan apalagi masarah-marah. Saat itu saya sempat emosi juga
sih, tapi emosinya menangis sebelum berbicara. Hehehe. Saat menjelaskan tentang
Pendidikan Luar Biasa, usahakan gunakan bahasa yang mudah dipahami. The last
and the most important, gunakan bahasa komunikasi yang bisa diterima dengan
baik oleh kedua orang tua kita. Karena setiap keluarga memiliki pola komunikasi
yang berbeda, jadi teman-teman pasti lebih bisa memahami pola komunikasi
keluarga masing-masing :)
Sekian dulu FAQ untuk kali ini. Berharap tulisan FAQ ini
bermanfaat dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sejenis yang masuk ke inbox
email saya. Jika memang ada pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak masuk dalam
daftar FAQ di atas, dengan senang hati saya menerima pertanyaan-pertanyaan
tersebut di kolom komentar blog ini, di email fatinahmunir@gmail.com, atau di message instagram saya fatinahmunir.
Untuk tahu lebih jauh lagi tentang
dunia pendidikan khusus dalam dunia yang saya miliki, teman-teman bisa follow
instagram fatinahmunir. Di akun ini insya Allah teman-teman bisa melihat
aktivitas saya bersama murid-murid saya :)
![]() |
| Ini adalah salah satu moment kebersamaan saya dan murid-murid saya saat kami sedang fieldtrip ke Museum Nasional, Jakarta ^_^ |
Once again, terima kasih telah membaca, semoga
bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan :)
Jakarta, 22 Februari 2017, 22:41 WIB
Lisfatul Fatinah Munir
Seluk Beluk Kuliah Pendidikan Luar Biasa
“Pendidikan adalah hak semua manusia.”
Kalimat
di atas saya pikir adalah dasar dari munculnya jurusan kuliah yang satu ini.
Sebuah jurusan kuliah yang saya ambil pada 2011 silam di Universitas Negeri
Jakarta. Saat memutuskan memilih jurusan kuliah yang satu ini, mungkin kalian
akan mendapatkan respon yang serupa dengan yang saya alami. Contohnya adalah
pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini. Yakin mau ngajar anak-anak
begitu? Oh yang ngajar anak idiot itu ya? Kamu ngajar anak-anak yang ileran
gitu? Dan banyak lagi respon serupa dari banyak orang.
Sebelum
bercerita tentang apa itu jurusan kuliah Pendidikan Luar Biasa, saya ingin
sedikit bercerita mengapa saya bisa masuk ke jurusan kuliah ini:
Tahun 2010 saya tertulis sebagai mahasiswa Farmasi UIN Jakarta.
Saya memilih menjadi mahasiswa Farmasi UIN Jakarta atas dasar rekomendasi
guru-guru yang melihat bahwa nilai pelajaran eksakta saya selalu tinggi dan
pernah mendapat predikat siswa teladan di SMA.
Setelah dua semester saya jalani, meskipun nilai-nilai kuliah
saya tinggi bahkan di semester awal saya mendapatkan IP (Indeks Prestasi) 3,7
atau setara dengan nilai A, saya merasakan ada yang hilang dalam kehidupan
saya. Meskipun saya sudah mulai menyukai Farmasi, tapi semua tetap terasa
berjalan tidak natural. Saya seperti terkurung dalam aktivitas laboratorium,
sedangkan saya adalah orang paling tidak bisa beraktivitas dengan monoton dan
selalu ingin mencoba hal baru dan yang menantang.
Alhasil memasuki semester dua mulai mencoba mencari jurusan
kuliah yang sesuai dengan karakter saya. Lalu tanpa sengaja saya mampir di
salah satu blog yang menceritakan tentang pendidikan anak tunalaras, anak yang
secara simpel diartikan sebagai anak yang sangat nakal bahkan kenalannya bisa
mencelakakan orang lain dan kenakalannya bisa dianggap sebagai pelanggaran
hukum negara seperti mengonsumsi narkoba, mencuri, bahkan membunuh. Ingat, ini
tulisan yang saya baca adalah tentang PENDIDIKAN ANAK! Makhluk Tuhan dengan usia
6-12 tahun yang lugu dan polos tapi punya masalah yang cukup mengerikan.
Sebab hal di atas, saya menjadi semakin penasaran dengan
berbagai tipe anak termasuk bagaimana cara mendidik atau mengajar anak seperti
itu. Kurang lebih selama sebulan saya observasi dan banyak membaca di internet
tentang anak-anak seperti ini hingga saya merasa tertantang untuk bertemu dan
mengajar anak seperti ini. Oke, akhirnya saya memutuskan untuk banting setir
bangku kuliah, dari seorang laboran menjadi guru anak-anak istimewa.
Anak Luar Biasa?
Sebelum
tahu apa itu Pendidikan Luar Biasa, saya pikir teman-teman harus tahu dulu apa
itu anak luar biasa, sebagai objek utama dari jurusan kuliah ini.
Anak
Luar Biasa (ALB) atau yang sekarang disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah
anak yang memiliki tiga ketentuan berikut: (1) anak memiliki penyimpangan
berarti dari anak pada umumnya (kurang atau melebihi anak pada umumnya), (2)
penyimpangan tersebut membuat anak mengalami hambatan dalam kesehariannya
termasuk dalam aspek akademik (pendidikan), dan (3) karena hambatan tersebut
seorang anak membutuhkan pelayanan khusus.
Jika
ketiga ketentuan di atas ada pada diri anak, maka anak dikategorikan sebagai
ABK. Jadi, ketika ada anak yang memiliki hambatan fisik maupun intelejensi
tetapi tidak memiliki hambatan dalam kesehariannya, otomatis anak ini tidak
membutuhkan pelayanan dan pendidikan khusus dan tidak dikategorikan sebagai
ABK.
Anak
Berkebutuhan Khusus memiliki banyak kategori, kurang kebih ada sembilan macam
ABK seperti yang tertulis di bawah ini.
1. Anak Disabilitas Intelektual (Retardasi
Mental), dulu disebut tunagrahita. Anak dalam kategori ini adalah anak yang
memiliki intelejensi kurang dari rata-rata atau dengan IQ di bawah 70.
2. Anak Disabilitas Pengelihatan, dulu disebut
tunanetra. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki hambatan dalam
pengelihatannya, baik itu secara keseluruhan (totally blind) maupun
sebagian (low vision).
3. Anak Disabilitas Pendengaran, dulu disebut
tunarungu. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki hambatan
pendengaran baik ringan maupun berat.
4. Anak Disabilitas Tubuh, dulu disebut
tunadaksa. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki kondisi fisik yang
menyimpang dari anak pada umumnya. Kondisi fisik ini dapat terjadi dalam
berbagai macam dan dapat menghambat aktivitas anak.
5. Anak Gangguan Emosi dan Tingkah Laku, dulu
disebut tunalaras. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki gangguan
emosi dan penyimpangan tingkah laku berdasarkan sosial, adat, dan hukum.
6. Anak Autis. Anak dalam kategori ini adalah
anak autis adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan otak yang kompleks
dan signifikan (akan tetap seperti itu jika tidak ditangani) yang mempengaruhi
perkembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, semua gelaja autis ini
terjadi. Anak autis memiliki ciri yang berbeda dari setiap individu, sehingga
tidak ada ciri-ciri spesifik dalam anak autis.
7. Anak Gangguan Pemusatan Perhatian dan
Hiperaktif (GPPH) atau Attantion Deficit and Hiperactivity Disorder (ADHD).
Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki gangguan pemusatan perhatian
dan memiliki tingkat keaktifan jauh melebihi anak pada umumnya.
8. Anak Kesulitan Belajar. Anak dalam kategori
ini adalah anak yang memiliki hambatan dalam belajar karena disfungsi minimum
otak.
9. Anak Berbakat. Anak dalam kategori ini adalah
anak yang memiliki kemampuan akademis atau nonakademis melebihi anak pada
umumnya, biasanya anak-anak ini memiliki IQ di atas 130.
Kesembilan
kategori ABK di atas memiliki perbedaan dalam kekhususannya. Antar ketegori ABK
memerlukan pelayanan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususannya
masing-masing dalam hal pendidikan. Oleh sebab itu dibutuhkan Guru Pendidikan
Khusus yang sebelumnya berkuliah di Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan
Khusus.
Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus
Dari
penjelasan panjang di atas tentang anak berkebutuhan khusus (ABK) sudah
terbayangkah apa itu Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau Pendidikan Khusus (PKh)?
Yup.
PLB atau PKh adalah jurusan kuliah yang di dalamnya teman-teman bisa belajar
untuk mengajar kesembilan ABK di atas. di jurusan kuliah ini teman-teman akan
mengenal Sembilan macam ABK dan belajar bagaimana mengajar mereka dengan
kekhususan yang mereka punya.
Apa yang Akan Dipelajari?
Saat
kuliah, teman-teman anak belajar terlebih dahulu kriteria dari kesembilan anak
tersebut. Jadi, sebagai gambaran awal apa yang akan dipelajari di jurusan ini
setidaknya teman-teman akan mempunyai Sembilan matakuliah perspektif atau
pengantar yang masing-masing matakuliah ini akan membahas tentang macam-macam
ABK secara detail.
Selain
mempelajari kriteria ABK, teman-teman akan mendapatkan matakuliah lanjutan dari
kesembilan macam ABK berupa matakuliah pembelajaran ABK dan matakuliah
kompensatoris, tapi tidak semua macam ABK mempunyai kompensatoris. Contohnya
untuk ABK Disabilitas Pengelihatan teman-teman akan belajar Perspektif Anak
Disabilitas Pendengaran, Pembelajaran Anak Disabilitas Pendengaran, dan
matakuliah kompensatorisnya seperti matakuliah Bahasa Isyarat (Sistem
Komunikasi).
Setelah
mempelajari seluruh macam ABK ini, teman-teman harus memilih kekhususan yang
akan teman-teman geluti. Misalnya teman-teman ingin konsen dan mendalami
pendidikan untuk anak kesulitan belajar, maka di semester IV atau semester VI
(tergantung dari kampusnya) teman-teman akan memilih kekhususan ini dan konsen
memperlajari tentang anak kesulitan belajar. Di kampus saya, kekhususan ini
diambil di semester VI dan saya memilih konsen di kekhususan anak dengan
autisme dan ADHD.
Prospeknya yang Tak Usah Ditanya!
Kuliah
di PLB atau PKh tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan. Bukan
bermaksud mendahulukan kehendak Tuhan. Sama sekali bukan. Karena memang sejak
2010 dicanangkan Sekolah Inklusif, lulusan PLB/PKh sangat dibutuhkan. Entah itu
di SLB (Sekolah Luar Biasa) ataupun di sekolah umum yang menerima ABK.
Tahukah teman-teman,
jika teman-teman kuliah di jurusan PLB/PKh, sebelum teman-teman lulus kuliah
pun, teman-teman akan mendapatkan banyak tawaran kerja untuk mengajar. Mengapa
bisa begitu? Sebab dalam Sekolah Inklusif setiap ABK membutuhkan satu guru
pendamping untuk dirinya. Jadi jika dalam sebuah SD tiap kelasnya ada minimal 2
ABK, itu artinya dibutuhkan dua guru pendamping dalam satu kelas, total 12 guru
pendamping. Dan saat ini ada cukup banyak Sekolah Inklusif di Jabodetabek.
Belum lagi tawaran mengajar les untuk ABK yang tak kalah banyaknya.
Jika teman-teman sudah lulus, teman-teman bisa mengambil ‘tantangan’ yang lebih besar lagi seperti menjadi Guru Pendidikan Khusus atau Konselor Pendidikan Khusus di Sekolah Inklusif, Sekolah Alam, atau Homeschooling yang mana teman-teman akan dihadapkan tidak hanya pada satu anak, melainkan mengatasi anak yang ada di satu sekolah dan menjadi konsultan bagi guru-guru umum!
Jika teman-teman sudah lulus, teman-teman bisa mengambil ‘tantangan’ yang lebih besar lagi seperti menjadi Guru Pendidikan Khusus atau Konselor Pendidikan Khusus di Sekolah Inklusif, Sekolah Alam, atau Homeschooling yang mana teman-teman akan dihadapkan tidak hanya pada satu anak, melainkan mengatasi anak yang ada di satu sekolah dan menjadi konsultan bagi guru-guru umum!
Jadi,
sudah terbayang kan bagaimana besarnya peluang kerja untuk lulusan PLB/PKh?
Bisakah Jadi Terapis?
Apakah
lulusan PLB/PKh hanya bisa menjadi guru? Bukan ‘hanya bisa’, melainkan memang
dicetak untuk menjadi guru. Ingat, guru yang mendidik anak ini tidak hanya dari
segi akademik tetapi juga behavior atau keseharian mereka. Mengajarkan
anak-anak tentang apa saja yang ada di depannya dan yang terpenting adalah
menjadikan anak-anak ini mandiri, tidak tergantung pada orangtua atau orang
lain di sekitarnya.
Menjadi
terapis, bukanlah prospek dari lulusan PLB/PKh, karena seperti nama jurusan
kuliah ini: PENDIDIKAN. Maka di sini teman-teman akan menjadi pendidik, guru
yang lebih dari sekadar guru biasa. Di sini teman-teman akan belajar menjadi
guru yang harus memiliki kasih sayang dan sabar berlipat ganda dibandingkan
guru biasa.
Terakhir,
untuk kalian yang masih galau memilih jurusan kuliah, untuk kalian yang
memiliki keinginan menjadi guru dan menyukai tantangan, percayalah Pendidikan
Luar Biasa atau Pendidikan Khusus adalah pilihan yang tepat untuk jurusan
kuliah kalian. Karena di sini, setiap hari kalian akan memiliki cerita
petualangan menghadapi tantangan di kelas!
Karena
begitu banyak tantangan menyenangkan di kelas saat mengajar, saya menyebut
seluruh pengalaman saya mengajar sejak semester V dengan nama Teachventure
(Teach Adventure)!
Untuk teman-teman yang galau memilih jurusan kuliah, teman-teman bisa berkunjung di jurusankuliah.tumblr.com untuk membaca berbagai ulasan tentang berbagai jurusan kuliah. Happy reading! :)
@fatinahmunir | 12 Juni 2016















