Showing posts with label Pendidikan Khusus. Show all posts

Apresiasi Setiap Proses dan Progres

Photo by Suzanne D. Williams on Unsplash
Progres atau perkembangan yang signifikan dan terus-menerus pasti menjadi impian setiap orang tua dan pendidik untuk individu berkebutuhan khusus. Apalagi jika progres yang dipunya dapat membantu mereka untuk bisa lebih beradaptasi di lingkungannya atau untuk mencapai tujuan belajar yang lebih tinggi lagi. Tapi sayangnya kita, termasuk saya, sering sering sekali kecewa dengan progres yang tidak tampak. Pertanyaannya, apakah benar sama sekali tidak ada progres atau perkembangannya? Jangan-jangan sebenarnya ada progres yang dicapai tapi kita tidak pernah menganggapnya sebagai suatu progress?

Sepertinya sih banyak yang mengalami kondisi kedua, ya? Biasanya kita tidak pernah engeh atas progres-progres kecil yang telah diraih oleh murid atau anak. Padahal sekecil apapun pencapaian yang diraih, itu juga progress loh! Kalau sudah seperti ini yang keliru bukan progresnya yang tidak signifikan, tapi diri kita sebagai pendidik, terapis, ataupun orang tua yang membuat target terlalu tinggi. Alasannya cuma satu, yaitu karena kita tidak mengenal dengan baik siapa individu berkebutuhan khusus yang sedang ditangani.

Kalau sudah begini, biasanya kemungkinan yang terjadi pada pendidik adalah kecewa pada diri sendiri. Atau paling tidak pendidik jadi menyalahkan pihak lain atas minimnya progres yang didapat, salah satunya adalah menyalahkan pihak orang tua si murid. Kalau dari sudut pandang orang tua, biasanya orang tua akan menganggap kalau anaknya ditangani oleh pendidik atau terapis yang kurang kompeten. Ujung-ujungnya orang tua akan memindahkan anaknya ke sekolah atau tempat terapi lain. Siklusnya akan terus saja begini selama pendidik dan orang tua belum menyadari bahwa setiap progress, sekecil apapun perkembangan yang dimiliki anak adalah pencapaian yang perlu diapresiasi.

Hasilnya? Tidak ada hasilnya sama sekali. Coba deh teman-teman perhatikan setiap anak berkebutuhan khusus yang sering sekali berpindah sekolah ataupun berpindah tempat terapi. Apakah ada progres yang sangat signifikan? Pasti kebanyakan tidak menunjukkan progres yang signifikan.

Penanganan yang diberikan kepada setiap individu berkebutuhan khusus sama seperti titik-titik yang dihubungkan satu sama lainnya. Jika penanganan yang diberikan terus diganti dari satu sekolah ke sekolah lainnya dan dari satu tempat terapi ke tempat terapi lainnya, itu sama seperti menghubungkan titik-titik di tempat berbeda. Kalau sudah terus berpindah sekolah atau tempat terapi, apakah setiap titik yang terhubung akan menjadi sesuatu yang utuh. Tentu tidak, kan?

Berbeda dengan setiap titik yang terhubung dan terus dilakukan dengan konsisten, sehingga titik-titik tersebut menjadi garis utuh. Titik-titik kecil ini sama seperti progres-progres kecil yang muncul pada anak. Tidak tampak tapi tetap ada. Tentunya titik-titik ini akan tanpak setelah berkumpul menjadi garis. Dan yang bisa mengumpulkan setiap titik ini hanya konsistensi dan apresiasi kita atas titik-titik kecil atau progres-progres kecil yang dicapai anak.

Jadi untuk setiap kita, saya dan teman-teman yang membanca tulisan ini, tidak ada salahnya untuk mengapresiasi setiap progres yang telah kita capai bersama dengan individu berkebutuhan khusus yang telah kita bersamai. Jangan sia-siakan perjuangan bersama hanya karena kita luput mengapresiasi setiap progres yang dicapai.

Sekecil apapun progres yang diraih adalah sebuah pencapaian besar setelah berkali-kali pertemuan di ruang kelas ataupun di ruang terapi. Sekecil apapun progres yang didapat, ada lelah yang kita punya sebagai pendidik atau terapis, ada jerih payah usaha dari orang tua yang telah mengantar-menunggu-menjemput. Jangan lupa, ada juga perjuangan dari individu berkebutuhan khusus yang kita bersamai. Mereka juga berjuang untuk bisa mendengarkan dan memahami instruksi dengan benar dan melakukannya sesuai dengan instruksi yang diberikan. Semuanya punya peran untuk sama-sama berjuang menggabungkan setiap titik menjadi garis. Dengan mengapresiasi setiap proses dan progres yang dicapai, sama dengan mengapresiasi setiap usaha yang telah dilakukan selama membersamai individu berkebutuhan khusus.

Lisfatul Fatinah Munir | 16 Oktober 2019
Selamat merayakan syukur!



16 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Kenapa Memilih Menjadi Pendidik Autisme Dewasa?

Photo by Carli Jeen on Unsplash
Banyak yang bertanya kenapa saya sangat antusias ingin mendalami pendidikan autisme usia dewasa. Padahal mendidik individu dengan autisme usia anak-anak saja sudah sulit, bagaimana lagi dengan yang usia dewasa. Salah satu komentar yang datang kepada saya terima biasanya seperti itu. Atau yang lebih sering adalah komentar yang mengatakan kalau pilihan saya mendidik individu dengan autisme usia dewasa merupakan langkah aman. Hal ini karena kebanyakan orang percaya kalau setiap individu dengan autisme di usia dewasa sudah lebih bisa beradaptasi daripada individu dengan autisme usia anak-anak yang masih membutuhkan banyak bantuan dan masih perlu “dibentuk” perilakunya.

Lingkungan terdekat saya adalah alasan utama mengapa saya memutuskan memperdalam pendidikan autism dewasa. Qodarullah, keponakan saya diagnosis memiliki spektrum autisme sejak 2002, saat usianya dua tahun. Ketika saya memutuskan kuliah pendidikan khusus, keponakan saya sudah memasuki usia sebelas. Itu artinya keponakan saya akan meninggalkan usia anak-anak dan akan masuk ke usia remaja awal.

Selama menjalani perkuliahan, saya sangat berharap bisa mendapatkan ilmu pendidikan autisme dewasa. Sayangnya, hingga saya lulus tidak ada satupun matakuliah yang mengakomodasi harapan dan rasa ingin tahu saya. Saya tidak menemukan jawaban dari rasa penasaran saya, karena selama di kampus tidak ada satu pun matakuliah yang mempelajari pendidikan individu dengan autism di usia remaja dan dewasa –demikian juga dengan individu berkebutuhan khusus lainnya. Ya, semua yang pernah saya pelajari selama kuliah hanya pendidikan untuk individu berkebutuhan khusus di usia anak-anak. Dan sepertinya sampai saat ini pun belum ada matakuliah yang membahas pendidikan individu berkebutuhan khusus hingga usia dewasa. Daripada menyerah, tidak terakomodasinya rasa penasaran saya di kampus justru membuat saya semakin semangat untuk mempelajari sendiri pendidikan autisme dewasa. Oleh sebab itu saat mencoba mencari tahu sendiri, baca-baca sendiri walaupun tidak semaksimal belajar langsung dengan dosen.

Ketika itu beberapa dosen yang saya tanyakan mengenai pendidikan autism dewasa kerap kali mengatakan kalau sulit mempelajari pendidikan autisme dewasa, karena tidak banyak referensi dalam negeri. Setiap kali mendapatkan jawaban semacam ini, sejujurnya saya merasa sedih. Sebab itu artinya masih sedikit orang yang memikirkan solusi jangka panjang atas keberadaan individu dengan autisme.

Photo by Robin Worall on Unsplash

Bagaimana nasib mereka setelah menerima layanan pendidikan dan lulus sekolah? Apakah pendidikan yang sudah mereka terima cukup membuat mereka mandiri, seperti tujuan pendidikan nasional? Apa indikator mandiri untuk individu autisme dewasa? Akankah mereka terus tergantung pada lembaga pendidikan dan pelatihan hingga mereka tua?


Pertanyaan-pertanyaan di atas berputar di kepala saya dan alhamdulillah menjadi modal buat saya untuk terus semangat mempelajari pendidikan individu autisme dewasa walaupun katanya susah. Selepas kuliah, saya juga bertekad akan bekerja di lembaga pendidikan khusus untuk individu autisme dewasa. Alhamdulillah. Sekarang saya sudah berada di lingkungan yang sangat saya dambakan sejak dulu, mengajar individu autisme dewasa.

Memasuki tahun keempat membersamai individu autisme dewasa yang sering saya sebut murid-murid besar, tidak hanya membuat rasa penasaran dan keingintahuan saya sejak kuliah terbayar. Lebih dari sekadar itu, sampai saat ini saya justru menjadi merasa masing snagat minim pengetahuan tentang individu autisme dewasa dan lebih belajar banyak dari kasus murid-murid besar yang saya bersamai.

Semakin saya mengenal dunia pendidikan individu autisme dewasa, semakin saya sadar bahwa layanan pendidikan dan pelatihan untuk individu autisme dewasa saat ini masih belum cukup mengakomodasi kebutuhan mereka. Satu hal penting yang saya sadari adalah masih sangat banyak hal yang harus dipersiapkan di masa transisi mereka, yakni masa sebelum mereka memasuki usia dewasa. Belum lagi perencanaan jangka panjang terhadap kemandirian mereka. Di sinilah saya tahu kalau keponakan saya dan murid-murid besar saya membutuhkan layanan pendidikan dan pelatihan yang jauh lebih kompleks daripada yang mereka butuhkan di usia anak-anak.

Ditambah lagi dengan curhatan orang tua murid yang masih saja bingung harus kemana dan apa yang harus dilakukan setelah lulus dari tempat belajar sekarang. Padahal tempat saya mengajar sekarang adalah sekolah lanjutan untuk individu autisme dewasa yang telah lulus sekolah. Menemukan fakta ini membuat saya semakin sadar bahwa masih sangat sedikit awareness (kesadaran dan kepedulian) orang-orang akan keberadaan individu dengan autism secara utuh sebagai individu, seorang manusia yang juga layak hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Seperti hidup mandiri, diterima di lingkungan sekitar, bersosialisasi dengan banyak orang, berteman, dan sebagainya.

Photo by Ian Schneider on Unsplash
Alih-alih patah arang karena kompleksnya permasalahan dan masih banyak PR yang harus dituntaskan untuk membersamai individu autisme dewasa, terjun langsung di dunia pendidikan individu autisme dewasa dan tinggal bersama individu autisme dewasa justru membuat saya semakin dan semakin ingin terus membersamai mereka. Ini justru membuat saya ingin terus mempelajari pendidikan untuk individu autisme dewasa, ingin terus melakukan penelitian dan praktik baik demi masa depan mereka yang lebih baik, ingin terus mencoba memulai hal baru demi memberikan solusi yang bisa digunakan oleh banyak orang yang terlibat dengan individu autisme dewasa, dan banyak lagi yang ingin saya lakukan untuk mereka.

Saya sempat berpikir sepertinya terlambat sekali bagi saya untuk mempelajari individu autisme dewasa, sedangkan keponakan saya yang menjadi alasan utama saya ada di sini sudah hampir memasuki usia duapuluh. Tapi tidak lama setelah pemikiran ini muncul, saya optimis insya Allah semua yang saya pelajari tidak terlambat dan tidak sia-sia. Walaupun terlambat untuk menangani keponakan saya, tapi semoga apa yang saya lakukan bisa bermanfaat buat lebih banyak individu autisme dewasa di luar sana, bisa membantu sesama pendidik dan orang tua. Bukan hanya karena ingin terus memberikan yang terbaik saat membersamai keponakan saya, tetapi juga ingin setiap individu autisme dewasa di Indonesia dan dunia menerima kebermanfaat ilmu yang saya punya dan program-program  temuan yang saya lakukan untuk masa depan individu denga autisme yang jauh lebih baik. Karena saya ingin setiap individu autisme dewasa di Indonesia kelak bisa diterima dengan baik di lingkungan masyarakat, diperlakukan selayaknya manusia, diberi kesempatan untuk mandiri dan mengaktualisasikan diri, serta menjadi bagian lingkungan sosial seutuhnya tanpa ada sekat ambigu bernama “normal”. Insya Allah, suatu hari nanti dan saya akan memulainya.

Lisfatul Fatinah Munir | 8 Oktober 2019
08 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Membersamai Individu Berkebutuhan Khusus di Antara Ketakutan dan Kesempatan

Photo by Joshua Sukoff on Unsplash
Di tulisan sebelumnya saya sedikit menyebutkan kalau saya dan beberapa rekan mengajar baru saja memulai sebuah projek Social Club untuk individu dengan autisme usia remaja dan dewasa. Kali ini saya ingin cerita bagaimana di awal langkah menjalankan Social Club ini membuat saya menyadari betapa sebenarnya murid-murid besar saya yang memiliki keautistikan hidup terombang-ambing di antara ketakutan dan kesempatan.

Jadi singkatnya dalam tahap awal Social Club ini setiap individu dengan autisme yang terlibat akan hangout tanpa orang tua mereka. Semua hal yang berkaitan dengan agenda hangout ini direncanakan oleh mereka sendiri. Saya dan rekan-rekan pengajar yang terlibat hanya bertugas sebagai pengikut dan menjembatani komunikasi mereka jika mereka saling tidak memahami maksud satu sama lainnya.

Beberapa hari sebelum hangout ternyata muncul hal-hal yang tidak terlalu saya perhitungkan, yaitu perasaan-perasaan orang tua mereka melepas mereka hangout sendirian tanpa orang tua. Takut dan khawatir adalah respon yang sewajarnya muncul dari orang tua mereka. Saat itu saya dan rekan-rekan pengajar lainnya juga takut dan khawatir sekali, tapi kami juga sangat ingin mencoba dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa merasakan bagaimana menjadi “orang dewasa” seperti pada umumnya.

Tapi sekali lagi, entah kenapa saya luput untuk memikirkan kecemasan yang akan muncul dari orang tua mereka. Di mana ketakutan dari orang tua mereka pasti jauh lebih besar dari ketakutan yang kami punya. Saat itu saya pikir orang tua mereka akan tenang saja karena tim kami sudah mengumumkan apa saja perencanaan yang sudah ditetapkan oleh anak-anak mereka. Tapi orang tua tetaplah orang tua dan sepertinya saya kurang memberikan empati saya di sini. Hiks T___T

Okay. Setelah saya meyakinkan orang tua mereka untuk melepas dengan hati bahagia dan percaya, agenda hangout yang sudah direncanakan akhirnya berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Huhuhuhu. Terharu sangat selama membuntuti mereka hangout. Terlebih ketika melihat bagaimana mereka berusaha sebisa mungkin untuk beradaptasi dengan kondisi dan tempat yang baru, termasuk ketika mereka berusaha untuk berperilaku adaptif, menentukan berbagai hal yang sangat kontekstual dan bisa jadi hal-hal tersebut adalah kali pertama mereka melakukannya.

Sepulang dari hangout, semua pertanyaan orang tua sama. “Bagaimana tadi? Bisa?”

“Iya! Sangat bisa!” itu jawaban yang kami sampaikan dengan sangat yakin.

Photo by Bram on Unsplash
Di sinilah saya mulai benar-benar menyadari bahwa hidup murid-murid besar saya benar-benar hanya terombang-ambing di antara ketakutan dan kesempatan. Sebagaimana pengalaman hangout bersama, pengalaman bepergian jauh dengan transportasi umum, dan beradaptasi di lingkungan luar tidak akan pernah terwujud jika kami tetap bertahan di rasa takut. Lalu mereka pun akan kehilangan kesempatan untuk mencapai itu semua.

Di sinilah saya mulai berpikir kalau saja saya dan orang tua mereka sama-sama takut dan saling menguatkan rasa takut untuk memulai Social Project ini, pasti kesempatan-kesempatan emas mereka untuk merasakan bagaimana “menjadi orang dewasa” yang bepergian ke tempat umum tidak akan pernah mereka rasakan. Terlebih lagi mereka pasti akan semakin jauh dari kesempatan diterima di lingkungan yang lebih luas.

Berangkat dari pengalaman ini, saya semakin dan semakin menyadari bahwa rasa takut untuk membersamai individu berkebutuhan khusus itu sangatlah wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kita berlama-lama dalam rasa takut, memperkuat takut dengan kekhawatiran sehingga hilang sudah kesempatan mereka untuk belajar. Merasakan takut lalu mengubah takut menjadi semangat memberikan kesempatan adalah cara yang saya pilih untuk membersamai individu berkebutuhan khusus. Karena dari rasa takut yang saya punya, saya jadi bisa lebih peka untuk mematangkan persiapan dan perencanaan dalam memberikan mereka kesempatan yang lebih luas lagi untuk menjadi individu seutuhnya.

Lisfatul Fatinah Munir | 7 Oktober 2019

07 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Awal yang Salah dari Guru Pendidikan Khusus

"It takes special people to teach special students"

Photo by Stephanie Harvey on Unsplash.com

Belakangan ini saya sering mendapatkan pesan lewat Instagram dari guru-guru muda yang baru bertugas di SLB ataupun Sekolah Inklusif. Menariknya ada beberapa pertanyaan yang mirip, yaitu tentang tahap awal penanganan anak dan keselarasan antara praktik di lapangan dengan teori yang sudah dipelajari di kampus. Beberapa contoh kasus dari pertanyaannya kurang lebih seperti di bawah ini.

Bagaimana kita bisa mengajar anak yang kita tidak tahu diagnosis disabilitasnya apa?

Bagaimana jika murid dengan spektrum autisme sekaligus disabilitas intelektual tidak dapat mengikuti materi belajar di kelas? Kenapa kita perlu mengajarkan materi akademik?

Bukannya mengajarkan life skills itu jauh lebih penting buat murid berkebutuhan khusus?

Duh! Aku bingung banget, nih, menghadapi murid di Sekolah Inklusif yang beragam banget kedisabilitasannya?

Beberapa tahun lalu saat pertama kali secara resmi menjadi pengajar di lembaga saya sekarang bekerja, saya juga sering mempertanyakan hal-hal seperti di atas. Pertanyaan tentang diagnosis ini, sih, yang sering sekali saya lontarkan di awal-awal. Sampai akhirnya saya teringat salah satu pesan dosen saya tentang kondisi murid-murid berkebutuhan khusus yang akan saya hadapi.

Diagnosis bukanlah senjata yang dibutuhkan guru pendidikan khusus, karena guru pendidikan khusus yang bisa mengenali dan memahami kebutuhan muridnya akan tetap bisa mengajar dengan baik tanpa tahu diagnosisnya. Begitu kurang lebih pesan beliau. Sejak saat itu, kurang lebih beberapa bulan setelah pertama kali saya mengajar, saya mencoba mengenyampingkan diagnosis dan mulai refleksi diri.

Salah Berpijak Hingga Salah Langkah


Kalau dipikir-pikir memang tidak sepenuhnya diagnosis kedisabilitasan murid itu tidak dibutuhkan. Mengetahui diagnosis kedisabilitasan murid memang perlu, tapi itu bukan hal utama yang dibutuhkan untuk mengajar. Apalagi kalau hasil diagnosis sudah menjadi label atau identitas pada anak, sehingga membuat kita para pendidik, staf di lembaga pendidikan, hingga orang tua hanya fokus pada diagnosis dan menutup mata atas kemampuan yang tampak dan mengenyampingkan kelebihan yang dimiliki murid.

Kalau bukan berangkat dari diagnosis, lalu harus mulai dari mana? Jawabannya ada di pesan dosen yang saya tulis di atas. Yakni mulailah dari mengenali dan memahami kebutuhan murid. Berangkatlah dari kondisi kelebihan dan kekurangan masing-masing murid. Kekurangan dan kelebihan murid, sekecil apapun itu, adalah hal yang semestinya menjadi pijakan utama guru pendidikan khusus sebelum melangkah ke dalam program belajar yang dirancang sesuai kebutuhan murid.


Photo by Suhyeon Choi on Unsplash.com

Ingat, Langkah Pertama Dimulai dari Kita!


Tapi beberapa tahun belakangan mengajar, saya menemukan hal yang cukup menarik tentang mengenali dan memahami kebutuhan murid. Ternyata mengenali kelebihan dan kekurangan murid saja tidak cukup untuk memulai langkah pertama dalam proses membersamai mereka. Ada hal yang luput dari diri banyak pendidik, termasuk saya, hal yang semestinya melekat pada setiap pendidik dan tidak hanya bersifat prosedural antara identifikasi murid, asesmen, penanganan, dan evaluasi. Ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu kita jarang memandang murid-murid berkebutuhan khusus sebagai manusia dan secara tidak langsung malah memandang mereka sebagai objek dari suatu projek ataupun program. Sejujurnya saat masih memandang murid-murid saya sebagai objek, saya merasa sering tertekan dengan target-target program yang tidak tercapai.  

Awalnya saya merasa hal ini biasa saja, wajar kalau saya tertekan oleh target-target program yang tidak tercapai. Tapi untuk siapa program ini? Program ini bukan untuk saya, ini untuk murid-murid saya. Yang seharusnya menjadi fokus saya bukanlah keberhasilan saya, melainkan bagaimana murid-murid saya berproses dan mencapai target program sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya. Akhirnya, saya merasakan bagaimana program yang sudah dirancang tidak bisa berjalan secara maksimal jika saya tetap melihat murid-murid saya sebagai objek atau benda mati yang harus diperbaiki melalui program-program yang saya rancang.

Memulai dari diri sendiri dengan memahami diri sendiri sebagai guru pendidikan khusus yang mendidik murid-murid berkebutuhan khusus, ciptaan Tuhan yang juga bernyawa seperti saya, juga memiliki perasaan sebagaimana manusia pada umumnya, dan memiliki cara berpikir yang sedikit berbeda dari kita pada umumnya. Dan mereka sejatinya adalah murid-murid yang begitu menggemaskan dengan keunikan masing-masingnya. Memanusiakan hubungan dengan murid. Ini langkah pertama yang semestinya perlu dilakukan oleh setiap guru pendidikan khusus. Tidak peduli seminim apapun kemampuan mereka, sekecil apapun progres yang dimiliki, hubungan yang memanusiakan adalah langkah pertama yang harus kita ambil setelah menemukan pijakan yang tepat.

Praktik Memanusiakan Hubungan


Teman-teman guru pendidikan khusus mungkin bingung apa yang dimaksud dengan memanusiakan hubungan? Bagaimana memanusiakan hubungan? Apa bedanya dengan menjalankan hubungan seperti guru dan murid pada umumnya?

Melihat murid-murid berkebutuhan khusus yang kita bersamai adalah menyadari bahwa mereka juga sama seperti kita pada umumnya. Hanya saja, mereka memiliki keterbatasan untuk melakukan banyak hal seperti kita dan selebih sering mereka justru tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk berperilaku dan bersikap seperti kebanyakan orang.

Dalam melakukan langkah pertama dengan memanusiakan hubungan dengan murid-murid berkebutuhan khusus kita, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Ketiga hal ini bukan sesuatu yang rumit. Saya yakin setiap orang pasti bisa melakukannya, hanya butuh kesabaran yang dilipatgandakan dan komitmen untuk melakukannya. Cobalah untuk tetap tenang di kondisi apapun dan biasakan memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan.

Tetap tenang berarti kita tidak boleh panik walaupun murid-murid kita panik, marah, menangis, ataupun sangat mengganggu lingkungan sekitarnya. Ingat, loh, peran kita sebagai pendidik adalah membantu mereka untuk mengontrol cara mereka mengungkapkan emosi, bukan ikut masuk dalam emosi yang sedang mereka alami. Memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan adalah hal yang sangat membutuhkan kesabaran dan komitmen tinggi untuk membiasakannya. Nah, memberikan kesempatan di sini artinya bisa sangat luas. Bisa dengan cara mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan, bertanya tentang apa yang mereka rasakan, atau dengan terus mengobservasi perilaku yang muncul dan menemukenali penyebab munculnya perilaku-perilaku tersebut. Butuh waktu memang untuk melakukannya, mendengarkan murid yang mungkin belum mengungkapkan sesuatu melalui verbal ataupun mendengarkan murid yang belum mampu bercerita sesuai urutan. Tapi tetaplah berikan mereka kesempatan walau hanya beberapa menit.

Tidak mudah memang melakukannya. Tapi jika tidak dimulai sejak sekarang, akan ada banyak murid-murid berkebutuhan khusus yang terlantarkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak dimulai dari sekarang, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan profesi kita secara moral. Jika kita bisa segera memulainya dari sekarang, niscaya tidak ada lagi kebingungan dalam membersamai murid, karena sepanjang prosesnya kita akan semakin memahami setiap murid. 

Sekali lagi, diagnosis memang penting tapi bukan senjata utama untuk membersamai murid-murid berkebutuhan khusus. Pahami dan kenali setiap hal dari murid-murid spesial kita, sekecil apapun kelebihan dan kekurangannya, lalu jalinlah hubungan yang memanusiakan. Butuh waktu lama dari langkah pertama hingga kita meraih hasil dari target program belajar yang kita rancang untuk mereka, tapi percayalah selama prosesnya kita akan menjadi guru pendidikan khusus yang lebih bahagia dari sebelumnya dan mereka akan menjadi murid yang bahagia bersama kita. 

Photo by Leonardo Toshiro on Unsplash.com


“Students are like flowers. They bloom at different times.”

(@edutopia)


  Lisfatul Fatinah Munir | 1 Oktober 2019
01 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Hari Anak dan Hubungannya dengan Anak Berkebutuhan Khusus


Photo by Ben Wicks on Unsplash

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu." 

(Ki Hajar Dewantara)


Kemarin di media sosial ramai sekali pembahasan Hari Anak 2019. Akun komunitas ataupun personal mengirimkan ucapan selamat hari anak. Saya jadi penasaran, kenapa ada hari anak dan apakah ada pembahasan tentang anak-anak berkebutuhan khusus dari pengadaan hari anak ini.

Saya iseng googling dan baca beberapa artikel juga modul dari UNICEF. Saat membaca artikel-artikel ini saya baru tahu kalau tanggal 23 Juli hanya Indonesia yang memperingati Hari Anak, sedangkan Hari Anak Seduni jatuh pada tanggal 20 November.

Hal pertama yang saya cari tahu adalah kenapa sih ada hari anak. Kalau secara global, hari anak itu sendiri sepertinya dibuat untuk dirayakan atau diperingati oleh anak-anak sendiri, bukan orang tua, pendidik, atau lainnya. Saya berpikir seperti ini karena di dalam artikel ataupun modul yang saya baca tertulis, kira-kira artinya seperti ini, “Dengan adanya hari anak diharapkan anak-anak di seluruh dunia bisa berkumpul dan menyadari keberadaan mereka yang berharga untuk dunia.”

Photo by Mrkus Spiske on Unsplash


Hari Anak dan Hak Anak


Jadi kurang lebih awalnya hari anak dicanangkan untuk membuat anak-anak mengenal diri mereka lebih jauh lagi, menyadari keberhargaan mereka, dan berkumpul dengan anak-anak lain untuk sama-sama menikmati masa anak-anak mereka. Meskipun begitu, saat ini sepertinya orang-orang sudah mulai memperluas makna hari anak. Banyak kalangan yang berlomba-lomba saling mengedukasi untuk memperhatikan hak-hak anak sesuai fitrahnya sebagai anak-anak. Pembahasan hak-hak anak ini dibahas di Konvensi Hak Anak PBB (United Nation Children Right Convention).

Hasil dari Konvensi Hak Anak adalah ada empat ruang lingkup hak anak yang harus diterima setiap anak di dunia ini. Pertama adalah hak bertahan hidup, di dalamnya ada hak hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar hidup seperti hak mendapatkan gizi dan nutrisi, tempat tinggal, akses kesehatan, dan kualitas hidup sesuai standard. Hak kedua adalah hak untuk berkembang yang di dalamnya terdapat hak pendidikan, bermain, menikmati waktu luang, menjalankan aktivitas sesuai budaya masing-masing, hak mengakses informasi, dan hak kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama.  Ketiga adalah hak untuk dilindungi, yaitu hak aman dari pelecehan dan eksploitasi, perlindungan untuk anak-anak pengungsi, hak keamanan dalam kasus kriminalitas, perlindungan kerja, serta hak perlindungan dan rehabilitasi untuk  anak yang mengalami berbagai macam kekerasan. Hak keempat atau terakhir adalah hak keterlibatan yang merupakan hak anak untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan anak, dan hak bersosialisasi dengan nyaman.

Cukup luas, ya, ternyata cangkupan hak-hak anak. Saya jadi penasaran, nih, dan coba mencari tahu apakah dalam memperingati hari anak dan pembahasan hak anak di Konvensi Hak Anak juga dibahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Ternyata ada, Alhamdulillah. Senangnya…  Mungkin karena efek jiwa guru pendidikan khususnya sudah mendarah daging, ya, saya benar-benar senang saat membaca pembahasan tentang anak berkebutuhan khusus di tengah pembahasan hari anak dan hak anak.


Hak Anak Berkebutuhan Khusus 


Dari sumber-sumber yang saya baca terkait hari anak dan hak anak, selain mendapatkan empat hak anak di atas, ada hak lain yang dimiliki anak berkebutuhan khusus. Eh iya, sebelum membahas hak anak berkebutuhan khusus, ada fakta yang dipaparkan saat Konvensi Hak Anak terkait dengan anak berkebutuhan khusus yang menjadi alasan utama mengapa hak anak berkebutuhan khusus ini perlu dan penting dibahas terpisah dari hak anak pada umumnya. Fakta yang dimaksud adalah di berbagai negara, baik itu negara berkembang ataupun maju, masih terjadi diskriminasi dan pengucilan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus juga keluarga dari anak berkebutuhan khusus tersebut.

Dibahas lagi nih di dalam Konvensi Hak Anak, kalau pendiskriminasian pada anak berkebutuhan khusus dan keluarganya bisa terjadi secara langsung, tidak langsung, dan campuran keduanya. Diksriminasi langsung adalah ketika anak berkebutuhan khusus mendapatkan perlakuan yang berbeda dari anak umunya. Diskriminasi tidak langsung terjadi ketika ada kebijakan yang pelaksanaan kebijakan tersebut bertentangan dan tidak memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus, atau bahkan kebijakannya justru memberi hambatan baru untuk anak berkebutuhan khusus. Diskriminasi tidak langsung ini biasanya datang dari kebijakan pemerintah itu sendiri atau budaya masyarakat yang kadang memberikan efek lebih buruk daripada diskriminasi langsung. Sedangkan diskriminasi campuran adalah gabungan dari pendiskriminasian langsung dan tidak langsung yang terjadi beriringan atau bersamaan.

Berdasarkan fakta di atas komite konvensi seperti mengingatkan kita bahwa kendala sesungguhnya bukan pada anak berkebutuhan khusus itu sendiri, tapi ada pada kombinasi budaya, sosial, sikap, dan sarana prasarana yang ditemui anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan sehari-harinya. Miris tapi memang begini kenyataanya. Sebagai pengajar sekaligus orang yang memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus, saya juga merasakan bagaimana keluarga saya menerima perlakuan tidak nyaman dan cukup didiskriminasikna oleh orang-orang sekitar.

Oke. Berangkat dari fakta-fakta ini hak-hak anak berkebutuhan khusus penting untuk dibahas bersama. Setidaknya ada empat hak anak berkebutuhan khusus yang saya rangkum dari modul yang dikeluarkan UNICEF, yaitu 1) hak memperoleh layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan, 2) hak mendapatkan pendidikan, 3) hak dilindungi dari kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan, dan 4) hak untuk dilibatkan. Keempat hak khusus anak berkebutuhan khusus ini sepintas kok mirip-mirip hak anak pada umumnya yang sudah dibahas sebelumnya ya? Tapi setelah saya baca kembali, ternyata ada beberapa detail yang berbeda dan memang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus.

Hak Memperoleh Layanan Kesehatan, Intervensi Dini, dan Kesejahteraan 

Ketika ada anak yang terdeteksi atau terdiagnosis memiliki kebutuhan khusus, hak pertama yang harus diterima adalah layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan. Sejenak saya berpikir, kok yang pertama layanan kesehatan? Kenapa bukan layanan pendidikan?

Alasannya adalah karena umumnya anak berkebutuhan khusus juga memiliki gangguan kesehatan dan tidak sedikit anak berkebutuhan khusus yang meninggal di usia anak-anak atau tidak dapat bertahan hidup disebabkan tidak memperoleh layanan kesehatan primer yang layak. Dituliskan juga nih kalau bahkan beberapa negara juga kesulitan memberikan layanan kesehatan yang layak untukindividu berkebutuhan khusus usia anak-anak ataupun dewasa.

Komite Konvensi Hak Anak beranggapan kalau layanan kesehatan primer segera diperoleh anak setelah anak didagnosis memiliki kebutuhan khusus, maka anak dan keluarganya akan mudah memperoleh info dari tenaga kesehatan terkait intervensi lanjutan. Intervensi lanjutan yang dimaksud adalah intervensi setelah pelayanan kesehatan diterima. Contohnya adalah intervensi dini atas kekhususan anak, seperti terapi sensori integrasi untuk anak dengan autisme, pemasangan alat bantu dengar untuk anak tuli, dan sebagainya.


Hak Mendapatkan Pendidikan

Pada hak kedua ini, Komite Konvensi Hak Anak mengusung prinsip lifelong learning opportunity atau kesempatan belajar seumur hidup sebagai hak anak berkebutuhan khusus. Pendidikan yang dimaksud di sini tentu saja pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak, misalnya sekolah khusus hingga sekolah inklusi. Tidak berhenti sampai di situ, Komite Konvensi Hak Anak juga menyebutkan Indivudual Education Program (Program Pembelajaran Individu/PPI) juga menjadi bagian dari hak anak. Dalam sumber lainnya saya juga menemukan bahwa PPI ini terus diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus hingga mereka berusia dewasa, disesuaikan dengan kebutuhan pada usia dan perkembangannya.

Salah satu rancangan program yang dibutuhkan anak berkebutuhan khusus yang pernah saya baca adalah Individual Transition Program (Program Transisi Individu/PTI), yaitu rancangan program yang dibuat khusus mencapai kebutuhan anak di masa dewasanya. Seperti namanya, rancangan program ini dijalankan ketika anak memasuki masa transisi, yakni ketika berusia remaja hingga remaja akhir. PTI ini sendiri berjalan bersamaan dengan PPI. Jadi PTI bukan program yang penggantikan IEP.

Hak Dilindungi dari Kekerasan, Eksploitasi, dan Pelecehan

Sebagian besar dari kita mungkin beranggapan kalau kekerasan dan pelecehan selalu berhubungan dengan seksual. Tapi pada konteks pembahasan hak anak berkebutuhan khusus dalam Konvensi Hak Anak, kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan mencakup banyak hal. Mulai dari kekerasan dan pelecehan seksual, perisakan fisiki dan psikis, eksploitasi tenaga dan ekonomi, human trafficking (jual beli manusia), dan banyak hal lainnya yang terkait dengan keadilan dan kesejahteraan anak.

Dalam World Report on Violence Against Children, Sekretaris Jenderal PBB menyebutkan anak berkebutuhan khusus sering menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan karena sosok mereka yang easy victim. Maksudnya adalah kondisi anak berkebutuhan khusus pada dasarnya lebih lemah daripada anak umumnya secara fisik ataupun akal, sehingga akan cenderung minim perlawanan secara fisik ataupun melakukan pengaduan ketika menerima kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan.

Pada Konvensi Hak Anak juga  dibahas terkait layanan keamanan. Salah satunya adalah layanan pengaduan dan panggilan darurat yang umumnya menggunakan telepon. Dengan layanan telepon darurat ini, anak dengan gangguan pendengaran atau tuli dan anak yang punya gangguan bicara tidak memiliki akses atau layanan khusus untuk melakukan pengaduan.

Problem kebijakan layanan ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk dunia, termasuk negara maju sekalipun. Oleh sebab itu, orang-orang yang ada di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat memberikan pendidikan kepada mereka terkait hal-hal keamaan jika ada kejadian yang tidak menyenangkan di kemudian hari. Lebih jauh lagi, masyarakat juga diharapkan bisa ikut berkerja sama menjaga anak berkebutuhan khusus agar terhindar dari tindak kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan. Jika memungkinkan, lingkungan di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan pula untuk ikut menyuarakan hak-hak keamanan anak berkebutuhan khusus.

Hak untuk Dilibatkan

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus hanya bisa menerima invervensi, tidak punya keinginan tertentu untuk dirinya sendiri, dan tidak punya harapan atau impian. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Anak berkebutuhan khusus yang tidak mengalami gangguan kognitif atau memiliki IQ rata-rata dan di atas rata-rata faktanya memiliki pandangan, harapan, dan tujuan sendiri. Hanya saja mereka tidak mampu mengungkapkan hal-hal tersebut karena kurangnya kemampuan komunikasi ataupun tidak adanya kesempatan untuk menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dan tidak adanya kesempatan untuk dilibatkan.

Saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang yang memiliki keautistikan. Dalam salah satu pembahasan buku tersebut dituliskan kurang lebih seperti ini.


“Sebagai seorang yang memiliki keautistikan, saya memang tidak mampu berkomunikasi dengan baik, tapi bukan berarti saya tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain. Saya juga ingin menjalin hubungan. Saya ingin memiliki teman. Sama seperti kalian.”

Lalu bagaimana sih melibatkan anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini? Komite Konvensi Hak Anak memberikan penjelasan bahwa ketika anak berkebutuhan khusus sudah memasuki usia dewasa atau ketika sudah mencapai masa perkembangan memiliki konsep yang realistis, anak sudah dapat dilibatkan untuk merancang pencapaian tujuan program belajar, peraturan belajar, dan sebagainya. Contoh lebih sederhananya, jika anak berkebutuhan khusus belum memiliki kemampuan yang cukup dalam ranah konsep realistisnya, maka orang-orang di sekitar anak harus memberikan anak kesempatan untuk melakukan berbagai hal sesuai kemampuannya. Pada hak ini orang tua, saudara kandung dan keluarga, pendidik, terapis, psikolog, perawat, dan siapapun yang terlibat dalam penanganan anak harus saling bekerja sama dalam memenuhi hak anak untuk dipercaya, didengar, dan dimanusiakan seutuhnya.


Photo by Scott Webb on Unsplash

Setelah membaca tulisan di atas, mungkin banyak yang berkomentar, “Untuk memenuhi empat ruang lingkup hak dasar anak saja sepertinya sangat berat dilakukan di Indonesia, apalagi ditambah empat hak khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti harus mengumpulkan tenaga seumur hidup dan membutuhkan perjuangan yang tidak berujung!”

Betul. Memang sulit untuk memenuhi empat ruang lingkup hak dasar anak plus empat hak khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkink kan? Hal yang sulit tidak akan menjadi mudah ketika kita terus mengeluh tanpa memulai kan? Kita tidak akan tahu persis seberapa sulit memenuhi hak-hak anak berkebutuhan khusus jika kita tidak mencobanya.

Pilihan terbaik dari kondisi sekarang, di mana Indonesia masih terus berkembang, adalah dengan memulainya dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari lingkungan terdekat. Jangan lupa juga untuk berbagi informasi terkait hak-hak anak berkebutuhan khusus dan mengajak orang lain untuk ikut memenuhi hak mereka. Pelan-pelan saja. Sedikit demi sedikit.

Tidak pernah ada keajaiban dalam penanganan dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus. Jika kelak pemenuhan hak anak-anak berkebutuhan khusus terlaksana secara merata, maka itu semua karena perjuangan-perjuangan kecil yang telah kita lakukan sejak sekarang.


Selalu semangat membersamai anak-anak berkebutuhan khusus!

(/ ^^)/



Lisfatul Fatinah Munir | 24 Juli 2019
Versi singkat dari tulisan ini saya publikasikan
sebagai konten khusus Hari Anak Nasional di @kitainklusi
24 July 2019
Posted by Fatinah Munir

FAQ; Galau Kuliah Pendidikan Luar Biasa


Bismillahirrahmirrahim

Sudah cukup lama saya tidak menulis artikel tentang Pendidikan Khusus ataupun kisah kasus murid yang sedang saya tangani. Kali ini saya ingin menuliskan sedikit hal tentang Pendidikan khusus yang belakangan banyak ditanyakan teman-teman, khususnya teman-teman yang ingin mendaftar di perguruan tinggi, melalui email ataupun akun instagram saya.

Sebelumnya, beberapa tahun lalu saya pernah menulis tentang seluk beluk Pendidikan Khusus di jurusankuliah.tumblr.com  dan saya repost diblog ini. Tapi tampaknya dari informasi dalam tulisan tersebut muncul lagi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Pendidikan Khusus terutama hal yang bersifat pengalaman pribadi yang tidak dapat diakomodir pada tulisan sebelumnya. Oleh sebab itu, tulisan berformat FAQ ini insya Allah akan menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan yang sering masuk ke email dan pesan instagram saya. Semoga membantu ya ^^

Oh iya, sebagai review saya merupakan lulusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta angkatan masuk 2011 –masih sangat muda untuk menjadi guru kata teman-teman seprofesi di Singapura, tapi di Indonesia saya malah dibully sebagai jomblo *eh. Sekali lagi, selamat menikmati sepotong tulisan ini, semoga bermanfaat :)


Q             : Bagaimana sih cara kakak masuk Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta?

A             : Saya masuk melalui Ujian Masuk Bersama (UMB) awal 2011. Saat itu, UMB adalah jalur masuk universitas yang terakhir sebelum ujian mandiri dibuka di masing-masing universitas di Indonesia.


Q             : Apa saja persiapan kakak sebelum ujian masuk Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri   Jakarta?

A             : Meminta restu orang tua adalah hal pertama dan utama yang harus dilalui. Setelah restu dikantongi, saya belajar sungguh-sungguh untuk mendapatkan hasil ujian “Lolos Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta”. Seperti yang pernah saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya, saat ujian masuk universitas ini saya masih berstatus sebagai mahasiswa Farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta. Saya memutuskan untuk ikut ujian masuk universitas lagi karena ketertarikan saya pada Fisika dan Kimia tidak membuat saya ingin menggelutinya sebagai profesi. Maka saya tetapkan menjadi guru anak-anak berkebutuhan khusus adalah passion yang akan saya dalami sekaligus sebagai profesi saya kelak. Alhamdulillah sekarang hal itu sudah terwujud :)

Little advices:
Apa yang saya lakukan beberapa tahun lalu –pindah kuliah, sebenarnya bukan contoh baik bagi adik-adik yang saat ini membaca tulisan saya dan ingin masuk universitas. Ada baiknya adik-adik kenali diri dan jujur pada diri sendiri terhadap passion yang dimiliki. Kemudian tentukan ingin seperti apa kalian lima hingga sepuluh tahun lagi. Sebab jika teman-teman berpikir, “Coba dulu deh satu semester, nanti kan bisa ikut ujian lagi.” Itu keliru, sebab ada banyak hal yang hilang selama kita “mencoba”, salah satunya adalah usia :) So, mind your step before getting your real goal!


Q             : Susah gak sih, Kak, ujian masuk Pendidikan Luar Biasa?

A             : Susah atau tidaknya, menurut saya tergantung teman-teman bertanya pada siapa dan bagaimana teman-teman berusaha. Pendidikan Luar Biasa merupakan cabang ilmu sosial, sehingga materi ujiannya pun merujuk pada ilmu sosial. Tapi karena saya dari jurusan eksak, saya mengikuti ujian ilmu campuran. Bagi saya saat itu cukup susah, sebab saya harus mempelajari ilmu sosial sekaligus mereview pelajaran eksak yang pernah saya pelajari di SMA satu tahun sebelumnya. Tapi kita harus tetap optimis. Perlu dingat baik-baik bahwa usaha tidak akan pernah mengingkari hasil. Jika kita berusaha bersungguh-sungguh, berdoa, dan meyakini Allah pasti Membantu, niscaya kita akan diberi kemudahan. Pasti! :)


Q             : Bagaimana cara kakak belajar sebelum masuk universitas?

A             : Saat itu saya mencoba fokus pada materi yang akan diujikan saja dan memperbanyak latihan-latihan soal. Saya meminjam semua soal latihan ujian masuk universitas kepada teman SMA saya dan saya pelajari setiap soalnya, bahkan kadang saya membacanya berulang-ulang. Saya tidak menghapal jawabannya, tetapi saya memperlajari pembahasan soalnya dengan betul-betul. Pembahasan soal, sependek pengalaman saya saat itu, cukup membantu saya menjawab soal dengan rumpun materi yang sama tetapi pertanyaanya berbeda. Sebagai tambahan, saya juga membeli buku saku materi ujian masuk universitas untuk ilmu sosial. Buku ini benar-benar buku saku, kecil dan isinya sangat to the point. Buku ini termasuk sangat membantu saya memahami beberapa soal yang tidak ada pembahasannya. Untuk teman-teman dari kelas eksak tetapi ingin memilih jurusan sosial di universitas mungkin bisa menggunakan cara ini.

Waktu belajar saya pun tidak banyak saat itu. Saya hanya memiliki waktu kurang dari 2 bulan untuk belajar mandiri sebelum ujian masuk universitas. Yang saya lakukan adalah saya selalu menghabiskan waktu minimal 4 jam untuk persiapan ujian. Karena masih terus kuliah di Farmasi, saya mematok waktu belajar masing-masing 2 jam di waktu siang dan malam, tetapi biasanya akan lebih lama dari 2 jam di malam hari.

Little advices:
Karena tipe belajar setiap orang berbeda, cara ini mungkin efektif buat saya yang suka di depan buku dan laptop berlama-lama, tapi mungkin tidak efektif untuk teman-teman yang mudah bosan. Teman-teman bisa mengembalikan cara belajar kepada tipe belajar masing-masing, tetapi harus tetap fokus pada tujuan ya :)


Q             : Apakah ada materi khusus yang diujikan untuk bisa masuk Pendidikan Luar Biasa?

A             : Berdasarkan yang saya alami 2011 lalu, tidak ada materi khusus atau ujian tambahan untuk masuk Pendidikan Luar Biasa. Pada beberapa universitas mungkin ada ujian tambahan seperti tes wawancara dan tes bakat setelah peserta ujian dinyatakan lulus ujian tertulis. Sayangnya, saya kurang tahu di universitas mana yang menerapkan system seperti itu. Di Universitas Negeri Jakarta sendiri menerapkan ujian tambahan untuk jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, Seni Musik, dan Seni Tata Busana.


Q             : Kak, apakah lulusan Pendidikan Luar Biasa hanya bisa bekerja di SLB? Kan SLB gak banyak, Kak?

A             : I see. Pertanyaan semacam ini biasanya menanyakan prospek kerja seorang lulusan Pendidikan Luar Biasa. Mulanya saya juga memikirkan itu, tapi karena saya yakin dengan pilihan saya jadi saya lanjut saja. Cita-cita saya saat itu cuma ingin menjadi Duta Pendidikan Khusus Indonesia, hehehe. Cita-cita itu masih ada sampai sekarang sebenarnya, semoga tercapai, amiin. 

Oh ya, tentang prospek pekerjaan ini sebenarnya sudah saya ulas di tulisan beberapa tahun lalu di sini. Prospek guru pendidikan khusus itu sangat banyak. Masya Allah banyaknya, hingga setiap hari saya selalu menerima setidaknya dua atau tiga lowongan pekerjaan untuk tenaga pengajar anak-anak berkebutuhan khusus. 

Bekerjanya tidak harus selalu di SLB, tetapi bisa juga sebagai guru pendamping (shadow teacher), guru pendidikan khusus (GPK), guru private, hingga permintaan menjadi terapis ke rumah. Sebenarnya secara professional, menjadi terapi bukanlah pekerjaan guru melainkan ranah profesi para terapis yang sekolah terapis dan memiliki sertifikat praktik. Saran saya, kalau sudah memilih menjadi guru, silahkan pilih perkerjaan sebagai guru saja ya, sebab terapis itu beda cabang ilmu meskipun guru pendidikan khusus cukup tahu tentang ilmu tersebut :)

Beranjak ke pertanyaan selanjutnya, di bawah ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman yang sedang galau memilih jurusan pendidikan luar biasa. Semoga jawaban di bawah ini bisa semakin membantu teman-teman keluar dari kegalauan ya :)


Q             : Kak, aku orang yang gak sabaran, tapi aku pengin banget jadi guru anak-anak berkebutuhan khusus. Apakah orang yang gak sabaran kayak aku bisa jadi guru seperti kakak?

A             : Pertanyaan ini pertama kali saya dapatkan awal tahun lalu melalui email, tetapi lambat laun semakin banyak yang menanyakan pertanyaan serupa ini via email ataupun instagram. Sebenarnya saya juga merasa kalau saya bukan orang yang sabaran. Permasahalan lainnya bagi saya pribadi adalah saya orang yang tidak tegaan. Saya bisa mudah menangis ketika melihat sesuatu yang menurut saya menyedihkan, ini jelas-jelas akan menjadi masalah jika saya terus menangis di depan anak-anak yang semestinya saya ajarkan. Hehehe.

Tapi ternyata di lapangan saya belajar menata emosi. Pengalaman berkali-kali masuk kelas sejak semester dua mengajarkan saya bagaimana mengolah emosi selama di kelas, jangan sampai pekerjaan kita tercampur dengan rasa iba yang tidak bisa terkontrol. Pengalaman pertama saya di kelas justru di luar dugaan. Saya sempat tidak makan minum selama sehari dan teman saya di kelas justru muntah-muntah setelah mengajar. Pengalaman ini pernah saya tuliskan di sini.

Well, sabar adalah proses yang harus dilalui guru pendidikan khusus dari hari ke hari. Saya kurang bisa menjabarkan proses seperti apa dan bagaimana menjalani prosesnya, sebab setiap kisah saya di kelas adalah pembelajar sabar dan syukur bagi saya sendiri. Dan saya yakin setiap guru pendidikan khusus memiliki kisah masing-masing untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dari sebelumnya. Insya Allah teman-teman akan menemukan jawabannya ketika teman-teman sudah di dalam kelas bersama anak-anak berkebutuhan khusus yang menjadi murid teman-teman. Terlepas dari hal itu, plongkan hati ketika ingin mengajar dan tetap ingat tujuan awal kita memutuskan dunia pendidikan khusus sebagai bagian dari dunia kita. Insya Allah, setiap melangkahkan kaki ke kelas menjadi langkah baru untuk memahami arti sabar, syukur, cinta, dan kasih yang sejatinya :)


Q             : Bagaimana cara kakak meyakinkan orang tua untuk masuk Pendidikan Luar Biasa? Saya bingung meyakinkan orang tua saya yang memandang sebelah mata jurusan Pendidikan Luar Biasa :(

A             : Honestly, ini adalah the first most popular question I got ^^ Banyaaaak sekali curhatan yang berisi permasalahn ini. BIsa dibilang hampir setiap pesan di email ataupun instagram terselip pertanyaan ini :D

Well, sebelum menjawab pertanyaannya, bagaimana meyakinkan orang tua mungkin akan saya ganti dengan bagaimana mendapatkan restu orang tua. Ini menjadi masalah bagi saya juga saat itu. Apalagi kondisi saya saat itu sudah menjadi mahasiswa Farmasi, memilih ikut ujian masuk universitas lagi demi sebuah jurusan pendidikan itu sama saja membalikkan dunia saya saat itu. Tapi saya tidak dapat membohongi diri saya sendiri dan memaksa enjoy di dalam laboratorium T,T

Alright, it’s gonna take a long written to answer. Harap bersabar membacanya :)

Meyakinkan Diri Sendiri. Untuk meyakinkan kedua orang tua saya, hal yang paling pertama kali saya lakukan adalah meyakinkan diri saya sendiri. Loh , kalau sudah memutuskan memilih, kenapa harus meyakinkan diri sendiri lagi, Kak? It’s okay loh untuk meyakinkan diri lagi, berpikir berkali-kali sebelum memutuskan. Terlebih lagi memilih jurusan kuliah sama dengan menentukan nasib teman-teman untuk tiga hingga lima tahun ke depan. Harapannya setelah teman-teman berpikir dan meyakinkan diri sendiri tidak ada saling gugat pendapat atau menyalahkan jika suatu hari teman-teman mereka salah memilih jurusan :)

Dulu, selama berhari-hari saya memikirkan banyak pertanyaan terhadap keputusan saya. Apa yang membuat saya ingin kuliah lagi di jurusan Pendidikan Luar Biasa? Seperti apa masa depan saya ke depan jika saya memilih fokus ke pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus? Apakah saya yakin dengan pilihan saya? Semua pertanyaan itu saya tanyakan berkali-kali kepada diri saya sendiri sebelum saya menghadap Emak Bapak. Alhamdulillah, jawaban dari pertanyaan saya kepada diri sendiri ini bisa saya gunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Emak Bapak :)

Cari tahu alasan orang tua tidak yakin atas pilihan kita sebagai guru pendidikan khusus. Setiap kegelisahan pasti ada sebabnya, demikian juga kegelisahan orang tua kita akan pilihan kita. Biasanya orang tua ragu saat mengetahui anaknya ingin kuliah di pendidikan luar biasa karena dua hal; sikap anak yang dalam pandangan orang tua tidak cocok dengan pekerjaannya kelak dan prospek pekerjaan atau kesejahteraan di masa depan. Ini based on my own true story ya. Hehehe :D

Untuk mengatasi ketidakyakinan orang tua akan sikap kita yang tidak cocok dengan pekerjaan nantinya, saya mencoba meyakinkan dengan menunjukkan perubahan sikap saya. Ya..., bisa dihitung sambil menyelam minum air, sambil membujuk orang tua kita belajar melatih diri sendiri sebelum terjun ke lapangan. Hehehe. Kemudian untuk meyakinkan orang tua bahwa kesejahteraan saya akan terjamin selepas lulus dan menjadi tenaga profesional dalam pendidikan khusus adalah saya menyampaikan beberapa fakta yang saya temui tentang pendidikan khusus juga target-target saya.

Saat itu sedang marak sekolah inklusif, jadi saya menjadikan sekolah inklusif yang bertebaran di mana-mana sebagai contoh kecil peluang kerja yang besar, sebab lulusan pendidikan luar biasa sangat sedikit sedangkan jumlah anak berkebutuhan khusus semakin banyak. Di samping itu saya paparkan tentang sekolah-sekolah international dan sekolah alam yang dominan mencari lulusan pendidikan luar biasa sebagai tenaga pengajarnya. Sebagai tambahan saya ceritakan kepada kedua orang tua saya tentang target saya untuk menjadi dosen, sehingga saya juga menyampaikan rencana-rencana yang akan saya jalani selama perkuliahan berlangsung hingga saya menjadi dosen kelak. Alhamdulillah, dengan waktu yang agak panjang di setiap obrolan tentang kuliah di pendidikan luar biasa dapat membuahkan hasil yang baik bagi saya. Orang tua saya semakin yakin kalau saya yakin dan sudah matang memilih pendidikan luar biasa sebagai pendidikan lanjut yang akan saya ambil :)

Perkenalkan Pendidikan Luar Biasa dengan Elegant. Sebelum saya menggiring percakapan tentang ingin ikut ujian masuk Pendidikan Luar Biasa, saya sedikit demi sedikit bercerita tentang anak-anak berkebutuhan khusus kepada Emak Bapak saya. Selain karena keponakan pertama saya juga berkebutuhan khusus, saya mulai menjadikan kasus keponakan saya sebagai contoh. Saya juga menceritakan peluang-peluang pekerjaannya. Ya sebab tak dapat dipungkiri, pekerjaan yang worthy menjadi pertimbangan kedua orang tua juga.

Nyatakan Keinginan dengan Komunikasi yang Mudah Diterima. Setelah sedikit demi sedikit membiasakan Emak Bapak mendengar hal-hal berkaitan pendidikan anak berkebutuhan khusus, saya memutuskan untuk masuk pada obrolan tentang niat saya untuk mendaftar ujian masuk universitas lagi. Di sini seingat saya, saya memulai percakapan dengan mengungkapkan “kepura-puraan” saya untuk tetap nyaman berlama-lama di dalam laboratorium Farmasi. Saya mengakui kesalahan fatal saya karena telah membohongi diri sendiri dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti saran-saran yang saya telah mentah-mentah hanya karena gengsi semata. Kemudian saya menggiring membiacaraan kepada jurusan Pendidikan Luar Biasa yang ingin saya ambil. Memang mulanya orang tua saya kaget. Kok jomplang banget jurusannya? Itulah respon pertama yang paling saya ingat. Lalu kamu yakin kan ini jurusan yang kamu mau dan bukan karena ikut-ikutan saran orang? itulah pertanyaan selanjutnya yang saya terima dan saya jawab dengan jawaban yang sudah saya siapkan saat saya bertanya pada diri sendiri. Butuh waktu memang bagi orang tua untuk memberikan jawaban, tetapi itu wajar. Sebab orang tua akan memikirkan banyak hal dan memiliki kekhawatiran akan masa depan kita :)

Little advices:
Saat berbicara dengan orang tua, bicaralah dengan baik-baik. Tidak emosi, berbicara dengan tenang, dan suara rendah, bukan apalagi masarah-marah. Saat itu saya sempat emosi juga sih, tapi emosinya menangis sebelum berbicara. Hehehe. Saat menjelaskan tentang Pendidikan Luar Biasa, usahakan gunakan bahasa yang mudah dipahami. The last and the most important, gunakan bahasa komunikasi yang bisa diterima dengan baik oleh kedua orang tua kita. Karena setiap keluarga memiliki pola komunikasi yang berbeda, jadi teman-teman pasti lebih bisa memahami pola komunikasi keluarga masing-masing :)

Sekian dulu FAQ  untuk kali ini. Berharap tulisan FAQ ini bermanfaat dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan sejenis yang masuk ke inbox email saya. Jika memang ada pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak masuk dalam daftar FAQ di atas, dengan senang hati saya menerima pertanyaan-pertanyaan tersebut di kolom komentar blog ini, di email fatinahmunir@gmail.com, atau di message instagram saya fatinahmunir.

Untuk tahu lebih jauh lagi tentang dunia pendidikan khusus dalam dunia yang saya miliki, teman-teman bisa follow instagram fatinahmunir. Di akun ini insya Allah teman-teman bisa melihat aktivitas saya bersama murid-murid saya :)


Ini adalah salah satu moment kebersamaan saya dan murid-murid saya
saat kami sedang fieldtrip ke Museum Nasional, Jakarta ^_^

Once again, terima kasih telah membaca, semoga bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan :)

Jakarta, 22 Februari 2017, 22:41 WIB
Lisfatul Fatinah Munir
22 February 2017
Posted by Lisfatul Fatinah

Seluk Beluk Kuliah Pendidikan Luar Biasa


“Pendidikan adalah hak semua manusia.”

Kalimat di atas saya pikir adalah dasar dari munculnya jurusan kuliah yang satu ini. Sebuah jurusan kuliah yang saya ambil pada 2011 silam di Universitas Negeri Jakarta. Saat memutuskan memilih jurusan kuliah yang satu ini, mungkin kalian akan mendapatkan respon yang serupa dengan yang saya alami. Contohnya adalah pertanyaan-pertanyaan lain seperti ini. Yakin mau ngajar anak-anak begitu? Oh yang ngajar anak idiot itu ya? Kamu ngajar anak-anak yang ileran gitu? Dan banyak lagi respon serupa dari banyak orang.

Sebelum bercerita tentang apa itu jurusan kuliah Pendidikan Luar Biasa, saya ingin sedikit bercerita mengapa saya bisa masuk ke jurusan kuliah ini:

Tahun 2010 saya tertulis sebagai mahasiswa Farmasi UIN Jakarta. Saya memilih menjadi mahasiswa Farmasi UIN Jakarta atas dasar rekomendasi guru-guru yang melihat bahwa nilai pelajaran eksakta saya selalu tinggi dan pernah mendapat predikat siswa teladan di SMA.

Setelah dua semester saya jalani, meskipun nilai-nilai kuliah saya tinggi bahkan di semester awal saya mendapatkan IP (Indeks Prestasi) 3,7 atau setara dengan nilai A, saya merasakan ada yang hilang dalam kehidupan saya. Meskipun saya sudah mulai menyukai Farmasi, tapi semua tetap terasa berjalan tidak natural. Saya seperti terkurung dalam aktivitas laboratorium, sedangkan saya adalah orang paling tidak bisa beraktivitas dengan monoton dan selalu ingin mencoba hal baru dan yang menantang.

Alhasil memasuki semester dua mulai mencoba mencari jurusan kuliah yang sesuai dengan karakter saya. Lalu tanpa sengaja saya mampir di salah satu blog yang menceritakan tentang pendidikan anak tunalaras, anak yang secara simpel diartikan sebagai anak yang sangat nakal bahkan kenalannya bisa mencelakakan orang lain dan kenakalannya bisa dianggap sebagai pelanggaran hukum negara seperti mengonsumsi narkoba, mencuri, bahkan membunuh. Ingat, ini tulisan yang saya baca adalah tentang PENDIDIKAN ANAK! Makhluk Tuhan dengan usia 6-12 tahun yang lugu dan polos tapi punya masalah yang cukup mengerikan.

Sebab hal di atas, saya menjadi semakin penasaran dengan berbagai tipe anak termasuk bagaimana cara mendidik atau mengajar anak seperti itu. Kurang lebih selama sebulan saya observasi dan banyak membaca di internet tentang anak-anak seperti ini hingga saya merasa tertantang untuk bertemu dan mengajar anak seperti ini. Oke, akhirnya saya memutuskan untuk banting setir bangku kuliah, dari seorang laboran menjadi guru anak-anak istimewa.



Anak Luar Biasa?

Sebelum tahu apa itu Pendidikan Luar Biasa, saya pikir teman-teman harus tahu dulu apa itu anak luar biasa, sebagai objek utama dari jurusan kuliah ini.

Anak Luar Biasa (ALB) atau yang sekarang disebut Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang memiliki tiga ketentuan berikut: (1) anak memiliki penyimpangan berarti dari anak pada umumnya (kurang atau melebihi anak pada umumnya), (2) penyimpangan tersebut membuat anak mengalami hambatan dalam kesehariannya termasuk dalam aspek akademik (pendidikan), dan (3) karena hambatan tersebut seorang anak membutuhkan pelayanan khusus.

Jika ketiga ketentuan di atas ada pada diri anak, maka anak dikategorikan sebagai ABK. Jadi, ketika ada anak yang memiliki hambatan fisik maupun intelejensi tetapi tidak memiliki hambatan dalam kesehariannya, otomatis anak ini tidak membutuhkan pelayanan dan pendidikan khusus dan tidak dikategorikan sebagai ABK.

Anak Berkebutuhan Khusus memiliki banyak kategori, kurang kebih ada sembilan macam ABK seperti yang tertulis di bawah ini.

1.    Anak Disabilitas Intelektual (Retardasi Mental), dulu disebut tunagrahita. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki intelejensi kurang dari rata-rata atau dengan IQ di bawah 70.
2.    Anak Disabilitas Pengelihatan, dulu disebut tunanetra. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki hambatan dalam pengelihatannya, baik itu secara keseluruhan (totally blind) maupun sebagian (low vision).
3.    Anak Disabilitas Pendengaran, dulu disebut tunarungu. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki hambatan pendengaran baik ringan maupun berat.
4.    Anak Disabilitas Tubuh, dulu disebut tunadaksa. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki kondisi fisik yang menyimpang dari anak pada umumnya. Kondisi fisik ini dapat terjadi dalam berbagai macam dan dapat menghambat aktivitas anak.
5.    Anak Gangguan Emosi dan Tingkah Laku, dulu disebut tunalaras. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki gangguan emosi dan penyimpangan tingkah laku berdasarkan sosial, adat, dan hukum.
6.    Anak Autis. Anak dalam kategori ini adalah anak autis adalah anak yang mengalami hambatan perkembangan otak yang kompleks dan signifikan (akan tetap seperti itu jika tidak ditangani) yang mempengaruhi perkembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, semua gelaja autis ini terjadi. Anak autis memiliki ciri yang berbeda dari setiap individu, sehingga tidak ada ciri-ciri spesifik dalam anak autis.
7.    Anak Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH) atau Attantion Deficit and Hiperactivity Disorder (ADHD). Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki gangguan pemusatan perhatian dan memiliki tingkat keaktifan jauh melebihi anak pada umumnya.
8.    Anak Kesulitan Belajar. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki hambatan dalam belajar karena disfungsi minimum otak.
9.    Anak Berbakat. Anak dalam kategori ini adalah anak yang memiliki kemampuan akademis atau nonakademis melebihi anak pada umumnya, biasanya anak-anak ini memiliki IQ di atas 130.

Kesembilan kategori ABK di atas memiliki perbedaan dalam kekhususannya. Antar ketegori ABK memerlukan pelayanan yang berbeda-beda sesuai dengan kekhususannya masing-masing dalam hal pendidikan. Oleh sebab itu dibutuhkan Guru Pendidikan Khusus yang sebelumnya berkuliah di Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus.

Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus

Dari penjelasan panjang di atas tentang anak berkebutuhan khusus (ABK) sudah terbayangkah apa itu Pendidikan Luar Biasa (PLB) atau Pendidikan Khusus (PKh)?
Yup. PLB atau PKh adalah jurusan kuliah yang di dalamnya teman-teman bisa belajar untuk mengajar kesembilan ABK di atas. di jurusan kuliah ini teman-teman akan mengenal Sembilan macam ABK dan belajar bagaimana mengajar mereka dengan kekhususan yang mereka punya.

Apa yang Akan Dipelajari?

Saat kuliah, teman-teman anak belajar terlebih dahulu kriteria dari kesembilan anak tersebut. Jadi, sebagai gambaran awal apa yang akan dipelajari di jurusan ini setidaknya teman-teman akan mempunyai Sembilan matakuliah perspektif atau pengantar yang masing-masing matakuliah ini akan membahas tentang macam-macam ABK secara detail.

Selain mempelajari kriteria ABK, teman-teman akan mendapatkan matakuliah lanjutan dari kesembilan macam ABK berupa matakuliah pembelajaran ABK dan matakuliah kompensatoris, tapi tidak semua macam ABK mempunyai kompensatoris. Contohnya untuk ABK Disabilitas Pengelihatan teman-teman akan belajar Perspektif Anak Disabilitas Pendengaran, Pembelajaran Anak Disabilitas Pendengaran, dan matakuliah kompensatorisnya seperti matakuliah Bahasa Isyarat (Sistem Komunikasi).

Setelah mempelajari seluruh macam ABK ini, teman-teman harus memilih kekhususan yang akan teman-teman geluti. Misalnya teman-teman ingin konsen dan mendalami pendidikan untuk anak kesulitan belajar, maka di semester IV atau semester VI (tergantung dari kampusnya) teman-teman akan memilih kekhususan ini dan konsen memperlajari tentang anak kesulitan belajar. Di kampus saya, kekhususan ini diambil di semester VI dan saya memilih konsen di kekhususan anak dengan autisme dan ADHD.

Prospeknya yang Tak Usah Ditanya!

Kuliah di PLB atau PKh tidak perlu khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan. Bukan bermaksud mendahulukan kehendak Tuhan. Sama sekali bukan. Karena memang sejak 2010 dicanangkan Sekolah Inklusif, lulusan PLB/PKh sangat dibutuhkan. Entah itu di SLB (Sekolah Luar Biasa) ataupun di sekolah umum yang menerima ABK.

Tahukah teman-teman, jika teman-teman kuliah di jurusan PLB/PKh, sebelum teman-teman lulus kuliah pun, teman-teman akan mendapatkan banyak tawaran kerja untuk mengajar. Mengapa bisa begitu? Sebab dalam Sekolah Inklusif setiap ABK membutuhkan satu guru pendamping untuk dirinya. Jadi jika dalam sebuah SD tiap kelasnya ada minimal 2 ABK, itu artinya dibutuhkan dua guru pendamping dalam satu kelas, total 12 guru pendamping. Dan saat ini ada cukup banyak Sekolah Inklusif di Jabodetabek. Belum lagi tawaran mengajar les untuk ABK yang tak kalah banyaknya. 

Jika teman-teman sudah lulus, teman-teman bisa mengambil ‘tantangan’ yang lebih besar lagi seperti menjadi Guru Pendidikan Khusus atau Konselor Pendidikan Khusus di Sekolah Inklusif, Sekolah Alam, atau Homeschooling yang mana teman-teman akan dihadapkan tidak hanya pada satu anak, melainkan mengatasi anak yang ada di satu sekolah dan menjadi konsultan bagi guru-guru umum!

Jadi, sudah terbayang kan bagaimana besarnya peluang kerja untuk lulusan PLB/PKh?

Bisakah Jadi Terapis?

Apakah lulusan PLB/PKh hanya bisa menjadi guru? Bukan ‘hanya bisa’, melainkan memang dicetak untuk menjadi guru. Ingat, guru yang mendidik anak ini tidak hanya dari segi akademik tetapi juga behavior atau keseharian mereka. Mengajarkan anak-anak tentang apa saja yang ada di depannya dan yang terpenting adalah menjadikan anak-anak ini mandiri, tidak tergantung pada orangtua atau orang lain di sekitarnya.

Menjadi terapis, bukanlah prospek dari lulusan PLB/PKh, karena seperti nama jurusan kuliah ini: PENDIDIKAN. Maka di sini teman-teman akan menjadi pendidik, guru yang lebih dari sekadar guru biasa. Di sini teman-teman akan belajar menjadi guru yang harus memiliki kasih sayang dan sabar berlipat ganda dibandingkan guru biasa.

Terakhir, untuk kalian yang masih galau memilih jurusan kuliah, untuk kalian yang memiliki keinginan menjadi guru dan menyukai tantangan, percayalah Pendidikan Luar Biasa atau Pendidikan Khusus adalah pilihan yang tepat untuk jurusan kuliah kalian. Karena di sini, setiap hari kalian akan memiliki cerita petualangan menghadapi tantangan di kelas!


Karena begitu banyak tantangan menyenangkan di kelas saat mengajar, saya menyebut seluruh pengalaman saya mengajar sejak semester V dengan nama Teachventure (Teach Adventure)!

Untuk teman-teman yang galau memilih jurusan kuliah, teman-teman bisa berkunjung di jurusankuliah.tumblr.com untuk membaca berbagai ulasan tentang berbagai jurusan kuliah. Happy reading! :)

@fatinahmunir | 12 Juni 2016
07 December 2016
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -