Alhamdulillah It’s Only Temporary Blackout


Photo by Yeshi Kankang on Unsplash.com

Kemarin, 4 Agustus 2019, hampir seluruh Jawa mengalami listrik padam selama kurang lebih 12 jam. Saat itu saya sedang beraktivitas di luar rumah, jadi selama beberapa jam pertama saya tidak terlalu merasakan dampak mati listrik. Saya tiba di rumah sore hari dengan kondisi rumah yang gelap sebagaimana rumah-rumah lain, lampu jalanan sekitar rumah yang biasanya sudah menyala kini tidak berfungsi, dan tidak ada suara azan yang saling menyahut di langit-langit saat waktu maghrib datang. Saat itu baterai hape saya pun hanya tersisa tigapuluh persen, jaringan internet dan telepon melemah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan menggunakan hape kecuali memanfaatkan flashlight hape.

Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.

Membaca keluhan-keluhan teman-teman, saya sempat berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah sebegitu menyebalkannya ketika listrik padam. Pemikiran ini muncul mungkin karena saya bukan termasuk orang yang sangat attached dengan gadget, bahkan saya pernah dengan sengaja melepas gadget beberapa hari. Jadi saat listrik padam, sejenak saya sempat tidak cemas ataupun gelisah.

Ya, hanya sejenak. Saya hanya sejenak merasa biasa saja dengan padamnya listrik. Karena semakin malam dan semakin gelap, saya mulai merasa gelisah. Bukan gelisah karena terputus akses internet atau semacamnya, tapi lebih karena kondisi sekitar saya yang sepi, gelap, tidak banyak aktivitas dan interaksi seperti biasanya. Hal-hal buruk mulai terbersit di kepala saya, bagaimana kalau tetiba ada kebakaran di sekitar rumah? Bagaimana jika ada tiba-tiba ada gempa besar, karena malam sebelumnya Jakarta terkena gempa imbas dari gempa Banten? Bagimana jika kemungkinan-kemungkinan buruk itu Allah SWT Takdirkan datang malam itu juga? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di atas, saat itu kepala saya pusing. Literally kepala saya menjadi sangat sakit.

Selepas shalat maghrib, setelah menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala, saya keluar rumah untuk membeli makan malam. Kepala saya masih terasa sakit. Saya mencari penjual makanan di sekitar perkampungan rumah sendirian.

Saat di luar rumah membeli makan malam, saya harus keluar gang rumah untuk ke tempat penjual makanan yang terletak di jalan yang lebih besar. Bukan jalan raya, tapi masih lingkungan perkampungan rumah dengan lebar jalan yang jauh lebih besar dan banyak deretan berbagai jenis ruko yang menjual keperluan keseharian warga perkampungan. Ternyata jalan besar terdekat rumah saya sangat ramai. Motor-motor berlalu lalang. Jaklingko masih beroperasi. Anak-anak berlarian, main sepeda, dan saling tertawa. Toko-toko ramai oleh pembeli dan orang-orang yang duduk untuk sekadar mengobrol tentang listrik yang padam.

Di sini saya merasakan suasana malam masih seperti malam-malam biasanya ketika listrik tidak padam. Di sini saya menyadari bahwa perekonomian di sekitar saya masih berjalan dengan baik, setidaknya untuk kalangan rakyat kecil seperti jual beli antar di permukiman warga walapun beberapa perusahan seperti KAI tidak beroperasi karena padamnya listrik. Saya juga menyadari meskipun listrik padam, anak-anak tetap bahagia dan bermain dengan imajinasi mereka. Masih banyak suara anak-anak tertawa dan bercanda. Saya lalu tersadar walau listrik padam, setiap rumah yang tanpa cahaya malam itu masih diisi oleh keluarga yang utuh, saling berbincang satu sama lain –yang mugkin akan jarang dilakukan kalau listrik tidak padam.

Di tempat lain, di negara-negara berkonflik dan sedang melewati masa peperangan, listrik padam diiringi degan suara-suara dentuman bom dan senapan. Perekonomian tidak berjalan dan untuk makan mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari relawan perang. Tawa anak-anak, mungkin hampir tidak dapat ditemukan. Mereka mungkin hanya punya dua pilihan, menangis atau diam di tengah gelap, dingin, dan lapar. Di daerah terkena bencana, setiap orang pasti banyak yang terpisah dengan keluarganya di tengah kegelapan, karena sangat mungkin menyelamatkan diri sendiri menjadi pilihan satu-satunya untuk bertahan hidup. Dan di pedalaman, harapan aliran listrik lebih kepada untuk akses kesehatan dan belajar, bukan sekadar untuk mengisi daya hape dan laptop untuk mengirim status di sosial media seperti kita penduduk ibukota.

Banyak lagi hal yang menyadarkan saya bahwa masih banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dari padamnya listrik semalam.


Photo by Dil Emcot on Unsplash.com
Semakin lama saya di luar rumah dan melihat sekitar saya lebih dekat, semakin banyak alasan saya untuk bersyukur walaupun di tengah gelap. Alhamdulillah, listrik hanya padam untuk sementara, bukan untuk waktu jangka panjang atau selamanya. Alhamdulillah, listrik padam untuk sementara dan masih sedang diperbaiki oleh ahlinya, bukan karena peperangan, kekurangan, atau bencana. Alhamdulillah, listrik padam hanya sementara dan saya masih bisa bersama dengan keluarga dengan kondisi sehat wal afiat dan bahagia. Alhamdulillah.

Belajar dari padamnya listrik selama belasan jam kemarin, mungkin kita perlu sesekali meninggalkan salah satu nikmat teknologi yang Allah SWT Berikan, agar kita bisa lebih dekat dengan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kita tapi selama ini menjauh karena teknologi-teknologi yang kita punya. Mungkin kita perlu sedikit mendekat dengan lingkungan kita, tidak hanya menghadirkan jasad tapi juga hati dan pikiran kita, agar kita bisa melihat betapa nikmatnya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita dan jarang sekali kita syukuri. Mungkin sesekali kita perlu menakar nikmat dengan melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kita sebagaimana saudara-saudara kita di tempat pengungsian peperangan, bencana, atau yang tinggal di pedalaman.

Alhamdulillah, listrik padam hanya untuk sementara tapi syukur kita harus tetap menyala.

Lisfatul Fatinah Munir | 05 Agustus 2019
05 August 2019
Posted by Fatinah Munir

My Hijab Story: Peduli Jilbab dan Peduli Masa Depan Muslimah



Sharing section with Britzone Community. Photo's taken by committee.
"Gaining knowledge is the first step to wisdom. Sharing it is the first step to humanity."
- Unkown

Teringat tugas menentukan divisi pilihan yang belum dikerjakan sampai saat ini. Saya coba memikirkan apa yang kiranya bisa saya berikan.

Sejenak saya mengevaluasi keberadaan diri saya di WhatsApp Grup Peduli Jilbab yang ternyata membuat saya tersadar bahwa banyak sekali muslimah-muslimah yang punya semangat tinggi untuk tetap produktif, berbagi, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tidak hanya dari kalangan mahasiswa yang sedang mencari jati diri ataupun menikmati masa-masa menjalankan passion, banyak juga muslimah yang pekerja publik dan  muslimah pekerja domestic (ibu rumah tangga) yang tetap memilih sibuk memberikan manfaat kepada umat di tengah kesibukan dan kewajiban yang sudah dimiliki.

Selama membaca setiap percakapan dan perkenalan di WAG, diam-diam saya bangga kepada mereka yang ada di sana. Kepada perempuan-perempuan muslim yang insya Allah tidak diragukan lagi kemampuan, potensi, dan kecerdasannya. Seperti ada harapan yang tidak padam atas masa depan Islam dan negara tercinta di tangan mereka sebagai muslimah, ibu dan calon ibu yang kelak atau sedang mendidik anak-anaknya, calon-calon pemimpin dan kebanggaan Islam untuk menebarkan Rahmat Islam kepada banyak orang. Saya berharap sekali keshalehan, kebaikan-kebaikan, dan kecerdasan dari mereka bisa tertular kepada saya yang biasa-biasa saja.

Photo by Liana Mikah on Unsplash.com

Berkontemplasi


Mencoba merenungkan apa-apa yang sudah saya lewati, sepertinya akan lebih adil untuk diri saya dan Peduli Jilbab, agar hal-hal yang saya lakukan tidak hanya sekadar karena saya ingin tetapi karena memang saya memiliki potensi dan mampu berdaya di dalamnya. Saya pun menengok kembali ke dalam diri saya sendiri, mengevaluasi siapa saya, apa yang telah saya lakukan sebelumnya, kekuatan dan kelemahan yang saya punya, dan alasan saya memutuskan berada di Peduli Jilbab.

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri, saya menemukan kalau saya lebih senang melakukan aktivitas belajar mengajar, berbagi ilmu, dan manajemen.. Sebab itu saya senang mengobservasi dan mengintervensi anak, meneliti, dan terlibat dalam aktivitas kependidikan. Misalnya beraktivitas dalam lingkup komunitas pendidikan, pengembangan diri, dan kerelawanan dalam bidang pendidikan dan kesejahretaan anak.

Memilih


Berkontemplasi dan melihat Peduli Jilbab secara keseluruhan, mulai dari program dan budaya keorganisasian di dalamnya, saya melihat ada peluang besar saya untuk semakin memfokuskan diri pada kekuatan diri dan kesempatan neyiasati kelemahan yang saya miliki. Bismillah, saya memutuskan untuk menjadi bagian dari tim Jilbab Share bersama dengan Kak Erni.

Di dalam tim Jilbab Share ini insya Allah saya akan membantu dalam projek berbagi ilmu dengan sesama muslimah. Mengingat kembali rencana-rencana yang ingin dilakukan bersama Peduli Jilbab di tulisan sebelumnya, sepertinya semua rencana itu akan terealisasikan jika saya bergabung dalam tim Jilbab Share.

Alasan lainnya dari memilih Jilbab Share adalah saya berharap dengan adanya berbagai edukasi untuk muslimah terkait ilmu keduniaan dan akhirat bisa membuat saya dan saudara-saudara muslimah lainnya menjadi perempuan yang tidak hanya shalehah dan unggul dalam ketaatan tetapi juga berwawasan luas dan layak menjadi (calon) pendidik utama untuk generasi Islam ke depannya. Lebih jauh lagi, saya juga berharap dengan bergabungnya saya di tim Jilbab Share menjadi titik awal untuk memperlihatkan kepada banyak orang yang menganggap perempuan muslim adalah perempuan-perempuan yang memiliki banyak keterbatasan, bahwasanya Islam itu luas dan memberikan Rahmat yang luas pula ke kehidupan kita. Salah satunya melalui aturan-aturan yang Islam punya untuk perempuan muslimah, agar setiap muslimah tidak hanya tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan menarik secara fisik, tetapi juga secara sikap, sifat, dan kecerdasannya.

Bismillah!


"Sharing knowledge is not about giving people something, or getting something from them. That is only valid for information sharing. Sharing knowledge occurs when people are genuinely interested in helping one another develop new capacities for action; it is about creating learning processes."
- Peter Senge

Lisfatul Fatinah Munir | 30 Juli 2019



30 July 2019
Posted by Fatinah Munir

Circle Support untuk Individu Berkebtuhan Khusus

Sejak lahir, manusia secara alamiah akan membentuk lingkaran-lingkaran hubungan dengan sekitarnya. Mulai dari hubungan yang terikat kekeluargaan, hubungan pertemanan, hingga hubungan yang terbentuk karena kepentingan kedua pihak. Berbagai jenis lingkaran hubungan ini, tanpa kita sadari, walaupun terjadi secara natural tetapi membutuhkan kemampuan untuk membentuknya. Beberapa kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan kognitif, sosial skills, dan life skills.


Pada individu berkebutuhan khusus, kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk membentuk lingkaran-lingkaran hubungan kerap kali menjadi hambatan bagi mereka. Atau pada teman-teman yang tidak memiliki kendala di kemampuan kognitifnya seperti teman-teman dengan hambatan fisik, self-esteem atau kepercayaan diri menjadi hambatan lainnya.  Karena berbagai hambatan tersebut, lingkaran hubungan yang umumnya untuk saling mendukung, memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, dan salah satu sarana mengaktualisasikan diri menjadi lingkup yang sangat sulit dicapai oleh teman-teman bekebutuhan khusus. Dampaknya adalah teman-teman berkebutuhan khusus semakin sulit mendapatkan hak-haknya sebagai bagian dari komunitas di mana mereka berada.

Photo by Jon Tyson on Uns[lash.com

Judith Snow dan Circle Support


Pada tahun 1980-an (beberapa sumber menyebut di akhir 1970-an), seorang wanita berkebutuhan khusus menyadari hal ini. Judith Snow namanya. Judith adalah wanita asal Toronto, Kanada. Saat mencanangkan idenya, Judith sedang bekerja sebagai Direktur divisi Centre for Handicapped Students (Pusat Layanan Mahasiswa Berkebutuhan Khusus) di York University, Toronto. Sebagai wanita pengguna kursiroda, Judith mengkhawatirkan dukungan yang diberikan oleh lingkungannya kepada teman-teman berkebutuhan khusus seperti dirinya. Judith dibantu temannya yang bernama Marsha Forest dan Jack Pearpoint akhirnya mencetuskan idenya yang bernama “Circle Support”, yakni sebuah konsep lingkarang hubungan yang dimiliki individu berkebutuhan khusus.

Circle Support dibentuk untuk memetakan ruang lingkup hubungan intrapersonal individu berkebutuhan khusus. Melalui Circle Support ini Judith berharap ke depannya berbagai bantuan yang dibutuhkan individu berkebutuhan khusus dapat terpetakan dengan baik dan orang-orang awam akan mudah memahami bagaimana cara membantu mereka. Dengan kata lain, Circle Support adalah kelompok-kelompok yang dibentuk untuk membantu individu berkebutuhan khusus ketika dibutuhkan dan lebih jauhnya adalah untuk membantu individu berkebutuhan khusus mencapai tujuan hidup mereka. Judith menbagi Circle Support menjadi empat bagian, yaitu Circle of Intimacy, Circle of Friendship, Circle of Participation, dan Circle of Exchance.

Circle of Intimacy

Pada intinya, lingkaran ini hanya bisa dibentuk oleh hal-hal yang kita cintai. Di sinilah lingkup hubungan individu berkebutuhan khusus dengan hal-hal yang membuat mereka merasa tidak ragu berbagi hal-hal rahasia, nyaman, dan aman secara emosional. Yang ada pada Circle of Intimacy biasanya adalah orang atau benda yang kehadirannya dianggap penting secara emosional oleh individu berkebutuhan khusus. Anggota keluarga bisa menjadi salah satu bagian dari Circle of Intimacy, tapi tidak selalu. Hal ini dikarenakan pada individu yang memiliki gangguan neurodevelopment kerap kali menjadikan benda tertentu menjadi hal yang lebih berharga daripada orang.

Circle of Friendship

Lingkaran ini biasanya dibentuk oleh orang-orang yang kita ingin menghabiskan waktu-waktu tertentu dengannya. Misalnya orang-orang yang kerap ingin kita ajak makan bersama, pergi ke bioskop, atau melakukan aktivitas hobi bersama-sama. Orang-orang yang ada di lingkaran ini biasanya teman-teman dari individu berkebutuhan khusus, tapi bukan teman-teman yang sangat dekat dengan mereka.

Circle of Participation

Lingkaran yang satu ini dibentuk oleh kenalan-kenalan individu berkebutuhan khusus dari berbagai lingkungan atau bidang di mana mereka berpartisipasi. Misalnya lingkungan perkenalan di tempat belajar (sekolah atau kampus), tempat kerja, tempat ibadah, organisasi, atau komunitas hobi yang diikuti oleh individu berkebutuhan khusus. Orang-orang yang ada di lingkaran ini mungkin saya bukan orang-orang yang cukup dekat dengan mereka, tapi tidak memungkinkan orang yang ada di Circle of Participation ini juga termasuk dalam Circle of Friendship atau Circle of Intimacy.

Circle of Exchange

Lingkaran ini terdiri dari orang-orang yang sengaja dibayar untuk ada dalam kehidupan individu berkebutuhan khusus. Beberapa contohnya adalah guru pendidikan khusus, terapis, psikolog, dokter, penata rambut, dan sebagainya. Jadi hubungan yang ada di lingkaran ini adalah murni karena adanya aktivitas transaksional atas kebutuhan masing-masing.

Photo by Tim Marshall on Unsplash.com

Yang perlu dipahami dari Circle Support di atas adalah keempatnya bukanlah lingkungan fisik yang bisa ada begitu saja. Keempat jenis Circle Support ini merupakan lingkungan nonfisik alias hubungan yang hanya bisa dibentuk oleh setiap individu itu sendiri.

Nah, permasalahannya adalah kalau kita perhatikan, umumnya individu berkebutuhan khusus hanya memiliki lingakaran hubungan yang pertama keempat, yaitu Circle of Intimacy dan Circle of Exchange. Khususnya pada Circle of Exchange, bisa dibilang setiap individu berkebutuhan khusus secara otomatis akan masuk dalam lingkaran ini. Lalu bagaimana dengan lingkarang hubungan kedua dan ketiga? Di sinilah Judith melihat kebutuhan individu berkebutuhan khusus belum sepenuhnya terpenuhi di kedua lingkaran ini.

Ada banyak faktor yang menyebabkan begitu sedikit individu berkebutuhan khusus yang mampu mencapai Circle of Frienship dan Circle of Participation. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan di awal, yakni kemampuan kognitif yang minim pada beberapa jenis gangguan, kurangnya kesempatan bekerja, buruknya akses ke lingkungan sosial termasuk ke lingkungan keagamanaan, ataupun minimnya jaringan untuk terlibat dalam komunitas sehobi ataupun pengaktualisasian diri.

Kurangnya akses untuk memiliki Circle of Friendship dan Circle of Participation ternyata juga dapat memberikan pengaruh buruk atas kondisi Circle of Intimacy, sehingga semua kebutuhan yang ada di Circle of Friendship dan Circle of Participation dituangkan di Circle of Intimacy. Hal ini membuat orang-orang yang ada di Circle of Intimacy harus menjadi satu-satunya tempat individu berkebutuhan khusus bergantung. Dampaknya yang sering kita lihat adalah individu berkebutuhan khusus seperti hanya memiliki dua arah hubungan eksternal yakni hanya ke rumah, ke keluarga Circle of Intimacy mereka, dan ke tempat sekolah atau terapi, di mana mereka bertemu dengan orang-orang yang dibayar untuk membantu mereka dalam Circle of Exchange.

Lalu bagaimana ke depannya agar individu berkebutuhan khusus bisa memiliki keempat Circle Support secara utuh?

Pastinya dengan membuka akses atau kesempatan untuk setiap individu agar terlibat dalam lingkungan sosial kita, sehingga mereka bisa menikmati lingkaran pertemanan dan keikutsertaan dalam aktivitas sosial sebagaimana dalam Circle of Friendship dan Circle of Participation.

Lisfatul Fatinah Munir | 28 Juli 2019

29 July 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

My Hijab Story: Mengapa Peduli Jilbab?



“With my veil I put my faith on display—rather than my beauty. My value as a human is defined by my relationship with God, not by my looks. I cover the irrelevant. And when you look at me, you don’t see a body. You view me only for what I am: a servant of my Creator. You see, as a Muslim woman, I’ve been liberated from a silent kind of bondage. I don’t answer to the slaves of God on earth. I answer to their King.”

(Yasmin Mogahed, Reclaim Your Heart: Personal Insights on Breaking Free from Life's Shackles)


Beberapa tahun lalu teman-teman saya sering sekali membagikan artwork dan quote yang berhubungan dengan kemuslimahan di media sosial mereka. Mulai dari senang membaca postingan-postingan tersebut, saya jadi penasaran apa dan siapa yang ada di balik postingan-postingan tersebut.

Pandangan Pertama


Peduli Jilbab. Nama inilah yang saya temukan di balik postingan berdesain girly dan penuh nasihat yang sering saya baca di media sosial. Setelah mencari tahu lebih banyak tentang gerakan ini hal pertama yang ada di benak saya adalah gerakan ini bukan sekadar gerakan kepedulian membagikan atau mengedukasi jilbab syar’i, melainkan adalah gerakan memberdayakan muslimah sesuai kodratnya. Di sini saya melihat bagaimana muslimah diajak untuk mengamalkan perintah Allah SWT, tetap produktif, bermanfaat, dan menginspirasi banyak orang kepada kebaikan.

Di sinilah saya melihat Peduli Jilbab seperti menjadi sebuah jawaban untuk kalangan-kalangan yang menyebut bahwa Islam mengekang, mengeksploitasi, dan merenggut hak-hak perempuan. Sebab melalui aktivitas-aktivitas Peduli Jilbab, masyarakat luas semestinya bisa melihat bagaimana muslimah tetap bebas di bawah ketentuan-ketentuan yang Allah SWT Berikan. Dengan Peduli Jilbab semestinya masyarakat juga tahu bahwa banyak muslimah yang melejit prestasinya, bermanfaat untuk banyak orang, tetapi tetap mengutamakan taat kepada Allah SWT.   

Saat itu entah mengapa belum ada rasa ingin bergabung secara resmi dalam gerakan ini. Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya yang membuat saya belum mencari tahu cara bergabung dengan Peduli Jilbab karena saya sedang berdomisili di luar Jakarta dan tidak tahu akan sampai kapan meninggalkan Jakarta. Jadi saat itu bisa dibilang saya hanya memposisikan diri sebagai supporter. Saya ikuti setiap postingan Peduli Jilbab di media sosial, ikut meramaikan postingan dengan hashtag tertentu di agenda-agenda tertentu, ikut memposting ulang di WhatsApp Story, termasuk beberapa kali ikut agenda offline seperti GEMAR (Gerakan Menutup Aurat) yang diadakan setiap tahun.

Getaran Pertama


Ada momen yang paling berkesan untuk saya saat mengikuti salah satu agenda Peduli Jilbab. Yakni pada GEMAR 2018. Saat itu saya bergabung atas nama Kitainklusi, komunitas yang saya bangun bersama teman-teman guru pendidikan khusus. Pada tahun itu saya ingin “coba-coba” melihat seberapa besar teman-teman disabilitas muslim mengenal Islam, ingin tahu bagaimana antusiasme mereka, termasuk mengobservasi aksesibilitas dakwah terhadap teman-teman disablitas. Akhirnya bersama Kitainklusi, teman-teman hambatan pengelihatan, dan teman-teman tuli, saya ikut andil dalam GEMAR 2018.

Tidak banyak kontribusi yang bisa kami berikan kepada GEMAR 2018 dan justru sepertinya kami memberikan kendala tambahan saat pelaksanaan. Salah satunya adalah terhambatnya komunikasi saat membagikan jilbab gratis kepada pengguna Car Free Day, karena teman-teman tuli hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan tidak banyak relawan interpreter (penerjemah bahasa isyarat). Tapi, Alhamdulillah, GEMAR 2018 ini seperti mile stones buat teman-teman tuli dan hambatan pengelihatan yang hadir untuk memperoleh akses dakwah yang setara ke depannya. Sejak saat itu teman-teman tuli jadi semakin semangat belajar Islam, beberapa kajian-kajian keislaman mulai menyediakan interpreter, dan teman-teman tuli juga ikut anbil besar dalam projek Hijrah Fest pertama sehingga keberadaan teman-teman disabilitas muslim semakin tampak oleh umat. Alhamdulillah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Momen GEMAR 2018 ini tidak hanya mempengaruhi dakwah bagi teman-teman disabilitas tapi juga mendorong saya untuk ikut terlibat lebih jauh lagi dalam gerakan ini. Saya ingin ikut andil langsung dalam projek akhirat ini. Mengingat sejak kuliah dulu saya sering sekali ikut dalam aktivitas sosial yang berhubungan dengan keduniaan dan sekarang juga ingin berkontribusi dalam dakwah Islam.

Saya pun mulai bertanya kepada teman-teman yang sudah menjadi pengurus Peduli Jilbab terkait penerimaan anggota tim baru. Sayangnya, saat itu teman saya belum tahu kapan akan ada pendaftaran menjadi anggota baru Peduli Jilbab. Di tambah lagi ternyata pendaftaran anggota baru ternyata hanya dibuka per dua tahun. Agak sedih, sih, saat itu. Tapi mungkin memang Allah SWT belum Mempercayai saya atau Menilai kalau saya belum cukup layak untuk menjadi bagian dari Peduli Jilbab.


Teman-teman tuli yang ikut berpartisipasi dalam GEMAR 2018 sedang saling menyimak terjemahan bahasa isyarat dari orasi dan tausiyah yang diberikan

Satu Tahun Penantian;
Kesempatan dan Kesiapan


Karena sudah sangat ingin bergabung, sejak saat itu saya langsung mengaktifkan notifikasi postingan instagram Peduli Jilbab meskipun harus menunggu satu sampai dua tahun untuk munculnya sebuah postingan perekrutan anggota tim baru. Sekilas tampak seperti sebuah ambisi, tapi saya lakukan ini demi mendapatkan kesempatan yang kalau tidak saya dapatkan di tahun pembukaan pendaftaran tersebut maka saya harus menunggu dua tahun lagi.

Dalam salah satu buku yang pernah saya baca, saya lupa judul dan penulisnya, dikatakan bahwa apa yang terjadi pada diri kita pada dasarnya ada di antara kesempatan dan kesiapan. Ketika Allah SWT memberikan kesempatan tapi kita belum siap atau layak, maka sesuatu tidak akan terjadi. Begitupun sebaliknya, ketika sudah ada ada kesiapan dan kelayakan tapi Allah SWT belum memberikan kita waktu untuk memiliki atau melakukan sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan terjadi.

Berada di antara kesempatan dan kesiapan ini membuat saya harus memaksakan diri untuk siap ketika ada kesempatan mendaftar menjadi bagian Peduli Jilbab. Memperbaiki diri lagi dan lagi adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan. Bukan hanya demi memantaskan diri dengan Peduli Jilbab, tapi juga sebagai bentuk syukur atas nikmat ilmu, iman, dan islam yang Allah SWT Berikan.

Bertemu


Siang itu di sela-sela istirahat mengajar, ada sebuah notifikasi dari akun instagram Peduli Jilbab. Alhamdulillah, perekrutan anggota tim baru telah dibuka. Saya sengaja meluangkan waktu sore hari, pulang terlambat demi mengisi formulir seleksi keanggotaan yang cukup detail di hari pertama perekrutan.

Alhamdulillah. Saat pengumuman kelulusan seleksi, yang saat itu saya lupa sekali kalau hari itu adalah pengumumannya, Alhamdulillah ada nama saya di daftar calon anggota. Senyum sendiri. Senang. Bersyukur. Saya menantikan masa-masa berjuang bersama muslimah-muslimah lainnya. Membayangkan apa saja yang bisa saya berikan di jalan dakwah ini.

Rencana-Rencana Saat Bersama


Seperti seseorang yang menanti jodoh terbaik dari Allah SWT, pasti ada banyak rencana-rencana kolaborasi kebaikan yang akan dilakukan ketika berjumpa dan berada dalam ikatan halal nantinya. Begitu juga ketika menantikan menjadi bagian dari anggota tim Peduli Jilbab, ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan bersama Peduli Jilbab. Tidak banyak dan tidak wah memang, karena keterbatasan ilmu dan kemampuan saya. Tapi semoga yang sederhana ini bisa menjadi amal jariyah bagi saya dan jalan hidayah bagi muslimah-muslimah di luar sana.

Jika Allah SWT takdirkan saya berjodoh dengan Peduli Jilbab, saya berharap bisa terlibat dalam aktivitas berbagi ilmu dengan muslimah lainnya, terutama dalam hal pendidikan dan parenting. Mungkin bisa dimulai dari hal sederhana seperti bagaimana menikmati kodrat sebagai muslimah, calon sekolah pertama untuk anak-anaknya yang harus cerdas, sehat, dan tetap menjaga penampilan.

Di samping itu, dengan menjadi bagian Peduli Jilbab saya berharap dakwah Islam dapat tersampaikan secara menyeluruh kepada teman-teman disabilitas muslimah di luar sana. Contoh awalannya adalah dengan menyediakan interpreter di kajian-kajian kemuslimahan yang diadakan Peduli Jilbab agar dakwahnya bisa ikut dinikmati oleh teman-teman tuli. Dan dalam jangka panjang, berharap sekali setiap aktivitas dakwah bisa melibatkan teman-teman disabilitas, membahas fikih disabilitas, dan hingga mengenalkan sosok-sosok teman disabilitas inspiratif yang dekat dengan al-Qur'an, sunnah, dan dakwah. Semoga Allah SWT Lancarkan.^^

Ketika Allah SWT Membersamakan saya dengan Peduli Jilbab, saya juga berharap bisa mejadi bagian dari yang mendorong muslimah untuk terus produktif berkarya dan menebarkan manfaat ilmu keduniaan untuk banyak muslimah lainnya. Misalnya berbagi ilmu sesuai keprofesian masing-masing, seperti berbagi ilmu kependidikan khusus dari saya yang berprofesi sebagai pengajar anak-anak berkebutuhan khusus, berbagi ilmu manajemen keuangan dari tim yang berprofesi di bidang tersebut, bagi yang mempunyai pola hidup zero waste bisa membahas zero waste dari sudut pandang Islam, dan sebagainya.
  
Selanjutnya, saya berharap bisa membantu Peduli Jilbab di bidang literasi untuk keperluan internal tim maupun berbagi ilmu dengan muslimah pada umumnya. Pengalaman saya dalam bidang literasi mungkin tidak banyak, tapi kecintaan saya pada bidang ini membuat saya sangat menikmati prosesnya. Lalu saya berpikir di mana pun saya berada, sepertinya kemampuan inilah yang bisa saya kontribusikan dengan segenap perasaan senang dan syukur saya. Misalnya ketika Peduli Jilbab membutuhkan penulis artikel atau konten, insya Allah, saya akan mengambil bagian dari amanah ini.

Tidak banyak yang bisa saya berikan secara pribadi kepada Peduli Jilbab. Tapi melalui rencana-rencana di atas, saya berharap bisa terus berkolaborasi dalam kebaikan-kebaikan yang insya Allah akan menjadi salah satu sebab kita berjumpa di surga-Nya kelak. Allahumma aamiin.



Lisfatul Fatinah Munir | 25 Juli 2019
25 July 2019
Posted by Fatinah Munir

Hari Anak dan Hubungannya dengan Anak Berkebutuhan Khusus


Photo by Ben Wicks on Unsplash

"Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu." 

(Ki Hajar Dewantara)


Kemarin di media sosial ramai sekali pembahasan Hari Anak 2019. Akun komunitas ataupun personal mengirimkan ucapan selamat hari anak. Saya jadi penasaran, kenapa ada hari anak dan apakah ada pembahasan tentang anak-anak berkebutuhan khusus dari pengadaan hari anak ini.

Saya iseng googling dan baca beberapa artikel juga modul dari UNICEF. Saat membaca artikel-artikel ini saya baru tahu kalau tanggal 23 Juli hanya Indonesia yang memperingati Hari Anak, sedangkan Hari Anak Seduni jatuh pada tanggal 20 November.

Hal pertama yang saya cari tahu adalah kenapa sih ada hari anak. Kalau secara global, hari anak itu sendiri sepertinya dibuat untuk dirayakan atau diperingati oleh anak-anak sendiri, bukan orang tua, pendidik, atau lainnya. Saya berpikir seperti ini karena di dalam artikel ataupun modul yang saya baca tertulis, kira-kira artinya seperti ini, “Dengan adanya hari anak diharapkan anak-anak di seluruh dunia bisa berkumpul dan menyadari keberadaan mereka yang berharga untuk dunia.”

Photo by Mrkus Spiske on Unsplash


Hari Anak dan Hak Anak


Jadi kurang lebih awalnya hari anak dicanangkan untuk membuat anak-anak mengenal diri mereka lebih jauh lagi, menyadari keberhargaan mereka, dan berkumpul dengan anak-anak lain untuk sama-sama menikmati masa anak-anak mereka. Meskipun begitu, saat ini sepertinya orang-orang sudah mulai memperluas makna hari anak. Banyak kalangan yang berlomba-lomba saling mengedukasi untuk memperhatikan hak-hak anak sesuai fitrahnya sebagai anak-anak. Pembahasan hak-hak anak ini dibahas di Konvensi Hak Anak PBB (United Nation Children Right Convention).

Hasil dari Konvensi Hak Anak adalah ada empat ruang lingkup hak anak yang harus diterima setiap anak di dunia ini. Pertama adalah hak bertahan hidup, di dalamnya ada hak hidup dan pemenuhan kebutuhan dasar hidup seperti hak mendapatkan gizi dan nutrisi, tempat tinggal, akses kesehatan, dan kualitas hidup sesuai standard. Hak kedua adalah hak untuk berkembang yang di dalamnya terdapat hak pendidikan, bermain, menikmati waktu luang, menjalankan aktivitas sesuai budaya masing-masing, hak mengakses informasi, dan hak kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama.  Ketiga adalah hak untuk dilindungi, yaitu hak aman dari pelecehan dan eksploitasi, perlindungan untuk anak-anak pengungsi, hak keamanan dalam kasus kriminalitas, perlindungan kerja, serta hak perlindungan dan rehabilitasi untuk  anak yang mengalami berbagai macam kekerasan. Hak keempat atau terakhir adalah hak keterlibatan yang merupakan hak anak untuk menyampaikan pendapat, menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan anak, dan hak bersosialisasi dengan nyaman.

Cukup luas, ya, ternyata cangkupan hak-hak anak. Saya jadi penasaran, nih, dan coba mencari tahu apakah dalam memperingati hari anak dan pembahasan hak anak di Konvensi Hak Anak juga dibahas tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Ternyata ada, Alhamdulillah. Senangnya…  Mungkin karena efek jiwa guru pendidikan khususnya sudah mendarah daging, ya, saya benar-benar senang saat membaca pembahasan tentang anak berkebutuhan khusus di tengah pembahasan hari anak dan hak anak.


Hak Anak Berkebutuhan Khusus 


Dari sumber-sumber yang saya baca terkait hari anak dan hak anak, selain mendapatkan empat hak anak di atas, ada hak lain yang dimiliki anak berkebutuhan khusus. Eh iya, sebelum membahas hak anak berkebutuhan khusus, ada fakta yang dipaparkan saat Konvensi Hak Anak terkait dengan anak berkebutuhan khusus yang menjadi alasan utama mengapa hak anak berkebutuhan khusus ini perlu dan penting dibahas terpisah dari hak anak pada umumnya. Fakta yang dimaksud adalah di berbagai negara, baik itu negara berkembang ataupun maju, masih terjadi diskriminasi dan pengucilan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus juga keluarga dari anak berkebutuhan khusus tersebut.

Dibahas lagi nih di dalam Konvensi Hak Anak, kalau pendiskriminasian pada anak berkebutuhan khusus dan keluarganya bisa terjadi secara langsung, tidak langsung, dan campuran keduanya. Diksriminasi langsung adalah ketika anak berkebutuhan khusus mendapatkan perlakuan yang berbeda dari anak umunya. Diskriminasi tidak langsung terjadi ketika ada kebijakan yang pelaksanaan kebijakan tersebut bertentangan dan tidak memenuhi kebutuhan anak berkebutuhan khusus, atau bahkan kebijakannya justru memberi hambatan baru untuk anak berkebutuhan khusus. Diskriminasi tidak langsung ini biasanya datang dari kebijakan pemerintah itu sendiri atau budaya masyarakat yang kadang memberikan efek lebih buruk daripada diskriminasi langsung. Sedangkan diskriminasi campuran adalah gabungan dari pendiskriminasian langsung dan tidak langsung yang terjadi beriringan atau bersamaan.

Berdasarkan fakta di atas komite konvensi seperti mengingatkan kita bahwa kendala sesungguhnya bukan pada anak berkebutuhan khusus itu sendiri, tapi ada pada kombinasi budaya, sosial, sikap, dan sarana prasarana yang ditemui anak berkebutuhan khusus dalam kehidupan sehari-harinya. Miris tapi memang begini kenyataanya. Sebagai pengajar sekaligus orang yang memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus, saya juga merasakan bagaimana keluarga saya menerima perlakuan tidak nyaman dan cukup didiskriminasikna oleh orang-orang sekitar.

Oke. Berangkat dari fakta-fakta ini hak-hak anak berkebutuhan khusus penting untuk dibahas bersama. Setidaknya ada empat hak anak berkebutuhan khusus yang saya rangkum dari modul yang dikeluarkan UNICEF, yaitu 1) hak memperoleh layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan, 2) hak mendapatkan pendidikan, 3) hak dilindungi dari kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan, dan 4) hak untuk dilibatkan. Keempat hak khusus anak berkebutuhan khusus ini sepintas kok mirip-mirip hak anak pada umumnya yang sudah dibahas sebelumnya ya? Tapi setelah saya baca kembali, ternyata ada beberapa detail yang berbeda dan memang dibutuhkan oleh anak berkebutuhan khusus.

Hak Memperoleh Layanan Kesehatan, Intervensi Dini, dan Kesejahteraan 

Ketika ada anak yang terdeteksi atau terdiagnosis memiliki kebutuhan khusus, hak pertama yang harus diterima adalah layanan kesehatan, intervensi dini, dan kesejahteraan. Sejenak saya berpikir, kok yang pertama layanan kesehatan? Kenapa bukan layanan pendidikan?

Alasannya adalah karena umumnya anak berkebutuhan khusus juga memiliki gangguan kesehatan dan tidak sedikit anak berkebutuhan khusus yang meninggal di usia anak-anak atau tidak dapat bertahan hidup disebabkan tidak memperoleh layanan kesehatan primer yang layak. Dituliskan juga nih kalau bahkan beberapa negara juga kesulitan memberikan layanan kesehatan yang layak untukindividu berkebutuhan khusus usia anak-anak ataupun dewasa.

Komite Konvensi Hak Anak beranggapan kalau layanan kesehatan primer segera diperoleh anak setelah anak didagnosis memiliki kebutuhan khusus, maka anak dan keluarganya akan mudah memperoleh info dari tenaga kesehatan terkait intervensi lanjutan. Intervensi lanjutan yang dimaksud adalah intervensi setelah pelayanan kesehatan diterima. Contohnya adalah intervensi dini atas kekhususan anak, seperti terapi sensori integrasi untuk anak dengan autisme, pemasangan alat bantu dengar untuk anak tuli, dan sebagainya.


Hak Mendapatkan Pendidikan

Pada hak kedua ini, Komite Konvensi Hak Anak mengusung prinsip lifelong learning opportunity atau kesempatan belajar seumur hidup sebagai hak anak berkebutuhan khusus. Pendidikan yang dimaksud di sini tentu saja pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak, misalnya sekolah khusus hingga sekolah inklusi. Tidak berhenti sampai di situ, Komite Konvensi Hak Anak juga menyebutkan Indivudual Education Program (Program Pembelajaran Individu/PPI) juga menjadi bagian dari hak anak. Dalam sumber lainnya saya juga menemukan bahwa PPI ini terus diperlukan oleh anak berkebutuhan khusus hingga mereka berusia dewasa, disesuaikan dengan kebutuhan pada usia dan perkembangannya.

Salah satu rancangan program yang dibutuhkan anak berkebutuhan khusus yang pernah saya baca adalah Individual Transition Program (Program Transisi Individu/PTI), yaitu rancangan program yang dibuat khusus mencapai kebutuhan anak di masa dewasanya. Seperti namanya, rancangan program ini dijalankan ketika anak memasuki masa transisi, yakni ketika berusia remaja hingga remaja akhir. PTI ini sendiri berjalan bersamaan dengan PPI. Jadi PTI bukan program yang penggantikan IEP.

Hak Dilindungi dari Kekerasan, Eksploitasi, dan Pelecehan

Sebagian besar dari kita mungkin beranggapan kalau kekerasan dan pelecehan selalu berhubungan dengan seksual. Tapi pada konteks pembahasan hak anak berkebutuhan khusus dalam Konvensi Hak Anak, kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan mencakup banyak hal. Mulai dari kekerasan dan pelecehan seksual, perisakan fisiki dan psikis, eksploitasi tenaga dan ekonomi, human trafficking (jual beli manusia), dan banyak hal lainnya yang terkait dengan keadilan dan kesejahteraan anak.

Dalam World Report on Violence Against Children, Sekretaris Jenderal PBB menyebutkan anak berkebutuhan khusus sering menjadi korban kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan karena sosok mereka yang easy victim. Maksudnya adalah kondisi anak berkebutuhan khusus pada dasarnya lebih lemah daripada anak umumnya secara fisik ataupun akal, sehingga akan cenderung minim perlawanan secara fisik ataupun melakukan pengaduan ketika menerima kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan.

Pada Konvensi Hak Anak juga  dibahas terkait layanan keamanan. Salah satunya adalah layanan pengaduan dan panggilan darurat yang umumnya menggunakan telepon. Dengan layanan telepon darurat ini, anak dengan gangguan pendengaran atau tuli dan anak yang punya gangguan bicara tidak memiliki akses atau layanan khusus untuk melakukan pengaduan.

Problem kebijakan layanan ini masih menjadi pekerjaan rumah untuk dunia, termasuk negara maju sekalipun. Oleh sebab itu, orang-orang yang ada di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan dapat memberikan pendidikan kepada mereka terkait hal-hal keamaan jika ada kejadian yang tidak menyenangkan di kemudian hari. Lebih jauh lagi, masyarakat juga diharapkan bisa ikut berkerja sama menjaga anak berkebutuhan khusus agar terhindar dari tindak kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan. Jika memungkinkan, lingkungan di sekitar anak berkebutuhan khusus diharapkan pula untuk ikut menyuarakan hak-hak keamanan anak berkebutuhan khusus.

Hak untuk Dilibatkan

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa anak berkebutuhan khusus hanya bisa menerima invervensi, tidak punya keinginan tertentu untuk dirinya sendiri, dan tidak punya harapan atau impian. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Anak berkebutuhan khusus yang tidak mengalami gangguan kognitif atau memiliki IQ rata-rata dan di atas rata-rata faktanya memiliki pandangan, harapan, dan tujuan sendiri. Hanya saja mereka tidak mampu mengungkapkan hal-hal tersebut karena kurangnya kemampuan komunikasi ataupun tidak adanya kesempatan untuk menyampaikan apa yang dirasakan atau dipikirkan dan tidak adanya kesempatan untuk dilibatkan.

Saya pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang yang memiliki keautistikan. Dalam salah satu pembahasan buku tersebut dituliskan kurang lebih seperti ini.


“Sebagai seorang yang memiliki keautistikan, saya memang tidak mampu berkomunikasi dengan baik, tapi bukan berarti saya tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain. Saya juga ingin menjalin hubungan. Saya ingin memiliki teman. Sama seperti kalian.”

Lalu bagaimana sih melibatkan anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini? Komite Konvensi Hak Anak memberikan penjelasan bahwa ketika anak berkebutuhan khusus sudah memasuki usia dewasa atau ketika sudah mencapai masa perkembangan memiliki konsep yang realistis, anak sudah dapat dilibatkan untuk merancang pencapaian tujuan program belajar, peraturan belajar, dan sebagainya. Contoh lebih sederhananya, jika anak berkebutuhan khusus belum memiliki kemampuan yang cukup dalam ranah konsep realistisnya, maka orang-orang di sekitar anak harus memberikan anak kesempatan untuk melakukan berbagai hal sesuai kemampuannya. Pada hak ini orang tua, saudara kandung dan keluarga, pendidik, terapis, psikolog, perawat, dan siapapun yang terlibat dalam penanganan anak harus saling bekerja sama dalam memenuhi hak anak untuk dipercaya, didengar, dan dimanusiakan seutuhnya.


Photo by Scott Webb on Unsplash

Setelah membaca tulisan di atas, mungkin banyak yang berkomentar, “Untuk memenuhi empat ruang lingkup hak dasar anak saja sepertinya sangat berat dilakukan di Indonesia, apalagi ditambah empat hak khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Seperti harus mengumpulkan tenaga seumur hidup dan membutuhkan perjuangan yang tidak berujung!”

Betul. Memang sulit untuk memenuhi empat ruang lingkup hak dasar anak plus empat hak khusus untuk anak berkebutuhan khusus. Tapi sulit bukan berarti tidak mungkink kan? Hal yang sulit tidak akan menjadi mudah ketika kita terus mengeluh tanpa memulai kan? Kita tidak akan tahu persis seberapa sulit memenuhi hak-hak anak berkebutuhan khusus jika kita tidak mencobanya.

Pilihan terbaik dari kondisi sekarang, di mana Indonesia masih terus berkembang, adalah dengan memulainya dari sekarang, dari diri sendiri, dan dari lingkungan terdekat. Jangan lupa juga untuk berbagi informasi terkait hak-hak anak berkebutuhan khusus dan mengajak orang lain untuk ikut memenuhi hak mereka. Pelan-pelan saja. Sedikit demi sedikit.

Tidak pernah ada keajaiban dalam penanganan dan pendampingan anak-anak berkebutuhan khusus. Jika kelak pemenuhan hak anak-anak berkebutuhan khusus terlaksana secara merata, maka itu semua karena perjuangan-perjuangan kecil yang telah kita lakukan sejak sekarang.


Selalu semangat membersamai anak-anak berkebutuhan khusus!

(/ ^^)/



Lisfatul Fatinah Munir | 24 Juli 2019
Versi singkat dari tulisan ini saya publikasikan
sebagai konten khusus Hari Anak Nasional di @kitainklusi
24 July 2019
Posted by Fatinah Munir

Mengajarkan Aturan Sosial kepada Individu dengan Autisme





Bismillahirrahmanirrahim

Pada tulisan sebelumnya kita sudah sedikit membahas tentang kesulitan individu dengan autisme untuk mengikuti aturan sosial karena keterbatasan mereka memahami lingkungan sosial yang penuh dengan hal abstrak dan kompleks. Setelah bersama-sama mengenal dan belajar mengukur perilaku individu dengan autisme dari sudut pandang mereka, lalu pasti akan ada pertanyaan “apakah itu artinya setiap perilaku individu dengan autisme yang tidak sesuai dengan aturan sosial harus kita biarkan saja?”

Walaupun individu dengan autisme memiliki kesulitan dalam memahami aturan dan kondisi sosial, bukan berarti kita membiarkan merekatetap berperilaku tidak sesuai aturan sosial. Justru sebagai orang-orang yang ada di lingkungan mereka, kita punya peran yang cukup banyak untuk mengajarkan mereka tentang berbagai aturan sosial, kondisi sosial, cara merespon lingkungan yang semuanya terangkum dalam keterampilan sosial.

Keterampilan Sosial

Berbicara tentang keterampilan sosial artinya kita sedang berbicara tentang aturan sosial, adab atau cara bersikap, dan kemampuan kita memahami hal-hal tersebut juga meresponnya, termasuk juga kemampuan berinteraksi dengan orang lain di waktu dan tempat yang berbeda-beda. Kemampuan ini adalah satu dari banyak kemampuan yang kurang dimiliki oleh individu dengan autisme.

Sebenarnya keterampilan sosial ini sendiri lingkupnya sangat luas. Tidak melulu tentang apa yang dapat kita lihat, seperti perilaku dan cara merespon lingkungan. Ada juga keterampilan-keterampilan sosial lainnya yang  tidak tampak, seperti memahami sebab-akibat suatu kejadian, kemampuan menjalin pertemanan, hingga kemampuan memprediksi suatu peristiwa dan menjadi fleksibel terhadap perubahan-perubahan yang ada.

Aturan Sosial

Seperti yang sudah kita bahas di atas, aturan sosial adalah salah satu aspek dari keterampilan sosial. Aturan-aturan sosial ini melingkupi bagaimana kita membedakan lingkungan sosial (perbedaan tempat di rumah, sekolah, tempat umum seperti bank, mal, dan sebagainya), memahami adanya perbedaan aturan di setiap lingkungan sosial (berbedanya aturan di rumah, di sekolah, di restoran, di perpustakaan, dan sebagainya), memahami perbedaan social role di lingkungan kita (seperti membedakan setiap orang berdasarkan perannya sebagai anak, murid, orang tua, guru, teman , dan sebagainya).

Mengajarkan Aturan Sosial

Secara umum kita yang tidak memiliki keautistikan biasanya akan mempelajari dan mengembangkan keterampilan-keterampilan sosial secara natural dan mudah melalui pengalaman sehari-hari sejak kita berusia anak-anak hingga sekarang. Sehingga dari waktu ke waktu pemahaman kita tentang apa yang terjadi di sekitar kita dan bagaimana merespon atau menanggapinya terus berkembang .

Berbeda dengan kita pada umumnya, untuk individu dengan autisme yang kesulitan berinteraksi sosial keterampilan ini bisa menjadi hal yang sangat sulit. Mereka membutuhkan usaha besar untuk memahami kondisi sekeliling, beradaptasi dengan aturan sosial di tempat tertentu, hingga memutuskan bagaimana seharusnya bersikap dan merespon kondisi tersebut. Pemahaman mereka terhadap kondisi sosial seperti ini tidak bisa mereka dapatkan secara natural dan mudah melalui pengalaman, sehingga mereka butuh dikenalkan, diajarkan, dan dilatih untuk memiliki keterampilan sosial ini.  

Ada banyak sekali bentuk intervensi atau penanganan yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan keterampilan sosial pada individu dengan autisme. Dari yang pernah saya baca, pelajari, dan praktikkan ada beberapa cara yang cukup “ampuh” untuk mengajarkan aturan sosial adalah social story, praktik langsung, dan mengoreksi di tempat kejadian.

Social Story. Mengajarkan aturan sosial kepada individu dengan autisme menggunakan social story adalah dengan cara menceritakan cerita pendek yang mengandung satu hal yang ingin diajarkan kepada anak.

Jika kita ingin mengajarkan aturan sosial menggunakan social story, kita harus menyiapkan cerita pendek berisi satu sampai dua paragraf yang berisi aturan sosial. Subjek pada cerita sebaiknya menggunakan kata “aku” atau langsung menggunakan nama anak. Cerita dalam social story sebaiknya menggunakan kalimat aktif dan langsung, misalnya “Aku ingin…”. Satu cerita yang dibuat sebaiknya hanya berisi satu hal spesifik yang mau diajarkan, misalnya tentang topik “Menjawab sapaan orang lain” atau “Peraturan dilarang makan dan minum di dalam kelas”. Sebagai opsional, di akhir cerita kita bisa menambahkan satu pertanyaan untuk memancing pemahaman individu dengan autisme terhadap hal yang akan diajarkan.

Saat mengajarkan aturan sosial story, bukan berarti kita hanya memberikan cerita kepada anak. Sambil memberikan cerita, bantuan visual tetap dibutuhkan. Bantuan visual ini bisa menyatu bersama social story yakni memberikan ilustrasi pada setiap social story atau menggunakan visual terpisah berupa flash card.

Salah satu social story yang saya gunakan untuk menguji pemahaman murid besar saya tentang aturan bertarsportasi.
Praktik Langsung. Praktik langsung ini dapat kita lakukan jika sebelumnya individu dengan autisme sudah diberikan pemahaman tentang aturan sosial, misalnya melalui social story. Setelah mengajarkan satu nilai aturan sosial melalui social story, kita bisa mempraktikkan langsung bersama individu dengan autisme. Contohnya, jika kita ingin mengajarkan aturan sosial ketika di perpustakaan, kita bisa mengajak individu dengan autisme langsung mengunjungi perpustakaan.

Jangan lupa, sebelum memasuki perpustakaan, individu dengan autisme harus diingatkan terlebih dahulu tentang aturan-aturan sosial yang telah kita ajarkan melalui social story dan flash card.

Mengoreksi di Tempat Kejadian. Cara terakhir ini adalah cara yang sangat berbeda dengan dua cara sebelumnya. Jika social story dan praktik langsung adalah cara yang harus kita persiapkan dan kita atur, cara ketiga ini adalah lebih kepada mengoreksi perilaku individu dengan autisme langsung saat mereka melakukan kekeliruan di kondisi sosial tertentu. Misalnya ketika kita pergi ke mal bersama individu dengan autisme dan mereka melakukan perilaku yang tidak sesuai dengan aturan di mal, maka pengoreksian dapat dilakukan secara langsung di tempat kejadian.

Pengoreksian yang dimaksud adalah mengoreksi perilaku individu dengan autisme melalui lisan dan meminta mereka meniru perilaku atau kalimat yang diberikan oleh kita sebagai pengoreksi. Dalam mengoreksi sebaiknya dengan intonasi suara yang netral, tidak seperti memarahi ataupun memanjakan. Pengoreksian juga dilakukan menggunakan kalimat yang spesifik dan tidak berbelit.

Hal lain yang membedakan cara ini dengan dua cara sebelumnya adalah jika dua cara sebelumnya dilakukan terbatas oleh professional ataupun orang tua, cara yang ketiga ini bisa dilakukan oleh siapapun yang ada di sekitar lingkungan anak.

Dengan kata lain mengoreksi langsung di tempat kejadian ini tidak terikat hanya oleh pendidik individu dengan autisme, orang tua, keluarga yang tinggal serumah. Akan tetapi staf di tempat belajar, sekalipun itu security dan maintenance di lingkungan belajar individu dengan autisme juga bisa memberikan pengoreksian selama cara pengoreksiannya benar dan sesuai dengan cara yang dibutuhkan oleh individu dengan autisme. Inilah yang dinamakan support sistem untuk individu dengan autisme, yakni siapapun kita, jika kita memiliki irisan lingkungan sosial dengan individu dengan autisme, maka kita memiliki peran untuk mengajarkan aturan sosial.

Sebenarnya ada banyak sekali cara atau srategi yang bisa kita gunakan untuk mengajarkan aturan sosial pada individu dengan autisme. Tiga cara yang kita bahas di atas adalah beberapa cara yang menurut saya sangat aplikatif dan cukup mudah dilakukan, terutama oleh orang tua bagi individu dengan autisme.

Keberhasilan dari ketiga cara di atas tentu tidak kita dapatkan hanya dengan satu atau dua kali mengajarkan. Waktu yang dibutuhkan agar individu dengan autisme memahami aturan sosial yang sudah kita ajarkan adalah tergantung dengan kondisi individu dengan autisme itu sendiri. Tingkat kognitif, kemampuan memahami sebab-akibat, dan pengalaman pribadi individu dengan autisme sangat mempengaruhi keberhasilan pengajaran aturan sosial yang kita berikan.  Oleh karena itu, kita harus tetap mengulang dan mengulang mengajarkan aturan sosial ini kepada mereka terutama dengan cara mengoreksi di tempat kejadian.

Selain tiga cara di atas, apakah teman-teman punya pengalaman dari cara atau strategi lain untuk mengajarkan aturan sosial kepada individu dengan autisme? Jika punya, yuk bagikan pengalaman teman-teman di kolom komentar supaya bisa lebih bermanfaat untuk banyak orang! ^_^

Lisfatul Fatinah Munir | 5 April 2019

05 April 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Sopan-Tidak Sopan; Beginikah Menilai Perilaku Individu dengan Autisme?



Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan salah satu orang tua dari murid besar saya. Dengan tersenyum, beliau menghampiri saya sambil menyapa. Wajah beliau sedikit berubah ketika beranjak duduk di depan saya.

“Bagaimana perkembangan anak saya selama ini, Bu? Mohon maaf kalau dia masih tidak sopan, ya, Bu!”

Di waktu yang berbeda seorang ibu dari salah satu murid besar saya yang lain berkata, “Saya khawatir anak saya kurang ajar, Bu. Makanya, saya sering ikutan saat dia ngedeketin orang tua murid atau murid lain.”

Kurang lebih begitulah kalimat yang beliau-beliau sampaikan kepada saya. Wah, saya agak terkejut dengan pertanyaan dan penyataan ini. Pasalnya, saya dan –saya pikir juga– seluruh  pendidik juga staf di tempat saya mengajar tidak pernah ada yang beranggapan kalau kedua murid besar yang dimaksud pernah atau telah bersikap tidak sopan.

Kalimat yang disampaikan kedua orang tua ini memang bukan tanpa sebab. Ada alasan mengapa mereka meminta maaf dan khawatir atas perilaku anaknya yang sejauh ini diterjemahkan sebagai perilaku tidak sopan. Salah satu anak yang dimaksud dalam percakapan di atas adalah murid besar yang cerdas. Bukan untuk membesar-besarkan, tetapi memang ini yang saya lihat dari performanya di kelas, mulai dari pemahaman konsep yang baik, perencanaan yang cukup rapi, juga desain-desain yang dibuatnya cukup rapi dan kreatif.

Di samping performa akademik, sebagai individu dengan autisme yang menerima layanan khusus di tempat belajar, pastinya mereka tidak hanya akan diperhatikan perkembangan akademiknya. Mereka juga membutuhkan bantuan dalam perkembangan perilaku, komunikasi, dan sosial interaksinya. Nah, di tahun pertama belajar, salah satu murid besar yang dimaksud memang cukup mempunyai masalah dengan tiga aspek di luar akademik ini. Misalnya, perilaku membentak setiap kali disapa, menaikkan kaki ke atas meja jika duduk, atau berbaring di sofa perpustakaan dan menyalakan musik dengan suara nyaring tanpa menggunakan headset.

Perilaku-perilaku negatif seperti inilah yang diterjemahkan oleh orang tua atau keluarga. Saya tidak pungkiri juga, sih, keluarga dan masyarakat umum juga pasti menganggap semua perilaku ini negatif dan bisa dilabeli perilaku tidak sopan. Tapi bagi kami, semua itu bukan tentang sopan atau tidak sopan. Sama sekali bukan!

Mari Kita Fokus Kepada Individunya

Kembali lagi kepada SIAPA, sih, yang sedang kita bahas di sini? Ya, betul. Kita sedang membahas anak dari orang tua yang megkhawatirkan dan sangat menyayanginya. Eh, tapi jangan lupa, orang yang dimaksud juga sekaligus seorang murid besar yang memiliki kondisi keautistikan dan membutuhkan layanan khusus, khususnya untuk membantunya dalam aspek perilaku, komunikasi, dan interaksi sosial.

Lalu, apa hubungannya antara perilaku yang muncul dan masalah keautistikan ini? Hubungannya adalah perilaku yang muncul merupakan dampak dari masalah pada tiga aspek keautistikan di atas. Jadi, semua perilaku yang muncul pada individu dengan autisme bukan karena sopan atau tidak sopan melainkan karena mereka TIDAK TAHU DAN BELUM PAHAM bagaimana harus berperilaku dan merespon lingkungannya.

NORMA SOSIAL? Wow! Itu Abstrak Banget!

Kita semua pasti sepakat kalau yang namanya sikap, adab, berperilaku sesuai norma sosial, dan aturan-aturan lingkungan sekitar adalah hal yang sangat abstrak. Apalagi aturan setiap tempat pasti berbeda, misalnya perbedaan aturan di rumah, di kelas, dan di perpustakaan. Secara implisit kita juga punya aturan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua seperti orang tua, guru, atau petugas di tempat-tempat layanan masyarakat. Semuanya punya aturan yang berbeda-beda, aturan yang abstrak, tidak tertulis atau dibacakan secara terang-terangan. Bahkan kalau kita pergi ke daerah/kota baru, pasti ada aturan sosial tertentu yang harus kita ikuti, kan. Itu pun kita sebagai individu “normal” yang mempunyai kemampuan nalar yang sangat baik pasti membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Hal-hal abstrak dan membutuhkan nalar kompleks seperti inilah yang menjadi dampak dari keterbatasan individu dengan autisme untuk mampu berperilaku sesuai dengan aturan masyarakat. Untuk lebih jelasnya, yuk kita tengok lagi contoh perilaku yang tampak tidak sopan ini.

Pertama, perilaku membentak saat disapa. Di sini kemungkinan besar murid besar saya dan sebagian besar individu dengan autisme tidak tahu kalau kata hai!, apa kabar?, selamat pagi, dan sebagainya adalah beberapa bentuk sapaan yang biasa kita lakukan ketika bertemu. Karena tidak tahu tentang apa itu sapaan, mereka pastinya tidak tahu bagaimana cara menanggapi atau merespon sapaan tadi sesuai aturan yang berlaku di masyarakat kita. Contohnya adalah bagaimana merespon sapaan dengan kembali menyapa halo, hai, dan sebagainya. Ditambah lagi aturan-aturan sosial untuk menggunakan honorifik ibu, bapak, dan sebagainya untuk menjawab sapaan orang yang lebih tua darinya. Termasuk pemilihan intonasi. Duuh, secara tidak sadar, intonasi bicara itu hal yang kompleks banget, loh, teman-teman. Teman-teman pasti pernah mengalami bagaimana ribetnya memilih intonasi bicara yang pas saat praktik pidato atau bicara di depan banyak orang, kan? Ya, seribet itu pula individu dengan autisme belajar menggunakan intonasi yang tepat untuk berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, perilaku berbaring di sofa perpustakaan dan menyalakan musik tanpa headset dengan volume suara nyaring. Sama seperti contoh sebelumnya, di sini kemungkinan besar  Ann juga individu dengan autisme lainnya tidak tahu aturan sosial bahwa kita tidak boleh tiduran berbaring di tempat umum seperti perpustakaan.

Bagaimana dengan aturan “tidak boleh berbisik di dalam perpustakaan”? Bukannya sering ada poster atau stiker yang memberitahukan aturan “tidak boleh berisik” ini? Ya, memang seperti itu peraturan “tidak boleh berisik di perpustakaan” disampaikan. Tapi apa, sih, berisik itu? Kata “berisik” itu hal yang abstrak, loh, dan menjadi hal yang sangaaaaaaat abstrak bagi individu dengan autisme. Selain karena berbisik punya banyak jenis atau contohnya, berisik juga punya makna dan ukuran yang berbeda di tempat yang berbeda. Misalnya saja arti berisik di perpustakaan tidak pernah sama dengan arti berisik di rumah. Jadi, perlu ada contoh konkrit dan spesifik untuk menerjemahkan aturan dilarang berisik di perpustakaan, seperti harus bersuara pelan, harus menggunakan headset jika ingin mendengarkan musik sambil membaca buku, dan sebagainya. Hal seperti ini juga berlaku untuk aturan-aturan abstrak lainnya.

Sebenarnya Semuanya Tampak Tidak Jelas dan Tidak Saling Berhubungan

Kurang lebih begitulah kondisi sebenarnya dari individu dengan autisme ketika mereka berada di suatu lingkungan (misalnya di perpustakaan) dan mendapat stimulus dari lingkungannya (contohnya saat disapa oleh orang yang melihat dan bertemu dengannya). Individu dengan autisme sebenarnya melihat banyak hal dalam satu konsep yang sama. Perbedaan aturan sosial dan kondisi adalah hal yang sangat samar, tidak jelas, dan hal yang sangat sulit dipahami oleh mereka. Oleh sebab itu, mereka kerap kali berperilaku tidak sesuai dengan konteks aturan sosial pada umumnya dan perilaku yang muncul tampak menjadi perilaku tidak sopan bagi orang-orang yang melihat dan belum memahami kondisi mereka.

Sopan dan Tidak Sopan ATAU Tidak Tahu dan Belum Paham?

Balik lagi ke cerita saya di awal tulisan ini tentang pertanyaan berbalut kekhawatiran yang dilontarkan beberapa orang tua dari murid besar saya. Jadi, apakah benar selama ini mereka dan sejumlah individu dengan autisme yang berperilaku tidak sesuai norma adalah tidak sopan? BIG NO! Selama ini mereka tidak tahu dan belum paham bagaimana mereka seharusnya bersikap dan berperilaku. Ini semua karena kondisi keautistikan mereka yang memperngaruhi pemahaman terhadap aturan dan norma sosial yang amat sangat abstrak.

Lalu kenapa sampai ada label sopan-tidak sopan pada individu dengan autisme yang belum memahami aturan dan norma sosial? Secara pribadi saya menilai semua itu karena ketidakpahaman banyak pihak terhadap individu dengan autisme. Bukan hanya dari sisi keluarga dan masyarakat yang masih awam tentang autisme, melainkan juga dari sisi para pendidik itu sendiri.

Secara sadar atau tidak, ketidakpahaman kita akan suatu hal akan sangat mempengaruhi sudut pandang kita terhadap apa yang kita lihat, termasuk dalam hal kondisi keautistikan. Ketika kita memahami kondisi individu dengan autisme, sudut pandang pertama yang kita gunakan pasti adalah individu dengan autisme itu sendiri BUKAN aturan umum, norma sosial, atau takaran sopan-tidak sopan yang sangat abstrak dan sulit dipahami.

Jadi, “sopan-tidak sopan” begitukah menakar perilaku individu dengan autisme? TIDAK. Ketika kita membicarakan individu dengan autisme dan masalah-masalah yang berkaitan dengan mereka, maka takaran yang kita punya untuk menilainya adalah dari sudut pandang mereka, dari sisi seorang dengan autisme.

So dear, ibu dan bapak yang memiliki anak dengan autisme juga teman-teman yang bergelut di dunia pendidikan khusus bersama individu dengan autisme, mari lepaskan segala label sosial dan norma atas perilaku yang muncul pada individu dengan autisme. Posisikan diri kita sebagai seseorang yang kesulitan dalam berkomunikasi, berinteraksi, dan berperilaku yang berada di tengah kehidupan masyarakat, yang penuh dengan aturan-aturan sosial yang abstrak dan selalu berubah berdasarkan waktu dan tempatnya. Lalu perlakukan individu dengan autisme yang kita bersamai tersebut sebagaimana kita ingin diperlakukan dengan kesulitan-kesulitan yang dimilikinya.

Mengubah sudut pandnag kita sebagai individu dengan autisme memang hal yang sepele. Tapi saya secara pribadi sangat yakin, hal inilah yang harus dilakukan pertama kali sebelum kita memberikan penanganan atas perilaku-perilaku mereka. Di samping itu, mengubah sudut pandang kita sebagai individu yang memiliki keautistikan perlahan akan menghemat energi kita untuk berpusing-pusing memikirkan label perilaku pada mereka. Alhasil, kita akan tetap fokus pada apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya.

Fokus kepada individunya, kurang lebih begitulah salah satu langkah awal yang bisa kita lakukan untuk membersamai individu dengan autisme atau individu dengan disabilitas lainnya. Teman-teman pembaca, apakah punya cara lain untuk memulai membersamai individu dengan autisme? Atau adakah yang punya pengalaman serupa dengan cerita saya di awal tulisan? Yuk bagikan di kolom komentar! :)

Lisfatul Fatinah Munir | 2 April 2019
Selamat Hari Autisme Sedunia!



02 April 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -