Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Tuan Garuda dan Nyonya Sang Saka




Tuan Garuda bertengger lesu di tempatnya, di posisi tertinggi dalam setiap dinding putih. Atau di dada kiri setiap pribumi. Tua. Itulah nasib Tuan Garuda saat ini. Sepertinya ia tak lagi pantas dipanggil tuan karena cahaya bulu-bulunya yang memudar. Atau mungkinkah karena huruf “n” yang diasungnya kini menggelinding dan hancur terinjak tuan-tuan lain, yang juga menginjak-injak nilai-nilai negeri ini? Entahlah, padahal usia Tuan Garuda tak setua rupanya. Jika dalam lembar sejarah Tuan Garuda dikatakan terlahir 11 Februari 1950 silam, itu berarti usianya belum menginjak enampuluh.

Akhir-akhir ini Tuan Garuda sering sekali mendesah.

“Ah…,” begitu desahnya berulang setiap tuan-tuan tak berhati melakon lagi di tanah tempatnya dijunjung tinggi. Kentara sekali perbedaan rupa Tuan Garuda yang dulu dan sekarang. Tuan Garuda seperti seorang kakek yang banyak pikiran dengan wajah layu dan bulu-bulu yang mulai kelabu.

Dulu, saat tanahnya masih subur karena pupuk jujur, Tuan Garuda selalu tampak gagah. Kini ketika Tuan Garuda berkaca pada jendela gelap yang ada di depannya, ia hampir lupa bahwa dulu ia sempat bahagia. “Siapakah aku sekarang ini?” tanyanya pada diri sendiri. Tuan Garuda semakin menampakkan murungnya yang bergelantung di paruhnya yang kini tumpul.


Masih lekat dalam benak Tuan Garuda keagungan masa mudanya saat namanya diteriakkan bersama seruan pribumi yang menggetarkan langit penjajah, mengusir orang-orang asing yang seenaknya mengambil hasil. Saat itu kepalanya tegak memancarkan pesona pada hijaunya semesta, pada panji-panji pejuang bersurban. Lehernya kokoh menopang bulu-bulu emas yang berkilauan. Dadanya gagah mengusung bangga perisai tanah air tercinta. Cakarnya menggenggam kuat pita suci bersemboyankan kesatuan negeri.

Tapi kini, kepalanya tak lagi tegak menghadap kanan. Tuan Garuda seakan dehidrasi, lemas tanpa daya. Tuan Garuda menundukkan kepalanya seakan menopang malu pada dunia.  Tuan Garuda malu pada para pendahulu yang memperjuangkan bangsa yang mungkin ikut menyaksikkan penerus-penerusnya menjajakan harga diri negeri dengan harga yang tak tinggi sama sekali. Tuan Garuda malu melihat pemuda-pemuda yang sibuk beradu pikir tanpa saling bekerjasama membangun pikir. Tuan Garuda malu melihat pemuda-pemudi yang sibuk saling menyalahkan atas penguasa asing tanpa bermawas diri dan tak pernah mempelajari sejarah negerinya sendiri.

Duka dan malunya Tuan Garuda tidaklah sendiri. Di sudut lain dalam ruangan ruangan yang sama, ada sosok lain yang merasakan hal serupa. Sosok yang menemaninya sejak ia masih muda hingga keduanya sama-sama renta.


***
Semilir angin senja menari dengan centilnya di antara pepohonan tanah air yang tak lagi rindang. Genit. Tiupannya gemulai. Penuh kehalusan. Dengan kelembutannya yang disengaja, angin senja membuyarkan lamunan Tuan Garuda. Angin senja terkikik, tertawa ala remaja, menyisakan kesejukan pada Tuan Garuda. Lalu pergi setelah membelai lembut Nyonya Sang Saka yang tertidur nyenyak di ruang putih dan lembab.

“Uhuk, uhuk!” Nyonya Sang Saka terbatuk dan menggigil sesaat.

Nyonya Sang Saka menggeliat di tiang kayunya. Ruangan yang penuh dengan kesunyian itu tak mampu membuatnya berkibar dengan ketegaran yang mengakar pada tiang tempatnya berpijar.

Tujuhpuluh dua tahun silam, dari dua tangan Ibunda Fatmawati, Nyonya Sang Saka lahir dan menjadi nyonya tanah air. Sama seperti Tuan Garuda, keduanya lahir di tengah gemuruh kebebasan dari penjajahan. Keduanya dijunjung bersama kebahagiaan pribumi. Tuan Garuda dan Nyonya  Sang Saka memang ditakdirkan berjumpa dalam riuh ricuh kemenangan, kebebasam dan kekhitmatan syukur pada Tuhan.

Merah dan putih adalah kecantikan sempurna yang dimiliki Nyonya Sang Saka. Kain sutra yang menjadi tubuhnya, membuat Nyonya Sang Saka semakin terlihat megah namun tetap bersahaja. Dalam merah dan putih, tubuh dan jiwa Nyonya Sang Saka melebur dalam keberanian yang suci. Sempurna, itulah sosok Nyonya Sang Saka di tanah Bhineka.

Mungkin hanya Nyonya Sang Saka satu-satunya nyonya yang mampu melawan teriknya matahari di bumi khatulistiwa dengan penuh keanggunan. Kala itulah Nyonya Sang Saka berkibar di tengah tanah merdeka, bersinar di tengah hari yang panas namun menyejukkan.

Semasa mudanya, sepanjang hari Nyonya Sang Saka hanya menari di udara. Nyonya Sang Saka tak mengenal siang dan malam. Nyonya Sang Saka hanya ingin menarikan kibaran di sepanjang hidupnya. “Ini untuk tanah air yang melahirkanku,” serunya sesekali ketika sedang menembus batas kenikmatan tariannya.

Tapi itu semua adalah sosok Nyonya Sang Saka yang dulu. Jauh sebelum mentari di bumi khatulistiwa mengganas. Jauh sebelum keberanian suci yang dimilikinya direnggut tuan-tuan bertangan hitam.

Kenyataannya, nasib Nyonya Sang Saka tidak lebih baik dari Tuan Garuda. Tuan Garuda dan Nyonya Sang Saka sama-sama tumbuh dari keringat para pejuang negeri lalu kini tenggelam dalam airmata pribumi.

Saat masih muda dan merah putihnya masih segar di mata, Nyonya Sang Saka belum mengerti tentang kehidupan yang sebenarnya. Ia kira, ia dapat menari selamanya. Berdansa dengan angin yang telah berkelana dari Aceh hingga Papua, diiringi dedaunan yang cemburu padanya. Nyonya Sang Saka tak pernah mengira, bahwa matahari tak selamanya mau menyaksikan tariannya.

Tubuh Nyonya Sang Saka semakin lusuh. Merah darahnya kini berubah menjadi warna senja. Putih tulangnya kini semakin kusam dan buram. Nyonya Sang Saka semakin renta.

“Sedihkah yang selama ini kau rasakan, Nyonya?” Tuan Garuda membuka suaranya.

“Hanya pernah, Tuan. Tidak untuk selamanya.”

“Tapi, apakah kau tidak merasakan sedih yang mendalam hingga kau merasa bahwa kau akan sedih untuk selamanya?”

“Aku tidak pernah mengharapkannya.”

“Ya, akupun begitu. Tapi tangan Tuhan merangkainya dengan berbeda.”

Nyonya Sang Saka tersenyum tipis di balik balutan tubuhnya. “Tuhan memang menentukan. Tapi kita masih punya satu senjata, Tuan. Mungkin Tuan lupa.”

“Masih adakah yang dapat diharapkan?”

“Pilihan.”

“Ketentuan-Nya bukanlah pilihan, Nyonya.”

“Memang ketentuan-Nya bukan pilihan. Tapi Dia memberikan kita pilihan untuk menindaki ketentuan-Nya, Tuan. Aku dan Tuan masih memiliki pilihan untuk dapat menyerah pada ketentuan-Nya atau menerjangnya.”

“Cukuplah berfilosofi Nyonya Tua! Ini tentang negeri yang melahirkan kita, yang pernah bahagia dan kita pun pernah merasakannya.”

“Aku mengerti  maksudmu, Tuan yang tetap gagah. Lalu, apa yang sebenarnya kau rasakan? Kesedihan mendalam yang membuatmu merasa akan berada dalam ruang kelam selamanya?”

“Ah…, tidakkah kau merasa, Nyonya, bahwa tanah air telah kehilangan sinarnya meski kini banyak terlihat kemegahan di mana-mana? Aku seperti hidup di tengah arus kedustaan, Nyonya. Dusta yang sangat dusta. Tanah air dipercantik hingga terlihat bergemerlap dari luar sana. Tapi di dalamnya, banyak coreng dan penindasan. Tuan-tuan pemangku amanah seakan tak pernah punya agama. Mereka seperti tak punya Tuhan yang akan mengadili dirinya. Tidakkah kau merasakannya?” Suara Tuan Garuda bergetar, geram, cakarnya tiba-tiba menegang seperti ingin mencengkeram.

“Tuan, ingatkah kau bahwa aku adalah pasanganmu? Kita terlahir di tangan yang sama. Tangan pejuang negeri padi yang kekar akan pengorbanan. Mungkinkah Tuan melupakannya sehingga Tuan menanyakannya kepadaku? Tak berbeda denganmu. Akupun sakit, Tuan. Sakitku sakit sepi. Sakit yang tak dapat kubagi.”

“Aku tempat berbagi padamu, Nyonya.” Tuan Garuda menyela.

“Ya…, tapi tak akan mudah Tuan mengerti sakitnya Nyonya Muda yang pernah jatuh cinta pada ketulusan perjuangan yang pernah dijunjung tinggi di negeri ini. Tak akan mudah Tuan mengerti bahwa nyanyian tanah air telah menarik hati Nyonya Merah Putih ini. Tuan, aku telah mencintai tanah air ini jauh sebelum tanah air mempertemukan kita. Jauh ketika tuan-tuan Majapahit menguasai negeri ini sebelum para asing datang untuk melukai. Semakin aku memendam cinta ini, semakin menjadi gemuruh yang terjadi dalam dadaku. Aku mencintai tanah air  yang melahirkanku hingga saat ini. Meski ia telah melupakan arti kehadiranku yang sesungguhnya kini.” Nyonya Sang Saka merapatkan tubuhnya pada tiang coklat termpatnya terikat.

Nyonya Sang Saka memang telah jatuh cinta pada tanah air yang melahirkannya. Bukan atas nama cinta antara ibunda dan anak yang ia punya, melainkan cinta sebagaimana dua makhluk disatukan untuk melahirkan keindahan lainnya di dunia.

Nyonya Sang Saka juga mencintai Tuan Garuda, tapi tak sebesar cintanya pada tanah air Bhineka. Hingga suatu masa, cinta Nyonya Sang Saka menyakiti dirinya. Tanah air melupakan Nyonya Sang Saka —juga Tuan Garuda. Tanah air lupa arti keanggunan Nyonya Sang Saka. Tanah air tak lagi melihat tarian Nyonya Sang Saka dengan khitmat. Cinta Nyonya Sang Saka pada tanah air mendarahkan darah yang melekat pada tubuhnya, merenggut paksa kesucian yang menjadi bagian dari keanggunannya.

“Tanah air melupakan keberartianku. Tanah air melupakan semboyan dalam cengkramanmu. Aku sakit, sesakit mata yang tercungkil paksa, Tuan.”

Tuan Garuda merangkul Nyonya Sang Saka.

“Kita memang tak dapat berbuat apa-apa, Tuan. Bahkan pada pilihan kita sekalipun. Haruskah kuungkapkan ini padamu yang bernasib sama denganku? Bukan karena aku tak peduli masa lalu kita yang sempat cerah. Aku masih mengingatnya. Bahkan di setiap pejamanku. Rekaman masa lalu itu terulang nyata dalam benakku, Tuan. Aku merindukan tarianku yang sesungguhnya kutujukan pada tanah air tercinta. Aku merindukan nyanyi mereka yang penuh dengan makna, serta kebanggaan pribumi kepada kita, kepada tanah air yang melahirkan kita.”


“Ya, Nyonya. Pribumi lupa pada dua wujud kebesaran tanah airnya. Tanah air pun lupa pada pita putih yang pernah mereka buat aku mencengkeramnya hingga kini,” Tuan Garuda menunduk, memandang semboyan yang dicengkeramnya sejak puluhan tahun silam
“Sesungguhnya aku takut, Tuan”

Tuan Garuda merapatkan rangkulannya.

“Aku takut saat menyaksikan pribumi terpecah belah. Aku ngilu saat melihat tuan-tuan pemimpin tanah air mulai memutarbalikkan fitrah. Perih, Tuan, saat dalam tarianku, aku melihat banyak pribumi yang dijajah oleh saudara sendiri.” Nyonya Sang Saka menitikkan airmatanya, satu-satu.

“Menangislah, Nyonya. Mungkin airmatamu bisa menyuburkan kejujuran dalam tanah air ini. Atau jika aku masih mampu, akan kukepakkan sayapku di angkasa nusantara, agar kekejian tanah air dapat terhempas ke dimensi neraka.”

“Aku tak ingin ini terjadi selamanya, Tuan. Tak sanggup aku membayangkan kelangsungan nasib kita. Aku tak pernah menginginkan kesedihan. Terlebih di atas tanah air ini.” kata Nyonya Sang Saka sedih.

“Aku pun begitu, Nyonya. Berdoalah! Semoga tanah air sembuh dari sakit yang tak dirasakannya. Semoga tuan-tuan yang mengaku pemimpin tanah air ini menyadari bahwa mereka memiliki tanggungan di hadapan Tuhannya. Semoga pribumi kembali mengalirkan semboyan yang kucengkram dalam deras nadi mereka. Berdoalah, Nyonya! Semoga kita bisa kembali dihayati. Biar mereka, pribumi yang masih berhati, yang menjalankan tugasnya sebagai makhluk Tuhan yang sesungguhnya, yang memimpin muka bumi ini dengan penuh cinta dan tanggung jawab kepada tanah air yang melahirkan kita, kepada Tuhan yang Menciptakan kita.”

Tuan Garuda dan Nyonya Sang Saka berpelukan, saling menguatkan.

Dengan satu sayapnya, Tuan Garuda memperbaiki posisi perisai yang hampir lepas dari dadanya. Tuan Garuda mengeratkan pita di cakarnya. Lalu ia mengepakkan sayapnya, menghadap kanan, melihat matahari dari balik jendela dengan mata tajam.

Nyonya Sang Saka mengurung dukanya. Entah kemana ia membuang kunci kesedihan itu. Kini ia menari dalam ruang putih yang tak berpenghuni tanpa disaksikan matahari.

Tuan Garuda dan Nyonya Sang Saka memang mempunyai kisah yang sama. Hingga akhir kisahnya, mereka sudah ditakdirkan bersama. Kini mereka menanti kisah mereka yang selanjutnya. Tuan Garuda dan Nyonya Sang Saka menunggu tuan-tuan berhati yang mau mengembalikan fitrah tanah air yang dicintainya.

“Semoga tanah air ini adil, makmur, dan sentosa. Semoga kibaranku di seluruh pantai tanah air tetap dipuja dengan rasa. Semoga!”

Nyonya Sang Saka menari bersama airmatanya yang menetes, satu-satu.


***

@fatinahmunir
Kamis, 17 Agustus 2017
Semoga Allah SWT limpahkan Rahmat-Nya kepada Indonesia
17 August 2017
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Tanpa Lilin


Mentari sudah tenggelam beberapa menit lalu. Giliran cercahan cahayanya yang merekah di balik barat. Langit sudah berubah jadi nila, jingga, lalu merah. Itu saja. Lalu perlahan berubah jadi gelap.

Aku mgnintip ke timur. Mencarinya yang kutahu dia pasti tak ada lagi malam ini. Tidak akan ada bulan malam ini. Sebab purnama sudah pergi lebih dari tujuh hari.

Kala aku memalingkan wajah ke pucuk-pucuk pohon, tetiba kulihat ia terbit. Lagi. Di depanku.

Seperti melihatnya sekali lagi. Purnama datang menghampiriku. Kini dalam sosok asing yang nyaris tak kukenal.

Lalu kenapa kau bisa mengenal itu purnama? 

Sebab ada pendar cahaya yang datang bersamanya. Cahaya yang tak pernah dimiliki satu makhluk Tuhan lainnya di dunia.

Dari balik rerimbun, aku mengintip wajahnya. Tanpa berkata. Persis seperti gadis yang malu-malu aku mencoba mengenalnya tanpa bahasa.

Pertama melihatnya tujuh hari sebelum purnama pada malam itu, aku tahu dia akan datang. Lagi. Entah kapan. Entah kini. Entah sama atau beda rupa.

Apa yang membuatmu bergitu mudah mengenalnya?

Aku tak pernah tahu apakah dia makhluk Tuhan yang selama ini kupuja; purnama. Tapi saat itu aku merasakan satu hal; tulus.

Bersambung...,
15 August 2014
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Rembulan Separuh



Aku masih merasakan kehadirannya.

Hangat tangannya menyentuh jemariku. Sesekali menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajahku. Aku masih merasakan jari-jarinya yang besar, yang membelai rambutku dengan sangat perlahan. Lalu dia meletakkan kepalaku di salah satu pundaknya.

Aku menghabiskan tujuh malam menjelang purnama bersamanya. Seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Tujuh malam menjelang purnama, dia memanggilku ketika langit barat tak lagi biru. Sejak bias jingga mengkhatulistiwa hingga ufuk timur kembali merona, dia ada di sampingku.

Selama itu, dia tak berbicara. Hanya mengajakku berjalan menelusuri jalan ibu kota dan duduk di tempat yang nyaman untuk menatap bentangan gulita. Selama itu dia diam tanpa mau memberi cerita atau kata-kata manis selayaknya lelaki yang sering singgah di hati wanita.

Jika aku sudah menunjukkan tanda-tanda kebosanan, dia mulai tersenyum dan menggenggam tanganku semakin erat. Atau bahkan sesekali merangkulku di balik tangannya yang kekar tapi lembut dalam menyentuh.

***

Beberapa purnama lalu, setelah sebaris doa aku sampaikan pada rembulan sendiri di langit malam. Sama seperti diriku yang sendirian di tengah ruang penuh jendela yang tak bertirai. Yang dengan lugu aku berharap bulan itu menyampaikan doaku kepada Tuhan.

Menjelang purnama selanjutnya, aku menunggu balasan dari rembulan, dari Tuhan. Kukira rembulan lupa menyampaikan doaku kepada Tuhan, atau Tuhan lupa mengabulkan doa-doaku yang pernah kutitipkan. Pasrah. Kutenggelamkan wajah di atas bantal hijau yang tak lagi nyaman untuk merehatkan badan. Lalu aku terlelap bersama harap pengabulan doa.

Tiba-tiba….

Tubuhku terangkat, melayang di udara yang mengigilkan raga. Secepat hembusan angin dingin yang membalut kulitku yang pucat, secepat itu pula aku merasakan kehangatan yang membuatku semakin nyaman. Aku meneruskan tidurku masih dalam keadaan melayang.

Lama aku terpejam hingga ketika aku membuka mata secara perlahan, aku tak dapat melihat. Semuanya gelap.

Ada gerak lembut yang membuatku takut. Kubuka mata ragu-ragu dan kudapati aku terbangun di atas pangkuan lelaki yang tak kukenal. Perlahan dia mengangkat kepalaku dari pangkuannya. Dia tersenyum ramah. Dia tak berkata, hanya membiarkanku mematung, bingung.

Aku terdiam lama hingga aku menyadari aku sudah berada di tempat yang indah. Gelap tapi bergemerlap. Dia menunjuk ke langit. Memerintahkanku memperhatikan lingkaran yang belum penuh. Kuning keemasan yang membuatku kepaku. Indah. Mataku terbuka sempurna untuk menikmatinya.

Aku bergumam sendirian bertanya, mengingatkan diri bahwa malam ini adalah tujuh malam sebelum purnama. Lelaki itu mengangguk dan menatapku dengan hangat.

Dia meraih tanganku yang terlipat di dada dan meletakkannya di atas kedua pahaku yang terbalut celana hitam yang mulai kelabu. Aku hanya diam, menuruti segala geraknya yang tanpa kata dan aku tetap memperhatikannya.

Tangan lelaki itu terbuka, memperlihatkan sesuatu yang tak asing di mataku. Rembulan separuh ada dalam genggaman lelaki itu. Aku tersenyum, berusaha menampakkan wajah seindah-indahnya. Sebagai tanda bahwa aku senang dengan apa yang ada di depan mata, dengan yang dia bawa.

Lelaki itu mengangkat tangannya ke udara dan memperlihatkan bahwa rembulan separuh yang ada di genggamannya akan menyempurnakan rembulan yang ada di langit malam itu. Sekali lagi aku tersenyum, semakin sumbringah.

Tiga per empat putaran sudah rembulan bergerak ke timur dan aku terpejam tanpa sadar. Aku merasakan hangat tangannya membelai rambutku dengan mesra dan meletakkan kepalaku di dadanya. Mendekapku hingga aku lelap bersama ritmik napas di balik dada lebarnya.

Aku terbangun di atas kasur berselimut tebal berdebu, tempatku tidur di setiap malam. Aku baru sadar, bahwa rembulan menyampaikan doaku dan Tuhan baru saja mengabulkan permintaanku. Aku bisa tersenyum, setelah dua belas purnama tak sanggup meraih bahagia.

Malam-malam selanjutnya, aku kembali terjaga ketikta dia menempelkan segaris cahaya yang dibawanya untuk rembulan yang menggantung di langit. Hingga rembulan itu bulat sempurna, menjadi purnama.

***



Tujuh malam sebelum purnama, lelaki itu selalu datang membawa separuh rembulan dalam genggamannya. Sebelum rembulan di langit bulat sempurna.

Tujuh malam sebelum purnama, aku selalu terbangun saat rembulan sedang ada di puncak khatulistiwa. Terbangun dalam pangkuan lelaki yang dapat membuatku tertawa.

Tujuh malam sebelum purnama, lelaki itu menemaniku duduk di atas menara tua bercat usang yang nyaris tak terlihat di waktu malam. Hingga rembulan itu bulat sempurna, menjadi purnama.

Purnama, aku memanggilnya.

Aku masih merasakan kehadirannya, menjelang malam-malam purnama. Meski kini dia menghilang, kehangatannya masih saja menyapa ketika aku menatap rembulan yang nyaris sempurna.

Rembulan separuh, tujuh malam sebelum purnama, adalah hari-hari indah bagiku yang selalu bermurung durja. Mengingat kedatangannya, merasakan napasnya, dan kehangatan jemari besar miliknya yang menyentuh jemariku.

Purnama. Lelaki ang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya, meski hingga pertemuan terakhirku dengannya tak sekalipun ada berbicara. Purnama. Lelaki yang membuatku tersenyum setelah murung menguasa jiwa. Purnama, kehadirannya masih kurasa. Tujuh malam sejak rembulan separuh menenangkan malamku.
15 June 2014
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Lara Renjana (Bag. 1)

Karena di balik pintu itu adalah sedu, maka tertutup saja adalah pilihannya. Lalu buang saja kuncinya hingga jatuh ke paling lembah agar tak ada carauntuk terbuka walau secelah.




“Kapan kamu menikah?” Mama menyentak pagi dengan pertanyaan itu lagi.

Aku hanya menjawab dengan seulas senyum hambar. Lagi-lagi, pembahasan pernikahan menghilangkan seleraku untuk menyantap sepotong roti yang sudah dibaluri selai strawberi.

“Masih terlalu pagi untuk membicarakan itu, Ma,” Jawabku sekenanya sambil beralih pada tab putih di sisi lain meja makan.

Sebenarnya, itu hanya alasanku saja untuk menghindari pertanyaan Mama. Sepagi ini, di atas meja makan, tak ada yang menarik bagiku selain sejumlah rencana pertemuan dengan teman-teman dan rekan kerja.

“Kamu kalau ditanya, jawabnya begitu terus, Nak.”

Lalu Mama selalu menanyakan hal  yang sama setiap pagi. Masih banyak hal  yang lebih penting untuk aku pikirkan sepagi ini, kupikir. Pertemuan dengan “penggila” properti interior, meng-update desain interior di web, dan sejumlah pertemuan penting lainnya yang lebih menyenangkan dari pada membahas cinta dan pernikahan.

Aku memeriksa to do list di tab. Pergi ke rumah Anggun, adikku, adalah kegiatan pertama yang harus aku lakukan pagi ini. Sambil memberi check list pada agenda pertama,  aku memperhatikan Mama yang terlihat lelah sepagi ini. Di sofa panjang yang tak jauh dari meja makan, Mama hanya terpejam.

“Mama tidak sarapan?” mataku tertuju pada piring Mama yang masih tertelungkup.

Tak ada jawaban. Mama bangkit dari sofa dan berjalan lunglai ke arah meja makan. Mata Mama sembab. Wajahnya pucat. Di tangannya tergenggam beberapa kantung teh yang sudah direndam.

“Mama menangis lagi?” aku sontak meletakkan tab yang sedari tadi kupegang.

“Tidak. Alergi debu Mama kambuh lagi.” Mama berbohong.

“Mama, kalau ditanya jawabnya begitu terus.” Aku memerhatikan tangan lemah Mama yang sibuk mengompres sembab di matanya. Sedih. “Mama dipukul lagi?”

“Tidak apa-apa. Papamu sudah berangkat ke bandara jam 6 pagi tadi. Dia ada meeting di Singapura.”

“Saya tidak menanyakan Papa. Saya menanyakan Mama,” suaraku merendah. Miris. Ikut merasakan sakit yang Mama rasakan, meski Mama tak pernah mau mengakuinya.

“Hampir jam 7, kamu tidak telat?” Mama kembali mengalihkan pembicaraan.

Mama menutupi kesedihannya, lagi. Aku hanya menatapnya, berusaha menembus ruang hatinya yang selalu berusaha kuat, meski jelas-jelas tersakiti. Semakin dalam aku menatap Mama, aku semakin ikut sakit.

Teng! Teng! Detak jam antik di ruang tengah mengaburkan tatapanku.

“Saya mau ke rumah Anggun, Ma. Kemarin dia minta saya ke sana. Mama mau titip sesuatu untuk dia?”

“Tidak.” Mama manjawab dingin, sedingin embun yang biasa menyentuh kakiku di subuh hari sebelum aku beraktivitas.

Aku menghabiskan teh susu yang mulai dingin, mengeluarkan kunci mobil dari tas, lalu bangkit menghampiri Mama sebelum pergi ke rumah Anggun.

“I love you, Ma. Assalamulaikum.” bisikku saat mencium keningnya.

Mama diam. Aku melangkah meninggalkan Mama dengan segumpal duka dan amarah.

“Jangan ceritakan ini pada Anggun, Nak,” suara Mama tertahan, nyaris tak terdengar.

Aku terus menjauh dari Mama yang isaknya mulai terdengar.

***

Semalam Papa pulang. Hanya itu yang aku tahu. Suara mobil Papa menderu halus saat memasuki pekarangan rumah. Tak ada keinginan sedikitpun bagiku untuk keluar kamar dan menyambut kedatangan Papa.

Setiap terdengar deru mobil Papa, selalu terdengar langkah kaki Mama yang letih dan sapaan rindu seorang istri pada sang suami. Tapi, tak ada jawaban hangat dari Papa yang dirindukan orang rumah. Suara dan tatapan Papa selalu dingin, dan Mama selalu bertahan dalam kebekuan itu.

Jika suara Papa sudah terdengar, I’m Not Write The Sins milik Panic at The Disco siap berputar keras-keras di kamarku, disusul dengan The Mocking Bird yang dilantuntan Eminem. Keduanya berputar berulang-ulang, hingga aku terpejam dan terjaga sebelum subuh datang.

“Siang ini kamu ada agenda?” suara Arya di seberang sana menghamburkan kesedihan pagi ini.

“Nggak,” jawabku sekenanya.

“Kita ketemu di tempat biasa ya, ada yang ingin aku bicarakan.”

“Bicara apa?,” 

"Nanti kalau ketemu juga tahu,"

"Kamu mau bicara apa?" aku mengulang tanya.

"Kamu datang saja. Nanti pasti juga tahu," jawabannya hendak bermain tebak bersamaku.

Kumatikan hape saat mendengar jawaban absurtnya.


Masih pagi kenapa nona yang satu ini galak sekali? 

Arya mengirim pesan singkat, mengomentari  sikapku yang tak bersahabat sepagi ini.

I don’t care, Dude! Aku melempar handphone ke bangku belakang.

***

Mobilku memasuki pekarangan sebuah rumah besar yang bernuansa coklat . Deretan bunga bougenvile menyambut kedatangan mobil merah yang kukendarai ketika pintu gerbang otomatis itu mulai terbuka. Kuparkirkan mobil beberapa meter tepat di depan pintu rumah. Belum sempat aku melangkahkan kaki di teras rumah ini, tiba-tiba seorang wanita berlari dari balik pintu dan menghambur ke arahku.

“Hei?” tubuhku nyaris jatuh saat Anggun menubruk dengan pelukannya.

“Kakak,” suaranya serak. Tangisnya tumpah dalam pundakku.

“Kukun…,” aku menggantungkan suara, tak mengerti mengapa Anggun, Si Kukun yang selalu cerita menjadi begitu melankolis seperti ini.

Anggun terus menangis. Ia tak menghiraukan keheranan yang menggantung di pikiranku.

“Boleh Kakak masuk dulu, Kun?” aku berbisik di telinganya.

Tanpa suara, Anggun melepas pelukannya. Sambil berangkulan kami berjalan melewati pintu besar yang penuh dengan ukiran.

Kami duduk di ruang tamu yang didominasi warna putih gading. Di atas sofa panjang, Anggun menenggelamkan wajahnya di pangkuanku. Tak ada kata-kata selama sepuluh menit pertama kami bersama.

“Kukun, kalau kamu terus menangis seperti ini, Kakak tidak akan tahu kenapa kamu meminta kakak datang sepagi ini,” tangan saya mengelus rambut panjangnya.

Anggun terisak, berusaha menyudahi tangisnya. Tanganku, hanya bisa terus mengelus rambut dan pundaknya sambil merajuk dalam hati, berhentilah menangis adik terkasih.

“Aku mohon, jangan katakan apapun kepada Mama tentang apa yang akan aku ceritakan, Kak,” Anggun mulai bersuara, meski belum mau mengangkat wajahnya dari pangkuanku.

“Ya, ceritakanlah,”

“Aku gak tahu apakah ini karma atas apa yang aku lakukan dulu kepada Kakak,” Anggun memulai ceritanya. “Dulu, aku memang sering heran dan marah dengan sikap Kakak. Kakak tahu kan kalau aku sayang sekali sama Kakak, tapi aku juga sangat membenci sikap Kakak yang menurutkan sangat diluar logika wanita normal. Aku…, aku minta maaf, Kak, atas semua sikapku yang arogan. Maafin Kukun yang selama ini menganggap Kakak terlalu aneh. Kukun…,”

Suara Anggun terputus. Mata sembabnya bersitumbuk dengan kecemasan di mataku. Dia kembali memelukku, untuk kedua kalinya di pagi ini. Aku hanya mematung, belum mengerti apa yang ingin disampaikannya sejak aku tiba di sini.

“Kukun minta maaf karena kadang Kukun sangat membenci sikap Kakak.”

Aku mengangguk kecil, mengulaskan senyum tipis, dan mengusap air matanya yang mengalir tenang. “Kakak selalu sayang kamu dan akan tetap sayang kamu, meski kamu membenci sisi lain dari diri kakakmu ini.”

“Kak…, aku ingin pulang,” suara Anggun terhenti lagi, berganti dengan tangis yang ditungkannya dalam pelukanku.

“Dear, tenangkan diri kamu dulu,”

“Kakak, selama ini aku tidak pernah tahu bagaimana perasaan kakak. Tapi …,”

Kata demi kata keluar dari mulutnya dengan penuh tenaga. Setiap kalimat yang diucapkannya membuatku semakin tegang, semakin tercekat, dan kehilangan kata untuk mengomentarinya. Anggun terus meluncurkan rahasianya, berbicara dengan terburu-buru, seakan dikejar-kejar masa lalu yang siap menyeretkan kembali ke dunia kelam. Suaranya naik turun, kadang terhenti dan berganti air mata, kadang terhenti dan tak ada kata-kata di antara kami.

“Aku benci ini ...,” Anggun menutup wajahnya dengan jari-jarinya yang terluka. Ia menangis, berharap air mata yang terus tumpah bisa menghapus masa lalunya. []


Bersambung…,
30 May 2014
Posted by Lisfatul Fatinah
Tag :

Luna, Rembulan yang Selalu Purnama


Bismillahirrahmanirrahim

Banyak buku yang saya baca, tapi hanya sedikit buku roman yang pernah saya baca, dan lebih sedikit lagi kisah roman yang saya suka. Dari sekian banyak kisah roman, saya hanya suka dua kisah, yaitu kisah cinta Rasulullah saw. dengan Khadijah, dan Siti Aisyah, serta kisah cinta diam-diam yang ada di antara Ali ibn Abi Thalib dan Siti Fatimah.

Untuk dua kisah di atas, saya yakin pasti banyak di antara teman-teman yang sudah mengetahuinya. Di catatan kali ini, saya ingin menceritakan kisah roman ketiga yang saya sukai. Kisah ini memang tidak terekam secara eksklusif seperti kisah roman dua Lelaki Surga di atas. Kisah ketiga ini hanya kisah biasa, tapi penuh hikmah yang membuat diri saya cemburu pada wanita yang ada di dalam kisah ini. Ini tentang Luna, wanita yang saya kenal setahun lalu di dunia maya.

Nama aslinya bukan Luna. Saya memanggilnya Luna, karena saya menyukai ‘luna’ yang berarti ‘rembulan’. Setahun yang lalu Luna meng-add akun facebook saya. Tapi permintaan pertemannya tidak saya pedulikan, karena saya tidak suka meng-approve pertemanan di facebook jika saya tidak kenal betul siapa orang itu.

Kurang lebih satu bulan saya mengacuhkan permintaan pertemanan dari Luna, tiba-tiba akun kedua Luna (dengan nama yang sama) meng-add facebook saya lagi. Penasaran. Saya mencoba mencari tahu siapa wanita ini. Seorang kakak menyarankan saya untuk meng-approve saja permintaan pertemanannya.Wal hasil, saya menuruti saran kakak saya.

Percik Sapa Pertama dan Kehangatan Selamanya

Tak ada sapaan atau perbincangan apapun setelah beberapa pekan saya meng-approve akunnya. Hingga pada suatu siang saat saya membuka facebook, saya mengaktifkanchat saya yang biasanya selalu saya nonaktifkan. Tiba-tiba sebuah sapaan mendenting dari sudut layar komputer. Luna memberi salam.

Antara enggan dan tidak, saya menjawab salamnya. Luna memanggil saya ‘Kakak’ dan menyebut dirinya ‘Dede’ meskipun usia kami sebaya, bahkan dia lebih tua satu bulan daripada saya. Sapaan pertamanya membuat saya ikut melebur pada dirinya yang ‘cerewet’.

Di perbincangan perdana ini, saya tak banyak bertanya, justru Luna lebih banyak melontarkan pertanyaan tentang saya.  Saya terkejut ketika Luna tahu bahwa saya pernah kuliah di FKIK UIN Ciputat (Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Ciputat). Saya pikir, mungkin di membaca profile saya di, jadi tidak masalah. Setelah itu, pertanyaanya melenceng ke arah kesehatan, obat-obatan, sampai pada sebuah penyakit yang cukup mengerikan bagi saya.

Kanker rahim, itulah perbincangan kami selanjutnya. Luna banyak bertanya tentang penyakit itu. Saya berusaha menjawab sesuai dengan ilmu yang pernah saya dapatkan, beserta informasi obat-obatan mulai dari obat sintesis hingga obat herbal.

Saya memang tidak menaruh tanya pada Luna mengapa dia banyak bertanya tentang penyakit itu. Tapi, di kesempatan lainnya dia bercerita tanpa dipinta. Luna mengidap kanker rahim. Begitulah pengakuannya di message facebook. Refleks saat itu juga saya menangis, tak tega.

Pengakuan Luna membuka pintu persaudaraan kami. Baru satu bulan kami saling kenal, kami sudah cukup dekat. Ya, meskipun dalam perkenalan ini Luna yang lebih banyak bercerita tentang dirinya daripada saya. Saya sering berbagi informasi kepadanya tentang info-info kanker rahim sampai dengan memberitahukan kepadanya tentang obat-obatan tradisional yang bisa dibuat sendiri di rumah. Kedekatan ini membuat saya memberikan nomor handphone saya kepadanya, agar jika saya mendapatkan informasi terbaru tentang obat, bisa segera saya berikan kepadanya.

Jumpa Suara dan Airmata

Dua bulan sudah kami berkenalan. Sore itu Luna mengirim sms kepada saya, “Kak, nanti malam sibuk gak? Dede mau telepon kakakku, ada yang mau Dede ceritain.” Begitulah cara Luna berbincang dengan saya, kekanak-kanakan dan manja.

Malam harinya, Luna menelepon. Suaranya renyah dan memang kekanak-kanakan. Basa-basi mengawali perbincangan kami hingga Luna mengeluarkan kalimat yang menyentak saya. “Dede mau nikah, Kak, tapi bukan karena keinginan Dede. Ini supaya pengobatan Dede lancar.”

Saya paham maksudnya, salah satu prosedur dalam pengobatan kanker rahim mengharuskan pasiennya untuk menghilangkan keperawanannya. Dan, menikah adalah satu-satunya cara yang harus ditempuhnya.

“Tapi Dede kasihan dengan calon Dede, karena Dede gak akan bisa ngasih anak buat dia,” Luna terisak, airmata saya ikut tumpah.

“Jangan bilang begitu. Itu kan kata dokter, bukan kata Allah,” saya berusaha menghiburnya.

“Iya. Dede udah pasrah, Kak. Dede cuma mau sembuh.”

Sampai sekarang saya selalu menangis setiap mengingat perbincangan ini. Ada cemburu dan belas kasihan saya pada Luna. Saya cemburu pada ketegarannya. Di usia yang sama, dia menerima ujian dari Allah lewat kesehatannya. Dia mengorbankan kuliahnya untuk konsentrasi berobat ke sana ke mari. Saya cemburu kepadanya yang kuat dan merelakan dirinya menikah dengan orang yang belum tentu dicintainya. Saya cemburu dengannya yang bisa menikah muda, tapi ikut kasihan ketika mengingat alasannya menikah untuk mengobati penyakitnya.

Luna, ia sempurna seperti rembulan; ia membuat saya cemburu pada ketabahannya yang menyinari malam, sendirian di bentang hitam.

Pembicaraan kami terus beriring isak tangis. Tapi, lambat laun saya mengalihkan pembicaraan. Saya menggodanya dengan menanyakan siapa calonnya. Luna bercerita bahwa calonnya adalah seorang anggota FLP dan baru saja memenangkan lomba menulis di FLP Jakarta Raya. Saya hanya tahu nama orang itu, tanpa tahu orangnya seperti apa.

“Dia teman Dede, seorang hafizul quran, Kak.” Suara Luna mengisyaratkan bahwa dia sangat bahagia memiliki calon suami yang penghapal al-Qur’an.

Perbincangan kami yang dipenuhi tangis, tawa, dan bahagia akhirnya selesai. Saya dan Luna kembali berkomunikasi melalui sms atau message facebook.

Saya kerap dikejutkan oleh smsnya. “Dede masuk rumah sakit lagi :’(“ begitulah bunyi smsnya selalu membuat saya terkejut dan khawatir. Lalu, beberapa hari setelah sms sejenis itu datang, tak pernah ada kabar darinya. Begitulah saya sering mengkhawatirkan kondisinya. Tapi, dia selalu mengabari setiap dia sudah keluar dari rumah sakit dan memohon maaf banyak sms yang tidak dibalas karena dia tidak memegang handphone selama diopname.

Hampir setiap bulan saya tiba-tiba menerima sms mengejutkan seperti di atas. Tiba-tiba kehilangan kabar darinya dan tiba-tiba menerima telepon darinya.

“Kak, Dede gak jadi nikah dengan dia,” suaranya sedih saat dia menelepon saya.

“Kenapa, De?” saya terkejut.

“Dede gak suka cara dia menjalin hubungan dengan Dede sebelum pernikahan,” suara Luna meninggi. “Masa dia beraninya sms dan telepon pakai kata ‘sayang’ ke Dede, padahal Dede belum sah  untuk dipanggil ‘sayang’ sama dia. Dede gak peduli dia hafizul Qur'an. Dee gak suka cara dia berinteraksi kayak gitu”

Saya diam, terus mendengarkan suaranya yang menggeram. Semakin dia membeberkan kisah tentang calon suaminya, semakin saya mengaguminya, semakin pula saya cemburu kepadanya.

Semua wanita pasti ingin memiliki suami yang taat ibadahnya, bahkan juga kalau bisa hafizul Qur’an, yang menjaga al-Qur’an di kehidupannya. Tapi tidak semua wanita mau melepas sang calon suami yang hafizul Qur’an hanya karena kata ‘sayang’ yang dilontarkan sebelum akad diucapkan.

Dari Luna saya belajar arti kesucian sebuah hubungan. Kadang banyak orang terlena dengan hubungan yang nyaris mengarah pada pernikahan. Tak dapat dipungkiri, setiap wanita pasti senang jika dipanggil ‘sayang’ oleh sang calon suami. Tapi, dari Luna saya belajar arti kata itu yang sesungguhnya. Jika memang itu belum waktunya dikatakan yang jangan dikatakan, karena bagaimana pun calon suami tetaplah calon yang belum memiliki hak untuk melakukan apa yang bisa dilakukan suami, sekalipun itu sekadar ucapan merayu.

Dari Luna saya belajar arti keteguhan dalam mencintai. Tak peduli siapa calon suami itu, seorang ustaz ataupun hafizul Qur’an, ketika dia melakukan hal yang belum seharusnya dilakukan, segala embel-embel keistimewaan yang disandingnya luruh sudah. Luna tak peduli calon suaminya seorang hafizul Qur’an dan Luna rela melepas calon suami yang diidamkan banyak wanita demi menjaga ketulusan rasa yang dimilikinya.

Sekali lagi saya belajar dari Luna. Cinta itu tidak sesimpel mengolah tepung menjadi berbagai macam kue. Cinta  itu seperti menanam padi, ada tahap-tahap yang harus dilalui dengan berurutan, ada tahap-tahap yang harus dikerjakan dengan penuh kesabaran. Untuk mendapatkan beras, kita harus membajak sawah dulu, lalu menanam benih padinya. Dua tahap ini tidak bisa ditukar apalagi di hilangkan salah satunya.

Begitulah menanam cinta, harus sabar, telaten, dan perlahan-lahan. Ada hal-hal yang tetap tak bisa dilakukan sebelum akad dilaksanakan, meski hanya sekadar kata ‘sayang’.


Lebih dari satu bulan sejak saya menerima kabar tentang batalnya hubungan Luna dengan sang hafizul Qur’an, tiba-tiba Luna mengirim sms dan meminta ditelepon. Malam harinya, ba’da Isya saya menelepon Luna.

“Kak, dua bulan lagi Dede menikah. Mohon doanya ya,” Luna mengabarkan suka.

“Subhanallah, barokallah. Sama siapa, De?”

“Sama seorang lelaki yang belum Dede kenal, Kak. Dia lelaki biasa, bukan hafizul Qur'an kayak calon yang pertama, dia cuma orang kantoran. Dia tiba-tiba datang ke rumah dan ngelamar Dede. Dede kaget waktu dia bilang kenal Dede di FB. Padahal Dede udah jarang  FB-an, jarang update status.”

“Terus, kok dia bisa berani ngelamar kamu?”

“Iya, Kak, Dede juga gak tau. Tapi Dede kaget waktu dia bilang kalau dia sering baca status Dede tentang penyakit Dede. Dia gak pernah nge-like ataucomment, tapi dia merhatiin Dede. Dia tahu kondisi Dede seperti apa,” Luna menangis. Saya sudah sedari tadi menitikkan airmata, merinding mendengarkan ceritanya. Saya hanya bertanya dalam hati, masih adakah lelaki setulus itu di zaman sekarang, yang diam-diam mencintai seperti Ali ibn Thalib dan memilih langsung meminta daripada mencoba mendekati dengan berbagai cara?

“Berarti dia benar-benar sayang sama kamu.”

“Dede gak tau dia sayang Dede atau nggak. Sejak dia datang kemarin sore sama orangtuanya, Dede ingin tanya apa dia mau nikahin Dede karena kasihan? Tapi Dede gak mau tanya itu dulu ke dia.”

Suara Luna mengalir di telinga saya, merasup dalam hati, mengobrak-abrik makna cinta yang sudah saya punya. Airmata saya semakin deras alirannya, sederas kekaguman dan iri pada Luna.

Setiap wanita pasti ingin menikah karena cinta, tapi Luna harus mangguhkan cinta demi kesembuhannya. Tak peduli apakah lelaki yang ingin menikahinya benar-benar mencintainya atau sekadar kasihan padanya.

“Meskipun cuma orang biasa-biasa, semoga dia benar-benar jodohmu, De.” cuma itu yang bisa saya ucapkan.

“Amin. Tapi, Dede belom bisa nerima dia. Dede gak tau dia cinta atau tidak sama Dede. Dede juga belom bisa cinta sama dia, Kak,” Luna terisak.

Saya bingung menanggapinya. Saya tidak pernah ada di posisi sepelik ini, apalagi dalam urusan cinta. Saya menarik napas panjang, “Sekarang memang belum, De. Tapi  nanti, insya Allah cinta itu tumbuh. Cinta kan bisa dibangun. Semoga yang dibangun itu berkah dari Allah, De.”

“Amin. Doain Dede, Kak, semoga Dede gak nyakitin dia. Semoga beneran jodoh,” Luna menangis lagi.

Semoga benar jodohmu, imammu di dunia hingga surga. Selalu itu yang saya doakan setiap Luna mengabarkan perkembangan proses pernikahannya.

“Kak, Dede cinta sama dia.” Sms Luna di suatu hari. Saya tersenyum, terharu saat membaca sms itu. Saya hanya membalas dengan mention senyuman. Barisan doa terus mengalir untuknya, semoga dia bahagia bersama lelaki yang diam-diam mencintainya, yang diam-diam ingin menolongnya.

Lelaki itu, yang tiba-tiba datang melamar Luna, tak pernah sekalipun menelepon Luna sebelum ijab kabul diucapkan. Lelaki itu bahkan tidak pernah mengirim sms untuk sekadar ngobrol  basa-basi dengan Luna. Setiap sms yang dikirim lelaki  bermental Ali ini hanya membahas persiapan pernikahan. Setelah pembahasan persiapan pernikahan selesai, selesai pula komunikasi mereka. Begitulah tak  ada hubungan yang berlebihan sebelum akad nikah, apalagi  saling panggil ‘sayang’  atau ‘cinta’ yang dilontarkannya.

“Dede semakin cinta sama dia, karena dia gak  pernah sms yang mesra-mesra. Dia beda dengan yang lain, Kak. Kalau ke rumah, dia gak pernah minta Dede nemuin dia. Dia perlu sama Ibu,  ya dia cuma ketemu ibu,  gak maksa Dede untuk  keluar nemuin dia,  Kak,” kata Luna dalam obrolan kami di telepon.

“Subhanallah. Bersyukurlah, De. Dia menghargai  Dede sebagai wanita. Dia jodoh Dede, insya Allah,” saya ikut bahagia dengan kisahnya.

“Tapi Dede masih gak tega, Kak. Dede kan menikah untuk prosedur pengobatan penyakit Dede. Dede juga gak bisa ngasih dia keturunan.”

“Jangan pikirin itu, De. Yakin sama Allah. Kamu bisa sembuh. Kamu bisa punya anak.” Lagi-lagi saya menangis.

Ya, begitulah cara lelaki itu bersikap pada Luna. Saya pribadi menilai, lelaki itu sangat menghargai Luna sebagai muslimah baik-baik. Tak ada obrolan yang dibuat-buat oleh lelaki itu.  Dia menghindari obrolan tak penting untuk menghargai Luna, begitu pikir saya.

Saya ikut bahagia, akhirnya Luna mendapatkan lelaki yang tak hanya mengasihinya karena kanker rahim yang dideritanya, tapi lelaki yang sangat mencintai, yang sangat menghargainya. Tak peduli apakah Luna bisa memberikan keturunan padanya, tapi dia tetap menghargai Luna. Tak pernah tak menitikkan airmata setiap saya mengingat suara Luna yang bercerita tentang lelaki berhati cahaya ini.

Beberapa pekan sebelum pernikahan mereka diadakan di Bima, tak ada kabar dari Luna. Saya hanya bisa mengucapkan hamdalah, menyampaikan puji dan syukur atas perkenalan yang Allah Kehendaki ini. Semoga kalian jodoh, semoga kamu lekas sembuh. Begitu terus saya berdoa untuk Luna.

Di awal pernikahannya, Luna masih tetap menjalankan pengobatan. Bahkan, pernah beberapa kali Luna masuk ruang ICU lagi. Kekhawatiran lagi-lagi menyeliputi saya, semoga Luna diberi kekuatan atas penyakitnya.

Selepas pernikahannya, saya sudah agak jarang berkomunikasi dengannya. Luna hanya sesekali mengirim sms kepada saya. Luna biasanya sms saya untuk menanyakan cara memasak sesuatu; opor, sayur lodeh, capcay, sambal balado, dan lain-lain. Maklum, Luna sangat kekanak-kanakan, fisiknya yang lemah membuatnya jarang beraktivitas, termasuk di memasak. Tapi, sms-sms Luna yang kerap menanyakan cara memasak menjadi bukti bagi saya, bahwa Luna berusaha menjadi istri yang baik bagi suaminya :’)

Beberapa pekan sebelum Ramadhan, saat sudah sangat jarang memberi kabar kepada saya, Luna mengirim sms kepada saya. “Kakak, Dede hamil. Benar kata Kakak, dokter bukan segalanya. Ini bukti Kuasa Allah, Kak.”

Saya merinding membaca smsnya. Saya langsung menangis, tak kuasa menahan bahagia dan haru  yang membuncah. Allah Maha Kuasa, Dia bisa dengan mudahnya mengubah api menjadi embun, Dia bisa dengan mudahnya menjawab keraguan dengan kenyataan yang indah. Luna yang sudah divonis tidak akan bisa hamil, kini sedang mengandung. Semalaman sejak menerima sms dari Luna, saya terus menangis, mensyukuri kabar bahagia ini dan mengagumi Kuasa Allah yang Mahadahsyat. Allah Karim punya janji yang tak terbantahkan.

Beberapa hari yang lalu Luna mengirim sms kepada saya. Usia kandungannya sudah lima bulan dan dia sedang mengidam manisan buah. Ah, sayangnya saya tidak tahu di mana manisan buah dijual. :(

Kisah cinta yang dimiliki Luna sangat sederhana, tapi nilai-nilai pelajaran di dalam sangat berharga bagi saya. Terima kasih Rembulan cantik yang telah mengajarkan Kakak arti perjuangan dan keteguhan. Terima kasih atas kisah cinta sederhana yang mau kamu bagi kepada Kakak. Terima kasih atas makna cinta yang baru, yang membuat Kakak semakin meyakini janji Allah yang tak tergantikan.

Beginilah jadinya jika seorang wanita mau menjaga dan menghargai dirinya, seperti Luna yang mau menjaga dirinya dari kata-kata  romantis ‘sayang’ yang datang dari orang yang belum menjadi suaminya, maka Allah akan menjaganya dan menghargainya dengan cara yang lebih romantis. Allah kirimkan lelaki berhati cahaya kepadanya, yang mau menjaga dan menghargainya sebelum ijab kabul disahkan. Allah gantikan ketabahannya dengan janji yang tak terbantahkan. Dokter memang mengatakan Luna tak bisa hamil, tapi Allah Pemilik segala ilmu berkata lain, Luna yang mengidap kanker rahim bisa mengandung dan memberikan keturunan kepada sang lelaki cahaya.

Semoga Allah senantiasa memberkahi dan meridhoi rumah tanggamu, Rembulan. Semoga kamu terus purnama. Rembulan, setiap mengingatmu, airmata ini selalu tumpah. Sekali lagi, saya cemburu padamu.

Kalian tahu, sampai sekarang saya belum pernah bertemu dengan Luna. Tapi dahsyatnya sebuah ukhuwah dari Allah, meski kami tak pernah berjumpa, saya tetap menyayangi, mengaguminya, dan selalu cemburu padanya :')
23 November 2012
Posted by Lisfatul Fatinah
Tag :

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -