Showing posts with label Ibu Lisfah dan Murid Istimewa. Show all posts

Untuk Apa Kita Mengucapkan Happy International Disabilities Day, Miss?




Bismillahirrahmanirrahim


“Never assume person who has difficulty communicating
has nothing to say”
(Stacy Sekinger)

Kalimat di atas benar adanya saya alami selama saya membersamai murid-murid istimewa saya yang mengalami autisme, di mana salah satu masalah mereka adalah komunikasi. Terlebih lagi selama saya bersama murid-murid besar saya yang banyak di antara mereka kritis dan suka menyampaikan pendapat mereka dengan bahasa dan gaya komunikasi mereka. Salah satunya terjadi Senin lalu (4/12) saat saya bersama murid-murid besar saya membuat kartu ucapan “Happy International Day of Persons with Disabilities”.

Sebelum aktivitas membuat kartu ucapan dimulai, sempat terjadi sedikit diskusi yang agak menegangkan dan menyenangkan dengan murid-murid besar ini. Diskusi pertama adalah ketika saya menuliskan “Happy International Day of Persons with Disabilities” salah satu murid besar saya berpendapat apa yang saya tuliskan di papan tulis adalah salah.

“Salah itu, Miss! Itu bukan persons. Itu people,” katanya sambil hendak maju dan sudah hendak mengambil penghapus papan tulis.

“Tidak, itu tidak salah. Kan ada penambahan ‘s' di sana, jadinya persons dan itu plural. Kalau person, tanpa ‘s’ itu jadi singular,” saya menjawab sambil melingkari huruf ‘s’ pada kata ‘persons’.

“Itu salah! Kenapa pakai persons? Seharusnya people itu! Bukan! Bukan persons!” murid besar saya mulai meninggikan suaranya, sedangkan yang lainnya mulai mendiskusikan apa yang diperdebatkan temannya dengan saya.

Saya memintanya untuk duduk.

Brak! 

Murid besar saya memukul meja.

Suaranya meninggi. Saya menolak menjawab dan menanggapi selama dirinya masih emosi dan meninggikan suara. Hingga dia menenangkan diri dan akhirnya kami membuat kesepakatan untuk sama-sama membuka artikel di internet perihal penggunaan "persons" atau "people". 

Syukurnya, ada salah satu murid besar lain yang menemukan artikel dari PBB dan menceritakan bahwa nama resminya adalah International Day of Person with Disabilities dan dapat disingkat menjadi International Disabilities Day.  Di sinilah perdebatan kami berakhir dengan damai dan ilmu yang bertambah. Alhamdulillah :)

Tetapi ternyata diskusi kelas pagi itu tidak cukup sampai di situ. Dari bagian pojok yang lain, seorang murid besar mengkritisi hal lain yang membuat saya menuliskan cerita ini.

“Hm, ironi!" katanya dengan intonasi suara yang sangat khas, "Untuk apa kita mengucapkan Happy International Day of Persons Disabilities, padahal negara kita sendiri belum ramah disabilitas!”

Murid besar yang berkomentar kali ini memang seorang yang cerdas dan berwawasan luas seputar sejarah dan isu-isu terkini yang terjadi di Indonesia atau mancanegara. Saat mengungkapkan kritiknya di atas, wajahnya tertekuk sambil memoyongkan bibir seperti kebiasaannya setiap kali memberikan argumen.

“Oh ya? Seperti apa contoh ketidakramahan pada disabilitas?” tanya saya.

Dia mengangkat bahu sambil sedikit terkekeh, “Hah! You know it.”

“Yeach, but I just want to listen your opinion or perhaps you have a good idea to help them. Siapa tahu, kan.” kata saya.

“Hmmm,” murid besar ini mengangkat alisnya sambil kembali memonyongkan bibirya. “Transjakarta dan commuter line belum maksimal sih untuk disabilitas. Jalanan di Jakarta juga!”

“So true!” saya membenarkan murid besar saya yang sangat menyukai kereta dan bus ini. 

Lalu dirinya menambahkan banyak hal yang menurutnya salah dan menjadi arti bahwa disabilitas belum diterima masyarakat. Seperti bagaimana dirinya membandingkan jalanan di luar negeri yang ramah disabilitas dan traspostasi yang mudah diakses oleh semua orang. Termasuk tentang bullying dan juga tenaga kerja disabilitas yang sangat dihargai.

Singkat cerita, murid besar yang satu  ini mulai bergabung bersama yang lainnya untuk membuat kartu ucapan. Tapi tidak lama kemudian, dia menghampiri saya yang sedang berdiskusi dengan murid besar lainnya.

“Miss, bagaimana kalau saya membuat ilustrasi tentang trotoar di Jakarta?” dia meminta pendapat saya.

“Nice idea! Apa yang kamu pikirkan tentang trotoar dan disabilitas?” tanya saya untuk memastikan apa yang sedang diimajinasikannnya.

“Yaaa, bagaimana kursi roda bisa lewat jika trotoarnya banyak yang rusak dan banyak yang jualan di atasnya? Di luar negeri, setiap disabilitas diberi pelayanan dengan sangat baik.” jawabnya dengan intonasi suara yang sangat khas.

“You got it! Just make it.”

“Yeach. I’ll make it!” lagi-lagi dia memonyongkan bibirnya sambil mengangkat alis.

Tidak lama kemudian, dia menghampiri saya dengan sebuah sketsa yang sudah dibuatnya. Kemudian dia kembali menanyakan saran saya apa yang sekirakan harus dimuat dalam kartu ucapan yang dibuatnya.

Saya memberikan sedikit masukan tentang fasilitas-fasilitas yang mungkin akan dibutuhkan oleh teman-teman berkebutuhan khusus. Kemudian lagi-lagi dia pergi sebentar dan kembali sambil menunjukkan hasil kerjanya.

Pada bagian dalam kartu ucapan yang dibuatnya, terdapat satu bagian yang saya kurang pahami. Yaitu gambar di bagian pojok kanan atas kartu dengan tulisan “krik, krik, krik”.

“Apa ini?” saya bertanya sambil menunjuk ke gambar yang saya maksud.

“Ini sedikit ide saya, mungkin kita perlu memberi signal pada mereka yang tidak bisa melihat kalau di situ ada escalator. Suara itu signalnya yang menunjukkan di situ ada escalator,” dia mencoba memaparkan maksudnya kepada saya.

Setelah merasa cukup berdiskusi tentang kartu ucapan dan disabilitas, saya meminta beberapa murid besar saya untuk memberikan kartu tersebut kepada orang yang mereka ingin memberikannya. Tapi mereka memutuskan memberikan kepada saya, termasuk murid besar saya yang banyak berdiskusi dengan saya.

Saat membuka kartunya, saya terharu. Apa yang dibuatnya di luar espektasi saya. Lalu berbagai hal berputar di kepala saya.

 Bagian depan kartu ucapan yang dibuat salah satu murid besar saya
Beginilah bagian dalam kartu ucapan "Happy International Disabilities Day" yang kami diskusikan :)

***

Mereka, murid-murid besar saya yang sangat istimewa, mungkin kurang atau tidak memahami kondisi mereka dan mengapa mereka bisa bersama saya di dalam kelas khusus ini. Atau mungkin kita melihat ada keironian saat mereka membuat kartu ucapan “Happy International Day of Persons with Disabilities” dengan penuh semangat sedangkan mereka adalah bagian dari yang istimewa itu. Tetapi jauh di dalam aktivitas dan diskusi yang saya alami, saya kembali menemukan bahwa mereka sama dengan kita yang mengaku “normal”.

Saat mereka saling mendiskusikan hal-hal apa saja yang dapat disampaikan melalui kalimat ataupun gambar terhadap disabilitas, saya melihat semangat dan ketulusan hati yang mereka pancarkan. Sekali lagi, kendati mungkin mereka tidak memahami bahwa mereka adalah bagian dari yang istimewa, tetapi mereka mau bersibuk-sibuk membaca artikel di internet tentang fasilitas untuk disabilitas. Lebih dari itu, dalam diskusi pagi itu mereka juga ikut mengkritisi kondisi di sekeliling mereka saat ini terhadap teman-teman disabilitas.

Apa lagi yang saya dapat di ruang perkulihan dengan murid-murid besar saya ini? Yakni mereka sungguh makhluk-makhluk Tuhan yang murni, yang selalu lurus dengan pendapat-pendapat mereka yang tulus.  Di sinilah mereka mengajarkan bahwa tidak sulit untuk membedakan adanya hal yang salah, kesenjangan antara yang “normal” dan “tidak normal”, ketiadaan akses, dan hal-hal lain yang mencerminkan adanya ketidakberterimaan di lingkungan kita. Tidak butuh IQ superior untuk memahami apakah lingkungan kita sudah cukup adil atau tidak. Karena cukup dengan hati lalu sedikit berpikir, maka kita bisa dapati betapa banyak hal yang tidak seharusnya terjadi.

Well, jauh di dalam diri murid-murid besar ini ada banyak hal yang bisa membuat saya minder atau bahkan saya mereka bahwa sayalah yang berbeda. Mereka melihat dunia dari sisi yang lurus, tanpa keegoisan, tanpa keserakahan, tanpa keakuan, sehingga mudah bagi mereka melihat hal salah atau semestinya tidak terjadi. Berbeda dengan  kita yang merada “normal” yang kemungkinan besar hati dan pikiran kita sudah “kurang normal” bahkan layak dikatakan cacat, sehingga hati, mata, dan pikiran ini sulit melihat sebuah kesalahan sebagai kesalahan dan kebenaran sebagai kebenaran.

Saya berpikir, mungkin cacat hati dan pikiran ini yang membuat kita juga sulit sekali membuka ruang untuk teman-teman berkebutuhan khusus, sehingga kita selalu merasa bahwa menerima, menyesuaikan, menyediakan dan memberikan kesempatan yang sama kepada teman-teman disabilitas adalah hal yang sangat berat bahkan sebelum kita melakukannya. Akan berbeda ketika kita mencoba berpikir dengan lurus, melihat apa adanya bahwa setiap hal kecil bisa dilakukan untuk menyediakan ruang keberterimaan pada teman-teman disabilitas. Ini seperti halnya beberapa murid besar saya, yang sejatinya mereka selalu menjadi guru besar dalam kehidupan saya, yang mengajukan usulannya untuk membantu teman-teman berkebutuhan khusus.

Terima kasih kepada murid-murid besar saya yang telah menjadi salah guru besar dalam kehidupan saya, yang selalu mengajarkan arti kebaikan dan ketulusan kepada saya. Benarlah ternyata, selayaknya tidak perlu menjadi yang kaya untuk bersedekah, kalian mengajarkan saya bahwa tidak perlu menjadi yang sempurna untuk membantu yang tidak sempurna, karena setiap ciptaan Tuhan adalah kaya dan sempurna. Seperti kalian yang selalu sempurna bagi saya, yang sempurna mengajarkan saya banyak hal dan selalu membuat saya bersyukur akan banyak hal yang saya miliki, terutama saat saya memiliki kalian.

Happy international day of persons with disabilities, all! Special thanks for Ben and Red Bear who coloured  our morning activity with your argument, idea, and nice discussion. I’m proud of you, my awesome students! J
                                                                               
“There is no greater disability in society
than an in ability to see a person more.”
(Robert M. Hensel)


@fatinahmunir | 8 Desember 2017
08 December 2017
Posted by Lisfatul Fatinah

Teacher's Diary: Kenapa Orang “Normal” Tidak Bisa Tertib?

Gamabar ini menunjukkan cara penggunaan eskalator yang benar. Sisi kiri untuk pengguna yang ingin tetap berdiri dan sisi kanan dibiarkan kosong untuk pengguna yang ingin menggunakan eskalator sambil berjalan. (Photo credit: Japan Times)

Siang tadi, di sela-sela jam istirahat mengajar, ada percakapan kecil dari salah satu mahasiswa berkebutuhan khusus di tempat saya mengajar. Mahasiswa ini merupakan salah satu mahasiswa dengan autisme high function. Atau dengan bahasa lain, mahasiswa ini sudah memiliki kemandirian yang sangat baik.

“Yaaa, saya lagi kesal aja, Bu. Soalnya orang-orangnya gak tertib. Saya yang ABK (Anak Berkebutuhuan Khusus) aja ngeliatnya malu.” begitu salah satu kalimat ungkapan perasaannya yang saya dengar dan masih terngiang di telinga saya.

Hal ini terjadi sebab saat di perjalanan menuju kampus, Muri, inisialnya, mengalami hal yang membuatnya kurang nyaman di stasiun Tanah Abang. Di stasiun ini, Muri harus transit kereta sebelum sampai di kampus. Menurut ceritanya, kondisi kereta memang penuh dan perilaku orang-orang yang tidak tertib membuat traffic penumpang kereta menjadi semakin kacau.

Belum lagi saat dirinya harus melewati eskalator di jembatan penyeberangan stasiun. Dalam ceritanya, Muri juga menyatakan kekesalannya kepada orang-orang “normal” yang tidak mau berjalan dengan tertib di eskalator, yang mana semestinya sisi kiri eskalator digunakan untuk pengguna yang ingin tetap berdiri dan sisi kanan untuk pengguna yang ingin berjalan. Dampaknya, kekacauan traffic penumpang di stasiun ini membuat Muri terlambat masuk kelas. Padahal pagi itu Muri harus menghadiri perkuliahan di kelas reguler, bergabung dengan mahasiswa reguler di kampus utama di semester ketiganya.

“Saya ngeliatnya mereka gak tertib banget. Kenapa harus desak-desakan, padahal kalau orang-orang yang 'normal' itu tertib kondisinya jadi tidak akan sekacau tadi. Yaa, saya yang ABK aja ngeliatinnya malu, Bu.”

***

Tersentil. Itu yang saya rasakan saat mendengar cerita Muri siang tadi.

Betapa tenyata orang-orang “normal” terkadang dapat terlihat tidak cukup mampu untuk tertib dan mengkondusifkan kondisi. Dan bagi mereka, semua itu sama sekali tidak normal dan tidak seharusnya terjadi.

Mungkin ada benarnya yang disampaikan Muri, jika saja orang-orang “normal” itu mau sedikit tertib dan sedikit mematuhi peraturan –salah satunya dengan menggunakan eskalator sesuai prosedurnya, sebanyak apapun penumpang kereta, niscaya kekacauan traffic penumpang di stasiun bisa lebih mudah dihindari. Bahkan besar kemungkinan ketika orang-orang “normal” ini bersikap “normal”, tertib, dan mematuhi peraturan yang sederhana, mungkin hal besar bisa ikut diperbaiki.

Ini hanya sedikit refleksi yang biasa saya terima dari murid-murid saya. Yang menurut saya, nilai refleksi yang mereka berikan kepada saya melalui kejujuran dan ketulusan mereka, jauh lebih berharga daripada apa yang sudah saya lakukan kepada mereka.

Memang, rigiditas atau kekakuan rutinitas dan pikiran, yang salah satunya adalah strict dan patuh terhadap peraturan adalah salah satu ciri keautistikan. Tetapi jika kita, para orang-orang “normal”, mau menengok sedikit kepada diri kita masing-masing, memang terkadang kita sediri yang sering menyusahkan diri dengan membentrokkan diri pada kenormalan itu sendiri. Sebagai contohnya adalah pengalaman yang didapatkan Muri pagi tadi, ketika dirinya malu melihat orang-orang “normal” yang tidak tertib. 

Meskipun begitu, ada banyak juga individu dengan autisme yang tidak mampu memahami dan mengikuti peraturan, sehingga membutuhkan tindakan khusus seperti terapi perilaku untuk bisa memahami aturan sederhana. So, jika orang-orang "normal" merasa nyaman untuk tidak tertib dan menaati peraturan, mungkinkah orang-orang "normal" tersebut memerlukan tindakan khusus berupa terapi perilaku? :D 

***

“Terus bagaimana kira-kira solusinya, Muri?” tanya salah satu staff yang sejak tadi menyimak cerita yang disampaikan Muri.

“Kayaknya saya akan naik kereta yang jadwalnya lebih pagi untuk menghindari traffic penumpang, Bu. Atau mungkin bisa lewat tangga manual yang lebih lebar daripada eskalator. Yaaa, karena masih lebih wajar melihat orang-orang berdesakan di tangga manual daripada di eskalator,” Muri menjawab dengan gayanya yang kritis.


@fatinahmunir | Jakarta, 28 September 2017
28 September 2017
Posted by Lisfatul Fatinah

Ancaman Pertama


Bismillahirrahmanirrahim …

Ketika cinta berubah menjadi rubah nakal, menjelma dalam wujud menakutkan dan membuat yang menerimanya memaksa memejam atau takut kelimpungan. Ketika itu saya dan kamu yang  awam pada arti  cinta akan tahu bahwa cinta bukan selalu tentang kelembutan dan kelemahan. Ia bisa juga tentang segumpal bara yang jika tak kau genggam erat dengan paksa, terbakarlah kamu sudah.

Bagi sebagian besar orang, ancam mengancam mungkin akan segera ditautkan dengan perihal kriminalitas, anarkisme, ataupun sarkasme. Tapi begitu mengejutkannya ketika pertama kali saya tahu bahwa ancam mengancam sangat mungkin dilakukan dalam dunia pendidikan,  terutama pendidikan khusus.

Pertama kalinya saya “melihat” guru mengancam muridnya adalah ketika saya “melihat” Torey mengancam Sheila yang kerap menyebabkan kawan sekelasnya kecelakaan dan terluka. Lalu ancaman murid kepada guru yang dilakukan Kevin kepada Torey yang dianggapnya sama dengan orang dewasa yang selalu datang kepadanya dan menganggapnya anak gila.

Awalnya saya mengira, ancaman demi ancaman yang ada di antara guru dan murid akan merenggangkan keduanya. Mungkin membuat murid membenci guru. Mungkin membuat guru semakin bertaring di hadapan murid. Tapi dari kedua cerita di atas, ternyata tak segala mungkin benar terjadi. Torey bisa mengubah ancaman itu sebagai cinta dan keseriusannya untuk menjaga dan menyayangi anak-anaknya.

Sempat terbersit dalam pikiran saya, apa yang hendak saya ancam pada murid saya kelak jika saya ada di posisi Torey? Lantas hal apa kira-kira yang membuat saya mengancam murid saya untuk pertama kalinya.

Dan eng ing eng. Pertanyaan ini terjawab sudah tanpa pernah saya percaya waktunya.

Di sekolah tempat saya dulu mengajar, cukup banyak anak keturunan Arab, baik lelaki ataupun perempuan. Di kelas kecil saya yang hanya berisi 15 murid saja terdapat 5 anak keturunan Arab yang dua di antaranya adalah anak perempuan dengan paras yang saya akui mereka cantik.

Belakangan saya tahu bahwa satu dari tiga murid istimewa saya punya ketertarikan pada salah satu anak perempuan keturunan Arab tersebut. Hal ini bermula saat saya baru melangkahkan kaki ke kelas sehabis upacara. Saat itu, hampir seluruh murid dalam kelas mengerubuni saya yang baru menjejaki depan pintu kelas.

“Ibu Listya, Ibu Listya, tadi Iqbal meluk-meluk Mariam terus waktu upacara!”

“Iya, Bu. Iqbal peluk Mariam dari belakang. Pukul pantat Mariam juga.”

“Aku juga tadi dipukul sama Iqbal , Bu Listya.”

Sedikitnya tiga aduan itulah yang saya terima saat saya baru menginjakkan kaki di kelas. Dengan cepat mereka meraih tangan saya, memanggil nama saya –dengan sebutan Listya karena mereka tidak bisa menyebut Lisfa –kemudian meluncurlah aduan atau kadang muncul tangis tiba-tiba untuk “menarik perhatian” saya.

Hal yang saya lakukan jika ini terjadi hanya mendengarkan sambil tetap berjalan dan duduk di bangku saya. Lalu saya akan menghampiri Iqbal dengan masih tetap dikerumuni anak-anak lainnya.

“Iqbal …, apa kabar?” saya membuka basa-basi sambil mengusap kepalanya.

“Omelin aja, Bu Listya. Iqbal biasanya diomelin sama Tetehnya!” ocehan anak-anak lainnya belum juga berhenti.

“Iqbal, tadi waktu upacara apa yang kamu lakukan?”

“Berdiri di belakang Mariam,” jawabnya jujur.

“Iqbal juga peluk-peluk Mariam, Bu Listya. Ibu harus percaya sama kita!” Huhf, anak-anak ini tetap belum mau berhenti mengadu.

“Iya, ibu percaya. Ibu cuma mau tanya sama Iqbal. Kalian diam dulu dan dengarkan ibu bicara sama Iqbal, ya,” saya mencoba membuat mereka diam.

“Iqbal, lihat mata ibu!” perintah yang biasa saya lakukan sebelum saya “bercakap-cakap” dengan murid saya.

“Benar tadi kamu peluk-peluk Mariam waktu upacara?”

“Nggak… Nggak!” jawabnya cepat sambil menggoyangkan tubuhnya yang cukup besar dibandingkan teman sekelasnya.

“Bohong! Bohong! Iqbal, ayo ngaku sama Bu Listya!” suara kelas kembali berisik.

“Iqbal…,” saya menyebut namanya dengan lembut dengan penekanan seakan saya berkata ‘Lihat mata saya dan mengakulah, Nak!’.

“Lupa! Aku lupa, Bu! Lupa!” Iqbal menunjukkan kepanikan. Saya mulai khawatir anak ini anak tantrum.

“Oke! Semua kembali ke tempat duduk masing-masing ya. Biar nanti Ibu Listya bicara berdua dengan Iqbal!” perintah saya pada anak lainnya agar kerumunan ini lekas bubar dan Iqbal tidak semakin panik.

Jam-jam berikutnya kelas berlangsung dengan teramat canggung. Pendekatan yang beragam dan percakapan yang saya hubungkan dengan kejadian di saat upacara hanya berbuah jawaban, “Aku gak sengaja, Bu”. O, ya sudahlah!

Hari-hari berikutnya saya lebih sering bercerita tentang perbedaan perempuan dan laki-laki. Juga tentang apa yang boleh dilakukan laki-laki pada perempuan, atau sebaliknya.

Saya pikir apa yang saya ceritakan kepada anak-anak istimewa ini, terutama Iqbal,  telah mereka pahami dengan baik. Sebab, setiap satu kalimat yang saya tanamkan pada mereka selalu berbalas satu pertanyaan dari mereka. Mengapa, Bu? Kenapa, Bu? Dan banyak lagi hingga mereka mengakhirinya dengan seruan “Oooh”.

Tapi saya dibuat terkejut lagi ketika pada jam istirahat di hari lain. Hari itu saya ikut bermain “Kambing Kurban”  bersama anak-anak di kelas. Kami tertawa bersama dan saling berteriak saat ada yang menjadi kambing ingin dipotong dan pura-pura mengamuk.

Ketika itu kami sedang berlari dalam kelas, tetiba suara nyaring menghentikan tawa kami. Salah seorang anak menjerit ketakutan! Buruknya, saya tidak tahu siapa yang menjerit.

Mata saya langsung menelusuri mereka satu satu. Hingga pandangan saya terpaku pada wajah Mariam yang menatap saya dengan mata basah. Beberapa meter di dekatnya Iqbal sedang bersandar di tembok kelas. Nyaris ke pojok antara tembok dan lemari kelas. Matanya menatap saya sekilas, lalu tertunduk dan ia mulai memainkan kedua tangannya.


“Kamu kenapa, Mariam?” saya bertanya sambil berlutut dan mengusap air matanya. Anak-anak lainnya mengerubuni kami dan yang lain terdiam di bangku masing-masing sambil melihat kami dari kejauhan.

“Iqbal mukul aku, Bu Listya,” jawabnya masih sambil menitikkan air mata.

Saya menatap Iqbal beberapa jenak lalu kembali bertanya pada Mariam, “Yang mana yang dipukul?”

Mariam menunjuk ke arah bokongnya. Lalu menunduk.

“Sudah. Sudah. Sekarang kamu kembali ke tempat duduk ya. Ibu mau bicara dulu sama Iqbal,” Mariam mengangguk dan kembali ke bangkunya sambil dibuntuti teman-teman sekelasnya yang berbisik-bisik tentang kejadian yang baru saja terjadi.

“Apa yang kamu lakukan ke Mariam?” saya bertanya pada Iqbal sambil mengusap lengannya.

“Nggak. Nggak. Aku gak pegang-pegang Mariam!” Iqbal mulai panik dan hendak lari. Saya meraih tangannya dan memegangnya dengan cukup erat.

“Ayo, Iqbal harus jujur jika bicara.”

“Tidak boleh bohong! Gak sengaja, Bu!” jawabnya sambil menunduk.

“Oke. Gak apa-apa kalau kamu gak sengaja,” saya tetap memegang lengannya erat-erat. “Kamu lihat mata ibu! Kamu tahu kan ...,” Iqbal hendak melarikan diri. Saya semakin erat memegang tangannya.

“Kamu tahu kan laki-laki itu tidak boleh sembarangan me …,”

“Memegang, memeluk perempuan!” Iqbal meneruskan kalimat saya.

“Nah, kamu sudah tahu kan? Terus, kenapa kamu tadi memukul pantat Mariam?”

“Gak sengaja! Aku gak sengaja!”

“Oke! Mulai sekarang, kamu gak boleh pegang atau pukul dengan gak sengaja. Oke?”

“Oke, Bu. Aku gak pukul dan pegang Mariam. Nayla juga, Dinda, Zahra, sama Ririn,” dia menyebutkan semua teman perempuan di kelasnya.

“Oke. Kita bikin janji ya,” kata saya dengan penekanan suara dan lebih berkata ‘atau kamu mau saya ancam!’.

“Iya!”

“Gimana kalau kamu pukul  atau pegang teman-teman perempuan sembarang kamu bakalan pulang jam 12 siang!” saya mulai menawarkan ancaman dalam sebuah perjanjian.

“Iya,”

“Apa yang iya?”

“Kalau pegang atau pukul teman-teman perempuan sembarangan, aku pulang jam 12 siang!”

“Janji? Kamu mau pulang jam 12?”

“Janji. Nggak mau pulang jam 12, Bu!”

“Kalau gak mau pulang jam 12, apa yang harus kamu lakukan?” saya menegaskan lagi ancaman ini.

“Aku gak pegang atau pukul anak perempuan sembarangan!” jawab Iqbal yang sekarang sudah tidak berusaha lari lagi.

Hari itu lagi-lagi Iqbal melanjutkan aktivitas di sekolah dengan sikap tubuh yang canggung. Mungkin karena takut salah. Atau dia takut pada saya? Entahlah.

Sejauh ini saya marasakan ancaman pertama yang saya  lakukan cukup efektif. Setiap jam istirahat tiba dan kami bermain bersama anak-anak lainnya di kelas, Iqbal tetap menunjukkan sikap keinginannya untuk menyentuk Mariam. Tapi gerakannya masih bisa dikontrolnya dengan cara dia menghentikan gerakan tangannya di jarak 10 cm dari tubuh Mariam.

Jujur, saya sangat menghargai caranya berusaha mematuhi ancaman saya. Maka setiap kali saya melihatnya menjaga gerakan tangannya, saya akan tersenyum dan mengelus kepalanya.

Kadang memang dilematis ketika saya memiliki prinsip “saya tidak akan pernah memaksa karena saya tidak suka dipaksa”. Kemudian realitasnya saya harus berhadapan dengan anak-anak yang harus dipaksa melakukan perilaku-perilaku yang dianggap baik oleh sekitarnya.  Beberapa jenak saya berpikir mungkin saya terlalu keras kepada anak-anak dengan membuat ancaman seperti ini. Tapi lain ceritanya ketika saya berbagi cerita dengan orang tua murid. Ternyata mereka berkata, “Ibu lembut banget itu mah. Dia harus sering-sering diancam kalau begitu!”

Duh. Gubrak! Saya langsung jatuh sejatuh jatuhnya ketika orang tua mereka berkata demikian. “Saya tidak bisa! Saya tidak bisa!” selalu itu yang saya katakana pada diri sendiri.

Bagi saya, ancaman bukanlah satu-satunya cara untuk membuat anak patuh pada guru atau orang tua. Toh, saya hanya ingin berlakukan sesuai dengan apa yang sudah saya terima di bangku kuliah. Bahwa ancaman guru pada anak harus realistis dan bersifat mendidik.

Tapi sejauh ini, dengan segenap sisa kejujuran yang saya punya, ancaman pertama ini saya lakukan karena saya menyayangi Iqbal dan anak-anak lainnya di kelas. Saya ingin anak-anak istimewa saya juga mengerti batasan perempuan dan laki-laki. Saya ingin mereka juga bisa bersikap sopan seperti anak pada umumnya.

Saya ingin mengajarkan pada mereka bahwa “kegalakan” dan ancaman-ancaman yang saya buat tidak untuk mengganggu emosi mereka. Apalagi sampai mereka merasa tertekan. Saya niatkan ancaman pertama, kedua, dan selanjutnya yang saya berikan kepada murid-murid saya sebagai tempat memperkenalkan cinta saya pada mereka. Sebagai tempat mengenalkan kehidupan sebenarnya pada mereka.

Bukan dari apa yang saya katakan mereka bisa memahami cinta yang saya punya. Melainkan dari sikap dan perilaku saya setelah ancaman-ancaman itu datang, saat mereka berusaha mematuhi ancaman dan menjauhi hukuman, dan saat mereka benar-benar menyadari kesalahan, di saat itulah saya berdoa semoga mereka benar-benar memahami arti cinta dan kasih yang sesungguhnya dari sesosok guru yang selalu ingin belajar dari mereka.[]

-----------------------------
-----------------------------

NB:

Tantrum adalah kondisi anak mengamuk karena tidak mampu menyampaikan apa yang diinginkannya atau ketika anak tidak menyukai suatu kondisi.

Nama anak-anak dalam tulisan bukan nama sebenarnya, tetapi karakter mereka nyata.
09 May 2017
Posted by Fatinah Munir

Melly; Kurungan Harapan (2)




Tiga tahun lalu saat saya masih kuliah, seorang ibu datang ke rumah saya. Beliau bertamu ketika saya sedang membuang sampah selapas menyapu teras rumah di sore hari.

“Kak Lis,” panggilnya dari balik pagar rumah saya.

Saat saya menoleh, dia mendekati saya. Beliau tersenyum meski raut wajahnya tidak bisa menutupi kelelahannya.

Namanya Bu Tuti, anak seorang lelaki paruh baya yang saya kenal baik sebagai guru mengaji di perkampungan tempat tinggal kami.

“Kak Lis katanya ngajar di SLB ya?” tanyanya langsung.

“Saya masih kuliah, Bu. Sambil ngajar juga. Tapi bukan di SLB,” jelas saya.

“Tapi ngajarin anak-anak yang kayak begitu kan?” tanyanya lagi.

Saya mengerutkan kening. Sebenarnya kata “begitu” ketika membicarakan profesi saya adalah salah satu kata yang membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Kata itu membuat seolah-olah anak-anak berkebutuhan khusus tidak memiliki kriteria lain selain keabstrakan yang tidak terdefinisi di masyarakat. Di sisi lain, kurangnya informasi kepada masyarakat tentang keberadaan anak-anak berkebutuhan khusus ini menjadi salah satu sebab munculnya kata “begitu”.

“Iya kan, Kak Lis?” tanyanya lagi dengan suara yang lebih menarik keprihatinan saya.

“Iya, saya ngajar anak-anak yang autis. Tapi di sekolah inklusi, Bu. Sekolah umum yang nerima anak-anak autis,” saya mencoba menjelaskan.

“Ini…,” suaranya menggantung antara keraguan dan harapan. “Ada anak di TPA saya yang diam terus. Gak mau berbaur dengan anak-anak lain. Kemampuannya juga di bawah yang lain.”

“Oh, terus gimana, Bu?” tanya saya.

“Kak Lis bisa liatin anak itu dulu? Kali aja Kak Lis bisa nanganin anak itu,” beliau memegang tangan saya. Sebuah kontak fisik antara guru dan wali murid ini kurang saya sukai. Bukan karena alasan agama melainkan saya akan sulit menolak karena ketika tangan saya disentuh, maka dengan sendirinya saya menjadi luluh untuk melakukan sesuatu untuk anak mereka.

Saya mengiyakan permintaannya. Membuat janji pertemuan yang ternyata tidak pernah dapat saya tepati karena tugas-tugas di kampus yang saat itu cukup menyita waktu.

***

Itu adalah pertemuan pertama saya dengan orang tua Melly yang kemudian saya tahu dari Emak bahwa yang dimaksud dengan murid TPA-nya adalah Melly. Entah kenapa Bu Tuti menyebut anaknya sebagai muridnya. Tapi saya yakin, beliau memiliki alasan untuk hal itu dan saat ini saya tidak terlalu mempedulikan alasan itu.

Kini saatnya saya focus kepada Melly, membayar hutang pertemuan itu.

***

Pertemuan kedua. Melly diantar ibunya hingga teras rumah. Tubuhnya menggelantung di tangan ibunya, tidak mau masuk. Melly merajuk tanpa suara, kakinya yang memaku di teraslah yang menyuarakan keengganannya masuk bersama saya. Maka dengan terpaksa saya melepas tangannya dari tangan ibunya dan menuntunnya ke dalam rumah.

Tangan Melly dingin. Mungkin sepertinya selalu dingin, karena di pertemuan pertama pun tangannya dingin. Secara fisik Melly sama seperti anak kelas tiga sekolah dasar pada umumnya, malah tubuhnya cenderung tinggi. Tubuhnya sudah mencapai telinga saya yang memiliki tinggi seratus lima puluh sentimeter saja. Badannya kurus dengan kulit kuning langsat, bersih. Mata sipit dan postur tubuhnya yang sering membungkuk adalah beberapa hal yang membuatnya agak berbada dengan anak-anak lainnya di sekitar rumah.

***

Saya mengajak Melly duduk bersama saya. Kami dipisahkan sebuah meja lipat bergambar tokoh kartun Spongebob Square Pants. Saya kembali mengambil kardus berisi buku-buku dan memintanya mengambil buku baru untuk dibaca bersama –yang kenyataannya hanya saya yang membaca.
Melly tidak merespon. Dia hanya menunduk. Rambutnya yang tak cukup panjang agak menjuntai, membantunya menutup diri dari pandangan saya.

“Hari ini kita mau mambaca buku ya mana nih?” saya bertanya.

Tetap tidak ada respon. Saya memutuskan untuk mengambil sebuah buku tipis dari Serial Profesi yang berjudul “Pengusaha Boneka”.

“Aku bacakan yang ini ya. Kamu mau?”

Melly tetap diam. Tidak ada suara. Tidak ada isyarat ataupun gesture tubuh yang menjawab pertanyaan saya.

“Kamu suka boneka? Aku suka boneka. Waktu aku esde, aku punya banyak boneka. Aku juga suka bikin baju boneka sendiri. Buku yang mau kita baca ini tentang boneka loh. Sebenarnya ini tentang pengusaha boneka. Orang yang punya banyak banget boneka. Mau tahu gak kenapa orang ini punya banyak banget boneka? Aku mulai baca ya. Melly dengarkan ya, nanti kita gentian bacanya!”

Kurang lebih seperti itulah saya berbicara sendiri agar tidak ada kesunyian di antara kami. Harapan saya, Melly serupa dengan anak-anak lainnya yang tidak mau berbicara di tempat belajar dan kemudian “terpancing” untuk berbicara setelah saya menjadi cerewet, banyak bercerita.

Sayangnya, usaha saya belum menunjukkan hasilnya. Melly tetap diam. Bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Selama pertemuan ini, Melly hanya memainkan tangannya. Memasukkan seluruh jarinya ke mulut, mengayunkan badannya ke depan dan belakang, atau memonyongkan mulutnya.

Mungkin saya kurang menarik baginya, atau memang pendekatan saya yang salah? Saya mencoba menerka-nerka. Dan saya tidak bisa menemukan jawabannya.

Pertemuan-pertemuan selanjutnya saya variasikan dengan bermain, menonton video, dan bernyanyi. Meskipun tidak membuahkan hasil, saya terus mencoba. Bahkan saya mulai bercakap-cakap dengannya –meskipun itu hanya seperti berbicara sendiri. Saya bertanya  apapun tentang dirinya meskipun saya sudah tahu jawabannya dan saya menjawab pertanyaan saya sendiri. Saya berbicara apa saja yang memiliki hubungan antara saya dan dirinya.

“Waktu aku sekolah esde, aku gak bisa nulis huruf “a” loh, Mell. Aku coba nulis huruf “a” botak tapi jadinya aneh banget. Gak mirip huruf “a”. Sediiih banget. Padahal kalau disuruh nulis, pasti banyak banget kan huruf “a”-nya. Aku belajar nulis huruf “a” sampe satu buku tulis ini nih, Mell. Pernah juga kertasnya sampai bolong gara-gara aku selalu ngehapus huruf “a” yang salah. Tapi sekarang aku udah bisa nulis huruf “a”. Soalnya aku coba terus, Mell.”

Melly tetap diam hingga satu setengah jam yang berlalu terasa sangat melelahkan dan membuat saya tampak terlalu bodoh sebagai seorang guru.


(bersambung)
02 September 2016
Posted by Lisfatul Fatinah

Melly; Kurungan Harapan



Nyaris satu setengah tahun saya menjadi guru biasa, mengajar anak-anak, remaja, dan dewasa yang tidak luar biasa. Itu artinya selama itu pula saya vacuum menjadi guru pendidikan khusus, mengajar anak-anak dengan autism ataupun kesulitan belajar. Selama itu tidak berhubungan dengan anak-anak dengan difable cukup membuat saya agak kikuk saat diminta mengatasi kasus baru dari seorang anak.

***

Hari itu saya sedang terburu-buru keluar rumah, melewati jalan yang tidak biasa saya lewati karena jalan yang biasa saya lewati ditutup. Di tengah ketergesahan saya, sebuah suara memanggil-manggil dari belakang.

“Kak Lis, bisa bantu saya?” katanya dari balik pagar rumah.

“Iya, kenapa, Bu?” tanya saya.

“Tolong bantu anak saya. Bisa ajarin dia, Kak?” suaranya penuh harap.

Saya tidak mengiyakan ataupun menolak permintaan beliau, karena saat itu saya memang sedang mengurus anak-anak jalanan di tempat lain dan hanya ingin focus di sana. Saya hanya khawatir akan memberi harapan palsu jika saya mengiyakan, tapi ternyata sebenarnya saya tidak sanggup. Maka pembicaraan kami kala itu ditutup tanpa kesimpulan.

***

“Tadi ada yang nyariin kamu,” kata Emak saat saya baru saja tiba di rumah.

“Siapa? Ada perlu apa?” tanya saya.

“Itu…. ibu belakang rumah. Dia ke sini minta tolong anaknya diajarin sama Lis. Kasihan ih,” jawab Emak dengan penuh dramatisasi.

Saya tidak banyak menyahut . Saya hanya bilang kalau tubuh saya sudah cukup lelah dengan aktivitas di luar rumah dan tidak ingin menambah aktivitas lain. Tapi semalaman Emak terus mendesak saya untuk bersedia mengajarkan anak tetangga belakang rumah yang tempo hari memanggil saya yang sedang lewat di depan rumahnya.

“Anaknya memang beda kayaknya, Lis. Udah kelas tiga tapi gak bisa baca. Nilainya banyak yang nol. Kalau belajar, bukunya pasti diberantakin. Teriak-teriak. Kalau dibilangin sama ibunya, dia malah mukul-mukul ibunya. Buku-bukunya juga dibuangin,” Emak terus mengulang cerita itu.”Ajarin dia aja ya. Hitung-hitung membantu gitu.”

Emak tahu kalau saya sudah menolak lebih dari sepuluh anak tetangga yang minta diajari karena saya ingin focus mengurus anak-anak jalanan. Namun sepertinya kali ini saya tidak bisa menolak. Saya kalah dengan janji saya. Meskipun saya senang mengajar tapi saya berjanji pada diri sendiri untuk memprioritaskan mengajar anak-anak dengan difable daripada mengajar anak-anak pada umumnya. Saya pun menerima permintaan tolong itu.

***

Senin pukul empat sore adalah waktu saya dan anak ini membuat janji. Saya tidak tahu anak ini. Yang saya tahu anak ini sedang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Selebihnya adalah informasi objective dari Emak dan ibu anak ini yang kurang dapat saya percayai sebelum saya melihatnya sendiri.

Ya, karena kebanyakan orang tua memberikan informasi yang bersifat harapan atau ilusi. Misalnya adalah orang tua merasa mendengarkan anaknya mampu mengucapkan kalimat utuh, padahal yang diucapkan anak adalah gumaman panjang dan orang tua hanya menerjemahkan sesuai apa yang diharapkannya. Demikian juga dengan anak ini. Ibunya bilang kalau anak ini memiliki kemampuan membaca dan menulis yang baik, tetapi nilai semua matapelajarannya selalu di bawah empat dan anak ini sering diam bahkan tidak berbicara.

Di pertemuan pertama, saya mengeluarkan satu kardus buku bacaan anak yang sejak pertama kali turun mengajar saya gunakan sebagai bahan ajar tambahan atau untuk sekadar menarik perhatian anak. Proses perkenalan dengan anak ini tidak bisa dibilang lancar, karena dia bahkan tidak mau (–entah– tidak  bisa) menyebut namanya.

MELLY. Begitulah ibuya memperkenalkan kami. “Lis” adalah nama yang saya sebut saat berkenalan dengannya. Selebihnya saya bebaskan dia memanggil saya “Bu Lis” ataupun “Kak Lis”. 

Melly memasuki rumah saya sambil terus memegangi tangan ibunya. Ibu Melly membujuk  agar Melly tetap di dalam ruangan bersama saya. Sedangkan ibu Melly menunggu di teras rumah, sesekali mengintip ke dalam ruangan.

Saya kembali memperkenalkan diri saya saat kami hanya berdua. Saya menjabat tangannya yang kecil dan dingin. “Kamu boleh panggil aku Kak Lis atau Bu Lis ya, Mell,” kata saya.

Melly hanya diam. Menunduk. Lebih tepatnya membungkuk dalam duduknya hingga saya hanya bisa melihat rambutnya yang jatuh terurai menutupi wajahnya. Saya memiringkan badan, mengintip apa yang sedang dia lakukan di balik rambutnya itu. Saya melihat Melly memainkan tangannya. Sesekali dia memasukkan jemarinya ke dalam mulut.

“Kamu suka membaca buku? Aku punya banyak buku di sini. Kamu boleh pilih satu buku yang kamu mau,” kata saya setelah beberapa menit berbicara apa saja demi menarik perhatiannya.
Melly tetap diam. Kali ini punggungnya sedikit terangkat, sehingga saya bisa sedikit melihat wajahnya yang kuning langsat. Saya berpura-pura tidak memperhatikannya. Saya terus berbicara sendiri untuk menghindari kesunyian sambil memilih satu buku yang akan saya bacakan untuknya. Sebuah buku berjudul “Domba; Pabrik  Penghasil Wol” menjadi pilihan pertama saya.

Saya menanyakan Melly tentang buku yang akan saya bacakan untuknya. Saya ingin tahu ketertarikannya pada buku yang saya pilih. Maka saya tunjukkan sampul muka buku yang bergambar domba dan anak-anak kecil. Tapi Melly tetap diam. Dia tidak berekspresi atau memberi isyarat apapun yang membuat saya mengerti apakah dia suka atau tidak menyukai buku yang saya pilih.

Saya membaca dengan suara seolah-olah saya sedang di depan anak yang sangat antusias mendengarkan saya. Saya tetap berpura-pura mengabaikan sikap Melly yang diam. Sesekali saya meliriknya. Wajahnya kini terangkat. Melly mengeluarkan jari-jarinya dari dalam mulut. Menurunkannya dan menyembunyikannya di bawah meja. Kini dia melihat ke arah buku dan sesekali saya dapat merasakan dia melihat ke arah saya. Gottcha! Melly mulai tertarik atas apa yang saya lakukan.

Satu jam berlalu sangat lambat dengan proses komunikasi yang hanya satu arah ini. Saya memutuskan bertanya tentang cerita yang telah saya bacakan kepadanya. Tapi Melly hanya diam. Dia tidak merespon sedikit pun. Jari-jari tangannya kembali memenuhi mulutnya. Saya terus berbicara namun tidak tampak gelagat Melly akan menanggapi saya.

Jari-jari tangannya memenuhi mulutnya saat ini saya mencoba menarik tangannya, mengisyaratkan agar dia mengeluarkan jari-jarinya dari mulut. Melly menurut, meski tidak ada satu katapun yang dikeluarkannya. Tidak pula ada suara.

Waktu kami tinggal lima belas menit lagi. Saya masih terus berbicara sendiri dengan Melly, dengan buku. Saya kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan cerita yang baru saja saya baca.

“Benang wol bisa dibuat apa aja yaaa? Ini apa nih yang dari wol?” seru saya antusias sambil menunjuk gambar topi merah jambu yang terbuat dari wol.

Tiba-tiba, “Topi.” Ada suara yang kecil dan nyaris tidak terdengar dari mulut Melly.

Saya berteriak girang, “Tooopiiiii! Hebat! Tos dulu ah!”

Tapi Melly kembali tidak merespon. Nyaris satu setengah jam di pertemuan pertama ini, Melly akhirnya mengeluarkan suara pertama dan terakhirnya hingga beberapa hari ke depan.

(bersambung)


31 August 2016
Posted by Fatinah Munir

Tanyakan Aku di Surga Ya, Kak!

Ilustrated by Ahdoy


Beberapa hari lalu saya mengajak anak asuh saya di KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Marjinal) untuk mengikuti agenda pekanan; berkunjung ke rumah guru mengaji di daerah Jakarta Selatan. Saya sengaja mengajak anak-anak ke sana untuk mengenalkan mereka kepada teman-teman saya sekaligus supaya anak-anak tahu apa yang saya lakukan jika tidak bersama mereka.

Di tempat guru ngaji saya, sudah pasti kami mengaji. Materi kami saat itu adalah tentang sedekah, silaturahim, dan saling mencari di surga. Saya pikir anak-anak saya akan bosan di tempat mengaji. Jadi sebelum kami tiba di tempat guru mengaji, saya berpesan kepada anak-anak untuk tidak protes selama di sana dan baru boleh protes kalau sudah pulang dari pengajian.

Saya tidak pernah memiliki espektasi apapun agar anak-anak menyukai ajakan saya untuk bergabung di sini. Yang ada di kepala saya adalah mereka akan mengeluh capek, karena rumah saya cukup jauh dari rumah guru ngaji dan butuh 15 menit jalan kaki untuk menuju angkutan umum dari depan rumah. Selain itu saya sempat berpikir kalau anak-anak akan mengeluh bosan. Tapi ternyata tidak.

“Seru juga ya tadi, Kak!” itulah kalimat yang pertama kali dikeluarkan anak-anak di tengah perjalanan pulang.

“Kalau rambut dibelah tujuh kan jadinya tipis banget ya. Gimana kita ngelewatinnya?” celetuk satu anak sambil mengeluarkan sehelai rambutnya dari dalam jilbab.

“Kalau sedekah bikin kita kaya, berarti makin banyak sedekah kita bisa makin kaya dong yaa, Kak, nanti?”

“Bener juga yaa, Kak. Kalau kita udah di surga nanti mah iiiih apa sih dunia!” kata salah satu anak sambil mengibaskan tangannya, memperagakan apa yang dilakukan teman-teman saya di pengajian.

Sampai-sampai di pertengahan jalan saat ada seorang pengemis, anak-anak hampir selalu bilang, “Ada pengemis. Kasih aaaah!” seolah-olah memberi ke pengemis adalah aktivitas yang ringan dan menyenangkan. Anak-anak juga berebut untuk memberikan sedekah dengan uang mereka yang sebenarnya juga tidak banyak.

Kadang saya iseng untuk bertanya kepada mereka, “Kenapa sih kamu mau ngasih duit kamu ke pengemis  itu? Kan kamu juga gak ada duit.”

“Habisnya kasihan, Kak. Udah tua gitu,” jawab mereka, padahal (salah seorang teman bahkan berkata) sejatinya kondisi mereka juga patut dikasihani.

Iya, anak-anak asuh saya dan teman-teman di KOPAJA bukanlah anak-anak yang mampu secara finansial, mereka adalah anak-anak pemulung, tukang angkut sampah, pengamen, dan buruh kerok botol bekas. Status mereka di Jakarta adalah sebagai penduduk gelap. Tidak ada KTP apalagi bantuan sosial dari pemerintah seperti BPJS ataupun KJP. Tapi mereka tidak  berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Mereka sama-sama memiliki kemampuan untuk mencapai cita-cita merek dengan tekad dan keyakinan mereka.

Pembahasan tentang materi di pengajian tidak hilang sampai perjalanan pulang, bahkan di rumah pun kami masih terus berbincang tentang itu. Anak-anak terus melempar candaan sambil  berdiskusi tentang apa yang mereka dengarkan selama di pengajian. Kemudian salah seorang anak berkata, “Kakak… kalau kakak masuk surga duluan jangan lupa tanyain aku ya. Hehehe” dia tertawa.

Saya pun menimpali ucapannya, “Kalau kamu duluan yang masuk surga, jangan lupa cari kakak juga yaa!,”

“Iya, Kak. Aku bakal cari kakak,” katanya.

Lalu diam-diam ada yang meleleh di dalam dada saya.
30 August 2016
Posted by Fatinah Munir

Doa di Sujud Terakhir 2; Percaya dan Sabar



Kami masih membahas tentang mimpi-mimpi besar. Bukan hanya mimpinya untuk mendapatkan beasiswa hingga kuliah dan menjadi seorang pramugari, melainkan juga mimpi saya yang turut saya bagikan kepadanya.

“Kak Lisfah udah lama gak lapak. Katanya kakak sekolah lagi ya?” tanyanya.

Saya memang sudah setahun lebih tinggal di tempat yang jauh, di kota kecil tempat orang-orang bermimpi besar singgah untuk sementara dan mereka tidak akan meninggalkan kota kecil itu kecuali untuk beranjak ke anak tangga yang lebih tinggi untuk mencapai impian mereka. Selama hampir satu setengah tahun saya belajar, bukan melanjutkan S2 melainkan untuk mempersiapkan keberangkatan kuliah S2. Saya juga bercerita kepadanya serta kedua orang tuanya bahwa impian saya untuk melanjutkan kuliah S2 tahun ini harus saya tunda hingga waktu yang tidak dapat saya perkirakan.

“Kenapa, Kak?” tanya mereka.

Saya akan melanjutkan kuliah jika saya sudah yakin bisa meninggalkan mereka, ketika mereka sudah benar-benar terselamatkan dari jalanan. Saya akan melanjutkan kuliah saat mereka sudah benar-benar terselamatkan dengan Islam mereka, setidaknya saat mereka sudah memiliki sifat muroqobatullah (selalu merasa diawasi Allah) dan mereka sudah terbiasa shalat tanpa diingatkan terlebih dahulu.

“Saya mau ambil beasiswa buat lanjutin kuliah di Inggris, Bu. Makanya berat untuk ninggalin jauh anak-anak,” saya mengakhiri cerita saya kepada ibunya.

Saya melihat berpasang-pasang mata satu keluarga di depan saya berbinar mendengar cerita saya. Lalu lagi-lagi dia berceletuk, celetukan yang saya tahu datang dari sudut hatinya.

“Beasiswa, Ma. Mau kayak, Kak Lisfah,” katanya.

Itu adalah bagian percakapan personal yang sering saya lakukan dengan warga Lapak Pemulung. Saya senang bisa berbicara dari hati ke hati dengan mereka, bercerita tentang masalah mereka. Jika memang saya tidak bisa membantu mereka secara langsung, setidaknya kami bisa berbagi suka, duka, semangat, dan doa.

***

“Kak Lisfah pernah jalan-jalan ke mana aja?” tanyanya saat kami sedang di dalam angkot selepas berkumpul dengan teman-teman saya.

“Kakak belum pernah ke Papua dan Nusa Tenggara. Alhamdulillah semua pulau besar di Indonesia sudah pernah kakak kunjungi. Tapi kakak dibayarin. Kak Lisfah mah gak punya duit buat jalan-jalan,” saya tertawa diikuti oleh renyah tawanya.

“Naik pesawat dong, Kak?” tanyanya dengan mata membesar.

“Iya dong. Kan jauh-jauh,” jawab saya masih dengan tertawa kecil. Tapi saat itu saya lihat air wajahnya berubah.

“Yaaah, aku gak pernah naik pesawat. Gimana bisa jadi pramugari yaa, naik pesawat aja belom pernah,” jawabnya jujur.

“Iiih, gak apa-apa, kan belom pernahnya kemaren-kemaren. Besok-besok juga bakalan naik pesawat,” saya mencoba menyemangatinya, “Kakak pernah cerita kan kalo Kak Lisfah jalan-jalan hampir selalu gratis. Itu karena kakak coba ikut banyak kegiatan. Di sekolah gak cuma belajar untuk dapet nilai, tapi juga untuk cari pengalaman. Pengalaman itu didapat kalau kita aktif ikut banyak aktivitas. Misalnya kayak gini, kamu latihan keroncong, ikut OSN, ikut lomba tari. Itu gak dapet nilai sih memang, tapi itu dapet pengalaman. Siapa tahu dari ikut-ikut begituan kamu bisa pergi ke tempat jauh naik pesawat. Bisa ketemu pramugari deh. Bisa lihat cara pramugari kerja. Iya gak?” saya mendadak cerewet.

“Amiin, ya Allah. Mudah-mudahan ya, Kak. Semoga bisa naik pesawat!” suaranya penuh semangat dan saya jauh lebih bersemangat untuk terus mendukung dan mendoakannya.

Dia adalah satu dari banyak anak asuh saya dan teman-teman seperjuangan yang sangat semangat belajar, di sekolahnya memang dia bukanlah head and shoulders student, tapi dia cukup cerdas. Berkali-kali dipercayai gurunya untuk mewakili sekolah di berbagai ajang perlombaan akademis ataupun non-akademis. Terakhir, alhamdulillah sekolahnya mempercayai anak-anak untuk tampil di Taman Ismail Marzuki untuk merayakan Festival Pelestarian Keroncong dan saya diminta untuk mendampingi mereka dalam latihan hingga penampilan di acara.

“Doa di sujud terakhir setiap shalat itu pasti terkabul, Kak?” tanyanya untuk diri.

“Pasti terkabul. Tapi syaratnya kamu benar-benar percaya dan sabar. Minta doa juga sama banyak orang supaya kamu dapat beasiswa,”

“Amiin ya Allah. Aku harus bisa masuk sekolah negeri biar ngeringanin beban mama, Kak. Biar gampang juga dapetin beasisiwanya,” jelasnya.

See! Dia sudah merencanakan segalanya untuk mimpi kecil yang akan membesarkan dirinya kelak. Dia tahu mendapatkan beasiswa tidak mudah dan perlu strategi untuk mendapatkannya. Dia tahu bahwa lembaga beasiswa akan melirik siswa-siswa dari sekolah yang terpercaya kualitasnya. Oleh karena itu dia selalu menyebut beberapa nama sekolah negeri yang menjadi targetnya. Dan saya selalu mengamini impiannya.

“Tapi mamanya XX pernah bilang gini, Kak. Anak saya mah di XYZ (nama sekolah yayasan terdekat), memangnya situ maunya sekolah gratisan terus?” dia menirukan gaya ibu-ibu berbicara, “Emangnya salah ya, Kak, kalau aku mau di sekolah negeri yang gratis?” tanyanya.

“Sama sekali gak salah dong. Itu hak kamu. Itu bukti kalau kamu mampu diterima di sekolah pemerintah. Gak usah didengerin ah yang kayak gitu mah. Ngerusak mimpi kamu nanti!” imbuh saya.

“Iya juga ya, Kak. Itu kan artinya aku bisa ya, Kak. Ya Allah, mudah-mudahan bisa ya, Kak,” tandasnya.

“Pasti!” saya menjawab dengan mantap. Memeluknya.

***

Apa yang sudah saya tinggalkan untuk mereka? Tanya saya pada diri saya sendiri. Berkali-kali.

Tapi saya tidak pernah mendapatkan jawabannya. Keberadaan saya di dekat mereka tidak akan lama. Mungkin satu, dua, atau lima tahun lagi. Dana bantuan bukanlah hal yang dia dan anak-anak marjinal lainnya butuhkan. Kedekatan mereka dengan Allah dan satu dua cerita bernasihat adalah apa yang saya percayai benar-benar mereka butuhkan.

Doa di sujud terakhir, mungkin hanya sebuah pesan singkat, aktivitas rutin yang sangat sederhana. Tapi yang luar biasa adalah ketika mereka mempercayai itu dan melakukannya dengan sepenuh hati. Lebih dari itu, mereka membuktikan bahwa mimpi mereka benar-benar ingin mereka bebaskan menjadi kenyataan.

Percaya dan sabar, adalah dua hal yang mungkin jauh dari kehidupan mereka, anak-anak yang termarjinalkan. Sebagian kecil dari mereka hidup sebagai anak-anak pada umumnya di sekolah selama enam jam dan sisanya mereka habiskan di jalanan untuk mendapatkan uang. Terkadang di akhir pekan mereka kedatangan tamu  yang bisa tiba-tiba dengan akrabnya bermain bersama mereka, kadang berjanji pada mereka untuk datang lagi tapi kebanyakan malah tak pernah datang lagi.

Begitulah, kadang mereka sulit percaya pada orang lain. Seperti ada tembok pemisah antara kehidupan mereka dengan kehidupan kita kebanyakan yang mendapatkan kemudahan. Sebab itu, meskipun mereka tidak mudah percaya pada orang lain, setidaknya saya harus meyakinkan mereka bahwa ada satu Dzat yang harus mereka percayai ketika tidak ada lagi yang dapat dipercayai di dunia ini. Dialah Allah SWT.

Kebanyakan dari mereka terbiasa mendapatkan fasilitas dari orang yang menamakan diri mereka donator. Atau kedatangan orang-orang yang senang mengucapkan, “Ayo duduk sini, nanti dikasih hadiah” dan banyak kalimat serupa lainnya. Sehingga sangat memungkinkan mereka mengira bahwa mereka bisa dengan mudah mendapatkan hadiah dengan duduk manis meskipun pikiran mereka melalang buana ke tempat entah. Bersabar mungkin adalah hal yang jarang mereka pelajari, maka mengajak mereka bersabar akan jawaban doa adalah satu dan banyak cara yang baru bisa saya berikan kepada mereka. Tidak mudah memang, tapi lagi-lagi saya yang harus lebih dulu menerapkan sabar demi mengajak mereka untuk bersabar.

Doa di sujud akhir setiap shalat, percaya, dan bersabar akan menjadi rangkaian senjata mereka untuk meraih mimpi. Saya percaya dan saya akan terus berdoa untuk mereka atas hal ini di dalam sujud terakhir setiap shalat saya.

Untuk anak-anak tercinta yang semoga Allah senantiasa melindungi mereka. Amiin. 
12 August 2016
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -