Showing posts with label Gangguan Emosi dan Tingkah Laku. Show all posts

Belajar Matematika Ala Anak Gangguan Emosi dan Tingkah Laku


Beberapa pekan lalu, saya melakukan kunjungan ke SLB E Handayani, sebuah SLB di bawah naungan dinas sosial yang mendidik anak-anak Gangguan Emosi dan Tingkah Laku (GETL). Tujuan saya ke SLB E ini untuk mengamati proses pembelajaran matematika untuk anak GETL. Sebagai bentuk sharing, berikut ini saya cantumkan apa saja yang telah saya amati di SLB E Handayani ini 

***

Pada studi lapangan yang saya lakukan di SLB E Handayani saya dapati bahwa pembelajaran matematika di SLB E Handayani tidak jauh berbeda dengan sekolah regular. Hanya saja, memang ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru pada saat mengajar matematika, di antaranya adalah strategi dan media belajar.

Dalam pembelajaran guru SLB E Handayani biasanya estimasi waktu pelaksanaannya kurang tidak sesuai dengan RPP. Jika di RPP suatu materi direncanakan tercapai dengan tiga kali pertemuan, dalam pelaksanaanya di SLB E Handayani satu materi matematika bisa tercapai dengan lima kali pertemuan. Hal ini bukan dikarenakan murid-murid SLB E Handayani tidak memahami pelajaran, melainkan karena murid-murid  terlalu malas berpikir.

Untuk mengantisipasi hal ini, biasanya guru matematika SLB E Handayani mengurangi tingkat pencapaian murid dalam memahami suatu materi. Jadi, estimasi waktu yang terlaksana sesuai dengan rancangan yang dibuat. Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah media pembelajaran. Untuk media pembelajaran matematika, khususnya bangun datang dan bangun ruang, guru menggunakan media nyata yang terbuat dari kardus atau kayu.

Media yang dibuat guru harus besar dan mudah dilihat murid jika guru memeganggnya di depan kelas. Media yang dibuat juga harus aman untuk kelas, karena jika murid melempar-lempar media dapat dipastikan bahwa media aman dan tidak melukai murid lainnya.

Strategi pembelajaran yang diterapkan tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Hanya saja, guru harus bertindak lebih keras dan tegas agar murid-murid mau mengerjakan tugas dengan baik dan benar.

Di SLB E Handayani juga diterapkan sistem peer teaching atau tutur sebaya. Murid dengan kemampuan memahami yang lebih lamban daripada murid yang lain akan dibantu oleh murid lain yang sudah terlebih dahulu memahami  atau yang memiliki kemampuan menangkap pelajaran yang lebih baik dari yang lainnya. Akan tetapi, sebagaimana umumnya murid SLB E, tutur kata dan penyampaian yang lakukan murid SLB E Handayani kepada temannya cukup  kasar dan dan frontal.

Ada satu hal unik yang disistem pembelajaran matematika di SLB E Handayani ini, yang mungkin juga akan kita temukan di SLB E lainnya. Yaitu, setiap pelajaran matematika entah itu sistem penguranga, penambahan, perkalian, dan pembagian hampir selalu dianalogikan dengan benda-benda yang berhubungan dengan dunia anak GETL. Misalnya, anak diberi ilustrasi cerita dalam proses membeli rokok atau minuman keras. Atau, anak diberi sebuah soal cerita tentang proses diskon sebuah perusahaan rokok.

Analogi ini tidak secara kontinyu. Analogi ini hanya dilakukan ketika anak kehilangan semangat atau ketika anak mulai "nyeleneh" di dalam kelas. Jadi, analogi ini bisa disesuaikan dengan situasi. Cara penyampaiannya pun bisa dimodifikasi guru sesuai kebutuhannya di kelas.


Selebihnya tidak ada yang berbeda dalam pembelajaran matematika anak GETL dengan anak umum. Hal ini dikarenakan kemampuan intelektual  mereka sama dengan anak umum, hanya saja motivasi dari dalam diri mereka kurang.

Dari hasil observasi di SLB E Handayani ini tidak jauh berbeda dengan beberapa teori yang sudah diteliti oleh para ahli. Seperti pada karakteristik belajar anak tunalaras yang dikemukakan Cruickshank (1980) bahwa ada kesenjangan antara kemampuan potensial mereka dengan kemampuan yang aktual, atau dengan istilah sederhana cenderung berprestasi dibawah potensinya dikarenakan manifestasi dari problem emosionalnya. Hal ini berarti bahwa problem belajar merupakan faktor akibat dari adanya problem emosional. Murid di sini juga banyak yang malas belajar, terutama dalam pelajaran matematika sehingga prestasi mereka kurang baik, bukan karena kemampuan intelektual mereka kurang tetapi karena emosionalnya yang kurang baik.

Pembelajaran yang dilakukan guru di SLB E Handayani juga sudah cukup  sesuai dengan teori (Weiss dalam Hallahan dan Kauffmann, 2006), dimana guru sudah menerapkan strategi khusus agar siswa mau mempelajari suatu pelajaran terutama pelajaran matematika yang menurut mereka membosankan. 





04 January 2013
Posted by Lisfatul Fatinah

Dampak Gangguan Emosi dan Tingkah Laku bagi Anak dan Lingkungan


Gangguan atau hambatan emosi dan tingkah laku yang dialami anak GETL mempunyai dampak negative bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Perasaan tidak berguna bagi orang lain, perasaan rendah diri, tidak percaya diri, perasaan bersalah, dan lain sebagainya menyebabkan anak GETL merasakan adanya jarak dengan lingkungannya.
Salah satu dampak serius yang dialami anak GETL adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri sendiri. Apabila anak GETL kurang mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, anak GETL akan semakin terperosok dan jarak yang memisahkan anak dari lingkungan sosialnya akan semakin bertambah besar.
Terkait tekanan batin yang berkepanjangan ini, Schloss (Kirk dan Gallagher, 1986) disebabkan oleh ketidakberdayaan yang dipelajari dan tidak mampu merespon dengan baik terhadap stimulasi sosial, keterampilan sosial yang minim, dan konsekuensi paksaan yang berpengaruh pada tekanan batin yang berlarut-larut.
Untuk menghadapi hal-hal di atas, kita hendaknya dapat memngaruhi lingkungan mereka, mengajar, dan menguatkan keterampilan sosial antarpribadi yang lebih efektif, serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguat ketidakberdayaan.
28 August 2012
Posted by Lisfatul Fatinah

Faktor Penyebab Gangguan Emosi dan Tingkah Laku


Dinamika keadaan yang melatarbelakangi anak GETL beserta gejala-gejalanya perlu ditelusuri untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang anak GETL. Dengan memahami hal itu akan mempermudah dalam usaha menanggulangi atau memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Dari berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah anak GETL, berikut dibahas mengenai kondisi atau keadaan fisik, masalah perkembangan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

a.     Faktor Kondisi atau Keadaan Fisik
Beberapa ahli meyakini bahwa disfungsi kelenjar endokrin dapat mempengaruhi timbulnya gangguan tingkah laku atau dengan kata lain kelenjar endokrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg (Simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormone yang memengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.

Kondisi fisik ini dapat pula berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat memengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.

Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negative dari lingkungannya. Sebagai akibatnya, timbul perasaan rendah diri, perasaan tidak berdaya atau tidak mampu, mudah putus  asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasih lingkungannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kondisi atau keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan memiliki implikasi bagi penyesuaian diri sesorang.

b.     Faktor Masalah Perkembangan
Erikson (Singgih D. Gunarsa, 1985: 107) menyatakan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego anak dapat mengatasi krisis ini, keegoan yang matang akan terjadi, sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan masyarakatnya.

Adapun ciri yang menonjol dari masa krisis individu adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan karena anak sedang dalam proses menemukan jati dirinya. Anak menjadi merasa tidak puas dengan otoritas lingkungan, sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak seperti marah, menegang, memberontak, dan keras kepala.

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa segala tindakan yang dilakukan anak pada masa kritis bertujuan untuk menarik perhatian yang didorong oleh tuntutan pengakuan egonya. Jika pada masa ini anak banyak mendapatkan rintangan dan tantangan, akan timbul akibat yang dapat merugikan kelangsungan fungsi-fungsi dan psikis pada masa ini dan dapat mengakibatkan kemunduran individu.

Pada masa ini jiwa anak masih labil dan banyak mengandung risiko. Jika anak kurang mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa, anak akan mudah terjerumus pada penyimpangan tertentu dan menjadikan anak termasuk dalam anak GETL.

c.      Faktor Lingkungan Keluarga
Dalam pembahasan sosial, keluarga menjadi ruang sosial pertama bagi anak. Keluarga pulalah yang memiliki pengaruh terbesar akan kelangsungan perkembangan anak. Karena, dari keluargalah anak menadapatkan pengalaman pertama perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menjadikan anak GETL. Dalam hal ini, ada banyak aspek keluarga yang menyebabkan terjadinya anak GETL, seperti faktor kasih sayang, keharmonisan keluarga, dan ekonomi keluarga.

Kurangnya kasih sayang yang diterima anak dapat mengakibatkan anak mencari kasih sayang dan perhatian di luar rumah. Dalam kasus lain, anak mugkin saja tidak mencari kasih sayang di luar rumah, tetapi anak dengan sengaja melakukan tindakan yang tidak sesuai norma untuk menarik perhatian lingkungan keluarganya.

Lain halnya dengan kasus di atas, sebagian anak ada yang mendapatkan kasih sayang yang berlebihan dari keluarga hingga anak tumbuh menjadi anak yang manja. Karena perlakuan ini anak menjadi ketergantungan dan mudah menyerah, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan rendah diri.

Keharmonisan dalam keluarga juga berpengaruh dalam perkembangan anak. Kondisi rumah yang kacau dan keluarga yang terpecah sangat berpeluang menjadikan anak dalam keluarga sebagai anak GETL.

Di samping hal di atas, lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhi kebutuhan anak.Padahal, hal seperti yang kita ketahui bersama pada tingkat perkembnagan tertentu anak memiliki keinginan-keinginan untuk menyamai teman yang lainnya.

Tidak terpenuhinya kebutuhan anak dalam keluarga akibat ekonomi lemah mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisis-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relative dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.

d.     Faktor Lingkungan Sekolah
    Selain sebagai tempat pendidikan, tak jarang sekolah menjadi tempat penyebab timbulnya gangguan tingkah laku dan emosi pada anak. Hal ini seperti yang dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka pembinaan anak didik kea rah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga menjadi penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.

e.     Faktor Lingkungan Masyarakat
     Bandura (Kirk dan Gallagher, 1986) menyatakan bahwa salah satu hal yang nampak memengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu meniru perilaku orang lain. Di samping meniru hal-hal positif, di lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang. Hal ini dapat terjadi lebih tinggi lagi di kota-kota besar yang mana di dalamnya tersedia berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang kurang tersaring oleh budaya lokal.

Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang bersifat negative. Di satu piahk para remaja menganggap kebudayaan asih tersebut benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber pada adat istiadat dan agama.
Selanjutnya, konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah bertentangan dengan norma dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Misalnya, seorang anak dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat di mana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.
Posted by Lisfatul Fatinah

Klasifikasi Anak dengan Gangguan Emosi dan Tingkah Laku


Sebagai langkah penangan dan untuk memudahkan pelayanan pendidikannya anak GETL diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok. S.A Bratanata (1975:69) menyatakan bahwa anak GETL dicirikan oleh seberapa jauh anak itu terlihat dalam tingkat kenalakan, tingkat kelainan emosi, dan status sosialnya.
Secara geris besar anak GETL dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu anak dengan gangguan emosi dan anak dengan gangguan tingkah laku. Tiap kelompok anak tersebut dibagi lagi sesuai dengan tingkatan berat ringannya derajat gangguan dan hambatan anak.
Sehubungan dengan dua kelompok di atas, William M. Cruickshank (1975:567) mengemukakan bahwa anak dengan gangguan tingkah laku sosial dapat diklasifikasikan ke dalam kategori berikut:

a.     The Semi-socialize Child
Anak kelompook ini adalah anak yang dapat mengadakan hubungan sosial, tetapi terbatas pada lingkungan tertentu, misalnya keluarga dan kelompoknya. Keadaan in terjadi pada anak yang datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Di lingkungan sekolah, karena perilaku mereka sudah diarahkan oleh kelompoknya, maka sering kali menunjukkan perilaku memberontak karena tidak mau terikat oleh peratuaran di luar kelompoknya. Dengan demikianm anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.

b.     Child arrested at a primitive level of socialization
Anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan ke arah sikap sosial dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan oleh tdak adanya perhatian dari orang tua, yang berakibat pada perilaku anak. Kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian, mereka masih dapat memberikan respon kepada perlakuan yang ramah.

c.      Children with minimum socialization capacity
Anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan atau kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang, sehinga anak pada golongan ini sering bersikap apatis dan egois.

 Untuk anak dengan gangguan emosi, mereka juga memiliki derajat atau tingkatan gangguan. Anak dalam kelompok ini mengalami hambatan dalam menyesuaikan tingkah laku sosial karena adanya gangguan dalam diri sendiri. Adapun klasifikasi untuk anak dengan gangguan emosi adalah sebagai berikut.

  1. Neurotic Behavior (perilaku neurotik)
Anak dalam klasifikasi ini masih bisa bergaul dengan orang lain, akan tetapi mereka mempunyai permasalahan pribadi yang tidak mampu diselesaikan. Anak klasifikasi ini sering dan mudah sekali dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan marah, cemas, dan agresif, serta rasa bersalah. Disamping itu, kerap kali mereka juga melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak pada klasifikasi ini dapat dibantu oleh terapi seorang konselor.

Keadaan neuritik ini biasanya disebabkan oleh kondisi atau sikap keluarga yang menolak atau terlalu memanjakan anak. Di samping itu, keadaan ini juga mungkin dipengaruhi pola pendidikan yang salah atau adanya kesulitan belajar yang berat.

  1. Children with Psychotic Processes
Anak GETL pada klasifikasi ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan pada umumnya. Anak pada klasifikasi ini umumnya tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas. 

Ketidaksadaran diri pada anak GETL disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya karena minuman keras dan obat-obatan. Oleh karena itulah usaha penanggulangan lebih sulit karena anak tidak dapat berkomunikasi, sehingga layanan pendidikan harus disesuaikan dengan kemajuan terapi dan dilakukan pada setiap kesempatan yang memungkinkan.

Kiranya jelas bahwa pada kelompok neurotic, anak mengalami gangguan yang sifatnya fungsional, sedangkan pada kelompok psikotis di samping mengalami gangguan fungsional. Anak GETL juga mengalami gangguan yang sifatnya organis. Oleh karena itu, anak-anak yang termasuk kelompok psikotis kadang-kadang memerlukan perawatan medis.
Posted by Lisfatul Fatinah

Perspektif Anak GETL Bag.1 (Pengertian)

            Pengertian Anak dengan Gangguan Emosi dan Tingkah Laku (GETL)

Istilah yang gunakan untuk menyebut anak dengan gangguan emosi dan tingkal laku (anak GETL) sangat beragam, sesuai dengan pandangan berbagai kalangan. Perbedaan istilah dan pandangan yang digunakan untuk menyebut anak GETL ini tentu saja disesuaikan berdasarkan kepeentingan pihak masing-masing. Misalnya, orang tua yang awam cenderung menyebut anak GETL dengan sebutan anak nakal, para guru menyebutnya dengan sebutan anak yang tidak bisa diatur (incurrigible), para psikiater atau pasikolog lebih memilih menyebutnya sebagai anak yang terganggu emosinya (emotional disturb child), para pekerja sosial menyebutnya sebagai anak yang tidak dapat mengikuti aturan atau norma sosial yang berlaku (social maladjusted child), dan para  hakim menyebut anak GETL dengan sebutan anak-anak jahat.Menurut Sunardi (1985), pada intinya semua sebutan untuk anak GETL adalah mengacu pada anak yang menunjukkan penyimpangan perilaku sebagai pelanggaran terhadap peraturan atau norma yang berlaku di lingkungannya dan efek dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan anak GETL dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Pengertian anak GETL menurut Undang-Undang Pokok Pendidikan No. 12 Tahun 1952, adalah anak yang mempunyai tingkah laku menyimpang atau berkelainan, tidak memiliki sikap melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan norma-norma sosial dengan frekuensi yang cukup besar, kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh oleh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam dokumen kurikulum SLB E (1977), disebutkan anak GETL adalah anak yang memiliki tiga kriteria di bawah ini.
1)    anak yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan tinghak laku sehingga kurang menyesuaikan diri dengan baik, baik terhadap lingkungan, keluarga, sekolah, maupun masyarakat;
2)    anak yang mempunyai kebiasaan melanggar norma umum yang berlaku di masyarakat; dan
3)    anak yang melakukan kejahatan.


Berdasarkan pemikiran-pemikiran di atas, menurut Hallahan dan Kauffman (1991),
anak yang didentifikasi sebagai anak GETL adalah anak yang:

1) tidak mampu mendefinisikan secara tepat kesehatan mental dan perilaku yang normal;
2)    tidak mampu mengukur emosi dan perilakunya sendiri; dan
3)    mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sosialisasi.

Secara sederhana Pak Lalan, dosen matakuliah Perspektif Pendidikan Anak GETL,
menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan anak dengan gangguan emosi dan tingkah
laku  (anak GETL) adalah anak yang identik dengan kenakalan, biasa disebut anak
badung, suka berkelahi, dan berbuat keonaran lainnya yang membahayakan dirinya
dan orang lain.

Dalam satu kesempatan saya pernah bertanya pada dosen saya, “Apakah seorang 
anak yang memiliki sikap pendiam, suka mengurung diri, dan introvert tapi kadang 
melakukan hal-hal berbahaya yang tidak terduga juga masuk dalam kategori anak 
GETL.” Dengan tegar dosen saya menjawab, “Ya.” Karena yang perlu digaris bawahi 
dalam pengertian anak GETL adalah emosi dan tingkah laku mereka yang dapat 
membahayakan diri sendiri dan orang lain.









04 April 2012
Posted by Lisfatul Fatinah

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -