Showing posts with label Gangguan Pengelihatan. Show all posts
Jalan-Jalan Ke Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (Bag. 4 Intervensi Dini)
Intervensi
Dini Low Vision
Agar
anak low vision yang telah direhabilitasi bisa hidup di lingkungan habitatnya
secara inklusif, maka intervensi dini yang perlu dilakukan
adalah:
- Memberikan alat bantu yang sesuai dengan
kebutuhan anak low vision.
- Melakukan modifikasi lingkungan yang diperlukan seperti lingkungan rumahnya,
sekolah dan kelasnya, lingkungan kerjanya dan sebagainya.
- Membimbing orang sekitar penyandang low vision bagaimana hidup
bersamanya.
- Membentuk jaringan kerja dengan guru, orang tua, dan orang yang
terlibat dengan anak dan orang low vision.
Program
Pendidikan, Pelatihan, dan Simulasi Lain Bagi Low Vision
Di
P2TLV, selain dilakukan identifikasi, asesemen, dan intervensi dini bagi anak
low vision, dilakukan pula beberapa program tambahan untuk membantu
mengefisensikan fungsional pengelihatan anak. Misalnya saja di ruang stimulasi
belajar. Di ruangan ini anak diberi simulasi atau gambaran bagaimana ruangan
belajar atau ruang kelas yang nyaman untuk anak low vision.
Di
ruangan simulasi ini, anak bisa mensimulasi posisi duduk, gelap terang cahaya
lampu yang dibutuhkannnya, simulasi menulis dan simulasi membaca yang akan
dibimbing oleh simulator, serta simulasi kamar tidur anak yang nyaman untuk
kemandirian anak.
Rekomendasi
atau Tindak Lanjut bagi Low Vision
Setelah
menjalani serangkaian proses identifikasi, asesmen, intervensi dini, dan
simulasi atau pelatihan, tindak lanjut yang dilakukan P2TLV adalah memberikan
layanan konseling dan rekomendasi sekolah kepada anak low vision.
Layanan
konseling diberikan agar anak low vision dan keluarganya bisa mengetahui
bagaimana dan seberapa jauh perkembangan fungsional pengelihatan yang masih
dimiliki anak. Selain itu juga untuk mengetahui apa yang harus dilakukan anak
dan keluarga low vision untuk ke depannya.
Jalan-Jalan Ke Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (Bag. 3 Asesmen)
Proses
Asesmen yang Dilakukan di P2TLV
Untuk mengetahui apa yang sudah dimilik anak, yang
belum dimilik anak, dan apa saja kebutuhan anak low vision, maka P2TLV
melakukan serangkaian asesemen seperti di bawah ini.
a.
Penjaringan
penyandang low vision.
- Mengembangkan system penjaringan dan pendataan
- Membentuk jaringan kerja dengan lembaga terkait.
- Menerima klien dari puskesmas, rumah sakit, dokter dan umum.
b.
Pemeriksaan
mata oleh dokter mata.
- Menetapkan status penyakit, Penyebab dan masuk golongan low
vision atau tidak.
- Menetapkan sifatnya menetap atau menurun.
- Menetapkan kebutuhan pengobatannya.
- Melakukan referal ke low vision center.
c.
Asessmen
klinis dan preskripsinya.
- Menilai sisa penglihatan.
- Menilai luas lantang pandang.
- Memberikan gambaran tentang kemampuan yang bisa dilakukan.
- Menilai dan menetapkan alat bantu yang dibutuhkan,
- Memberi saran tentang latihan yang dibutuhkan.
- Memberikan saran dan menilai modifikasi lingkungan yang
dibutuhkan.
d.
Latihan
dan konseling.
- Memberikan latihan fungsi dan stimulasi penglihatan.
- Memberikan latihan penggunaan alat Bantu penglihatan.
- Mengevaluasi hasil assessment klinis,
- Memberikan konseling pada klien dan orang tuanya.
- Latihan Orientasi dan mobilitas.
- Memberikan bimbingan pendidikan.
- Memberikan bimbingan kerja.
- Memberikan konseling tentang penyebab dari low visionnya, apa
yang bisa, yang harus dan yang tidak bisa dilakukan oleh anak, orang tua
dan lingkungannya.
Aspek-Aspek
Asesmen pada Diri Low Vision di P2TLV
Dalam
proses asesmen terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk
mengefisiensikan pengelihatan dan memfungsionalkan lingkungan low vision.
Adapun aspek-aspek yang harus diperhatikan tersebut adalah:
·
Aspek
Cahaya
Kita
harus mengetahui seberapa besar intensitas cahaya, redup, dan terangnya cahaya
yang dibutuhkan anak low vision dalam lingkungannya, terutama untuk lingkungan
belajarnya.
·
Aspek
Kontras
Kita
harus mengetahui seberapa besar kekontrasan yang dibutuhkan anak low vision
dalam lingkungannya, terutama untuk lingkungan belajarnya. Mengetahui aspek
kekontrasan yang dibutuhkan anak ini perlu agar anak low vision dapat dengan
mudah membedakan objek yang ada di lingkungannya.
·
Aspek
Jarak
Kita
harus mengetahui seberapa jauh kemampuan jarak pandang anak low vision. Hal ini
agar kita mengetahui jarak nyaman yang dibutuhkan anak low vision untuk melihat
objek dan untuk mengetahui bagaimana seharusnya konstruksi ruang belajar yang
nyaman dan efisien untuk anak low vision yang bersangkutan.
·
Aspek
Ukuran
Kita
harus mengetahui ukuran yang nyaman di pengelihatan anak low vision. Aspek
ukuran juga sangat perlu diperhatikan agar kita bisa mengetahui besar objek
yang nyaman di mata anak, termasuk besar tulisan di papan tulis yang nyaman
untuk menunjang proses belajar anak low vision.
·
Aspek
Posisi
Kita
perlu mengetahui posisi yang nyaman yang digunakan anak low vision untuk
melihat. Aspek ini sangat penting sekali diketahui untuk merekonstruksi dan
mendesain posisi tempat duduk anak low vision di dalam kelas. Sehingga, hal ini
bisa memudahkan anak low vision dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Aspek Arah
Terakhir,
kita perlu mengetahui bagaimana arah pengelihatan yang dibutuhkan anak untuk
kenyamanannya beraktivitas, terutama dalam keperluan belajar.
Jalan-Jalan Ke Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (Bag. 2; Identifikasi Low Vision)
Proses
Identifikasi Awal di P2TLV
Proses identifikasi awal yang dilakukan di P2TLV
kurangh lebih adalah seperti gambaran di bawah ini:
a.
Identifikasi Urutan Perkembangan:
- Movement (gerakan) – Fixation.
- Kesadaran (awarenes) – Attention (perhatian) – Mengenal objek dan
simbul. (Sadar – kenal – mewakilkan Objek – ingatan visual – Visual
closure skills.)
- Menguraikan objek dan pussel.
- Mengenal simbul yang abstrak.
b.
Identifikasi Efisiensi Penglihatan (Vision Eficiency)
Agar penglihatan efisien dalam melihat objek, maka diperlukan cahayanya, kekontrasannya, ukuran
besarnya dan jaraknya dengan mata sesuai dengan yang dibutuhkan.
c.
Identifikasi Sisa Penglihatan dengan Pengajaran (Vision
Utilization Instruction)
Penggunaan
pendekatan di atas dalam layanan tergantung pada:
- Rendah tidaknya ketajaman penglihatan yang dimiliki.
- Besar kecilnya hambatan lantang pandang yang dimiliki.
- Banyak tidaknya pengalaman anak dalam menggunakan penglihatan.
Semakin negatif ke tiga faktor tersebut
di atas maka pendekatannya mulai dari Stimulasi penglihatan sebelum sampai
kepada pengajaran yang menggunakan sisa penglihatan.
Kerjasama
dengan Profesi Lain
Untuk
menunjang pelayanannya, P2TLV melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan
Provinsi Jawa Barat untuk pengembangan layanan pendidikan anak low vision.
Selain itu, P2TLV juga mengadakan kerjasama dengan Rumah Sakit Mata Cicendo
yang letaknya tidak terlalu jauh dengan P2TLV sebagai rumah sakit rujukan
dengan dokter mata yang akan mengampu dan melayani low vision dari segi
intervensi medis.
Jalan-Jalan Ke Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (Bag. 1; Profile Singkat)
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah. Tahun ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke salah satu sisi dunia yang luar biasa. Tempat luar biasa ini bernama Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision yang ada di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Pada 12 November 2012 lalu, saya dan teman sekelas berkesempatan meneguk ilmu segar di tempat ini.
Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa membaca paparan singkat tentang Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision ini.
Alhamdulillah. Tahun ini diberikan kesempatan oleh Allah untuk berkunjung ke salah satu sisi dunia yang luar biasa. Tempat luar biasa ini bernama Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision yang ada di Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Pada 12 November 2012 lalu, saya dan teman sekelas berkesempatan meneguk ilmu segar di tempat ini.
Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa membaca paparan singkat tentang Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision ini.
Sejarah
Berdirinya P2TLV
Berdirinya
Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (P2TLV) diawali dengan berdirinya Yayasan
Penyantun Wyata Guna (YPWG) yang berdiri pada 1973, dengan akte notaris No. 37
pada 23 Maret 1973 silam. Awal mula dirintisnya YPWG merupakan manifestasi
pengabdian Ibu Soedarsono, pendiri YPWG, untuk kesejahteraan masyarakat
disabilitas pengelihatan di Bandung dan Jawa Barat yang mandiri dan maju. Semua
upaya yang dirintis dari YPWG ini dilakukan bersama seluruh lapisan masyarakat,
mulai dari pengandang disabilitas pengelihatan, keluarga, asyarakat, dunia
usaha, pemerintah dan lain-lain.
Sejak
berdirinya pada 1973 hingga 1995, YPWG belum memiliki layanan bagi murid low
vision. Hingga pada 1996, Ibu Sri Soedarsono sebagai pendiri dan ketua YPWG
bersama Ibu J.S. Nasution, Ketua Yayasan Pembinaan dan Asuhan Bunda (YPAB) mencoba
membuka layanan bagi murid low vision.
Pada
16 Februari 1996, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
mengeluarkan surat No. 6801/MPK/96 kepada YPAB dan YPWG di bawah naungan kedua
yayasan ini. Pada 1 April 1996, Dikdasmen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
juga mengeluarkan surat No. 0195/C2/LL/96 atas P2TLV perihal penanggualangan
low vision untuk pelaksanaan uji coba layanan pendidikan bagi anak low vision.
Sejak
1996 inilah YPWG melakukan sosialisasi
layanan pendidikan bagi murid low vision melalui penyuluhan, seminar, dan pelatihan
guru SLB A dan guru SD di kota Bandung dan Jawa Barat. Pada 1997, YPWG
melakukan uji coba layanan pendidikan bagi murid low vision di SLB A Negeri
Wyata Guna Pajajaran. Hingga pada 1999, uji kelayakan layanan pendidikan bagi
murid low vision ini disebarkan ke 13 SLB di Jawa Barat.
Demi keprofesionalismean pelayanannya, pada 2002 lalu YPWG membentuk Pusat
Pemberdayaan Tunanetra Bandung (PPTB) atau Bandung Center for the Blind (BCB) yang
di dalamnya terdapat Unit Pelatihan dan Pelayanan Low Vision.
Agar
layanan yang ada di Unit Pelatihan dan Pelayanan Low Vision dapat menjangkau
seluruh anak low vison di Jawa Barat, maka sejak awal 2003 dirintislah usaha
kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Sejak itu dimualailah
berbagai aktivitas pelatihan dan seminar di dalam dan luar negeri dan studi
banding pendidikan low vision ke India.
Agar
keberadaannya lebih resmi dan diakui, pada 24 Maret 2004 YPWG menandatangani
piagam kerjasama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan diresmikanlah
Pusat Pelayanan Terpadu Low Vision (P2TV) yang pertama di Indonesia. P2TLV
berada di Jl. Pajajaran No.52, Bandung. Untuk selanjutnya, YPWG juga akan
membuka P2TLV lainnya di beberapa kota di Jawa Barat.
Tujuan
Didirikannya P2TLV
Pada
dasarnya didirikannya P2TLV bertujuan pada tiga hal utama, yakni:
· agar
penyandang low vision dapat merencanakan atau melaksanakan tugas sehari-hari
seperti membaca, menulis, bepergian, dan keterampilan sehari-hari secara
mandiri;
· meningkatkan
fungsional pengelihatan, seperti meningkatkan ketajaman pengelihatan,
mengurangi silau, meningkatkan sensitivitas terhadap kekontrasan, dan
memperluas lantang pandang;
· membantu
penyandang low vision secara psikologis agar dapat beradaptasi dan
bersosialisasi secara wajar dalam lingkungannya, percaya diri, serta sadar dan
memahami kondisi pengelihatannya.
Fungsi
dan Peran P2TLV
Adapun
fungsi dan peran P2TLV hingga saat ni adalah mencakup dua ranah pelayanan,
yaitu (1) layanan kepada klien penyandang low vision dan (2) layanan pelatihan
tenaga ahli lapangan.
a. Layanan Kepada Klien Penyandnag Low Vision
Melalui unit layanan bergerak (mobile service unit)
dan unit layanan menetap (stationer service unit) P2TLV berperan dalam:
· Mengasesmen
(melakukan penilaian) secara klinis tentang pengelihatan klien termasuk dalam
penilaian alat bantu optik yang seperti apa yang dibutuhkan klien.
·
Memberikan
pelatihan peningkatan fungsi pengelihatan, tatacara penggunaan alat bantu low
vision (optik dan nonoptik), O & M, ADL, dan lainnya secara terpadu.
·
Memberikan
bimbingan dan konseling kepada klien dan anggota keluarganya.
·
Membantu
menempatkan kembali klien di lingkungannya, baik tu di lingkungan sekolahm
rumah, masyarakat, maupun di lingkungan kerjanya.
·
Memonitoring,
meindaklanjuti, dan merekomendasikan kepada klien dan berbagai pihak terkait.
·
Melayani
pemeriksaan dan pengadaan kaca mata.
b. Pelatihan Tenaga Ahli Lapangan
Melalui sistem magang dan atau strategi
pelatihan lainnya, P2TLV mengembangkan fungsi dan perannya dengan
menyelenggarakan pelatihan kepada tenaga tenaga prescription atau optometris
khusus low vision, tenaga instruktur untuk low vision, tenaga guru sumber dan
guru pembimbing khusus bagi low vision, tenaga pekerja sosial khusus low
vision, dan tehaga khusus low vision lainnya sesuai kebutuhan.
Perspektif Pendidikan Tunanetra Bag. 3 (Miskonsepsi tentang Tunanetra)
Miskonsepsi atau kesalahpahaman tentang tunanetra berada pada pemahaman masyarakat terhadap pengertian tunanetra. Miskonsepsi itu ada pada beberapa hal berikut:
1. Masyarakat beranganggapan tunanetra adalah orang yang tidak bisa melihat sama sekali. Padahal, tunanetra sebagian besar masih memiliki sejumlah fungsi pengelihatan dan masih memiliki persepsi atau proyeksi cahaya dan sebagian kecil lainnya tidak memiliki pengelihatan sama sekali. (90% masih punya kemampuan presepsi atau proyeksi cahaya, 10% bilnd total).
2. Masyarakat beranganggapan semua orang tunanetra menggunakan Braille untuk membaca. Padahal, sebagian besar tunanetra menggunakan huruf cetak besar untuk membaca.Masyarakat beranganggapan semua tunanetra memiliki indera tambahan untuk mendeteksi segala rintangan. Padahal, tunanetra tidak memiliki indera tambahan. Mereka dapat mengembangkan indera pendeteksi rintangan melalui pengalaman berkali-kali dan menggunakan kepekaan indera pendengaran. Sehingga, seorang tunanetra harus menjaga konsentrasi dan kepekaannya untuk melakukan orientasi mobilitas dalam kesehariannya.
3. Masyarakat beranganggapan memiliki ketajaman indera-indera lainnya secara baik. Padahal hal-hal ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi lebih kepada akibat penggunaan indera-indera penerima lain secara baik. Orang tunanetra mengandalkan taktil (sentuhan ujung jari) dan psikomotorik (memori otot). Orang tunanetra melatih konsentrasi dan perhatian dengan baik.
4. Masyarakat beranggapan orang tunanetra memiliki kemampuan bermain musik. Padahal, seorang tunanetra tidak harus memiliki kemampuan music yang lebih dari orang normal pada umumnya. Alasan lainnya karena dalam memainkan music tidak dibutuhakan kemampuan melihat.
Masyarakat beranggapan orang tunanetra tidak berdaya dan memiliki ketergantungan yang besar pada orang lain. Padahal, dengan perlakuan baik dan pengalaman belajar yang tepat dapat menjadikan orang buta mandiri dan berkepribadian yang sama dengan orang normal pada umumnya.
Masyarakat beranggapan orang tunanetra tidak berdaya dan memiliki ketergantungan yang besar pada orang lain. Padahal, dengan perlakuan baik dan pengalaman belajar yang tepat dapat menjadikan orang buta mandiri dan berkepribadian yang sama dengan orang normal pada umumnya.
5. Masyarakat beranggapan bahwa orang low vision yang memanfaatkan pengelihatannya terlalu banyak, perngelihatannya akan semakin buruk dan menjadi blind total. Padahal, setiap ketunanetraan memiliki progresifitas (pergerakan kemampuan melihat) yang tergantungan dengan penyebab kebutaannya.
Perspektif Pendidikan Tunanetra Bag. 2 (Klasifikasi Tunanetra)
Berbeda dengan yang diketahui oleh masyarakat umum, klasifikasi tunanetra dalam yang akan saya tuliskan di bawah ini cukup beragam. Pak Budi (nama dosen saya) menyatakan bahwa klasifikasi ini bukan untuk menyekat-sekatkan tunanetra, melainkan sebagai starting point (titik dimulainya) asesmen agar mempermudah dalam menyediakan pelayanan pendidikan khusus.
- Berdasarkan waktu terjadinya ketunanetraan
a. Tunanetra sebelum dan sejak lahir; adalah individu yang dilahirkan dalam keadaan tanpa pengelihatan, sehingga mereka tidak memiliki pengalaman pengelihatan.
b. Tunenetra setelah lahir atau pada usia dini; adalah individu yang sempat memiliki pengelihatan, tapi pengelihatannya hilang di usia dini. Tunanetra jenis ini telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual, tetapi belum kuat dan mudah terlupakan.
c. Tunanetra pada usia sekolah atau remaja; adalah individu yang miliki kemampuan dan pengalaman visual dan kehilangan kemampuan pengelihatannya pada usia remaja.
Individu yang kehilangan pengelihatan pada usia remaja seperti ini biasanya meninggalkan pengaruh positif dan negatif yang mendalam dalam proses perkembangan pribadinya. Pengaruh negative yang timbul bisa berupa pengurungan diri dari dunia luar dan percobaan bunuh diri sebagai bentuk penolakan pada takdir. Pengaruh positif yang muncul adalah menjadikan remaja tersebut tumbuh sebagai remaja yang tangguh.
d. Tunanetra pada usia dewasa; adalah individu yang kehilangan kemampuan pengelihatannya pada usia dewasa. Biasanya tunanetra jenis ini memiliki kesadaran untuk melakukan berbagai latihan penyesuaian diri terhadap ketunanetraannya.
e. Tunanetra pada usia lanjut; adalah individu yang kehilangan pengelihatannya pada usia lanjut dikarenakan faktor usianya. Sebagian besar tunanetra jenis ini sulit mengikuti latihan-latihan penyesuaian diri terhadap ketunanetraannya.
- Berdasarkan kemampuan daya pengelihatannya
a. Tunanetra ringan (low vision). Adalah individu yang mengalami hambatan pengelihatan, tetapi masih mampu mengikuti kegiatan yang menggunakan fungsi pengelihatannya.
b. Tunanetra setengah berat (pastially sighted). Adalah individu yang kehilangan sebagian daya pengelihatannya. Akan tetapi tunanetra jenis ini masih bisa mengikuti kegiatan pendidikan biasa dan mampu membaca tulisan yang bercetak tebal dengan alat bantu kaca pembesar.
c. Tunanetra berat (totally blind). Adalah individu yang sama sekali tidak dapat melihat.
- Berdasarkan pemeriksaan klinis
a. Tunanetra yang masih memiliki ketajaman pengelihatan antara 20/70 sampai dengan 20/200, dan pengelihatannya dapat diperbaiki melalui beberapa alat bantu.
b. Tunanetra yang memiliki ketajaman pengelihatan kurang dari 20/200 dan atau memiliki bidang pengelihatan kurang dari 20 derajat.
- Berdasarkan kelainannya
a. Myopia (rabun jauh). Adalah individu yang memiliki hambatan melihat objek dalam jarak jauh dan masih bisa diperbaiki dengan kacamata minus.
b. Hypermiopi (rabun dekat). Adalah individu yang memiliki hambatan melihat objek dalam jarak dekat dan masih bisa diperbaiki dengan kacamata plus.
c. Astigmatisma. Adalah individu yang memiliki gangguan dalam bentuk kornea matanya yang tidak teratur dan berpengaruh pada kesimetrisan pengelihatan, sehingga perlu diperbaiki dengan kacamata silinder.
Perspektif Pendidikan Tunanetra Bag. 1 (Pengertian)
Perspektif pendidikan tunanetra merupakan matakuliah yang mengantarkan mahasiswa untuk mengetahui,mengenal, dan memahami apa yang dimaksud dengan tunanetra, siapa individu yang dikatakan tunanetra, bagaimana karakteristik, penyebab, dan dampak ketunanetraan, dan seperti apa pendidikan yang seharusnya diberikan kepada individu dengan ketunanetraan.
Pengertian Tunanetra
Untuk memahami individu tunanetra, kita dapat mempelajarinya dari dua sisi pengertian tunanetra. Yakni dari pengertian secara legalitas atau perundang-undangan negara, serta dari pengertian dalam dunia pendidikan.
Pengertian Tunanetra Legalitas Legalitas
Individu tunanetra adalah individu yang mempunyai gangguan ketajaman pengelihatan sentral 20/200 atau lebih lebih kecil (lebih buruk) setelah melalui suatu perbaikan (misalnya dengan menggunakan kacamata), atau mereka yang luas pandangnya demikian sempit, sehingga tidak lebih dari 20o. (The American Medical Association, 1934; dan American Foundation of The Blind)
Berdasarkan pengertian di atas dapat dipahami bahwa individu tunanetra memiliki tiga kriteria khusus dibandingkan dengan individu dengan pengelihatan normal;
- Visual 20/200. Artinya, jika individu dengan pengelihatan normal mampu melihat jelas dari jarak 200 feets (+ 60 meter), individu tunanetra hanya mampu melihat jelas dari jarak 20 feets (+ 6 meter).
- Perbaikan pengelihatan dengan alat bantu. Individu yang matanya kurang awas tidak dikatakan tunanetra jika pengelihatannya menjadi normal saat diberikan alat bantu berupa kacamata.
- Lapang pandang tidak lebih dari 20o. Artinya, jika individu dengan pengelihatan normal memiliki lapang pandang 180o (dengan lapang pandang kanan 45o, kiri 45o, atas 25o, dan bawah 65o), individu tunanetra hanya memiliki total lapang pandang sebesar 20o dengan pembagian lapang pandang kanan, kiri, atas, dan bawah yang bervariasi.
Individu pastially blind (low vision) adalah individu yang ketajaman pengelihatannya di antara 20/70 dan 20/200. Artinya, seorang dapat dikatakan low vision jika dia hanya dapat melihat jelas pada 20 feets (+ 6 meter), sedangkan individu dengan pengelihatan normal mampu melihat jelas pada jarak 70-200 feets (+ 20-60 meter).
Pengertian Tunanetra Dalam Pendidikan
Individu tunanetra adalah individu yang mempunyai gangguan pengelihatn yang parah, hingga harus membaca dengan Braille atau metode-metode oral (audio tape dan recorder).
Individu pastially blind (low vision) adalah individu yang masih bisa membaca huruf cetak, meskipun masih memerlukan modifikasi alat bantu berupa kacamata, kaca pembesar, teleskop, dan lain-lain.
Perbedaan Pengertian Secara Legalitas dan Pendidikan
Perbedaan pengertian tunanetra dalam legalitas dan pendidikan terletak pada kebutuhan tunanetra itu sendiri. Pengertian tunanetra dalam legalitas mengacu pada sistem medis yang nantinya akan memberikan kelegalan akan ketunanetraan seseorang. Kelegalan ini dibuat sebagai bentuk kepedulian pemerintah (luar negeri, bukan Indonesia) akan kebutuhan khusus tunanetra. Melalui kelegalan ini, individu tunanetra akan mendapatkan pelayanan khusus dalam setiap fasilitas yang disediakan pemerintah, seperti pada rumah sakit pemerintah, pusat perbelajaan pemerintah, dan fasilitas lainnya yang dimiliki pemerintah.
Berbeda dengan pengertian tunanetra dalam legalitas pemerintah, pengertian tunanetra dalam pendidikan mengacu pada kepentingan pendidikan individu tunanetra. Pengertian tunanetra dalam pendidikan ini sendiri tidak memusatkan pada sisi medis individu, tapi mengutamakan apa yang harus dilakukan seorang pendidik kepada individu yang memiliki gangguan pengelihatan atau tunanetra.

