Showing posts with label Teori Belajar Pembelajaran. Show all posts
Penerapan Teori Belajar Kognitivisme dalam Pembelajaran
Pada hakekatnya teori belajar
kognitivisme adalah sebuah teori yang cenderung melakukan praktik yang mengarah
pada kualitas intelektual peserta didik. Konsekuensi dari teori ini adalah
proses pembelajaran harus lebih memberi ruang yang luas agar murid dapat
mengembangkan kualitas intelektualnya. Penerapan
teori belajar kognitivisme ini yaitu guru harus memahami bahwa murid bukan
sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah
dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan murid
sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika
tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang
bermakna, memerhatian perbedaan individual murid untuk mencapai keberhasilan murid.
Untuk memperoleh gambaran
yang lebih jelas tentang teori belajar kognitivisme, di bawah ini disajikan
beberapa prinsip penerapannya (Nasution, 1982).
a.
Belajar itu berdasarkan keseluruhan
Dalam teori ini dianggap bahwa
keseluruhan itu lebih memiliki makna dari bagian-bagian. Bagian-bagian hanya
berarti apabila ada dalam keseluruhan. Sebuah kata akan bermakna manakala ada
dalam sebuah kalimat. Demikian juga kalimat akan memiliki makna apabila ada
dalam suatu rangkaian karangan.
Makna dari prinsip ini
adalah bahwa pembelajaran itu bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi
mesti berangkat dari suatu masalah. Melalui masalah itu murid dapat mempelajari
fakta.
b.
Anak yang belajar merupakan keseluruhan
Prinsip ini mengandung
pengertian bahwa membelajarkan anak itu bukanlah hanya mengembangkan
intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak seutuhnya. Apa artinya
kemampuan intelektual manakala tidak diikuti sikap yang baik atau tidak diikuti
oleh pengembangan seluruh potensi yang ada dalam diri anak. Oleh karenanya
mengajar bukanlah menumpuk memori anak dengan fakta-fakta yang lepas-lepas,
tetapi mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri anak.
c.
Belajar berkat insight
Telah dijelaskan bahwa
insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian di dalam suatu situasi
permasalahan. Dengan demikian, belajar itu akan terjadi manakala dihadapkan
kepada suatu persoalan yang harus dipecahkan. Belajar bukanlah menghafal fakta.
Melalui persoalan yang dihadapi itu anak akan mendapat insight yang sangat
berguna untuk menghadapi setiap masalah.
d.
Belajar berdasarkan pengalaman
Pengalaman adalah
kejadian yang dapat memberi arti dan makna kehidupan setiap perilaku individu.
Belajar adalah melakukuan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu yang
secara terus-menerus disempurnakan. Apabila seorang anak kena api, maka
kejadian akan memberi pengalaman setelah ia mengolah, menghubungkan, dan
menafsirkannya bahwa api merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan rasa sakit,
sehingga ia bisa menyimpulkan dan menentukan sikap bahwa api harus dihindari.
Akan tetapi, kemusian anak akan mereorganisasi pengalamannya bahwa api itu
ternyata besar juga manfaatnya dan tidak selalu berbahaya. Inilah hakekat pengalaman.
Dengan demikan, proses membelajarkan adalah proses memberikan
pengalaman-pengalaman yang bermakna untuk kehidupan anak.
Saekhan Muchith (2008: 69) menyatakan
bahwa teori belajar kognitivisme secara umum proses pembelajarannya harus
didasarkan pada asumsi sebagai berikut:
- Proses pembelajaran adalah suatu
realitas sistem.
Artinya, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh satu
faktor, tetapi ditentukan oleh berbagai faktor yang ada.
- Proses pembelajaran adalah
realitas kultur dan natural. Artinya, dalam proses pembelajaran tidak diperlukan
berbagai paksaan.
- Pengembangan materi harus
benar-benar dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas
kehidupan peserta didik.
- Metode pembelajaran tidak
dilakukan secara monoton. Metode yang bervariasi merupakan tuntutan mutlak dalam
proses pembelajaran.
- Keterlibatan murid secara aktif
dalam belajar amat dipentingkan. Hal ini dikarenakan asimiliasi dan akomodasi pengalaman
murid akan lebih baik jika murid aktif dalam belajar.
- Berlajar memahami akan lebih
bermakna daripada belajar menghapal. Agar lebih bermakna, informasi baru harus
disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan antara apa yang sedang
dipelajari dengan apa yang telah diketahui murid.
- Pembelajaran harus memperhatikan
perbedaan individual murid.
Tokoh-Tokoh Teori Belajar Kognitivisme
Dalam perkembangannya, teori belajar
kognitivisme didukung oleh beberapa tokoh.
1.
Teori Gestalt
Teori Gestalt termasuk kelompok
aliran kognitif holistic. Teori Gestalt dikembangkan oleh Koffka, Kohler, dan
Wertheimer. Teori ini berbeda dengan teori-teori yang telah dijelaskan
terdahulu. Menurut teori Gestalt, belajar adalah proses pengembangan insight.
Insight adalah pemahaman terhadap
hubungan antarbagian di dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori
behavioristik yang menganggap belajar atau tingkah laku itu bersifat
mekanistis, sehingga mengabaikan atau menghindari peran insight. Teori Gestalt
justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukkan tingkah laku.
Kohler menyimpan simpanse pada sebuah
jeruji. Di dalam sebuah jeruji tersebut disediakan sebuah tongkat, dan di luar
jeruji disimpan sebuah pisang. Setelah dibiarkan beberapa lama, ternyata
simpanse berhasil meraih pisang yang berada di luar jeruji dengan tongkat yang
disediakan itu.
Dari percobaaan tersebut, simpanse
mampu mengembangkan insight, artinya ia dapat menghubungkan antara jeruji,
tongkat, dan pisang. Ia paham bahwa pisang adalah makanan, dan ia paham juga
bahwa tongkat dapat digunakan untuk meraih pisang yang berada di luar jeruji.
Inilah hakikat belajar. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap makna dan
keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannnya.
Insight yang merupakan inti dari
belajar menurut teori Gestalt, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Kemampuan insight seseorang tergantung kepada
kemampuan dasar orang tersebut, sedangkan kemampuan dasar itu tergantung kepada
usia dan posisi yang bersangkutan dalam kelompoknya.
b.
Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman
masa lalunya yang relavan.
c. Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan
lingkungannya. Simpanse tidak dapat mungkin meraih pisang yang ada di luar
jerujinya apabila tidak disediakan tongkat.
Pengertian merupakan inti dari
insight. Melalui pengertian, seseorang akan dapat memecahkan persoaalan.
Pengertian itulah yang bisa menjadi kendaraan dalam memecahkan persoalan lain
pada situasi yang berlainan.
Apabila insight telah diperoleh, maka
dapat digunakan untuk menghadapi persoalan dalam situasi lain. Di sini terdapat
semacam transfer belajar, namun yang ditransfer bukanlah materi yang
dipelajari, tetapi relasi-relasi dan generalisasi yang diperoleh melalui
insight.
2.
Teori Medan
Teori Medan dikembangkan oleh Kurt
Lewin. Sama seperti teori Gestalt, teori Medan menganggap bahwa belajar adalah
proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang berkaitan proses pemecahan masalah
menurut Lewin dalam belajar adalah:
a. Perubahan struktur kognitif. Setiap orang akan dapat
memecahkan masalah jika ia bisa mengubah struktur kognitif.
b. Pentingnya motivasi. Motivasi adalah faktor yang dapat
mendorong setiap individu untuk berperilaku. Motivasi muncul karena adanya daya
tarik tertentu. Motivasi juga bisa juga muncul karena pengalaman yang
menyenangkan, misalkan pengalaman kesuksesan. Seseorang yang mengalami
keberhasilan mencapai sukses seperti berhasil meraih angka tertinggi dari suatu
tes, maka yang bersangkutan akan termotivasi untuk melakukan tindakan lebih
bagus, ia akan senang, gembira, dan akan merasa puas. Sebaliknya, seseorang
yang gagal meraih sukses akan merasa sedih, malu, tidak merasa puas, yang pada
gilirannya akan melemahkan motivasi mereka untuk bertindak lebih lanjut.
3.
Teori Konstruktivistik
Teori ini dikembangkan oleh Jean Piaget
pada pertengahan abad 20. Piaget berpendapat bahwa pada dasarnya setiap
individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi
pengetahuannnya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai
subjek, maka akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Sedangkan pengetahuan yang
diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang
bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat sementara setelah itu
dilupakan. Menurut Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan,
yakni (1) asimilasi, (2) akomodasi, dan (3) equilibrasi (penyeimbangan).
Asimilasi adalah proses
pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada. Akomodasi
adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
Sedangkan equilibrasi adalah penyesuaian kesinambungan antara asimilasi dan
akomodasi. Sebagai contoh, seorang murid yang sudah mengetahui prinsip-prinsip
penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadilah
proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada di benak murid)
dengan prinsip perkalian (sebagai informasi yang baru), inilah yang dimaksud
dengan proses asimilasi. Jika murid diberi sebuah soal perkalian, maka situasi
tersebut disebut akomodasi. Dalam hal ini berarti penerapan prinsip perkalian
dalam situasi yang baru dan spesifik.
Agar murid dapat terus berkembang dan
bertabah ilmunya, tetapi sekaligus menjaga stabilitas mental dalam dirinya
diperlukan penyeimbangan. Proses inilah yang disebut sebagai equilibras,
penyeimbangan antara dunia luar dan dunia dalam. Tanpa proses ini perkembangan
kognitif seseorang akan tesendat-sendat dan tidak berjalan dengan teratur.
Seseorang dengan kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai
informasi yang diterimanya dalam urutan yang baik, jernih, dan logis.
Sebaliknya, jika kemampuan equilibrasi seseorang rendah, ia cenderung menyimpan
semua informasi yang ada pada dirinya secara kurang teratur, sehingga ia tampil
sebagai orang yang alur berpikirnya ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit.
4.
Teori Gagne
Salah satu teori belajar yang berasal dari psikologi kognitif adalah
teori pemprosesan informasi (Information Processing Theory) yang dikemukakan
oleh Gagne. Menurut teori ini, belajar dipandang sebagai proses pengolahan otak
manusia sendiri yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Receptor (alat-alat indera) menerima
rangsangan dari lingkungan dan mengubahnya menjadi rasangan neural, memberikan
simbol-simbol informasi yang diterimanya.
b. Sensory register (penampungan kesan-kesan sensoris) yang terdapat pada
syaraf pusat, fungsinya menampung kesan-kesan sensoris dan mengadakan seleksi,
sehingga terbentuk suatu kebulatan perceptual (persepsi selektif).
Informasi-informasi yang masuk, sebagian diteruskan ke memori jangka pendek,
sebagian hilang dari system.
c. Short-term
memory (memory
jangka pendek) menampung hasil pengolahan perceptual dan menyimpannya.
Informasi tertentu disimpan lebih lama dan diolah untuk menentukan maknanya.
Memori jangka pendek dikenal juga dengan memori kerja (working memory),
kapasitasnya sangat terbatas, waktu penyimpanannya juga pendek. Informasi dalam
memori ini dapat ditransformasi dalam bentuk kode-kode dan selanjutnya
diteruskan ke memori jangka panjang.
d. Long-term
memory (memori
jangka panjang), menampung hasil pengolahan yang ada di memori jangka pendek.
Informasi disimpan dalam jangka panjang dan bertahan lama, siap untuk dipakai
bila diperlukan. Saat tranformasi informasi, informasi-informasi baru
terintegrasi dengan informasi-informasi lama yang sudah tersimpan. Pengeluaran
kembali atas informasi-informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang
adalah dengan pemanggilan. Ada dua cara pemanggilan, (1) informasi mengalir
dari memori jangka panjang ke memori jangka pendek dan kemudian ke response
generator, (2) informasi mengalir langsung dari memori jangka panjang ke
response generator selama pemanggilan (respon otomatis).
e. Response
generator (pencipta
respon), menampung informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang dan
mengubahnya menjadi reaksi jawaban.
Menurut psikologi kognitif, reinforcement sangat penting
juga dalam belajar sebagai feedback, mengurangi
keragu-raguan sehingga mengarah
kepada pemahaman.
Pengertian Teori Belajar Kognitivisme
Istilah ‘kognitif’ berasal dari kata ‘cognition’ yang berarti pengertian, mengerti. Lebih luas lagi, kognitif juga bermakna perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia dan menjadi satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.
Dalam kaitannya dengan balajar dan pembelajaran, kognitif menjadi salah
satu cabang dari teori belajar yang pernah ada hingga saat ini. Teori belajar
kognitivisme, begitulah nama teori ini dikenalkan. Sebagaimana namanya, teori belajar kognitivisme lebih menekankan pada
belajar merupakan suatu proses atau upaya untuk mengoptimalkan pada aspek rasional yang dimiliki orang lain.
Teori belajar kognitivisme merupakan
suatu bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual, yaitu proses
untuk membangun atau membimbing murid dalam melatih mengoptimalkan proses
pemahaman terhadap suatu objek. Teori ini menyatakan bahwa tingkah laku
seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang
berhubungan dengan dirinya. Dengan demikian, belajar dalam teori ini merupakan
perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlibat sebagai
tingkah laku yang tampak.
Secara umum, teori belajar
kognitivisme memiliki pandangan bahwa belajar dan pembelajaran adalah suatu proses
yang lebih menitikberatkan pada proses membangun ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi, dan aspek-aspek yang bersifat intelektualis lainnya. Oleh
karena itu, teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar daripada
hasil belajar itu sendiri, sehingga belajar tidak sekadar melibatkan hubungan
antara stimulus dan respon, tetapi juga melibatkan proses berpikir yang sangat
kompleks dan komprehensif.

