Showing posts with label Movie Review. Show all posts

A Street Cat Named Bob; Ketulusan, Kesungguhan, dan Keberkahan

Bismillahirrahmanirrahim


“Yang menjadi masalah bukanlah seberapa besar masalah yang sedang kita miliki, melainkan seberapa besar hati kita untuk menghadapi sebesar apapun masalah yang sedang kita lalui”
(Lisfatul Fatinah)

Saya suka sekali mengetahui perjalanan hidup orang-orang besar yang diabadikan dalam buku dan film. Setiap kali selesai membaca ataupun menonton biografi orang-orang hebat, saya selalu mendapatkan asupan semangat lagi. Ya.., meskipun pada akhirnya setiap kisah orang-orang hebat itu memiliki satu pola; ketulusan dan kesungguhan dalam memperjuangkan sesuatu.

Sama seperti sebuah film yang baru saja saya tonton; semuanya berisikan ketulusan dan kesungguhan. Ini adalah film biografi kesekian yang tersimpan di laptop butut saya. Berbeda dengan film-film biografi lainnya, saya memilih menonton film ini bukan karena synopsis atau review film yang saya baca dari blogger lainnya, melainkan saya memilih menonton film ini karena foto yang terpampang pada poster filmnya.

Poster film ini memperlihatkan seekor kucing gemuk berbulu coklat keemasan yang sedang berdiri di pundak pria berambut panjang. Saya berpikir film ini merupakan film biografi seekor kucing (despite I thought it was impossible though, hehehe) yang  menceritakan petualangan kucing nakal yang menggemaskan. Hal ini karena sebelumnya saya membaca beberapa kisah kucing setia di Eropa, hihihi. Ternyata saya salah. Film ini justru berkisah tentang kehidupan pria berambut panjang yang berubah drastis setelah bertemu dengan kucing tersebut.

“A Street Cat Named Bob” adalah judul film yang diadaptasi dari buku biografi best seller yang terbit di London, Inggris, pada 2012 lalu. Buku ini ditulis langsung  tokoh utamanya, James Bowen, dibantu oleh seorang editor dan penulis yang menawarkan James menceritakan kisah dirinya dan kucing yang selalu dibawanya, yang menjadi sorotan warga London beberapa tahun lalu.

Film ini berkisahkan tentang James Bowen yang kecewa atas perceraian kedua orang tuanya dan menjadikan jalanan sebagai tempat barunya. Wal hasil, James menjadi seorang junkie (pecandu) yang bertahan hidup dengan menjadi bunker (seniman jalanan). Kehidupan di London yang cukup mahal, membuat James di ambang keputusasaannya meskipun James telah memutuskan untuk berhenti menjadi pecandu. FYI: dibutuhkan setidaknya 1200 pounds untuk biaya hidup satu orang di London atau setara dengan sekitar 20 juta rupiah per bulannya.

Kisah James sedikit berubah arah ketika seorang pelayan (mungkin juga pemiliknya) restoran cepat saji meminta 3 pounds untuk makanan yang dipesan James untuk makan malam. Saat itu uang James tidak cukup dan dirinya memohon agar diberikan makanan meskipun dirinya harus bernyanyi tanpa dibayar. Sayangnya, pelayan restoran tetap tidak ingin memberikan makanannya. Dia justru lebih memilih membuang makanan yang sudah dipesan James ke tempat cuci piring, tepat di depan mata James. Malam itu James kecewa dan merasa putus asa dengan hidupnya hingga memilih kembali memakai drugs hingga over dosis. James nyari kehilangan nyawanya.

Psikiater yang menangani kasus James membantunya agar bisa berstatus “clear”, sembuh dari kecanduan dan bebas dari narkoba dengan menggunakan methadone –heroin diganti methadone dengan dosis pemakaian yang dipantau ketat oleh farmasis dan psikiater. Sejak saat itu, James mendapatkan tempat tinggal yang dijamin pemerintah berupa flat hingga dinyatakan “clear” dan layak hidup mandiri.

Saat sudah menempati flat dan mencoba hidup baru inilah James bertemu dengan seekor kucing jalanan yang kemudian dipanggil Bob –nama yang diberikan Betty, tetangga James. James menemukan Bob terluka dan berusaha mengobati Bob meskipun ia harus kehilangan uang untuk jatah makannya selama sepekan demi membeli obat Bob. Alasan utama James tidak ingin melepas Bob adalah rasa iba James pada Bob. James tahu betapa tidak nyamannya tinggal di jalanan dan dirinya tidak ingin Bob mengalami hal yang sama dengan dirinya. Saat itu James berjanji akan menjaga Bob, kucing yang ternyata kemudian suka sekali mengikut aktivitasnya dan duduk di pundaknya.

Selama masa program lepas dari narkoba, James tetap menjalankan pekerjaannya sebagai seniman jalanan bersama Bob. Penampilan James bersama Bob menarik perhatian banyak orang. Hal ini membuat James mendapatkan banyak uang  hingga pada suatu hari James nyaris dipenjara enam bulan karena sebuah kasusu pekelahian. James tidak diperbolehkan bekerja sebagai seniman jalanan lagi atau dirinya akan dipenjara lebih lama lagi sekaligus kehilangan Bob. James akhirnya memutuskan menjual Majalah Big Issue bersama Bob. Lagi-lagi dua pria ini (manusia dan kucing) menarik perhatian pengguna jalan. Kebanyakan di antara pejalan kaki yang membeli majalah sebenarnya ingin menyapa dan berfoto dengan Bob.

Perjuangan James untuk menjadi lebih baik dan keluar dari jalanan belum selesai. James mendapatkan beberapa masalah dalam pekerjaannya hingga James nyaris kehilangan Bob setelah Bob ketakutan melihat seekor anjing dan kabur selama beberapa hari. Sekembalinya Bob ke flat, James menjalankan fase terakhir program pemulihannya. James tidak keluar selama beberapa hari dari tempat tinggalnya dan tidak juga menerima methadone hingga dinyatakan bersih dari ketergantungannya pada obat-obatan.

He did it! :D James dinyatakan bebas dari narkoba dan menerima tawaran dari sebuah penerbitan untuk menceritakan tentang dirinya dan kucing yang selalu bersama dengannya. Lebih dari itu, James menemui ayahnya yang dipikirnya tidak ingin menemuinya setelah dirinya menjadi seorang pecandu. Tetapi ternyata ayahnya selama ini memendam kerinduan untuk bertemu James dan ingin sekali menjalani hubungan lagi selayaknya ayah dan anak.

***

Well, film ini sesungguhnya adalah film motivasi yang dikisahkan dengan lembut, tapi entah sisi melankoli saya selalu mendominasi dan membuat saya menangis di hampir semua bagiannya.

Ada beberapa hal sebenarnya yang saya dapatkan dari film ini. Beberapa hal yang menjadi alasan saya ingin membuat tulisan ini dan berharap teman-teman pembaca ikut menontonnya. *promosi :D

Hal pertama yang ada dalam pikiran saya adalah keseluruhan kisah James tidak akan pernah terjadi jika James tidak frustasi karena perceraian kedua orang tua. Ya, sebab awal mula James menginjakkan kaki di dunia jalanan adalah sejak kedua orang tuanya memutuskan bercerai. Sebagaimana yang sering saya katakan atas ketidaksukaan saya pada konflik orang dewasa yang melibatkan anak-anak, sebab anak-anak selalu menjadi korban konflik orang dewasa dan saya membenci itu :(

Titik awal kisah James ini setidaknya menjadi pengingat –terlebih untuk saya pribadi, semoga tidak menjadi seperti demikian– tentang hal-hal yang harus dikorbankan untuk keluar dari masalah, termasuk mengorbankan anak sendiri. Yeach, we must think of it thousands times before deciding it! Meskipun tidak semua anak broken home memiliki record kehidupan buruk, frustasi, menjadi pecandu, bahkan bunuh diri, tetapi saya tetap berharap semoga angka perceraian semakin menurun dan hak-hak anak untuk dibahagiakan dan dididik oleh dua sosok tauladannya terpenuhi dengan baik. Amiin ^^

Kedua, tentang kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Some day you go out and you don’t come back. You come back some one new. And all the pain, all the hurt, all the lonely night, it’s all a part of you. But what all that really matter is you don’t stop trying. Don’t give up!

What all really matter is you don't stop trying. Don't give up!

Dalam film ini James selalu menyanyikan sebuah lagu yang liriknya penuh akan semangat di atas, meskipun James tidak pernah menyanyikannya dengan semangat. Hal ini mengingatkan saya pada sebuah pepatah terkenal Arab, manjadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang mendapatkan hasil.

Kisah ini menunjukkan James yang bersungguh-sungguh ingin keluar dari jalanan dan ketergantungan narkoba dibantu psikiaternya sebagai orang yang memberikan arahan kepadanya. Hal ini sama seperti kehidupan kita sebenarnya, kita sudah memiliki panduan kita yang sempurna, Al-Qur’an dan Sunnah, untuk keluar dari berbagai permasalahan. So, jika suatu hari kita tersesat dan belum menemukan jalan keluar, mungkin kita yang kurang bersungguh-sungguh mematuhi Al-Qur’an dan Sunnah sehingga kita kurang bersungguh-sungguh ingin keluar dari masalah.

Siap menanggung beban adalah tabiat bagi orang yang bersungguh-sungguh. Begitulah yang pernah saya baca dari seorang blogger Indonesia yang berdomisili di London. Karena jalan menuju hal baik tidak selalu mudah, maka akan ada banyak beban yang akan singgah di pundak kita. Begitulah "siap menanggung beban" bukan lagi menjadi sebuah risiko yang harus dihadapi melainkan sebuah sikap, tabiat yang semestinya ada pada setiap orang, terutama muslim, untuk mencapai sesuatu. Seperti James yang dikisahkan berkali-kali mengalami hambatan dalam proses melepaskan diri dari narkoba, tetapi dirinya selalu berusaha berkali-kali dengan berbagai cara yang bisa dia lakukan.  


Kecerdasan bukanlah penentu keberhasilan seseorang mencapai impiannya. Adalah kemauan yang kuat dan kesungguhan yang menjadi motor penggerak impian itu mendekat.
(Anonim)

Ketiga, kisah ini sesungguhnya tentang ketulusan hati yang membuahkan kebaikan tak bertepi.  Apa yang paling menonjol dalam kisah hidup James hingga seorang editor buku menawarkannya untuk menuliskan kisah hidupnya? Hubungan James dan Bob di jalanan yang menarik perhatian banyak orang. Jika saja James tidak berjanji untuk menjaga Bob dan keduanya tidak memiliki hubungan bernama ketulusan, mungkin kisah James tidak akan pernah diabadikan hingga menginspirasi banyak orang.

Banyak kisah yang saya baca tentang orang-orang hebat dan saya melihat satu hal yang tak pernah luput dari sisi kesungguhan mereka; yaitu ketulusan hati yang tertuang dalam sikap. 

Sebagai muslim, ketulusan terbesar selalu saya lihat dalam kisah perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan ajaran kasih sayang Allah SWT dan kesetiaan para sahabat dalam menemani beliau. Ketulusan kepada sesama manusia tidak pernah saya pelajari selain dari kebiasaan Rasulullah SAW melumati makanan dan menyuapinya kepada seorang kakek Yahudi. Saya tidak pernah melihat ketulusan besar seorang pemimpin kepada yang dipimpinnya selain dari kisah Rasulullah SAW yang merindukan umat yang tak pernah dilihatnya dan terus menerus menyebut serta mengkhawatirkan umatnya selama beliau dalam sakartul maut. Dan banyak kisah-kisah ketulusan lainnya di bumi ini, termasuk kisah James dan Bob, yang mengajarkan bahwa; pertama ketulusan tidak pernah terungkap dari lisan melainkan tampak dari sebuah sikap dan tabiat untuk berkorban, kedua ketulusan tidak akan pernah mengkhianati pemiliknya.

Di sisi lain sebagai muslim, ketulusan ini mungkin akan diterjemahkan dalam bentuk keikhlasan yang bermuara pada  keberserahdirian seorang hamba (tawakal). Saat kemauan telah dibuktikan dengan kesungguhan dalam usaha, kemudian berdoa sebagai penguat kesungguhan, maka ketulusan yang paling tinggi dalam usaha tersebut adalah menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Berserah diri pada Allah SWT merupakan puncak aktivitas dalam setiap usaha setiap muslim untuk mencapai tujuan dunia ataupun akhirat. Sehingga bila tujuan tersebut berhasil diraih, berharap tidak ada keangkuhan dan kesombongan di dalam keberhasilan tersebut melainkan syukur dan takzim pada kekuasaan Allas SWT dalam membantu. Dan bila hasil yang diraih belum sesuai harapan, semoga tidak ada kekecewaan mendalam melainkan introspeksi diri dan keyakinan bahwa ada hal yang jauh lebih baik yang sedang Allah SWT siapkan.

Selanjutnya, apa lagi yaa… Oh ya, sebuah scene pendek tetapi paling menyentuh bagi saya pribadi adalah setelah dinyatakan James sembuh dan bebas dari narkoba, dia dan Bob menemui ayahnya. Saat itu James baru menyadari bahwa ayahnya sangat ingin bersama-sama dengan James (kalau tidak salah hak asuh James ada pada ibunya) dan ayahnya selalu membawa foto James kecil kemanapun di dompetnya. It’s fully simple touching scene! :’)

Indeed, tidak ada yang paling pandai menyimpan cinta selain seorang ayah. Pengorbanan ayah selalu saja dilakukan diam-diam tapi penuh dengan kejutan :’) Mungkin yang terakhir ini agak kurang nyambung dengan tulisan keseluruhan, tapi semoga tetap bisa diambil hikmahnya untuk terus menyayangi kedua orang tua, tanpa atau dengan mereka di dekat mereka, tanpa atau dengan kasih sayang yang ditampakkan mereka.

The Last, mungkin ini adalah bagian terpenting dalam kisah James dan Bob. Di akhir film ini James menunjukkan “kesetiaan dan ketulusannya” pada dunia jalanan. Kendati dirinya sudah sukses, James tidak melupakan dunia yang pernah disinggahinya. Kesuksesannya justru mendorongnya untuk berbuat baik dan berharap orang-orang yang pernah “kacau” dan menjadi tunawisma seperti  dirinya bisa menjadi lebih baik lagi, bahkan lebih baik daripada dirinya saat ini. Setelah meraih kesuksesannya dengan bukunya, James dikabarkn aktif dalam social activity yang membantu meningkatkan kesadaran para tunawisma dan menjalankan kegiatan amal untuk hewan. Oh, those’re cute ideas :’)

Well, saya hanya menemukan satu kalimat yang bisa mewakili kebersamaan Bob dengan James; ketulusannya membuahkan kebaikan yang tak pernah putus. Kebersamaan mereka membawa kebaikan yang terus menerus datang sebagai ganti dari kesungguhan dan ketulusan James juga kesetiaan Bob. Sebagaimana dalam Islam, kebaikan yang tidak pernah putus atau keberkahan adalah hal yang seyogyanya dicari. Memang tidak pernah ada kemudahan untuk mencapai kebaikan-kebaikan yang terus menerus datang, akan selalu ada tantangan yang menemani setiap kesungguhan. Tugas kita adalah siap menghadapi semua kesulitan tersebut dengan kebesaran hati dan ketulusan sedalam-dalamnya kepada orang-orang di sekitar kita dan juga kepasrahan setinggi-tingginya kepada Allah SWT.

The real James Bowen and Bob. I do love the way Bob stands on James' shoulder :)
“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berhaap.”
(Allah SWT dalam QS. al Insyirah ayat 1-8)


Jakarta, 2 Maret 2017

Lisfatul Fatinah Munir
fatinahmunir@gmail.com
IG: @fatinahmunir

Semoga bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan ^^

Note:
Saya mengunduh A Stret Cat Named Bob di sini.
Silakan ikuti perintah yang tertera di layar dan pilih kualitas gambar yang diinginkan. Saran saya, teman-teman pilih yang pada baris provider google share, karena mengunduhnya lebih mudah. Hanya saja selain data masuk ke laptop teman-teman, sayangnya data akan masuk ke google drive kalian. So, setelah mengunduh silakan cek google drive dan hapus film yang tersimpan di sana untuk menghemat ruang penyimpanan google drive kalian. Terima kasih :)
03 March 2017
Posted by Lisfatul Fatinah

Belajar dari Si Idiot (I am Sam: Love is All You Need)




"Mengapa Ayah berbeda?"

"Apa maksudmu?"

"Mengapa Ayah tidak seperti yang lain?"

"Yeah, tapi apa maksudmu?"

"Iya, mengapa Ayah berbeda dengan yang lainnya? Apakah terjadi ini takdir Tuhan? Atau sebuah kecelakaan?"

"Maaf, maafkan aku. Maafkan aku."

"Ayah tidak perlu begitu. Aku beruntung memiliki Ayah sepertimu, karena tidak ada Ayah lain yang mengajak anaknya ke taman hampir setiap sore." 

Pembuka catatan ini adalah satu dialog antara orangtua dan anaknya yang berusia tujuh tahun dalam sebuah film drama berjudul I am Sam (Love is All You Need) yang pernah saya tonton. Um, sebenarnya saya lebih sering mengonsumsi film kolosal (perang, sejarah, dan action), tapi berhubung ini adalah film drama yang pertama kali saya tonton dengan "sadar" dan kandungan film ini sangat bagus, maka saya ingin berbagi tentang film ini kepada teman-teman.



Film ini dibuka dengan adegan Sam yang sedang bekerja di Starbucks Coffee. Di awal film ini, penonton disajikan keautistikan Sam yang meletakan seluruh barang dengan jarak dan posisi yang sama. Selain itu, Sam juga meletakkan bubuk krim kopi berdasarkan warna yang sama sekalipun dia sedang menyapa para pelanggan yang datang.

Di saat Sam sedang menikmati pekerjaannya, atasan Sam yang bernama George (Bobby Cooper) memberitahukan bahwa Rebecca (Caroline Keenan), wanita tunawisma yang tinggal bersama Sam dan sedang mengandung anak Sam, sedang dalam proses melahirkan. Dengan penuh antusias sekaligus khawatir, Sam meninggalkan tempat kerjanya dan menemui Rebecca.

Tak lama setelah Sam datang, Rebecca melahirkan seorang anak perempuan. Lucy Diamon Dawson adalah nama yang diberikan Sam kepada anaknya. Nama ini diambil dari lagu Lucy in The Sky With Diamons yang dipopulerkan oleh The Beatles, grup musik rock pop kesukaan Sam. Kisah ini dilanjutkan dengan perginya Rebecca setelah melahirkan. Di scene berbeda, Sam mengatakan bahwa Becca, begitulah panggilan Rebecca, tidak ingin memiliki anak dari Sam dan dia hanya membutuhkan tempat untuk tidur.

Kepergian Becca menjadikan Sam sebagai single parent di tegah keterbatasannya. Sam tidak bisa mengenakan popok Lucy dengan benar dan kebingungan ketika Lucy kecil selalu terjaga dari tidurnya dan menangis di tengah malam. Yang ada di pikiran Sam hanya satu, semua nampak sangat kecil.

Beruntung Sam memiliki seorang tetangga bernama Annie (Dianne Wiest). Wanita paruh baya yang sering mendengarkan tangisan Lucy. Annie mengajarkan Sam bagaimana caranya merawat bayi. Annie yang memahami keterbatasan Sam mengajarkan bagaimana Sam harus mengatur pemberian susu untuk Lucy. Untuk memudahkan Sam, Annie memberitahu bahwa Sam harus memberi susu kepada Lucy berdasarkan jam tayang kartun-kartun yang ada di Nickelodeon.

Lucy tumbuh menjadi anak yang sehat. Sam selalu membawanya bekerja. Namun, Lucy menjadi kendala ketika ia semakin besar. Hingga akhirnya Sam memohon kepada Annie untuk dapat menjaga Lucy selama ia bekerja.

Dalam drama ini, tidak hanya Sam yang digambarkan sebagai tokoh dengan disabilitas. Masih ada empat orang teman Sam yang memiliki disabilitas, yakni Robert, Joe, Wali, dan Brad. Keautistikan kelima sahabat ini digambarkan dengan kebiasan mereka yang tak pernah berubah selama bertahun-tahun. Setiap hari Rabu adalah hari mereka makan di IHOP, menonton video di setiap Kamis malam, dan pergi berkaraoke bersama setiap Jumat. Dan kebiasaan ini pun masih dilakukan meski sudah ada Lucy di antara mereka.

Selain hal di atas, setiap malam Sam juga selalu membacakan Lucy sebuah cerita anak berjudul Telur Hijau dan Ham (Green Egg dan Ham). Berulang kali buku itu dibacakan oleh Sam dengan penuh semangat. Saya sendiri menilai bahwa muatan kata dalam buku tersebut masih dalam kategori mudah dan Sam dapat dengan mudah menguasainya–mungkin juga sudah menghapalnya di luar kepala.

Tak hanya kasih sayang dari Sam, Lucy juga menerima limpahan kasih sayang dari keempat sahabat Sam. Mereka pergi bersama untuk membeli sepatu sekolah Lucy. Saat ingin membayar bill-nya, ternyata Sam kekurangan uang. Selayaknya orang yang normal pada umumnya, dengan sigap sahabat-sahabat Sam mengumpulkan uang yang mereka punya untuk membantu Sam membayar sepatu yang diinginkan Lucy.

Di sekolah barunya, Lucy tumbuh menjadi anak yang cerdas. Hal inilah yang mejadi masalah dalam kisah ini. Lucy yang memiliki kemampuan intelejensi di atas rata-rata anak seusianya, membuat banyak orang meragukan Sam yang memiliki kemampuan intelejensi tidak lebih dari anak tujuh tahun untuk tetap merawat Lucy.

Melalui lukisan karya Lucy yang di dalamnya terdapat gambar Lucy yang jauh lebih besar dari Sam, guru Lucy melihat sikap pembatasan diri Lucy di kelas. Bermula dari sinilah, banyak orang yang mengkhawatirkan kelangsungan hidup, lebih tepatnya proses tumbuh kembang kecerdasan Lucy, jika Lucy tetap tinggal bersama Sam. Untuk menindaklanjuti masalah ini, hak asuh Lucy pun dimasukkan ke dalam pengadilan. Dan selama kasus ini berlangsung, Lucy tinggal di Departemen Layanan Anak dan Keluarga. Sam hanya diperbolehkan bertemu dengan Lucy dua kali seminggu dengan intensitas waktu dua jam di setiap pertemuan.
  
Melalui kasus ini Sam bertemu dengan Rita Harrison (Michelle Pfeiffer), seorang pengacara terkenal yang sombong dan angkuh. Mulanya Rita tidak ingin menolong Sam karena ketidakmampuan Sam untuk membayar Rita. Tapi karena terjebak oleh kesombongannya sendiri, Rita akhirnya melakukan pro bonno (membantu atau gratis) untuk kasus Sam.

Banyak sekali hambatan yang dialami Sam dan Rita untuk menjalankan sidang hak asuh Lucy. Salah satunya adalah tidak adanya saksi yang layak untuk mengatakan di hadapan hakim dan negara bahwa Sam layak merawat Lucy meski dia seorang berketerbelakangan mental.

Di tengah keputusasaannya menunggu sidang akhir, Sam mengurung diri di kamar dan tidak ingin bertemu dengan Rita. Karena kesal dengan sikap kekanak-anakan Sam, Rita mencaci maki Sam bahwa Sam tidak bisa menghargai dirinya sebagai pengacara yang sudah membantunya tanpa bayaran. Dengan lugu Sam menjawab cacian Rita bahwa Rita tidak mungkin mengerti kesedihan Sam karena nasib Rita tidak seburuk Sam. Mendengar jawaban Sam, Rita menangis karena Sam tidak mengetahui kehidupan Rita yang sebenarnya.

Rita memang pengacara dan ibu muda yang sukses. Rumah Rita sangat besar dan memiliki barang-barang mewah. Akan tetapi, semua itu tidak berarti bagi Rita karena suaminya adalah seorang lelaki yang suka selingkuh dan anaknya, Willy, membencinya karena dia terlalu sibuk di luar dan tidak pernah memerhatikan Willy.

Selama menonton film ini, emosi penonton dibuat meletup-letup karena kepolosan seorang ayah berketerbelakangan mental dan keangkuhan orang-orang "normal" yang menganggap seorang disabilitas tidak layak menjadi orang tua. Selama saya menonton film ini, tanpa terasa saya menangis dan kadang tertawa oleh percakapan Sam dan Lucy yang lebih mirip percakapan anak sesama tujuh tahun dibandingkan dengan percakapan antara ayah dan anak.

Dari film ini, saya menilai betapa bijak dan dewasanya Lucy kecil di tengah kehidupannya yang berbeda dengan teman sebayanya. Lucy enggan membacakan sebuah buku yang di dalamnya memuat kata “different”. Lucy mengerti bahwa isi buku tersebut menceritakan tentang perbedaan yang terjadi dalam kehidupan manusia, termasuk tentang keadaan ayahnya yang seorang penyandang disabilitas.

Seperti yang sudah saya paparkan di awal bahwa Sam memiliki empat sahabat sesama penyandang disabilitas dan Lucy pun ikut bersahabat dengan mereka. Begitu menyentuh ketika sahabat-sahabat Sam datang ke pengadilan dan membawa poster bertuliskan “Free Lucy Dawson” untuk mendukung Sam. Salah satu di antara mereka berkata bahwa mereka menyayangi Lucy. Adegan ini seakan ingin memberitahukan penonton bahwa penyandang disabilitas juga memiliki rasa kasih sayang dan mengerti mengenai hak-hak mereka.

Yang membuat film ini begitu menyentuh hati saya adalah ketika penonton disajikan kehidupan "Si Cacat" Sam dan "Si Normal" Rita yang saling bertolak belakang. Dari sini saya belajar bahwa kebahagiaan tidaklah sebatas harta dan tahta, tapi bagaimana kita menyikapi kasih sayang keluarga sederhana dan "berkekurangan" menjadi hal yang istimewa dan berharga.

Sisi lain dari film ini juga menjelaskan bahwa betapa perlunya para orang tua melimpahkan perhatian kepada anak mereka. Limpahan kasih sayang orang tua ini berimbas pada sikap anak kepada orang tua, seperti Lucy yang begitu menyayangi Sam dan keterbatasannya. Dan Willy, anak Rita, justru membenci Rita yang selalu lembur di kantor. Sam mengajarkan banyak hal kepada Rita dan penonton bahwa kasih sayang adalah hal terbesar yang harus dimiliki seorang anak. Sama seperti subjudul film ini, Love is All Need. Cinta adalah kebutuhan semua orang, terutama seorang anak.

Saya tidak ingin menikmati keindahan film ini sendirian. Saya ingin memberitahukan kepada teman-teman saya bahwa film I am Sam (Love is All Need) sangat menginspirasi siapapun yang menontonnya. Di samping itu, dengan film ini saya ingin memperkenalkan sekaligus menjadikannya cerminan atas kehidupan seorang disabilitas. 

Film berdurasi 139 menit ini tak sekadar mengajak penontonnya tertawa dan menangis. I am Sam (Love is All You Need) juga menyisipkan pesan yang luar biasa kepada penontonnya, sehingga film ini patut ditonton oleh seluruh kalangan, baik pendidik, orang tua, anak, dan masyarakat awam untuk mengetahui arti cinta yang sesungguhnya.

Menjadi orang tua adalah tentang kesetiaan, tentang kesabaran, dan tentang mendengarkan. Dan tentang berpura-pura mendengar, bahkan ketika kau tidak bisa mendengar lagi. Dan juga tentang cinta.”[SAM]
13 March 2013
Posted by Fatinah Munir

Taare Zameen Par, Every Child is Special

Bismillahirrahmanirrahim

Sedikit kemanisan, sedikit ketidaknyamanan, sedikit kedekatan. 
Tidak terlalu banyak.
Sesungguhnya, yang kubutuhkan hanya kebebasan.
Aku hanya ingin menganyam mimpi sehangat sweater dan melewati awan putih sebagai duniaku.
Ada banyak anak yang seperti aku, sangat banyak.
Aku tidak sendiri berjalan dalam mimpi dengan penuh keheranan.

Bukalah mata kalian, lihat bagaimana aku berlari, bagaimana aku berputar ke sisi lain. 
Sekali aku menunjukkan duniaku, aku akan mengejutkan semua orang. 
Termasuk kamu

Syair di atas adalah penggalan lagu yang menggambarkan suasana hati seorang anak dalam film Bollywood yang sudah berkali-kali saya tonton. Judul film tersebut sama dengan judul catatan ini, Taare Zameen Par, Every Child is Special.

Dalam opening film ini penonton disajikan rentetan huruf dan angka yang berantakan dan membuat mata sakit. Lalu disusul oleh ekpresi guru yang sedang membacakan nilai murid-muridnya. Ketika membacakan nilai untuk murid yang pandai, mata yang bersinar dan senyuman ramah hinggap di wajah sang guru. Tapi, saat giliran membacakan nilai dalam kategori buruk, sang guru malah mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepala. Sebuah opening yang sulit ditebak, pikir saya saat pertama kali menonton film ini.

Film ini menceritakan tentang seorang anak bernama Ishaan Awasthi. Ishaan adalah anak sembilan tahun yang sudah dua kali tidak naik kelas. Di sini diceritakan bagaimana nakalnya seorang anak sembilan tahun. Ishaan dikarakterkan sebagai anak yang memiliki dunianya sendiri. Di dalam kelas hanya melamun, melihat keluar jendela dan mengimajinasikan banyak hal.

Tulisan tangan Ishaan tidak bisa terbaca, bahkan nyaris tidak menyerupai tulisan. Ishaan juga tidak bisa membaca dan berhitung. Pernah Ishaan disuruh oleh gurunya untuk membaca, tapi yang dia katakana, “Huruf-huruf ini menari, Bu. Saya tidak bisa membacanya.”

Ishaan juga tidak pernah mengerti ketika diperintah untuk membuka sebuah halaman buku. Rentetan kekurangan Ishaan membuatnya sering dihukum keluar kelas. Jadi, dalam bahasa awamnya, banyak yang mengatakan Ishaan bodoh dan nakal. Eit, meskipun begitu, Ishaan pandai menggambar. Superb! Itu kata yang tepat untuk setiap goresan cat airnya.

Hal ini berbeda jauh dengan Yohan Awasthi, kakak Ishaan, yang pandai di setiap pelajaran dan unggul dalam olahraga tenis. Banyak yang tidak percaya bahwa Ishaan adalah adik kandung Yohan.

Puncak kesedihan film ini (menurut saya) adalah ketika Ayah Ishaan, sosok yang selalu menginginkan kesempurnaan dari anaknya, memasukkan Ishaan ke dalam asrama khusus anak laki-laki. Keputusan ini diambil karena Sang Ayah menganggap kenalakan Ishaan sudah tidak bisa ditolerin. Di saat ini, meskipun Ishaan menangis dan membujuk akan menjadi anak yang baik, Ibu Ishaan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kehendak suaminya.

Di dalam asrama, perkembangan Ishaan jauh dari yang diharapkan. Ishaan menjadi anak yang tertinggal dengan yang lainnya. Temannya hanya satu, Rajan, anak manager asrama yang menyandang disabilitas tubuh (Rajan menggunakan kaki kanan palsu dan alat pengangga tubuh/kruk).

Ishaan sering mendapatkan hukuman, nilai nol di setiap pelajaran dan selalu menjadi ejekan teman-temannya.  Tak ada yang tahu di mana letak kekeliruan dalam sistem pengajaran yang diterima Ishaan. Tak ada yang memedulikan apa yang salah dalam sistem belajar Ishaan.

Di tengah cerita, datanglah seorang guru Kesenian Kontemporer yang baru, Ram Shankar Nikumbh yang diperankan oleh Aamir Khan. Guru Nikumbh awalnya mengajar di SLB C Tulip (SLB untuk penyandang grahita). Berbeda dengan guru sebelumnya yang selalu memukul buku-buku jari Ishaan dengan penggaris, guru Nikumbh datang ke kelas dengan memainkan seruling dan menari bersama murid-muridnya. (Bollywood banget ini mah :D)

Saat guru Nikumbh membagikan kertas untuk menggambar, Ishaan yang tadinya suka menggambar malah membiarkan kertas itu dikumpulkan dalam keadaan kosong. Guru Nikumbh merasakan keanehan dengan Ishaan. Dia sering melihat Ishaan dihukum dan merasa ketakutan. Lalu, Rajan sebagai teman dekat Ishaan menceritakan masalah Ishaan bahwa Ishaan tidak bisa baca tulis dan dikirim orangtuanya ke asrama sebagai tanda hukuman atas “kenakalan”nya.

Guru Nikumbh akhirnya mencari tahu letak kesulitan Ishaan dalam belajar. Dia memeriksa tulisan Ishaan yang sangat buruk. Dalam tulisannya, Ishaan selalu salah dalam menulis ejaan, tidak mampu membedakan b dan d, m dan w, u dan n, L dan 7, dan lainnya.

Setelah diidentifikasi, dalam dunia pendidikan khusus namanya asasmen, ternyata Ishaan mengalami kesulitan dalam mengenal huruf atau bisa dikatakan Ishaan adalah anak penyandang disleksia.

Guru Nikumbh mendatangi orang tua Ishaan untuk memberitahukan kondisi Ishaan yang sebenarnya. Tapi kedua orang tuanya tidak terima, terutama ayahnya. Kedua orang tua Ishaan tidak ingin dikatakan sebagai orang tua yang tidak memerhatikan anaknya.

Guru Nikumbh meminta kepada kepala sekolah agar Ishaan diperkenankan ujian lisan, bukan tulisan. Dan guru Nikumbh memberikan pelajaran intensif  kepada Ishaan untuk melatih keseimbangan sensorik dan motorik Ishaan, Agar Ishaan lebih bisa konsentrasi dan tidak lagi melihat huruf-huruf itu menari.

Alhasil, guru Nikumbh berhasil membangkitkan semangat belajar Ishaan. Ishaan yang tadinya merasa tidak ada yang mengerti dia, akhirnya merasakan hangatnya perhatian seorang guru. Tidak hanya itu, ayah dan ibu Ishaan mulai memerhatikan Ishaan dan tidak membedakan Ishaan dengan Yohan, kakaknya yang lebih pintar.

Kisah ini ditutup dengan menangnya Ishaan dalam kontes melukis antara murid dan guru. Ishaan tak bisa berhenti menangis saat tahu gambarnya menjadi juara pertama, sedangkan gambar guru Nikumbh menjadi juara kedua. Yang lebih mengharukan, ternyata guru Nikumbh melukis wajah Ishaan yang sedang tertawa.

***

What an amazing story it is!

Sebuah tontonan yang tak hanya menghibur, tapi kental akan pelajaran bagi para orang tua dan calon orang tua. Dari film ini saya belajar bagaimana memosisikan anak sebagai makhluk Allah. Maksudnya, menyadari bahwa setiap makhluk adalah berbeda, setiap makhluk adalah istimewa, pun itu anak kita nantinya.

Memang semua orang tua menginginkan anaknya menjadi yang terbaik dan mendapatkan yang terbaik. Sama seperti obsesi saya kepada keponakan saya. Tapi, perlu sedikit rasa sabar dan sadar bahwa yang terbaik menurut kita sebagai pendidik belum tentu baik untuk mereka yang dididik.

Belum lagi jika memang anak tersebut membutuhkan kekhususan, seperti Ishaan yang disleksia. Sebagai orang tua hendaknya mampu mengasesmen anaknya sendiri sekalipun orang tua tidak memiliki ilmu asasmen secara formal. Ya, paling tidak mengonsultasikannya pada orang yang kira-kira mengerti tentang pendidikan anak.

Saya jadi teringat kalimat yang dikatakan oleh dosen saya sebagai landasan kami (guru pendidikan khusus) dalam membimbing murid-murid kami.

“Jika saya tidak dapat mengerti dengan cara yang Bapak/Ibu ajarkan, dapatkah Bapak/Ibu mengajarkan saya dengan cara yang dapat saya mengerti.”

Dari dosen ini saya belajar bagaimana mengendalikan emosi dan obsesi seorang guru maupun orang tua, bahwa tidak ada anak yang sama, secara kemampuan maupun kekurangan. Mempelajari atau menurut bahasa saya adalah melebur dalam dunia anak tersebut adalah hal bijak yang dapat kita lakukan. Tidak hanya memperoleh kedekatan emosional, tapi kita juga dapat memberikan penanganan khusus sesuai kekhususan setiap anak. Khusus di sini bukan berarti si anak harus disabilitas, cacat, atau berkekurangan. Bukankah setiap orang berkekhususan? :)

Jika dibayangkan, memang sulit menerapkan ini pada sekolah regular yang mayoritas dihuni oleh anak normal pada umumnya. Tapi setidaknya orang tua yang berperan sebagai pendidik pertama harus mampu menerapkan ini.

Saya tidak ingin memperpanjang kata, karena saya pun belum punya anak (hehe, nikah aja belum :P). Ya, paling tidak film ini adalah rekomendasi terbaik untuk para orang tua, guru, calon guru, dan calon orang tua.

***

“Bukalah mata kalian, lihat bagaimana aku berlari, bagaimana aku berputar ke sisi lain.

Sekali aku menunjukkan duniaku, aku akan mengejutkan semua orang.”
Dan benar saja, seluruh mata membelalak saat lukisan Ishaan mampu mengalahkan lukisan guru Nikumbh. Dan ternyata, guru Nikumbh juga penyandang disleksia. Surprise!

-Lisfatul Fatinah Munir-
Tanah Merah,
Kamis malam, 15 Desember 2011
19 December 2011
Posted by Lisfatul Fatinah

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -