Showing posts with label Sepotong Inspirasi. Show all posts
Jingga; Tentang Sebuah Semangat yang Tidak Boleh Padam
![]() |
| Photo by Geronimo Giqueaux o Unsplash |
Kitainklusi. Inilah satu-satunya hal yang terlintas di
kepala saya setiap kali memikirkan kata jingga untuk tulisan hari ini. Ini
bukan dua kata yang tanpa sengaja ditulis tanpa spasi. Ini adalah dua kata yang
dengan sengaja digabungkan dan menjadi representasi dari impian besar di
baliknya. Ini adalah sebuah komunitas kecil yang pernah saya bangun dan saya
sempat ingin berhenti di tengah jalan.
Dua tahun lalu, saya sempat merasa gamang karena sedang
berada dalam titik kebosanan dengan rutinitas monoton di tempat kerja. Saat itu
saya sangat merindukan melakukan banyak hal sebagaimana dulu. Kebosanan ini
menginspirasi saya untuk membangun sebuah komunitas kecil yang bergerak dalam mengedukasi
kesadaran masyarakat untuk mengenal individu berkebutuhan khusus dan menerima
keberadaan mereka.
Persis di bulan Oktober dua tahun lalu saya mengumpulkan
beberapa teman kuliah dulu untuk mendengarkan kebosanan saya pada rutinitas dan
keinginan saya untuk membentuk sebuah komunitas yang selinear dengan profesi
kami. Harapan saya saat itu (dan sampai sekarang) adalah agar setiap orang dengan
disabilitas bisa diterima dengan baik di lingkungannya, diberikan kesempatan
yang sama seperti yang lainnya, dan diakui sebagai individu seutuhnya bukan dikenali
atas kedisabilitasannya.
Sudah hampir dua tahun sejak program pertama Kitainklusi
berjalan. Ini bukan waktu yang cukup matang untuk sebuah komunitas pastinya.
Ada banyak sekali tantangan selama menjalankan program-programnya. Sempat juga hiatus
beberapa kali dalam hitungan bulan. Tapi selalu ada banyak momen yang membuat
saya kembali menghidupkan Kitainklusi. Momen-momen ini biasanya ketika saya
mendapatkan pertanyaan di Instagram terkait kelanjutan program yang sudah
dijalankan Kitainklusi. Termasuk ketika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan
terkait penanganan anak berkebutuhan khusus dari orang tua ataupun guru.
Program-program Kitainklusi sebenarnya bukan program-program
besar, hanya tulisan-tulisan ringan di media sosial dan diskusi online terkait
kedisabilitasan dan keinklusian, Tapi ternyata yang kecil buat saya bisa berarti
besar buat orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang terus masuk ke akun Instagram
Kitainklusi ataupun pribadi seperti menjadi teguran buat saya kalau tidak ada kebaikan
yang sia-sia, sekecil apapun kebaikan yang pernah dimulai. Berkali-kali hiatus
dan berkontemplasi diri, saya tetap berusaha membangkitkan Kitainklusi.
Berharap hal-hal kecil yang sudah dilakukan bersama Kitainklusi dapat memberi manfaat
bagi banyak orang dan menjadi amal kebaikan yang tidak pernah putus buat saya
dan tim.
Lalu apa hubungannya antara Kitainklusi dan kata jingga
yang seharian ini saya pikirkan? Hubungannya ada pada warna identitas
Kitainklusi. Jingga adalah warna identitas Kitainklusi. Desain apapun yang
dibuat untuk keperluan Kitainklusi, pasti bernuansa jingga.
Kenapa jingga? Jawabannya kembali saya temukan ketika
saya membaca ulang dokumen profile Kitainklusi tepat sebelum menulis tulisan
ini.
“…………… Warna jingga yang merupakan turunan dari warna kuning melambangkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme yang merepresentasikan harapan-harapan Kitainklusi agar menjadi komunitas yang memberikan manfaat, kenyamanan, dan harapan bagi teman-teman yang terlibat dalam Kitainklusi. ……………”
Kalimat di atas tertulis dalam salah satu bagian penjelasan logo Kitainklusi. Saat membaca tulisan ini saya tersenyum sendiri, bertanya-tanya ke diri sendiri. Saya pernah menulis ini ya? Saya pernah merancang ini ya? Seperti ini ya impian saya dulu saat memulai Kitainklusi?
Karena kalimat di atas, hari ini saya jadi semakin ingin
bercerita tentang Kitainklusi, tentang impian di dalamnya yang sempat saya
lupakan, termasuk tentang semangat yang melekat di warna identitasnya. Saya
juga menjadi semakin semangat untuk meneruskan hal kecil ini. Setelah membaca
ulang dokumen profile Kitainklusi dan bercerita di tulisan ini, saya berharap
semoga bisa memiliki kekuatan jingga seperti dalam penjelasan warna identitas
Kitainklusi. Saya ingin tetap menjalankan komunitas ini dengan semangat yang
bisa memancarkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme kepada banyak orang
dengan disabilitas, keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan disabilitas,
juga para profesional yang bekerja untuk orang-orang dengan disabilitas.
Lisfatul Fatinah Munir | 10 Oktober 2019
Belajar dari Joker
Ternyata orang dengan gangguan mental sama seperti rembulan yang bercahaya. Mereka bisa bercahaya, tapi bukan sebenarnya cahaya yang mereka punya. Cahaya itu hanya biasan dari tempat lain, hanya delusi dari kehidupan lain. Rembulan itu tetap saja gelap walau disinari pantulan cahaya matahari. Sama seperti mereka yang memiliki gangguan mental tetap membutuhkan pertolongan meski tampak biasa saja ataupun bahagia.
![]() |
| Photo by Daniel Lincoln on Unsplash |
Disclaimer:
Saya bukan orang
yang memahami ilmu psikologi. Saya hanya penikmat film yang semangat menulis
tentang film kalau saya menilai film tersebut memiliki banyak pelajaran hidup
dan perlu ditonton oleh lebih banyak orang. Saya hanya orang yang senang
mengamati perilaku orang-orang sekitar saya karena tuntutan profesi sebagai
pendidik individu dengan autisme.
Awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Joker.
Satu-satunya alasan adalah karena saya tidak mengikuti serial Bat Man dan sama
sekali tidak mengenal sosok Joker. Ya hanya sekadar tahu kalau Joker adalah
musuh Bat Man. That’s it.
Tapi akhir pekan lalu rekan psikolog di tempat saya mengajar
bilang kalau film ini sangat bagus dan dia terus ngomporin saya untuk menonton film ini. Rasa penasaran saya semakin
menjadi ketika statement “Orang jahat
adalah orang baik yang tersakiti” yang mengiringi poster Joker berseliweran di
media sosial. Akhirnya kemarin sepulang mengajar saya memutuskan menonton film
ini.
Sepanjang film ini berputar, saya terus mengamati
perilaku setiap tokoh yang ada di dalamnya. Beberapa scene yang katanya menyeramkan, justru membuat saya merasa miris.
Ingin menangis tapi juga merasa sakit di saat bersamaan. Hingga setelah
menonton film ini secara tuntas, ada satu hal besar yang muncul di kepala saya.
Yakni betapa buruknya
dampak dari ketidaksadaran dan ketidakpedulian masyarakat terhadap orang dengan
gangguan mental di saat mereka berjuang menjadi “normal” di lingkungan
masyarakat yang tidak sedikit pun memahami mereka.
“My mother always tells me to smile and put on a happy face. She told me I had a purpose to bring laughter and joy to the world.”
Kalimat ini diucapkan Joker alias Arthur Fleck beberapa
kali dalam film ini. Saat pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung
merasakan hal yang aneh. Apakah setiap orang harus terus tersenyum? Apakah
setiap orang harus terus bahagia dan membahagiakan orang lain?
Saya jadi teringat film Inside Out, sebuah film animasi
yang menceritakan betapa sulitnya menjadi seorang anak yang diatur untuk terus
bahagia dan mengabaikan empat emosi utama lainnya; marah, sedih, jijik, dan
takut. Padahal merasakan lima emosi utama adalah pengalaman yang penting untuk
dapat melatih diri meregulasi emosi dengan benar.
Serupa dengan tokoh utama Inside Out yang dituntut untuk
terus bahagia di berbagai kondisi, di film ini Joker juga terus tersenyum di
berbagai kondisi yang dialaminya. Saat merasa bahagia ataupun tidak, “doktrin”
ibunya membuat Joker terus tersenyum dan berusaha membuat orang-orang
sekitarnya tersenyum juga.
Di bagian inilah saya mulai menyadari bahwa Joker dan
kebanyakan orang dengan gangguan mental sama seperti bulan yang bercahaya
karena pantulan sinar matahari. Senyuman mereka bukanlah karena mereka ingin
tersenyum dan bahagia, tetapi karena lingkungan mereka memaksa mereka untuk “berpura-pura”
bahagia. Apakah menjadi seperti ini tetap membuat mereka bahagia? Pasti tidak.
Justru bisa membuat mereka semakin merasa tidak bahagia seperti salah satu
kalimat yang ditulis Joker dalam jurnal hariannya.
![]() |
| Photo from Mothership |
“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”
Kalimat ini cukup menggambarkan betapa sulitnya menjadi
orang dengan gangguan mental di tengah masyarakat yang tidak memahami mereka.
Ketika mereka tetap dituntut menjadi “normal” tapi tidak diperlakukan secara
“normal”. Saat scene Joker menulis
kalimat ini, berbagai emosi kembali berkecamuk dalam hati saya. Sedih, sakit,
dan kesal bersatu begitu saja, membuat saya ingin menangis sekaligus marah pada
masyarakat yang menyepelekan kondisi mental seseorang.
Yang paling menyebalkan buat saya adalah ketika di dalam
bus Joker berusaha membuat seorang anak kecil yang duduk di depannya tertawa,
tetapi ibu si anak marah dan mengatakan kalau Joker telah mengganggu anak
tersebut. Saat itu Joker bingung kenapa dia dimarahi padahal dia ingin
menghibur. Lalu Joker tertawa terbahak-bahak di luar kontrolnya dan memberikan
kartu identitas yang menjelaskan kondisi neurologisnya yang tidak bisa
mengontrol tawa kepada ibu si anak. Bagaimana reaksi ibu ini? Bukannya
berempati, dia hanya memasang ekspresi aneh sambil mengatakan maaf tanpa
ekspresi dan tanpa menoleh ke arah Joker.
![]() |
| Mental Health Poster Campaign photo by Dan Meyer on Unsplash |
Seperti rembulan yang bersinar karena bias cahaya, ada
waktunya cahaya itu menghilang dan rembulan itu menjadi gelap sebagaimana
dirinya yang sesungguhnya. Begitu pula Joker dan orang dengan gangguan mental
lainnya. Ketika bias-bias bahagia hilang, mereka akan redup sebagaimana mereka
sebenarnya. Bahkan pada kisah Joker, mereka bisa melakukan banyak hal yang bisa
membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.
Joker mungkin tidak akan menjadi seorang pembunuh jika
saja orang-orang di sekitarnya lebih peduli terhadap dirinya.
Kejahatan-kejahatan yang dilakukannya tidak akan terjadi jika banyak orang yang
memahami kondisinya dan ikut serta membantunya. Apalagi setelah di akhir cerita
diungkap bahwa ternyata ibu Joker, Penny Fleck, juga seorang dengan gangguan
mental yang tidak mendapatkan kepedulian masyarakat. Ibu dari Joker juga salah
satu korban dari buruknya kesadaran masyarakat akan kondisi kesehatan mental.
Teringat lagi statement “Orang jahat adalah orang baik
yang tersakiti” yang berseliweran di media sosial, rasanya statement ini salah
besar jika kita memahami betul kisah Joker dan latar belakang kehidupannya.
Joker bukan orang baik ataupun jahat. Joker pun itu ibunya adalah orang dengan
gangguan mental yang luput dari perhatian masyarakat, yang tidak dipedulikan, tersingkirkan, lalu retak dan rusak. Mereka membutuhkan orang-orang baik yang mau mempedulikan
mereka, menyadari kondisi kesehatan mental mereka, dan membantu mereka berjuang
menghadapi kondisi mental yang mereka punya.
Jangan biarkan orang dengan gangguan mental terus menjadi
bulan dan menghilang dari langit malam karena hilangnya pantulan cahaya
matahari, delusi kehidupan “normal” dari kita yang merasa “normal”. Mari rangkul
juga mereka agar bisa menjadi matahari, menjadi bagian masyarakat sebagaimana
kita mengaku “normal”.
Lisfatul Fatinah Munir | 9 Oktober 2019
Selamat merayakan kepedulian di bulan kesehatan mental!
Alhamdulillah It’s Only Temporary Blackout
![]() |
| Photo by Yeshi Kankang on Unsplash.com |
Kemarin, 4 Agustus 2019, hampir seluruh Jawa mengalami listrik padam selama kurang lebih 12 jam. Saat itu saya sedang beraktivitas di luar rumah, jadi selama beberapa jam pertama saya tidak terlalu merasakan dampak mati listrik. Saya tiba di rumah sore hari dengan kondisi rumah yang gelap sebagaimana rumah-rumah lain, lampu jalanan sekitar rumah yang biasanya sudah menyala kini tidak berfungsi, dan tidak ada suara azan yang saling menyahut di langit-langit saat waktu maghrib datang. Saat itu baterai hape saya pun hanya tersisa tigapuluh persen, jaringan internet dan telepon melemah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan menggunakan hape kecuali memanfaatkan flashlight hape.
Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.
Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.
Membaca keluhan-keluhan
teman-teman, saya sempat berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah
sebegitu menyebalkannya ketika listrik padam. Pemikiran ini muncul mungkin
karena saya bukan termasuk orang yang sangat attached dengan gadget, bahkan
saya pernah dengan sengaja melepas gadget
beberapa hari. Jadi saat listrik padam, sejenak saya sempat tidak cemas ataupun
gelisah.
Ya, hanya
sejenak. Saya hanya sejenak merasa biasa saja dengan padamnya listrik. Karena semakin
malam dan semakin gelap, saya mulai merasa gelisah. Bukan gelisah karena
terputus akses internet atau semacamnya, tapi lebih karena kondisi sekitar saya
yang sepi, gelap, tidak banyak aktivitas dan interaksi seperti biasanya. Hal-hal buruk mulai terbersit di
kepala saya, bagaimana kalau tetiba ada kebakaran di sekitar rumah? Bagaimana jika
ada tiba-tiba ada gempa besar, karena malam sebelumnya Jakarta terkena gempa
imbas dari gempa Banten? Bagimana jika kemungkinan-kemungkinan buruk itu Allah
SWT Takdirkan datang malam itu juga? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan
buruk di atas, saat itu kepala saya pusing. Literally kepala saya menjadi sangat
sakit.
Selepas
shalat maghrib, setelah menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala, saya keluar
rumah untuk membeli makan malam. Kepala saya masih terasa sakit. Saya mencari penjual
makanan di sekitar perkampungan rumah sendirian.
Saat di luar
rumah membeli makan malam, saya harus keluar gang rumah untuk ke tempat penjual
makanan yang terletak di jalan yang lebih besar. Bukan jalan raya, tapi masih
lingkungan perkampungan rumah dengan lebar jalan yang jauh lebih besar dan banyak
deretan berbagai jenis ruko yang menjual keperluan keseharian warga
perkampungan. Ternyata
jalan besar terdekat rumah saya sangat ramai. Motor-motor berlalu lalang. Jaklingko
masih beroperasi. Anak-anak berlarian, main sepeda, dan saling tertawa.
Toko-toko ramai oleh pembeli dan orang-orang yang duduk untuk sekadar mengobrol
tentang listrik yang padam.
Di sini saya
merasakan suasana malam masih seperti malam-malam biasanya ketika listrik tidak
padam. Di sini saya menyadari bahwa perekonomian di sekitar saya masih berjalan
dengan baik, setidaknya untuk kalangan rakyat kecil seperti jual beli antar di
permukiman warga walapun beberapa perusahan seperti KAI tidak beroperasi karena
padamnya listrik. Saya juga menyadari meskipun listrik padam, anak-anak tetap
bahagia dan bermain dengan imajinasi mereka. Masih banyak suara anak-anak
tertawa dan bercanda. Saya lalu tersadar walau listrik padam, setiap rumah yang
tanpa cahaya malam itu masih diisi oleh keluarga yang utuh, saling berbincang
satu sama lain –yang mugkin akan jarang dilakukan kalau listrik tidak padam.
Di tempat lain, di negara-negara
berkonflik dan sedang melewati masa peperangan, listrik padam diiringi degan
suara-suara dentuman bom dan senapan. Perekonomian tidak berjalan dan untuk
makan mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari relawan perang. Tawa anak-anak,
mungkin hampir tidak dapat ditemukan. Mereka mungkin hanya punya dua pilihan, menangis
atau diam di tengah gelap, dingin, dan lapar. Di daerah terkena bencana, setiap
orang pasti banyak yang terpisah dengan keluarganya di tengah kegelapan, karena
sangat mungkin menyelamatkan diri sendiri menjadi pilihan satu-satunya untuk
bertahan hidup. Dan di pedalaman, harapan aliran listrik lebih kepada untuk
akses kesehatan dan belajar, bukan sekadar untuk mengisi daya hape dan laptop
untuk mengirim status di sosial media seperti kita penduduk ibukota.
Banyak lagi hal yang menyadarkan saya bahwa masih banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dari padamnya listrik semalam.
![]() |
| Photo by Dil Emcot on Unsplash.com |
Semakin lama
saya di luar rumah dan melihat sekitar saya lebih dekat, semakin banyak alasan
saya untuk bersyukur walaupun di tengah gelap. Alhamdulillah, listrik hanya padam
untuk sementara, bukan untuk waktu jangka panjang atau selamanya.
Alhamdulillah, listrik padam untuk sementara dan masih sedang diperbaiki oleh
ahlinya, bukan karena peperangan, kekurangan, atau bencana. Alhamdulillah, listrik
padam hanya sementara dan saya masih bisa bersama dengan keluarga dengan
kondisi sehat wal afiat dan bahagia. Alhamdulillah.
Belajar dari
padamnya listrik selama belasan jam kemarin, mungkin kita perlu sesekali
meninggalkan salah satu nikmat teknologi yang Allah SWT Berikan, agar kita bisa
lebih dekat dengan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kita tapi selama ini
menjauh karena teknologi-teknologi yang kita punya. Mungkin kita perlu sedikit
mendekat dengan lingkungan kita, tidak hanya menghadirkan jasad tapi juga hati
dan pikiran kita, agar kita bisa melihat betapa nikmatnya hal-hal kecil yang
ada di sekitar kita dan jarang sekali kita syukuri. Mungkin sesekali kita perlu
menakar nikmat dengan melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi
pada kita sebagaimana saudara-saudara kita di tempat pengungsian peperangan,
bencana, atau yang tinggal di pedalaman.
Alhamdulillah, listrik padam
hanya untuk sementara tapi syukur kita harus tetap menyala.
Lisfatul Fatinah Munir
| 05 Agustus 2019
My Hijab Story: Peduli Jilbab dan Peduli Masa Depan Muslimah
![]() |
| Sharing section with Britzone Community. Photo's taken by committee. |
"Gaining knowledge is the first step to wisdom. Sharing it is the first step to humanity."
- Unkown
Teringat tugas menentukan divisi pilihan yang belum dikerjakan sampai saat ini. Saya coba memikirkan apa yang kiranya bisa saya berikan.
Sejenak saya
mengevaluasi keberadaan diri saya di WhatsApp Grup Peduli Jilbab yang ternyata
membuat saya tersadar bahwa banyak sekali muslimah-muslimah yang punya semangat
tinggi untuk tetap produktif, berbagi, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tidak
hanya dari kalangan mahasiswa yang sedang mencari jati diri ataupun menikmati
masa-masa menjalankan passion, banyak juga muslimah yang pekerja publik dan muslimah pekerja domestic (ibu rumah tangga)
yang tetap memilih sibuk memberikan manfaat kepada umat di tengah kesibukan dan
kewajiban yang sudah dimiliki.
Selama
membaca setiap percakapan dan perkenalan di WAG, diam-diam saya bangga kepada
mereka yang ada di sana. Kepada perempuan-perempuan muslim yang insya Allah
tidak diragukan lagi kemampuan, potensi, dan kecerdasannya. Seperti ada harapan yang tidak padam
atas masa depan Islam dan negara tercinta di tangan mereka sebagai muslimah, ibu
dan calon ibu yang kelak atau sedang mendidik anak-anaknya, calon-calon
pemimpin dan kebanggaan Islam untuk menebarkan Rahmat Islam kepada banyak orang.
Saya berharap sekali keshalehan, kebaikan-kebaikan, dan kecerdasan dari mereka
bisa tertular kepada saya yang biasa-biasa saja.
![]() |
| Photo by Liana Mikah on Unsplash.com |
Berkontemplasi
Mencoba merenungkan apa-apa yang
sudah saya lewati, sepertinya akan lebih adil untuk diri saya dan Peduli
Jilbab, agar hal-hal yang saya lakukan tidak hanya sekadar karena saya ingin
tetapi karena memang saya memiliki potensi dan mampu berdaya di dalamnya.
Saya pun menengok kembali ke dalam diri saya sendiri, mengevaluasi siapa saya,
apa yang telah saya lakukan sebelumnya, kekuatan dan kelemahan yang saya punya,
dan alasan saya memutuskan berada di Peduli Jilbab.
Setelah
berkontemplasi dengan diri sendiri, saya menemukan kalau saya lebih senang
melakukan aktivitas belajar mengajar, berbagi ilmu, dan manajemen.. Sebab itu
saya senang mengobservasi dan mengintervensi anak, meneliti, dan terlibat dalam
aktivitas kependidikan. Misalnya beraktivitas dalam lingkup komunitas
pendidikan, pengembangan diri, dan kerelawanan dalam bidang pendidikan dan
kesejahretaan anak.
Memilih
Berkontemplasi
dan melihat Peduli Jilbab secara keseluruhan, mulai dari program dan budaya
keorganisasian di dalamnya, saya melihat ada peluang besar saya untuk semakin
memfokuskan diri pada kekuatan diri dan kesempatan neyiasati kelemahan yang
saya miliki. Bismillah,
saya memutuskan untuk menjadi bagian dari tim Jilbab Share bersama dengan Kak
Erni.
Di dalam tim
Jilbab Share ini insya Allah saya akan membantu dalam projek berbagi ilmu
dengan sesama muslimah. Mengingat kembali rencana-rencana yang ingin dilakukan
bersama Peduli Jilbab di tulisan sebelumnya, sepertinya semua rencana itu akan
terealisasikan jika saya bergabung dalam tim Jilbab Share.
Alasan
lainnya dari memilih Jilbab Share adalah saya berharap dengan adanya berbagai
edukasi untuk muslimah terkait ilmu keduniaan dan akhirat bisa membuat saya dan
saudara-saudara muslimah lainnya menjadi perempuan yang tidak hanya shalehah
dan unggul dalam ketaatan tetapi juga berwawasan luas dan layak menjadi (calon)
pendidik utama untuk generasi Islam ke depannya. Lebih jauh lagi, saya juga berharap
dengan bergabungnya saya di tim Jilbab Share menjadi titik awal untuk
memperlihatkan kepada banyak orang yang menganggap perempuan muslim adalah
perempuan-perempuan yang memiliki banyak keterbatasan, bahwasanya Islam itu
luas dan memberikan Rahmat yang luas pula ke kehidupan kita. Salah satunya
melalui aturan-aturan yang Islam punya untuk perempuan muslimah, agar setiap
muslimah tidak hanya tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan menarik secara
fisik, tetapi juga secara sikap, sifat, dan kecerdasannya.
Bismillah!
"Sharing knowledge is not about giving people something, or getting something from them. That is only valid for information sharing. Sharing knowledge occurs when people are genuinely interested in helping one another develop new capacities for action; it is about creating learning processes."
- Peter Senge
Lisfatul Fatinah Munir
| 30 Juli 2019
My Hijab Story: Mengapa Peduli Jilbab?
“With my veil I put my faith on display—rather than my beauty. My value as a human is defined by my relationship with God, not by my looks. I cover the irrelevant. And when you look at me, you don’t see a body. You view me only for what I am: a servant of my Creator. You see, as a Muslim woman, I’ve been liberated from a silent kind of bondage. I don’t answer to the slaves of God on earth. I answer to their King.”(Yasmin Mogahed, Reclaim Your Heart: Personal Insights on Breaking Free from Life's Shackles)
Pandangan Pertama
Peduli Jilbab.
Nama inilah yang saya temukan di balik postingan berdesain girly dan penuh nasihat yang sering saya
baca di media sosial. Setelah mencari tahu lebih banyak tentang gerakan ini hal pertama yang ada di
benak saya adalah gerakan ini bukan sekadar gerakan kepedulian membagikan atau
mengedukasi jilbab syar’i, melainkan adalah gerakan memberdayakan muslimah
sesuai kodratnya. Di sini saya melihat bagaimana muslimah diajak untuk mengamalkan
perintah Allah SWT, tetap produktif, bermanfaat, dan menginspirasi banyak orang
kepada kebaikan.
Di sinilah saya melihat Peduli Jilbab seperti menjadi
sebuah jawaban untuk kalangan-kalangan yang menyebut bahwa Islam mengekang,
mengeksploitasi, dan merenggut hak-hak perempuan. Sebab melalui
aktivitas-aktivitas Peduli Jilbab, masyarakat luas semestinya bisa melihat bagaimana
muslimah tetap bebas di bawah ketentuan-ketentuan yang Allah SWT Berikan.
Dengan Peduli Jilbab semestinya masyarakat juga tahu bahwa banyak muslimah yang melejit
prestasinya, bermanfaat untuk banyak orang, tetapi tetap mengutamakan taat
kepada Allah SWT.
Saat itu entah mengapa belum ada rasa ingin bergabung secara
resmi dalam gerakan ini. Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya yang membuat
saya belum mencari tahu cara bergabung dengan Peduli Jilbab karena saya sedang
berdomisili di luar Jakarta dan tidak tahu akan sampai kapan meninggalkan
Jakarta. Jadi saat itu bisa dibilang saya hanya memposisikan diri sebagai supporter.
Saya ikuti setiap postingan Peduli Jilbab di media sosial, ikut meramaikan
postingan dengan hashtag tertentu di agenda-agenda tertentu, ikut memposting
ulang di WhatsApp Story, termasuk beberapa kali ikut agenda offline seperti GEMAR (Gerakan Menutup
Aurat) yang diadakan setiap tahun.
Getaran Pertama
Ada momen yang paling berkesan untuk saya saat mengikuti
salah satu agenda Peduli Jilbab. Yakni pada GEMAR 2018. Saat itu saya bergabung
atas nama Kitainklusi, komunitas yang saya bangun bersama teman-teman guru
pendidikan khusus. Pada tahun itu saya ingin “coba-coba” melihat seberapa besar
teman-teman disabilitas muslim mengenal Islam, ingin tahu bagaimana antusiasme
mereka, termasuk mengobservasi aksesibilitas dakwah terhadap teman-teman
disablitas. Akhirnya bersama Kitainklusi, teman-teman hambatan pengelihatan,
dan teman-teman tuli, saya ikut andil dalam GEMAR 2018.
Tidak banyak kontribusi yang bisa kami berikan kepada
GEMAR 2018 dan justru sepertinya kami memberikan kendala tambahan saat pelaksanaan. Salah satunya adalah terhambatnya komunikasi saat membagikan jilbab gratis kepada pengguna Car Free Day, karena teman-teman tuli hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat
dan tidak banyak relawan interpreter (penerjemah bahasa isyarat). Tapi, Alhamdulillah, GEMAR 2018 ini seperti mile stones buat teman-teman tuli dan hambatan pengelihatan yang hadir untuk
memperoleh akses dakwah yang setara ke depannya. Sejak saat itu
teman-teman tuli jadi semakin semangat belajar Islam, beberapa kajian-kajian
keislaman mulai menyediakan interpreter, dan teman-teman tuli juga ikut anbil
besar dalam projek Hijrah Fest pertama sehingga keberadaan teman-teman
disabilitas muslim semakin tampak oleh umat. Alhamdulillah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
Momen
GEMAR 2018 ini tidak hanya mempengaruhi dakwah bagi teman-teman disabilitas tapi
juga mendorong saya untuk ikut terlibat lebih jauh lagi dalam gerakan ini. Saya ingin ikut andil langsung dalam projek akhirat ini. Mengingat sejak kuliah dulu saya sering sekali ikut dalam aktivitas sosial yang berhubungan dengan keduniaan dan sekarang juga ingin berkontribusi dalam dakwah Islam.
Saya pun mulai bertanya kepada teman-teman yang sudah menjadi pengurus Peduli Jilbab terkait penerimaan anggota tim baru. Sayangnya, saat itu teman saya belum tahu kapan akan ada pendaftaran menjadi anggota baru Peduli Jilbab. Di tambah lagi ternyata pendaftaran anggota baru ternyata hanya dibuka per dua tahun. Agak sedih, sih, saat itu. Tapi mungkin memang Allah SWT belum Mempercayai saya atau Menilai kalau saya belum cukup layak untuk menjadi bagian dari Peduli Jilbab.
Saya pun mulai bertanya kepada teman-teman yang sudah menjadi pengurus Peduli Jilbab terkait penerimaan anggota tim baru. Sayangnya, saat itu teman saya belum tahu kapan akan ada pendaftaran menjadi anggota baru Peduli Jilbab. Di tambah lagi ternyata pendaftaran anggota baru ternyata hanya dibuka per dua tahun. Agak sedih, sih, saat itu. Tapi mungkin memang Allah SWT belum Mempercayai saya atau Menilai kalau saya belum cukup layak untuk menjadi bagian dari Peduli Jilbab.
| Teman-teman tuli yang ikut berpartisipasi dalam GEMAR 2018 sedang saling menyimak terjemahan bahasa isyarat dari orasi dan tausiyah yang diberikan |
Satu Tahun Penantian;
Kesempatan dan Kesiapan
Karena sudah sangat ingin bergabung, sejak saat itu saya langsung mengaktifkan notifikasi postingan instagram Peduli Jilbab meskipun harus menunggu satu sampai dua tahun untuk munculnya sebuah postingan perekrutan anggota tim baru. Sekilas tampak seperti sebuah ambisi, tapi saya lakukan ini demi mendapatkan kesempatan yang kalau tidak saya dapatkan di tahun pembukaan pendaftaran tersebut maka saya harus menunggu dua tahun lagi.
Dalam salah satu buku yang pernah saya baca, saya lupa
judul dan penulisnya, dikatakan bahwa apa yang terjadi pada diri kita pada
dasarnya ada di antara kesempatan dan kesiapan. Ketika Allah SWT memberikan
kesempatan tapi kita belum siap atau layak, maka sesuatu tidak akan terjadi.
Begitupun sebaliknya, ketika sudah ada ada kesiapan dan kelayakan tapi Allah SWT
belum memberikan kita waktu untuk memiliki atau melakukan sesuatu, maka sesuatu
itu tidak akan terjadi.
Berada di antara kesempatan dan kesiapan ini membuat saya
harus memaksakan diri untuk siap ketika ada kesempatan mendaftar menjadi bagian
Peduli Jilbab. Memperbaiki
diri lagi dan lagi adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan. Bukan hanya
demi memantaskan diri dengan Peduli Jilbab, tapi juga sebagai bentuk syukur
atas nikmat ilmu, iman, dan islam yang Allah SWT Berikan.
Bertemu
Siang itu di sela-sela istirahat mengajar, ada sebuah
notifikasi dari akun instagram Peduli Jilbab. Alhamdulillah, perekrutan anggota
tim baru telah dibuka. Saya sengaja meluangkan waktu sore hari, pulang
terlambat demi mengisi formulir seleksi keanggotaan yang cukup detail di hari pertama perekrutan.
Alhamdulillah. Saat pengumuman kelulusan seleksi, yang
saat itu saya lupa sekali kalau hari itu adalah pengumumannya, Alhamdulillah ada
nama saya di daftar calon anggota. Senyum sendiri. Senang. Bersyukur. Saya menantikan masa-masa berjuang bersama muslimah-muslimah lainnya. Membayangkan
apa saja yang bisa saya berikan di jalan dakwah ini.
Rencana-Rencana Saat Bersama
Seperti
seseorang yang menanti jodoh terbaik dari Allah SWT, pasti ada banyak rencana-rencana kolaborasi
kebaikan yang akan dilakukan ketika berjumpa dan berada dalam ikatan halal nantinya.
Begitu juga ketika menantikan menjadi bagian dari anggota tim Peduli Jilbab,
ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan bersama Peduli Jilbab. Tidak
banyak dan tidak wah memang, karena
keterbatasan ilmu dan kemampuan saya. Tapi semoga yang sederhana ini bisa
menjadi amal jariyah bagi saya dan jalan hidayah bagi muslimah-muslimah di luar sana.
Jika Allah SWT takdirkan saya berjodoh dengan Peduli
Jilbab, saya berharap bisa
terlibat dalam aktivitas berbagi ilmu dengan muslimah lainnya, terutama dalam hal
pendidikan dan parenting. Mungkin bisa dimulai dari hal sederhana
seperti bagaimana menikmati kodrat sebagai muslimah, calon sekolah pertama
untuk anak-anaknya yang harus cerdas, sehat, dan tetap menjaga penampilan.
Di
samping itu, dengan menjadi bagian Peduli Jilbab saya berharap dakwah Islam
dapat tersampaikan secara menyeluruh kepada teman-teman disabilitas muslimah di
luar sana. Contoh awalannya adalah dengan menyediakan interpreter di
kajian-kajian kemuslimahan yang diadakan Peduli Jilbab agar dakwahnya bisa ikut
dinikmati oleh teman-teman tuli. Dan dalam jangka panjang, berharap sekali
setiap aktivitas dakwah bisa melibatkan teman-teman disabilitas, membahas fikih disabilitas, dan hingga mengenalkan sosok-sosok teman disabilitas inspiratif yang dekat dengan al-Qur'an, sunnah, dan dakwah. Semoga Allah
SWT Lancarkan.^^
Ketika Allah SWT Membersamakan saya dengan Peduli Jilbab, saya juga berharap bisa mejadi bagian dari
yang mendorong muslimah untuk terus produktif berkarya dan menebarkan manfaat
ilmu keduniaan untuk banyak muslimah lainnya. Misalnya berbagi ilmu
sesuai keprofesian masing-masing, seperti berbagi ilmu kependidikan khusus dari
saya yang berprofesi sebagai pengajar anak-anak berkebutuhan khusus, berbagi
ilmu manajemen keuangan dari tim yang berprofesi di bidang tersebut, bagi yang mempunyai pola hidup zero waste bisa membahas zero waste dari sudut pandang Islam, dan
sebagainya.
Selanjutnya, saya berharap bisa membantu Peduli Jilbab di
bidang literasi untuk keperluan internal tim maupun berbagi ilmu dengan muslimah pada umumnya. Pengalaman saya
dalam bidang literasi mungkin tidak banyak, tapi kecintaan saya pada bidang ini
membuat saya sangat menikmati prosesnya. Lalu saya berpikir di mana pun saya berada,
sepertinya kemampuan inilah yang bisa saya kontribusikan dengan segenap
perasaan senang dan syukur saya. Misalnya ketika Peduli Jilbab membutuhkan
penulis artikel atau konten, insya Allah, saya akan mengambil bagian dari
amanah ini.
Tidak banyak yang bisa saya berikan secara pribadi kepada Peduli Jilbab. Tapi melalui rencana-rencana di atas, saya berharap bisa terus berkolaborasi dalam kebaikan-kebaikan yang insya Allah akan menjadi salah satu sebab kita berjumpa di surga-Nya kelak. Allahumma aamiin.
Lisfatul Fatinah Munir | 25 Juli 2019
My Hijab Story: Hijab Pertamaku
Saat ditanya kapan mulai memakai hijab, apa alasan pertama kali berhijab, terus kapan memilih menggunakan hijab panjang, dan kenapa memilih menggunakan hijab panjang, mungkin saya akan cuma cengar-cengir. Lebih tepatnya sih karena bingung mau mulai jawab dari mana dan apakah harus menjelaskan alasannya. Karena alasan dari hijab yang saya kenakan sekarang sebenarnya agak kurang mengenakan dan membuat saya merasa kurang nyaman.
Saya agak kurang ingat kapan pertama kali saya mengenal
atau dikenalkan hijab oleh keluarga saya. Seingat saya, orang pertama yang
berhijab di rumah adalah kakak, karena kakak saya belajar di sekolah agama dan hampir
semua sepupu-sepupu saya mendapatkan pendidikan di sekolah agama (pesantren) sejak kecil. Jadilah
mereka sosok-sosok teladan pertama buat saya menutup aurat. Bagaimana dengan
ibu saya? Saya lupa banget kapan ibu saya istiqomah berjibab, tapi seingat saya itu
dilakukan saat saya sudah remaja.
Sejak kecil, saya sudah dikenalkan untuk berhijab oleh kedua
orang tua saya. Minimal sekali dalam sehari, saat pergi mengaji di malam hari.
Hehehe. Kalau saya coba ingat-ingat, sejak kecil alias sebelum kenal bangku
sekolah, saya sudah sering mengobrak-abrik lemari pakaian ibu atau kakak. Karena
dulu belum banyak produk jilbab untuk anak-anak apalagi jilbab instan seperti
sekarang, jadinya saya menggunakan jilbab-jilbab ibu dan kakak untuk belajar
mengaji.
Seingat saya sih dulu saya suka banget pakai jilbab
dengan berbagai model. Mulai dari jilbab ala ibu-ibu arisan yang dipilin
seperti rantai lalu dilintangkan di atas kepala seperti bando sampai meniru jilbab
ala santri-santri pesantren seperti jilbab sepupu-sepupu saya saat mereka
liburan ke Jakarta. Hahahaha.
Kebiasaan ini masih saya lakukan sampai saya kelas 4 SD, kalau
tidak salah. Dan Alhamdulillah ada peningkatan dari kebiasaan cuma satu kali
sehari pakai jilbabnya jadi dua kali sehari. Wkwkwk. Hal ini karena saya masuk
sekolah agama setelah sekolah reguler. Jadi, pagi hari saya sekolah seperti
anak umumnya tanpa jilbab dan malah bergaya cukup tomboy, pulang sekolah saya istirahat
sebentar kemudian masuk sekolah agama dan malam harinya belajar mengaji ke
salah satu ustaz di perkampungan rumah saya. Jadi bisa dibilang pertama kali
saya berjilbab karena tuntutan belajar di sekolah agama dan mengaji.
Hingga suatu hari ada sebuah kejadian yang tidak pernah saya duga menjadi salah satu pemicu saya pelan-pelan menutup aurat.
Insiden ini terjadi ketika saya di kelas 5 SD. Saat itu saya hamper mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh murid pindahan yang postur tubuh dan usianya jauh di atas murid kelas 5 SD pada umumnya. Saat itu saya langsung mengadu kepada kedua orang tua saya dan membuat kondisi sekolah cukup gempar, apalagi hubungan antar orang tua murid yang sempat memanas terutam antara orang tua saya dan orang tua murid yang mencoba melecehkan saya.
Perlakukan kedua orang tua saya pun berubah drastis. Ibu
dan bapak saya yang sebelumnya tidak terlalu memberikan banyak aturan mendadak
memberikan banyak aturan kepada saya, terutama dalam hal pakaian. Sejak saat
itu saya dilarang menggunakan jeans, hanya boleh menggunakan celana-celana agak
gombrong. Bapak juga mengharuskan saya menggunakan celana pendek atau celana
ketat jika saya menggunakan rok. Sejak saat itu bapak yang paling rajin
membelikan saya celana ketat. Bapak juga melarang saya menggunakan
celana-celana pendek yang biasa saya pakai, meskipun celana-celana pendek saya
dulu sebenarnya celana model laki-laki. Sejak kejadian inilah saya perlahan menggunakan
rok, selalu mengenakan celana panjang di balik rok, dan memutuskan menggunakan
jilbab setiap kali berpergian jauh.
Setidak menyenangkan inilah alasan pertama kali saya
sedikit demi sedikit menutup aurat. Malu dan sedih sendiri sebenarnya. Jika ada
cara lain yang bisa saya pilih, saya akan meminta diberikan cara lain oleh
Allah SWT. Tapi Allah SWT Menghendaki demikian dan selalu saya ingat sampai
sekarang.
Setelah lulus SD, Alhamdulillah saya masuk tsanawiyah
atau sekolah agama setingkat SMP yang mengharuskan saya menggunakan jilbab
setiap hari. Di sinilah saya mulai menggunakan jilbab dengan intensitas yang
lebih tinggi walaupun masih sering tidak menggunakan jilbab kalua pergi ke
warung atau keluar sekitar rumah. Di tsanawiyah ini walaupun masih tomboy dan
mengikuti aktivitas maskulin yang berhubungan dengan alam, Alhamdulillah saya
dipertemukan dengan teman-teman dan pembina rohis yang menuntun saya mengenal
Islam dengan cara yang menyenangkan. Di sini pula saya mulai mengenal mentoring
dan kajian-kajian keislaman.
Di masa-masa ini juga saya mengenal bagaimana berhijab
yang benar, menutup aurat dengan benar termasuk menutup kaki dan pergelangan
tangan. Bersama teman-teman rohis, saya juga belajar lagi kalau berjilbab dan berhijab
bukanlah untuk semata menghindari respon tidak menyenangkan dari lawan jenis.
Berhijab, menutup aurat sesuai ajaran Allah SWT adalah kewajiban bagi saya
sebagai muslimah dan sebagai bentuk kecintaan kepada-Nya. Perkara terhindar
dari respon negative lawan jenis dan lainnya, itu adalah satu dari banyak hikmah
berhijab itu sendiri. Bismillah. Di kelas 2 SMP, Alhamdulillah saya
memutuskan menggunakan jilbab sekolah yang panjang dan tidak menerawang.
Walaupun begitu, masih banyak tantangan yang saya temui.
Salah satunya adalah kendala iman dan kekuatan diri saya sendiri. Saya mencoba
konsisten pakai jilbab syar’i di sekolah walaupun jika bepergian masih
setengah-setengah. Kalau jilbab saya tebal, biasanya kendalanya adalah
jilbabnya kecil dan tidak bisa dibuat panjang. Terus kalau jilbabnya cukup
lebar, pasti bahannya tipis. Lagi-lagi,
dulu tidak banyak yang menjual hijab berbahan tebal, tidak menerawang, apalagi
ukurannya lebar. Syukurnya sekarang sudah banyak yang menjual jilbab syar’i dan
ini semakin memudahkan siapa saja yang mau menggunakan jilbab syar’i.
Alhamdulillah.
Meskipun sudah mengenakan hijab syar’i cukup lama, itu
bukan berarti saya sudah kebal dengan berbagai godaan fashion hijab dan sebagainya
loh. Hehehe. Tantangan masih tetap ada sampai sekarang kok. Hehehe. Saya harus
tetap melakukan usaha terbaik agar bisa berpenampilan sesyar’i mungkin di mana
pun dan kapan pun. Komentar-komentar negatif dan cenderung jastifikasi tentang
penampilan saya juga masih saya terima dari keluarga saya. Pandangan-pandangan
kurang mengenakkan juga masih saya dapatkan dari lingkungan saya beraktivitas
atau saat saya bepergian.
Seperti yang saya tuliskan di atas, saya masih harus
melakukan usaha terbaik saya untuk tetap istiqomah dengan hijab syar’i dan
terus memperbaharui ilmu yang saya punya. Semua ini bukan hanya untuk
mempertahankan apa yang sudah saya mulai, tetapi juga untuk menjaga hidayah dan
inayah yang sudah Allah SWT Hadiahkan kepada saya. Meski ada kejadian yang
tidak menyenangkan di baliknya, insya Allah ini adalah jalan terbaik yang Allah
SWT Berikan kepada saya.
Semoga
saya dan juga teman-teman yang membaca tulisan ini tetap istiqomah menutup
aurat. Semoga kita bisa tetap menjaga hidayah yang Allah SWT Berikan dengan
usaha terbaik yang kita punya agar semakin banyak hadiah-hadiah yang Allah SWT
Berikan kepada kita. Dan semoga satu ketaatan menutup aurat ini dinilai-Nya
sebagai salah satu cara berbakti kepada kedua orang tua kita, sehingga menjadi
salah satu penyebab keduanya dimudahkan menginjakkan kaki di surge terbaik-Nya.
Allamumma
aamiin.
Lisfatul Fatinah Munir | 14 Februari 2019
Tulisan ini untuk
memperingati Hari Gerakan Menutup Aurat 2019
Ditulis pada Kamis,
di hari terakhir saya mencium tangan Bapak sebelum beraktivitas
Ditulis pada tanggal
14, di tanggal Bapak berpulang kepada-Nya
Antara Memanjakan Lelah dan Mengkhianati Usaha
Antara Memanjakan
Lelah dan Mengkhianati Usaha
No matter how you feel, get up, dress up, show
up, and never give up.
(Anonymous)
Setiap manusia pasti punya harapan dan target yang mesti
dicapai, sekecil apapun harapan dan target itu. Kemudian, setiap usaha pasti
akan dilakukan untuk mencapai harapan dan target tersebut. Biasanya segala cara
akan dilakukan, baik atau buruk, cepat atau lambat. Semuanya punya porsi dan
versi masing-masing dalam melakukan yang terbaik untuk mewujudkan
target-targetnya.
Saya juga begitu. Saya punya target dan harapan hidup yang
saya yakini baik untuk urusan dunia dan akhirat saya. Lalu saya mulai merancang
apa saja yang harus saya lakukan untuk mencapai apa yang sudah saya targetkan.
Mulai dari usaha paling kecil dan remeh temeh sampai usaha yang paling serius
hingga harus mengorbankan waktu, tenaga, dan dana.
Well, bisa dibilang saya sedang di tahap itu. Di tahap
melakukan usaha terbaik saya untuk mencapai apa yang saya inginkan. Tidak
peduli apa yang ada di hadapan, pokoknya semuanya saya terjang. Selama masih
dalam jalan yang diridhoi Allah, saya jalankan meskipun harus mengorbankan banyak
hal di saat ini. Sampai-sampai saya pernah mendapat komentar “Kenapa harus
seambisius itu sih melakukannya?”
Bukan, ini bukan ambisi. Ini tujuan yang saya punya dan
beginilah semestinya saya memperjuangkannya. Begitu kira-kira tanggapan saya.
Kemudian di tengah semangat berjuang meraih yang saya
inginkan, tiba-tiba muncul sesuatu yang paling sangat saya takutkan, yaitu lelah.
Iya, merasa lelah adalah hal yang paling tidak saya sukai. Saya takut merasa
lelah dan memilih untuk berhenti di tengah usaha saya. Dan hal itu benar
terjadi pada diri saya.
Jadi, salah satu usaha yang saya lakukan untuk mencapai
target saya adalah dengan menyelesaikan membaca beberapa jurnal dan referensi
dengan cepat. Pada salah satu referensi penting yang saya punya, saya sudah
membaca hingga halaman 797. Masih ada puluhan halaman lagi di baliknya dan saya
tidak punya sedikitpun niatan untuk mengintip isi halaman-halaman tersebut.
Setelah berhari-hari mencoba memahami isi tulisan dan merangkumnya dalam poin-poin penting, saya merasakan sedikit jenuh dan sempat bergumam, “Kapan sih tulisan ini selesai dibaca?”
Setelah berhari-hari mencoba memahami isi tulisan dan merangkumnya dalam poin-poin penting, saya merasakan sedikit jenuh dan sempat bergumam, “Kapan sih tulisan ini selesai dibaca?”
Setelah itu, sedikit demi sedikit saya mulai mengurangi jam
membaca. Bahkan melihat nomor halaman ini rasanya lelaaaaaah sekali. Jenuh
dengan rutinitas yang mengambisi. Lalu memutuskan berdiam diri, menikmati lelah
di pikiran juga badan.
Tanpa saya sadari, saya tidak menyentuh hal-hal yang berhubungan
dengan target saya selama beberapa pekan. Benar-benar tidak ada hari dengan
membaca, menganalisa, merangkum, dan semacamnya. Semua aktivitas itu perlahan
menghilang dan saya memutuskan bermalas-malasan. Huaaaa…. Padahal kalau mau
sadar lebih awal, deadline dari target ini semakin mendekat dan harus segera
dikejar. Ya mau bagaimana lagi, lelah sudah menjadi lelah dan saya sudah
menjaga jarak dari target saya. Hiks T_T
Nah, setelah semangat saya melemah beberapa minggu, di suatu sore saya memutuskan untuk kembali memulai. Saya lanjutkan target membaca dan ternyata halaman ini berakhir di angka 800, kemudian diakhiri summary serta daftar referensi yang berlembar-lembar. Hanya 3 halaman. Iya. Ternyata hanya 3 halaman lagi bacaan saya selesai sebelum saya memutuskan berhenti bersama lelah yang hampir-hampir mengumpat pada hasil yang belum terlihat.
Nah, setelah semangat saya melemah beberapa minggu, di suatu sore saya memutuskan untuk kembali memulai. Saya lanjutkan target membaca dan ternyata halaman ini berakhir di angka 800, kemudian diakhiri summary serta daftar referensi yang berlembar-lembar. Hanya 3 halaman. Iya. Ternyata hanya 3 halaman lagi bacaan saya selesai sebelum saya memutuskan berhenti bersama lelah yang hampir-hampir mengumpat pada hasil yang belum terlihat.
Rasanya ingin menjerit saat itu juga. Justru mau memarahi
diri sendiri ketimbang menggerutui proses yang belum terlihat hasilnya. Tepat sebelum
membaca summary, rasanya ingin membentak diri sendiri. Kenapa harus sedini itu
berhenti? Mengapa tidak bertahan sedikit lagi agar bisa melanjutkan banyak hal
dan mendapatkan progres yang maksimal? Duh Gusti…, bodohnya diri ini
yang sempat memutuskan berhenti karena alasan lelah dan jenuh dengan perjalanan
:C
Instrospeksi Diri; Karena Tidak
Ada yang Terlambat Selama Mau Segera Memperbaiki Diri
Saat
selesai membaca, saya sempat diam sebentar. Memutar ulang kejadian,
mengingat-ingat rasa malas dan lelah yang saya manjakan. Lalu saya terpikirkan, mungkin ini nih yang membedakan
si hebat dengan si pecundang. Yaitu ketahanan dalam menuju tujuan.
Sejujurnya saya menyesal dan kesal kepada diri sendiri. Mengapa saya harus memanjakan kelelahan saya? Kenapa saya tidak mencoba bertahan lebih lama lagi, tiga halaman lagi saja. Cuma pertanyaan kenapa dan kenapa yang keluar dari mulut saya sebagai kekesalan atas keputusan yang saya ambil.
Lebih jauh lagi,
ini bukan hanya perkara mengizinkan diri berleha-leha menikmati lelah, tetapi
tentang usaha yang sudah dilakukan hingga tiba di titik sekarang. Saya jadi sedih dan merasa bersalah kepada sendiri kalau
ingat usaha yang saya lakukan selama berbulan-bulan belakangan. Perjalanan
panjang yang saya lakukan sampai saya ada di posisi saat ini, sebelum rasa
lelah itu singgah.
Memutuskan
memanjakan lelah selama berminggu-minggu itu jadi seperti sebuah pengkhianatan
kepada usaha saya, diri sendiri, dan impian yang saya targetkan selama
bertahun-tahun lamanya. Jika saya
berkhianat pada diri saya sendiri, saya bisa memperbaikinya dengan memaafkan
diri saya sendiri dan memperbaiki diri sedini mungkin, Tapi bagaimana jika saya
mengkhianati usaha sendiri dan impian-impian yang sudah saya punya? Buat saya
pribadi, saya seperti seorang yang tidak bersyukur sama sekali, bahkan atas
usaha yang saya lakukan sendiri.
Di sini saya pikir mungkin Allah SWT sedang Mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai diri
sendiri, menghargai usaha, dan juga impian-impian yang sudah berani kita
ungkapkan kepada Allah SWT melalui doa-doa panjang di setiap akhir shalat, di
setiap kesempatan kita sendirian. Mungkin di sini Allh SWT sedang
mengajarkan bahwa apa yang sudah saya hadapi saat ini, tidak luput dari apa
yang sudah saya lalui. Bukan tentang bagaimana hasil dari usaha yang telah
dilalui, tetapi tentang bagaimana menghargai segala perjuangan, lelah, dan
usaha selama ini.
Jika kita mengenal tidak ada hasil yang mengkhianati usaha,
maka mencoba menyerah, memanjakan lelah adalah bentuk mengkhianati usaha sebelum
hasilnya kita peroleh. Ini jauh lebih memalukan daripada menggerutui hasil yang
tidak sesuai harapan.
Mungkin perlu
belajar bertahan lebih lama, meskipun sedikit. Mungkin perlu belajar bersabar
lebih dalam, meskipun tak nyaman. Mungkin perlu lebih sering mengingat langkah
pertama yang pernah dilakukan hingga berada di titik sekarang. Seperti sabar
yang bukan berarti berdiam, melainkan melakukan usaha maksimal dalam setiap
kebaikan yg sedang diperjuangkan. Bersabar dengan kesabaran terbaik,
demi tujuan yang diidamkan. Itu katamu waktu itu dan semestinya tetap diingat
hingga sekarang.
Jadi dari kesalahan ini saya belajar tidak apa jika lelah.
Silakan beristirahat seperlunya. Tapi jangan pernah berpikir untuk berhenti dan
memanjakan lelah dengan hendak menyerah. Karena jika itu terjadi, maka itu
artinya kita telah menyakiti usaha-usaha yang telah dilakukan, mencemooh
doa-doa yang telah dilangitkan, dan meremehkan kuasa Allah SWT yang Menguatkan
langkah kita hingga saat ini.
Untuk setiap kalian yang sedang memperjuangkan
harapan-harapan, selamat menikmati setiap lelah dnegan kesetiaan pada
perjuangan. Jika sempat berpikir untuk berhenti, ingatlah kembali langkah
pernah yang pernah dilakukan hingga bisa dititik sekarang.
@fatinahmunir | 13 Februari 2019
KONMARI: Berbenah ala Jepang Sekaligus Mengubah Pola Hidup (Bagian 2)
Setelah pengenalan panjang tentang berbenah ala Konmari dan
pembahasan tentang merapikan pakaian di tulisan sebelumnya, sekarang kita akan
membahas beberapa kategori benda lainnya yang akan kita benahi, seperti buku,
kertas, pernak-pernik, dan benda-benda sentimental.
Menyimpan Buku
Prinsip menyimpan buku ala Konmari masih sama seperti
prinsip membenahi pakaian. Kita hanya perlu menyimpan buku yang membangkitkan
kebahagiaan dan membuang sisanya! :D
Tantangan saat berbenah buku akan berbeda dengan berbenah
pakaian. Saat berbenah buku pasti akan ada rasa tidak tega untuk membuang
dengan alasan suatu hari nanti ingin membuat perpustakaan, ingin dibaca ulang
nanti, atau ingin di baca kapan-kapan. Kalaupun kita ingin membuat
perpustakaan, maka pertimbangkan apakah kita rela perpustakaan kita dipenuhi
buku-buku yang tidak membangkitkan kebahagiaan? Kalau ingin membaca ulang buku
yang sudah pernah dibaca, apakah benar kita akan membaca ulang buku tersebut di
tengah masih adanya daftar buku yang ingin dibaca atau dibeli? Terakhir, yakin
tetap ingin menyimpan buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca dengan
alasan akan dibaca kapan-kapan? Sebab nyatanya, kapan-kapan berarti tidak akan
pernah :) Ada pengecualian dalam menyimpan buku ala Konmari, satu jenis buku yang boleh disimpan tanpa
ditanyakan apakah menumbuhkan kebahagiaan atau tidak adalah buku favorit kita
sepanjang masa.
Sama seperti proses berbenah pakaian, setiap buku yang ada
di rumah atau ruangan harus dikumpulkan di atas lantai. Pegang satu per satu
buku yang ada, disarankan untuk menyentuh atau mengusap setiap sampul buku.
Kemudia bertanyalah kepada diri sendiri apakah buku tersebut memberikan
kebahagiaan atau tidak ketika disentuh. Jika tidak memberikan kegembiraan, maka
buanglah atau sumbangkan buku-buku tersebut ke tempat yang membutuhkan :)
Apabila memiliki terlalu banyak buku meskipun sudah ada yang
disingkirkan, maka kita perlu mengkategorikan lagi buku-buku yang kita miliki. Setidaknya
ada empat kategori besar buku ala Konmari, yaitu buku umum (buku yang dibaca
untuk hiburan), buku praktis (referensi, buku masakan, dll), buku visual
(koleksi foto, buku untuk mewarnai, dll) dan terakhir majalah. Untuk memudahkan
dan lebih mengerucutkan buku yang akan disimpan, kita bisa membuat kategori
sendiri. Misalnya cukup menyimpan buku tentang parenting, bisnis, dan
keagamaan.
Setelah kita mendapatkan buku yang ingin kita simpan, yang
membangkitkan kegembiraan, barulah kita bisa menata buku di dalam rak sesuai
dengan selera. Tapi perlu dipastikan bahwa buku-bukut tersebut masuk ke dalam
rak.
Menyortir Kertas
Pada prinsipnya semua kertas harus dibuang. Kita harus membuang kertas apa saja yang
selama ini kita simpan, kecuali tiga kategori berikut; kertas yang masih
dipakai, masih diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan kertas yang harus
disimpan hingga waktu tak terbatas. Sedangkan untuk mebenahinya, kita cukup
membuat dua kategori kertas, yakni kertas yang harus diurus dan kertas yang
harus disimpan.
Kertas yang harus urus contohnya adalah surat yang harus
dibalas, formulir yang harus diisi dan dikirim, dan koran yang harus dibaca.
Seluruh kertas kategori ini sebaiknya disimpan dalam satu tempat, tidak perlu
dipisah. Sebagai wadah penyimpanan kategori ini, disarankan untuk menggunakan
kotak arsip vertikal. Digunakannya kotak arsip vertikal adalah karena wadah ini
memudahkan kita untuk mengambil kertas yang akan diurus segera. Satu lagi,
perlu diingat bahwa kotak penyimpanan kertas yang harus diurus ini semestinya
tidak penuh dan lebih baik kosong. Jika kotak penyimpanannya penuh atau terisi,
berarti ada hal yang belum kita urus.
Kategori kertas yang harus disimpan dapat kita buat menjadi
subkategori lagi, yaitu kertas yang jarang dikeluarkan tetapi harus disimpan.
Kertas subkategori ini misalnya adalah surat kontrak, polis asuransi, garansi,
dan sebagainya yang sebenarnya tidak membangkitkan kebahagiaan tetapi tetap
harus disimpan. Kertas subkategori ini disarankan disimpan di map plastik
bening dan dijadikan satu semuanya.
Kertas yang harus disimpan subkategori sering digunakan
adalah resume seminar atau kliping surat kabar. Karena kertas jenis ini sering
digunakan, maka untuk menyimpannya kita bisa menggunakan map berbentuk buku
yang berisi lembaran-lembaran plastik.
Apabila tahapan membenahi kertas sudah kita jalani, berrati
kita cukup memiliki tiga tempat penyimpanan kertas, yaitu kotak arsip vertikal,
map bening, dan map buku plastik. Jika ada kertas baru yang harus disimpan,
jangan menambah tempat penyimpanan kertas, melainkan kembali sortir ketas yang
ada :)
Komono (Pernak-Pernik)
Di antara kita pasti ada yang suka menyimpan benda-benda
kecil, apapun itu bentuknya yang kita pikir kemungkinan tidak tega untuk
membuangnya atau berpikir akan menggunakan benda tersebut suatu hari nanti. Jika
kita amati, tidak ada tujuan khusus dari kebiasaan menyimpan seperti ini.
Kebanyakan alasannya hanya karena ingin saja atau suka, tanpa tahu apa yang
akan kita lakukan dengan benda-benda tersebut.
Jika kita memiliki kebiasaan ini dan ingin menerapkan metode
Konmari, maka kita harus membuang kebiasaan ini jauh-jauh. Masih ingat hal yang
harus dilakukan untuk menerapkan metode Konmari dalam berbenah? Salah satunya
ada mengapresiasi benda yang kita punya. Kebiasaan
menyimpan barang tanpa tujuan tidak sejalan dengan mengapresiasi benda di mana
memanfaatkan benda dengan baik adalah cara terbaik untuk mengapresiasinya.
Di Jepang sendiri, benda-benda kecil seperti ini disebut komono. Secara harfiah, komono tidak hanya berarti benda-benda
kecil, tetapi juga perkakas, komponen, atau hal-hal tidak penting seperti yang
biasa orang Indonesia sebut tetek bengek.
Jika kita bayangkan, akan ada banyak sekali benda jenis
komono ini dan betapa sulitnya membenahi itu semua. Akan tetapi dalam berbenah
ala Konmari akan kita akan lebih mudah berbenah menggunakan urutan komono
sebagai berikut; CD/DVD, produk perawatan kulit dan wajah, aksesoris, barang
berharga, elektronik kecil, alat tulis, alat dapur, pajangan, dan sebagaimana.
Masih sama seperti sebelumnya, seleksi barang-barang yang
akan kita simpan dengan tolak ukur membangkitkan kebahagiaan atau tidak. Setelah
itu kita bisa merapikan dan menyimpan setiap pernak-pernik ini berdasarkan
kategorinya.
CD/DVD. Untuk
CD/DVD, jangan lupa untuk mengecek apakah kepingan CD/DVD yang masih berfungsi
atau tidak. Kemudian pisah lagi CD/DVD ini berdasarkan subkategori; music,
film, drama, dan program (jika kita memiliki elektronik yang membutuhkan CD
untuk menggunakannya, seperti printer, program computer, dan sebagainya). Kita
bisa menggunakan dompet CD/DVD untuk menyimpannya. Kendati sudah dibagi ke
dalam subkategori dan disimpan dalam dompet CD/DVD, kita tetap harus meyimpannya
di satu lokasi, misalnya letakknya semuanya di dalam laci lemari kecil dekat
TV.
Produk perawatan
kulit dan wajah. Dalam merapikan produk perawatan kulit dan wajah
(kosmetik), kita perlu menyeleksi terlebih dahulu produk mana yang benar-benar
kita gunakan dan membangkitkan kebahagiaan. Untuk sejumlah sampel produk kosmetik
yang kita dapat dari sales di mal, tidak
usah berpikir keras untuk memilihnya jika memang tidak kita gunakan, semua itu
bisa kita buang atau diberikan kepada orang yang memang menggunakan produk
tersebut.
Tempat penyimpanan kosmetik sebaiknya dibagi berdasarkan
subkategorinya. Misalnya produk perawatan kulit, produk perawatan rambut, produk
perlengkapan mandi, dan produk perawatan wajah. Setiap subkategori ditata di
dalam kotak make up organizer dengan posisi berdiri. Hindari penyimpanan make
up di dalam dompet make up seperti ingin bepergian.
Seluruh subkategori produk kosmetik ini sebaiknya diletakkan
di satu lokasi, contohnya diletakkan di atas meja rias atau meja dekat kamar
mandi yang memang lokasinya dapat dijangkau untuk kebutuhan mandi dan berhias
setelah mandi.
Aksesoris. Selanjutnya adalah aksesoris termasuk di sini adalah perhiasan. Bagian aksesoris ini mungkin akan menjadi yang sulit bagi beberapa orang, dikarenakan benda ini kecil dan dimiliki dalam jumlah yang tidak sedikit.
Aksesoris. Selanjutnya adalah aksesoris termasuk di sini adalah perhiasan. Bagian aksesoris ini mungkin akan menjadi yang sulit bagi beberapa orang, dikarenakan benda ini kecil dan dimiliki dalam jumlah yang tidak sedikit.
Sama seperti sebelumnya, untuk membenahi aksesori sebaiknya
memisahkan aksesoris berdasarkan jenisnya. Penataan letak aksesoris bisa
digabungkan di satu lokasi, seperti di meja rias berdekatan dengan kosmetik di
dalam laci rias. Untuk wadah penyimpanan aksesoris sendiri sebaiknya
menggunakan wadah yang sesuai dengan bentuk aksesoris, misalkan kalung ditata
di gantungan kecil yang bisa diletakkan di atas meja, gelang disimpan di wadah dengan
tabung untuk melingkarkan gelang di tabung tersebut, cicin disimpan di dalam
kotak cincin yang dapat memuat beberapa cicin sekaligus. Untuk aksesoris lain
seperti pin atau bros bisa disatukan dalam wadah kotak dan untuk peniti atau
jarum bisa ditata di atas wadah dengan spons yang kita bisa menancapkan jarum
atau peniti di atasnya.
Seluruh aksesoris di atas bisa dimasukkan dalam kotak
masing-masing. Laci kecil bertingkat dapat juga menjadi pilihan untuk menyimpan
berbagai aksesoris ini.
Barang berharga. Yang
dimaksud barang berharga dalam metode Konmari ini salah satunya adalah uang
receh. Mungkin sering menemukan uang receh tergeletak di mana-mana di dalam
rumah kita. Meskipun kita sudah menyediakan tas khusus uang receh, tapi sering
kali di antara kita tidak memiliki tujuan untuk apa uang receh itu dikumpulkan,
padahal jelas-jelas recehan tersebut tetaplah uang.
Menggunakan metode berbenah Konmari, seperti yang dipaparkan
sebelumnya, kita harus mengapresiasi atau menghargai setiap benda yang kita punya.
Terkait dengan uang receh ini, kita pun harus menghargainya, sekecil apapun
nominal uangnya. Kemudian perilah cara membenahinya adalah cukup sediakan satu
dompet kecil khusus receh di dalam tas jika di luar rumah kita memiliki uang
receh saat berjual beli.
Untuk di dalam rumah, sediakanlah satu tempat khusus -ingat
hanya satu tempat penyimpanan di dalam rumah, untuk menampung uang receh yang
ada di kantung. Jangan biarkan satu koin atau uang receh pun yang tercecer di
sembarang tempat. Selanjutnya jangan
lupa untuk menukar uang receh tersebut secara berkala, misalnya satu sampai
tiga bulan sekali untuk ditabung ke bank atau ditukar ke took atau petugas
parkir yang memang membutuhkan uang receh.
Elektronik kecil. Kamera, handy camp, power bank, charger
elektronik, dan kabel-kabel penghubung adalah perintilan lain yang pasti sering
berserakan atau memiliki tempat penyimpanan yang layak. Kamera dan handy camp
biasanya disimpan di dalam lemari pakaian dengan alasan akan lebih aman karena
dikelilingi benda-benda yang lembut, sedangkan power bank dan charger berbagai
elektronik dibiarkan tergeletak di dekat sumber listrik tanpa diurus.
Cara seperti di atas sama saja kita tidak menghargai
berbagai barang elektronik kecil yang kita punya, yang kerap kali tidak ingin
kita tinggalkan jika bepergian. Untuk menyimpannya, disarankan untuk menyimpan
elektronik sejenis ini di satu lokasi dan tidak disimpan bersama dengan
kardusnya. Dalam prinsip Konmari, setiap kardus hasil pembelian barang harus
segera dibuang, tidak untuk ditumpuk atau disimpan dengan apapun alasannya.
Jika kardus tersebut tidak ingin dibuang, maka kita harus langsung atau segera
memanfaatkannya, misalnya menjadikan kardus handphone sebagai tempat aksesoris,
dan sebagainya.
Untuk charger elektronik, kita bisa menggunakan (membeli
atau membuat sendiri) charging organizer yang membuat kabel-kabel elektronik
tidak saling tergulung.
Alat tulis.
Pernak-pernik yang satu ini pasti ada di setiap rumah, terutama yang sering
menggunakannya untuk pekerjaan sehari-hari. Karena banyaknya jenis alat tulis
itu sendiri, maka apabila sudah menyeleksi alat tulis yang membangkitkan
kebahagiaan, tugas selanjutnya adalah menyiapkan wadah penyimpanan alat tulis.
Wadah penyimpanan yang sangat disarankan adalah stationary organizer yang dapat
membuat seluruh alat tulis tertata berdiri. Jika tidak memiliki stationary
organizer, kita bisa memanfaatkan bekas gulungan tisu atau menggunakan gelas
bekas untuk menyimpannya.
Alat tulis seperti sticky note, notes kecil, double tape,
dan solasi, bisa disimpan di dalam wadah kotak khusus alat tulis dan diletakkan
tidak berjauhan dengan alat tulis lainnya.
Perlengkapan dapur.
Berbicara merapikan perlengkapan dapur berrat berhubungan dengan kerapian
dapur. Prinsip membenahi perlengkapan dapur adalah bagaimana kita bisa mudah
mengambil dan meletakkan perlengkapan dapur yang ingin dan telah dipakai.
Kita bisa mencontoh kebiasaan pada koki di dapur di mana
mereka terbiasa mencuci perlengkapan dapur sesudah menggunakannya. Maka kita harus
membiasakan langsung membersihkan perlengkapan dapur sesaat setelah
menggunakannya, tidak menunggu perabotan kotor menumpuk.
Seperti biasanya, menyeleksi perlengkapan dapur hanya yang
membangkitkan kebahagiaan juga sangat penting, sebagaimana prinsip dari
Konmari. Kemudian menata perlengkapan dapur berdasarkan kategorinya dan
meletakkan katagori yang sama di satu lokasi.
Bagaimana dengan perlengkapan dapur yang memang tidak ingin
digunakan seperti gelas-gelas bermotif dan piring-piring cantik? Apabila gelas
dan piring tersebut tidak membangkitkan kebahagiaan, maka kita tidak perlu
menyimpan atau menggunakannya, sedangkan apabila gelas dan piring tersebut
membangkitkan kebahagiaan, maka lebih baik gelas dan piring tersebut digunakan
untuk keseharian, bukan disimpan. Bukankan akan lebih menyenangkan dan
bersemangat jika kita menggunakan benda yang membangkitkan kebahagiaan kita?
Coba bayangkan betapa membahagiakannya bisa menggunakan perabotan favourite
dengan motifnya yang cantik-cantik :)
Pajangan dan pernak-pernik lainnya. Kategori komono yang
terakhir ini mungkin akan lebih luas lagi cakupannya, bisa berupa benda-benda
hiasan atau dekorasi rumah, perlengkapan hobi, dan mainan anak-anak. Tetap pada
prinsip yang sama, kita harus memilih benda yang betul-betul membangkitkan
kebahagiaan. Selepas itu, kita bisa menyimpannya berdasarkan kategori. Misalnya
perlengkapan hobi sebaiknya disimpan di satu lokasi seperti di lemari khusus
hobi. Sedangkan untuk mainan anak-anak, disarankan untuk menyimpannya di dalam
wadah kotak sesuai dengan kategori mainannya dan ditempatkan di satu lokasi,
seperti di lemari khusus Montessori jika memang tersedia. Kalaupun tidak ada
lemari khusus Montessori, kita bisa menggunakan bagian kosong dari lemari yang
ada di rumah. Tetapi perlu diingat bahwa setiap mainan harus dipisahkan
menggunakan kotak atau kardus sesuai dengan kategorinya.
Bagaimana dengan pajangan? Setelah kita memiliki pajangan
yang betul-betul hanya membangkitkan semangat, kita bisa menata seluruh
pajangan tersebut di tempat yang terjangkau oleh mata. Ingat, kita memiliki
pajangan untuk dipajang, bukan untuk disimpan di dalam lemari hanya dengan
alasan khawatir pajangan tersebut pecah.
Selesai sudah kita membahas ilmu berbenah ala Konmari.
Semoga kita bisa konsisten menjaga kerapian dan tetap menyukuri setiap benda
yang kita miliki dengan cara memanfaatkannya sebaik mungkin selama kita miliki.
Selamat mencoba dan semangat konsisten!
@fatinahmunir | ditulis pada 24 Januari 2018
















