Showing posts with label Sepotong Inspirasi. Show all posts

Jingga; Tentang Sebuah Semangat yang Tidak Boleh Padam

Photo by Geronimo Giqueaux o Unsplash
Jingga. Setiap kali memikirkan kata ini, selalu ada satu hal yang muncul dalam di pikiran saya. Satu hal yang pernah saya mulai dan masih saya jalankan saat ini dengan semangat yang sangat fluktuatif. Satu hal yang membuat saya membuka lagi sebuah folder yang jarang saya tengok. Satu hal ini menggerakkan tangan saya untuk membaca ulang sebuah rancangan impian besar dan justru menjadi inspirasi saya untuk menceritakannya di tulisan ini.

Kitainklusi. Inilah satu-satunya hal yang terlintas di kepala saya setiap kali memikirkan kata jingga untuk tulisan hari ini. Ini bukan dua kata yang tanpa sengaja ditulis tanpa spasi. Ini adalah dua kata yang dengan sengaja digabungkan dan menjadi representasi dari impian besar di baliknya. Ini adalah sebuah komunitas kecil yang pernah saya bangun dan saya sempat ingin berhenti di tengah jalan.

Dua tahun lalu, saya sempat merasa gamang karena sedang berada dalam titik kebosanan dengan rutinitas monoton di tempat kerja. Saat itu saya sangat merindukan melakukan banyak hal sebagaimana dulu. Kebosanan ini menginspirasi saya untuk membangun sebuah komunitas kecil yang bergerak dalam mengedukasi kesadaran masyarakat untuk mengenal individu berkebutuhan khusus dan menerima keberadaan mereka.

Persis di bulan Oktober dua tahun lalu saya mengumpulkan beberapa teman kuliah dulu untuk mendengarkan kebosanan saya pada rutinitas dan keinginan saya untuk membentuk sebuah komunitas yang selinear dengan profesi kami. Harapan saya saat itu (dan sampai sekarang) adalah agar setiap orang dengan disabilitas bisa diterima dengan baik di lingkungannya, diberikan kesempatan yang sama seperti yang lainnya, dan diakui sebagai individu seutuhnya bukan dikenali atas kedisabilitasannya.

Sudah hampir dua tahun sejak program pertama Kitainklusi berjalan. Ini bukan waktu yang cukup matang untuk sebuah komunitas pastinya. Ada banyak sekali tantangan selama menjalankan program-programnya. Sempat juga hiatus beberapa kali dalam hitungan bulan. Tapi selalu ada banyak momen yang membuat saya kembali menghidupkan Kitainklusi. Momen-momen ini biasanya ketika saya mendapatkan pertanyaan di Instagram terkait kelanjutan program yang sudah dijalankan Kitainklusi. Termasuk ketika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan terkait penanganan anak berkebutuhan khusus dari orang tua ataupun guru.

Program-program Kitainklusi sebenarnya bukan program-program besar, hanya tulisan-tulisan ringan di media sosial dan diskusi online terkait kedisabilitasan dan keinklusian, Tapi ternyata yang kecil buat saya bisa berarti besar buat orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang terus masuk ke akun Instagram Kitainklusi ataupun pribadi seperti menjadi teguran buat saya kalau tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil apapun kebaikan yang pernah dimulai. Berkali-kali hiatus dan berkontemplasi diri, saya tetap berusaha membangkitkan Kitainklusi. Berharap hal-hal kecil yang sudah dilakukan bersama Kitainklusi dapat memberi manfaat bagi banyak orang dan menjadi amal kebaikan yang tidak pernah putus buat saya dan tim.

Lalu apa hubungannya antara Kitainklusi dan kata jingga yang seharian ini saya pikirkan? Hubungannya ada pada warna identitas Kitainklusi. Jingga adalah warna identitas Kitainklusi. Desain apapun yang dibuat untuk keperluan Kitainklusi, pasti bernuansa jingga.

Kenapa jingga? Jawabannya kembali saya temukan ketika saya membaca ulang dokumen profile Kitainklusi tepat sebelum menulis tulisan ini.

“…………… Warna jingga yang merupakan turunan dari warna kuning melambangkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme yang merepresentasikan harapan-harapan Kitainklusi agar menjadi komunitas yang memberikan manfaat, kenyamanan, dan harapan bagi teman-teman yang terlibat dalam Kitainklusi. ……………”


Kalimat di atas tertulis dalam salah satu bagian penjelasan logo Kitainklusi. Saat membaca tulisan ini saya tersenyum sendiri, bertanya-tanya ke diri sendiri. Saya pernah menulis ini ya? Saya pernah merancang ini ya? Seperti ini ya impian saya dulu saat memulai Kitainklusi?

Karena kalimat di atas, hari ini saya jadi semakin ingin bercerita tentang Kitainklusi, tentang impian di dalamnya yang sempat saya lupakan, termasuk tentang semangat yang melekat di warna identitasnya. Saya juga menjadi semakin semangat untuk meneruskan hal kecil ini. Setelah membaca ulang dokumen profile Kitainklusi dan bercerita di tulisan ini, saya berharap semoga bisa memiliki kekuatan jingga seperti dalam penjelasan warna identitas Kitainklusi. Saya ingin tetap menjalankan komunitas ini dengan semangat yang bisa memancarkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme kepada banyak orang dengan disabilitas, keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan disabilitas, juga para profesional yang bekerja untuk orang-orang dengan disabilitas.

Lisfatul Fatinah Munir | 10 Oktober 2019
10 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Belajar dari Joker


Ternyata orang dengan gangguan mental sama seperti rembulan yang bercahaya. Mereka bisa bercahaya, tapi bukan sebenarnya cahaya yang mereka punya. Cahaya itu hanya biasan dari tempat lain, hanya delusi dari kehidupan lain. Rembulan itu tetap saja gelap walau disinari pantulan cahaya matahari. Sama seperti mereka yang memiliki gangguan mental tetap membutuhkan pertolongan meski tampak biasa saja ataupun bahagia.


Photo by Daniel Lincoln on Unsplash
Disclaimer:
Saya bukan orang yang memahami ilmu psikologi. Saya hanya penikmat film yang semangat menulis tentang film kalau saya menilai film tersebut memiliki banyak pelajaran hidup dan perlu ditonton oleh lebih banyak orang. Saya hanya orang yang senang mengamati perilaku orang-orang sekitar saya karena tuntutan profesi sebagai pendidik individu dengan autisme.

Awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Joker. Satu-satunya alasan adalah karena saya tidak mengikuti serial Bat Man dan sama sekali tidak mengenal sosok Joker. Ya hanya sekadar tahu kalau Joker adalah musuh Bat Man. That’s it.

Tapi akhir pekan lalu rekan psikolog di tempat saya mengajar bilang kalau film ini sangat bagus dan dia terus ngomporin saya untuk menonton film ini. Rasa penasaran saya semakin menjadi ketika statement “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” yang mengiringi poster Joker berseliweran di media sosial. Akhirnya kemarin sepulang mengajar saya memutuskan menonton film ini.

Sepanjang film ini berputar, saya terus mengamati perilaku setiap tokoh yang ada di dalamnya. Beberapa scene yang katanya menyeramkan, justru membuat saya merasa miris. Ingin menangis tapi juga merasa sakit di saat bersamaan. Hingga setelah menonton film ini secara tuntas, ada satu hal besar yang muncul di kepala saya. Yakni betapa buruknya dampak dari ketidaksadaran dan ketidakpedulian masyarakat terhadap orang dengan gangguan mental di saat mereka berjuang menjadi “normal” di lingkungan masyarakat yang tidak sedikit pun memahami mereka.

“My mother always tells me to smile and put on a happy face. She told me I had a purpose to bring laughter and joy to the world.”


Kalimat ini diucapkan Joker alias Arthur Fleck beberapa kali dalam film ini. Saat pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung merasakan hal yang aneh. Apakah setiap orang harus terus tersenyum? Apakah setiap orang harus terus bahagia dan membahagiakan orang lain?

Saya jadi teringat film Inside Out, sebuah film animasi yang menceritakan betapa sulitnya menjadi seorang anak yang diatur untuk terus bahagia dan mengabaikan empat emosi utama lainnya; marah, sedih, jijik, dan takut. Padahal merasakan lima emosi utama adalah pengalaman yang penting untuk dapat melatih diri meregulasi emosi dengan benar.

Serupa dengan tokoh utama Inside Out yang dituntut untuk terus bahagia di berbagai kondisi, di film ini Joker juga terus tersenyum di berbagai kondisi yang dialaminya. Saat merasa bahagia ataupun tidak, “doktrin” ibunya membuat Joker terus tersenyum dan berusaha membuat orang-orang sekitarnya tersenyum juga.

Di bagian inilah saya mulai menyadari bahwa Joker dan kebanyakan orang dengan gangguan mental sama seperti bulan yang bercahaya karena pantulan sinar matahari. Senyuman mereka bukanlah karena mereka ingin tersenyum dan bahagia, tetapi karena lingkungan mereka memaksa mereka untuk “berpura-pura” bahagia. Apakah menjadi seperti ini tetap membuat mereka bahagia? Pasti tidak. Justru bisa membuat mereka semakin merasa tidak bahagia seperti salah satu kalimat yang ditulis Joker dalam jurnal hariannya.

Photo from Mothership

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”


Kalimat ini cukup menggambarkan betapa sulitnya menjadi orang dengan gangguan mental di tengah masyarakat yang tidak memahami mereka. Ketika mereka tetap dituntut menjadi “normal” tapi tidak diperlakukan secara “normal”. Saat scene Joker menulis kalimat ini, berbagai emosi kembali berkecamuk dalam hati saya. Sedih, sakit, dan kesal bersatu begitu saja, membuat saya ingin menangis sekaligus marah pada masyarakat yang menyepelekan kondisi mental seseorang.

Yang paling menyebalkan buat saya adalah ketika di dalam bus Joker berusaha membuat seorang anak kecil yang duduk di depannya tertawa, tetapi ibu si anak marah dan mengatakan kalau Joker telah mengganggu anak tersebut. Saat itu Joker bingung kenapa dia dimarahi padahal dia ingin menghibur. Lalu Joker tertawa terbahak-bahak di luar kontrolnya dan memberikan kartu identitas yang menjelaskan kondisi neurologisnya yang tidak bisa mengontrol tawa kepada ibu si anak. Bagaimana reaksi ibu ini? Bukannya berempati, dia hanya memasang ekspresi aneh sambil mengatakan maaf tanpa ekspresi dan tanpa menoleh ke arah Joker.

Mental Health Poster Campaign photo by Dan Meyer on Unsplash
Seperti rembulan yang bersinar karena bias cahaya, ada waktunya cahaya itu menghilang dan rembulan itu menjadi gelap sebagaimana dirinya yang sesungguhnya. Begitu pula Joker dan orang dengan gangguan mental lainnya. Ketika bias-bias bahagia hilang, mereka akan redup sebagaimana mereka sebenarnya. Bahkan pada kisah Joker, mereka bisa melakukan banyak hal yang bisa membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.

Joker mungkin tidak akan menjadi seorang pembunuh jika saja orang-orang di sekitarnya lebih peduli terhadap dirinya. Kejahatan-kejahatan yang dilakukannya tidak akan terjadi jika banyak orang yang memahami kondisinya dan ikut serta membantunya. Apalagi setelah di akhir cerita diungkap bahwa ternyata ibu Joker, Penny Fleck, juga seorang dengan gangguan mental yang tidak mendapatkan kepedulian masyarakat. Ibu dari Joker juga salah satu korban dari buruknya kesadaran masyarakat akan kondisi kesehatan mental.

Teringat lagi statement “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” yang berseliweran di media sosial, rasanya statement ini salah besar jika kita memahami betul kisah Joker dan latar belakang kehidupannya. Joker bukan orang baik ataupun jahat. Joker pun itu ibunya adalah orang dengan gangguan mental yang luput dari perhatian masyarakat, yang tidak dipedulikan, tersingkirkan, lalu retak dan rusak. Mereka membutuhkan orang-orang baik yang mau mempedulikan mereka, menyadari kondisi kesehatan mental mereka, dan membantu mereka berjuang menghadapi kondisi mental yang mereka punya.

Jangan biarkan orang dengan gangguan mental terus menjadi bulan dan menghilang dari langit malam karena hilangnya pantulan cahaya matahari, delusi kehidupan “normal” dari kita yang merasa “normal”. Mari rangkul juga mereka agar bisa menjadi matahari, menjadi bagian masyarakat sebagaimana kita mengaku “normal”.

Lisfatul Fatinah Munir | 9 Oktober 2019
Selamat merayakan kepedulian di bulan kesehatan mental!

09 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Alhamdulillah It’s Only Temporary Blackout


Photo by Yeshi Kankang on Unsplash.com

Kemarin, 4 Agustus 2019, hampir seluruh Jawa mengalami listrik padam selama kurang lebih 12 jam. Saat itu saya sedang beraktivitas di luar rumah, jadi selama beberapa jam pertama saya tidak terlalu merasakan dampak mati listrik. Saya tiba di rumah sore hari dengan kondisi rumah yang gelap sebagaimana rumah-rumah lain, lampu jalanan sekitar rumah yang biasanya sudah menyala kini tidak berfungsi, dan tidak ada suara azan yang saling menyahut di langit-langit saat waktu maghrib datang. Saat itu baterai hape saya pun hanya tersisa tigapuluh persen, jaringan internet dan telepon melemah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan menggunakan hape kecuali memanfaatkan flashlight hape.

Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.

Membaca keluhan-keluhan teman-teman, saya sempat berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah sebegitu menyebalkannya ketika listrik padam. Pemikiran ini muncul mungkin karena saya bukan termasuk orang yang sangat attached dengan gadget, bahkan saya pernah dengan sengaja melepas gadget beberapa hari. Jadi saat listrik padam, sejenak saya sempat tidak cemas ataupun gelisah.

Ya, hanya sejenak. Saya hanya sejenak merasa biasa saja dengan padamnya listrik. Karena semakin malam dan semakin gelap, saya mulai merasa gelisah. Bukan gelisah karena terputus akses internet atau semacamnya, tapi lebih karena kondisi sekitar saya yang sepi, gelap, tidak banyak aktivitas dan interaksi seperti biasanya. Hal-hal buruk mulai terbersit di kepala saya, bagaimana kalau tetiba ada kebakaran di sekitar rumah? Bagaimana jika ada tiba-tiba ada gempa besar, karena malam sebelumnya Jakarta terkena gempa imbas dari gempa Banten? Bagimana jika kemungkinan-kemungkinan buruk itu Allah SWT Takdirkan datang malam itu juga? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di atas, saat itu kepala saya pusing. Literally kepala saya menjadi sangat sakit.

Selepas shalat maghrib, setelah menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala, saya keluar rumah untuk membeli makan malam. Kepala saya masih terasa sakit. Saya mencari penjual makanan di sekitar perkampungan rumah sendirian.

Saat di luar rumah membeli makan malam, saya harus keluar gang rumah untuk ke tempat penjual makanan yang terletak di jalan yang lebih besar. Bukan jalan raya, tapi masih lingkungan perkampungan rumah dengan lebar jalan yang jauh lebih besar dan banyak deretan berbagai jenis ruko yang menjual keperluan keseharian warga perkampungan. Ternyata jalan besar terdekat rumah saya sangat ramai. Motor-motor berlalu lalang. Jaklingko masih beroperasi. Anak-anak berlarian, main sepeda, dan saling tertawa. Toko-toko ramai oleh pembeli dan orang-orang yang duduk untuk sekadar mengobrol tentang listrik yang padam.

Di sini saya merasakan suasana malam masih seperti malam-malam biasanya ketika listrik tidak padam. Di sini saya menyadari bahwa perekonomian di sekitar saya masih berjalan dengan baik, setidaknya untuk kalangan rakyat kecil seperti jual beli antar di permukiman warga walapun beberapa perusahan seperti KAI tidak beroperasi karena padamnya listrik. Saya juga menyadari meskipun listrik padam, anak-anak tetap bahagia dan bermain dengan imajinasi mereka. Masih banyak suara anak-anak tertawa dan bercanda. Saya lalu tersadar walau listrik padam, setiap rumah yang tanpa cahaya malam itu masih diisi oleh keluarga yang utuh, saling berbincang satu sama lain –yang mugkin akan jarang dilakukan kalau listrik tidak padam.

Di tempat lain, di negara-negara berkonflik dan sedang melewati masa peperangan, listrik padam diiringi degan suara-suara dentuman bom dan senapan. Perekonomian tidak berjalan dan untuk makan mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari relawan perang. Tawa anak-anak, mungkin hampir tidak dapat ditemukan. Mereka mungkin hanya punya dua pilihan, menangis atau diam di tengah gelap, dingin, dan lapar. Di daerah terkena bencana, setiap orang pasti banyak yang terpisah dengan keluarganya di tengah kegelapan, karena sangat mungkin menyelamatkan diri sendiri menjadi pilihan satu-satunya untuk bertahan hidup. Dan di pedalaman, harapan aliran listrik lebih kepada untuk akses kesehatan dan belajar, bukan sekadar untuk mengisi daya hape dan laptop untuk mengirim status di sosial media seperti kita penduduk ibukota.

Banyak lagi hal yang menyadarkan saya bahwa masih banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dari padamnya listrik semalam.


Photo by Dil Emcot on Unsplash.com
Semakin lama saya di luar rumah dan melihat sekitar saya lebih dekat, semakin banyak alasan saya untuk bersyukur walaupun di tengah gelap. Alhamdulillah, listrik hanya padam untuk sementara, bukan untuk waktu jangka panjang atau selamanya. Alhamdulillah, listrik padam untuk sementara dan masih sedang diperbaiki oleh ahlinya, bukan karena peperangan, kekurangan, atau bencana. Alhamdulillah, listrik padam hanya sementara dan saya masih bisa bersama dengan keluarga dengan kondisi sehat wal afiat dan bahagia. Alhamdulillah.

Belajar dari padamnya listrik selama belasan jam kemarin, mungkin kita perlu sesekali meninggalkan salah satu nikmat teknologi yang Allah SWT Berikan, agar kita bisa lebih dekat dengan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kita tapi selama ini menjauh karena teknologi-teknologi yang kita punya. Mungkin kita perlu sedikit mendekat dengan lingkungan kita, tidak hanya menghadirkan jasad tapi juga hati dan pikiran kita, agar kita bisa melihat betapa nikmatnya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita dan jarang sekali kita syukuri. Mungkin sesekali kita perlu menakar nikmat dengan melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kita sebagaimana saudara-saudara kita di tempat pengungsian peperangan, bencana, atau yang tinggal di pedalaman.

Alhamdulillah, listrik padam hanya untuk sementara tapi syukur kita harus tetap menyala.

Lisfatul Fatinah Munir | 05 Agustus 2019
05 August 2019
Posted by Fatinah Munir

My Hijab Story: Peduli Jilbab dan Peduli Masa Depan Muslimah



Sharing section with Britzone Community. Photo's taken by committee.
"Gaining knowledge is the first step to wisdom. Sharing it is the first step to humanity."
- Unkown

Teringat tugas menentukan divisi pilihan yang belum dikerjakan sampai saat ini. Saya coba memikirkan apa yang kiranya bisa saya berikan.

Sejenak saya mengevaluasi keberadaan diri saya di WhatsApp Grup Peduli Jilbab yang ternyata membuat saya tersadar bahwa banyak sekali muslimah-muslimah yang punya semangat tinggi untuk tetap produktif, berbagi, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tidak hanya dari kalangan mahasiswa yang sedang mencari jati diri ataupun menikmati masa-masa menjalankan passion, banyak juga muslimah yang pekerja publik dan  muslimah pekerja domestic (ibu rumah tangga) yang tetap memilih sibuk memberikan manfaat kepada umat di tengah kesibukan dan kewajiban yang sudah dimiliki.

Selama membaca setiap percakapan dan perkenalan di WAG, diam-diam saya bangga kepada mereka yang ada di sana. Kepada perempuan-perempuan muslim yang insya Allah tidak diragukan lagi kemampuan, potensi, dan kecerdasannya. Seperti ada harapan yang tidak padam atas masa depan Islam dan negara tercinta di tangan mereka sebagai muslimah, ibu dan calon ibu yang kelak atau sedang mendidik anak-anaknya, calon-calon pemimpin dan kebanggaan Islam untuk menebarkan Rahmat Islam kepada banyak orang. Saya berharap sekali keshalehan, kebaikan-kebaikan, dan kecerdasan dari mereka bisa tertular kepada saya yang biasa-biasa saja.

Photo by Liana Mikah on Unsplash.com

Berkontemplasi


Mencoba merenungkan apa-apa yang sudah saya lewati, sepertinya akan lebih adil untuk diri saya dan Peduli Jilbab, agar hal-hal yang saya lakukan tidak hanya sekadar karena saya ingin tetapi karena memang saya memiliki potensi dan mampu berdaya di dalamnya. Saya pun menengok kembali ke dalam diri saya sendiri, mengevaluasi siapa saya, apa yang telah saya lakukan sebelumnya, kekuatan dan kelemahan yang saya punya, dan alasan saya memutuskan berada di Peduli Jilbab.

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri, saya menemukan kalau saya lebih senang melakukan aktivitas belajar mengajar, berbagi ilmu, dan manajemen.. Sebab itu saya senang mengobservasi dan mengintervensi anak, meneliti, dan terlibat dalam aktivitas kependidikan. Misalnya beraktivitas dalam lingkup komunitas pendidikan, pengembangan diri, dan kerelawanan dalam bidang pendidikan dan kesejahretaan anak.

Memilih


Berkontemplasi dan melihat Peduli Jilbab secara keseluruhan, mulai dari program dan budaya keorganisasian di dalamnya, saya melihat ada peluang besar saya untuk semakin memfokuskan diri pada kekuatan diri dan kesempatan neyiasati kelemahan yang saya miliki. Bismillah, saya memutuskan untuk menjadi bagian dari tim Jilbab Share bersama dengan Kak Erni.

Di dalam tim Jilbab Share ini insya Allah saya akan membantu dalam projek berbagi ilmu dengan sesama muslimah. Mengingat kembali rencana-rencana yang ingin dilakukan bersama Peduli Jilbab di tulisan sebelumnya, sepertinya semua rencana itu akan terealisasikan jika saya bergabung dalam tim Jilbab Share.

Alasan lainnya dari memilih Jilbab Share adalah saya berharap dengan adanya berbagai edukasi untuk muslimah terkait ilmu keduniaan dan akhirat bisa membuat saya dan saudara-saudara muslimah lainnya menjadi perempuan yang tidak hanya shalehah dan unggul dalam ketaatan tetapi juga berwawasan luas dan layak menjadi (calon) pendidik utama untuk generasi Islam ke depannya. Lebih jauh lagi, saya juga berharap dengan bergabungnya saya di tim Jilbab Share menjadi titik awal untuk memperlihatkan kepada banyak orang yang menganggap perempuan muslim adalah perempuan-perempuan yang memiliki banyak keterbatasan, bahwasanya Islam itu luas dan memberikan Rahmat yang luas pula ke kehidupan kita. Salah satunya melalui aturan-aturan yang Islam punya untuk perempuan muslimah, agar setiap muslimah tidak hanya tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan menarik secara fisik, tetapi juga secara sikap, sifat, dan kecerdasannya.

Bismillah!


"Sharing knowledge is not about giving people something, or getting something from them. That is only valid for information sharing. Sharing knowledge occurs when people are genuinely interested in helping one another develop new capacities for action; it is about creating learning processes."
- Peter Senge

Lisfatul Fatinah Munir | 30 Juli 2019



30 July 2019
Posted by Fatinah Munir

My Hijab Story: Mengapa Peduli Jilbab?



“With my veil I put my faith on display—rather than my beauty. My value as a human is defined by my relationship with God, not by my looks. I cover the irrelevant. And when you look at me, you don’t see a body. You view me only for what I am: a servant of my Creator. You see, as a Muslim woman, I’ve been liberated from a silent kind of bondage. I don’t answer to the slaves of God on earth. I answer to their King.”

(Yasmin Mogahed, Reclaim Your Heart: Personal Insights on Breaking Free from Life's Shackles)


Beberapa tahun lalu teman-teman saya sering sekali membagikan artwork dan quote yang berhubungan dengan kemuslimahan di media sosial mereka. Mulai dari senang membaca postingan-postingan tersebut, saya jadi penasaran apa dan siapa yang ada di balik postingan-postingan tersebut.

Pandangan Pertama


Peduli Jilbab. Nama inilah yang saya temukan di balik postingan berdesain girly dan penuh nasihat yang sering saya baca di media sosial. Setelah mencari tahu lebih banyak tentang gerakan ini hal pertama yang ada di benak saya adalah gerakan ini bukan sekadar gerakan kepedulian membagikan atau mengedukasi jilbab syar’i, melainkan adalah gerakan memberdayakan muslimah sesuai kodratnya. Di sini saya melihat bagaimana muslimah diajak untuk mengamalkan perintah Allah SWT, tetap produktif, bermanfaat, dan menginspirasi banyak orang kepada kebaikan.

Di sinilah saya melihat Peduli Jilbab seperti menjadi sebuah jawaban untuk kalangan-kalangan yang menyebut bahwa Islam mengekang, mengeksploitasi, dan merenggut hak-hak perempuan. Sebab melalui aktivitas-aktivitas Peduli Jilbab, masyarakat luas semestinya bisa melihat bagaimana muslimah tetap bebas di bawah ketentuan-ketentuan yang Allah SWT Berikan. Dengan Peduli Jilbab semestinya masyarakat juga tahu bahwa banyak muslimah yang melejit prestasinya, bermanfaat untuk banyak orang, tetapi tetap mengutamakan taat kepada Allah SWT.   

Saat itu entah mengapa belum ada rasa ingin bergabung secara resmi dalam gerakan ini. Kalau saya ingat-ingat lagi, sepertinya yang membuat saya belum mencari tahu cara bergabung dengan Peduli Jilbab karena saya sedang berdomisili di luar Jakarta dan tidak tahu akan sampai kapan meninggalkan Jakarta. Jadi saat itu bisa dibilang saya hanya memposisikan diri sebagai supporter. Saya ikuti setiap postingan Peduli Jilbab di media sosial, ikut meramaikan postingan dengan hashtag tertentu di agenda-agenda tertentu, ikut memposting ulang di WhatsApp Story, termasuk beberapa kali ikut agenda offline seperti GEMAR (Gerakan Menutup Aurat) yang diadakan setiap tahun.

Getaran Pertama


Ada momen yang paling berkesan untuk saya saat mengikuti salah satu agenda Peduli Jilbab. Yakni pada GEMAR 2018. Saat itu saya bergabung atas nama Kitainklusi, komunitas yang saya bangun bersama teman-teman guru pendidikan khusus. Pada tahun itu saya ingin “coba-coba” melihat seberapa besar teman-teman disabilitas muslim mengenal Islam, ingin tahu bagaimana antusiasme mereka, termasuk mengobservasi aksesibilitas dakwah terhadap teman-teman disablitas. Akhirnya bersama Kitainklusi, teman-teman hambatan pengelihatan, dan teman-teman tuli, saya ikut andil dalam GEMAR 2018.

Tidak banyak kontribusi yang bisa kami berikan kepada GEMAR 2018 dan justru sepertinya kami memberikan kendala tambahan saat pelaksanaan. Salah satunya adalah terhambatnya komunikasi saat membagikan jilbab gratis kepada pengguna Car Free Day, karena teman-teman tuli hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat dan tidak banyak relawan interpreter (penerjemah bahasa isyarat). Tapi, Alhamdulillah, GEMAR 2018 ini seperti mile stones buat teman-teman tuli dan hambatan pengelihatan yang hadir untuk memperoleh akses dakwah yang setara ke depannya. Sejak saat itu teman-teman tuli jadi semakin semangat belajar Islam, beberapa kajian-kajian keislaman mulai menyediakan interpreter, dan teman-teman tuli juga ikut anbil besar dalam projek Hijrah Fest pertama sehingga keberadaan teman-teman disabilitas muslim semakin tampak oleh umat. Alhamdulillah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Momen GEMAR 2018 ini tidak hanya mempengaruhi dakwah bagi teman-teman disabilitas tapi juga mendorong saya untuk ikut terlibat lebih jauh lagi dalam gerakan ini. Saya ingin ikut andil langsung dalam projek akhirat ini. Mengingat sejak kuliah dulu saya sering sekali ikut dalam aktivitas sosial yang berhubungan dengan keduniaan dan sekarang juga ingin berkontribusi dalam dakwah Islam.

Saya pun mulai bertanya kepada teman-teman yang sudah menjadi pengurus Peduli Jilbab terkait penerimaan anggota tim baru. Sayangnya, saat itu teman saya belum tahu kapan akan ada pendaftaran menjadi anggota baru Peduli Jilbab. Di tambah lagi ternyata pendaftaran anggota baru ternyata hanya dibuka per dua tahun. Agak sedih, sih, saat itu. Tapi mungkin memang Allah SWT belum Mempercayai saya atau Menilai kalau saya belum cukup layak untuk menjadi bagian dari Peduli Jilbab.


Teman-teman tuli yang ikut berpartisipasi dalam GEMAR 2018 sedang saling menyimak terjemahan bahasa isyarat dari orasi dan tausiyah yang diberikan

Satu Tahun Penantian;
Kesempatan dan Kesiapan


Karena sudah sangat ingin bergabung, sejak saat itu saya langsung mengaktifkan notifikasi postingan instagram Peduli Jilbab meskipun harus menunggu satu sampai dua tahun untuk munculnya sebuah postingan perekrutan anggota tim baru. Sekilas tampak seperti sebuah ambisi, tapi saya lakukan ini demi mendapatkan kesempatan yang kalau tidak saya dapatkan di tahun pembukaan pendaftaran tersebut maka saya harus menunggu dua tahun lagi.

Dalam salah satu buku yang pernah saya baca, saya lupa judul dan penulisnya, dikatakan bahwa apa yang terjadi pada diri kita pada dasarnya ada di antara kesempatan dan kesiapan. Ketika Allah SWT memberikan kesempatan tapi kita belum siap atau layak, maka sesuatu tidak akan terjadi. Begitupun sebaliknya, ketika sudah ada ada kesiapan dan kelayakan tapi Allah SWT belum memberikan kita waktu untuk memiliki atau melakukan sesuatu, maka sesuatu itu tidak akan terjadi.

Berada di antara kesempatan dan kesiapan ini membuat saya harus memaksakan diri untuk siap ketika ada kesempatan mendaftar menjadi bagian Peduli Jilbab. Memperbaiki diri lagi dan lagi adalah satu-satunya cara yang bisa saya lakukan. Bukan hanya demi memantaskan diri dengan Peduli Jilbab, tapi juga sebagai bentuk syukur atas nikmat ilmu, iman, dan islam yang Allah SWT Berikan.

Bertemu


Siang itu di sela-sela istirahat mengajar, ada sebuah notifikasi dari akun instagram Peduli Jilbab. Alhamdulillah, perekrutan anggota tim baru telah dibuka. Saya sengaja meluangkan waktu sore hari, pulang terlambat demi mengisi formulir seleksi keanggotaan yang cukup detail di hari pertama perekrutan.

Alhamdulillah. Saat pengumuman kelulusan seleksi, yang saat itu saya lupa sekali kalau hari itu adalah pengumumannya, Alhamdulillah ada nama saya di daftar calon anggota. Senyum sendiri. Senang. Bersyukur. Saya menantikan masa-masa berjuang bersama muslimah-muslimah lainnya. Membayangkan apa saja yang bisa saya berikan di jalan dakwah ini.

Rencana-Rencana Saat Bersama


Seperti seseorang yang menanti jodoh terbaik dari Allah SWT, pasti ada banyak rencana-rencana kolaborasi kebaikan yang akan dilakukan ketika berjumpa dan berada dalam ikatan halal nantinya. Begitu juga ketika menantikan menjadi bagian dari anggota tim Peduli Jilbab, ada beberapa rencana yang ingin saya lakukan bersama Peduli Jilbab. Tidak banyak dan tidak wah memang, karena keterbatasan ilmu dan kemampuan saya. Tapi semoga yang sederhana ini bisa menjadi amal jariyah bagi saya dan jalan hidayah bagi muslimah-muslimah di luar sana.

Jika Allah SWT takdirkan saya berjodoh dengan Peduli Jilbab, saya berharap bisa terlibat dalam aktivitas berbagi ilmu dengan muslimah lainnya, terutama dalam hal pendidikan dan parenting. Mungkin bisa dimulai dari hal sederhana seperti bagaimana menikmati kodrat sebagai muslimah, calon sekolah pertama untuk anak-anaknya yang harus cerdas, sehat, dan tetap menjaga penampilan.

Di samping itu, dengan menjadi bagian Peduli Jilbab saya berharap dakwah Islam dapat tersampaikan secara menyeluruh kepada teman-teman disabilitas muslimah di luar sana. Contoh awalannya adalah dengan menyediakan interpreter di kajian-kajian kemuslimahan yang diadakan Peduli Jilbab agar dakwahnya bisa ikut dinikmati oleh teman-teman tuli. Dan dalam jangka panjang, berharap sekali setiap aktivitas dakwah bisa melibatkan teman-teman disabilitas, membahas fikih disabilitas, dan hingga mengenalkan sosok-sosok teman disabilitas inspiratif yang dekat dengan al-Qur'an, sunnah, dan dakwah. Semoga Allah SWT Lancarkan.^^

Ketika Allah SWT Membersamakan saya dengan Peduli Jilbab, saya juga berharap bisa mejadi bagian dari yang mendorong muslimah untuk terus produktif berkarya dan menebarkan manfaat ilmu keduniaan untuk banyak muslimah lainnya. Misalnya berbagi ilmu sesuai keprofesian masing-masing, seperti berbagi ilmu kependidikan khusus dari saya yang berprofesi sebagai pengajar anak-anak berkebutuhan khusus, berbagi ilmu manajemen keuangan dari tim yang berprofesi di bidang tersebut, bagi yang mempunyai pola hidup zero waste bisa membahas zero waste dari sudut pandang Islam, dan sebagainya.
  
Selanjutnya, saya berharap bisa membantu Peduli Jilbab di bidang literasi untuk keperluan internal tim maupun berbagi ilmu dengan muslimah pada umumnya. Pengalaman saya dalam bidang literasi mungkin tidak banyak, tapi kecintaan saya pada bidang ini membuat saya sangat menikmati prosesnya. Lalu saya berpikir di mana pun saya berada, sepertinya kemampuan inilah yang bisa saya kontribusikan dengan segenap perasaan senang dan syukur saya. Misalnya ketika Peduli Jilbab membutuhkan penulis artikel atau konten, insya Allah, saya akan mengambil bagian dari amanah ini.

Tidak banyak yang bisa saya berikan secara pribadi kepada Peduli Jilbab. Tapi melalui rencana-rencana di atas, saya berharap bisa terus berkolaborasi dalam kebaikan-kebaikan yang insya Allah akan menjadi salah satu sebab kita berjumpa di surga-Nya kelak. Allahumma aamiin.



Lisfatul Fatinah Munir | 25 Juli 2019
25 July 2019
Posted by Fatinah Munir

My Hijab Story: Hijab Pertamaku




Saat ditanya kapan mulai memakai hijab, apa alasan pertama kali berhijab, terus kapan memilih menggunakan hijab panjang, dan kenapa memilih menggunakan hijab panjang, mungkin saya akan cuma cengar-cengir. Lebih tepatnya sih karena bingung mau mulai jawab dari mana dan apakah harus menjelaskan alasannya. Karena alasan dari hijab yang saya kenakan sekarang sebenarnya agak kurang mengenakan dan membuat saya merasa kurang nyaman.

Saya agak kurang ingat kapan pertama kali saya mengenal atau dikenalkan hijab oleh keluarga saya. Seingat saya, orang pertama yang berhijab di rumah adalah kakak, karena kakak saya belajar di sekolah agama dan hampir semua sepupu-sepupu saya mendapatkan pendidikan di sekolah agama (pesantren) sejak kecil. Jadilah mereka sosok-sosok teladan pertama buat saya menutup aurat. Bagaimana dengan ibu saya? Saya lupa banget kapan ibu saya istiqomah berjibab, tapi seingat saya itu dilakukan saat saya sudah remaja.

Sejak kecil, saya sudah dikenalkan untuk berhijab oleh kedua orang tua saya. Minimal sekali dalam sehari, saat pergi mengaji di malam hari. Hehehe. Kalau saya coba ingat-ingat, sejak kecil alias sebelum kenal bangku sekolah, saya sudah sering mengobrak-abrik lemari pakaian ibu atau kakak. Karena dulu belum banyak produk jilbab untuk anak-anak apalagi jilbab instan seperti sekarang, jadinya saya menggunakan jilbab-jilbab ibu dan kakak untuk belajar mengaji.

Seingat saya sih dulu saya suka banget pakai jilbab dengan berbagai model. Mulai dari jilbab ala ibu-ibu arisan yang dipilin seperti rantai lalu dilintangkan di atas kepala seperti bando sampai meniru jilbab ala santri-santri pesantren seperti jilbab sepupu-sepupu saya saat mereka liburan ke Jakarta. Hahahaha.

Kebiasaan ini masih saya lakukan sampai saya kelas 4 SD, kalau tidak salah. Dan Alhamdulillah ada peningkatan dari kebiasaan cuma satu kali sehari pakai jilbabnya jadi dua kali sehari. Wkwkwk. Hal ini karena saya masuk sekolah agama setelah sekolah reguler. Jadi, pagi hari saya sekolah seperti anak umumnya tanpa jilbab dan malah bergaya cukup tomboy, pulang sekolah saya istirahat sebentar kemudian masuk sekolah agama dan malam harinya belajar mengaji ke salah satu ustaz di perkampungan rumah saya. Jadi bisa dibilang pertama kali saya berjilbab karena tuntutan belajar di sekolah agama dan mengaji.


Hingga suatu hari ada sebuah kejadian yang tidak pernah saya duga menjadi salah satu pemicu saya pelan-pelan menutup aurat.


Insiden ini terjadi ketika saya di kelas 5 SD. Saat itu saya hamper mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh murid pindahan yang postur tubuh dan usianya jauh di atas murid kelas 5 SD pada umumnya. Saat itu saya langsung mengadu kepada kedua orang tua saya dan membuat kondisi sekolah cukup gempar, apalagi hubungan antar orang tua murid yang sempat memanas terutam antara orang tua saya dan orang tua murid yang mencoba melecehkan saya.

Perlakukan kedua orang tua saya pun berubah drastis. Ibu dan bapak saya yang sebelumnya tidak terlalu memberikan banyak aturan mendadak memberikan banyak aturan kepada saya, terutama dalam hal pakaian. Sejak saat itu saya dilarang menggunakan jeans, hanya boleh menggunakan celana-celana agak gombrong. Bapak juga mengharuskan saya menggunakan celana pendek atau celana ketat jika saya menggunakan rok. Sejak saat itu bapak yang paling rajin membelikan saya celana ketat. Bapak juga melarang saya menggunakan celana-celana pendek yang biasa saya pakai, meskipun celana-celana pendek saya dulu sebenarnya celana model laki-laki. Sejak kejadian inilah saya perlahan menggunakan rok, selalu mengenakan celana panjang di balik rok, dan memutuskan menggunakan jilbab setiap kali berpergian jauh.

Setidak menyenangkan inilah alasan pertama kali saya sedikit demi sedikit menutup aurat. Malu dan sedih sendiri sebenarnya. Jika ada cara lain yang bisa saya pilih, saya akan meminta diberikan cara lain oleh Allah SWT. Tapi Allah SWT Menghendaki demikian dan selalu saya ingat sampai sekarang.

Setelah lulus SD, Alhamdulillah saya masuk tsanawiyah atau sekolah agama setingkat SMP yang mengharuskan saya menggunakan jilbab setiap hari. Di sinilah saya mulai menggunakan jilbab dengan intensitas yang lebih tinggi walaupun masih sering tidak menggunakan jilbab kalua pergi ke warung atau keluar sekitar rumah. Di tsanawiyah ini walaupun masih tomboy dan mengikuti aktivitas maskulin yang berhubungan dengan alam, Alhamdulillah saya dipertemukan dengan teman-teman dan pembina rohis yang menuntun saya mengenal Islam dengan cara yang menyenangkan. Di sini pula saya mulai mengenal mentoring dan kajian-kajian keislaman.

Di masa-masa ini juga saya mengenal bagaimana berhijab yang benar, menutup aurat dengan benar termasuk menutup kaki dan pergelangan tangan. Bersama teman-teman rohis, saya juga belajar lagi kalau berjilbab dan berhijab bukanlah untuk semata menghindari respon tidak menyenangkan dari lawan jenis. Berhijab, menutup aurat sesuai ajaran Allah SWT adalah kewajiban bagi saya sebagai muslimah dan sebagai bentuk kecintaan kepada-Nya. Perkara terhindar dari respon negative lawan jenis dan lainnya, itu adalah satu dari banyak hikmah berhijab itu sendiri.  Bismillah. Di kelas 2 SMP, Alhamdulillah saya memutuskan menggunakan jilbab sekolah yang panjang dan tidak menerawang.


Walaupun begitu, masih banyak tantangan yang saya temui. Salah satunya adalah kendala iman dan kekuatan diri saya sendiri. Saya mencoba konsisten pakai jilbab syar’i di sekolah walaupun jika bepergian masih setengah-setengah. Kalau jilbab saya tebal, biasanya kendalanya adalah jilbabnya kecil dan tidak bisa dibuat panjang. Terus kalau jilbabnya cukup lebar, pasti bahannya tipis. Lagi-lagi, dulu tidak banyak yang menjual hijab berbahan tebal, tidak menerawang, apalagi ukurannya lebar. Syukurnya sekarang sudah banyak yang menjual jilbab syar’i dan ini semakin memudahkan siapa saja yang mau menggunakan jilbab syar’i. Alhamdulillah.

Meskipun sudah mengenakan hijab syar’i cukup lama, itu bukan berarti saya sudah kebal dengan berbagai godaan fashion hijab dan sebagainya loh. Hehehe. Tantangan masih tetap ada sampai sekarang kok. Hehehe. Saya harus tetap melakukan usaha terbaik agar bisa berpenampilan sesyar’i mungkin di mana pun dan kapan pun. Komentar-komentar negatif dan cenderung jastifikasi tentang penampilan saya juga masih saya terima dari keluarga saya. Pandangan-pandangan kurang mengenakkan juga masih saya dapatkan dari lingkungan saya beraktivitas atau saat saya bepergian.  

Seperti yang saya tuliskan di atas, saya masih harus melakukan usaha terbaik saya untuk tetap istiqomah dengan hijab syar’i dan terus memperbaharui ilmu yang saya punya. Semua ini bukan hanya untuk mempertahankan apa yang sudah saya mulai, tetapi juga untuk menjaga hidayah dan inayah yang sudah Allah SWT Hadiahkan kepada saya. Meski ada kejadian yang tidak menyenangkan di baliknya, insya Allah ini adalah jalan terbaik yang Allah SWT Berikan kepada saya.

Semoga saya dan juga teman-teman yang membaca tulisan ini tetap istiqomah menutup aurat. Semoga kita bisa tetap menjaga hidayah yang Allah SWT Berikan dengan usaha terbaik yang kita punya agar semakin banyak hadiah-hadiah yang Allah SWT Berikan kepada kita. Dan semoga satu ketaatan menutup aurat ini dinilai-Nya sebagai salah satu cara berbakti kepada kedua orang tua kita, sehingga menjadi salah satu penyebab keduanya dimudahkan menginjakkan kaki di surge terbaik-Nya.
Allamumma aamiin.


Lisfatul Fatinah Munir | 14 Februari 2019
Tulisan ini untuk memperingati Hari Gerakan Menutup Aurat 2019

Ditulis pada Kamis, di hari terakhir saya mencium tangan Bapak sebelum beraktivitas
Ditulis pada tanggal 14, di tanggal Bapak berpulang kepada-Nya

 Baca cerita hijab saya yang lainnya di sini ^_^
14 February 2019
Posted by Fatinah Munir

Antara Memanjakan Lelah dan Mengkhianati Usaha


Antara Memanjakan Lelah dan Mengkhianati Usaha

No matter how you feel, get up, dress up, show up, and never give up.
(Anonymous)

Setiap manusia pasti punya harapan dan target yang mesti dicapai, sekecil apapun harapan dan target itu. Kemudian, setiap usaha pasti akan dilakukan untuk mencapai harapan dan target tersebut. Biasanya segala cara akan dilakukan, baik atau buruk, cepat atau lambat. Semuanya punya porsi dan versi masing-masing dalam melakukan yang terbaik untuk mewujudkan target-targetnya.

Saya juga begitu. Saya punya target dan harapan hidup yang saya yakini baik untuk urusan dunia dan akhirat saya. Lalu saya mulai merancang apa saja yang harus saya lakukan untuk mencapai apa yang sudah saya targetkan. Mulai dari usaha paling kecil dan remeh temeh sampai usaha yang paling serius hingga harus mengorbankan waktu, tenaga, dan dana.

Well, bisa dibilang saya sedang di tahap itu. Di tahap melakukan usaha terbaik saya untuk mencapai apa yang saya inginkan. Tidak peduli apa yang ada di hadapan, pokoknya semuanya saya terjang. Selama masih dalam jalan yang diridhoi Allah, saya jalankan meskipun harus mengorbankan banyak hal di saat ini. Sampai-sampai saya pernah mendapat komentar “Kenapa harus seambisius itu sih melakukannya?”

Bukan, ini bukan ambisi. Ini tujuan yang saya punya dan beginilah semestinya saya memperjuangkannya. Begitu kira-kira tanggapan saya.

Kemudian di tengah semangat berjuang meraih yang saya inginkan, tiba-tiba muncul sesuatu yang paling sangat saya takutkan, yaitu lelah. Iya, merasa lelah adalah hal yang paling tidak saya sukai. Saya takut merasa lelah dan memilih untuk berhenti di tengah usaha saya. Dan hal itu benar terjadi pada diri saya.

Jadi, salah satu usaha yang saya lakukan untuk mencapai target saya adalah dengan menyelesaikan membaca beberapa jurnal dan referensi dengan cepat. Pada salah satu referensi penting yang saya punya, saya sudah membaca hingga halaman 797. Masih ada puluhan halaman lagi di baliknya dan saya tidak punya sedikitpun niatan untuk mengintip isi halaman-halaman tersebut.

Setelah berhari-hari mencoba memahami isi tulisan dan merangkumnya dalam poin-poin penting, saya merasakan sedikit jenuh dan sempat bergumam, “Kapan sih tulisan ini selesai dibaca?”

Setelah itu, sedikit demi sedikit saya mulai mengurangi jam membaca. Bahkan melihat nomor halaman ini rasanya lelaaaaaah sekali. Jenuh dengan rutinitas yang mengambisi. Lalu memutuskan berdiam diri, menikmati lelah di pikiran juga badan.

Tanpa saya sadari, saya tidak menyentuh hal-hal yang berhubungan dengan target saya selama beberapa pekan. Benar-benar tidak ada hari dengan membaca, menganalisa, merangkum, dan semacamnya. Semua aktivitas itu perlahan menghilang dan saya memutuskan bermalas-malasan. Huaaaa…. Padahal kalau mau sadar lebih awal, deadline dari target ini semakin mendekat dan harus segera dikejar. Ya mau bagaimana lagi, lelah sudah menjadi lelah dan saya sudah menjaga jarak dari target saya. Hiks T_T

Nah, setelah semangat saya melemah beberapa minggu, di suatu sore saya memutuskan untuk kembali memulai. Saya lanjutkan target membaca dan ternyata halaman ini berakhir di angka 800, kemudian diakhiri summary serta daftar referensi yang berlembar-lembar. Hanya 3 halaman. Iya. Ternyata hanya 3 halaman lagi bacaan saya selesai sebelum saya memutuskan berhenti bersama lelah yang hampir-hampir mengumpat pada hasil yang belum terlihat.

Rasanya ingin menjerit saat itu juga. Justru mau memarahi diri sendiri ketimbang menggerutui proses yang belum terlihat hasilnya. Tepat sebelum membaca summary, rasanya ingin membentak diri sendiri. Kenapa harus sedini itu berhenti? Mengapa tidak bertahan sedikit lagi agar bisa melanjutkan banyak hal dan mendapatkan progres yang maksimal? Duh Gusti…, bodohnya diri ini yang sempat memutuskan berhenti karena alasan lelah dan jenuh dengan perjalanan :C

Instrospeksi Diri; Karena Tidak Ada yang Terlambat Selama Mau Segera Memperbaiki Diri

Saat selesai membaca, saya sempat diam sebentar. Memutar ulang kejadian, mengingat-ingat rasa malas dan lelah yang saya manjakan. Lalu saya terpikirkan, mungkin ini nih yang membedakan si hebat dengan si pecundang. Yaitu ketahanan dalam menuju tujuan.

Sejujurnya saya menyesal dan kesal kepada diri sendiri. Mengapa saya harus memanjakan kelelahan saya? Kenapa saya tidak mencoba bertahan lebih lama lagi, tiga halaman lagi saja. Cuma pertanyaan kenapa dan kenapa yang keluar dari mulut saya sebagai kekesalan atas keputusan yang saya ambil.

Lebih jauh lagi, ini bukan hanya perkara mengizinkan diri berleha-leha menikmati lelah, tetapi tentang usaha yang sudah dilakukan hingga tiba di titik sekarang. Saya jadi sedih dan merasa bersalah kepada sendiri kalau ingat usaha yang saya lakukan selama berbulan-bulan belakangan. Perjalanan panjang yang saya lakukan sampai saya ada di posisi saat ini, sebelum rasa lelah itu singgah.

Memutuskan memanjakan lelah selama berminggu-minggu itu jadi seperti sebuah pengkhianatan kepada usaha saya, diri sendiri, dan impian yang saya targetkan selama bertahun-tahun lamanya. Jika saya berkhianat pada diri saya sendiri, saya bisa memperbaikinya dengan memaafkan diri saya sendiri dan memperbaiki diri sedini mungkin, Tapi bagaimana jika saya mengkhianati usaha sendiri dan impian-impian yang sudah saya punya? Buat saya pribadi, saya seperti seorang yang tidak bersyukur sama sekali, bahkan atas usaha yang saya lakukan sendiri.

Di sini saya pikir mungkin Allah SWT sedang Mengajarkan kepada saya cara untuk menghargai diri sendiri, menghargai usaha, dan juga impian-impian yang sudah berani kita ungkapkan kepada Allah SWT melalui doa-doa panjang di setiap akhir shalat, di setiap kesempatan kita sendirian. Mungkin di sini Allh SWT sedang mengajarkan bahwa apa yang sudah saya hadapi saat ini, tidak luput dari apa yang sudah saya lalui. Bukan tentang bagaimana hasil dari usaha yang telah dilalui, tetapi tentang bagaimana menghargai segala perjuangan, lelah, dan usaha selama ini.

Jika kita mengenal tidak ada hasil yang mengkhianati usaha, maka mencoba menyerah, memanjakan lelah adalah bentuk mengkhianati usaha sebelum hasilnya kita peroleh. Ini jauh lebih memalukan daripada menggerutui hasil yang tidak sesuai harapan.

Mungkin perlu belajar bertahan lebih lama, meskipun sedikit. Mungkin perlu belajar bersabar lebih dalam, meskipun tak nyaman. Mungkin perlu lebih sering mengingat langkah pertama yang pernah dilakukan hingga berada di titik sekarang. Seperti sabar yang bukan berarti berdiam, melainkan melakukan usaha maksimal dalam setiap kebaikan yg sedang diperjuangkan. Bersabar dengan kesabaran terbaik, demi tujuan yang diidamkan. Itu katamu waktu itu dan semestinya tetap diingat hingga sekarang.

Jadi dari kesalahan ini saya belajar tidak apa jika lelah. Silakan beristirahat seperlunya. Tapi jangan pernah berpikir untuk berhenti dan memanjakan lelah dengan hendak menyerah. Karena jika itu terjadi, maka itu artinya kita telah menyakiti usaha-usaha yang telah dilakukan, mencemooh doa-doa yang telah dilangitkan, dan meremehkan kuasa Allah SWT yang Menguatkan langkah kita hingga saat ini.

Untuk setiap kalian yang sedang memperjuangkan harapan-harapan, selamat menikmati setiap lelah dnegan kesetiaan pada perjuangan. Jika sempat berpikir untuk berhenti, ingatlah kembali langkah pernah yang pernah dilakukan hingga bisa dititik sekarang.


@fatinahmunir | 13 Februari 2019



13 February 2019
Posted by Lisfatul Fatinah

KONMARI: Berbenah ala Jepang Sekaligus Mengubah Pola Hidup (Bagian 2)



Setelah pengenalan panjang tentang berbenah ala Konmari dan pembahasan tentang merapikan pakaian di tulisan sebelumnya, sekarang kita akan membahas beberapa kategori benda lainnya yang akan kita benahi, seperti buku, kertas, pernak-pernik, dan benda-benda sentimental.

Menyimpan Buku

Prinsip menyimpan buku ala Konmari masih sama seperti prinsip membenahi pakaian. Kita hanya perlu menyimpan buku yang membangkitkan kebahagiaan dan membuang sisanya! :D

Tantangan saat berbenah buku akan berbeda dengan berbenah pakaian. Saat berbenah buku pasti akan ada rasa tidak tega untuk membuang dengan alasan suatu hari nanti ingin membuat perpustakaan, ingin dibaca ulang nanti, atau ingin di baca kapan-kapan. Kalaupun kita ingin membuat perpustakaan, maka pertimbangkan apakah kita rela perpustakaan kita dipenuhi buku-buku yang tidak membangkitkan kebahagiaan? Kalau ingin membaca ulang buku yang sudah pernah dibaca, apakah benar kita akan membaca ulang buku tersebut di tengah masih adanya daftar buku yang ingin dibaca atau dibeli? Terakhir, yakin tetap ingin menyimpan buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca dengan alasan akan dibaca kapan-kapan? Sebab nyatanya, kapan-kapan berarti tidak akan pernah :) Ada pengecualian dalam menyimpan buku ala Konmari, satu jenis buku yang boleh disimpan tanpa ditanyakan apakah menumbuhkan kebahagiaan atau tidak adalah buku favorit kita sepanjang masa.

Sama seperti proses berbenah pakaian, setiap buku yang ada di rumah atau ruangan harus dikumpulkan di atas lantai. Pegang satu per satu buku yang ada, disarankan untuk menyentuh atau mengusap setiap sampul buku. Kemudia bertanyalah kepada diri sendiri apakah buku tersebut memberikan kebahagiaan atau tidak ketika disentuh. Jika tidak memberikan kegembiraan, maka buanglah atau sumbangkan buku-buku tersebut ke tempat yang membutuhkan :)

Apabila memiliki terlalu banyak buku meskipun sudah ada yang disingkirkan, maka kita perlu mengkategorikan lagi buku-buku yang kita miliki. Setidaknya ada empat kategori besar buku ala Konmari, yaitu buku umum (buku yang dibaca untuk hiburan), buku praktis (referensi, buku masakan, dll), buku visual (koleksi foto, buku untuk mewarnai, dll) dan terakhir majalah. Untuk memudahkan dan lebih mengerucutkan buku yang akan disimpan, kita bisa membuat kategori sendiri. Misalnya cukup menyimpan buku tentang parenting, bisnis, dan keagamaan.

Setelah kita mendapatkan buku yang ingin kita simpan, yang membangkitkan kegembiraan, barulah kita bisa menata buku di dalam rak sesuai dengan selera. Tapi perlu dipastikan bahwa buku-bukut tersebut masuk ke dalam rak.


Menyortir Kertas

Pada prinsipnya semua kertas harus dibuang. Kita harus membuang kertas apa saja yang selama ini kita simpan, kecuali tiga kategori berikut; kertas yang masih dipakai, masih diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan kertas yang harus disimpan hingga waktu tak terbatas. Sedangkan untuk mebenahinya, kita cukup membuat dua kategori kertas, yakni kertas yang harus diurus dan kertas yang harus disimpan.

Kertas yang harus urus contohnya adalah surat yang harus dibalas, formulir yang harus diisi dan dikirim, dan koran yang harus dibaca. Seluruh kertas kategori ini sebaiknya disimpan dalam satu tempat, tidak perlu dipisah. Sebagai wadah penyimpanan kategori ini, disarankan untuk menggunakan kotak arsip vertikal. Digunakannya kotak arsip vertikal adalah karena wadah ini memudahkan kita untuk mengambil kertas yang akan diurus segera. Satu lagi, perlu diingat bahwa kotak penyimpanan kertas yang harus diurus ini semestinya tidak penuh dan lebih baik kosong. Jika kotak penyimpanannya penuh atau terisi, berarti ada hal yang belum kita urus.

Kategori kertas yang harus disimpan dapat kita buat menjadi subkategori lagi, yaitu kertas yang jarang dikeluarkan tetapi harus disimpan. Kertas subkategori ini misalnya adalah surat kontrak, polis asuransi, garansi, dan sebagainya yang sebenarnya tidak membangkitkan kebahagiaan tetapi tetap harus disimpan. Kertas subkategori ini disarankan disimpan di map plastik bening dan dijadikan satu semuanya.

Kertas yang harus disimpan subkategori sering digunakan adalah resume seminar atau kliping surat kabar. Karena kertas jenis ini sering digunakan, maka untuk menyimpannya kita bisa menggunakan map berbentuk buku yang berisi lembaran-lembaran plastik.

Apabila tahapan membenahi kertas sudah kita jalani, berrati kita cukup memiliki tiga tempat penyimpanan kertas, yaitu kotak arsip vertikal, map bening, dan map buku plastik. Jika ada kertas baru yang harus disimpan, jangan menambah tempat penyimpanan kertas, melainkan kembali sortir ketas yang ada :)


Komono (Pernak-Pernik)

Di antara kita pasti ada yang suka menyimpan benda-benda kecil, apapun itu bentuknya yang kita pikir kemungkinan tidak tega untuk membuangnya atau berpikir akan menggunakan benda tersebut suatu hari nanti. Jika kita amati, tidak ada tujuan khusus dari kebiasaan menyimpan seperti ini. Kebanyakan alasannya hanya karena ingin saja atau suka, tanpa tahu apa yang akan kita lakukan dengan benda-benda tersebut.

Jika kita memiliki kebiasaan ini dan ingin menerapkan metode Konmari, maka kita harus membuang kebiasaan ini jauh-jauh. Masih ingat hal yang harus dilakukan untuk menerapkan metode Konmari dalam berbenah? Salah satunya ada mengapresiasi benda yang kita punya. Kebiasaan menyimpan barang tanpa tujuan tidak sejalan dengan mengapresiasi benda di mana memanfaatkan benda dengan baik adalah cara terbaik untuk mengapresiasinya.

Di Jepang sendiri, benda-benda kecil seperti ini disebut komono. Secara harfiah, komono tidak hanya berarti benda-benda kecil, tetapi juga perkakas, komponen, atau hal-hal tidak penting seperti yang biasa orang Indonesia sebut tetek bengek.

Jika kita bayangkan, akan ada banyak sekali benda jenis komono ini dan betapa sulitnya membenahi itu semua. Akan tetapi dalam berbenah ala Konmari akan kita akan lebih mudah berbenah menggunakan urutan komono sebagai berikut; CD/DVD, produk perawatan kulit dan wajah, aksesoris, barang berharga, elektronik kecil, alat tulis, alat dapur, pajangan, dan sebagaimana.

Masih sama seperti sebelumnya, seleksi barang-barang yang akan kita simpan dengan tolak ukur membangkitkan kebahagiaan atau tidak. Setelah itu kita bisa merapikan dan menyimpan setiap pernak-pernik ini berdasarkan kategorinya.

CD/DVD. Untuk CD/DVD, jangan lupa untuk mengecek apakah kepingan CD/DVD yang masih berfungsi atau tidak. Kemudian pisah lagi CD/DVD ini berdasarkan subkategori; music, film, drama, dan program (jika kita memiliki elektronik yang membutuhkan CD untuk menggunakannya, seperti printer, program computer, dan sebagainya). Kita bisa menggunakan dompet CD/DVD untuk menyimpannya. Kendati sudah dibagi ke dalam subkategori dan disimpan dalam dompet CD/DVD, kita tetap harus meyimpannya di satu lokasi, misalnya letakknya semuanya di dalam laci lemari kecil dekat TV.

Produk perawatan kulit dan wajah. Dalam merapikan produk perawatan kulit dan wajah (kosmetik), kita perlu menyeleksi terlebih dahulu produk mana yang benar-benar kita gunakan dan membangkitkan kebahagiaan. Untuk sejumlah sampel produk kosmetik  yang kita dapat dari sales di mal, tidak usah berpikir keras untuk memilihnya jika memang tidak kita gunakan, semua itu bisa kita buang atau diberikan kepada orang yang memang menggunakan produk tersebut.

Tempat penyimpanan kosmetik sebaiknya dibagi berdasarkan subkategorinya. Misalnya produk perawatan kulit, produk perawatan rambut, produk perlengkapan mandi, dan produk perawatan wajah. Setiap subkategori ditata di dalam kotak make up organizer dengan posisi berdiri. Hindari penyimpanan make up di dalam dompet make up seperti ingin bepergian.

Seluruh subkategori produk kosmetik ini sebaiknya diletakkan di satu lokasi, contohnya diletakkan di atas meja rias atau meja dekat kamar mandi yang memang lokasinya dapat dijangkau untuk kebutuhan mandi dan berhias setelah mandi.

Aksesoris. Selanjutnya adalah aksesoris termasuk di sini adalah perhiasan. Bagian aksesoris ini mungkin akan menjadi yang sulit bagi beberapa orang, dikarenakan benda ini kecil dan dimiliki dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sama seperti sebelumnya, untuk membenahi aksesori sebaiknya memisahkan aksesoris berdasarkan jenisnya. Penataan letak aksesoris bisa digabungkan di satu lokasi, seperti di meja rias berdekatan dengan kosmetik di dalam laci rias. Untuk wadah penyimpanan aksesoris sendiri sebaiknya menggunakan wadah yang sesuai dengan bentuk aksesoris, misalkan kalung ditata di gantungan kecil yang bisa diletakkan di atas meja, gelang disimpan di wadah dengan tabung untuk melingkarkan gelang di tabung tersebut, cicin disimpan di dalam kotak cincin yang dapat memuat beberapa cicin sekaligus. Untuk aksesoris lain seperti pin atau bros bisa disatukan dalam wadah kotak dan untuk peniti atau jarum bisa ditata di atas wadah dengan spons yang kita bisa menancapkan jarum atau peniti di atasnya.

Seluruh aksesoris di atas bisa dimasukkan dalam kotak masing-masing. Laci kecil bertingkat dapat juga menjadi pilihan untuk menyimpan berbagai aksesoris ini.

Barang berharga. Yang dimaksud barang berharga dalam metode Konmari ini salah satunya adalah uang receh. Mungkin sering menemukan uang receh tergeletak di mana-mana di dalam rumah kita. Meskipun kita sudah menyediakan tas khusus uang receh, tapi sering kali di antara kita tidak memiliki tujuan untuk apa uang receh itu dikumpulkan, padahal jelas-jelas recehan tersebut tetaplah uang.

Menggunakan metode berbenah Konmari, seperti yang dipaparkan sebelumnya, kita harus mengapresiasi atau menghargai setiap benda yang kita punya. Terkait dengan uang receh ini, kita pun harus menghargainya, sekecil apapun nominal uangnya. Kemudian perilah cara membenahinya adalah cukup sediakan satu dompet kecil khusus receh di dalam tas jika di luar rumah kita memiliki uang receh saat berjual beli.

Untuk di dalam rumah, sediakanlah satu tempat khusus -ingat hanya satu tempat penyimpanan di dalam rumah, untuk menampung uang receh yang ada di kantung. Jangan biarkan satu koin atau uang receh pun yang tercecer di sembarang tempat.  Selanjutnya jangan lupa untuk menukar uang receh tersebut secara berkala, misalnya satu sampai tiga bulan sekali untuk ditabung ke bank atau ditukar ke took atau petugas parkir yang memang membutuhkan uang receh.

Elektronik kecil. Kamera, handy camp, power bank, charger elektronik, dan kabel-kabel penghubung adalah perintilan lain yang pasti sering berserakan atau memiliki tempat penyimpanan yang layak. Kamera dan handy camp biasanya disimpan di dalam lemari pakaian dengan alasan akan lebih aman karena dikelilingi benda-benda yang lembut, sedangkan power bank dan charger berbagai elektronik dibiarkan tergeletak di dekat sumber listrik tanpa diurus.

Cara seperti di atas sama saja kita tidak menghargai berbagai barang elektronik kecil yang kita punya, yang kerap kali tidak ingin kita tinggalkan jika bepergian. Untuk menyimpannya, disarankan untuk menyimpan elektronik sejenis ini di satu lokasi dan tidak disimpan bersama dengan kardusnya. Dalam prinsip Konmari, setiap kardus hasil pembelian barang harus segera dibuang, tidak untuk ditumpuk atau disimpan dengan apapun alasannya. Jika kardus tersebut tidak ingin dibuang, maka kita harus langsung atau segera memanfaatkannya, misalnya menjadikan kardus handphone sebagai tempat aksesoris, dan sebagainya.

Untuk charger elektronik, kita bisa menggunakan (membeli atau membuat sendiri) charging organizer yang membuat kabel-kabel elektronik tidak saling tergulung.

Alat tulis. Pernak-pernik yang satu ini pasti ada di setiap rumah, terutama yang sering menggunakannya untuk pekerjaan sehari-hari. Karena banyaknya jenis alat tulis itu sendiri, maka apabila sudah menyeleksi alat tulis yang membangkitkan kebahagiaan, tugas selanjutnya adalah menyiapkan wadah penyimpanan alat tulis. Wadah penyimpanan yang sangat disarankan adalah stationary organizer yang dapat membuat seluruh alat tulis tertata berdiri. Jika tidak memiliki stationary organizer, kita bisa memanfaatkan bekas gulungan tisu atau menggunakan gelas bekas untuk menyimpannya.

Alat tulis seperti sticky note, notes kecil, double tape, dan solasi, bisa disimpan di dalam wadah kotak khusus alat tulis dan diletakkan tidak berjauhan dengan alat tulis lainnya.

Perlengkapan dapur. Berbicara merapikan perlengkapan dapur berrat berhubungan dengan kerapian dapur. Prinsip membenahi perlengkapan dapur adalah bagaimana kita bisa mudah mengambil dan meletakkan perlengkapan dapur yang ingin dan telah dipakai.

Kita bisa mencontoh kebiasaan pada koki di dapur di mana mereka terbiasa mencuci perlengkapan dapur sesudah menggunakannya. Maka kita harus membiasakan langsung membersihkan perlengkapan dapur sesaat setelah menggunakannya, tidak menunggu perabotan kotor menumpuk.

Seperti biasanya, menyeleksi perlengkapan dapur hanya yang membangkitkan kebahagiaan juga sangat penting, sebagaimana prinsip dari Konmari. Kemudian menata perlengkapan dapur berdasarkan kategorinya dan meletakkan katagori yang sama di satu lokasi.

Bagaimana dengan perlengkapan dapur yang memang tidak ingin digunakan seperti gelas-gelas bermotif dan piring-piring cantik? Apabila gelas dan piring tersebut tidak membangkitkan kebahagiaan, maka kita tidak perlu menyimpan atau menggunakannya, sedangkan apabila gelas dan piring tersebut membangkitkan kebahagiaan, maka lebih baik gelas dan piring tersebut digunakan untuk keseharian, bukan disimpan. Bukankan akan lebih menyenangkan dan bersemangat jika kita menggunakan benda yang membangkitkan kebahagiaan kita? Coba bayangkan betapa membahagiakannya bisa menggunakan perabotan favourite dengan motifnya yang cantik-cantik :)

Pajangan dan pernak-pernik lainnya. Kategori komono yang terakhir ini mungkin akan lebih luas lagi cakupannya, bisa berupa benda-benda hiasan atau dekorasi rumah, perlengkapan hobi, dan mainan anak-anak. Tetap pada prinsip yang sama, kita harus memilih benda yang betul-betul membangkitkan kebahagiaan. Selepas itu, kita bisa menyimpannya berdasarkan kategori. Misalnya perlengkapan hobi sebaiknya disimpan di satu lokasi seperti di lemari khusus hobi. Sedangkan untuk mainan anak-anak, disarankan untuk menyimpannya di dalam wadah kotak sesuai dengan kategori mainannya dan ditempatkan di satu lokasi, seperti di lemari khusus Montessori jika memang tersedia. Kalaupun tidak ada lemari khusus Montessori, kita bisa menggunakan bagian kosong dari lemari yang ada di rumah. Tetapi perlu diingat bahwa setiap mainan harus dipisahkan menggunakan kotak atau kardus sesuai dengan kategorinya.

Bagaimana dengan pajangan? Setelah kita memiliki pajangan yang betul-betul hanya membangkitkan semangat, kita bisa menata seluruh pajangan tersebut di tempat yang terjangkau oleh mata. Ingat, kita memiliki pajangan untuk dipajang, bukan untuk disimpan di dalam lemari hanya dengan alasan khawatir pajangan tersebut pecah.


Selesai sudah kita membahas ilmu berbenah ala Konmari. Semoga kita bisa konsisten menjaga kerapian dan tetap menyukuri setiap benda yang kita miliki dengan cara memanfaatkannya sebaik mungkin selama kita miliki. Selamat mencoba dan semangat konsisten!

@fatinahmunir | ditulis pada 24 Januari 2018
24 September 2018
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -