Showing posts with label Book Review. Show all posts

Buku “Asonde Kurete, Arigatou!” (Mengenal Pendidikan Anak Usia Dini dan Budaya di Jepang)



Di tulisan sebelumnya saya sedikit bercerita kalau saya ingin kembali membaca novel fiksi ataupun nonfiksi setelah lama menghindari genre ini. Nah, tepat setelah saya menuntaskan novel nonfiksi tentang Helen Keller, saya memilih membaca catatan pengalaman seorang mahasiswa yang magang mengajar di Jepang.

Ada beberapa alasan mengapa saya memilih buku ini. Pertama, karena buku ini punya kemiripan dengan buku Helen Keller yang sebelumnya. Yaitu buku ini sama-sama berisi catatan pengalaman penulis yang ditulis sendiri. Kedua karena buku ini tentang pendidikan, erat kaitannya dengan bidangnya. Tapi saat pertama kali membaca buku yang satu ini beberapa tahun lalu, saya sangat terkesan dengan kisah di dalamnya. Ini berkaitan dengan alasan ketiga yang saya punya, yaitu karena apa yang diceritakan di sini tentang Jepang, lebih tepatnya tentang pendidikan anak usia dini di Jepang. Yup, saya pecinta budaya Jepang. Jadi ketika membaca buku ini, saya benar-benar masuk secara jiwa dan pikiran ke dalam penuturan penulis.

Kali ini saya insya Allah tidak hanya akan meriview buku ini melainkan juga berbagi berbagai informasi terkait budaya dan pendidikan yang saya highlight. Selamat membaca ulasan ala saya tentang buku Asonde Kurete, Arigatou! sambil belajar tentang sistem pendidikan anak usia dini di Jepang ^^3

Asonde Kurete, Arigatou! dalam bahasa Indonesia berarti Terima Kasih Sudah Bermain Bersama Kami! Buku ini merupakan karya Ghyna Amanda yang saat itu sedang menjalankan program internship di salah satu TK di Jepang. Tensou Nagayoshi (Tensou Pre-School and Kindergarten-en) di Nagahara, Osaka adalah TK tempat Ghyna mengajar bersama seorang temannya sesama mahasiswa.
Dalam buku terbitan DIVA Press 2014 lalu ini, penulis menceritakan segala hal yang berkaitan dengan pendidikan TK di Jepang dengan menarik dan cukup detail. Bukan seperti sebuah buku harian, melainkan buku ini dikemas seperti sebuah catatan perjalanan ringan yang memadukan kisah inspiratif sekaligus informatif terkait pendidikan anak-anak usia dini di Jepang. Hal inilah yang menjadi nilai tambah buku sederhana ini.

Catatan perjalanan Ghyna dalam buku ini dituturkan dalam bahasa yang ringan. Saya pribadi berpikir seperti membaca tulisan di media sosial kebanyakan. Mengalir dan mudah dipahami. Berbagai informasi pendidikan dan budaya yang ada di dalamnya melebur dalam kisah Ghyna, jadi selain menikmati kisahnya, pembaca bisa langsung merekam info tersebut di dalam kepala. Saya pribadi biasanya langsung bergumam ooh begitu toh kalau di sana atau bahkan menandai beberapa bagian yang menurut saya penting. Jadi, ketika menuntaskan buku ini, pembaca secara tidak sadar telah membaca catatan perjalanan sekaligus mempelajari sistem pembagian kelas di sekolah anak usia dini, pengaturan ruang kelas, jadwal pelajaran dan aktivitas anak, permainan anak-anak, hingga budaya Jepang yang sangat kuat.

Yang membuat buku ini semakin menarik adalah foto-foto yang melengkapi kisah di dalamnya. Tidak banyak memang fotonya, tetapi sangat cukup membantu memvisualisasikan kisah atau penjelasan yang disampaikan. Misalnya foto ruangan kelas, foto aktivitas sekolah, dan foto anak-anak yang sedang bermain permainan tradisional.
Well, dalam tulisan kali ini saya tidak hanya ingin berbagi ulasan buku ini. Saya ingin berbagi lebih banyak kepada penulis. Selanjutnya di bawah ini saya mau membocorkan banyak informasi menarik tentang pendidikan anak usia dini dan budaya Jepang dari buku ini.

Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah sistem pendidikan usia dini di Jepang yang sekaligus tempat penitipan anak. Oleh sebab itu, TK di Jepang buka mulai jam 7 pagi dan tutup pada jam 8 malam. Jadi, di dalam sekolah biasanya akan ada 6 kelas sesuai usia anak. Yakni kelas 0 tahun, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan 5 tahun.

Jam belajar untuk anak-anak usia 3-5 tahun sendiri mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore, berbeda dengan di Indonesia yang hanya 3-4 jam saja sehari. Meskipun jam sekolah sangat lama, tapi mereka hany apunya 2 pelajar per hari dan sisa waktunya adalah untuk bermain bersama di dalam ataupun di luar ruangan bersama guru.

Ada 5 pelajaran untuk anak-anak TK di Jepang, khususnya di TK Tensou tempat penulis magang, dan seluruh pelajaran ini tetap disebut sebagai permainan. Yaitu permainan ekspresi (hyougen asobi), permainan music (ongaku asobi), permainan olahraga (taikai asobi), permainan structure of intellect (SI asobi), dan permainan bahasa Inggris. Permainan ekspresi ini adalah aktivitas yang dilakukan di tempat yang luas seperti aula. Pada permainan ini anak belajar langsung pada hal-hal nyata. Nah, kalau permainan musik, anak-anak akan belajar memainkan pianika. Di ceritakan di buku ini kalau di kelas musik ini anak-anak membaca not balok dengan metode yang sangat mudah dimengerti. Silakan baca bukunya untuk tahu bagaimana cara mengajarkan anak TK membaca not balok ya ^^

Selanjutnya adalah permainan olahraga. Di sini diceritakan aktivitas olahraganya hampir mirip dengan kebanyakan sekolah di Indonesia. Ada senam, berlari, dan melakukan berbagai permainan. Lalu ada juga lompat papan yang seperti di komik atau anime Jepang. Hehehe.
Untuk permainan structure of intellect, ternyata adalah aktivitas menggunting dan menempel. Pelaksanaan aktivitas ini ternyata diawasi langsung oleh dinas pendidikan. Jadi biasanya akan ada seorang petugas dinas yang datang di jadwal SI. Petugas dinas ini akan mengawasi proses aktivitas anak-anak menggunting dan menempel, mengawasi setiap instruksi guru selama aktivitas, termasuk memeriksa media SI yang digunakan. Ternyata aktivitas sederhana ini dianggap sangat penting oleh dinas pendidikan untuk perkembangan anak, karena itu seluruh hal yang berkaitan dengan aktivitas menggunting dan menempel akan diawasi dan dibuatkan laporannya ke dinas.

Terkahir permainan bahasa Inggris. Meskipun Jepang dikelas sebagai negara yang tertutup dari pengaruh budaya luar termasuk bahasa asing, saat ini sistem pendidikan Jepang sudah menganggap bahasa Inggris adalah penting. Karena itu saat ini sudah banyak sekolah TK yang mengenalkan bahasa Inggris dasar seperti mengenal angka, huruf, dan kosa kata benda sekitar.

Setiap permainan atau pelajaran di atas tidak diajarkan oleh guru kelas loh! Setiap pelajaran memiliki guru khususnya masing-masing. Untuk permainan SI, gurunya didatangkan langsung oleh dinas pendidikan dan guru pada permainan bahasa Inggris adalah penutur asli bahasa Inggris. Tugas guru kelas ternyata adalah memberikan pendidikan etika melalui aktivitas bermain di luar lima pelajaran tersebut.  
Untuk menjadi guru TK sendiri, Jepang memiliki kualifikasi khusus yakni guru TK harus bisa memainkan piano. Alasannya adalah karena hampir setiap aktivitas dilakukan sambil bernyanyi bersama. Seperti bernyanyi dilakukan sebelum kelas di mulai, sebelum pulang, dan pada beberapa aktivitas khusus lainnya.

Anak-anak TK dalam buku ini juga punya aktivitas mengucapkan peraturan kelas bersama-sama saat upacara sekolah yang dilakukan sekali dalam sepekan. Uniknya, setiap kalimat peraturan yang diucapkan bukan berupa kalimat perintah melainkan kalimat ajakan. Salah satu contohnya adalah peraturan dengan kalimat mari berteman dengan siapa saja!

Selanjutnya, jika di Indonesia anak-anak dikenalkan dengan sistem piket saat sudah masuk bangku SD, di Jepang anak-anak TK sudah memiliki tugas piket. Penentuan petugas piket harian ini dilakukan tanpa ditunjuk. Guru akan meminta seluruh anak menunduk sambil memejamkan mata. Ketika guru mengucapkan nama hari, anak-anak yang mau menjadi petugas piket di hari itu akan mengangkat tangan tanpa mengangkat kepala ataupun membuka matanya. Jika dalam satu hari ada jumlah petugas piket yang terlalu banyak, guru akan mengaturnya dengan meminta izin lebih dulu kepada anak.

Ada tiga hal yang guru tanamkan sekaligus dalam proses pembagian tugas piket ini. Pertama tentang nilai tanggung jawab di mana anak usia dini diajarkan bertanggung jawab untuk lingkup kelasnya. Kedua adalah membangun self-esteem anak ketika anak-anak harus memejamkan mata selama proses penentuan petugas kelas. Dengan cara seperti ini anak secara tidak langsung belajar untuk menentukan berdasarkan inisiasinya sendiri dan tanpa pengaruh orang lain. Yang ketiga adalah belajar menghargai orang lain, di mana guru selalu meminta izin kepada anak untuk memindahkan namanya agar jumlah petugas piket setiap harinya seimbang. Menakjubkan sekali buat saya. Sebuah aktivitas kecil dengan value yang sangat mendalam. Patut dicontoh! \(^_^ )/ Oh iya FYI, makanan untuk makan siang dan snacking time di seluruh fullday school di Jepang sudah disediakan oleh sekolah. Makanan dan snack tersebut akan dibagikan oleh wali kelas dan petugas piket.

Tugas piket anak di sekolah TK ngapain aja? Sederhana saja kok tapi anak-anak betul-betul diminta bertanggung jawab di atasnya dengan pengawasan guru, bukan dibantu guru. Hehehe. Contohnya petugas piket akan memimpin anak-anak lainnya berbaris sebelum masuk kelas, memimpin salam perjumpaan dan perpisahan kelas, membantu guru membagikan makan siang, mengingatkan teman sekelasnya yang membuat kelas terlalu gaduh atau bertengkar saat bermain. Bahkan saat jam bermain menggunakan mainan-mainan di kelas, petugas piketlah yang menentukan apakah teman sekelasnya boleh menggunakan mainan tersebut. Dari buku ini diceritakan kalau sebelum petugas piket akan mengeluarkan berbagai macam mainan dari rak. Lalu akan menunggu seluruh anak berdiri dengan rapi di sisi terlebih dahulu sebelum mengizinkan mereka menggunakan mainan yang sudah tergeletak di lantai. Hahaha. Lucu yaa! ^^3

Masih ada banyak lagi bocoran sistem pendidikan anak usia dini di Jepang yang bisa kita pelajari melalui buku perjalanan mahasiswa sastra Jepang ini. Misalnya tentang sistem pengaturan ruang kelas, sistem pembagian kelas, dan berbagai permainan tradisional anak-anak Jepang masih sering dimainkan di sekolah.  
Selain sistem pendidikan, informasi budaya yang disisipkan dalam buku ini juga cukup banyak. Khususnya budaya yang ada di lingkungan sekolah. Budaya yang paling menonjol dalam buku ini adalah tentang kemandirian anak-anak Jepang yang sangat tinggi. Penulis buku ini bercerita bahwa  dirinya tidak diperkenankan untuk sekadar membantu seorang anak merapikan mainannya. Diceritakan bahkan menulis sempat ditegur oleh seorang anak untuk tidak membantu anak lain yang kesulitan menggunakan sepatu.

Pribadi yang mandiri pada anak-anak Jepang ini berasal dari sebuah nilai budaya jibun no koto jibun de yaru, kepentingan sendiri dikerjakan sendiri. Nilai inilah yang menjadikan orang Jepang selalu berusaha mandiri. Dampaknya sikap memikirkan orang lain atas sikap dan tindakan yang dilakukan juga sangat kuat tertanam dalam pribadi orang Jepang, seperti tidak ingin merepotkan orang dan memikirkan dampak dari ucapan dan tindakan kepada orang lain. Tetapi sisi negative dari nilai ini adalah kebiasaan menyimpan masalah sendirian dan berdampak pada masih tingginya angka bunuh diri di Jepang.

Budaya Jepang lainnya yang menarik perhatian saya dalam buku ini adalah budaya saling berterima kasih dan menyemangati. Entah yang satu ini disebut budaya apa, meskipun tampaknya masuk ke dalam budaya komunikasi. Jadi dari cerita dalam buku ini ada kebiasaan anak-anak mengucapkan terima kasih kepada guru dan petugas piket atas sudah membantu anak-anak lain di kelas. Kebiasaan ini diucapkan sebelum anak-anak mengucapkan salam perpisahan sebelum pulang. Untuk guru –kalau merujuk ke scene di film atau anime Jepang, sepertinya ini juga dilakukan setiap orang di lingkungan kerja, mereka punya kebiasaan menyemangati sebelum sama-sama bekerja dan mengucapkan terima kasih setelah sama-sama selesai bekerja atau sebelum pulang. Kyou mo, ganbatte kudasai ne! Hari ini pun semangat ya! Otsukaresama desu! Terima kasih atas usaha dan kerja kerasnya!

Oh iya. Untuk anak-anak di sekolah, sebelum makan mereka tidak hanya mengucapkan itadakimasu, selamat makan. Anak-anak ini sebelumnya akan mengucapkan terima kasih dulu kepada kedua orang tua. Mungkin maksudnya terima kasih karena berkat kedua orang tua mereka bisa sekolah dan makan dengan layak. Okaasan,otousan, arigatou gozaimasu. Sensei, minasan, itadakimasu! Ibu, bapak, terima kasih. Ibu guru, semuanya, selamat makan! Kemudian anak-anak juga akan mengucapkan terima kasih bersama-sama setelah makan. Gochisousama deshita! Terima kasih atas hidangannya!

Menarik sekali ya budayanya. Banyak value positif yang patut ditiru oleh kita untuk ikut memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia.^^

Haaaaaaaa! Sebenarnya masih banyak sekali budaya pendidikan Jepang yang menarik di dalam buku ini yang mau saya tuliskan. Tapi saya harus membatasinya supaya teman-teman membaca langsung dari bukunya. Hehehe. Buku ini bisa teman-teman dapatkan di jajaran buku pendidikan atau nonfiksi. Jika memang di toko buku tidak tersedia lagi, teman-teman bisa memesan buku ini langsung ke penerbit DIVA Press di www.divapress-online.com. Untuk teman-teman yang tinggal di Jakarta, yang mau membaca buku ini tapi belum bisa membelinya, bisa membaca buku ini di Perpustakaan Japan Foundation. Kalau sudah mempunyai kartu anggotanya, teman-teman bisa meminjamnya. Kalau tidak salah buku ini ada di rak kategori sosial, tepat di depan petugas regulasi buku perpustakaan.

@fatinahmunir | 15 Juli 2018


15 July 2018
Posted by Fatinah Munir

Buku “The Story of My Life” (Kisah Hidup Helen Keller)




Setelah lebih dari satu setengah tahun tidak membaca novel atau buku fiksi –akibat doktrin sebuah workshop membaca yang membuat saya dan peserta lainnya berjanji untuk membaca novel atau buku fiksi, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari ikatan janji tersebut. Alasannya satu, saya tidak mampu mengembangkan tulisan saya hanya dengan membaca buku nonfiksi. Akhirnya selepas hari raya Idulfitri lalu saya memutuskan untuk membaca novel lagi. The Story of My Life, novel true story tentang Helen Keller menjadi pilihan saya.

Novel atau lebih tepatnya catatan kehidupan ini yang saya kenal semester satu saat saya masih kuliah 7 tahun lalu. Itupun saya membaca novel ini dalam rangka memenuhi tugas kuliah. Di pertenghan masa kuliah, saya sempat membaca ulang novel ini. Berarti kali ini adalah kali ketiga saya membaca buku terbitan Genta Pustaka ini.

Buku setebal 249 halaman ini menuturkan kisah Helen Keller dari sudut pandang Helen Keller sendiri. Secara garis besar, isinya tentang kisah hidup Helen, gadis kecil yang “berubah”menjadi buta-tuli dan perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Kisah dalam buku ini dibuka dengan ungkapan kegugupan Helen ketika akan menuliskan kisahnya, kemudian dilanjutkan dengan latar belakang keluarga Helen yang cukup terhormat dan berada. Barulah setelah itu pembaca disajikan cerita yang menjadi latar belakang “berubahnya” Helen kecil yang sehat hingga ia kehilangan pendengaran dan pengelihatannya sebelum dirinya mengenal banyak hal di dunia ini.

Bagian yang paling saya tunggu-tunggu dalam buku ini adalah ketika Helen bertemu dengan gurunya yang sangat inspiratif bagi setiap guru pendidikan khusus. Namanya Anne Sullivan, seorang guru muda yang disiapkan oleh sebuah lembaga yang menyediakan pendidikan untuk anak-anak buta-tuli. Beberapa bab di tengah buku ini memang fokus menceritakan tentang Ms Sullivan yang telaten mendampingi Helen. Mulai dari cara Ms Sullivan mengenalkan Helen banyak kosakata, cara berkomunikasi meskipun tanpa melihat dan mendengar, hingga cara mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada Helen.

Helen kemudian melanjutkan kisahnya tentang perjuangannya melanjutkan pendidikan setelah menerima pendidikan dari Ms Sullivan. Bagian ini tidak kalah menariknya bagi saya. Karena di sini saya mengetahui banyak hal tentang kendala, peluang, dan advokasi pendidikan yang telah Helen lalui demi mendapatkan pendidikan yang layak dan sama seperti anak lainnya. Misalnya perjuangan Helen mendapatkan buku-buku pelajaran dengan Braille, usaha Ms Sullivan membacakan buku pelajaran atau menjelaskan ulang materi yang disampaikan pengajar di kelas, termasuk advokasi dan kerjasama Ms Sullivan sebagai guru pendamping Helen dengan orang tua Helen yang solid demi mendapatkan peluang belajar yang sama dari guru-guru umum yang tidak memahami kondisi Helen.

Sebenarnya apa yang Helen alami saat itu masih sering terjadi saat ini, apalagi di Indonesia. Tapi pada cerita yang dituturkan Helen, saya belajar banyak dari kegigihan orang tua Helen dan Ms Sullivan yang memperjuangkan hak pendidikan Helen. Satu hal lagi yang saya highlight adalah semangat intrinsik Helen untuk mendapatkan pendidikan yang sama seperti anak umumnya. Saya pribadi berpikir rasa ingin tahu dan semangat Helen menempuh pendidikan inilah yang menjadi faktor utama dari keberhasilannya, di samping ada banyak sosok yang mendukung keberhasilannya.

Helen menutup tulisan dengan memperkenalkan orang-orang yang hadir dalam kehidupannya. Sebelumnya, Helen mengakhiri kisahnya dengan perjuangannya menempuh ujian masuk universitas dan kendala-kendala yang dialaminya di awal perkuliahan. Sayang sekali kisahnya tidak dilanjutkan pada proses Helen bisa menjadi seorang aktivis dan dosen. Padahal bagian ini justru sangat saya harapkan dari bukunya.

Buku ini, karena buku terjemahan, jadi saya kurang mampu mengulas bahasa yang digunakan di dalamnya. Tapi yang pasti setiap kalimat dalam buku ini ditulis dari perspektif seorang Helen Keller yang tidak mampu melihat dan mendengar. Jadi setiap deskripsinya murni berdasarkan perasaan, perabaan, dan hal-hal yang diingat oleh Helen.

Karena kekhususan yang dimiliki Helen (buta dan tuli), sebenarnya saya masih kurang puas dengan isi buku ini. Dalam buku ini tidak dijelaskan dengan cukup detail tentang proses perolehan bahasa Helen. Di samping itu yang membuat saya sangat penasaran sebenarnya adalah proses Helen menuliskan bukunya. Hal ini membuat saya sangat ingin membaca buku versi aslinya yang berbahasa Inggris. Mungkin setelah membaca versi bahasa Inggris-nya saya bisa menemukan lebih banyak lagi pencerahan tentang pola komunikasi dan bahasa Helen yang sesungguhnya.

Akan tetapi ada bagian yang cukup mengobati beberapa harapan saya yang tidak terkabul melalui buku ini, yakni quote dan dokumentasi-dokumentasi Helen dan Ms Sullivan yang ada di halaman awal setiap bab. Bagian yang satu ini saya pikir sangat menyenangkan bagi teman-teman yang suka mengutip quote tokoh untuk ditulis di buku pribadi ataupun diposting di media sosial ^^3

Bagi teman-teman pembaca yang juga ingin penasaran dengan kisah hidup Helen Keller ini bisa membeli bukunya di toko-toko buku. Mungkin akan lebih mudah mendapatkannya jika membeli di toko buku terbesar di Indonesia yang berinisial G. Hehehe. Untuk harganya, saya sudah lupa karena sudah 7 tahun sejak membeli buku ini. Jika teman-teman memiliki kendala dalam mencari buku ini, teman-teman bisa menghubungi penerbit Genta Pusaka melalui email gentapusaka@yahoo.com

@fatinahmunir | 8 Juli 2018
09 July 2018
Posted by Lisfatul Fatinah

Bersembunyi dalam Rahasia



Bismillahirrahmanirrahim

Ada sebuah kepuasan yang berbeda setiap kali saya membaca novel anak-anak, salah satunya adalah saya bisa masuk ke dalam labirin pikiran anak-anak yang begitu berliuk-liuk, membuat penasaran, sering kali mengejutkan. Hal ini terjadi lagi selama saya membaca novel anak-anak karya E.L. Konigsburg yang berjudul Dari Arsip Campur Aduk Mrs. Basil E. Frankweiler.

Buku berjudul asli From The Mixed-up Files of Mrs. Basil E. Frankweiler ini menarik perhatian saya karena label bertuliskan “Pemenang Newberry Award 1968” pada sampul mukanya. Sebanyak 198 halaman buku ini saya rampungkan agak lama, tiga setengah hari, hanya karena untuk mengulang tiap babnya demi mengagumi cara penulis menuangkan sudut pandang anak-anak yang begitu sulit ditebak. Terkadang saya mengulang mambaca beberapa halaman demi bisa tertawa karena dialog di dalamnya atau karena sebelumnya saya membaca sambil mengantuk. Hahaha :D

Buku yang pertama kali dicetak pada 1967 ini menceritakan sebuah petualangan kakak beradik Kincaid yang kabur dari rumahnya. Bermula dari kekecewaan anak sulung yang tidak seberuntung adik-adiknya juga teman-teman sekelasnya, Claudia Kincaid, salah satu tokoh utama novel ini, merencanakan kepergian dirinya dari rumah. Dengan alasan untuk mempunyai uang yang cukup selama kaburnya dirinya dari rumah, Claudia mengajak Jamie Kincaid, adiknya, untuk ikut kabur bersama dirinya.

Hal yang paling mengagumkan sekaligus mengawali keseruan novel ini adalah ketika penulis menuturkan kemana Claudia dan Jamie akan kabur. Mereka tidak kabur ke kota lain atau ke hutan, mereka justru memilih bersembunyi di salah satu museum di tengah kota New York. Bagian inilah yang membuat saya memutuskan meneruskan membaca novel ini, sebab di situlah saya menemukan sebuah titik di mana orang-orang dewasa memang kadang sulit memahami jalan pikiran anak-anak yang jauh dari biasa.

Delapan dari sepuluh bab pada novel ini menceritakan petualangan Claudia dan Jamie selama bersembunyi di museum. Di dalamnya pembaca disuguhkan secara jujur dan nyata betapa tricky-nya pemikiran anak-anak. Mulai dari bagaimana kakak beradik ini berdebat untuk sejumlah ongkos menuju museum, diskusi panjang mengenai tempat-tempat bersembunyi selama di dalam musem agar tidak ketahuan petugas musem, sampai sebuah perdebatan tentang tata bahasa Jamie, si adik berusia sembilan tahun, yang sering kali salah di telinga Claudia, si kakak berusia duabelas tahun.

Kisah petualangan mereka semakin membuat pembaca, terutama saya, penasaran setelah mereka membaca sebuah berita dari koran yang berisi tentang misteri keaslian patung malaikat karya Michelangelo yang berada di dalam museum tempat mereka bersembunyi. Jika keingintahuan anak-anak mereka pun ikut terpancing untuk ikut memecahkan misteri keaslian patung tersebut. Hingga setelah beberapa hari Claudia dan Jamie menyadari mereka akan segera kehabisan uang dan merencanakan kepulangan mereka ke rumah. Lalu Claudia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah sebelum dia dan adiknya memecahkan misteri patung tersebut.

Bermula dari sinilah persembunyian mereka menjadi penyelidikan yang mendebarkan bagi mereka –dan menggemaskan bagi saya. Beberapa hari mereka habiskan untuk penyelidikan. Melihat berbagai karya-karya Michelangelo dan membaca arsip-arsip terkait Michelangelo di perpustakaan kota mereka lakukan untuk memcahkan misteri patung malaikat. Hingga pada suatu titik keputusasaan Claudia akan penyelidikannya membuat Claudia bertekad menemui orang yang telah melelang patung tersebut kepada museum.

Pada dua bab terakhir buku inilah ditunjukkan sudut pandang penceritaan yang sesungguhnya dan mengungkapkan cara berbeda kepulangan Claudia dan Jamie yang ternyata telah direncanakan oleh sudut pandang pencerita pada buku ini dengan begitu rapi.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada buku Insiden Anjing di Tengan Malam yang Bikin Penasaran (The Curious Incident of The Dog in The Night-time) karya Mark Haddon. Kedua buku ini nyaris memiliki keunikan penceritaan yang sama. Yakni penceritaan yang benar-benar menunjukkan kejujuran anak-anak hingga membuat saya berkali-kali meng-o panjang sendirian karena takjub pada pemikiran anak-anak di dalam ceritanya. Sehingga tidak heran jika kedua buku ini sama-sama memiliki berbagai penghargaan sejak pertama kali diterbitkan hingga puluhan tahun kemudian. Buku ini juga kadang membuat saya tersenyum pada kekonyolan anak-anak di dalam ceritanya dan ikut tegang sebagaimana ketegangan anak-anak saat mereka takut dimarahi atau takut rahasianya diketahui orang dewasa.

Kendati novel terjemahan terbitan Gramedia ini bergenre novel anak-anak, tetapi tidak akan merugi jika orang dewasa pun menikmatinya. Justru sepertinya –menurut saya pribadi, orang-orang dewasa terutama yang menyukai anak-anak akan dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah kakak beradik Kincaid di setiap lebar. Dan untuk orang dewasa yang belum pernah menikmati novel anak-anak, novel berusia limapuluh tahun ini bisa menjadi awal untuk mencoba membaca novel anak-anak.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, novel ini benar-benar layak dibaca oleh semua pembaca dari berbagai rentang usia. Bukan hanya sekadar menjadi bacaan ringan di sela-sela bacaan refrensi studi ataupun pekerjaan, novel ini bisa sedikit membuka mata pembaca terhadap “kelicikan”, kejujuran hati, dan kerahasiaan anak-anak.

 @fatinahmunir



12 July 2017
Posted by Fatinah Munir

Mencari Pembunuh Wellington


Judul Buku           : Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Penulis                 : Mark Haddon
Dimensi Buku      : viii + 366 halaman; 13.5 x 20 cm
Penerbit               : Kepustakaan Populer Gramedia

Wellington, seekor anjing puddel milik Nyonya Shears ditemukan mati di halaman rumahnya. Christopher Boone, bocah lelaki yang sangat menyukai Wellington, menemukan bangkai Wellington di tengah malam dengan garpu kebun menancap di atasnya. Sejak saat itu, Christopher bertekad mencari tahu pembunuh Wellington.

Hari demi hari sejak kematian anjing itu dilalui Christopher dengan mengumpulkan berbagai barang bukti yang mengarah pada pembunuh  Wellington. Setiap proses penyelidikannya ditulisnya dalam sebuah buku yang dianggapnya sebagai buku detektif pertama miliknya. Hingga pada suatu hari, Christopher harus mengetahui bahwa ayahnyalah yang membunuh Wellington. Fakta bahwa ayahnya membunuh Wellington membuka fakta-fakta kehidupannya yang lain, tentang kematian ibunya dan juga tentang nasibnya di masa depan.

Novel berjudul asli The Curious Insident of The Dog in The Night-time ini merupakan novel fiktif yang menjadikan seorang bocah penyandang Sindrom Asperger sebagai tikoh utama. Dialah Mark Haddon yang berani mencitakan Christopher sebagai bocah lelaki penyandang Sindrom Asperger  yang luar biasa cerdas.

Dalam buku yang memperoleh banyak penghargaan ini, Haddon menjadikan Chritopher sebagai tokoh utama sekaligus pencerita dalam novelnya. Novel ini ditulis murni dari sudut pandang seorang Asperger yang sangat terganggu dengan kebisingan, tidak suka disentuh, mahir komputer, dan pandai dalam memecahkan soal matematika.

Gaya penceritaan yang selayaknya membaca tulisan seorang anak penyandang Asperger menjadikan novel ini sangat berbeda dibandingkan novel biasanya. Karena ditulis dari sudut pandang seorang anak penyandang Asperger, novel ini memuat kalimat-kalimat “aneh”, tidak memiliki arti, atau bahwa kalimat yang lucu jika dibaca dan dipahami artinya. Keunikan lain dari buku ini adalah tidak adanya Bab 1 dalam novel ini. Hal ini dikarenakan Christopher sebagai tokoh utama dan pencerita sangat menyukai bilangan prima. Jadi, bab-bab yang ada di novel ini adalah bilangan prima, 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, dan seterusnya.

Kerena novel ini mengambil sudut pandang seorang anak Asperger, penerjemahan kata menjadi kelemahan dari novel ini. Ada beberapa kalimat yang memang diterjemahkan secara mentah dari teks aslinya, sehingga menghasilkan kalimat yang rancu atau ambigu. Kendati demikian, kelemahan ini justru membuat pembaca benar-benar seperti mendengarkan langsung seorang anak Asperger bercerita tentang petualangannya. Dikemas dengan lucu, polos, dan meyakinkan, novel ini menjadi bacaan wajib bagi pecinta dunia pendidikan khusus dan pecinta novel psikologi. 

@fatianhmunir | 3 Februari 2013
03 February 2013
Posted by Lisfatul Fatinah

(Review Buku) Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil

Oleh: Lisfatul Fatinah Munir
(Mahasiswa Pendidikan Khusus Universitas Negeri Jakarta)


Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil adalah sebuah novel psikologi yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bernama Sheila. Torey Hayden, penulis novel ini, adalah seorang Bachelor of Art bidang Kimia Fisika di Whitman College, Walla Walla, Washington. Ketertarikannya kepada dunia anak-anak berkebutuhan khusus mengantarkan wanita bernama lengkap Victoria Lynn Hayden ini untuk mengambil gelar master di bidang pendidikan khusus. Torey, begitulah panggilan akrabnya, juga sempat meneruskan pendidikannya di tingkat doctoral, namun tidak diselesaikannya.
Torey lahir pada 21 Mei 1951 di Livingston, Montana, Amerika Serikat. Pada usianya yang ke-28 tahun, Torey mencoba menulis catatan pribadinya mengenai salah seorang muridnya yang bernama Sheila. Karena kelayakan tulisannya untuk diterbitkan, pada 1980 tulisannya diterbitkan dalam bentuk novel yang berjudul One Child. Tanpa disangka, dalam waktu dekat novelnya menjadi best seller dan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, salah satunya dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Qanita dengan judul Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil.
Kini Torey tinggal bersama putri tunggalnya, Sheena. Di samping menjadi penulis, Torey juga bekerja sebagai konsultan bagi anak-anak korban kekerasan. Bahkan ia menjabat sebagai ketua pada sebuah yayasan bagi anak-anak korban kekerasan di daerah tempat tinggalnya, North Wales, Inggris.
Torey selalu menyajikan kisah yang penuh dinamika di setiap halaman bukunya. Karya-karyanya kaya akan warna dari setiap sosok anak berkebutuhan khusus yang dididiknya. Kegigihannya dalam mengajar dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus tertuang dalam bentuk cerita yang sarat akan ilmu dan wawasan. Maka tak heran jika karya-karyanya sering menjadi rujukan para guru pendidik khusus, konseling, dan psikolog.
Kisah dalam novel ini dibuka dengan sepenggal cerita mengenai artikel pendek dalam sebuah koran yang berisikan berita tentang seorang gadis kecil berusia enam tahun yang menculik seorang bocah di lingkungan rumahnya. Peristiwa yang terjadi bulan November itu tak sampai di situ. Gadis kecil itu kemudian mengajak bocah berusia tiga tahunan itu ke hutan kecil dekat rumah mereka dan mengikatnya di sebuah pohon. Kekejaman gadis kecil itu dilanjutkan dengan dibakarnya bocah lelaki tersebut.
Saat membaca artikel yang tak lebih dari dua paragrap ini, Torey baru saja menerima tawaran untuk menjadi guru di kelas yang dikenal dengan sebutan “kelas sampah” di sekolah tempatnya bekerja. Kelas tersebut diberikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak memiliki klasifikasi dalam kekhususan mereka.
Kelas tersebut berisikan delapan orang anak dengan karakter dan kekhususan yang berbeda-beda. Salah satu murid di kelas tersebut adalah seorang anak lelaki delapan tahun bernama Peter yang memiliki kondisi neurologis yang buruk. Kondisi ini menyebabkannya sering mendapatkan serangan hebat dan perilaku kekerasan yang semakin parah.
Lalu ada Tyler, anak perempuan delapan tahun yang sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak dua kali. Max dan Freddie, anak lelaki enam dan tujuh tahun yang penyandang  autisme.
Ada juga Sarah, anak perempuan tujuh tahun yang menjadi korban penyikasaan fisik dan seksual. Karena pengalaman buruknya, Sarah menjadi anak yang selalu marah dan pembangkang juga tidak mau berbicara kecuali dengan ibu dan saudara perempuannya.
Selain itu, ada Suzzanah Joy. Seorang anak perempuan enam tahun yang cantik yang menyandang skizofrenia. Kemudian ada William, anak lelaki sembilan tahun yang memiliki ketakutan pada air, kegelapan, mobil, alat penyedot debu, dan debu di bawah tempat tidurnya. Terakhir adalah Guillermo, anak lelaki sembilan tahun yang pemarah dan memiliki disabilitas pengelihatan.
Dalam kelas yang berwarna ini Torey didampingi oleh dua asisten, yakni Anton, pria 29 tahun yang belum lulus SMA, dan seorang murid SMP bernama Whitney yang menghabiskan waktu luangnya untuk membantu Torey.
     Sejak tahun ajaran baru dimulai di bulan Agustus hingga Desember, semuanya berjalan dengan lancar. Bahkan, banyak perkembangan yang terjadi pada murid-murid Torey. Peter yang mulai terkontrol emosinya, Tyler yang hampir tidak pernah membicarakan tentang bunuh diri, juga Sarah yang kini mau berbicara dengan siapa saja.
Tapi semuanya berubah setelah libur Natal usai. Awal Januari, Sheila datang dan menjadi bagian dari kelas Torey. Sheila yang seharusnya ditempatkan ke rumah sakit negara, sementara waktu harus ditempatkan di kelas Torey sambil menunggu dibukanya kamar untuk unit anak-anak. Dengan pakaian lusuh dan tubuh yang jauh dari kategori bersih, Sheila datang ke kelas dengan wajah penuh kewaspadaan pada lingkungan barunya.
Kewaspadaann Sheila terhadap lingkungan barunya terbentuk karena ketakutan dan ketiadaan kasih sayang dalam kehidupannya selama enam tahun ini. Menjadi seorang anak empat tahun yang ditinggal di jalan oleh ibunya yang baru berusia empat belas tahun adalah trauma terberat Sheila. Sejak kejadian itu hingga ia memasuki kelas Torey, Sheila masih menyimpan banyak pertanyaan perihal mengapa ia ditinggalkan.
Tak cukup sampai di situ, kerasnya kehidupan harus diterima Sheila yang masih kecil ketika ayahnya yang seorang pemabuk, pecandu dan sering keluar masuk penjara selalu melakukan kekerasan kepadanya. Torey juga sepertinya memaklumi ketika tak sedikit orang yang mengalami kesulitan untuk berusaha mencintai Sheila. Karena memang perilaku Sheila mencirikan bahwa ia tak tahu bagaimana caranya untuk dapat dicintai oleh orang lain.
Torey tidak dapat menyimpulkan kasus yang sebenarnya terjadi pada gadis kecil yang tak pernah menangis ini, terlebih ketika hasil tes psikologi mengatakan bahwa gadis berambut pirang ini memiliki IQ di atas 180. Sebuah angka yang mustahil dimiliki oleh seorang anak dari perkampungan migran. Apalagi jika mengingat Sheila bukanlah anak yang mau mengerjakan setiap tugas sekolah dan selalu merusak lembar tugasnya.
Meskipun banyak hal yang menciutkan nyali Torey untuk membantu Sheila, ia tetap berusaha sebisa mungkin, paling tidak sekadar menjinakan sikap “liar” Sheila. Hingga akhirnya, dengan penuh kerja keras, Torey berhasil menarik perhatian dan kepercayaan Sheila kepada dirinya. Dengan sikap keibuannya, setiap pagi sebelum kelas dimulai, Torey memandikan Sheila yang sebelumnya tak pernha mengenal kebersihan. Jauh daripada itu, Sheila kini sudah mau menceritakan banyak hal kepada Torey meskipun yang ia ceritakan adalah hal-hal yang berulang; kepergian ibunya dan kekerasan yang sering ia terima.
Kedekatannya dengan Sheila terlibat terlalu jauh dalam masa lalu Sheila dan dengan setiap perkembangan psikis muridnya itu. Hal ini membuatnya lupa bahwa Sheila sedang menunggu unit anak-anak di rumah sakit negara dibuka. Karena merasa bahwa Sheila tidak layak digabungkan dengan orang-orang gila di rumah sakit Negara, dengan bantuan kekasihnya, Chad, Torey mengajukan ke pengadilan agar Sheila tidak dipindahkan ke rumah sakit negara.
Usaha Torey pun membuahkan hasil dan hari-hari selanjutnya berjalan lebih baik hingga satu peristiwa mengerikan terjadi pada Sheila yang malang. Pamannya yang baru saja keluar dari penjara mencoba menyetubuhi Sheila karena gaun indah pemberian Torey yang dikenakannya. Sebilah pisau merobek kemaluan Sheila hingga ia nyaris kehabisan darah. Dengan wajah pucat, Sheila memasuki ruang kelas dan berulang kali ke kamar kecil untuk menyembunyikan darah yang terus mengalir dari kemaluannya.
Berkat insting keguruannya, Torey melihat ada yang ganjal dengan tingkah Sheila hari itu. Setelah mengetahui apa yang sedang menimpa muridnya, Torey langsung membawa Sheila ke rumah sakit dan pamannya segera kembali dimasukkan ke penjara.
Kisah dalam novel ini diakhiri dengan perpisahan antara Torey dan Sheila di akhir tahun ajaran sekolah. Sheila yang memiliki IQ di atas rata-rata anak seusianya diloncat kelaskan ke kelas tiga. Akan tetapi sekalipun Sheila sudah mampu menguasai emosinya, ia tetap tidak dapat menerima dan memahami perpisahan.
Dalam novel ini diceritakan bagaimana Torey menaruh perhatian yang mendalam kepada Sheila. Saya sendiri menilai bahwa kepriatinan Torey tumbuh karena latar belakang Sheila yang jauh dari bahagia. Oleh kerena itu, sedikit perhatian yang Torey berikan kepada Sheila menyebabkan Sheila merasakan keanehan. Terlebih lagi di awal pertemuan Sheila menampakkan rasa ketakutannya. Pengajaran Torey yang mengedepankan kemampuannya membaca perasaan atau jalan pikir muridnya inilah yang saya kagumkan. Sejak melihat raut ketakutan pada wajah Sheila karena keramahan yang ia berikan, Torey mengubah sikapnya dengan sedikit cuek namun tetap memerhatikan dari jauh.
Berdasarkan apa yang telah saya baca, cara Torey menghadapi Sheila seperti di atas dapat dikatakan seperti menjalani perang grilya. Torey tidak langsung mengambil perhatian ataupun mendekatkan diri secara personal kepada Sheila, namun mempelajari apa yang ada di balik gadis kecil itu. Dengan berbekal sedikit informasi yang didapatakannya dari berkas tipis yang menceritakan latar belakang Sheila, Torey berhasil menggunakan pendekatan diam-diamnya kepada Sheila.
Torey membiarkan Sheila menampakkan sikap aslinya dalam kelas dan mencoba memahami apa yang ada dalam pikiran Sheila. Untuk menangani kekhususan yang dimiliki Sheila, Torey memiliki pendekatan yang sedikit berbeda. Jika kepada anak-anak lainnya Torey melakukan pendekatan dan berusaha saling membentuk kepercayaan, dengan Sheila mulanya ia membiarkan Sheila meminimalisir bentuk traumatik yang didapatkan dari masa lalunya seperti takut dicambuk setiap melakukan kesalahan.
Sedikit demi sedikit Torey mengubah mindset Sheila dengan mengatakan apa yang seharusnya terjadi, apa yang harus dilakukan beserta dengan alasan yang mudah dipahami anak kecil.  Hal ini pun seperti menjadi bagian yang harus ada dalam pola pengajaran Torey, karena hampir di setiap teguran yang dilakukannya memiliki pola seperti ini.
Teknik pengajaran yang Torey lakukan adalah dengan “menguasai” suasana hati muridnya. Hal ini jelas terlihat ketika setiap pagi Torey mengajak murid-muridnya bernyanyi dan mengajak murid-muridnya mengungkapkan perasaannya satu per satu. Dengan cara ini, menurut saya, paling tidak Torey sekaligus dapat mengajarkan kepada murid-muridnya bagaimana mengontrol emosi.
Adapun cara pengajaran yang Torey lakukan kepada Sheila yang tidak pernah mau dikatakan salah adalah dengan membiarkan anak tersebut memahami sendiri terlebih dahulu apa yang ada di dekatnya setelah itu Torey megoreksi apa yang dipahami Sheila dengan menunjukkan apa yang seharusnya dilakukan Sheila.
Satu lagi sarana pengajaran yang Torey bedakan antara Sheila dan murid-muridnya, yakni sudut diam. Sudut diam yang Torey sediakan untuk Sheila digunakan ketika Sheila kehilangan kontrol emosinya. Menurut saya, sudut diam yang dikhususkan bagi Sheila adalah satu penerapan pengajaran yang sesuai dengan kekhususan Sheila. Pemberian sudut diam ini, berdasarkan pandangan saya, paling tidak mampu mengurangi sikap destruktif Sheila. Ditambah lagi dengan adanya sudut diam ini Sheila dapat meminimalisir sikap balas dendam yang biasa ia lakukan, seperti dalam salah satu kasus ini adalah merusak ruang kelas seorang guru yang memarahinya.
Satu hal yang kurang saya setujui dari cara pengajaran Torey adalah adanya pendekatan personal yang terlampau jauh, sehingga menyamarkan batas hubungan seorang guru dan murid. Keterlibatan Torey dalam hal ini menyebabkan Sheila tidak ingin berpisah dengannya. Meskipun ketidakinginan Sheila untuk berpisah dengan Torey adalah salah satu bentuk traumatik yang pernah dialaminya, setidaknya jika masih ada sekat pemisah hubungan seorang guru dan murid Torey mampun membuat Sheila memahami bahwa mereka hanyalah guru dan murid.
Sikap implusif Torey dalam novel ini saat menangani beberapa hal yang berkaitan dengan Sheila, menurut pandangan saya juga tidak selamanya buruk. Keinginan Torey untuk membebaskan Sheila dari tuntutan pengadilan memang melampaui batasannya sebagai seorang guru, tapi dengan ini kita belajar bagaimana seorang guru mau mempertaruhkan keadaan (dia didukung atau tidak oleh pihak sekolah).
Di samping itu, implusif ini menjadikan kekeraskepalaan Torey dalam mengambil keputusan tidak selamanya baik. Setelah implusif yang Torey lakukan membuahkan hasil sesuai dengan keinginannya, kedekatannya dengan Sheila juga semakin menjadi. Kekurangannya di sini adalah Torey kurang mampu memberikan realita kepada Sheila bahwa hubungan mereka hanya sebatas guru dan murid, sehingga tidak membuat Sheila kecewa ketika sedikit perubahan dilakukan oleh  Torey.
 Adapun poin penting dalam teknik pengajaran Sheila adalah pemahaman Torey terhadap latar belakang kekhususan yang dialami muridnya. Selain itu, seorang guru seperti Torey harus mampu menaruh perhatian yang menyeluruh kepada setiap muridnya. Hal ini terbukti dari hasil pengajaran Torey selama setahun murid-muridnya mengalami perubahan yang pesat ke arah yang lebih baik.
Adanya kesadaran pada realita juga bisa dimasukkan kedalam poin utama dalam teknik pengajaran yang Torey punya. Torey tidak memiliki suatu target atau tuntutan yang besar kepada anak didiknya, tetapi murid-muridnya tidak dianggap lagi sebagai “murid sampah” dan mampu bersosialisasi dengan anak normal pada umumnya sudah cukup bagi Torey.
Sikap kooperatif  Torey dengan pendamping atau asistennya, juga bisa menjadi contoh bagi pengajar anak dengan kekhususan. Selain itu, menurut saya hal yang cukup penting dari teknik pengajaran Torey adalah pemahaman seorang guru terhadap kondisi psikologi muridnya. Karena ketika seorang guru dengan kekhususan mampu membaca psikis yang terjadi dalam muridnya, ini dapat sangat membantu proses belajar mengajar agar berjalan sesuai dengan harapan. Selain itu, pemahaman psikologi seorang guru tak hanya membantu guru itu sendiri, tapi juga membantu murid agar tidak merasa tertekan selama proses belajar mengajar berlangsung.
Terlepas dari berbagai aspek yang saya sampaikan dalam review ini, saya rasa novel ini bukan sekadar untuk mengundang rasa kasihan pembacanya, melainkan agar masyarakat, awam maupun pendidik, dapat belajar dari Torey bagaimana menangani murid-murid spesialnya dengan kekhususan yang berbeda.(*)
19 December 2011
Posted by Lisfatul Fatinah

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -