Posted by : Fatinah Munir 09 May 2017


Bismillahirrahmanirrahim …

Ketika cinta berubah menjadi rubah nakal, menjelma dalam wujud menakutkan dan membuat yang menerimanya memaksa memejam atau takut kelimpungan. Ketika itu saya dan kamu yang  awam pada arti  cinta akan tahu bahwa cinta bukan selalu tentang kelembutan dan kelemahan. Ia bisa juga tentang segumpal bara yang jika tak kau genggam erat dengan paksa, terbakarlah kamu sudah.

Bagi sebagian besar orang, ancam mengancam mungkin akan segera ditautkan dengan perihal kriminalitas, anarkisme, ataupun sarkasme. Tapi begitu mengejutkannya ketika pertama kali saya tahu bahwa ancam mengancam sangat mungkin dilakukan dalam dunia pendidikan,  terutama pendidikan khusus.

Pertama kalinya saya “melihat” guru mengancam muridnya adalah ketika saya “melihat” Torey mengancam Sheila yang kerap menyebabkan kawan sekelasnya kecelakaan dan terluka. Lalu ancaman murid kepada guru yang dilakukan Kevin kepada Torey yang dianggapnya sama dengan orang dewasa yang selalu datang kepadanya dan menganggapnya anak gila.

Awalnya saya mengira, ancaman demi ancaman yang ada di antara guru dan murid akan merenggangkan keduanya. Mungkin membuat murid membenci guru. Mungkin membuat guru semakin bertaring di hadapan murid. Tapi dari kedua cerita di atas, ternyata tak segala mungkin benar terjadi. Torey bisa mengubah ancaman itu sebagai cinta dan keseriusannya untuk menjaga dan menyayangi anak-anaknya.

Sempat terbersit dalam pikiran saya, apa yang hendak saya ancam pada murid saya kelak jika saya ada di posisi Torey? Lantas hal apa kira-kira yang membuat saya mengancam murid saya untuk pertama kalinya.

Dan eng ing eng. Pertanyaan ini terjawab sudah tanpa pernah saya percaya waktunya.

Di sekolah tempat saya dulu mengajar, cukup banyak anak keturunan Arab, baik lelaki ataupun perempuan. Di kelas kecil saya yang hanya berisi 15 murid saja terdapat 5 anak keturunan Arab yang dua di antaranya adalah anak perempuan dengan paras yang saya akui mereka cantik.

Belakangan saya tahu bahwa satu dari tiga murid istimewa saya punya ketertarikan pada salah satu anak perempuan keturunan Arab tersebut. Hal ini bermula saat saya baru melangkahkan kaki ke kelas sehabis upacara. Saat itu, hampir seluruh murid dalam kelas mengerubuni saya yang baru menjejaki depan pintu kelas.

“Ibu Listya, Ibu Listya, tadi Iqbal meluk-meluk Mariam terus waktu upacara!”

“Iya, Bu. Iqbal peluk Mariam dari belakang. Pukul pantat Mariam juga.”

“Aku juga tadi dipukul sama Iqbal , Bu Listya.”

Sedikitnya tiga aduan itulah yang saya terima saat saya baru menginjakkan kaki di kelas. Dengan cepat mereka meraih tangan saya, memanggil nama saya –dengan sebutan Listya karena mereka tidak bisa menyebut Lisfa –kemudian meluncurlah aduan atau kadang muncul tangis tiba-tiba untuk “menarik perhatian” saya.

Hal yang saya lakukan jika ini terjadi hanya mendengarkan sambil tetap berjalan dan duduk di bangku saya. Lalu saya akan menghampiri Iqbal dengan masih tetap dikerumuni anak-anak lainnya.

“Iqbal …, apa kabar?” saya membuka basa-basi sambil mengusap kepalanya.

“Omelin aja, Bu Listya. Iqbal biasanya diomelin sama Tetehnya!” ocehan anak-anak lainnya belum juga berhenti.

“Iqbal, tadi waktu upacara apa yang kamu lakukan?”

“Berdiri di belakang Mariam,” jawabnya jujur.

“Iqbal juga peluk-peluk Mariam, Bu Listya. Ibu harus percaya sama kita!” Huhf, anak-anak ini tetap belum mau berhenti mengadu.

“Iya, ibu percaya. Ibu cuma mau tanya sama Iqbal. Kalian diam dulu dan dengarkan ibu bicara sama Iqbal, ya,” saya mencoba membuat mereka diam.

“Iqbal, lihat mata ibu!” perintah yang biasa saya lakukan sebelum saya “bercakap-cakap” dengan murid saya.

“Benar tadi kamu peluk-peluk Mariam waktu upacara?”

“Nggak… Nggak!” jawabnya cepat sambil menggoyangkan tubuhnya yang cukup besar dibandingkan teman sekelasnya.

“Bohong! Bohong! Iqbal, ayo ngaku sama Bu Listya!” suara kelas kembali berisik.

“Iqbal…,” saya menyebut namanya dengan lembut dengan penekanan seakan saya berkata ‘Lihat mata saya dan mengakulah, Nak!’.

“Lupa! Aku lupa, Bu! Lupa!” Iqbal menunjukkan kepanikan. Saya mulai khawatir anak ini anak tantrum.

“Oke! Semua kembali ke tempat duduk masing-masing ya. Biar nanti Ibu Listya bicara berdua dengan Iqbal!” perintah saya pada anak lainnya agar kerumunan ini lekas bubar dan Iqbal tidak semakin panik.

Jam-jam berikutnya kelas berlangsung dengan teramat canggung. Pendekatan yang beragam dan percakapan yang saya hubungkan dengan kejadian di saat upacara hanya berbuah jawaban, “Aku gak sengaja, Bu”. O, ya sudahlah!

Hari-hari berikutnya saya lebih sering bercerita tentang perbedaan perempuan dan laki-laki. Juga tentang apa yang boleh dilakukan laki-laki pada perempuan, atau sebaliknya.

Saya pikir apa yang saya ceritakan kepada anak-anak istimewa ini, terutama Iqbal,  telah mereka pahami dengan baik. Sebab, setiap satu kalimat yang saya tanamkan pada mereka selalu berbalas satu pertanyaan dari mereka. Mengapa, Bu? Kenapa, Bu? Dan banyak lagi hingga mereka mengakhirinya dengan seruan “Oooh”.

Tapi saya dibuat terkejut lagi ketika pada jam istirahat di hari lain. Hari itu saya ikut bermain “Kambing Kurban”  bersama anak-anak di kelas. Kami tertawa bersama dan saling berteriak saat ada yang menjadi kambing ingin dipotong dan pura-pura mengamuk.

Ketika itu kami sedang berlari dalam kelas, tetiba suara nyaring menghentikan tawa kami. Salah seorang anak menjerit ketakutan! Buruknya, saya tidak tahu siapa yang menjerit.

Mata saya langsung menelusuri mereka satu satu. Hingga pandangan saya terpaku pada wajah Mariam yang menatap saya dengan mata basah. Beberapa meter di dekatnya Iqbal sedang bersandar di tembok kelas. Nyaris ke pojok antara tembok dan lemari kelas. Matanya menatap saya sekilas, lalu tertunduk dan ia mulai memainkan kedua tangannya.


“Kamu kenapa, Mariam?” saya bertanya sambil berlutut dan mengusap air matanya. Anak-anak lainnya mengerubuni kami dan yang lain terdiam di bangku masing-masing sambil melihat kami dari kejauhan.

“Iqbal mukul aku, Bu Listya,” jawabnya masih sambil menitikkan air mata.

Saya menatap Iqbal beberapa jenak lalu kembali bertanya pada Mariam, “Yang mana yang dipukul?”

Mariam menunjuk ke arah bokongnya. Lalu menunduk.

“Sudah. Sudah. Sekarang kamu kembali ke tempat duduk ya. Ibu mau bicara dulu sama Iqbal,” Mariam mengangguk dan kembali ke bangkunya sambil dibuntuti teman-teman sekelasnya yang berbisik-bisik tentang kejadian yang baru saja terjadi.

“Apa yang kamu lakukan ke Mariam?” saya bertanya pada Iqbal sambil mengusap lengannya.

“Nggak. Nggak. Aku gak pegang-pegang Mariam!” Iqbal mulai panik dan hendak lari. Saya meraih tangannya dan memegangnya dengan cukup erat.

“Ayo, Iqbal harus jujur jika bicara.”

“Tidak boleh bohong! Gak sengaja, Bu!” jawabnya sambil menunduk.

“Oke. Gak apa-apa kalau kamu gak sengaja,” saya tetap memegang lengannya erat-erat. “Kamu lihat mata ibu! Kamu tahu kan ...,” Iqbal hendak melarikan diri. Saya semakin erat memegang tangannya.

“Kamu tahu kan laki-laki itu tidak boleh sembarangan me …,”

“Memegang, memeluk perempuan!” Iqbal meneruskan kalimat saya.

“Nah, kamu sudah tahu kan? Terus, kenapa kamu tadi memukul pantat Mariam?”

“Gak sengaja! Aku gak sengaja!”

“Oke! Mulai sekarang, kamu gak boleh pegang atau pukul dengan gak sengaja. Oke?”

“Oke, Bu. Aku gak pukul dan pegang Mariam. Nayla juga, Dinda, Zahra, sama Ririn,” dia menyebutkan semua teman perempuan di kelasnya.

“Oke. Kita bikin janji ya,” kata saya dengan penekanan suara dan lebih berkata ‘atau kamu mau saya ancam!’.

“Iya!”

“Gimana kalau kamu pukul  atau pegang teman-teman perempuan sembarang kamu bakalan pulang jam 12 siang!” saya mulai menawarkan ancaman dalam sebuah perjanjian.

“Iya,”

“Apa yang iya?”

“Kalau pegang atau pukul teman-teman perempuan sembarangan, aku pulang jam 12 siang!”

“Janji? Kamu mau pulang jam 12?”

“Janji. Nggak mau pulang jam 12, Bu!”

“Kalau gak mau pulang jam 12, apa yang harus kamu lakukan?” saya menegaskan lagi ancaman ini.

“Aku gak pegang atau pukul anak perempuan sembarangan!” jawab Iqbal yang sekarang sudah tidak berusaha lari lagi.

Hari itu lagi-lagi Iqbal melanjutkan aktivitas di sekolah dengan sikap tubuh yang canggung. Mungkin karena takut salah. Atau dia takut pada saya? Entahlah.

Sejauh ini saya marasakan ancaman pertama yang saya  lakukan cukup efektif. Setiap jam istirahat tiba dan kami bermain bersama anak-anak lainnya di kelas, Iqbal tetap menunjukkan sikap keinginannya untuk menyentuk Mariam. Tapi gerakannya masih bisa dikontrolnya dengan cara dia menghentikan gerakan tangannya di jarak 10 cm dari tubuh Mariam.

Jujur, saya sangat menghargai caranya berusaha mematuhi ancaman saya. Maka setiap kali saya melihatnya menjaga gerakan tangannya, saya akan tersenyum dan mengelus kepalanya.

Kadang memang dilematis ketika saya memiliki prinsip “saya tidak akan pernah memaksa karena saya tidak suka dipaksa”. Kemudian realitasnya saya harus berhadapan dengan anak-anak yang harus dipaksa melakukan perilaku-perilaku yang dianggap baik oleh sekitarnya.  Beberapa jenak saya berpikir mungkin saya terlalu keras kepada anak-anak dengan membuat ancaman seperti ini. Tapi lain ceritanya ketika saya berbagi cerita dengan orang tua murid. Ternyata mereka berkata, “Ibu lembut banget itu mah. Dia harus sering-sering diancam kalau begitu!”

Duh. Gubrak! Saya langsung jatuh sejatuh jatuhnya ketika orang tua mereka berkata demikian. “Saya tidak bisa! Saya tidak bisa!” selalu itu yang saya katakana pada diri sendiri.

Bagi saya, ancaman bukanlah satu-satunya cara untuk membuat anak patuh pada guru atau orang tua. Toh, saya hanya ingin berlakukan sesuai dengan apa yang sudah saya terima di bangku kuliah. Bahwa ancaman guru pada anak harus realistis dan bersifat mendidik.

Tapi sejauh ini, dengan segenap sisa kejujuran yang saya punya, ancaman pertama ini saya lakukan karena saya menyayangi Iqbal dan anak-anak lainnya di kelas. Saya ingin anak-anak istimewa saya juga mengerti batasan perempuan dan laki-laki. Saya ingin mereka juga bisa bersikap sopan seperti anak pada umumnya.

Saya ingin mengajarkan pada mereka bahwa “kegalakan” dan ancaman-ancaman yang saya buat tidak untuk mengganggu emosi mereka. Apalagi sampai mereka merasa tertekan. Saya niatkan ancaman pertama, kedua, dan selanjutnya yang saya berikan kepada murid-murid saya sebagai tempat memperkenalkan cinta saya pada mereka. Sebagai tempat mengenalkan kehidupan sebenarnya pada mereka.

Bukan dari apa yang saya katakan mereka bisa memahami cinta yang saya punya. Melainkan dari sikap dan perilaku saya setelah ancaman-ancaman itu datang, saat mereka berusaha mematuhi ancaman dan menjauhi hukuman, dan saat mereka benar-benar menyadari kesalahan, di saat itulah saya berdoa semoga mereka benar-benar memahami arti cinta dan kasih yang sesungguhnya dari sesosok guru yang selalu ingin belajar dari mereka.[]

-----------------------------
-----------------------------

NB:

Tantrum adalah kondisi anak mengamuk karena tidak mampu menyampaikan apa yang diinginkannya atau ketika anak tidak menyukai suatu kondisi.

Nama anak-anak dalam tulisan bukan nama sebenarnya, tetapi karakter mereka nyata.

Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -