KONMARI: Berbenah ala Jepang Sekaligus Mengubah Pola Hidup (Bagian 2)



Setelah pengenalan panjang tentang berbenah ala Konmari dan pembahasan tentang merapikan pakaian di tulisan sebelumnya, sekarang kita akan membahas beberapa kategori benda lainnya yang akan kita benahi, seperti buku, kertas, pernak-pernik, dan benda-benda sentimental.

Menyimpan Buku

Prinsip menyimpan buku ala Konmari masih sama seperti prinsip membenahi pakaian. Kita hanya perlu menyimpan buku yang membangkitkan kebahagiaan dan membuang sisanya! :D

Tantangan saat berbenah buku akan berbeda dengan berbenah pakaian. Saat berbenah buku pasti akan ada rasa tidak tega untuk membuang dengan alasan suatu hari nanti ingin membuat perpustakaan, ingin dibaca ulang nanti, atau ingin di baca kapan-kapan. Kalaupun kita ingin membuat perpustakaan, maka pertimbangkan apakah kita rela perpustakaan kita dipenuhi buku-buku yang tidak membangkitkan kebahagiaan? Kalau ingin membaca ulang buku yang sudah pernah dibaca, apakah benar kita akan membaca ulang buku tersebut di tengah masih adanya daftar buku yang ingin dibaca atau dibeli? Terakhir, yakin tetap ingin menyimpan buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca dengan alasan akan dibaca kapan-kapan? Sebab nyatanya, kapan-kapan berarti tidak akan pernah :) Ada pengecualian dalam menyimpan buku ala Konmari, satu jenis buku yang boleh disimpan tanpa ditanyakan apakah menumbuhkan kebahagiaan atau tidak adalah buku favorit kita sepanjang masa.

Sama seperti proses berbenah pakaian, setiap buku yang ada di rumah atau ruangan harus dikumpulkan di atas lantai. Pegang satu per satu buku yang ada, disarankan untuk menyentuh atau mengusap setiap sampul buku. Kemudia bertanyalah kepada diri sendiri apakah buku tersebut memberikan kebahagiaan atau tidak ketika disentuh. Jika tidak memberikan kegembiraan, maka buanglah atau sumbangkan buku-buku tersebut ke tempat yang membutuhkan :)

Apabila memiliki terlalu banyak buku meskipun sudah ada yang disingkirkan, maka kita perlu mengkategorikan lagi buku-buku yang kita miliki. Setidaknya ada empat kategori besar buku ala Konmari, yaitu buku umum (buku yang dibaca untuk hiburan), buku praktis (referensi, buku masakan, dll), buku visual (koleksi foto, buku untuk mewarnai, dll) dan terakhir majalah. Untuk memudahkan dan lebih mengerucutkan buku yang akan disimpan, kita bisa membuat kategori sendiri. Misalnya cukup menyimpan buku tentang parenting, bisnis, dan keagamaan.

Setelah kita mendapatkan buku yang ingin kita simpan, yang membangkitkan kegembiraan, barulah kita bisa menata buku di dalam rak sesuai dengan selera. Tapi perlu dipastikan bahwa buku-bukut tersebut masuk ke dalam rak.


Menyortir Kertas

Pada prinsipnya semua kertas harus dibuang. Kita harus membuang kertas apa saja yang selama ini kita simpan, kecuali tiga kategori berikut; kertas yang masih dipakai, masih diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan kertas yang harus disimpan hingga waktu tak terbatas. Sedangkan untuk mebenahinya, kita cukup membuat dua kategori kertas, yakni kertas yang harus diurus dan kertas yang harus disimpan.

Kertas yang harus urus contohnya adalah surat yang harus dibalas, formulir yang harus diisi dan dikirim, dan koran yang harus dibaca. Seluruh kertas kategori ini sebaiknya disimpan dalam satu tempat, tidak perlu dipisah. Sebagai wadah penyimpanan kategori ini, disarankan untuk menggunakan kotak arsip vertikal. Digunakannya kotak arsip vertikal adalah karena wadah ini memudahkan kita untuk mengambil kertas yang akan diurus segera. Satu lagi, perlu diingat bahwa kotak penyimpanan kertas yang harus diurus ini semestinya tidak penuh dan lebih baik kosong. Jika kotak penyimpanannya penuh atau terisi, berarti ada hal yang belum kita urus.

Kategori kertas yang harus disimpan dapat kita buat menjadi subkategori lagi, yaitu kertas yang jarang dikeluarkan tetapi harus disimpan. Kertas subkategori ini misalnya adalah surat kontrak, polis asuransi, garansi, dan sebagainya yang sebenarnya tidak membangkitkan kebahagiaan tetapi tetap harus disimpan. Kertas subkategori ini disarankan disimpan di map plastik bening dan dijadikan satu semuanya.

Kertas yang harus disimpan subkategori sering digunakan adalah resume seminar atau kliping surat kabar. Karena kertas jenis ini sering digunakan, maka untuk menyimpannya kita bisa menggunakan map berbentuk buku yang berisi lembaran-lembaran plastik.

Apabila tahapan membenahi kertas sudah kita jalani, berrati kita cukup memiliki tiga tempat penyimpanan kertas, yaitu kotak arsip vertikal, map bening, dan map buku plastik. Jika ada kertas baru yang harus disimpan, jangan menambah tempat penyimpanan kertas, melainkan kembali sortir ketas yang ada :)


Komono (Pernak-Pernik)

Di antara kita pasti ada yang suka menyimpan benda-benda kecil, apapun itu bentuknya yang kita pikir kemungkinan tidak tega untuk membuangnya atau berpikir akan menggunakan benda tersebut suatu hari nanti. Jika kita amati, tidak ada tujuan khusus dari kebiasaan menyimpan seperti ini. Kebanyakan alasannya hanya karena ingin saja atau suka, tanpa tahu apa yang akan kita lakukan dengan benda-benda tersebut.

Jika kita memiliki kebiasaan ini dan ingin menerapkan metode Konmari, maka kita harus membuang kebiasaan ini jauh-jauh. Masih ingat hal yang harus dilakukan untuk menerapkan metode Konmari dalam berbenah? Salah satunya ada mengapresiasi benda yang kita punya. Kebiasaan menyimpan barang tanpa tujuan tidak sejalan dengan mengapresiasi benda di mana memanfaatkan benda dengan baik adalah cara terbaik untuk mengapresiasinya.

Di Jepang sendiri, benda-benda kecil seperti ini disebut komono. Secara harfiah, komono tidak hanya berarti benda-benda kecil, tetapi juga perkakas, komponen, atau hal-hal tidak penting seperti yang biasa orang Indonesia sebut tetek bengek.

Jika kita bayangkan, akan ada banyak sekali benda jenis komono ini dan betapa sulitnya membenahi itu semua. Akan tetapi dalam berbenah ala Konmari akan kita akan lebih mudah berbenah menggunakan urutan komono sebagai berikut; CD/DVD, produk perawatan kulit dan wajah, aksesoris, barang berharga, elektronik kecil, alat tulis, alat dapur, pajangan, dan sebagaimana.

Masih sama seperti sebelumnya, seleksi barang-barang yang akan kita simpan dengan tolak ukur membangkitkan kebahagiaan atau tidak. Setelah itu kita bisa merapikan dan menyimpan setiap pernak-pernik ini berdasarkan kategorinya.

CD/DVD. Untuk CD/DVD, jangan lupa untuk mengecek apakah kepingan CD/DVD yang masih berfungsi atau tidak. Kemudian pisah lagi CD/DVD ini berdasarkan subkategori; music, film, drama, dan program (jika kita memiliki elektronik yang membutuhkan CD untuk menggunakannya, seperti printer, program computer, dan sebagainya). Kita bisa menggunakan dompet CD/DVD untuk menyimpannya. Kendati sudah dibagi ke dalam subkategori dan disimpan dalam dompet CD/DVD, kita tetap harus meyimpannya di satu lokasi, misalnya letakknya semuanya di dalam laci lemari kecil dekat TV.

Produk perawatan kulit dan wajah. Dalam merapikan produk perawatan kulit dan wajah (kosmetik), kita perlu menyeleksi terlebih dahulu produk mana yang benar-benar kita gunakan dan membangkitkan kebahagiaan. Untuk sejumlah sampel produk kosmetik  yang kita dapat dari sales di mal, tidak usah berpikir keras untuk memilihnya jika memang tidak kita gunakan, semua itu bisa kita buang atau diberikan kepada orang yang memang menggunakan produk tersebut.

Tempat penyimpanan kosmetik sebaiknya dibagi berdasarkan subkategorinya. Misalnya produk perawatan kulit, produk perawatan rambut, produk perlengkapan mandi, dan produk perawatan wajah. Setiap subkategori ditata di dalam kotak make up organizer dengan posisi berdiri. Hindari penyimpanan make up di dalam dompet make up seperti ingin bepergian.

Seluruh subkategori produk kosmetik ini sebaiknya diletakkan di satu lokasi, contohnya diletakkan di atas meja rias atau meja dekat kamar mandi yang memang lokasinya dapat dijangkau untuk kebutuhan mandi dan berhias setelah mandi.

Aksesoris. Selanjutnya adalah aksesoris termasuk di sini adalah perhiasan. Bagian aksesoris ini mungkin akan menjadi yang sulit bagi beberapa orang, dikarenakan benda ini kecil dan dimiliki dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sama seperti sebelumnya, untuk membenahi aksesori sebaiknya memisahkan aksesoris berdasarkan jenisnya. Penataan letak aksesoris bisa digabungkan di satu lokasi, seperti di meja rias berdekatan dengan kosmetik di dalam laci rias. Untuk wadah penyimpanan aksesoris sendiri sebaiknya menggunakan wadah yang sesuai dengan bentuk aksesoris, misalkan kalung ditata di gantungan kecil yang bisa diletakkan di atas meja, gelang disimpan di wadah dengan tabung untuk melingkarkan gelang di tabung tersebut, cicin disimpan di dalam kotak cincin yang dapat memuat beberapa cicin sekaligus. Untuk aksesoris lain seperti pin atau bros bisa disatukan dalam wadah kotak dan untuk peniti atau jarum bisa ditata di atas wadah dengan spons yang kita bisa menancapkan jarum atau peniti di atasnya.

Seluruh aksesoris di atas bisa dimasukkan dalam kotak masing-masing. Laci kecil bertingkat dapat juga menjadi pilihan untuk menyimpan berbagai aksesoris ini.

Barang berharga. Yang dimaksud barang berharga dalam metode Konmari ini salah satunya adalah uang receh. Mungkin sering menemukan uang receh tergeletak di mana-mana di dalam rumah kita. Meskipun kita sudah menyediakan tas khusus uang receh, tapi sering kali di antara kita tidak memiliki tujuan untuk apa uang receh itu dikumpulkan, padahal jelas-jelas recehan tersebut tetaplah uang.

Menggunakan metode berbenah Konmari, seperti yang dipaparkan sebelumnya, kita harus mengapresiasi atau menghargai setiap benda yang kita punya. Terkait dengan uang receh ini, kita pun harus menghargainya, sekecil apapun nominal uangnya. Kemudian perilah cara membenahinya adalah cukup sediakan satu dompet kecil khusus receh di dalam tas jika di luar rumah kita memiliki uang receh saat berjual beli.

Untuk di dalam rumah, sediakanlah satu tempat khusus -ingat hanya satu tempat penyimpanan di dalam rumah, untuk menampung uang receh yang ada di kantung. Jangan biarkan satu koin atau uang receh pun yang tercecer di sembarang tempat.  Selanjutnya jangan lupa untuk menukar uang receh tersebut secara berkala, misalnya satu sampai tiga bulan sekali untuk ditabung ke bank atau ditukar ke took atau petugas parkir yang memang membutuhkan uang receh.

Elektronik kecil. Kamera, handy camp, power bank, charger elektronik, dan kabel-kabel penghubung adalah perintilan lain yang pasti sering berserakan atau memiliki tempat penyimpanan yang layak. Kamera dan handy camp biasanya disimpan di dalam lemari pakaian dengan alasan akan lebih aman karena dikelilingi benda-benda yang lembut, sedangkan power bank dan charger berbagai elektronik dibiarkan tergeletak di dekat sumber listrik tanpa diurus.

Cara seperti di atas sama saja kita tidak menghargai berbagai barang elektronik kecil yang kita punya, yang kerap kali tidak ingin kita tinggalkan jika bepergian. Untuk menyimpannya, disarankan untuk menyimpan elektronik sejenis ini di satu lokasi dan tidak disimpan bersama dengan kardusnya. Dalam prinsip Konmari, setiap kardus hasil pembelian barang harus segera dibuang, tidak untuk ditumpuk atau disimpan dengan apapun alasannya. Jika kardus tersebut tidak ingin dibuang, maka kita harus langsung atau segera memanfaatkannya, misalnya menjadikan kardus handphone sebagai tempat aksesoris, dan sebagainya.

Untuk charger elektronik, kita bisa menggunakan (membeli atau membuat sendiri) charging organizer yang membuat kabel-kabel elektronik tidak saling tergulung.

Alat tulis. Pernak-pernik yang satu ini pasti ada di setiap rumah, terutama yang sering menggunakannya untuk pekerjaan sehari-hari. Karena banyaknya jenis alat tulis itu sendiri, maka apabila sudah menyeleksi alat tulis yang membangkitkan kebahagiaan, tugas selanjutnya adalah menyiapkan wadah penyimpanan alat tulis. Wadah penyimpanan yang sangat disarankan adalah stationary organizer yang dapat membuat seluruh alat tulis tertata berdiri. Jika tidak memiliki stationary organizer, kita bisa memanfaatkan bekas gulungan tisu atau menggunakan gelas bekas untuk menyimpannya.

Alat tulis seperti sticky note, notes kecil, double tape, dan solasi, bisa disimpan di dalam wadah kotak khusus alat tulis dan diletakkan tidak berjauhan dengan alat tulis lainnya.

Perlengkapan dapur. Berbicara merapikan perlengkapan dapur berrat berhubungan dengan kerapian dapur. Prinsip membenahi perlengkapan dapur adalah bagaimana kita bisa mudah mengambil dan meletakkan perlengkapan dapur yang ingin dan telah dipakai.

Kita bisa mencontoh kebiasaan pada koki di dapur di mana mereka terbiasa mencuci perlengkapan dapur sesudah menggunakannya. Maka kita harus membiasakan langsung membersihkan perlengkapan dapur sesaat setelah menggunakannya, tidak menunggu perabotan kotor menumpuk.

Seperti biasanya, menyeleksi perlengkapan dapur hanya yang membangkitkan kebahagiaan juga sangat penting, sebagaimana prinsip dari Konmari. Kemudian menata perlengkapan dapur berdasarkan kategorinya dan meletakkan katagori yang sama di satu lokasi.

Bagaimana dengan perlengkapan dapur yang memang tidak ingin digunakan seperti gelas-gelas bermotif dan piring-piring cantik? Apabila gelas dan piring tersebut tidak membangkitkan kebahagiaan, maka kita tidak perlu menyimpan atau menggunakannya, sedangkan apabila gelas dan piring tersebut membangkitkan kebahagiaan, maka lebih baik gelas dan piring tersebut digunakan untuk keseharian, bukan disimpan. Bukankan akan lebih menyenangkan dan bersemangat jika kita menggunakan benda yang membangkitkan kebahagiaan kita? Coba bayangkan betapa membahagiakannya bisa menggunakan perabotan favourite dengan motifnya yang cantik-cantik :)

Pajangan dan pernak-pernik lainnya. Kategori komono yang terakhir ini mungkin akan lebih luas lagi cakupannya, bisa berupa benda-benda hiasan atau dekorasi rumah, perlengkapan hobi, dan mainan anak-anak. Tetap pada prinsip yang sama, kita harus memilih benda yang betul-betul membangkitkan kebahagiaan. Selepas itu, kita bisa menyimpannya berdasarkan kategori. Misalnya perlengkapan hobi sebaiknya disimpan di satu lokasi seperti di lemari khusus hobi. Sedangkan untuk mainan anak-anak, disarankan untuk menyimpannya di dalam wadah kotak sesuai dengan kategori mainannya dan ditempatkan di satu lokasi, seperti di lemari khusus Montessori jika memang tersedia. Kalaupun tidak ada lemari khusus Montessori, kita bisa menggunakan bagian kosong dari lemari yang ada di rumah. Tetapi perlu diingat bahwa setiap mainan harus dipisahkan menggunakan kotak atau kardus sesuai dengan kategorinya.

Bagaimana dengan pajangan? Setelah kita memiliki pajangan yang betul-betul hanya membangkitkan semangat, kita bisa menata seluruh pajangan tersebut di tempat yang terjangkau oleh mata. Ingat, kita memiliki pajangan untuk dipajang, bukan untuk disimpan di dalam lemari hanya dengan alasan khawatir pajangan tersebut pecah.


Selesai sudah kita membahas ilmu berbenah ala Konmari. Semoga kita bisa konsisten menjaga kerapian dan tetap menyukuri setiap benda yang kita miliki dengan cara memanfaatkannya sebaik mungkin selama kita miliki. Selamat mencoba dan semangat konsisten!

@fatinahmunir | ditulis pada 24 Januari 2018
24 September 2018
Posted by Fatinah Munir

KONMARI: Berbenah ala Jepang Sekaligus Mengubah Pola Hidup (Bagian 1)



Setahun belakangan ini Konmari menjadi sangat marak diperbincangkan di kalangan ibu-ibu, calon ibu, dan pecinta buku. Mengapa menjadi sangat marak? Sebab ilmu unik yang ada dalam buku ini sangat dibutuhkan banyak orang.

Sebenarnya apa sih Konmari? Mengapa bisa sangat terkenal dan banyak orang mempelajari dari bukunya, termasuk saya pribadi.

Konmari adalah metode berbenah ala Jepang yang mengajak orang-orang yang menerapkan metode ini untuk mengubah pola pikir dan gaya hidup. Metode ini dikembangkan oleh perempuan asal Jepang yang menyukai seni dekorasi ruang yang kini menjadi konsultan bisnis di Tokyo. Di negara asalnya metode ini digunakan tidak hanya untuk membenahi rumah tetapi juga kantor.

Mengapa Konmari? Metode berbenah ini diinisiasi oleh Marie Kondo melalui pengalamannya dan kegemarannya berbenah dan melihat ruangan yang rapi. Menurutnya ada banyak hal yang menyebabkan kita tidak biasa menjaga kerapian, yakni kita tidak berbenah dengan ilmu berbenah, memilih berbenah sedikit demi sedikit setiap hari, gemar menyimpan barang apa saja, terlalu menginginkan kerapian sempurna, tidak memiliki konsep atau tujuan berbenah, dan kurangnya apresiasi kita kepada benda yan dimiliki. Berangkat dari hal di atas, Konmari memiliki beberapa aturan yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan selama proses berbenah.

Marie Kondo
Source: The Pool
Hal pertama yang harus dilakukan sebelum berbenah adalah pelajari dulu ilmu berbenah. Belajar menjadi rapi dan meletakkan barang pada tempatnya, menurut metode Konmari tidaklah cukup untuk memahami ilmu berbenah. Oleh sebab itu, kita perlu mempelajari ilmunya, dan mempelajari Konmari ini sendiri adalah salah satu cara untuk mempelajari ilmu berbenah.

Lalu menggunakan satu waktu untuk berbenah secara tuntas adalah hal yang harus dilakukan jika kita ingin mempraktikkan metode Konmari. Karena kebiasaan kita berbenah sedikit-sedikit setiap hari justru akan menghilangkan esensi dari berbenah itu sendiri. Misalnya begini, hari ini kita memutuskan membenahi dapur, lalu besok kita membenahi seluruh kamar tidur di lantai satu, kemudian seluruh kamar tidur di lantai tiga di besok lusa, begitu seterusnya. Jika metode seperti ini yang digunakan, maka hasilnya adalah ruangan atau rumah yang sudah ditata dan dirapikan akan kembali berantakan. Dengan berbenah sekaligus, atau bisa diartikan sehari penuh, dipercayai tidak hanya menuntaskan kerapian ruangan tetapi juga dapat mengubah diri dan pola pikir orang yang berbenah.

Selanjutnya, jangan lupa untuk rajin membuang barang yang tidak diperlukan atau yang sudah lama tidak dimanfaatkan. Tentang  membuang barang-barang, akan kita bahas lebih luas di bagian selanjutnya dari tulisan ini. Di sisi lain, berbenah ditujukan untuk mendapatkan suasana dan hidup yang lebih baik, bukan untuk mendapatkan kesempurnaan. Oleh sebab itu, dalam Konmari sangat dihindari menjadikan kesempurnaan ruangan sebagai tolak ukur selama kita berbenah menggunakan metode Konmari. Sebaliknya, yang menjadi tolak ukur dalam Konmari adalah keseimbangan.

Kendati metode Konmari tidak mengedepankan kesempurnaan, tetapi kita tetap memerlukan perencanaan berbenah sebelum berbenah. Perencanaan berbenah ini dilakukan agar kita mengetahui apa yang kita inginkan dan apa tujuan kita. Salah satu cara yang direkomendasikan metode Konmari dalam perencanaan berbenah adalah dengan memvisualisasikan ruangan yang akan dirapikan.

Saat ingin merapikan ruangan, coba kita lihat sekeliling ruangan tersebut. Bayangkan apa yang akan kita lakukan selama di dalam ruangan itu, apa yang kita harap dapat kita rasakan jika memasuki ruangan itu, apakah rasa teduh, bahagia, tenang, penuh semangat, atau lainnya? Jangan lupa juga untuk membayangkan apa saja yang akan kita letakkan di setiap sudut ruangan dan bagaimana kita menata isi lemari-lemari yang ada di ruangan. Pemvisualisasian seperti ini penting, karena bagian ini mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup kita ke depannya.

Terakhir adalah mengapresiasi benda yang dimiliki. Dapat dikatakan ini adalah inti dari metode Konmari. Berbenah ala Konmari bukan semata-mata merapikan benda, melainkan bagaimana mengapresiasi benda yang kita miliki. Memanfaatkan benda sebagaimana fungsinya adalah cara terbaik untuk mengapresiasi benda yang kita punya. Jika memang kita sudah tidak bisa memanfaatkan benda tersebut karena alasan ada benda lain yang yang digunakan atau memang sudah tidak membutuhkan benda tersebut, maka menyimpan atau menumpuk benda bukanlah cara mengapresiasinya. Sekalipun ada rasa berat untuk membuang benda tersebut, tapi kita harus memikirkan bahwa benda yang semestinya bermanfaat justru tidak lagi bermanfaat jika terus ditumpuk atau disimpan.

Alih-alih menyimpan dan menumpuk barang, kita bisa mengucapkan terima kasih atas apa yang telah benda-benda tersebut lakukan selama kita miliki. Termasuk juga kita bisa berterima kasih kepada benda-benda tersebut karena pernah memberikan kebahagiaan –setidaknya saat pertama kali dibeli. Setelah berterima kasih kepada semua benda yang tidak lagi digunakan, barulah kita bisa membuangnya.

Mari Membuang Sebelum Berbenah!

Membuang barang adalah hal yang harus dilakukan sebelum berbenah ala Konmari. Proses pembuangan barang ini pun dilakukan tanpa ampun, di mana kita harus mengenyampingkan perasaan terlalu sayang kepada benda atau perasaan bersalah untuk membuang. Ingat! Meskipun proses pertama ini adalah membuang, fokus kita bukanlah kepada benda apa yang akan dibuang melainkan fokus pada benda apa yang ingin kita simpan.

Lalu bagaimana cara terbaik menentukan apakah kita benar-benar ingin menyimpan barang tersebut atau tidak? Caranya cukup mudah, hanya simpan barang yang sparking joy, membangkitkan kebahagian kepada kita. Kriteria ini berlaku untuk setiap barang yang kita punya, sehingga tidak peduli barang itu pemberian orang, hadiah, atau kenang-kenangan, kita tetap harus bertanya apakah benda tersebut membuat kita bahagia atau tidak.


Berbenah Berdasarkan Kategori

Kesalahan kita selama ini dalam berbenah adalah kita berbenah berdasarkan lokasi, bukan kategori. Misalnya adalah kita mulai berbenah kamar tidur terlebih dahulu, lalu ruang tamu, terakhir dapur dan kamar mandi. Cara berbenah seperti ini dinilai salah besar dalam Konmari. Sebagai gantinya, kita harus berbenah berdasarkan kategori. Marie Kondo, pemilik metode ini, membagi kategori benda yang diurutkan seperti berikut; pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, dan terakhir benda-benda bernilai sentimental.

Jadi maksudnya bagaimana ya berbenah berdasarkan katagori itu? Yang dimaksud dengan berbenah berdasarkan kategori adalah jika kita ingin membenahi pakaian, maka kita harus membenahi seluruh pakaian yang ada di rumah, di manapun tempat pakaian itu tersimpan di dalam rumah. Lalu jika kita ingin merapikan buku-buku, maka kita harus merapikan seluruh buku yang ada, bukan dirapikan berdasarkan tempat buku itu disimpan (di kamar atau di ruang keluarga). Begitu seterusnya dengan benda-benda kategori lain.


Membenahi Pakaian

Untuk membenahi pakaian, hal paling pertama yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan semua pakaian yang tersimpan rumah. Entah itu di dalam lemari, di cucian, di jemuran, di gantungan, dan sebagainya, semua harus dikumpulkan di atas lantai. Saat mengumpulkan seluruh pakaian, jangan lupa untuk dibagi berdasarkan subkategori lagi. Metode Konmari menyarankan untuk membagi pembenahan pakaian berdasarkan urutan subkategori sebagai berikut; atasan (kemeja, sweater, dll), bawahan (celana panjang, rok, dll), pakaian yang harus digantung (jaket, setelan jas, dll), kaos kaki, pakaian dalam, tas (tas tangan, ransel, dll), aksesoris (topi, syal, sabuk, dll), pakaian khusus (baju renang, seragam, dll), dan terakhir sepatu.

Selanjutnya setelah seluruh pakaian dikumpulkan dan dibagi berdasarkan subkategori, inilah waktunya kita memilih pakaian yang ingin disimpan, yaitu pakaian yang membangkitkan kegembiraan. Lalu membuang sisanya, pakaian yang tidak membangkitkan kegembiraan. Jika memang di tempat tinggal kita terdapat LSM atau organisasi yang menampung pakaian bekas layak pakai, kita juga bisa menjadikan tempat tersebut sebagai opsi selain membuang.

Kemudian, kita akan masuk ke tahap memvisualisasikan seperti yang kita bahas di awal tulisan ini. Iya, dalam berbenah kita harus membayangkan akan seperti apa penataan ruangan dan isi lemari kita setelah dirapikan nanti. Perlu diingat, berbenah pakaian ala Konmari memiliki tujuan menata isi lemari agar setiap benda di dalamnya dapat dilihat sekali lirik.

Melipat atau menggantung? Metode Konmari menjawab melipat pakaian adalah cara terbaik dalam menyimpan pakaian, karena akan jauh mengefisiensikan tempat penyimpanan. Alasan lain mengapa metode Konmari mengutamakan melipat pakaian karena dalam proses melipat ini kita akan banyak berinteraksi dengan pakaian kita sendiri.

Masih ingat prinsip mengapresiasi benda yang kita miliki? Berinteraksi dengan pakaian selama melipat adalah bentuk apresiasi kita kepada pakaian yang selama ini bekerja melindungi tubuh kita. Dalam melipat telapak tangan kita akan sering menyentuh pakaian, di saat ini kita bisa meresapi kebahagian yang ditimbulkan oleh pakaian tersebut. Bisa juga kita berterima kasih dan bersyukur atas nikmatnya saat pertama kali memiliki atau setiap kali memakai pakaian tersebut.



Masuk ke dalam sesi melipat pakaian. Ada yang berbeda dalam lipat melipat pakaian ala Konmari. Jika biasanya kita menumpuk pakaian dengan cara menidurkannya di lemari, dengan metode Konmari kita menata pakaian dengan cara mendirikannya di lemari. Mengapa dianjurkan mendirikan pakaian yang dilipat di dalam lemari? Ini berkaitan dengan prinsip mengapresiasi benda yang kita punya. Selama kita berpakaian, seluruh pakaian sedang menjalankan tugasnya. Itu artinya ketika kita menyimpan pakaian di lemari, kita sedang mengistirahatkan pakaian dari tugas hariannya. Jika kita menumpuk pakaian, maka sama saja membebani pakaian dan dengan mendirikannya pakaian bisa lebih beristirahat dan “bernapas”.

Agar setiap pakaian bisa berdiri, setiap pakaian yang dilipat harus membentuk segi empat sederhana yang bisa ditegakkan. Caranya adalah sebagai berikut. Setelah membentangkan pakaian yang aka dilipat, pertama kita harus lipat sisi-sisi samping pakaian ke bagian tengah dan lipat lengan baju ke dalam sehingga terbentuk persegi panjang (cara melipat lengan baju disesuaikan dengan selera masing-masing). Kedua, lipat lagi seperti langkah pertama. Lalu, ambil sisi atas dan bawah pakaian ke bagian tengah, sehingga terbentuk persegi panjang yang lebih pendek. Kemudian, lipat lagi sisi atas dan bawah seperti sebelumnya atau bisa disesuaikan dengan ukuran pakaian yang dimiliki hingga terbentuk persegi empat dan lipatan bisa didirikan.

Dengan dilipat seperti cara di atas, pakaian dapat ditata menyamping, sehingga kita bisa melihat semua tepian pakaian ketika membuka lemari. Selain itu, kita  juga jadi tidak usah khawatir akan merusak lipatan pakaian lainnya sebagaimana jika pakaian ditata penumpuk. Sebab dengan penataan menyamping, pakaian lainnya tetap tertata rapi selama kita melipat dengan benar; pakaian dapat berdiri tegak.
 
Cara melipat kaos ala Konmari

Cara melipat bawahan ala Konmari

Cara melipat gaun atau pakaian panjang ala Konmari

Bagaimana dengan pakaian yang digantung? Prinsip pakaian yang disimpan di lemari gantung ala Konmari adalah menggantung pakaian berat (pakaian panjang, berbahan tebal, dan berwarna gelap) di sebelah kiri lemari dan pakaian ringan di sebelah kanan. Jadi semakin ke kanan, pakaian yang digantung akan semakin pendek, bahan semakin ringan, dan warna semakin cerah.

Cara menggantung pakaian ala Konmari

Berlanjut ke subkategori pakaian lainnya, yaitu kaos kaki dan stocking. Hindari menggumpal kaos kaki dan mengikat stocking. Sebaiknya kita tetap melipat kaos kaki dan menggulung stocking. Lalu keduanya ditata tegak sebagaimana pakaian lainnya.

Cara melipat kaos kaki, stocking, dan pakaian dalam ala Konmari )

Demikianlah sedikit resume dari buku Konmari seputar prinsip berbenah ala Konmari dan cara membenahi pakaian. Untuk metode membenahi benda lainnya ada di tulisan selanjutnya.



@fatinahmunir | ditulis pada 23 Januari 2018

Posted by Fatinah Munir

Zero Waste Life Journey: Refuse and Reduce Journey



Zero Waste Life Journey
Refuse and Reduce Journey

Selama sepekan kedua ini mendapat tantangan baru zero waste life untuk praktik 5R's Concept yang pernah saya tulis di sini. Tantangan kali ini adalah menolak (refuse) dan mengurangi (reduce) penggunaan barang-barang yang berpotensi menjadi sampah, terutama plastik sekali pakai. Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya di sini, saya tidak memulai dari rumah tetapi dari diri saya sendiri. Jadi, semua tantangan ini saya mulai dari diri saya sendiri.

Start From The Big Four

Oh oiya, untuk pemula seperti saya, pastinya sangat sulit untuk memulai zero waste life ini. Selain karena banyak sekali benda-benda di sekitar kita yang langsung menjadi sampah, pemula seperti saya juga bingung harus memulai dari mana atau mengganti benda-benda yang langsung menjadi sampah itu dengan apa.

Tapi tenang saja, Alhamdulillah ada solusi yang cukup ampuh yang ditawarkan oleh Plastic Free July. Plastic Free July ini sendiri adalah sebuah challange menolak plastik selama sebulan yang sudah dimulai sejak Juli 2011 lalu. Untuk memudahkan praktik zero waste life buat pemula seperti saya, Plastic Free July ini menawarkan tahap refuse dan reduce ini dengan menolak dan mengurangi The Big Four, Si Empat Benda Terlarang saya menyebutnya.

The Big Four ini adalah empat benda remeh yang ada di sekitar kita, yang sering kali kita gunakan, tapi langsung menjadi sampah dan menempati posisi jumlah sampah yang paling banyak di TPA negara manapun. Keempat benda ini adalah kantung plastik, botol minum sekali pakai, sedotan, dan gelas sekali pakai (dalam terminologi aslinya sebenarnya adalah gelas kertas sekali pakai untuk kopi).

Nah…, jadi untuk para pemula di zero waste life, bisa memulai refuse dan reduce dengan menolak kantung plastik sampah dan menggantinya dengan tas kain. Kita bisa juga menolak pakai botol plastik sekali pakai dan menggantinya dengan tumbler. Kemudian menghindari sedotan jika masih dapat diminum tanpa sedotan atau mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless steel, sedotan bambu, atau sedotan berbahan silicon yang bisa dicuci pakai. Terakhir adalah menghindari gelas sekali pakai dan menggunakan gelas sendiri yang bisa dipakai berkali-kali.

My Refuse and Reduce Journey


Begitulah kira-kira langkah awal refuse dan reduce dengan menolak The Big Four, empat benda terlarang dalam zero waste life. Memang hanya sedikit permulaannya, hanya sebatas pada beberapa benda. Tapi insya Allah, dengan konsisten dan menikmati tahapan kecil tersebut kita bisa melangkah ke tahap zero waste selanjutnya yang jauh lebih sulit dan lebih menantang.

Amunisi berpergian nol sampah ala Lisfah
Untuk saya pribadi, dalam rangka refuse dan reduce melalui the bigh four, hal pertama yang saya lakukan adalah membawa bekal makanan, camilan, dan minum dari rumah. Di hari saat saya harus keluar rumah hampir seharian, saya menyiapkan amunisi yang sekiranya akan dibutuhkan. Saya mulai dengan membawa satu tempat makan berisi makan siang, satu tempat makan berisi camilan, satu set sendok dan sumpit stainless steel (karena saya lebih nyaman pakai sumpit daripada garpu), satu tumbler besar untuk air putih, dan satu tumbler kecil untuk kopi (karena saya pecinta kopi, hehehe), terkahir adalah saputangan sebagai pengganti tisu makan. Semuanya dimasukkan ke dalam tas kain serbaguna.


Membeli makanan dengan membawa wadah sendiri juga jadi bagian dari refuse and reduce yang saya lakukan di sini. Beberapa kali saya mencoba membeli makanan dengan wadah sendiri. Awalnya deg-degan, khawatir dipandang aneh dan merepotkan. Tapi alhamdulillah, respon penjualnya rata-rata senang sekali dan mau membantu menata makanan di wadah saya. Misalnya saja seorang penjual ayam goreng di bawah ini yang mau memotong-motong ayam goreng yang saya beli agar muat di dalam wadah saya. ^_^

Membawa wadah sendiri saat membeli makanan. Maafkan gambar yang blurry karena difoto secara mendadak :D

Tiwul yang dibawa dari rumah untuk camilan di jam istirahat mengajar.
Selanjutnya adalah meninggalkan tisu dan menggantinya dengan saputangan dan handuk. Sebenarnya cukup mudah untuk saya menolak dan mengurangi penggunaan tisu, karena keluarga saya juga tidak terbiasa menggunakan tisu. Kami terbiasa menggunakan kain untuk membersihkan sesuatu di benda ataupun di tangan. Saya cukup kenal penggunaan tisu untuk berbagai hal hanya saat sudah kerja, karena di tempat kerja saya semuanya harus serba bersih dan rapi dengan mengandalkan tisu.

Kembali lagi ke menolak dan menghindari tisu yaa. Untuk handuk kecil, saya pakai yang sudah tersedia di rumah dan jika sekiranya membutuhkan stok tambahan saya baruakan membeli yang handuk kecil baru. Dan untuk saputangannya, saya juga pakai yang ada di rumah saja dulu. Karena almarhum bapak selalu menggunakan dan membelikan saya saputangan, jadi saya pakai saputangan beliau dan saputangan yang saya simpan cukup lama sebelumnya. Hehehe. Untuk saputangan lainnya, saya menggunakan kain jilbab ukuran 115x115 cm yang tidak terpakai dan dijumput untuk memperindah kainnya. Saputangan yang ini tidak menyerap keringat, jadi pakai sebagai pengganti tisu makan.


Menolak menggunakan tisu ini saya coba tularkan ke teman-teman di tempat mengajar saat kejadian rok saya terkena kuah sayur di jam makan siang. Saat itu maintenance perempuan menawarkan saya tisu tapi saya meminta kanebo atau lap dapur untuk membersihkan serat-serat bumbunya. Alhamdulillah, saya dikasih kanebo untuk membersihkan rok. Kalau saja memakai tisu untuk membersihkan rok saya, kira-kira saya sudah menyumbang 3-5 lembar tisu untuk sampah hari itu.

Berbagai jenis saputangan sebagai pengganti tisu.

Menolak dan mengurangi kantung-kantung plastik ini bisa dibilang susah tapi gampang atau gampang tapi susah. Hehehe. Saya mencoba menggunakan totebag yang bisa digunakan berkali-kali. Satu totebag kecil buatan murid besar saya yang dihadiahkan ke saya untuk membawa bekal dan barang bawaan yang tidak muat di tas. Satu lagi adalah totebag ukuran lebih besar yang bisa dilipat seperti dompet dan disimpan di dalam tas. Totebag kedua ini akan dipakai kalau diperjalanan saya ingin belanja atau tiba-tiba harus membawa barang berukuran besar. Anyway, totebag yang kedua sudah berumur 5 tahun, alhamdulillah.

Untuk mengurangi penggunaan kertas, terutama memo atau notes, saya mulai memaksimalkan penggunaan kalender digital di hape. Pilihan saya jatuh pada aplikasi kalender keluaran G. Selain karena bebas biaya penggunaan, saya juga sudah terbiasa menggunakan email dari Mr. G, jadi semua schedule dan reminder saya bisa terintegrasi langsung ke email yang saya gunakan sehari-hari tanpa membuat email baru. Selain itu, kalender digital milik Mr. G ini juga punya fiture pengaturan jadwal otomatis untuk goal atau target yang saya punya. Misalnya ketika saya mengatur target self-learning bahasa Jepang 2x sepekan, kalender Mr. G akan mencari jadwal senggang dari data schedule yang saya input dan meletakkan jadwal saya di jadwal tersebut. Jadi, saya tidak perlu repot-repot mencari jadwal kosong saya untuk memenuhi target self-learning bahasa Jepang yang saya punya.

Sebagai tambahan, aplikasi kalender ini menampilkan schedule harian saya lengkap dengan daftar jam dan klasifikasi agenda berdasarkan warnanya, ini membantu saya melihat jadwal saya 24 jam ke depan secara detail. Kalau saja tampilan ini dipakai di atas kertas, pasti saya butuh buku agenda yang tebal atau besar. Yang pastinya akan saya buang setelah satu tahun. Ini benar-benar membantu saya mengurangi penggunaan kertas dan alat tulis dengan tinta warna-warni.

Totebag ungu ini bisa dijadikan dompet. Titebag belacunya digunakan untuk membawa bekal makanan.

Contoh schedule yang saya punya di aplikasi kalender punya Mr. G. Kanan adalah tampilan harian dan kiri adalah tampilan mingguan :)
Selanjutnya penggunaan sabun isi ulang. Saya belum bisa membeli sabun isi ulang buatan rumah yang bisa dibeli dengan membawa botol isi ulang sendiri. Hiks. Padahal di perkampungan tempat tinggal saya ada yang menjual sabun buatan rumah ini. Tapi karena kulit saya sensitif sekali, sampai saat ini saya hanya bisa menggunakan sabun bayi untuk badan, cuci tangan, dan mencuci baju T_T Jadi, sejauh ini dan pekan ini pastinya saya baru bisa zero waste sabun dengan membeli kemasan refill dan menggunakan botol sabun yang sudah dipakai lebih dari satu tahun.

Terakhir, mulai mengganti pembalut sekali pakai dengan pembalut cuci pakai (menspad). Yang satu ini masih tahap ingin membeli di hari ini. Selain memilih produk menspad yang nyaman menurut sesama pejuang nol sampah, saya juga masih memilih penjual yang ramah lingkungan yang tidak menggunakan banyak plastik packaging-nya. Berharapnya sih saya bisa dapat penjual yang membungkus produknya dengan kemasan ecogreen. Hehehe.

Sabun mandi dan refill-nya yang biasa saya pakai.
Refuse and Reduce Challenges

Praktik refuse dan reduce ini sejujurnya tidak mulus begitu saja. Banyak juga kendalanya. Kendala pertama saya adalah ketika ada tanggung jawab moral untuk berbelanja di BzM saat ikut kelas bahasa Inggris di Kementerian Pendidikan setiap Selasa malam. Di sini yang dijual makanan berkemasan plastik, notes book, dan gelang karet. Huaaaa…. Semuanya adalah barang-barang yang akan jadi sampah T_T

Finally, saya memutuskan membeli keripik tempe dalam kemasan cukup besar. Rencananya, plastic bungkusnya akan saya pakai ulang untuk menyimpan barang-barang kecil atau sebagai sampul dari salah satu novel di rumah. Honestly, ini pertama kalinya saya merasa sangat bersalah saat membeli jajanan. Huhuhuhu. Di samping itu ada beban psikis juga ketika menolak membeli, karena kelas bahasa Inggris yang saya ikuti ini gratis dan satu-satunya pemasukan para committees untuk menjalankan kelas ini hanya dari BzM. Huhuhuhu. Dear, Commitees…, hopefully one day you sell zero waste product with BzM. Hihihihi xD

Keripik tempe yang dibeli dengan penuh kegalauan XD
Masalah kemasan lainnya berhubungan dengan kebiasaan saya mengonsumsi permen di waktu-waktu tertentu. Biasanya hampir setiap hari bisa mengonsumsi satu permen, tapi karena memulai zero waste life ini saya berusaha kuat untuk tidak mengonsumsi permen. Dan akhirnya, pekan ini saya bolong satu lagi menggunakan kemasan yang berpotensi menjadi sampah, karena saya memakan satu permen yang bungkusnya sampai sekarang saya simpan di dalam tas.

Next challenge adalah saat harus menerima struk kertas dari stasiun kereta saya kehabisan saldo di e-money saya dan dari minimarket saat mengisi e-money. Hahaha, ironis sekali contohnya. Kalaupun saya tidak menerima atau menolak, struk-struk ini pasti tetap akan jadi sampah di tempat lain kan. Saya berharap sekali setiap tempat transaksi memiliki sistem struk digital melalui email, sehingga tidak perlu kertas-kertas lagi sebagai bukti transaski.

Kejadian lainnya adalah ketika saya kesulitan melakukan finger print untuk presensi di tempat mengajar. Resepsionis kampus spontan memberikan saya selembar tisu untuk saya membersihkan scanner finger print. Untuk menghargai resepsionis ini, saya menerima tisunya tapi menyimpannya di dalam tas untuk dipakai lagi jika besok-besok saja perlu membersihkan scanner finger print. Sekarang, tisu itu sudah dipakai berkali-kali dan sudah sangat lecek. Hehehe.

Berbagai jejak tantangan refuse dan reduce :D
Well, ini baru awalan. Praktik zero waste life masih sangat jauh ke depan. Belajar bersama-sama di kelas intensif Hjrah Nol Sampah membuat saya tidak merasa sendirian. Ada banyak pejuang-pejuang nol sampah yang membersamai saya. Dan melalui tulisan ini, saya juga merasa tidak berjuang sendiri tapi bisa berbagai susah senangnya menjalankan hidup nol sampah.

@fatinahmunir | 17 Agustus 2018
Merdeka Indonesia!
Merdeka tanpa sampah!
17 August 2018
Posted by Fatinah Munir

Zero Waste Life Journey: 5R’s Concept




Zero Waste Life Journey
5R’s Concept

Buat kebanyakan orang, termasuk saya, hidup tanpa sampah yang terlintas pertama kali adalah tidak membuang sampah seenaknya atau sembarangan dan harus pandai mendaur ulang sampah. Tapi ternyata pemikiran ini salah besar. Hidup nol sampah bukan hanya tentang mendaur ulang sampah-sampah menjadi lebih berguna. Ada beberapa tahapan yang jauh lebih penting dan semestinya kita lakukan terlebih dahulu sebelum ke tahap mendaur ulang. Beberapa tahapan ini menjadi start point atau prinsip paling yang mendasari hidup nol sampah. Prinsip ini bernama 5R’s (Five R’s) yang merupakan singkatan dari Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, and Rot atau dalam bahasa Indonesia berarti Menolak, Mengurangi, Memakai Ulang, Mendaur Ulang, dan Mengomposkan.

Saya kurang tahu siapa yang mencanangkan 5R’s Concept ini, tapi sumber paling lama yang saya temukan ada tulisan pada 2011 lalu di blog www.zerowastehome.com, milik seorang zero waste life mother bernama Bae Johnson. 5R’s Concept ini merupakan cara hidup nol sampah yang dilakukan secara berurutan, mulai dari langkah paling awal hingga paling paling tinggi. Jadi, 5R’s Concept ini dilakukan seara berurutan.

REFUSE what you do not need. TOLAK yang tidak dibutuhkan.
REDUCE what you do need. KURANGI yang dibutuhkan.
REUSE by using resuables. PAKAI ULANG barang-barang yang bisa dipakai ulang.
RECYCLE what you can not refuse, reduce, and reuse. DAUR ULANG yang tidak bisa ditolak, dikurangi, dan dipakai ulang.
ROT the rest. KOMPOSKAN sisanya.

Dari ilustrasi 5R's ini terlihat kalau semakin kita menerapkan 5R's ke tahap Rot (pengomposan), jumlah sampah yang kita miliki semestinya semakin sedikit.
Refuse, menolak yang tidak dibutuhkan adalah menolak untuk membeli, menerima, dan menggunakan berbagai macam hal yang berpotensi menjadi sampah. Dengan menolak barang dan jasa yang berpotensi menghasilkan sampah, maka kita sudah mulai menginjak tahap pertama hidup nol sampah. Beberapa hal yang bisa kita lakukan misalnya, menolak menggunakan barang berbahan plastik kemasan sekali pakai, menolak menggunakan banyak kertas, termasuk menolak produk-produk gratisan atau hadiah yang sebenarnya tidak betul-betul dibutuhkan.

Reduce, mengurangi yang dibutuhkan adalah mengurangi konsumsi kita. Artinya adalah menggunakan barang-barang yang benar-benar dibutuhkan, tidak impulsif dalam menggunakan dan membeli barang. Sehingga semakin sedikit barang yang kita gunakan maka semakin sedikit pula sampah yang akan kita hasilkan. Untuk menerapkan reduce ini kita bisa memulai dengan mematangkan rencana pembelanjaan sehingga tidak ada barang yang dibeli tanpa rencana, mengurangi mengonsumsi makanan yang dibeli instan atau fast food di luar rumah, dan jika memungkinkan menggunakan atau membeli barang bekas atau second hand untuk mengurangi sampah produksi.

Reuse, memakai ulang barang-barang yang bisa dipakai ulang. Contoh kecil dari tahap reuse adalah dengan menggunakan kembali plastik-plastik yang ada di rumah untuk berbelanja hingga plastik-plastik tersebut benar-benar tidak bisa digunakan kembali. Atau menggunakan saputangan atau handuk kecil yang bisa dipakai berulang kali sebagai pengganti tisu. Contoh lainnya adalah menggunakan botol minum yang bisa dipakai berkali-kali.

Recycle, mendaur ulang barang-barang yang tidak bisa ditolak, dikurangi, dan dipakai ulang. Misalnya kita bisa memeriksa barang-barang yang kita punya dan sekiranya sudah tidak bisa lagi digunakan. Lalu menggunakan barang-barang tersebut dengan fungsi berbeda. Misalnya menggunakan kaos bekas yang tidak mungkin dipakai atau disumbangkan untuk menjadi lap dapur atau dijahit menjadi tas belanja. Atau bisa juga menggunakan kantung-kantung plastik yang sudah ada di rumah menjadi pengganti benang rajut dan merajutnya menjadi tas seperti yang dilakukan Teh Ncie di projek Merajut Indonesia miliknya.

Rot, mengkomposkan sisanya atau sampah-sampah organik yang tidak bisa didaur ulang. Untuk komposing ini sendiri ada banyak sekali ilmunya yang akan harus dipelajari. Selain itu, karena banyak sistem pengomposan maka kita harus menemukan sistem pengomposan yang cocok dengan konsisi dapur dan rumah kita.

Sekali lagi, dalam pelaksanaannya 5R's ini harus dilakukan secara berurutan. Jadi kita harus bisa refuse (menolak), reduce (mengurangi), dan reuse (memakai ulang) barang di sekitar kita terlebih dahulu. Barulah barang-barang yang berpotensi menjadi sampah dan tidak bisa melawati tiga tahapan di atas dapat kita recycle (daur ulang). Sisanya, sampah-sampah organik yang tidak bisa didaur ulang bisa kita komposkan. So, jika 5R's ini diterapkan dengan konsisten maka jumlah sampah rumah tangga yang kita miliki untuk dibuang ke TPA pada akhirnya akan sangat sedikit.

Melakukan 5R’s hingga tahap pengomposan memang tidak mudah dan tidak harus ke tahap itu dengan cepat. Butuh proses untuk menuju tahap paling tinggi ini dan yang terpenting adalah kita bahagia menjalankannya. So, mari ikut hidup nol sampah!

Referensi:
www.zerowastehome.com
Kelas Intensif Hijrah Nol Sampah, Institut Ibu Profesional

@fatinahmunir | 17 Agustus 2018



Posted by Fatinah Munir

Zero Waste Life Journey: Mindfulness, Persiapan Hijrah Nol Sampah



Zero Waste Life Journey
Mindfulness, Persiapan Hidup Nol Sampah

Setelah merencanakan beberapa langkah pertama untuk memulai zero waste life, langkah selanjutnya adalah belajar tentang praktik baik nol sampah. Tapi sebelum praktik langsung hidup nol sampah, ada dua langkah persiapan yang harus dilakukan.

Pertama adalah mencari alasan terkuat yang membuat kita memilih hidup nol sampah. Harus ada alasan yang akan mengingatkan kita untuk tetap konsisten dengan pilihan ini. Di samping itu, alasan kuat kita bisa dijadikan bagian dari strategi mengajak orang lain untuk ikut hidup nol sampah. Alasan ini juga sebaiknya dituliskan dan ditempel di berbagai tempat yang akan sering kita lihat. Jika hal pertama ini sudah kita lakukan, selanjutnya adalah tentang hal paling fundamental untuk memulai zero waste life.

Buat saya pribadi, alasan terkuat saya hijrah ke hidup nol sampah adalah prinsip mindfulness yang saya punya. Mindfulness atau kesadaran dan kehati-hatian adalah prinsip hidup saya. Maksudnya adalah setiap yang saya lakukan dalam hidup ini harus didasari oleh kesadaran dan kehati-hatian pada sekitar saya, pada orang dan lingkungan saya. Saya berusaha untuk tidak merusak, menyusahkan, mengganggu, dan menyepelekan sekitar saya. Maka mindfulness atas menjaga lingkungan untuk kebaikan jangka panjang kehidupan di atas bumi ini melalui zero waste life adalah alasan terkuat saya.

Mindfulness ini biasanya saya tuliskan di tempat wallpaper hape dan laptop dan saya tempel di meja mengajar. Tulisan mindfulness-nya sendiri saya ambil dari www.unsplash.com.

Di samping itu, sebagai seorang muslimah, agama saya melarang untuk berbuat kerusakan di bumi. Setidaknya ada 26 ayat dalam al-Qur’an yang menyebutkan kerusakan di bumi. Di setiap ayat tersebut berisi keterangan bahwa manusialah yang sering kali berbuat kerusakan di bumi karena kerakusan dan rasa tidak bersyukur mereka. Melalui pilihan hidup nol sampah ini saya berharap untuk semaksimal mungkin bisa menjadi muslimah yang tidak berbuat kerusakan di atas bumi ini. Lebih jauh lagi, dengan menerapkan hidup nol sampah saya berharap tidak hanya bisa membantu menjaga lingkungan tetapi juga bisa meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang bisa ditiru oleh banyak orang.

Sumber: www.unsplash.com
Kedua adalah refleksi sampah yang dihasilkan diri sendiri. Di sini saatnya kita berintrospeksi diri sampah-sampah apa saja yang selama ini banyak kita hasilkan. Caranya bisa dengan memeriksa sampah-sampah rumah tangga yang ada di rumah dan melihat sampah jenis apa yang paling banyak kita hasilkan.

Di rumah saya, karena kami berasal dari keluarga pedagang makanan maka sampah rumah tangga yang paling banyak kami hasilkan adalah dari produksi makanan yang akan dijual. Misalnya kulit bawang, tulang ayam, dan kulit telur, dan plastik-plastik belanja bahan-bahan untuk berjualan. Sedangkan sampah saya pribadi, yang paling banyak adalah sampah kertas. Entah itu kertas memo, notes untuk mencatat jadwal, atau untuk mencatat ide-ide tulisan.

Saya pikir akan susah kalau saya memulai dari dapur yang notabene bukan wilayah kekuasaan saya di rumah, karena kakak pertama dan ibu saya yang mengelola dagangan dan dapur. Jadi saya putuskan untuk memulai semuanya dari diri saya sendiri terlebih dulu, yakni dengan mengurangi sampah kertas.

Selanjutnya adalah melihat barang-barang yang saya pakai dan berpotensi menjadi sampah. Ada dua barang yang saya punya yang pastinya akan menjadi sampah, yaitu notes kecil untuk mencatat beberapa hal yang saya khawatir akan lupa dan tisu kemasan travel pack. Jadi, saya mencoba untuk tidak menggunakan kertas notes terlalu banyak dan sepenuhnya meninggalkan tisu.
Ini baru persiapannya zero waste life, belum mulai mempraktikkannya. Semoga istiqomah untuk seterusnya. Aamiin.

@fatinahmunir | 17 Agustus 2018

Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. :)

Selamat membaca!

@fatinahmunir
fatinahmunir@gmail.com

Hi Folks!

Hi Folks!
Teacher | Writer | Adventuress

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -