Pubertas pada Autisme? Adakah?


Bismillahirrahmanirrahim

Banyak di antara kita, orang tua, pengajar, ataupun orang-orang yang berinteraksi dengan anak dengan autisme penasaran apakah mereka akan melewati masa pubertas di usia mereka yang beranjak remaja? Pastinya rasa penasaran ini tidak hanya karena keingintahuan saja, tetapi karena ada rasa khawatir jika mereka mengetahui hal yang sensitive di masa pubertas mereka.

Okay, pertama saya ingin mengingatkan kalau autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan otak tetapi bukan gangguan perkembangan fisik, kecuali memang keautistikan seorang anak diikuti dengan kedisabilitasan fisik lainnya. Lalu kita harus memperhatikan juga usia mental seseorang dengan autisme, yang pada umumnya usia mental seseorang dengan autisme akan lebih rendah daripada usia biologisnya. Meskipun begitu, tidak memungkinkan ada juga seseorang dengan autisme yang memiliki usia mental sama dengan usia biologisnya yaa 😊

Nah, sekarang kita masuk ke bagian pubertas. Apa sih hubungannya kita ngobrolin gangguan perkembangan otak pada autisme, usia mental, dan usia biologis? Hubungannya adalah seseorang dengan autisme meskipun memiliki gangguan perkembangan otak dan usia mental di bawah usia biologisnya, tetapi semua itu tidak memperngaruhi perkembangan fisik atau hormonnya. Itu artinya hormone pertumbuhan pada anak dengan autisme berkembang seperti anak umumnya.

Anak dengan autisme juga mengalami perubahan bentuk tubuh seperti pada laki-laki dengan autisme akan tumbuh jenggot dan kumis, tumbuh bulu-bulu halus di ketiak atau dada dan kaki, timbul jakun, mengalami perubahan suara, atau bahkan mengalami onani dan ereksi. Pada perempuan dengan autisme juga akan mengalami perubahan bentuk fisik seperti muncul buah dada, pinggul membesar, mengalami masa menstruasi, tumbuh bulu halus di ketiak, dan bahkan mengalami masturbasi.

Sayangnya, perkembangan hormon pada masa pubertas bukan hanya mempengaruhi perubahan fisik seseorang, melainkan juga mempengaruhi hal hubungan. Maksudnya adalah perkembangan hormone ini membuat remaja dengan autisme juga memiliki rasa ingin menjalin hubungan yang berbeda dengan orang di sekitarnya, seperti hubungan pertemanan dan ketertarikan kepada lawan jenis.

Jadi anak dengan autisme juga mengalami pubertas saat memasuki masa remajanya. Lalu bagaimana proses pubertas pada remaja autisme? Well, seperti yang terjadi pada anak umumnya, pubertas selalu melingkupi hal yang sama seperti yang saya sebutkan di awal, perubahan fisik dan ketertarikan pada lawan jenis. Tapi perlu digarisbawahi bahwa proses dari pubertas tersebut selalu berbeda, entah itu pada remaja autisme ataupun pada remaja umumnya. Lalu apa yang membedakan pubertas remaja dengan autisme dengan pubertas remaja pada umumnya? PENDEKATAN DALAM MEMBERIKAN PEMAHAMAN DI MASA PUBERTASNYA HARUS SANGAT BERBEDA!

Sebelumnya saya menyampaikan kalau usia mental seseorang dengan autisme itu sangat memungkinkan di bawah usia biologisnya. Sebagai contoh, seorang remaja dengan autisme berusia 15 tahun sangat memungkinkan memiliki usia mental sekitar 7 tahun. Itu artinya secara perkembangan dan perubahan fisiknya, fisik remaja autisme sama dengan remaja umumnya di usia 15 tahun akan tetapi kemampuannya menerima informasi masih sama dengan anak usia 7 tahun. Ini hanya contoh ya, bisa saja usia mentalnya lebih dari 7 tahun atau justru sama dengan usia biologisnya yaitu 15 tahun.

Dari contoh di atas, jelas kita harus melakukan pendekatan yang berbeda berdasarkan kemampuan remaja dengan autisme masing-masing. So, pendekatan pada remaja dengan autisme yang sedang mengalami pubertas harus berbeda satu dengan yang lainnya yaa! 😊

Okay, bagaimana cara membedakan pendekatannya? Tadi kita sudah membahas bahwa pendekatannya bisa dibedakan berdasarkan usia mental remaja dengan autisme. Lalu bagaimana caranya kalau kita tidak tahu persis usia mentalnya? Yup! Kita bisa melihat kemampuan remaja tersebut dalam menerima informasi. Pastinya hal ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang biasa berinteraksi dengan remaja dengan autisme tersebut ya! Seperti orang tua, care giver, dan pendidik.

Well sudah terjawab kan rasa penasaran kita apakah anak dengan autisme akan mengalami pubertas di usia remajanya. 😊

Kesimpulannya adalah setiap anak dengan autisme pasti mengalami pubertasnya, hanya saja pemahaman setiap anak akan sangat berbeda saat mereka memasuki masa pubertas tersebut. Oleh sebab itu pendekatan dan tindakan yang akan diberikan kepada remaja dengan autisme yang mengalami pubertas juga harus berbeda satu dengan yang lainnya! 😊

Sekian dulu ya tulisan kali ini tentang autisme. Insya Allah di tulisan berikutnya saya akan membahas tahapan mengenalkan masa pubertas pada anak dengan autisme. Mohon doanya semoga selalu sehat dan bisa menulis.^^

@fatinahmunir | 20.03.2018

21 March 2018
Posted by Fatinah Munir
Tag :

NHW #6: Belajar Menjadi Manajer Keluarga; Membuat Jadwal Harian



Bismillahiraahmanirrahim


Kemarin, Alhamdulillah, sudah belajar tentang menjadi manajer keluarga. Sejujurnya ini materi yang saya tunggu-tunggu dan sangat saya butuhkan. Ya, apa lagi alasannya kalau bukan karena saya merasa sangat kurang mampu manajemen. Bukan cuma kurang, tapi bisa dibilang buruk malahan. Hiks. Padahal saya masih sendiri ya. Cuma ngurus diri sendiri atau bantu-bantu Emak di rumah. Bagaimana kalau sudah harus mengurus yang lainnya coba. T○T

Saat mengikuti materi manajemen keluarga ini, alhamdulillah, ada banyak pencerahan. Saya menemukan titik terang kenapa saya buruk dalam hal manajemen waktu dan banyak halnya. Di sinilah saya menemukan jawaban kenapa setiap jadwal dan rencana yang dibuat lebih sering gagal. Itu semua karena saya belum bisa memperjelas batas prioritas setiap aktivitas dan membaginya dalam kategori penting, perlu, mendesak, atau tidak penting.

Hehehe, sebelumnya saya menganggap setiap aktivitas saya adalah penting. Jadi kalau pun ada hal yang mendadak harus dilakukan, maka saya menganggap yang mendadak itu juga hal penting. Padahal ketika kita sudah mempunyai prioritas, kategori aktivitas, dan jadwal rutin, maka akan ada cut off time di mana aktivitas yang mendadak tidak boleh mengganggu aktivitas rutin dan prioritas. Alhamdulillah. Legaaaaa rasanya setelah mengetahui dan mencoba mengoreksi diri sendiri seperti ini. Rasanya saya seperti baru menemukan peti harta karun yang isinya komik dan green tea iced cream kesukaan. Whuaaaaa! ^^3

Nah untuk tugas kali ini ada beberapa point yang harus saya buat. Yaitu pertama saya harus menentukan tiga aktivitas penting dan tiga aktivitas tidak penting. Kemudian merefleksi diri, waktu yang saya punya telah saya habiskan untuk aktivitas yang mana. Selanjutnya adalah menentukan aktivitas rutin, sehingga aktivitas sehari-hari menjadi dinamis ditambah dengan aktivitas-aktivitas penting tadi. Terakhir, setelah semua tahapan dilakukan inilah waktunya menyusun jadwal harian.

3 Aktivitas Paling Penting

Untuk menentukan tiga aktivitas penting dan utama, saya kembali kepada tugas-tugas yang saya lakukan sebelumnya. Berefleksi kepada tugas-tugas itulah saya membagi aktivitas penting saya. Yaitu ibadah, keluarga, dan keilmuan (untuk mengembangkan diri terkait keautistikan dan inklusivitas).

3 Aktivitas Tidak Penting

Dibandingkan dengan menuliskan aktivitas penting, buat saya lebih mudah menentukan aktivitas tidak penting. Tapi kayaknya lebih mundah melakukan aktivitas yang tidak penting dibandingkan aktivitas yang penting ya. Huhuhuhuhu T,T Okay, tiga aktivitas yang tidak penting versi saya adalah menggunakan gadget tanpa tujuan yang jelas, menonton film di laptop lebih dari dua jam, dan dan santai atau ngobrol di jam produktif.

Lalu sekarang masuk ke pertanyaan pentingya. Di aktivitas mana waktu saya dihabiskan? Untuk saat ini waktu saya lebih banyak saya habiskan untuk aktivitas keilmuan saya, misalnya mengajar, membuat program, dan membaca literatur yang berhubungan dengan keilmuan saya. Sayangnya dalam proses belajar melalui litelatur, saya masih sangat random. Yup, saya masih membaca setiap materi randomly hingga seperti banjir informasi terkait keilmuan saya. Ke depannya sepertinya saya perlu memetakan topik literatur yang akan saya baca, supaya informasi yang masuk bisa lebih terarah.

Aktivitas Rutin

Dalam aktivitas rutin ini, saya memasukkan tiga aktivitas harian yang harus saya lakukan hampir setiap hari atau terjadwal, yaitu mengurus rumah, membersamai keluarga, dan mengajar. Mengurus rumah saya jadikan ke dalam aktivitas rutin dengan alasan untuk membiasakan diri bertanggung jawab pada kondisi rumah. Ditambah lagi untuk meringankan pekerjaan kakak dan ibu saya. Misi terselubung di aktivitas mengurus rumah ini adalah saya ingin mencoba seperti Jennifer Bachdim, istri Irfan Bachdim, yang vlog-nya selalu sepurat Mom Routine mengurus rumah, membersamai anak-anak, dan melakukan aktivitas lainnya bersama anak. Hehehehe.

Membersamai keluarga saya masukkan ke dalam aktivitas rutin saya untuk menjadi pengingat. Karena jujur saja, saya kadang kebablasan, terlalu asik beraktivitas di luar entah itu mengembangkan diri atau just for have fun sehingga lupa meluangkan waktu sehari saja dalams sepekan untuk membersamai keluarga. Dengan memasukkan aktivitas membersamai keluarga ke dalam jawal rutin, saya berharap bisa meluangkan waktu bersama keluarga setiap harinya meskipun itu hanya beberapa jam.

Bagian ketiga adalah aktivitas mengajar. Mengajar buat saya bukanlah pekerjaan, tapi lebih seperti hobi. Di aktivitas ini saya tidak betul-betul menjadikan finansial sebagai alasan utama dan prioritas tetapi lebih untuk mengembangkan diri dan mencapai kebahagiaan. Tujuannya satu yakni mencapai target saya untuk mempunyai lembaga pendidikan dan pelatihan untuk autime yang berbasiskan al-Qur’an.

Jadwal Harian

Ini yang ditunggu-tunggu. Akhirnya waktunya memasukkan rancangan aktivitas di atas ke dalam jadwal harian. Yeeeey! \(^o^ )/

Jadwal setiap Senin-Jumat
Jadwal setiap Sabtu
Jadwal setiap Minggu
Kurang lebih seperti ini jadwal harian saya setiap pekannya. Untuk jadwal akhir pekan, sebenarnya ingin saya luangkan sepenuhnya untuk keluarga. Tetapi saya juga membutuhkan aktivitas untuk mengembangkan ilmu lainnya. Sebab itu, saya memutuskan menjadikan satu hari di setiap akhir pekan sebagai hari bersama keluarga sepenuhnya. Jika Sabtu saya ada agenda di luar, maka saya akan seharian bersama keluarga di hari Minggu, begitu pun sebaliknya. Ini saya lakukan sebagai bentuk “membayar hutang” atas waktu yang saya gunakan untuk mengajar dan beraktivitas di luar selama lima atau enam hari.

Saya berharap jadwal ini tidak hanya dibuat untuk tugas semata, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran untuk diri saya sendiri dan untuk diterapkan. Jadwal ini akan diterapkan secara ketat selama sepekan, insya Allah. Kemudian akan saya evaluasi kefektifannya. Jika ada yang perlu diubah, insya Allah akan diubah untuk tujuan kebaikan. Bismillah! Semoga istiqomah dan berjalan lancar dengan ridha Allah SWT. Allahumma amiin.

Ganbatte ne~! \( ^_^)/


@fatinahmunir | 04.03.2018
04 March 2018
Posted by Fatinah Munir

Ibu Manajer Keluarga Handal


Rasanya belum selesai memikirkan NHW #5 dan masih ingin merevisi setelah mendapat review tugas kemarin. Tapi apa daya, Selasa ini sesuai jadwal kelas, sudah waktunya belajar materi baru.

Alhamdulillah, materi baru kali ini ternyata menyenangkan, membikin saya semakin semangat dan melupakan pikiran yang bergejolak selama mengerjakan tugas-tugas sebelumnya. Eh tapi setelah ini pasti akan ada tugas lain yang mengaduk-aduk hati dan pikiran. 🤓

Materi kali ini bertemakan “Ibu Manajer Keluarga Handal”. Huaaa, It’s so exciting topic! Can’t wait to learn it. ^^*

Di bawah ini saya cantumkan materi keenam di kelas. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya 🤗

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus selesai dengan manajemen rumah tangga kita. Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi kita yang yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Bagi kita yang memilih menjadi ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?

Apakah masih asal kerja, menggugurkan kewajiban saja? Apakah didasari sebuah kompetisi  sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain? Apakah karena panggilan hati sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga. Jadi, kalau kita masih asal kerja maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.


Kalau kita didasari kompetisi, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses. Kalau kita bekerja karena panggilan hati , maka yang terjadi kita sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa mengeluh.

Ibu Manajer Keluarga

Peran ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga. Maka masukkan dulu di pikiran kita
“Saya manager keluarga!” Kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.


Hargai diri kita sendiri sebagai manajer keluarga. Pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manajer keluarga. Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik. Lalu patuhi!

Buatlah skala prioritas. Kemudian bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan. Baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan.

Pertama adalah put first things first. Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini. Bila perlu memanfaatkan gadget, kita bisa mengaktifkan fitur gadgetsebagai organizer dan reminder kegiatan.

One bite at a time. Apakah itu one bite at a time? Maksudnya adalab lakukan semuanya setahap demi setahap. Lakukan hal tersebut sekarang juga! Harua pantang menunda dan menumpuk pekerjaan. ^^3

Delegating. Maksudnya adalah delegasikan tugas yang bisa didelegasikan. Entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat kita adalah manager! Jadi bukan berarti menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain. Tapi kita perlu membuat panduannya. Kita perlu melatih dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.Latih - percayakan - kerjakan - ditingkatkan - latih lagi - percayakan lagi - ditingkatkan lagi. Begitu seterusnya. Nah, larena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau kita memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang (baca tentang 10.000 jam terbang di sini dan di sini) seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa kenyataannya tidak? Karena selama ini kita masih sekadar menjadi ibu.

Ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan dan calon ibu persiapkan ketika ingin meningkatkan kualitas kita agar tidak sekedar menjadi ibu lagi. Di antaranya adalah mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis. Tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manajer keuangan keluarga.


Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal inilah yang membuat kita jenuh di dapur. Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.^^*

Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak. Karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu-ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi manajer pendidikan anak. Anak-anak pun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan, tidak harus selalu di jalur formal.

Cari peran apalagi, tingkatkan latihan, dan seterusnya. Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun. Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun kita sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata BERUBAH atau KALAH.

Salam Ibu Profesional,

Tim Matrikulasi IIP

Referensi:

- Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015
- Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016
- Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009.
- Video materi Ibu Manajer Keluarga


Diskusi Ibu Manajer Keluarga Handal

Pertanyaan 1

Ibu sebagai manager keluarga, maksudnya berpakaian rapi dan chic itu bagaimana? saya kalau di rumah dasteran, rambut di kuncir seadanya, anter anak sekolah paling lipstikan sama alisan dikit.
Kadang aktivitas sudah sedemikian rupa direncanakan, namum 24 jam itu serasa kurang dan yang menjadi prioritas malah belum sempat di kerjakan. Bagaimana agar saya bisa berubah bukan hanya di niat dan komitmen saja? Terima kasih.

Jawaban 1

Berpakaian rapi itu layaknya berpakaian seperti kerja kantoran, Mbak. Tapi nggak harus rapi banget. Minimal pakaian rapi, bersih, dan wangi Jadikan rumah kita sebagi kantor utama.
Jadi, jangan pakai daster kucel, penampilan seadanya.

Belajar dari Bu Septi, ketika Bu Septi fokus memenuhi target 10.000 jam dalam mendidik anak-anaknya. bu septi membuat sebuah project yaitu "7 to 7 project".

Jadi, dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, Bu Septi berpakaian rapi untuk mendidik anak-anaknya dengan sungguh sungguh. Menentukan waktu khusus untuk bermain dan mendidik anak, kalau tidak salah hingga pukul 14.00. Sampai pukul 14.00 tersebut jika ada tamu yang datang (misalnya tetangga ajak ngobrol, kumpul-kumpul, dan lainnya harus menunggu Bu Septi sampai selesai bermain dan belajar bersama anak.

Dari pengalaman Bu Septi itu, kita bisa juga belajar untuk menghargai peran kita bekerja di ranah domestik (rumah). bekerja di rumah dilakukan secara profesional layaknya ibu yang bekerja di ranah publik.

Nah, sekarang kita bisa lihat hasil dari kesungguhan Bu Septi dalam berproses menjadi ibu profesional. Bu Septi menyebut pekerjaannya dulu "Ibu rumah tangga profesional" dan memiliki kartu nama. Kartu nama diberikan saat bertemu orang ketika menemui acara-acara diluar rumah. keren kan. ^^3

Untuk management aktivitas, kita akan belajar tentang managemen waktu. ada 4 bagian nanti yang harus kita tentukan aktivitasnya, (1) penting, mendesak, (2) penting, tidak mendesak, (3) tidak penting, mendesak (4) tidak penting dan tidak mendesak.

Pertanyaan 2

Sebagai ibu yg mengurus keluarga ada kalanya kita merasa jenuh, gimana caranya supaya panggilan hati itu terus ada dan menjalaninya tanpa mengeluh.  Misalnya saya IRT yg sehari2 dirumah, dan memang senang beberes melakukan pekerjaan domestik. Tapi ada kalanya saya jenuh dan mengeluh pada akhirnya.

Jawaban 2

Agar panggilan hati terus ada, berdasarkan pengalaman pribadi biasanya Uni Trisa selalu mengingatkan dirinya sendiri tentang tujuan penciptaan saya (baik sebagai individu, istri dan ibu di keluarga dan di masyarakat). Hidup di dunia ini hanya sementara, kita harus terus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Bismillah!

Kalau jenuh itu sangat biasa terjadi. Biasanya karena capek pekerjaan tidak ada habisnya. Selesai A, ada lagi B, selesai B ada lagi C, dan seterusnya. Maka solusinya yaitu kita membutuhkan waktu untuk sendiri walaupun hanya sebentar, mminta izin kepada suami dan anak agar kita diberikan waktu untuk diri sendiri. Istilah keren sekarang "Me Time"

Banyak hal yang bisa dilakukan tergantung kesukaan kita masing masing, hal yang membuat kita bahagia, misalnya berduaan dengan Sang Pencipta, membaca untuk yang hobi membaca, silaturahmi dan berkumpul sama teman, ada juga yang belanja, rekreasi, dan sebagainya sesuai dengan kesukaan masing-masing.

Jadi coba dicari tahu penyebab jenuhnya dan lakukan aktivitas yang membahagiakan kita. Sesekali juga perlu muhasabah dan evaluasi diri sendiri. Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Coba lihat juga ke orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita 😊

Pertanyaan 3

Bagaimana bila kita sudah sedemikian rupa menata dan mengatur peran-peran dan tugas masing-masing anggota keluarga termasuk PRT, namun ada anggota yang tidak menjalankan perannya dengan baik. Sudah dijelaskan kembali, namun masih mengulangi kesalahan yang sama.


Apa yang sebaiknya kita lakukan ya?

Jawaban 3

Untuk yang tidak menjalankan peran dengan baik, perlu dilakukan komunikasi produktif. cara berkomunikasinya disesuaikan dengan orangnya.

Misalnya suami, kadang suami melakukan kesalahan berulang karena memang disengaja atau memang tidak mau tahu merasa itu semua tugas istri. Nah, saya pernah mengalami ini, tapi setelah bicara dari hati ke hati, saat suasana yang pas, cara bicara yang baik, tatapan mata penuh cinta, dan tidak marah-marah atau emosi, alhamdulillah satu per satu bisa terselesaikan dengan baik dan kami bisa saling bekerja sama.

Jika itu anak, maka sangat wajar jika melakukan kesalahan yang sama terus terusan, karena memang mereka masih dalam tahap pembentukan karakter diri. Yang bisa ibu lakukan adalah bersabar dan terus mencontohkan bagaimana seharusnya (bukan hanya dimulut, tapi juga praktik).

Jika ART, tetap dikomunikasikan dengan baik. Tanyakan apa yang dia rasakan, apa alasannya, dan cari solusi bersama (bukan solusi yang menurut kita benar). Komunikasinya juga harus produktif.

Sebagai tambahannya bisa dibuka materi komunikasi produktif Bu Septi yang sangat banyak bertebaran di google.

Pertanyaan 4

Tentang perkembangan peran, apakah untuk jadi ibu profesional kita harus pandai dalam banyak hal seperti masak, berbenah, juga menggeluti ilmu yang mau ditekuni? Sebagai manajer keluarga, bagaimana caranya supaya bisa tetap saling menghargai dan tetap taat kepada suami? Terakhir mau tanya lagi tentang manajemen waktu. Pasti banyak sekali yang harus dikerjain oleh ibu (kerja publik/domestik). Bolehkah, Uni Trisa sebagai fasilitator sharing tips manajemen waktu yang sudah dipunyai sebagai ibu, istri, pengurus IiP, sekaligus menulis buku anak-anak juga?

Jawaban 4

Bagi saya sendiri (belajar dari Bu septi juga), kita tidak harus bisa semua ilmu dalam urusan rumah tangga. Saya hanya bisa memasak, namun tidak excellent. Memasak makanan untuk dikonsumsi sehari-hari. Sesekali belajar masakan baru. Jadi saya jarang sekali bikin kue dan lain-lain.  Dan itu saya komunikasikan kepada suami, saya tanyakan pendapat suami, dan akhirnya kami memutuskan kalau ingin makan makanan lain (cemilan misalnya), kami cukup pesan. Dan keluarga oke oke saja (tidak ada paksaan saya harus masak sendiri). Tapi sesekali saya juga bikin sendiri.  😊

Saya juga tidak suka sekali menyetrika. Menyetrika adalah salah satu hal yang membuat saya tidak bahagia, pekerjaan terasa lama sekali. Kembali lagi saya komunikasikan kepada suami, solusinya bisa cari mbak yang khusus menyetrika saja. Atau pakaian rumah cukup dilipat, hanya pakaian keluar saja yang di seterika. Saat membeli baju juga cari bahan yang mudah disetrika, bahkan kalau bisa tanpa disetrika pun masih oke :)

Untuk pertanyaan kedua, setiap hal yang kita lakukan dan melibatkan keluarga atau berhubungan dengan keluarga, di komunikasikan terlebih dahulu lebih baik. Dicari solusi yang sama-sama membuat kita nyaman dan bahagia. Tidak boleh ada ego.


Satu hal yang paling penting saat berkomunikasi adalah clear and clarify. Apa yang kita rasakan harus disampaikan sepenuhnya, tidak boleh ada yang dipendam. Dan tidak boleh merasa rasa tanpa kita mengklarifikasi, apakah yang kita rasakan tersebut benar-benar seperti itu terjadi. Soalnya kan perempuan sangat sensitif, suka merasa rasa (dia marah nggak ya sama saya, dia suka nggak ya kalau saya begini, dia kok begitu orangnya). Tapi tidak pernah ditanyakan (diklarifikasi kebenarannya secara jelas, suka memberikan kode. Hal ini dalam komunikasi produktif tidak diperbolehkan.

Untuk pertanyaan terakhir, aktivitas sehari-hari dikelompokkan menjadi empat aktivitas yang telah dijelaskan sebelumnya. Penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak.  

Pengalaman saya dulu saat perbaikan manajemen waktu, ternyata yang tidak penting dan tidak mendesak inilah yang paling lama saya lakukan. Misalnya main gadget dan buka sosial media sebentar-sebentar tapi jika dikumpulkan seharian jadi 2 jam bahkan 3 jam. Akhirnya saya berubah.


Saya membuat manajemen waktu berdasarkan empat prioritas tadi. Kapan saya harus mengurus keluarga, kapan saya harus mengurus rumah (beberes, masak, cuci baju, dan sebagainya), kapan saya harus belajar, baca atau nulis buku (ini me time saya), kapan waktu saya untuk komunitas (biasanya siang 1.5 jam dan malan 1 - 1.5 jam). Yang terpenting adalah patuhi waktu yang telah ditentukan.

Nah, tentang manajemen waktu, biasanya saat waktu berkomunitas habis, saya akan tinggalkan gadget dan saya kembali lagi bersama keluarga. Jika ada yang darurat saya akan minta izin terlebih dahulu.
28 February 2018
Posted by Fatinah Munir

Review NHW #5: Mengapa Belajar Caranya Belajar?


Ibu dan calon ibu yang selalu semangat belajar, bagaimana rasanya mengerjakan Nice Homework di sesi #5 ini?
Melihat reaksi para peserta matrikulasi ini yang rata ada di semua grup adalah bingung, ini maksudnya apa. Bertanya-tanya pada diri sendiri dan mendiskusikannya ke pihak lain, entah itu suami atau teman satu grup. Mencari berbagai referensi yang mendukung hasil pemikiran kita semua. Masih ada yang merasakan hal lain.

Maka kalau teman-teman merasakan semua hal tersebut di atas, kami ucapkan SELAMAT! Karena teman-teman sudah memasuki tahap belajar cara belajar.

Nice Homework #5 ini adalah tugas yang paling sederhana, tidak banyak panduan dan ketentuan. Prinsip dari tugas kali ini adalah semua boleh, kecuali yang tidak boleh. Yang tidak boleh hanya satu, yaitu diam tidak bergerak dan tidak berusaha apapun.

Selama ini sebagian besar dari kita hampir memiliki pengalaman belajar yang sama, yaitu outside in informasi yang masuk bukan karena proses rasa ingin tahu dari dalam diri kita melainkan karena keperluan sebuah kurikulum yang harus tuntas disampaikan dalam kurun waktu tertentu. Hal inilah yang membuat belajar menjadi proses penjejalan sebuah informasi. Sehingga wajar kalau banyak dibantara kita menjadi tidak suka belajar, akibat dari pengalaman tersebut.

Di Institut Ibu Profesional ini kita belajar bagaimana membuat desain pembelajaran yang ala kita sendiri, diukur dari rasa ingin tahu kita terhadap sesuatu, membuat road map perjalanannya, mencari support system untuk hal tersebut, dan menentukan  exit procedure andai kata di tengah perjalanan ternyata kita mau ganti haluan.

Ketika ada salah seorang peserta matrikulasi yang bertanya, apakah Nice Homework #5 kali ini ada hubungannya dengan materi-materi sebelumnya? Tentu iya!

Tetapi kami memang tidak memberikan panduan apapun. Kalau teman-teman amati, bagaimana cara fasilitator memandu Nice Homework #5 kali ini?

Ketika peserta bertanya, tidak buru-buru menjawab, justru kadang balik bertanya. Ketika peserta bingung, tidak buru-buru memberikan arah jalan, hanya memberikan clue saja. Fasilitator banyak diam andaikata tidak ada yang bertanya, karena memberikan ruang berpikir dan kesempatan saling berinteraksi antar peserta.

Itulah salah satu tugas kita sebagai pendidik anak-anak. Tidak buru-buru memberikan jawaban, karena justru hal tersebut mematikan rasa ingin tahu anak.

Membaca sekilas hasil Nice Homework #5 kali ini ada beberapa kategori sebagai berikut. Ada di antara kita yang memberikan teori tentang desain pembelajaran. Ada juga yang membuat desain pembelajaran untuk diri kita sendiri. Akan jauh lebih baik teman-teman yang menghubungkannya dengan NHW-NHW berikutnya, sehingga tersusunlah road map pembelajaran kita di jurusan ilmu yang kita inginkan. Ada yang menggunakan ketiga hal tersebut di atas untuk membuat desain pembelajaran masing-masing anaknya.
Tidak ada benar-salah dalam mengerjakan Nice homework#5 kali ini, yang ada seberapa besar hal tersebut memicu rasa ingin tahu teman-teman terhadap proses belajar yang sedang teman-teman amati di keluarga dan di diri sendiri.

Semangat belajar ini tidak boleh putus selama misi hidup kita di dunia ini belum selesai. Karena sejatinya belajar adalah proses untuk membaca alam beserta tanda-tanda-Nya sebagai amunisi kita menjalankan peran sebagai khalifah di muka bumi ini.  Setelah bunda menemukan pola belajar masing-masing, segera fokus dan praktikkan kemampuan tersebut. Setelah itu jangan lupa buka kembali materi awal tentang adab mencari ilmu. Karena sejatinya adab itu sebelum ilmu.

Belajar ilmu itu mempunyai 3 tingkatan, ibu dan calon ibu. Pertama barangsiapa yang sampai ke tingkatan pertama, dia akan menjadi seorang yang sombong. Yaitu mereka yang katanya telah mengetahui segala sesuatu, merasa angkuh akan ilmu yang dimiliki. Tak mau menerima nasihat orang lain karena dia telah merasa lebih tinggi. Bahkan dia juga tidak menganggap pendapat orang yang memberikan nasihat kepadanya, disalahkannya. Penuntut iomu seperti ini selalu mau menang sendiri, tidak mau mengalah meskipun pendapat orang lain itu benar dan pendapatnya yang salah.

Di sisi lain, penuntut ilmu di level ini terkadang mengatakan sudah berpengalaman karena usianya yang lebih lama, namun sikapnya masih seperti kekanak-kanakan. Terkadang ada  yang berpendidikan tinggi, namun  tak mengerti akan ilmu yang dia miliki. Dia malah semakin menyombongkan diri, congkak di hadapan orang banyak. Merasa dia yang paling pintar dan ingin diakui kepintarannya oleh manusia. Hanya nafsu yang diutamakan sehingga emosi tak dapat dikendalikan maka ucapannyapun mengandung kekejian.

Selanjutnya adalah barangsiapa yang sampai ke tingkatan kedua, dia akan menjadi seorang yang tawadhu`, tingkatan yang membuat semua orang mencintanya karena pribadinya yang mulia meski telah banyak ilmu yang tersimpan di dalam dadanya, ia tetap merendah hati tiada meninggi. Semakin dia rendah hati, semakin tinggi derajat kemuliaan yang dia peroleh. Sesungguhnya karena ilmu yang banyak itulah yang mampu menjadikannya paham akan hakikat dirinya. Dia tak mudah merendahkan orang lain. Senantiasa santun dan ramah, bijaksana dalam menentukan keputusan suatu perkara. Dia dengan semuanya itu membuatnya semakin dicinta manusia dan insya Allah, Allah SWT pun Mencintainya.

Terakhir, barangsiapa yang sampai ke tingkatan ketiga, dia akan merasakan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Stay foolish, stay hungry.

Tingkatan terakhir ini adalah yang teristimewa. Orang-orang di level ini selalu merasa dirinya haus ilmu tetap tidak mengetahui apa-apa meskipun ilmu yang dimilikinya telah memenuhi tiap ruang di dalam dadanya. Karena dia telah mengetahui hakikat ilmu dengan sempurna, semakin jelas di hadapan mata dan hatinya. Semakin banyak pintu dan jendela ilmu yang dibuka, semakin banyak didapati pintu dan jendela ilmu yang belum dibuka. Justru, dia bukan hanya tawadhu`, bahkan lebih mulia dari itu. Dia selalu merasakan tidak tahu apa-apa, mereka bisa tak berdaya di dalamnya lantaran terlalu luasnya ilmu.

Sampai dimanakah posisi kita? Hanya diri kita yang tahu.

Salam Ibu Profesional,


Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Referensi:
Hasil Nice Homework #5, Peserta Matrikulasi IIP Batch #5, 2018
Materi Matrikulasi IIP Batch #5, Belajar cara Belajar,  2018
Materi Matrikulasi IIP Batch #5, Adab Menuntut Ilmu, 2018

***

Setelah review kemarin, saya bersama teman-teman dan fasilitator kelas berdiskusi beberapa hal tentang tugas yang sudah di buat. Ternyata benar apa yang ditulis di atas, fasilitator saya juga bilang kalau tugas ke lima ini hasilnya sangat beragam. Hehehe. Mulai dari cara pengerjaan dan strategi pengerjaannya pun berbeda-beda. Begitulah semestinya :)

Kemarin pun fasilitator saya sharing sedikti tentang "learn how to learn" ala Uni Trisa, nama fasilitator saya. Sederhananya, Uni Trisa akan selalu mulai dengan pertanyaan. 5W + 1H. Menurut pengalaman beliau, dari sini akan ada banyak hal yang ingin kita ketahui, cara mengetahui hal tersebut bagaimana (termasuk didalamnya harus menyesuaikan dengan gaya belajar kita), kapan saja kita harus belajar supaya bisa konsisten, ini juga bisa menambah jam terbangnya, darimana saja sumbernya, apakah  perlu mencari guru khusus atau tidak dan banyak lagi hal lainnya yang bisa dijabarkan menjadi poin-poin utama, kemudian poin-poin penjelasnya. Menurut Uni Trisa pun membuat resume belajarnya juga lebih mudah jika dibuat poin-poin seperti ini. Waaah bisa ditiru nih yaa kalau memang cocok dengan gaya belajar kita. ^^*

Uni Trisa ini senang menulis di google docs dan harus terkoneksi ke internet. Katanya agar bisa melanjutkan belajar kapanpun dan dimanapun. Karena penasaran, saya tanya mengapa memilih menulis dnegan google docs dan harus terkoneksi internet? JAwaban Uni Trisa adalah karena dengan googl3 docs beliau bisa menulis di mana saja. Bisa di handphone ketika tidak bawa laptop dan bisa menggunakan perangkat lain kalau tidak membawa laptop atau handphone. Alasan lainnya karena dengan google docs, seluruh data tersimpan ke alamat email dan bisa diedit di mana pun dan kapan pun tanpa bingung menyimpan data di mana.

Kalau berdasarkan cerita  Uni Trisa, trik ini diajarkan oleh Bu Septi, founder IIP. Beliau bilang kalau setiap orang tua kini harus melek teknologi dan memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Lebih baik lagi kalau dimanfaatkan untuk kebaikan. Masya Allah. Keren ya!

Sebagai tambahan dari Uni Trisa, priinsip caranya belajar adalah permudah cara kita mempelajari sesuatu, jangan dibayangkan hal yang sulit terlebih dahulu karena itu dapat membuat kita stress ketika akan memulai belajar. Hal ini karena belajar adalah hal yang sangat menyenangkan.

Ketika kita belajar suatu hal lagi spontan berkata, “Ooh begitu! pertanda ada hal baru yang “diperoleh dan membuat berbinar-binar. Jadi, erbahagialah saat mengimplementasikan cara belajar tersebut, jika kita tidak bahagia dan berbinar binar, maka perlu kita evaluasi cara belajarnya. Jika bisa dibuat lebih detail waktu pelaksanaan program belajarnya, itu jauh lebih baik. Karena kita bisa mengukur sejauh mana kita sudah belajar dan evaluasinya.

Pertanyaan besarnya adalah apakah selama ini kitabelajar karena memang butuh? Bahagiakah saat belajar? Optimalkan saat belajar? Atau bahkan sudah mengurangi waktu belajar untuk mengupgrade diri? Sehingga kita merasa hidup begitu begitu aja, sehingga tidak ada yg spesial dalam hidup kita. Yang penting dijalani saja. 😊

Nah, belajar ini tidak harus membaca buku, ikut kelas atau kajian, nonton video, tapi bisa juga belajar dari pengalaman, apa yang kita lakukan sehari hari. Oleh karena itu, rancanglah cara belajar ala gue banget yang membuat kita semakin cinta dan selalu ingin  belajar lagi dan lagi.

Lalu, kenapa kita harus belajar bagaimana cara belajar?

Dari hasil diskusi semalam jawabannya adalah supaya hasil yg akan dicapai nanti maksimal. Kalau kita sudah bisa tahu cara belajar yang tepat untuk diri sendiri, insya Allah bisa menerapkan cara belajar yang tepat untuk anak-anak kita. Jadi lebih mengenal diri sendiri terlebih dahulu.

Saat mengerjakan setiap nice homework secara tidak sadar kita lebih paham tentang diri kita sendiri. Ooh, ternyata saya itu seperti ini ya, saya seperti ini ya, berarti kedepannya saya bisa lebih baik. Dan benar! Saya sendiri merasakan hal itu! ^^3

Nah, jika kita sudah selesai dengan dirinya sendiri, sudah sukses mengenal diri dan mengembangkan diri sesuai kekuatan diri. Lalu belajar dengan cara yang sangat kita banget, insya Allah untuk pengimplementasikan ke anak anak nanti akan lebih mudah. Insya Allah bisa lebih mudah melihat potensi besar pada ana,. karena memang kitalah pendidik utama bagi mereka. Jadi ibunya harus profesional ❤❤❤

27 February 2018
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. :)

Selamat membaca!

@fatinahmunir
fatinahmunir@gmail.com

Hi Folks!

Hi Folks!
Teacher | Writer | Adventuress

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -