Pada Jumat 14



Setiap Jumat hendak datang, selalu ada rasa yang berbeda. Sesak yang tak pernah terbendung, seperti semua perasaan memaksa untuk dibebaskan dari dada. Ketika matahari Kamis hendak turun, selalu ada wajahnya yang menahan sakit dengan segenap rahasia yang rapi disimpannya.

Mata sayunya masih lekat terlihat di mata saya, hingga menjelang Jumat datang saya lebih sering tak sanggup mememejamkan mata. Lalu berharap Kamis malam itu pun saya tidak terpejam sedikit pun demi terakhir kali membersamai malamnya.

Setiap matahari Jumat muncul sayup-sayup, perasaan-perasaan yang tertahan selalu semakin memberatkan dada. Semakin kencang memaksa untuk diluapkan entah dengan jeritan di balik bantal atau tangisan di antara suara air keran yang sengaja dideraskan.

Tangannya yang keriput dan kasar masih terasa di tangan saya, hingga saya selalu membayangkan bagaimana khikmatnya mencium tangan itu untuk terakhir kalinya. Bagaimana nikmatnya mencium keningnya yang mendingin untuk terakhir kalinya, tepat setelah salat subuh dan tanpanya.

Pada Jumat, semua perasaan yang ada selalu semakin menyesakkan saja, Pak. Lalu tumpah melebihi biasanya, bersama airmata dan doa-doa yang mengalir deras untukmu, Pak. Sama seperti Jumat 14 itu, saat Bapak pergi dan semua impian saya menjadi tak lagi berarti.

Selalu sayang dan rindu, Pak.
Terima kasih lagi untuk semua yang Bapak lakukan selama ini.
Semoga Allah hadiahkan surga terbaik-Nya buat Bapak.
Semoga bisa bertemu lagi di surga, Pak.

@fatinahmunir | Jumat, 14 Desember 2018

Sesak!
hanya mau dipeluk bapak
walau cuma sebentar
walau cuma dalam mimpi

14 December 2018
Posted by Fatinah Munir

Belajar dari Jepang: Sistem Pendidikan Hati untuk Anak Usia Dini


Konnichiwa, Minna-san!
Hallo semuanya!

Kali ini saya mau membicarakan tentang salah satu negara yang saya kagumi, terutama tentang pendidikannya. Jepang, bagi saya adalah negara luar biasa karena negara ini tumbuh dan berkembang dengan teknologi yang terus dimutakhirkan tanpa menanggalkan tradisi dan budayanya. Dua hal yang berseberangan ini tidak asal dipadu-padankan di sana, tetapi benar-benar digabungkan denga harmonis dan membuat negara ini menjadi begitu besar sekaligus manis buat saya.

Walaupun saya belum pernah ke Jepang (Semoga bisa segera tinggal di sana, ya Allah!^^), tapi saya suka membaca buku-buku dan reality show di Jepang terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan budayanya. Nah, belakangan ini saya suka banget membaca tentang pendidikan anak usia dini di Jepang di buku, blog, atau ipusnas. Tulisan kali ini adalah buah dari membaca buku-buku tersebut yang saya pikir akan bermanfaat kalau dibaca oleh orang lain. Semua hal yang saya tulis di sini benar-benar terinspirasi dari system pendidikan anak usia dini di sana yang saya namakan sebagai Sistem Pendidikan Hati. Mohon bersabar selama membaca tulisan sebanyak hampir 3000 kata ini ya ^^3

Sebelum membahas tentang sistem pendidikan hati pada anak usia dini. Saya mau menjelaskan dulu kenapa harus anak usia dini dan mengapa harus dibahas sekarang. Ini ada kaitannya dengan Indonesia Emas 2045 nanti.

Indonesia Emas 2045

Ada yang menarik dari perjalanan menuju seabad kemerdekaan Indonesia. Genap seratus tahun lepas dari penjajahan, Indonesia diramalkan akan memiliki bonus demografi yang hanya hadir ribuan tahun sekali. Pada 2045 nanti Indonesia diprediksi memiliki 70% penduduk dengan usia produktif atau usia 15-64 tahun dan 30%  penduduk sisanya berusia tidak produktif atau usia kurang dari 14 tahun. Bonus demografi inilah yang menjadi asal muasal digaungkannya Indonesia Emas. Di mana pada seabad usianya, Indonesia diasumsikan memiliki banyak pemuda.

Dominasi para pemuda dalam 70% penduduk berusia produktif pada 2045 nanti, pastinya tidak sekadar menjadi pembahasan kuantitas dong ya. Pastinya ada napas cita-cita besar Indonesia yang mengalir di dalamnya. Ada Indonesia yang maju, mandiri, makmur, dan adil yang menanti untuk diwujudkan keberadaannya oleh para pemuda. Lalu kekhawatiran pun mengemuka tentang seperti apa 70% penduduk usia produktif yang akan dimiliki Indonesia kelak dan bagaimana kualitas pemuda yang akan mendominasi di dalamnya.

Masih ada waktu 27 tahun untuk menjawab kekhawatiran di atas. Itu artinya pemuda yang berusia 27 tahun hingga 35 tahun pada masa itu baru saja dilahirkan atau sedang tumbuh pada 2018 ini. Bersamaan dengan itu, pemuda saat ini yang berusia kisaran 20 tahun, akan menginjak usia 50 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa bayi-bayi dan anak-anak Indonesia saat inilah yang akan menjadi generasi emas Indonesia.

Kekhawatiran akan Indonesia di usia emasnya ini terus timbul tenggelam bersama harapan akan hadirnya karakter pemuda yang tidak hanya produktif dan inovatif, tetapi juga bermoral baik, damai, sehat, dan secara sadar menjaga keseimbangan alam. Di sinilah sebenarnya memastikan Indonesia melahirkan pemuda cerdas beradab adalah haluan utama dari perjalanan menuju Indonesia Emas dan menjadikan pendidikan sebagai kendaraan untuk mencapainya.

Indonesia Emas dan Pendidikan Anak Usia Dini

Well. Mengingat bahwa bayi dan anak-anak di masa sekarang adalah para calon generasi emas Indonesia, maka memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak usia dini, usia 0 hingga 8 tahun atau hingga anak mencapai pendidikan kelas 3 Sekolah Dasar, adalah solusi fundamental untuk mempersiapkan generasi yang cerdas beradab. Pendidikan ini harus menguatkan karakter anak menjadi pemuda yang modern tetapi tetap Indonesia. Pendidikan yang tidak hanya menjadikan pemuda sebagai pengguna tapi juga berdaya cipta. Nah, di Jepang memang seperti ini konsen pendiidikannya.

Di Jepang, semua pendidikan usia dini mengembalikan pendidikan kepada fitrahnya sendiri. Maksudnya anak harus dilihat sebagai individu utuh yang tidak hanya memiliki kemampuan berpikir, tetapi juga punya hati yang mampu mengontrol segala pekertinya. Pendidikan juga harus menjadi sarana anak mengembangkan diri sesuai kebutuhkannya. Oleh sebab itu, pendidikan anak usia dini harus dijalankan dengan sistem pendidikan hati, sebagaimana yang dilakukan di Jepang, di mana sekolah menjadi tempat anak mengoptimalkan pengembangan hati sekaligus bertumbuh kembang sesuai dengan tahapan usianya.  

Ki Hajar Dewantara dan Soerjono –atau lebih dikenal dengan panggilan Pak Kasur, pernah bilang kalau pelaksanaan pendidikan harus melatih rasa, di mana anak usia dini bermain untuk menyempurnakan hati, mengembangkan budi pekerti, dan meluhurkan budaya bangsa sendiri. Dengan kata lain, sistem pendidikan hati untuk anak usia dini memusatkan pendidikan pada hati, pikiran, mentalitas dan kemanusiaan dibandingkan dengan tugas akademik yang belum terlalu dibutuhkan oleh perkembangan anak pada saat itu. Keren ya pemikiran beliau-beliau. Love you both so much Bapak Pendidikan Indonesia dan Bapak Pejuang Pendidikan Anak :*

Okay, lanjut ya. Untuk mengelaborasi apa yang dimaksud dengan sistem pendidikan hati pada anak usia dini ini, ada beberapa aspek yang perlu disiapkan terlebih dahulu. Di antaranya adalah kurikulum tersembunyi yang bermodifikasi, kegiatan harian berbasis disiplin mandiri, aktivitas keterampilan dasar, dan pengoptimalan kebersihan dan kesehatan.

Kurikulum Tersembunyi yang Bermodifikasi

Kurikulum tersembunyi yang bermodifikasi adalah kurikulum yang memiliki dua cara kerja yang berjalan secara beriringan, yakni tersembunyi sekaligus bermodifikasi. Kurikulum tersembunyi adalah kurikulum di mana segala aspek pendidikan yang mengembangkan kemampuan anak tidak tertuang dalam bentuk mata pelajaran. Dengan menggunakan kurikulum tersembunyi ini, justru target-target pendidikan dipadukan langsung ke dalam aktivitas harian anak.

Tujuan sistem pendidikan hati yang saya pelajari dari buku-buku pendidikan di Jepang memang berfokus kepada mempersiapkan anak menjadi generasi cerdas beradab, tapi bukan berarti sistem ini mengharuskan adanya mata pelajaran adab atau budi pekerti. Pada sistem pendidikan hati, adab atau budi pekerti dimasukkan ke dalam setiap aktivitas harian anak di tempat anak belajar, yakni di sekolah ataupun di rumah.

Sebagai contohnya adalah tujuan pendidikan dalam mengembangkan anak menjadi warga negara yang berkasih sayang kepada sesama mahluk tidak menjadikan sistem pendidikan hati memiliki mata pelajaran kasih sayang. Sebaliknya, pelajaran berkasih sayang dileburkan ke dalam aktivitas menyiram tanaman atau memelihara hewan peliharaan bersama-sama di lingkungan belajar di Jepang. Bahkan ada sebuh buku yang memaparkan kalau salah satu tugas anak kelas 1-3 SD adalah merawat tanaman di rumah atau memelihara serangga. Lalu anak-anak diminta mencatat, menggambar, dan menceritakan pertumbuhan tanaman atau serang itu di rumah.

Demikian juga ketika pendidikan menargetkan anak menjadi warga negara yang inovatif, tidak serta merta membuat sekolah memiliki mata pelajaran inovasi dan kreasi. Dalam sistem pendidikan hati yang dianut Jepang, anak dapat dikondisikan bermain secara berkelompok untuk membangun sebuah menara dari tumpukan stik es krim. Atau pada contoh lainnya, anak melakukan membuat kreasi bangunan dari lego secara kelompok. Beberapa referensi yang saya dapatkan malah menyebutkan kalau di SD ada matapelajaran kreasi. Anak-anak biasanya diminta membawa barang bekas atau sampah yang bisa didaur ulang. Nanti di sekolah anak-anak akan berkreasi dengan projek daur ulang masing. Kalau sudah begini, katanya yang heboh bukan hanya anak-anaknya melainkan ibu-ibunya yang harus selalu mengumpulkan sampah rumah tangga yang bisa dikreasikan anak.

Pada contoh ini materi inovasi dan kreasi dalam kurikulum tersembunyi sebenarnya dapat dilakukan secara individu. Namun jauh lebih baik jika dilakukan secara berkelompok. Hal ini dikarenakan untuk sekaligus menjadikan aktivitas ini sebagai sarana bermain sambil belajar hidup berkelompok untuk saling percaya, interaksi sosial dan kerja sama sebagaimana kondisi nyata kehidupan.

Contoh pengaplikasian kurikulum tersembunyi yang lainnya adalah aktivitas berbincang-bincang singkat di setiap akhir kelas. Di sini guru dan murid dapat membicarakan aktivitas yang terjadi selama sehari penuh di tempat belajar, termasuk permasalahan yang ada pada hari itu. Dengan sistem pendidikan hati, guru di Jepang sepertinya punya kesadaran yang lebih besar untuk menstimulus kemampuan anak mengemukakan perasaan dan pendapatnya di dalam bincang-bincang kelas ini. Ketika kelas membahas suatu masalah, guru pun dapat menggunakan pertanyaan-pertanyaan stimulus agar anak bisa berdiskusi dengan teman sekelasnya untuk memecahkan masalah tersebut bersama.

Beralih kepada kurikulum bermodifikasi, yakni kurikulum yang terpusat pada pemerintah tetapi sekolah atau tempat belajar mempunyai hak untuk memodifikasi kurikulum tersebut sesuai kebutuhan anak dan budaya yang ada di lingkungan belajar tersebut. Artinya walaupun menggunakan kurikulum yang sama dan mempunyai target pendidikan yang serupa, pelaksanaan pendidikan usia dini di beberapa daerah pasti akan berbeda sesuai dengan kebutuhan anak di daerah tersebut. Akan tetapi meskipun berdampak pada berbedanya pengaplikasian kurikulum di lapangan, tetapi modifikasi kurikulum ini tetap harus dilakukan tanpa melenceng dari acuan kurikulum pusat. FYI, kurikulum pendidikan Jepang terpusat loh, tapi fleksibel dan sekolah bisa dengan leluasa menyesuaikannya dengan kebutuhan anak-anak.

Sebagaimana penjelasan di atas, maka kurikulum tersembuyi yang bermodifikasi menjalankan nilai-nilai pengembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara bersamaan. Kemudian semua aspek dalam kurikulum bukan berbentuk penyampaian materi di dalam kelas melainkan terintegrasi ke dalam aktivitas anak bersama lingkungan belajarnya di sekolah ataupun di rumah.

Kegiatan Harian Berbasis Disiplin Mandiri

Kemudian ada aspek kegiatan harian berbasis disiplin mandiri yang bagian pelaksanaannya sangat melekat dalam hampir seluruh aktivitas anak. Karena kegiatan harian berbasis disiplin mandiri ini adalah bagian dari kurikulum tersembunyi, maka sama seperti sebelumnya, tidak ada pemberian materi tentang apa itu disiplin dan mandiri. Tetapi lingkungan dan aktivitas dibentuk untuk mengembangkan anak menjadi pribadi yang disiplin juga mandiri. Anak dikembangkan kemampuannya untuk berdisiplin atas tanggung jawabnya sendiri tanpa mendapatkan ancaman dalam bentuk apapun.

Kedisiplinan anak dalam konsep sistem pendidikan hati ini tidak hanya mengarahkan anak untuk mengikuti aturan atau perintah. Akan tetapi secara tidak langsung guru juga telah memberikan tanggung jawab dan kepercayaan kepada anak, sekaligus memberikan anak ruang untuk belajar bekerja sama dengan anak lain di dalam kelompoknya. Kemandirian anak dalam konsep sistem pendidikan hati bukan hanya menjadikan anak dapat melakukan berbagai hal secara mandiri. Tetapi kembali lagi kepada memberikan anak kepercayaan bahwa apa yang menjadi tugas anak adalah tanggung jawabnya sendiri dan harus diselesaikan sendiri.

Implementasi disiplin mandiri ini dapat melalui pemberian tanggung jawab kepada anak secara berkelompok. Misalnya guru memberikan tanggung jawab kepada lima sampai enam anak yang berbeda di setiap harinya untuk membereskan mainan atau perlengkapan kelas. Dapat pula guru memberikan tanggung jawab bergilir kepada anak secara individu atau berkelompok untuk mengelap kaca di kelas setiap pulang sekolah. Penerapan tugas secara berkelompok pada aspek aktivitas disiplin mandiri ini ditujukan agar anak memahami bahwa mandiri tidak berarti dilakukan sendirian saja tanpa teman atau bersosialisasi. Akan tetapi anak dipahamkan bahwa mandiri dalam lingkungan berkelompok berarti setiap individu mempunyai dan menyelesaikan tugasnya sendiri. 

Dalam praktik aktivitas berbasis disiplin mandiri di atas, guru, orang tua, dan lingkungan belajar sangat tidak dianjurkan nih untuk memberikan ancaman atau perintah tanpa contoh. Sebagai gantinya, anak harus diberikan kepercayaan penuh dan tetap dibantu jika anak mengalami kesulitan. Maksudnya adalah dalam segala aktivitas belajarnya bukan berarti anak dibiarkan sendirian ya. Tetapi tetap ada pengawasan guru atau orang dewasa ketika anak sedang menikmati ruang dan waktunya untuk belajar dari pengalaman dan kesalahan yang dilakukan bersama-sama dengan teman sebayanya.

Aktivitas Keterampilan Dasar

Aspek selanjutnya adalah aktivitas keterampilan dasar yang dalam sistem pendidikan hati aspek ini akan membantu anak mengembangkan keterampilan hidup dan daya kreativitasnya. Pada aktivitas ini anak diberikan kesempatan untuk berimajinasi dan mengekspresikan diri. Secara tidak langsung, jiwa anak diberi stimulus pembelajaran agar tumbuh menjadi pemuda yang merasa dan mencipta.

Dalam penerapannya, anak diberikan aktivitas belajar yang berkaitan langsung dengan keterampilan hidup. Contohnya adalah aktivitas merapikan dan membersihkan ruang belajar bersama-sama, menyapu, mengepel, dan mengelap kursi dan meja bersama. Melalui aktivitas ini anak disiapkan menjadi pemuda yang merasa, yang sedikit demi sedikit diberi aktivitas nyata agar anak mempunyai pengalaman dan mampu saling menjaga.  

Aktivitas lainnya adalah aktivitas seni dasar seperti  bernyanyi, bermain alat musik, dan mendaur ulang sampah menjadi prakarya baru dalam bentuk projek individu ataupun kelompok. Pada keterampilan inilah anak diberikan pengalaman untuk mencipta melalui kesenian dan projek yang dibuatnya sendiri.

Pengoptimalan Kebersihan Dan Kesehatan

Terakhir adalah aspek pengoptimalan kebersihan dan kesehatan anak usia dini. Aspek yang kerap kali diremehkan oleh masyarakat Indonesia ini tanpa disadari memiliki dampak yang cukup besar dalam tumbuh kembang anak usia dini loh. Karena jika kebersihan dan kesehatan anak tidak diperhatikan, maka anak dapat mudah terkena penyakit hingga aktivitas anak menjadi terhambat dan terbatas. Kalau sudah begini, pastinya sia-sia sudah semua sarana dan prasarana pendidikan sebagus apapun itu.

Pengoptimalan kebersihan dan kesehatan pada sistem pendidikan hati tetap diterapkan dalam bentuk bermain dan beraktivitas keseharian di lingkungan belajar. Contohnya adalah merutinkan aktivitas pagi dengan menyikat gigi bersama dan mencuci tangan. Dapat pula diterapkan dalam aktivitas membersihkan tempat belajar setiap hari bersama-sama dan bermain olahraga setiap pekannya. Kalau yang ini sudah sering lihat mungkin ya di film atau dorama Jepang saat anak-anak SD mengepel lantai kelas atau menyikat kamar mandi. Aktivitas ini bukan hal yang aneh di Jepang, karena kebersihan sekolah adalah tanggung jawab seluruh warga sekolah dan tidak akan pernah ada petugas kebersihan di SD.

Tidak cukup sampai di situ, kebersihan tempat belajar dan pelaksanaan olahraga bersama juga perlu ditunjang dengan terpantaunya gizi dan nutri. Makan siang bersama dengan gizi seimbang yang disiapkan oleh sekolah adalah contoh usaha besar dari sistem pendidikan hati agar anak usia dini tetap terjaga asupan nutrisinya. Melalui penerapan makan siang ini, anak yang berasal dari keluarga berekonomi rendah pun tetap memiliki setidaknya satu kali asupan gizi yang baik dalam sehari.

Akan lebih baik lagi jika sekolah melakukan pemeriksaan pertumbuhan anak seperti mencatat perubahan berat badan dan tinggi badan anak setiap semesternya. Pencatatan berat dan tinggi badan anak bertujuan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya permasalahan pertumbuhan anak. Pencatatan BB dan TB ini benar-benar dilakukan di Jepang. Jadi selain ada buku laporan perkembangan kemampuan social dan akademik anak, ada juga loh buku laporan yang isinya perkembangan kesehatan anak yang ditulis oleh dokter anak yang ditugaskan ke sekolah setiap semesternya.

Berbagai aspek dari sistem pendidikan hati untuk anak usia dini di atas pastinya diperkirakan membutuhkan fasilitas yang tidak sedikit. Tapi sebenarnya karena segala aspek tersebut merupakan aktivitas keseharian. Maka untuk menerapkannya sekolah cukup dengan memaksimalkan fasilitas yang ada di dalam atau di lingkungan sekolah. Tidak perlu media khusus untuk menerapkan sistem pendidikan hati ini karena segala aspeknya merupakan bagian dari kehidupan keseharian anak.

Dalam pengaplikasiannya, sistem pendidikan hati untuk anak usia dini ini menuntut keterlibatan penuh dari setiap figur lingkup pendidikan anak.  Tidak hanya guru dan orang tua, tetapi staff sekolah atau lembaga pendidikan juga berperan sebagai motor pendidikan. Artinya orang tua bukanlah klien guru dan staff di sekolah, melainkan rekan sesama motor pendidikan yang menjadikan anak sebagai objek utama pendidikan itu sendiri. Oleh sebab itu para motor pendidikan harus memiliki komunikasi, kerja sama, dan rasa saling percaya.

 Jauh lebih dalam lagi, motor pendidikan perlu menyadari betul bahwa pekerjaan-pekerjaan yang ada di dalam sistem ini adalah pekerjaan lahir untuk mendidik batin. Hal ini tentu saja demi mencapai tujuan jangka panjang sistem pendidikan hati, yakni agar anak-anak tumbuh menjadi pemuda yang berpekerti baik dan menggunakan kecerdasannya untuk kemaslahatan bersama.

Sistem pendidikan hati yang dirancang Jepang ini agaknya bisa kita tiru untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang cerdas beradab ini akan berjalan dengan baik jika wajib belajar diterapkan sebagaimana mestinya. Yang mana wajib belajar seharusnya menjadi masa anak memperoleh hak belajarnya tanpa ada tinggal kelas dan ujian masuk atau ujian penentu kelulusan selama dalam masa tersebut. Jika wajib belajar diterapkan cara demikian, program wajib belajar telah mendukung sepenuhnya kebutuhan perkembangan anak dan hal ini sama dengan mendukung menyiapkan generasi emas Indonesia yang cerdas beradab.

Dalam sistem pendidikan hati pada anak usia dini ini tentunya pendidikan tidak begitu saja melupakan aspek kognitif dan meniadakan aktivitas akademik anak usia dini. Pengenalan ruang, bentuk, meningkatan motorik kasar dan halus, semuanya tetap ada meskipun dileburkan ke dalam aktivitas keseharian. Aktivitas ini dapat tidak melulu menggunakan kertas dan gunting, anak bisa belajar ruang dan bentuk dari contoh benda-benda di sekitar lingkungan belajar. Demikian juga dengan pengenalan huruf dan angka, tidak selalu dilakukan murid dengan kertas dan pensil. Aspek kognitif ini tetap dileburkan dalam aktivitas keseharian seperti aktivitas mengenal huruf dan angka di atas pasir, mengenal hitungan sederhana dari dengan mengenal jumlah bangku di dalam kelas saat merapikan kelas, dan sebagainya.

Tugas besar para motor pendidikan untuk menerapkan sistem pendidikan hati ini pastinya adalah bagaimana memindahkan segala tuntutan kurikulum ke dalam aktivitas keseharian. Hal ini tentu tidak mudah, tetapi akan menjadi mudah jika membaginya ke dalam aspek-aspek sistem pendidikan hati seperti yang telah dijelaskan di atas.

Seperti itulah rancangan sistem pendidikan hati pada anak usia dini yang diterapkan di Jepang. Jadi tidak heran lagi ya, bagaimana orang-orang Jepang didominasi dengan orang-orang yang inovatif tapi tetap punya budi pekerti yang tinggi. Kalau kata teman Jepang saya mungkin karena budaya malu di Jepang sangat tinggi, jadinya orang akan selalu berhati-hati bersikap dan tidak mau merepotkan atau menggangu orang lain. Kembali ke sistem pendidikan hati pada anak usia dini ya. Siapa tahu ada teman-teman yang mau mendirikan sekolah atau sudah punya anak dan mau menerapkan system seperti ini, kayaknya akan sangat bagus untuk Indonesia ke depannya nih. Ya kalau diterapkan kita semua bisa bersama-sama menaruh napas-napas harapan, untuk menyiapkan anak-anak Indonesia menjadi generasi emas yang cerdas beradab dan mampu menjadikan Indonesia bersinar di usia emasnya. Aamiin.

@fatinahmunir | 11 Desember 2018
11 December 2018
Posted by Fatinah Munir

Sehari Memperingati Hari Disabilitas untuk Selamanya Berarti



Masih dalam suasana memperingati Hari Disabilitas Internasional 2018, saya jadi kepikiran bagaimana peringatan yang hanya satu hari ini bisa memberikan arti dalam jangka waktu yang lama untuk banyak orang. Tidak untuk individu dengan disabilitas saja tetapi juga untuk semua kalangan dalam lingkungan social kita.

Kalau mengengok lagi semangat pencanangan Hari Disabilitas Internasional (HDI) dalam tulisan saya sebelumnya, peringatan HDI ini semestinya untuk me-refresh pemahaman masyarakat umum atas keberadaan individu dengan disabilitas. Juga sekaligus memberikan harapan baru kepada individu dengan disabilitas untuk semakin dapat diterima oleh masyarakat dengan cara yang baik.

Apalagi tema HDI 2018 ini yang sangat visioner, Empowering Persons with Disabilities and Ensuring Inclusiveness and Equality. Memberdayakan Individu dengan Disabilitas serta Memastikan Keinklusian dan Kesetaraan. Tema ini dibuat sebagai bentuk harapan PBB atas Agenda Pengembangan Jangka Panjang 2030 nanti. Pada agenda ini, PBB menjanjikan leave no one behind alias tidak meninggalkan seorang pun. Ini artinya PBB menargetkan 2030 nanti setiap kalangan masyarakat, yang memiliki keterbatan fisik, keterbatasan ekonomi, dan kalangan etnis minoritas, dalam berkembangan bersama sebagaimana masyarakat pada umumnya sebagaimana nilai-nilai keinklusian itu semestinya dijalankan.

Terus bagaimana dong supaya peringatan yang satu hari ini bisa berarti dalam jangka panjang untuk teman-teman disabilitas ataupun nondisabilitas? Di bawah ini saya insya Allah akan sedikit sharing pemikiran saya yang semoga bisa ditiru oleh teman-teman semua , baik teman-teman disabilitas, teman-teman nondisabilitas yang sudah mengenal baik dunia disabilitas ataupun tidak tahu sama sekali tentang kedisabilitasan.

Pertama, kenalkan dunia disabilitas kepada masyarakat umum dengan cara terbaik versimu. Untuk teman-teman disabilitas dan yang sudah mengenal baik dunia kedisabilitasan, hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya dengan bercerita tentang pengalaman kalian yang berhubungan dengan dunia kedisabilitasn melalui lisan atau tulisan. Teman-teman bisa cerita saat kumpul-kulmpul atau hang out. Bagi yang aktif menggunakan social media, teman-teman bisa sesekali posting tentang kedisabilitasan dalam feed atau story kalian.

Saya pribadi memilih menjadikan social media yang saya punya termasuk blog ini sebagai media mengenalkan dunia murid-murid saya, keautistikan, kepada teman-teman saya. Kadang saya juga memberikan tips mengajar atau cara yang saya gunakan dalam berinteraksi dengan mereka.

Nah, dalam satu hari atau sepekan sejak peringatan HDI 2018, teman-teman bisa membuat tema feed teman-teman menjadi special mengenalkan dunia disabilitas. Atau bisa juga teman-teman ikut membagikan berbagai info kegiatan yang berhubungan dengan kedisabilitasan. Tapi perlu diingat, ketika ingin posting info-info tentang kedisabilitasan dan ada foto teman disabilitas di sana, pastikan foto itu sudah mendapat izin publikasi dari teman disabilitas tersebut. Kalaupun tidak memungkinkan meminta izin, teman-teman bisa menghindari posting bagian wajah atau cukup menggunakan foto ilustrasi yang banyak tersebar bebas di google.

Kedua, biasakan melihat kelebihan setiap individu dengan disabilitas daripada kekurangannya. Sejak kuliah pendidikan khusus, dosen-dosen saya selalu menekankan bahwa label pada setiap individu disabilitas tidaklah penting. Ketika kita tahu hambatan atau masalah pada individu dengan disabilitas tersebut, kami para guru selalu dituntut menemukan kelebihan mereka. Sekecil apapun itu kelebihan atau potensinya. Kemudian kami akan berusaha sebisa mungkin untuk melibatkan mereka dengan kemampuan yang mereka miliki dan mengembangkan kemampuan tersebut menjadi lebih maksimal.

Saya pikir konsep ini semestinya tidak hanya digunakan oleh pengajar individu dengan disabilitas seperti saya, tetapi juga harus dimiliki oleh setiap masyarakat. Jika setiap orang memiliki persepsi seperti ini, focus kepada kelebihan orang lain, maka sangat mungkin pandangan dengan rasa iba, takut, jijik, atau merendahkan akan hilang dengan sendirinya. Bahkan konsep fokus pada kelebihan orang lain ini tidak hanya akan membuka peluang bagi individu dengan disabilitas, tetapi membuka mata dan hati kita untuk lebih menghargai setiap orang yang kita temui.

Ketiga dan keempat, dua cara yang tidak dapat dipisahkan yaitu libatkan teman-teman dengan disabilitas dalam aktivitas kalian dan beri akses pada aktivitas tersebut. Setiap dari kita pasti punya aktivitas rutin atau kesukaan. Nah, mulai sekarang coba sedikit demi sedikit untuk melibatkan teman-teman dengan disabilitas dalam aktivitas kalian.

Misalnya buat kalian yang suka menonton film, coba sesekali ajak teman dengan disabilitas netra (masalah penglihatan) untuk nonton bareng di bioskop. Tapi jangan lupa memberikan akses kepada mereka dengan membisikkan alur cerita jika tidak ada dialog dalam adegan film tersebut supaya teman-teman dengan disabilitas netra bisa memahami alur ceritanya. Atau jika teman-teman suka datang ke agenda seminar, talkshow, atau kajian keagamaan, teman-teman bisa ajak teman-teman dengan disabilitas dengar (tuli) untuk mengikuti agenda tersebut. Tapi tetap berikan akses berupa interpreter atau penerjemah bahasa isyarat agar teman-teman tuli bisa memahami apa yang disampaikan oleh pembicara.

Kalau teman-teman mau melibatkan teman-teman dengan disabilitas lebih dalam lagi, teman-teman yang suka membuat projek atau sedang manjalankan start-up bisa melibatkan teman-teman dengan disabilitas dalam pekerjaan ini. Jangan lupa cara kedua (melihat kelebihan mereka) dan berikan akses agar mereka bisa terlibat dan mengembangkan diri mereka dengan maksimal ya.

Lima, ajak teman-teman yang belum mengenal disabilitas untuk ikut serta. Kalau teman-teman sudah mencoba tiga-empat hal di atas, jangan lupa untuk ajak teman-teman yang masih awam dengan dunia kedisabilitasan untuk ikut bergabung atau setidaknya ikut hang out dan berteman dengan teman-teman dengan disabilitas. Karena keinklusian ini akan berjalan dengan baik jika semakin banyak orang yang terlibat.

Lima setengah, ikut sebarkan tulisan ini agar semakin banyak yang membaca dan memahami cara memperingati Hari Disabilitas Internasional 2018 ini agar berarti untuk selamanya. Hehehe. Ini setengah promosi blog sebenarnya, tapi semoga apa yang saya tuliskan di sini benar-benar bermanfaat ya. ^^3

Kurang lebih begitulah beberapa cara yang menurut saya bisa kita lakukan untuk mendukung teman-teman dengan disabilitas. Semoga dengan lima langkah kecil ini, bisa membuka jalan merealisasikan keinklusivan dalam kehidupan kita semua.

Lima cara di atas kok kayaknya cuma bisa dilakukan oleh teman-teman yang nondisabilitas ya. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh teman-teman dengan disabilitas itu sendiri?

Untuk teman-teman dengan disabilitas, dari banyak sharing bersama teman-teman dengan disabilitas masalah dari dalam diri mereka hanya satu yakni self-esteem atau mengakui kemampuan diri sendiri. Teman-teman dengan disabilitas hanya butuh sedikit lebih percaya diri, membuka diri atas kemampuan yang teman-teman miliki dan berani terlibat dengan masyarakat. Pastinya hal ini membutuhkan kepercayaan diri yang tinggi karena risiko yang diambil pasti tidak kecil. Seperti gagal di usaha pertama, tidak diacuhkan, bahkan diragukan kemampuannya. Tapi teman-teman dengan disabilitas harus tetap maju.

Mas Dimas (disabilitas netra) dengan kartunet.com-nya, Senna (disabilitas netra) dengan karier kepenulisannya, Annisa Rahmania  (tuli) dengan dakwah hijrahnya untuk teman-teman tuli, Mbak Cucu Saidah dan Mas Faizal (disabilitas fisik) dengan aktivitas advokasi keinklusiannya, dan Muhammad Ikbar Ishomi (Spektrum Autisme) dengan prestasi anggarnya, atau Ananda Sukarlan (Asperger) dengan prestasi permainan pianonya. Nama-nama ini mungkin bisa menjadi contoh buat teman-teman dengan disabilitas di luar sana, bahwa fokus kepada kemampuan yang dimiliki dan menghargai kemampuan diri sendiri adalah kunci utama sebelum teman-teman dengan disabilitas terjun lebih jauh lagi ke masyarakat yang lebih luas lagi.

Perlu kita ingat sekali lagi, bahwa keberadaan Hari Disabilitas Internasional ini lahir dengan semangat harapan jangka panjang akan keinklusian masyarakat. Tujuan ini hanya bisa dicapai dengan kerjasama antar teman-teman dengan disabilitas dan masyarakat nondisabilitas untuk saling mendukung, menjalankan peran maisng-masing dengan maksimal, dan saling mengoreksi demi terciptanya lingkungan yang inklusi untuk semua kalangan.

Jadi, mari kita rayakan bersama keinklusian ini mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dari hal yang paling mudah kita lakukan.

Selamat Hari Disabilitas Internasional!

@fatinahmunir | 5 Desember 2018

05 December 2018
Posted by Fatinah Munir

Siapa yang Memperingati Hari Disabilitas?


Bagi sebagian masyarakat umum, Hari Disabilitas Internasional mungkin diartikan sebagai hari euphoria bagi individu dengan disabilitas. Atau dianggap sebagai euphoria orang-orang yang terlibat dengan disabilitas, misalnya keluarga dan orang terdekat mereka, atau tim yang menangani mereka seperti guru, terapis, dan psikolog.

Kalau boleh sedikit bercerita, sebenarnya sebelum ada Hari Disabilitas Internasional atau dalam versi aslinya disebut International Day of Persons with Disabilities, pada 1981 PBB terlebih dahulu mencetuskan Tahun Disabilitas Internasional (International Year of Disabled Persons). Tema yang diangkat saat itu adalah Full Participation and Equality (Partisipasi Penuh dan Kesetaraan).

Sejak ada IYDP, berbagai organisasi dan pemerintahan berbagai negara mulai melibatkan disabilitas dalam banyak lini kehidupan. Setelah itu untuk lebih meningkatkan tujuan ini, barulah pada 1992 PBB mencanangkan tanggal 3 Desember sebagai Hari Disabilitas Internasional.

Berubahnya IYDP menjadi IDPD sejak 26 tahun lalu ini karena PBB merasa bahwa waktu hampir 10 tahun yang digunakan sejak ada IYDP dapat digerakan menjadi lebih besar lagi di bawah program dunia yang dikendalikan PBB. Selain itu, PBB punya harapan agar setiap orang bisa ikut andil dalam membantu individu dengan disabilitas untuk dapat terlibat dalam segala lini kehidupan dan mendapatkan kesempatan yang sama dengan yang lainnya.

Nah. Kalau kita tengok lagi, itu artinya tidak ada banyak euphoria atau perayaan yang sesungguhnya dalam Hari Disabilitas Internasional ini sebab hari ini lahir dengan napas perjuangan untuk memberikan dan mendapatkan apa yang seharuskan dimiliki setiap individu dengan disabilitas. Dalam keriuhan peringatan Hari Disabilitas Internasional ini setiap orang tanpa terkecuali diharapkan dapat ikut menyebarluaskan tentang dunia kedisabilitasan, menerima individu dengan disabilitas sebagaimana mereka menjadi bagian dari lingkungan sosial, dan memberikan mereka kesempatan yang sama sebagaimana masyarakat umum memilikinya. 

Membicarakan hal ini, saya jadi teringat beberapa hari lalu menjelang Hari Disabilitas Internasional 2018 (International Day of Persons with Disabilities 2018). Saat itu saya berbincang santai dengan salah seorang teman sekaligus rekan mengajar. Topik perbincangan kami bermula dari satu pertanyaan simpel dan yang mungkin sudah kami simpan selama bertahun-tahun di kepala masing-masing.

Mengapa setiap agenda Hari Disabilitas Internasional kedisabilitasan peserta yang hadir didominasi oleh individu dengan disabilitas itu sendiri, keluarga yang mempunyai anggota keluarga dengan disabilitas, atau para calon pengajar dan pengajar individu dengan disabilitas?

Ya, kurang lebih mungkin tulisan ini menjadi jawabannya. Yaitu karena masih banyak masyarakat yang menganggap Hari Disabilitas Internasional hanya milik setiap individu dengan disabilitas dan orang-orang yang terlibat langsung dengan mereka. Padahal setiap kita secara tidak langsung adalah yang terlibat dengan mereka. Karena setiap hal yang kita lakukan dan peluang yang dimiliki ada milik mereka.

Jadi, siapa yang memperingati Hari Disabilitas?
Jawabannya adalah kita semua. Dengan cara ikut mengenal mereka dengan baik, melibatkan mereka dengan cara yang baik, dan memberikan mereka ruang untuk meraih kesempatan yang sama dengan kita semua.

Selamat Hari Disabilitas Internasional!
Mari kita rayakan bersama!

@fatinahmunir | 3 Desember 2018

03 December 2018
Posted by Fatinah Munir

KONMARI: Berbenah ala Jepang Sekaligus Mengubah Pola Hidup (Bagian 2)



Setelah pengenalan panjang tentang berbenah ala Konmari dan pembahasan tentang merapikan pakaian di tulisan sebelumnya, sekarang kita akan membahas beberapa kategori benda lainnya yang akan kita benahi, seperti buku, kertas, pernak-pernik, dan benda-benda sentimental.

Menyimpan Buku

Prinsip menyimpan buku ala Konmari masih sama seperti prinsip membenahi pakaian. Kita hanya perlu menyimpan buku yang membangkitkan kebahagiaan dan membuang sisanya! :D

Tantangan saat berbenah buku akan berbeda dengan berbenah pakaian. Saat berbenah buku pasti akan ada rasa tidak tega untuk membuang dengan alasan suatu hari nanti ingin membuat perpustakaan, ingin dibaca ulang nanti, atau ingin di baca kapan-kapan. Kalaupun kita ingin membuat perpustakaan, maka pertimbangkan apakah kita rela perpustakaan kita dipenuhi buku-buku yang tidak membangkitkan kebahagiaan? Kalau ingin membaca ulang buku yang sudah pernah dibaca, apakah benar kita akan membaca ulang buku tersebut di tengah masih adanya daftar buku yang ingin dibaca atau dibeli? Terakhir, yakin tetap ingin menyimpan buku yang sudah lama dibeli tapi belum dibaca dengan alasan akan dibaca kapan-kapan? Sebab nyatanya, kapan-kapan berarti tidak akan pernah :) Ada pengecualian dalam menyimpan buku ala Konmari, satu jenis buku yang boleh disimpan tanpa ditanyakan apakah menumbuhkan kebahagiaan atau tidak adalah buku favorit kita sepanjang masa.

Sama seperti proses berbenah pakaian, setiap buku yang ada di rumah atau ruangan harus dikumpulkan di atas lantai. Pegang satu per satu buku yang ada, disarankan untuk menyentuh atau mengusap setiap sampul buku. Kemudia bertanyalah kepada diri sendiri apakah buku tersebut memberikan kebahagiaan atau tidak ketika disentuh. Jika tidak memberikan kegembiraan, maka buanglah atau sumbangkan buku-buku tersebut ke tempat yang membutuhkan :)

Apabila memiliki terlalu banyak buku meskipun sudah ada yang disingkirkan, maka kita perlu mengkategorikan lagi buku-buku yang kita miliki. Setidaknya ada empat kategori besar buku ala Konmari, yaitu buku umum (buku yang dibaca untuk hiburan), buku praktis (referensi, buku masakan, dll), buku visual (koleksi foto, buku untuk mewarnai, dll) dan terakhir majalah. Untuk memudahkan dan lebih mengerucutkan buku yang akan disimpan, kita bisa membuat kategori sendiri. Misalnya cukup menyimpan buku tentang parenting, bisnis, dan keagamaan.

Setelah kita mendapatkan buku yang ingin kita simpan, yang membangkitkan kegembiraan, barulah kita bisa menata buku di dalam rak sesuai dengan selera. Tapi perlu dipastikan bahwa buku-bukut tersebut masuk ke dalam rak.


Menyortir Kertas

Pada prinsipnya semua kertas harus dibuang. Kita harus membuang kertas apa saja yang selama ini kita simpan, kecuali tiga kategori berikut; kertas yang masih dipakai, masih diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan kertas yang harus disimpan hingga waktu tak terbatas. Sedangkan untuk mebenahinya, kita cukup membuat dua kategori kertas, yakni kertas yang harus diurus dan kertas yang harus disimpan.

Kertas yang harus urus contohnya adalah surat yang harus dibalas, formulir yang harus diisi dan dikirim, dan koran yang harus dibaca. Seluruh kertas kategori ini sebaiknya disimpan dalam satu tempat, tidak perlu dipisah. Sebagai wadah penyimpanan kategori ini, disarankan untuk menggunakan kotak arsip vertikal. Digunakannya kotak arsip vertikal adalah karena wadah ini memudahkan kita untuk mengambil kertas yang akan diurus segera. Satu lagi, perlu diingat bahwa kotak penyimpanan kertas yang harus diurus ini semestinya tidak penuh dan lebih baik kosong. Jika kotak penyimpanannya penuh atau terisi, berarti ada hal yang belum kita urus.

Kategori kertas yang harus disimpan dapat kita buat menjadi subkategori lagi, yaitu kertas yang jarang dikeluarkan tetapi harus disimpan. Kertas subkategori ini misalnya adalah surat kontrak, polis asuransi, garansi, dan sebagainya yang sebenarnya tidak membangkitkan kebahagiaan tetapi tetap harus disimpan. Kertas subkategori ini disarankan disimpan di map plastik bening dan dijadikan satu semuanya.

Kertas yang harus disimpan subkategori sering digunakan adalah resume seminar atau kliping surat kabar. Karena kertas jenis ini sering digunakan, maka untuk menyimpannya kita bisa menggunakan map berbentuk buku yang berisi lembaran-lembaran plastik.

Apabila tahapan membenahi kertas sudah kita jalani, berrati kita cukup memiliki tiga tempat penyimpanan kertas, yaitu kotak arsip vertikal, map bening, dan map buku plastik. Jika ada kertas baru yang harus disimpan, jangan menambah tempat penyimpanan kertas, melainkan kembali sortir ketas yang ada :)


Komono (Pernak-Pernik)

Di antara kita pasti ada yang suka menyimpan benda-benda kecil, apapun itu bentuknya yang kita pikir kemungkinan tidak tega untuk membuangnya atau berpikir akan menggunakan benda tersebut suatu hari nanti. Jika kita amati, tidak ada tujuan khusus dari kebiasaan menyimpan seperti ini. Kebanyakan alasannya hanya karena ingin saja atau suka, tanpa tahu apa yang akan kita lakukan dengan benda-benda tersebut.

Jika kita memiliki kebiasaan ini dan ingin menerapkan metode Konmari, maka kita harus membuang kebiasaan ini jauh-jauh. Masih ingat hal yang harus dilakukan untuk menerapkan metode Konmari dalam berbenah? Salah satunya ada mengapresiasi benda yang kita punya. Kebiasaan menyimpan barang tanpa tujuan tidak sejalan dengan mengapresiasi benda di mana memanfaatkan benda dengan baik adalah cara terbaik untuk mengapresiasinya.

Di Jepang sendiri, benda-benda kecil seperti ini disebut komono. Secara harfiah, komono tidak hanya berarti benda-benda kecil, tetapi juga perkakas, komponen, atau hal-hal tidak penting seperti yang biasa orang Indonesia sebut tetek bengek.

Jika kita bayangkan, akan ada banyak sekali benda jenis komono ini dan betapa sulitnya membenahi itu semua. Akan tetapi dalam berbenah ala Konmari akan kita akan lebih mudah berbenah menggunakan urutan komono sebagai berikut; CD/DVD, produk perawatan kulit dan wajah, aksesoris, barang berharga, elektronik kecil, alat tulis, alat dapur, pajangan, dan sebagaimana.

Masih sama seperti sebelumnya, seleksi barang-barang yang akan kita simpan dengan tolak ukur membangkitkan kebahagiaan atau tidak. Setelah itu kita bisa merapikan dan menyimpan setiap pernak-pernik ini berdasarkan kategorinya.

CD/DVD. Untuk CD/DVD, jangan lupa untuk mengecek apakah kepingan CD/DVD yang masih berfungsi atau tidak. Kemudian pisah lagi CD/DVD ini berdasarkan subkategori; music, film, drama, dan program (jika kita memiliki elektronik yang membutuhkan CD untuk menggunakannya, seperti printer, program computer, dan sebagainya). Kita bisa menggunakan dompet CD/DVD untuk menyimpannya. Kendati sudah dibagi ke dalam subkategori dan disimpan dalam dompet CD/DVD, kita tetap harus meyimpannya di satu lokasi, misalnya letakknya semuanya di dalam laci lemari kecil dekat TV.

Produk perawatan kulit dan wajah. Dalam merapikan produk perawatan kulit dan wajah (kosmetik), kita perlu menyeleksi terlebih dahulu produk mana yang benar-benar kita gunakan dan membangkitkan kebahagiaan. Untuk sejumlah sampel produk kosmetik  yang kita dapat dari sales di mal, tidak usah berpikir keras untuk memilihnya jika memang tidak kita gunakan, semua itu bisa kita buang atau diberikan kepada orang yang memang menggunakan produk tersebut.

Tempat penyimpanan kosmetik sebaiknya dibagi berdasarkan subkategorinya. Misalnya produk perawatan kulit, produk perawatan rambut, produk perlengkapan mandi, dan produk perawatan wajah. Setiap subkategori ditata di dalam kotak make up organizer dengan posisi berdiri. Hindari penyimpanan make up di dalam dompet make up seperti ingin bepergian.

Seluruh subkategori produk kosmetik ini sebaiknya diletakkan di satu lokasi, contohnya diletakkan di atas meja rias atau meja dekat kamar mandi yang memang lokasinya dapat dijangkau untuk kebutuhan mandi dan berhias setelah mandi.

Aksesoris. Selanjutnya adalah aksesoris termasuk di sini adalah perhiasan. Bagian aksesoris ini mungkin akan menjadi yang sulit bagi beberapa orang, dikarenakan benda ini kecil dan dimiliki dalam jumlah yang tidak sedikit.

Sama seperti sebelumnya, untuk membenahi aksesori sebaiknya memisahkan aksesoris berdasarkan jenisnya. Penataan letak aksesoris bisa digabungkan di satu lokasi, seperti di meja rias berdekatan dengan kosmetik di dalam laci rias. Untuk wadah penyimpanan aksesoris sendiri sebaiknya menggunakan wadah yang sesuai dengan bentuk aksesoris, misalkan kalung ditata di gantungan kecil yang bisa diletakkan di atas meja, gelang disimpan di wadah dengan tabung untuk melingkarkan gelang di tabung tersebut, cicin disimpan di dalam kotak cincin yang dapat memuat beberapa cicin sekaligus. Untuk aksesoris lain seperti pin atau bros bisa disatukan dalam wadah kotak dan untuk peniti atau jarum bisa ditata di atas wadah dengan spons yang kita bisa menancapkan jarum atau peniti di atasnya.

Seluruh aksesoris di atas bisa dimasukkan dalam kotak masing-masing. Laci kecil bertingkat dapat juga menjadi pilihan untuk menyimpan berbagai aksesoris ini.

Barang berharga. Yang dimaksud barang berharga dalam metode Konmari ini salah satunya adalah uang receh. Mungkin sering menemukan uang receh tergeletak di mana-mana di dalam rumah kita. Meskipun kita sudah menyediakan tas khusus uang receh, tapi sering kali di antara kita tidak memiliki tujuan untuk apa uang receh itu dikumpulkan, padahal jelas-jelas recehan tersebut tetaplah uang.

Menggunakan metode berbenah Konmari, seperti yang dipaparkan sebelumnya, kita harus mengapresiasi atau menghargai setiap benda yang kita punya. Terkait dengan uang receh ini, kita pun harus menghargainya, sekecil apapun nominal uangnya. Kemudian perilah cara membenahinya adalah cukup sediakan satu dompet kecil khusus receh di dalam tas jika di luar rumah kita memiliki uang receh saat berjual beli.

Untuk di dalam rumah, sediakanlah satu tempat khusus -ingat hanya satu tempat penyimpanan di dalam rumah, untuk menampung uang receh yang ada di kantung. Jangan biarkan satu koin atau uang receh pun yang tercecer di sembarang tempat.  Selanjutnya jangan lupa untuk menukar uang receh tersebut secara berkala, misalnya satu sampai tiga bulan sekali untuk ditabung ke bank atau ditukar ke took atau petugas parkir yang memang membutuhkan uang receh.

Elektronik kecil. Kamera, handy camp, power bank, charger elektronik, dan kabel-kabel penghubung adalah perintilan lain yang pasti sering berserakan atau memiliki tempat penyimpanan yang layak. Kamera dan handy camp biasanya disimpan di dalam lemari pakaian dengan alasan akan lebih aman karena dikelilingi benda-benda yang lembut, sedangkan power bank dan charger berbagai elektronik dibiarkan tergeletak di dekat sumber listrik tanpa diurus.

Cara seperti di atas sama saja kita tidak menghargai berbagai barang elektronik kecil yang kita punya, yang kerap kali tidak ingin kita tinggalkan jika bepergian. Untuk menyimpannya, disarankan untuk menyimpan elektronik sejenis ini di satu lokasi dan tidak disimpan bersama dengan kardusnya. Dalam prinsip Konmari, setiap kardus hasil pembelian barang harus segera dibuang, tidak untuk ditumpuk atau disimpan dengan apapun alasannya. Jika kardus tersebut tidak ingin dibuang, maka kita harus langsung atau segera memanfaatkannya, misalnya menjadikan kardus handphone sebagai tempat aksesoris, dan sebagainya.

Untuk charger elektronik, kita bisa menggunakan (membeli atau membuat sendiri) charging organizer yang membuat kabel-kabel elektronik tidak saling tergulung.

Alat tulis. Pernak-pernik yang satu ini pasti ada di setiap rumah, terutama yang sering menggunakannya untuk pekerjaan sehari-hari. Karena banyaknya jenis alat tulis itu sendiri, maka apabila sudah menyeleksi alat tulis yang membangkitkan kebahagiaan, tugas selanjutnya adalah menyiapkan wadah penyimpanan alat tulis. Wadah penyimpanan yang sangat disarankan adalah stationary organizer yang dapat membuat seluruh alat tulis tertata berdiri. Jika tidak memiliki stationary organizer, kita bisa memanfaatkan bekas gulungan tisu atau menggunakan gelas bekas untuk menyimpannya.

Alat tulis seperti sticky note, notes kecil, double tape, dan solasi, bisa disimpan di dalam wadah kotak khusus alat tulis dan diletakkan tidak berjauhan dengan alat tulis lainnya.

Perlengkapan dapur. Berbicara merapikan perlengkapan dapur berrat berhubungan dengan kerapian dapur. Prinsip membenahi perlengkapan dapur adalah bagaimana kita bisa mudah mengambil dan meletakkan perlengkapan dapur yang ingin dan telah dipakai.

Kita bisa mencontoh kebiasaan pada koki di dapur di mana mereka terbiasa mencuci perlengkapan dapur sesudah menggunakannya. Maka kita harus membiasakan langsung membersihkan perlengkapan dapur sesaat setelah menggunakannya, tidak menunggu perabotan kotor menumpuk.

Seperti biasanya, menyeleksi perlengkapan dapur hanya yang membangkitkan kebahagiaan juga sangat penting, sebagaimana prinsip dari Konmari. Kemudian menata perlengkapan dapur berdasarkan kategorinya dan meletakkan katagori yang sama di satu lokasi.

Bagaimana dengan perlengkapan dapur yang memang tidak ingin digunakan seperti gelas-gelas bermotif dan piring-piring cantik? Apabila gelas dan piring tersebut tidak membangkitkan kebahagiaan, maka kita tidak perlu menyimpan atau menggunakannya, sedangkan apabila gelas dan piring tersebut membangkitkan kebahagiaan, maka lebih baik gelas dan piring tersebut digunakan untuk keseharian, bukan disimpan. Bukankan akan lebih menyenangkan dan bersemangat jika kita menggunakan benda yang membangkitkan kebahagiaan kita? Coba bayangkan betapa membahagiakannya bisa menggunakan perabotan favourite dengan motifnya yang cantik-cantik :)

Pajangan dan pernak-pernik lainnya. Kategori komono yang terakhir ini mungkin akan lebih luas lagi cakupannya, bisa berupa benda-benda hiasan atau dekorasi rumah, perlengkapan hobi, dan mainan anak-anak. Tetap pada prinsip yang sama, kita harus memilih benda yang betul-betul membangkitkan kebahagiaan. Selepas itu, kita bisa menyimpannya berdasarkan kategori. Misalnya perlengkapan hobi sebaiknya disimpan di satu lokasi seperti di lemari khusus hobi. Sedangkan untuk mainan anak-anak, disarankan untuk menyimpannya di dalam wadah kotak sesuai dengan kategori mainannya dan ditempatkan di satu lokasi, seperti di lemari khusus Montessori jika memang tersedia. Kalaupun tidak ada lemari khusus Montessori, kita bisa menggunakan bagian kosong dari lemari yang ada di rumah. Tetapi perlu diingat bahwa setiap mainan harus dipisahkan menggunakan kotak atau kardus sesuai dengan kategorinya.

Bagaimana dengan pajangan? Setelah kita memiliki pajangan yang betul-betul hanya membangkitkan semangat, kita bisa menata seluruh pajangan tersebut di tempat yang terjangkau oleh mata. Ingat, kita memiliki pajangan untuk dipajang, bukan untuk disimpan di dalam lemari hanya dengan alasan khawatir pajangan tersebut pecah.


Selesai sudah kita membahas ilmu berbenah ala Konmari. Semoga kita bisa konsisten menjaga kerapian dan tetap menyukuri setiap benda yang kita miliki dengan cara memanfaatkannya sebaik mungkin selama kita miliki. Selamat mencoba dan semangat konsisten!

@fatinahmunir | ditulis pada 24 Januari 2018
24 September 2018
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. :)

Selamat membaca!

@fatinahmunir
fatinahmunir@gmail.com

Hi Folks!

Hi Folks!
Teacher | Writer | Adventuress

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -