Posted by : Fatinah Munir 25 February 2018



Bismillahirrahmanirrahim

Setelah kemarin di materi ketiga dibuat penuh berbunga-bunga membayangkan peradaban yang berubah semakin baik dari rumah dan nice homeworkketiga yang sangat mengaduh-aduk perasaan selama mengerjakannya, kini saatnya materi keempat di depan mata. Materi keempat Matrikulasi IIP ini mengenail mendidik dengan kekuatan fitrah. Sekalipun konteks dalam materi kali ini adalah mendidik anak, tetapi materinya bisa digunakan untuk semua umur, terutama seperti saya yang sedang belajar.

Untuk saya yang belum menikah, metode mendidik dengan kekuatan fitrah ini difungsikan untuk mendidik saya sendiri. Yakni mendidik diri saya sesuai dengan fitrah saya, sesuai dengan passion saya. Seperti apa itu lebih jelasnya mendidik dengan kekuatan fitrah? Yuk kita simak materi dan tanya jawab di bawah ini 😊

***

Ibu, setelah kita memamahi bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan diri anda sendiri

Apakah mudah? tidak.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa galau.


Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa “misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework #2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3.   Misi hidup dan misi keluarga sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 

Just do it!  lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada “Apa yang harus dipelajari anak-anak kita”, bukan pada “Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut”. Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu pendidikan anak dengan kekuatan fitrah. Untuk menjalankan pendidikan anak sesuai dengan kekuatan fitrahnya, diperlukan beberapa ahap yang harus anda jalankan.

Bersihkan hati nurani anda. Kebersihan hati adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda. Jika hati kita, niat kita dalam belajar ataupun mendidik tidak bersih, maka akan banyak sekali rintangan dan godaan yang sulit dilewati.

Gunakan mata hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.


Pahami fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah ilahiyah atau fitrah mengenal Tuhannya, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas dan lain-lain. Lalu upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin, sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik yang menjadikan alam sebagai sumber utama pertumbuhan tanaman-tanamannya dan tidak menggunakan bahan kimia tambahan yang justru akan merusak kandungan tanaman.

Selanjutnya tugas kita adalah menemani, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

Lalu manfaatkan momen bersama anak-anak. Kita harus mempu membedakan antara waktu bersama anak dan waktu dengan anak. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana. Terakhir, rancanglah program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda very limited special edition.

Ibu, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri. Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 

Sumber bacaan:

Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016
Tonton referensi video di sini 

Diskusi Materi

Pertanyaan 1

Pada tahapan poin D, tercantum bahwa analogikan diri kita dgn seorang petani organik? Maksudnya gimana ya uni? Tolong dijelaskan. Hehehe. Bagaimana caranya membangkitkan, menyadarkan, menguatkan keinginan belajar anak sesuai dengan fitrahnya? Tolong berikan contohnya.

Jawaban 1

Analogi seorang petani organic. Kita sering ya, mengamati proses kegiatan petani. Mulai dari menanam benih, memupuk, menyirami dan merawat sebaik-baiknya secara alami tanpa tambahan bahan untuk mempercepat pertumbuhannya
.

Membangkitkan keinginan belajar anak fitrahnya anak-anak suka belajar, sebagai orang tua, tugas kita adalah menemani prosesnya dengan stimulus yang pas dan tidak menggegas.

Pertanyaan 2

Disebutkan mengenai fitrah yang dibawa anak sejak lahir seperti fitrah ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dan fitrah seksualitas. Mohon dijelaskan lebih detail mengenai macam-macam fitrah di atas! Jika kita mulai mengenalkan gadget kepada anak, apakah itu menyalahi fitrah anak? Adakah batasan-batasan agar kita tetap bisa mengenalkan gadget kepada anak tanpa menyalahi fitrah anak ?

Jawaban 2

Fitrah ilahiyah adalah fitrah anak cinta pada Tuhan dan kebenaran. Fitrah belajar adalah anak sebagai pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Fitrah bakat adalah setiap anak punya potensi unik produktif yang merupakan panggilan hidupnya. Fitrah perkembangan adalah di mana setiap masa perkembangan anak ada tahapannya. Fitrah seksualitas adalah anak dilahirkan dengan jenis kelamin lelaki dan perempuan dan akan berkembang menjadi peran yang sesuai.

Terkait gadget pada anak, kita tidak bisa menghindari gadget tetai kita bisa mengelola dan mengendalikan penggunaannya. Gadget adalah alat pelengkap belajar dan aktivitas

Pertanyaan 3

Benar sekali ya untuk menuntut ilmu itu diperlukan hati nurani yang bersih. Sekarang ini saya masih ada memendam rasa kecewa, yang semakin lama menjadi dendam. Padahal gara-gara itu saya jadi kepikiran orang itu terus, karena rasa kesal yang tidak terlampiaskan. Bagaimana caranya untuk membersihkan hati ini ya?

Jawaban 3

Membersihkan hati itu diawali dengan penerimaan terhadap kejadian yang hadir pada kita. Terima
. Setelah itu, jika hal tersebut mengecewakan kita, maka maafkanlah.

Pertanyaan 4

Di keluarga saya terdapat dua pola asuh, karna saya masih tinggal dengan mertua yang kebetulan kami tidak bisa pindah karna mertua saya sakit-sakitan. Bagaimana memberikan penjelasan kepada mereka tentang visi misi keluarga kami agar mereka juga mau mengikuti pola asuh yang kami terapkan, agar terhindar dari kegalauan? Untuk mertua perempuan, dia lebih modern dan mengikuti pola asuh kami, tapi tetep aja namanya orangtua kadang masih ada sisi keukeuhnya. Naaaah untuk mertua laki-laki, kadang anak saya yang umurnya masih 6 tahun saja diladeni, malah kadang di cap nakal lah, tidak nurut, dan perkataan-perkataan negatif lainnya. Sedangkan saya sendiri dan suami sedang meninggalkan perkataan-perkataan yang negatif terhadap anak saya. Jadinya saya suka terbawa emosi, tapi kadang hanya tarik nafas dan istighfar sambil gemes sendiri.

Jawaban 4

Saya paham dengan kondisi yang sedang terjadi, galau tingkat tinggi ya. Namun, kita tidak bisa memaksakan pemahaman kita secara langsung perlu pendekatan-pendekatan terhadap orang tua/mertua

Orang tua/mertua, coba kita dekati dengan tiga cara, yaitu dengarkan ceritanya, beri hadiah, dan ajak jalan-jalan
. Pelan-pelan kita lakukan, mudah-mudahan semakin terbuka kesempatan untuk bisa seiring sejalan

Pertanyaan 5 


Bagaimana jika fitrah anak sudah terlanjur rusak. Apa masih bisa diperbaiki? Contoh saja, anak-anak fitrahnya kalau makan kan mau suap sendiri, ini udah saya rusak dengan disuapin sambil nonton. Rasanya merasa bersalah sekali, karena usianya sudah 3.5 tahun. Tapi susah banget buat mengubahnya. Karena udah jadi kebiasaan, kalau makan sendiri atau sama-sama saya pasti jadi sedikit banget makannya atau cuma makan yang dia suka aja. Saya dilema takut kurang gizi. Itu baru satu contoh saja, rasanya banyak sekali yang sudah terlanjur dirusak

Jawaban 5

Bisa, Bunda. Yuk kita terus semangat belajar supaya bisa menemani proses tumbuh kembang anak-anak sesuai dengan fitrahnya.

Pertanyaan 6

Berkaitan dengan ini jadi mau tanya,  aku dalam situasi mencari pendidikan buat si sulung, kami orang tua maunya si sulung boarding atau lanjut ke mtsn supaya kakak terus lanjut memperdalam al Quran dan hadist. Si kakak berusia12 tahun. Tapi terjadi sedikit perdebatan, dia mau masuk smpn. Bukan kami melarang, tapi merasa sangat sayang bila ilmu yang ada tidak diperdalam. Dalam hal ini kami tidak mau bargain juga buat perjanjian bila tetap pilih smpn akan ikut pendalaman al Quran di luar. Dengan pertimbangan bila masuk smpn dan kakak mulai beranjak remaja akan ada konflik emosi dalam memenuhi perjanjian-perjanjian tersebut. Kemungkinan dia akan lebih berat beraktivitas dengan teman-temannya. Apakah kami selaku orang tua jadi melanggar fitrah anak kalau seperti ini yah?

Jawaban 6

Ini masuk usia Pre Aqil Baligh 2  ya dalam framework Fitrah Based Education apa itu? Ayo searching! Usia ini saatnya kita mulai jadi teman perjalanannya. Kita banyak ngobrol tentang pilihan-pilihannya dan konsekuensi yang mungkin terjadi banyak-banyak ngobrol, gali ide, telusuri hal-hal yang disukai, temukan bakatnya, kuatkan nilai, dan dorong anak untuk berkarya. Boarding atau sekolah negeri, jika sudah paham pilihan dan konsekuensi dari awal, mudah-mudahan semua lancar.



Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -