Posted by : Fatinah Munir 02 July 2017



Ada sebuah kisah lucu yang pernah saya baca dulu dari buku yang berisi kisah-kisah jenaka Timur Tengah. Dalam kisah tersebut terdapatlah seorang ulama dari abad ketiga hijriyah yang dipanggil Hatim al Asham. Dalam bahasa Arab, al Asham berarti Si Tuli.

Terkisahlah saat Hatim al Asham memberikan ceramah di kota kecilnya, datanglah seorang wanita paruh baya ke majelisnya, hendak bertanya.

Wanita itu bertanya dengan penuh antusias. Tetapi tanpa disadari sebelumnya, wanita itu refleks membuang gas dengan suara yang keras. Wajah wanita itu memerah, menahan malu dan tidak tahu harus melakukan apa di depan Imam Hatim.

Tetapi alih-alih menegur atau menasihati wanita yang membuang gas dengan kencang di depannya, Imam Hatim hanya diam lalu bertanya dengan suara lebih tinggi, "Apa yang kamu bicarakan tadi? Ulangilah dengan keras, saya tidak mendengar!"

Wanita yang semulanya malu tersebut perlahan tenang. Dia mengira bahwa Imam Hatim tuli karena tidak mendengar suara buang gasnya yang keras. 


Sejak saat itulah Imam Hatim selalu berkata, "Ulangi ucapanmu, aku tidak mendengar!" setiap kali jamaah majelis bertanya. Beliau berpura-pura tuli di depan jamaahnya hingga beliau mendapat gelar Imam Hatim yang Tuli di kotanya. Hingga 15 tahun dan saat tersebar kabar bahwa wanita yang pernah membuang gas di depannya meninggal dunia, barulah ulama tersebut berhenti berkata, "Ulangi ucapanmu, aku tidak mendengar!"

Pada kisah lain yang saya terima dari seorang guru, terdapatlah seorang kyai di Jawa Timur yang setiap kali dirinya berada dalam perbincangan yang mengandung ghibah dan dirinya dimintai pendapat tentang orang yang dibicarakan, kyai tersebut selalu berkata, "Maaf saya tidak mendengar, jadi saya tidak tahu."

Belum lagi mengingat video pendek yang tadi pagi viral di Instagram. Dalam video tersebut seorang hafiz kecil yang sedang berlomba tampak kebingungan setelah menyelesaikan hafalan surat al Insyirah. Saat pembawa acara bertanya tentang wajahnya yang tampak bingung, hafiz kecil tersebut berkata, "Kenapa tadi Syeikh Ali Jaber tidak bilang khalas?"

Seketika itu Syeikh Ali Jaber langsung berucap, "Saya minta maaf ya. Lain kali saya akan bilang khalas," wajahnya tersenyum membersamai maafnya.

Akhlak para pemilik ilmu selalu membuat kita bertanya, "Di manakah posisi kita sebenarnya?" Tanpa disadari, mungkin kita pernah merasa diri ini lebih baik dari yang lainnya, sehingga ketika ada yang bersalah maka pelurusan yang kita sampaikan dianggap paling benar. Atau ketika suatu kali diri kita bersalah, bahkan kepada seorang anak kecil, maka pelurusan dari anak kecil seolah tidak layak diberikan. Ya, karena kita terlalu merasa telah menjadi lebih baik dari yang lainnya. Karena kita terlalu meyakini bahwa diri ini adalah pribadi yang paling benar adanya.

Teringat kembali nasihat seorang teman dari negeri jauh di sana. Bahwasanya ketika kita sudah merasa menjadi lebih baik daripada orang lain, saat itulah kita menjadi pribadi yang paling buruk di antara yang lain.

Maka cukuplah diri ini menjadi yang menuli dari keburukan orang lain dan yang membodoh dari sekecil apapun nasihat yang diberi. Sehingga kita merasa cukup menjadi lebih baik dari masa lalu diri sendiri.

Biarlah diri ini menjadi yang paling bahagia dengan tidak pernah merasa menjadi yang paling benar adanya, agar setiap ilmu dan adab yang dipunya tetap menjadi kebaikan yang tak ada habisnya.

Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -