Showing posts with label Ekspedisi Dieng. Show all posts
Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag.4)
Sekali lagi saya ucapkan selamat datang di catatan perjalanan luar biasa di Negeri di Atas Awan. Bagian ini saya jamin adalah bagian paling mengejutkan sekaligus menakjubkan dibandingkandari Bagian 1, Bagian 2, dan Bagian 3. Oke. Tanpa berlama lagi. Inilah kisah luar biasa yang selalu tersimpan di memori dan hati saya :)
"Tanpa Titik" hasil jepretan Kakek di Singgasana Matahari
Ahad, 17 Nobvember 2012
Pendakian Ke
Singgasana Raja Siang
Saat yang dinantikan
pun tiba. Inilah puncak dari tujuan perjalanan kami, pendakian ke singgasana
Raja Siang atau pendakian ke puncak Gunung Pakuwaja untuk melihat kegagahan
matahari yang baru terjaga.
Pukul 2.30 waktu Dieng
kami semua membuka mata dan bersiap melakukan pendakian ke puncak Gunung
Pakuwaja. Di sini, semuanya harus siap fisik dan batin. Maksudnya, siap fisik
untuk melangkah lebih jauh lagi di jalanan mendaki, siap batin untuk
menyaksikan keindahan mahakarya Allah yang lainnya “dari atas awan” ^_^
Pada pendakian
ini, kami ditemani seorang bapak yang
kami panggil Mas Wawan. Karena khawatir kami akan telat mencegat matahari
“keluar rumah”, Rizki berinisiatif atau Mas Wawan menawarkan –kurang tahu
persisi– dalam perjalanan pendakian kami akan menumpang motor selama jalanan
masih bisa ditempuh motor.
Tapi, karena motornya
hanya ada satu, jadi kami dicarter dua dua. Kendati dicarter, kami semua
tetap berjalan sejauh kemampuan kami dan
sampai Mas Wawan kembali lagi untuk menjemput giliran selanjutnya. Dan, di
sesi ini saya bersama kembaran saya, Erny, memperoleh giliran carter paling
belakang.
Suasana saat saya dan
Erny berjsalan benar-benar gelap. Lampu jalanan hampir tidak ada, kami hanya bermodalkan
cahaya senter yang kami bawa. Sedangkan jalanan benar-benar sepi, hanya kami
berdua sepanjang jalan. Sebelah kiri kami hutan, sebelah kanan kami ladang
dengan bingkai view tebing-tebing dan gunung-gunung tinggi yang terlihat
sangat gahar di tengah gelap.
Saat berjalan hanya
berdua dengan Erny di tengah gelap, pikiran nyeleneh saya kumat. Um, ini
dipengaruhi tontonan saya juga. Masih sambil berzikir dalam hati, saya bertanya
pada Erny, “Tebak, apa yang ada di pikiranku sekarang.”
“Gak tau. Pasti aneh,” jawab Erny, frontal -,-
“Hehe. Mau tau
gak? Tapi jangan takut ya,” saya
cengar-cengir.
“Iiih, Lisfa mah. Lagi
berduaan nih.” Erny mulai ketakutan :P
“Nih Er, kita kan Cuma
berdua nih. Jalanan udah gelap sepi banget lagi. Aku ngebayangin tiba-tiba dari
balik semak-semak, dari dalam hutan-hutan itu muncul zombi-zombi kayak di film
horor Amerika. Hehe,” saya bercerita sambil cengar-cengir.
“Iiiih, Lisfaaa. Serem
banget sih pikiran kamu,” Erny manyun.
“Hehehe…,” saya hanya
nyengir, menunjukkan gingsul :D
Setelah mengkhayal
yang nyeleneh, saya dan Erny tetap berjalan. Saling mepet dan semakin
mengencangkan genggaman tangan karena kedinginan. Saya dan Erny sama-sama diam, tapi hati kami tetap bergemuruh zikir. Hanya suara kibasan gamis yang berpapasan dengan angin yang menjadi pengiring langkah kami, dua perempuan aneh bergamis yang nekad mendaki Gunung Pakuwaja.
Setelah hampir 3 Km, alias ketika saya dan Erny sudah hampir melewati Telaga Warna, Mas Wawan akhirnya datang. Alhamdulillah :)
Setelah hampir 3 Km, alias ketika saya dan Erny sudah hampir melewati Telaga Warna, Mas Wawan akhirnya datang. Alhamdulillah :)
Saat di perbatasan
aspal dengan bebatuan menuju puncak gunung, di sana kami berjumpa dengan banyak
pendaki lainnya. Suasana jalan setapak semakin ramai, kami salinng berbagi area
pengelihatan menggunakan cahaya senter dan sesama pendaki Gunung Pakuwaja
saling bertukar senyum di antara cahaya kuning redup senter. Sejak di posisi
inilah kami semua berbaris, mulai membuat langkah menuju satu tempat,
Singgasana Raja Siang.
Perjalanan pendakian
ini standar. Terus mendaki atau menurun.
Semakin naik oksigen menipis, udara
semakin dingin, dan ujung-ujung jari saya mulai membeku. Di tengah perjalanan,
cukup banyak pendaki yang harus berhenti karena sakit.
Dari rombongan kami
pun sama, sesekali berhenti, menepi untuk beristirahat untuk minum. Nah, dalam
perjalanan naik ini biasanya pendaki harus membawa gula merah. Sejak saya mengenal dunia pendakian di bangku SMA,
gula merah memang bawaan wajib setiap ingin mendaki atau caving
(menelusuri goa). Gula merah yang mengandung glukosa ini berguna sebagai bahan bakar utama dalam asimilasi karbon yang
hasilnya berupa energi untuk tubuh kita. Oleh karena itu, jangan heran
kalau di tengah perjalanan banyak pendaki
yang mengemot gula merah ß penjelasan ala farmasis :P
Selayaknya sebuah
perjalanan, sejauh apapun jalan yang ditempuh, dan seletih apapun tubuh pasti
ada akhir perjalanan yang membayar semua pengorbanan dengan setimpal. Pun itu dengan
pendakian kami ke puncak Gunung Pakuwaja ini.
Alhamdulillah, sekitar
pukul 5.30 waktu Dieng kami tiba di puncak Gunung Pakuwaja. Ada kejadian
menegangkan sekaligus lucu di momen ini. Saat kami sudah berkumpul, tiba-tiba
kami merasakan ada yang kurang. Kakek tidak ada di antara kami. KAKEK
MENGHILANG!
Saat itu juga kami
semua kompak berteriak menyebut nama Kakek. Turun beberapa meter agar suara
kami terdengar lebih lantang hingga bawah. Kami semua mulai panik, karena tadi
Kakek adalah orang yang berdiri paling depan di antara pendaki yang lain.
Saat kami sedang
berteriak memanggil nama Kakek, tiba-tiba Mas Wawan berkata, “Si Yudis nyasar
kayaknya.” Sontak kami semua terkejut. Menurut Mas Wawan, tadi beliau melihat
Kakek berbelok ke arah yang salah bersama beberapa pendaki lainnya. Mereka
sudah dipanggil tapi tidak menengok.
Ekspresi wajah kami
dengan cepat berubah, dari panik menjadi semakin panik dan sedih. Tepat saat
ekspresi wajah kami berubah, dari bawah, dari semak-semak yang merah, muncul satu
sosok kecil berjaket merah tua melambai-lambaikan tangan sambil memegang three
pot. KAKEK KEMBALI! :D
“Gila, gue salah belok
tadi. Begonya lagi orang di belakang gue ngikutin gue lagi. Hahaha,” Kakek
menceracau tak kenal sikon. Padahal kami sudah panik -,-
“Untung kagak ilang.
Yuk ke ujung sana. Spot-nya bagus buat ambil gambar,” salah satu dari kami
langsung melupakan kepanikan beberapa menit tadi dan langsung beralih ke
matahari yang perlahan muncul dari singgasananya.
Saya tidak ikut
mereka, tapi duduk sebentar untuk meneguk air, melepas lelah, dan saya langsung menunaikan salat Subuh di tengah padang rumput, menghadap jurang, membelakangi
lautan awan dan matahari yang mengintip dari balik singgasananya. Sungguh,
momen salat di tempat tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini adalah momen yang
paling menggetarkan hati. Saya benar-benar merasakan, betapa mahaindahnya Karya
Allah dan betapa kerdilnya diri ini tanpa kuasa Allah. Terima kasih kepada
Allah Mahakasih yang telah memperkenankan saya menginjakkan kaki ini di
bumi-Nya yang begitu menakjubkan. Jika ciptakaan-Nya saja sudah sangat
menakjubkan seperti ini, apalagi wujud yang Menciptakan. Masya Allah. Allahu
Akbar.
Setelah salat, saya
bergabung dengan yang lainnya. Menikmati mahaindahnya karya Allah yang Mahaindah. Kalimat subhanallah,
tak pernah berhenti terlafazkan di mulut dan di hati. Langkah kaki yang tak mau
berhenti, peluh yang membanjir, dan dingin angin yang membekukan jemari terbayar
sudah dengan potret matahari terbit dari balik puncak gunung yang berbalut
awan.
Matahari yang terbangun dari balik selimut awan di Negeri di Atas Awan
Kurang dari sepuluh
menit, matahari sudah merangkak dari titik terindahnya di balik gunung dan awan
yang menghampar. Aih, bayangkan, perjalanan mendaki ini ternyata hanya untuk
sebuah “pertunjukan alam” yang berlangsung kurang dari 10 menit! Ckck. Betapa
“gila”-nya kami para pendaki yang rela berlelah-lelah melangkah hanya untuk
dibayar dengan fenomena yang terjadi kurang dari 10 menit :)
Ya, memang beginilah
esensi dari sebuah perjalanan dan petualangan. Perjalanan yang panjang dan
berlelah-lelah ini memang hanya untuk sebuah “pertunjukan alam” berdurasi
kurang dari 10 menit. Tapi percayalah, kejadian kurang dari 10 menit di puncak
Gunung Pakuwaja ini mempunyai nilai seumur hidup.
Ketika tak ada mata yang ingin berpaling dari mahakarya-Nya. Subhanallah
Kenangan di atas
puncak Gunung Pakuwaja ini sejatinya tidak berusia kurang dari 10 menit, tapi
berusia abadi di dalam memori. Menyaksikkan “pertunjukan alam” ini bisa menjadi
sebuah cerita dan kenangan indah yang bisa saya wariskan kepada kalian yang
membaca tulisan ini, kepada suami saya kelak, bahkan kepada anak-anak dan
cucu-cucu saya suatu saat nanti :’)
Karena saya yakin, Allah
tidak pernah menciptakan hal yang sia-sia. Pun itu dengan pengalaman yang terjadi
kepada saya. Maka setiap pengalam adalah berarti dan memiliki misteri,
sekalipun pengalaman itu buruk dan menyakitkan, apalagi kalau pengalamannya
seindah ini ^_^
Sepuluh menit yang
abadi di memori telah selesai dilewati. Ini saatnya kami turun melewati jalur berbeda
untuk melihat apa yng disebut “Pakuwaja”, sebuah batu panjang yang sangat panjang,
yang tertancap dari lembah terendah di Dataran Tinggi Dieng hingga menulang
tinggi di antara tebing-tebing Gunung Pakuwaja.
Beristirahat di tengah penurunan Gunung Pakuwaja
Selama perjalanan
turun, kanan dan kiri kami semuanya putih. Kabut mulai turun, saya pribadi merasakan
sensasi seperti berjalan menelusuri awan. Sungguh semua letih hilang seketika
seiring dengan mata yang selalu terperangah dengan indahnya mahakarya Allah swt
;)
Bersama dua sahabat. Menafakuri nikmat dan memanjatkan mimpi-mimpi di bibir tebing Gunug Pakuwaja
Saat perjalanan pulang
ini, kami juga menyaksikkan kebun-kebun dan ladang sayur penduduk Dieng. Alih-alih
di Jakarta hampir tidak ada kebun atau ladang sayur mayur, kami malah “menjarah”
kebun orang sebagai objek berfoto ^^
"Menjarah" kebun penduduk sebagai view narsis
Di tengah perjalanan pun kami menemukan orang-orangan sawah. Saya dan kembaran saya yang sudah “menandai” orang-orangan sawah itu sejak mendaki juga tidak mau ketinggalan momen berfoto dengan orang-orangan sawah :D
Perjalanan turun ini kami lanjutkan ke Kawah Sikidang. Sebuah Kawah yang terbentuk juga karena letusan gunung yang membentuk Dataran Tinggi Dieng. Di Negeri di Atas Awan ini, kami seperti tidak mengenal lelah. Langkah ini tidak pernah mau berhenti, mata ini tidak pernah beralih dari keindahan yang terhampar di kanan kiri dan di atas kami.
Hampir pukul 10.00
waktu Dieng, kami memutuskan kembali ke penginapan. Sebelum ke penginapan, kami
memutuskan untuk makan karena sedari
mendaki, kami memang belum memakan
sesuap nasi. Hanya biskuit dan gula
merah yang mengganjal perut kami :)
Menu makan pagi yang
terlalu siang ini tidak jauh beda dengan makanan di Jakarta. Ada sate, soto,
sup, ayam bakar, daln lain-lain. Tapi, yang membuat beda adalah purwaceng,
minuman tradisional khas Dieng yang bisa memberikan rasa hangat dan memulihkan
stamina. Rasanya, nikmaaaat sekali. Subhanallah enaknya :9 (ini selera
saya, karena menurut Erny, purwaceng tidak enak)
Waktunya kembali ke
penginapan. Kami semua membersihkan
badan, sedikit beristirahat, dan menyiapkan kepulangan kami ke Jakarta ba’da
zuhur.
Huaa. Rasanya tidak
ingin balik ke Jakarta. Saya masih ingin berlama-lama di Negeri di Atas Awan
ini. Saya ingin lebih lama lagi terperangah oleh keindahan alam ciptaan Allah
yang Mahasempurna. Kalau boleh, ingin rasanya membawa sepotong Dieng untuk saya
bawa pulang dan saya taruh di Jakarta. Agar orang-oarang di Jakarta yang sok
sibuk dengan aktivitasnya bisa tahu bahwa ada tepian surga yang terjatuh di
bumi Allah, agar semakin banyak yang tahu bahwa Indonesia luar biasa.
Sungguh, ini adalah
perjalanan luar biasa bersama teman-teman yang luar biasa ajaib. Kenangan ini
akan selalu saya kenang, Seperti yang saya tuliskan di atas, kenangan ini akan
menjadi cerita di masa depan, untuk
kalian pemuda-pemudi yang katanya orang Indonesia, untuk suami saya, anak-anak saya, dan
cucu-cucu saya.
Saya di mata kamera Kakek
This is the most my favorite picture :)
Terima kasih banyak
kepada Allah swt. yang telah Memberikan
saya kesempatan untuk bisa melangkahkan kaki ini ke bagian-bagian bumi-Mu yang
indah. Terima kasih juga atas naluri yang Engkau sisipkan di diri ini untuk
menjadi wanita biasa yang senantiasa ingin tahu dan ingin bergerak menelusuri
bagian bumi-Mu yang selalu memesona.
Terima kasih kepada
orang tua saya yang selalu memercayai
saya untuk menempuh pilihan saya. Terima kasih kepada sahabat-sabahabat saya
yang ternyata punya “keanehan” yang sama dengan
saya, yaitu berpetualang ke bagian bumi Allah yang berbeda. Terima kasih
kepada teman-teman Kompas Khatulistiwa atas penngalaman luar biasa yang tak
terlupa. Save culture, save nature, in “our” adventure!
Semoga Allah terus
memercayai kita untuk membuka mata, menangguhkan langkah, dan menguatkan niat
untuk terus menelusuri Karya-Nya yang Mahasempurna :’)
-Belum
Selesai-
(Karena ada banyak lagi kisah petualangan
luar biasa yang masih menjadi rahasia-Nya)
Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag.3)
Selamat datang kembali di kisah Ekspedisi Negeri di Atas Awan. Setelah menikmati kejutan-kejutan di Bagian 1 dan Bagian 2, ini saatnya menikmati kejutan lainnya di Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 3)
Alhamdulillah, kami akhirnya bisa beristirahat selama waktu Salat
Jumat. Semuanya sudah bersih-bersih, sudah wangi. Ini waktunya melanjutkan
petualangan, menelusuri tiap lini di Negeri di Atas Awan :)
Mie ongklok ini
makanan yang mirip bakmi. Bedanya mie yang digunakan untuk me ongklok sama
seperti mie yang biasa digunakan untuk soto mie di Jakarta. Bumbu yang
digunakan juga beda, sepertinya memang dari rempah-rempah khas Dieng, karena
rasa rempah-rempahnya khas sekali dan tidak pernah saya temui di Jakarta.
Sekitar pukul 14.00
waktu Dieng, kami berkumpul untuk melanjutkan perjalanan ke tempat penuh
kejutan yang lainnya. Sebelum ke tempat
mahaindah selanjutnya, kami singgah di warung makan untuk mengisi perut.
Berburu Mie Ongklok
Di Dieng, salah satu
makanan khasnya adalah mie ongklok. Serasa tidak afdhol kalau ke Dieng tidak
makan mie ongklok. Maka, siang ini kami memutuskan untuk berburumie ongklok
untuk memanjakan perut yang sedari tadi keroncongan. Di salah satu warung kecil
di tengah perjalanan kami memutuskan berhenti menikmati mie ongklok yang kami
cari.
Mie ongklok ini
makanan yang mirip bakmi. Bedanya mie yang digunakan untuk me ongklok sama
seperti mie yang biasa digunakan untuk soto mie di Jakarta. Bumbu yang
digunakan juga beda, sepertinya memang dari rempah-rempah khas Dieng, karena
rasa rempah-rempahnya khas sekali dan tidak pernah saya temui di Jakarta.
Mie ongklok disiram
dengan kuah kental yang baunya khas sekali, mirip bau kayu. Mie ongklok ini ditaburi
tahu dan makan menggunakan abon cabai juga kecap. Rasanya? Nikmat, alhamdulillah.
Cocok dimakan di Dieng yang cuacanya dingin :)
Alien yang Tersesat
di Dieng
Di pertengahan makan
siang, tiba-tiba langit Dieng berubah kelabu. Satu satu titik hujan jatuh dan
bergerombol menyerbu tanah Negeri di Atas Awan. The Rain is come ^_^
Meski hujan datang,
tapi perjalanan kami tak boleh terhenti. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan
perjalanan. Belum separuh jalan, azan Ashar berkumandang. Saya dan teman-teman
singgah di mushalah kecil untuk salat Ashar. Sekaligus berteduh karena hujan
semakin deras.
Selesai salat Ashar,
ternyata hujan belum juga reda. Actually, kami harus mengenakan jas hujan agar
bisa melanjutkan perjalanan. Maka, semua manusia ajaib ini mengenakan kostum
ajaib yang membuat kami semakin ajaib :P
Satu satu dari kami
menggunakan jas hujan dengan warna yang beragam. Kami berjalan bergerombol,
kadang membentuk barisan di pinggir jalan. Kalau dilihat-lihat, kenampakan kami
persis seperti alien di film-film. Lebih
persis seperti tokoh Jadu di film Bollywood Koi Mil Gaya. Dan, sekali
lagi hasrat narsis dengan kostum alien ini menyeruak :D
Komplek Candi
Arjuna, Tanda Cinta-Nya pada Indonesia
Inilah tujuan kami
sore ini, Komplek Candi Arjuna. Sebuah komplek candi yang terdiri dari berbagai
macam candi. Di sini ada empat candi utama dengan masing-masing candi memiliki
satu candi pendamping –kalau tidak salah begitu menurut penjelasan Rizki The
Master. Ada Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putradewa, dan Candi Sembadra.
Di Komplek Candi
Arjuna ini hanya satu hal yang ada di benak saya. Betapa besar karunia Allah
kepada Indonesia. Seakan semua keindahan dan kekayaan alam tumpah di negeri
ini. Selama kurang dari duabelas jam terakhir ini, mata saya menyaksikan langsung
mahaindahnya Indonesia, Sang Mahakarya Allah yang ada di bumi-Nya. Ditambah
dengan keberadaan candi-candi yang ada di sekitar saya, sebuah keindahan dan
kekayaan budaya dan keberagaman di tengah dominannya Muslim di Tanah Air
tercinta. Sungguh, kemegahan Masjid
Baiturrahman dan gagahnya candi-candi di Komplek Candi Arjuna menjadi
kekayaan langka yang hampir tak ada di belahan bumi Allah lainnya. Ini patut
kita syukuri bersama. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah :’)
Buto, Dedemit yang
Jadi “Rebutan”
Saat kami sedang asik
menikmati kegagahan batu-batu yang membentuk candi-candi, tiba-tiba mata kami
beralih pada sekumpulan orang berkostum mencolok. Mereka adalah sekumpulan
penduduk asli Dieng yang mengenakan kostum tokoh perwayangan. Di antaranya ada
Gatot Kaca dan beberapa Buto, si dedemit yang peling menarik perhatian.
Kostum Buto sangat
menakutkan. Saya sendiri deg-degan saat dekat dengan para Buto. Tapi, debaran
jantung ini terkalahkan dengan hasrat ingin tahu dan narsis yang begitu besar.
Alhasil, para wanita di rombongan yang takut-takut tapi mau, berhasil mengalahkan
rasa takut kepada Buto demi mengabadikan momen indah yang belum tentu bisa
dirasakan di lain kesempatan. Ya, Buto pun jadi rebutan :P
Alhamdulillah, waktu Maghrib tiba. Semburat jingga yang
terbentang di balik gumpalan awan menandakan senja telah singgah. Perjalanan
menelusuri Komplek Candi Arjuna kami berakhir di warung makan kecil. Di sini
kami menghangatkan badan dengan makanan dan minuman yang tersedia di warung.
Saya sendiri memilih makan jagung bakar pedas dan minum cappucino panas untuk
menghilangkan dingin. Tidak lupa juga membeli syal ungu sebagai pengurang
dingin.
Malam, Hujan, dan
Pick Up
Senja sudah pulang ke
bumi Allah lainnya. Kini malam menemani siapa saja yang ada di Negeri di Atas
Awan ini. Ulala, hujan ternyata tidak ingin berhenti. Seakan ia ingin berkata
kepada kami, “Ayo, aku temani kamu malam ini :)”
Meski hujan semakin
deras, kami harus segera kembali ke penginapan. Khawatir hari semakin gelap dan
kami malah tidak bisa pulang. Well, kami memutuskan menerobos hujan.
Sudah hampir 50 meter
kami berjalan. Tiba-tiba cahaya mobil mengejutkan langkah kami. Saat itu saya
berjalan paling depan tanpa tahu ternyata teman-teman saya yang beberapa meter ada
di belakang saya menghilang. O, mereka menumpang mobil pick up yang
searah dengan kami. Saya pun turut naik ke mobil pick up. Jadilah, perjalanan
pulang yang penuh kejutan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan ^^
Alhamdulillah, kami tiba di penginapan. Saatnya makan malam
dan beristirahat. Karena besok akan menjadi hari yang paling luar biasa selama di Negeri di Atas Awan. Besok, sebelum
matahari terjaga kami harus terjaga dan berlomba-lomba mengampiri “rumah”
matahari untuk mencegatnya sebelum keluar “rumah” :)
(bersambung...,)
Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 2)
Selamat datang lagi di catatan perjalanan luar biasa saya. Setelah membaca Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 1), ini saatnya mengikuti kisah selanjutnya :)
Cabe Dieng
Trip selanjutnya
adalah sejauh 3 Km dan kami melakukannya dengan berjalan kaki. Selama berjalan,
mata ini serasa tidak ingin berkedip. Pemandangannya, subhanallah, indah
nian. Di sebelah kiri kami berjejer penginapan-penginapan untuk para back
packer dengan beragam variasi di selingi dengan hamparan pohon yang
membentuk hutan. Sedangkan di sebelah kanan kami, puncak-puncak bukit, hamparan
ladang, gagahnya tebing, dan awan yang bergerombol menjadi santapan mata kami
di pagi ini.
Sekitar pukul 7.30
kami tiba di pintu gerbang Situs Wisata Telaga Warna. Sambil menunggu loket
buka, kami singgah sejenak di salah satu warung makan yang sudah buka.
`Warung makan di Dieng
tidak jauh berbeda dengan warteg di Jakarta, hanya saja menunya agak berbeda.
Di warung makan yang kami singgahi ini, sistem makannya prasmanan atau ambil
sendiri dan langsung bayar. Lauknya ada sayur daun singkong dengan kuah santan
yang agak bening, sambal kentang balado, tahu goreng, ikan kembung goreng, ayam
bumbu kuning yang semuanya adalah bagian paha dengan ceker yang masih menyatu,
lalu terakhir ada makanan yang mirip dengan tempe orek tapi bukan tempe orek.
Saat makan, kebanyakan
teman mengambil “tempe orek” yang belum kami ketahui bahwa namanya cabe
dieng. Mungkin karena kenampakannya awam
di Jakarta. Tapi, ternyata ada yang berbeda. “Tempe orek” ala Dieng ini
menggunakan cabai yang ada di Dieng. Rasanya? Pedaaaaaas minta ampun tapi
nikmatnya luar biasa.
Meskipun kenampakannya
sama seperti cabai hijau besar, rasanya lima kali lipat bakhan lebih dari cabai
rawit. Bagi penikmat makanan pedas, cabe dieng adalah makanan yang harus coba
saat ke Dieng. Tapi jangan mencoba Cabe Dieng saat sarapan pagi seperti
rombongan saya.
Oke. Makan pagi dengan
cabe Dieng selesai. Perus sudah cukup kenyang, alhamdulillah. Saatnya
melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna :D
Kenangan Luar Biasa
Bersama Kaki yang Berubah Warna ^_^
Inilah waktunya
memanjakan mata lagi. Melangkah dengan penuh kekaguman pada-Nya lagi. Dan
menasbihkan puja-puji pada mahakarya-Nya berkali-kali lagi.
Semak-semak yang
tumbuh rendah dengan bebungaan menyambut kedatangan kami. Beberapa meter dari
pintu masuk loket, kubangan air dengan warna toska terhampar membuat setiap
dari kami yang ada di sana berseru memuja Allah. Telaga Warna terbentang di
depan mata, dikelilingi lumpur yang menggempur, batang-batang pohon yang
menjuntai ke tanah, dan semak yang menghijau indah. Telaga Warna masih sepi. Jadi, kami masih
bisa berpose sepuasnya dengan angel apa saja.
Sesi foto-foto pertama
di Telaga Warna selesai. Saatnya berjalan mengunjungi bagian lain dari Telaga
Warna. Saat mata ini tak ingin berpaling dari hamparan mahakarya-Nya, tiba-tiba
salah seorang teman kampus mengirim sms.
“Lis, sibuk gak?
Mau tanya dong, tentang sesi sharing guru dan orangtua di SEOC itu bagaimana
maksudnya? Ada usulan tema?”
Duh, pertanyaan dalam
sms ini membuat saya perlu berpikir. Tapi, saya tetap membalas smsnya sejenak.
“Sharing biasa
tentang kendala orangtua ABK di rumah yang bisa dibantu oleh guru. Temanya yang
simpel aja Sinergitas Guru dan Orangtua dalam Mendidik ABK. Bagaimana? Paham
gak?”
“Itu maksudnya gimana?
Bisa jelasin gak?”
Saya membaca smsnya
tapi belum mau membalasnya. Jadi, saya taruh hape saya dan memilih melanjutkan
menikmati pemandangan Telaga Warna. Saya dan teman-teman menuruni semak-semak
dan berjalan di atas tanah gembur untuk melihat Telaga Warna dari jarak yang
lebih dekat. Lalu, sebuah sms masuk lagi.
“Liiisss. Pliiissss
bantu gue. 10 menit lagi gue harus ketemu kepsek SLB :(”
Sms itu membuat saya
tidak berpikir panjang. Saat itu juga saya menekan tombol call dan
langsung menelepon teman saya. Karena tidak mau kehilangan kesempatan
menelusuri setiap sudut Telaga Warna, sambil menjelaskan lewat hape, saya tetap
terus berjalan dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Telaga Warna. Lalu,
tiba-tiba…, jlep! Kaki kiri saya tidak bisa diangkat O,o
Kaki kiri saya kejeblos
ke dalam lumpur Telaga Warna sampai setengah betis. Seketika, saya dan teman-teman
panik. Saat saya berusaha mengangkat kaki kiri saya, ternyata kaki kanan saya
ikutan kejeblos -,-“Alhasil, semakin paniklah, meski sambil cengar
cengir melihat kaki saya yang mendem.
Saat itu, saya lupa
menutup telepon. Di ujung sana, terdengar suara teman saya yang turut kebingungan
dan panik, “Lis, lo gak kenapa-kenapa kan? Lis…, Liiis.” Klik. Telepon
saya tutup. Saya malu, sekaligus bingung >,<
Tolong menolong dalam kejeblosan. Sudah kejeblos masih sempat ketawa aja :D
Di sinilah terdapat sesi tolong menolong yang sangat dramatis.
Kakek dan Rizki mencari
bala bantuan, mengumpulkan ranting dan dedaunan kering sebagai pijakan saya.
Sari memegangi tas saya, Erni, Kak Firdha, dan Ajeng bergotong royong menarik
saya dari kubangan lumpur, sedangkan Mbah Lina aktif memotret kepanikan kami
-,-“
Alhamdulillah, beberapa menit kemudian Kakek dan Rizki
membawa ranting pohon dengan daun kering yang banyak dan datang bersama dua
orang sepuh yang terbiasa dengan medan Telaga Warna. Kedua kaki saya berhasil
keluar dari tanah Telaga Warna yang gembur. Alhasil, warna kaos kaki saya yang
ungu muda jadi hijau kehitaman dan berbau sulfur. Gamis saya yang senada dengan
air Telaga Warna menjadi belepotan lumpur. Terakhir, sandal gunung yang
baru saya beli tidak jelas lagi warnanya :P
Sandal baru yang penuh lumpur. Tetap semangat, meski belepotan lumpur ^_^
Well, kami memutuskan
berbalik arah ke loket. Saya sendirian menuju toilet untuk membersihkan lumpur
di baju, kaos kaki, dan sandal. Saat saya membersihkan lumpur, yang lain asik
banget foto-foto, angel-nya bagus-bagus pula >,<
Sekitar lima belas
menit saya bersih-bersih. Baju saya sudah tidak berbau sulfur lagi meski bagian
bawah gamis saya sudah tidak jelas warnanya. Sandal saya juga sudah kembali
“baru”. Saatnya melanjutkan perjalanan kami :D
Gua-Gua Misterius
Kami langsung berjalan
mengikuti jalur yang sudah ada. Di kawasan Telaga Warna ini ada banyak gua-gua
kecil yang ditandai dengan pendopo-pendopo kecil berwarna hijau di depannya.
Beberapa gua ini sepertinya sedang digunakan untuk bertapa oleh penduduk. Ini
ditandai dengan banyaknya bunga di sekitar gua dan sepanjang pintu masuk gua.
Yup. Dieng masing
kental dengan kepercayaan dinamismenya. Contohnya, di perjalanan menuju Telaga
Warna ini kami menemukan banyak janur kuning melengkung, padahal tidak ada
prosesi pernikahan. Dan, ternyata janur-janur ini ada juga di beberapa gua yang
kami lewati.
Di depan gua-gua kecil
ini biasanya ada patung-patung dewa-dewi atau tokoh perwayangan Jawa. Saya
tidak hapal apa saja nama-nama gua yang ada di kawasan Telaga Warna. Hanya satu
yang saya ingin, Gua Pengantin atau Couple Cave. Saya ingat nama gua ini
karena namanya terpampang sangat jelas dibandingkan gua yang lainnya. Selain
itu, hehe, saya juga punya doa di tempat ini, semoga saya datang lagi untuk
kedua kalinya dengan pengantin saya. #ups ;)
Pohon Horisontal
dan Manusia Pohon Dadakan :P
Lanjut. Semua gua-gua
misterius di kawasan Telaga Warna sudah kami telusuri. Matahari Dataran Tinggi
Dieng sudah merangkak naik. Cuacanya hangat, tapi kelembapannya tinggi. Jadi,
udara di sini tetap terasa dingin meski matahari sudah membelakak. Kami
melanjutkan perjalanan ke arah yang berlawanan menelusuri jalur yang sudah ada
dan mulai bertemu dengan banyak back packer lainnya atau keluarga yang
sedang berliburan di sini, bahkan kami sempat bertemu dengan back packer
yang satu mini bus dengan kami tadi Subuh.
Hehe, teori Darwin
seperti terbukti di sini. Satu per satu dari kami langsung memanjat pohon
horisontal ini. Padahal, kalau di Jakarta pasti bakalan takut manjat.
Padang Ilalang dan Naluri
Narsis yang Kelewatan :d
Kami melanjutkan
perjalanan lagi. Tereeeng! Tibalah kami di kejutan kesekian dari sekian banyak
kejutan yang dihadirkan Telaga Warna. Kami tiba di padang ilalang yang sangat
luas. Jujur, saat tiba di padang ilalang ini, saya seperti berada dalam location
setting sebuah film Bollywood atau film koboi Amerika :)
Seperti biasa. Namanya
juga anak kota, jarang-jarang nemu padang ilalang di Jakarta, kami semua
serempak menurunkan ransel dan siap mengambil posisi untuk berpose. Saya
sendiri sampai bingung, kayaknya hasrat narsis di sini sudah di ranah tidak
sadar. Jadi, kalau melihat ada lahan kosong untuk narsis, gestur tubuh refleks
ambil posisi di depan kamera :D
Olraig. Sementara kami
ambil posisi terbaik di antara ilalang yang mencoklat, Kakek ambil posisi
menempatkan three pot kamera agar kami semua bisa kebagian tempat
bersamaan. Belum puas foto bersamaan, kami semua akhirnya foto satu satu di
padang ilalang ini. Semuanya sibuk mencari pose terbaik mereka ^^
Telaga Kedua yang
Tak Diduga
Selesai bernarsis ria
di padang ilalang, kami melanjutkan langkah. Berjalan ke tempat yang tidak kami
ketahui, kecuali Rizki dan Allah yang tahu saat itu. Tiba-tiba kubangan air
yang luas terbentang di depan kami. Inilah telaga kedua yang kami jumpai di
kawasan Telaga Warna, yang menjadi kejutan kesekian di antara banyak kejutan
yang tak pernah kami bayangkan. Namanya Telaga Balai Kambang.
Bersama kembaran saya ^_^
Telaga Balai Kambang –menurut
saya– adalah tempat sangat romantis. Airnya jernih, masih ada serpihan ilalang
kering di sekelilingnya. Dikelilingi tebing yang menghijau dan sihiasi
gerombolan burungyang terbang rendah di atas air. Semuanya subhanallah indahnya.
Sejauh langkah ini berpijak, semakin banyak tasbih dan syukur terucap pada
Rabbi. Subhanallah. Indah niah negeri ini. Terima kasih Allah, atas
nikmat yang Kau berikan pada Indonesia :’)
Nonton Teater a.k.a
Tidur Siang Bareng

Matahari sudah
meninggi. Kawasan Telaga Warna sudah kami telusuri. Sebelum kami pulang, kami
memutuskan untuk berkunjung ke Dieng Plateau Theater (Teater Dataran
Tinggi Dieng). Letak teater ini menanjak ke atas. Untuk mencapai teater, kami
harus menaiki puluhan anak tangga hingga ke atas.
Di teater ini kami
disajikan video edukasi yang menceritakan sejarah terbentuknya Dataran Tinggi
Dieng. Ternyata, Dataran Tinggi Dieng berasal dari letusan satu gunung yang
sangat besar hingga dataran tinggi ini dikelilingi puncak-puncak gunung.
Melalui video ini juga Kami akan tahu kapan waktu-waktu menyenangkan saat ke
Dieng. Misalnya, kondisi terekstrem di Dieng adalah saat bulan Juni-Agustus.
Saat bulan-bulan ini, suhu bisa di bawah 0o C, bahkan embun di pagi
hari bisa membeku karena sangat dingin.
Tapi, sebagaimana
subjudul bagian ini. Ternyata banyak teman-teman saya bukannya menonton,
melainkan malah tidur. Jadilah acara menjelang siang itu bukan nonton teater
bareng, tapi tidur siang bareng -,-“
Saat keluar dari pintu teater, salah satu berseru, “Tadi aku gak nonton, tapi tidur. Habisnya capek banget.” Satu orang berseru demikan, ternyata yang lain menyusul dengan satu jawaban, “Sama.” Ckck
Lalu, dengan datarnya Rizki berkata, “Kok pada tidur. Filmnya bagus banget loh.”
“Bagus sih, tapi gak bagus ditonton pas lagi capek. Apalagi instrumennya pas banget buat tidur.” Sahut salah satu di antara kami, saya lupa siapa yang bilang begini.
Sesi foto-foto sebelum "tidur siang bersama"
Oke. Acara nonton
teater bersama eh maksudnya acara tidur siang bersama selesai :P
Eh, ada satu oleh-oleh lagi. Saat kami berjalan lagi kurang lebih 3 Km menuju penginapan, kami berbarengan dengan anak-anak yang pulang sekolah. Anak-anaknya kecil-kecil, imut-imut, dengan pipi yang merah-merah. Karena geregetan, kami memutuskan untuk berfoto dulu dengan sekumpulan anak sekolah yang sedang berjalan pulang ^_^
(bersambung…,)
Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 1)
Bismillahirrahmanirrahim
Ratna mutu manikam, bagai mutiara yang
bertebaran. Itulah kalimat yang layak untuk Tanah Air tercinta. Indonesia, Bumi
Pertiwi tercinta ini adalah secuil
tepian surga yang dengan sengaja Allah turunkan ke bumi.
Sebuah Pengantar
Ada banyak cara untuk
mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita, anak-anak Pertiwi. Pun itu
dengan banyak cara untuk mengenal dan mencitai Indonesia. Saya punya dua cara
indah yang dapat membuat saya lebih mengenal dan mencintai Indonesia. Dua cara
itu, saya sebut sebagai “dua tanjakan cinta”, yang semakin saya menanjaki
keduanya, semakin saya memahami arti dari setiap langkah yang saya tempa.
Sastra dan petualangan, inilah dua cara indah yang saya lakukan untuk belajar
mencintai Tanah Air ini.
Sastra, untaian
kata-kata indah dan bermakna sedalam samudera selalu mampu menghipnotis saya.
Ia dapat membawa saya pada ranah imajinasi senyata mungkin, membayangkan
hamparan tanah dan lautan yang Allah ciptakan sebagai tempat saya berpijak,
mahacantiknya Indonesia.
Petualangan,
serangkaian perjalanan luar biasa dari langkah-langkah kecil dengan kemauan
besar. Berkunjung ke museum, ke hutan-hutan di kaki gunung, hiking ke bukit,
pendakian ke gunung-gunung gagah dengan ribuan mdpl (meter di atas permukaan
laut), dan membelah lautan adalah jejak-jejak “nekad” yang selalu memberikan
kejutan tak terduga di setiap persimpangan jalan.
Petualangan, bagi
saya, ke mana pun itu selalu memberikan kenangan luar biasa berkuadrat tak terhingga.
Karena setiap perjalanan selalu memberikan saya sebuah pelajaran baru tentang
arti sebuah persaudaraan, kehidupan, mimpi, dan perjuangan.
Sehubungan dengan cara
kedua, satu punya satu cerita yang ingin saya bagi kepada teman-teman semua
tentang sebuah perjalanan luar biasa yang saya lakukan satu bulan lalu.
Ekspedisi Negeri di
Atas Awan, begitulah saya menyebut petualangan ini. Ekspedisi ini saya lakukan
bersama dengan tujuh manusia yang tak kalah anehnya dengan saya. Mereka
adalah empat teman super unik dari
Kompas Khatulistiwa dan tiga sahabat saya yang super ajaib.
Kak Firdha. She is the unic AB. Teman facebook yang
bertemu di KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) ini bergolongan darah AB.
Wanita bergaya pakaian amat sangat feminin ini ternyata juga penikmat
travelling.
Ajeng. Mahasiswi Komunikasi UI yang seumuran dengan
saya, selain feminin dan paling lembut di antara wanita aneh yang ada di antara
kami, Ajeng juga selalu yang paling lebar senyumnya setiap bernarsis ria di
depan kamera.
Sari. Mahasiswi Komunikasi UI, teman sekelasnya
Ajeng. Meski jarang ngobrol dengan Sari, saya suka logatnya yang sangat
Sumatera. Sangat senang juga saat keturunan Aceh ini bercertita tentang kampung
halamannya.
Rizki. He is The Master. Bukan The Master Magician, tapi masternya travelling
di antara kami. Semua itu tidak luput dari latar belakang Rizki yang seorang
mahasiswa Arkeologi UI dan punya antusiasme tinggi untuk memperkenalkan
kekayaan alam Indonesia kepada pemuda-pemuda Indonesia.
Mbah Lina. Siapa lagi kalau bukan salah satu sahabat saya
yang ngomporin saya untuk ikut ke ekspedisi ini. Padahal saat itu keuangan
saya sedang kritis. Tapi kalau sudah sama dia, tenang saja, tidak usah takut
kekurangan ongkos. Kan Si Mbah bos Kami. Hehe.
Erny. Ini kembaran saya, kata orang-orang. Satu
spesies dengan saya, hijabers dan bergamis tapi interest dengan kegiatan
yang memicu adrenalin. Hijabers yang suka ngetrek ini sahabat saya,
sahabatnya Mbah Lina juga.
Terakhir, Kakek
Tiro. Kakek-kakek yang selalu mengaku masih muda ini adalah kakek saya,
Mbah Lina, dan Erny. Kakeklah yang akan melindungi kami selaku cucu-cucunya
selama ekspedisi ini. Kakek juga yang bertugas mengobati penyakit narsis kami
dengan kameranya. Selama ekspedisi, kakek adalah fotografer terbaik sedunia.
Secara, hanya kakek yang mau memotret rombongan kami.
Jumat 15 November
2012, Terminal Lebak Bulus
Schedule yang saya terima sebelum malam keberangkatan
memberitahukan bahwa pukul 14.00 kami akan berangkat ke Wonosobo dari Terminal
Lebak Bulus. Jadi, saya mem-planning harus tiba di Lebak Bulus maksimal
pukul 13.30. Ternyata, kondisi lalu lintas Jakarta-Ciputat hari itu sangat
mendukung saya. Pukul 12.05 saya berangkat dari Tanah Abang menuju Lebak Bulus
dengan bantuan Metro Mini 102 dan tiba di Lebak Bulus pukul 13.15.
Hujan. Lagi-lagi,
setiap ingin bepergian jauh, hujan selalu mengantarkan saya. Seakan hujan
hendak berkata, “Semoga berkah perjalananmu, wahai makhluk yang disayangi Allah.”
Pukul 13.15 saya
berdiri sendirian di depan warung-warung yang berjejer sepanjang terminal.
Kakek dan sua sahabat saya ternyata masih membeli sejumlah bekal di mini market
daerah Ciputat. Jadi, sambil menikmati denting air yang jatuh dan beradu dengan
keramaian terminal, saya menunggu mereka di pinggir jalan.
Pukul 13.45. Tiga
orang super rempong itu belum juga datang. Mereka terjebak macet di
lampu merah Point Square. Ternyata mereka naik taksi dari Ciputat. Padahal
kalau naik angkot dan turun di pasar Jumat, lalu jalan kaki tiga menit ke Lebak
Buluk itu jauh lebih cepat. Eh, namanya juga super rempong, pasti yang
dipilih yang rempong-rempong. #eh
Pukul 13.50 saya
menelepon Kak Firdha yang berdasarkan kabar dari Kakek sudah tiba di bus.
Alhasil, saya memutuskan masuk terminal dan meninggalkan tiga orang yang sedang
terjebak macet itu. Pukul 14.00 setelah dijemput oleh Rizki, saya tiba di bus.
Di bus sudah ada Ajeng, Sari, dan Kak Firdha. Kami berbincang sedikit, hingga
tiga orang rempong dari Ciputat datang lima belas menit kemudian.
Eng ing eng. Sudah jam
14.15 tapi bus belum juga berangkat. Tiba-tiba Rizki yang sempat menghilang
datang dan bilang, “Kami jalan jam 5 ya.”
“Kok jam 5? Lama
amat?” satu per satu dari kami kaget dan langsung protes.
“Kata sopirnya juga
jalan jam 5. Kan busnya belum isi,” kata Rizki sambil membetulkan rambut
gondrongnya. Mendengar kabar itu semuanya kompak memasang wajah bete sambil
berpikir apa yang akan Kami lakukan selama hampir dua jam menunggu? Baca novel?
Ngeliatin orang? Melongo ke jendela? Atau tidur?
It’s Time to Go!
Dieng, We are Coming!
Pukul 17.00 datang
juga. Roda bus Jakarta-Wonosobo yang kami tumpangi akhirnya berputar membawa
kami, delapan anak kota yang tak sabar ingin melihat sunrise dari balik Dataran
Tinggi Dieng.
Sepanjang perjalanan,
kami berbincang satu sama lain. Berhubung saya, Erny, dan Kak Firdha duduk
dalam satu bangku, jadi selama perjalanan kami asik membicarakan masa depan
KOPAJA hingga mata kami sama-sama terpejam. SeKamir pukul 20.00 bus yang kami
naiki tiba di rumah makan, tempat singgah untuk shalat, buang air, dan membeli
makan malam.
Bus melaju lagi. Perut
sudah kenyang, muka sudah segar karena air wudhu, tapi mata tetap minta untuk
dipejamkan. Alhasil, saya tidur. Sementara di samping saya, Erny, masih asik
baca novel dengan penerangan seadanya dari senter yang dibawa.
Sabtu, 16 November 2012
Selamat Pagi, Wonosobo! Selamat Pagi, Sunrise Dieng!
Sebelum matahari
Wonosono terbit, mata kami perlahan terjaga. Meski kami tidak janjian untuk
bangun di jam yang sama, uniknya kami bangun di jam yang hampir sama –sepertinya
setiap perjalanan memang selalu mengikat hubungan antarpelaku perjalanan. Pukul
4.15 waktu Wonosobo kami turun di Plasa, sebuah pertigaan jalan yang dihiasi
sebuah tugu besar yang ada di tengah taman.
Di Plasa, Wonosobo
Setelah bernarsis ria
beberapa jepretan, kami melanjutkan perjalanan dengan sebuah mini bus ke arah
Dieng. Di mini bus ini, penampilan penduduk setempat terlihat sangat berbeda
dari kami. Mereka menggunakan jaket, penutup kepala, dan syal yang terlilit di
leher mereka.
“Di atas nanti dingin.
Pipi penduduk aslinya malah sampai pada merah-merah karena kedinginan,” Rizki
yang menjadi orang serba tahu memberikan informasi. Kami yang tidak tahu
apa-apa kompak berkoor O-.
Mini bus subuh itu
penuh dengan pemuda-pemudi dengan tas-tas besar. Kami dan seluruh penumpang
mini bus ini satu tujuan. Kami sama-sama back packer yang hendak melancong
ke Dieng, menikmati mahakarya Allah di Negeri di Atas Awan.
Oh iya, di dalam mini
bus ini, amat sangat rugi kalau tidur. Kenapa? Karena dari balik kaca mini bus
terhampar pemandangan luar biasa langka yang tidak akan bisa ditemukan di
Jakarta. Tebing-tebing batu coklat muda
dan kuning gading berdiri tegap bersisian dengan rumah-rumah warga dan disinari
sercahan cahaya matahari yang baru terbangun. Subhanallah, mahaindah ^_^
Muka kucel saat di mini bus menuju Dieng
Kurang lebih pukul
5.20 kami tiba di Dieng. Kami mencari masjid terdekat untuk salat Subuh. Di
Masjid Baiturrahmah ini kami beristirahat untuk pertama kalinya. Di sini kami
juga bertemu dengan back packer lainnya yang semuanya pria. Nah, di
sinilah uniknya, kami sesama back packer selalu bertegur sapa, yang lelaki
saling berjabat tangan, berkenalan, dan menanyakan asal masing-masing. Setiap
travelling, pasti momen seperti ini selalu terjadi. Kami, sesama treveller
atau back packer serasa seperti keluarga yang disatukan oleh alam :)
Bbrrrr. Berwudu di masjid
Baiturrahmah serasa tidak menggunakan air, tapi es. Airnya sangat dingin,
bahkan lebih dingin dari air di Ciater saat Subuh. Tapi, rasa dingin ini serasa
hilang ketika mata ini mengintip ke balik pagar dan memutar pandangan,
menikmati hamparan ladang sayur mayur yang bersebelahan dengan masjid.
Selesai salat, kami
sarapan seadanya dengan bekal yang masih ada di ransel. Eits, seperti biasa, di
setiap persinggahan adalah wajib mengabadikan momennya. So, sebelum
keluar dari masjid inilah kali pertama kami mengabadikan ekspedisi ini.
Indahnya masjid Baiturrahmah di tengah bukit-bukit Dieng
Selepas dari masjid,
kami tidak langsung ke penginapan, tapi langsung ke tempat penuh kejutan yang
pertama, Telaga Warna. Perjalanan menuju Telaga Warna kurang lebih 3 Km. Dengan
ransel yang masih menggantung di pundak, kami berjalan beriringan sambil
menikmati hamparan pemandangan yang mahadahsyat.
(bersambung…,)

































