Showing posts with label Ekspedisi Dieng. Show all posts

Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag.4)


Sekali lagi saya ucapkan selamat datang di catatan perjalanan luar biasa di Negeri di Atas Awan. Bagian ini saya jamin adalah bagian paling mengejutkan sekaligus menakjubkan dibandingkandari Bagian 1, Bagian 2, dan Bagian 3. Oke. Tanpa  berlama lagi. Inilah kisah luar biasa yang selalu tersimpan di memori  dan hati saya :)

"Tanpa Titik" hasil jepretan Kakek di Singgasana Matahari


Ahad, 17 Nobvember 2012
Pendakian Ke Singgasana Raja Siang

Saat yang dinantikan pun tiba. Inilah puncak dari tujuan perjalanan kami, pendakian ke singgasana Raja Siang atau pendakian ke puncak Gunung Pakuwaja untuk melihat kegagahan matahari yang  baru terjaga.

Pukul 2.30 waktu Dieng kami semua membuka mata dan bersiap melakukan pendakian ke puncak Gunung Pakuwaja. Di sini, semuanya harus siap fisik dan batin. Maksudnya, siap fisik untuk melangkah lebih jauh lagi di jalanan mendaki, siap batin untuk menyaksikan keindahan mahakarya Allah yang lainnya “dari atas awan” ^_^

Pada pendakian ini,  kami ditemani seorang bapak yang kami panggil Mas Wawan. Karena khawatir kami akan telat mencegat matahari “keluar rumah”, Rizki berinisiatif atau Mas Wawan menawarkan –kurang tahu persisi– dalam perjalanan pendakian kami akan menumpang motor selama jalanan masih bisa ditempuh motor.

Tapi, karena motornya hanya ada satu, jadi kami dicarter dua dua. Kendati dicarter, kami semua tetap  berjalan sejauh kemampuan kami dan sampai Mas Wawan kembali lagi untuk menjemput giliran selanjutnya. Dan, di sesi ini saya bersama kembaran saya, Erny, memperoleh giliran carter paling belakang.

Suasana saat saya dan Erny berjsalan benar-benar gelap. Lampu jalanan hampir tidak ada, kami hanya bermodalkan cahaya senter yang kami bawa. Sedangkan jalanan benar-benar sepi, hanya kami berdua sepanjang jalan. Sebelah kiri kami hutan, sebelah kanan kami ladang dengan bingkai view tebing-tebing dan gunung-gunung tinggi yang terlihat sangat gahar di tengah gelap.

Saat berjalan hanya berdua dengan Erny di tengah gelap, pikiran nyeleneh saya kumat. Um, ini dipengaruhi tontonan saya juga. Masih sambil berzikir dalam hati, saya bertanya pada Erny, “Tebak, apa yang ada di pikiranku sekarang.”

“Gak tau.  Pasti aneh,” jawab Erny, frontal -,-

“Hehe. Mau tau gak?  Tapi jangan takut ya,” saya cengar-cengir.

“Iiih, Lisfa mah. Lagi berduaan nih.” Erny mulai ketakutan :P

“Nih Er, kita kan Cuma berdua nih. Jalanan udah gelap sepi banget lagi. Aku ngebayangin tiba-tiba dari balik semak-semak, dari dalam hutan-hutan itu muncul zombi-zombi kayak di film horor Amerika. Hehe,” saya bercerita sambil cengar-cengir.

“Iiiih, Lisfaaa. Serem banget sih pikiran kamu,” Erny manyun.

“Hehehe…,” saya hanya nyengir, menunjukkan gingsul :D

Setelah mengkhayal yang nyeleneh, saya dan Erny tetap berjalan. Saling mepet dan semakin mengencangkan genggaman tangan karena kedinginan. Saya dan Erny sama-sama diam, tapi hati kami tetap bergemuruh zikir. Hanya suara kibasan gamis yang berpapasan dengan angin yang menjadi pengiring langkah kami, dua perempuan aneh bergamis yang nekad mendaki Gunung Pakuwaja.

Setelah hampir 3 Km, alias ketika saya dan Erny sudah hampir melewati Telaga Warna, Mas Wawan akhirnya datang. Alhamdulillah :)

Saat di perbatasan aspal dengan bebatuan menuju puncak gunung, di sana kami berjumpa dengan banyak pendaki lainnya. Suasana jalan setapak semakin ramai, kami salinng berbagi area pengelihatan menggunakan cahaya senter dan sesama pendaki Gunung Pakuwaja saling bertukar senyum di antara cahaya kuning redup senter. Sejak di posisi inilah kami semua berbaris, mulai membuat langkah menuju satu tempat, Singgasana Raja Siang.

Perjalanan pendakian ini standar. Terus mendaki  atau menurun. Semakin naik oksigen menipis,  udara semakin dingin, dan ujung-ujung jari saya mulai membeku. Di tengah perjalanan, cukup banyak pendaki yang harus berhenti karena sakit.

Dari rombongan kami pun sama, sesekali berhenti, menepi untuk beristirahat untuk minum. Nah, dalam perjalanan naik ini biasanya pendaki harus membawa gula merah.  Sejak saya mengenal dunia pendakian di bangku  SMA,  gula merah memang bawaan wajib setiap ingin mendaki atau caving (menelusuri goa). Gula merah yang mengandung glukosa ini berguna sebagai  bahan bakar utama dalam asimilasi karbon yang hasilnya berupa energi  untuk  tubuh kita. Oleh karena itu, jangan heran kalau di tengah perjalanan banyak pendaki  yang mengemot gula merah ß penjelasan ala farmasis :P

Selayaknya sebuah perjalanan, sejauh apapun jalan yang ditempuh, dan seletih apapun tubuh pasti ada akhir perjalanan yang membayar semua pengorbanan dengan setimpal. Pun itu dengan pendakian kami ke puncak Gunung Pakuwaja ini.

Alhamdulillah, sekitar pukul 5.30 waktu Dieng kami tiba di puncak Gunung Pakuwaja. Ada kejadian menegangkan sekaligus lucu di momen ini. Saat kami sudah berkumpul, tiba-tiba kami merasakan ada yang kurang. Kakek tidak ada di antara kami. KAKEK MENGHILANG!

Saat itu juga kami semua kompak berteriak menyebut nama Kakek. Turun beberapa meter agar suara kami terdengar lebih lantang hingga bawah. Kami semua mulai panik, karena tadi Kakek adalah orang yang berdiri paling depan di antara pendaki yang lain.

Saat kami sedang berteriak memanggil nama Kakek, tiba-tiba Mas Wawan berkata, “Si Yudis nyasar kayaknya.” Sontak kami semua terkejut. Menurut Mas Wawan, tadi beliau melihat Kakek berbelok ke arah yang salah bersama beberapa pendaki lainnya. Mereka sudah dipanggil tapi tidak menengok.

Ekspresi wajah kami dengan cepat berubah, dari panik menjadi semakin panik dan sedih. Tepat saat ekspresi wajah kami berubah, dari bawah, dari semak-semak yang merah, muncul satu sosok kecil berjaket merah tua melambai-lambaikan tangan sambil memegang three pot. KAKEK KEMBALI! :D

“Gila, gue salah belok tadi. Begonya lagi orang di belakang gue ngikutin gue lagi. Hahaha,” Kakek menceracau tak kenal sikon. Padahal kami sudah panik -,-

“Untung kagak ilang. Yuk ke ujung sana. Spot-nya bagus buat ambil gambar,” salah satu dari kami langsung melupakan kepanikan beberapa menit tadi dan langsung beralih ke matahari yang perlahan muncul dari singgasananya.

Saya tidak ikut mereka, tapi duduk sebentar untuk meneguk air, melepas lelah, dan saya langsung menunaikan salat Subuh di tengah padang rumput, menghadap jurang, membelakangi lautan awan dan matahari yang mengintip dari balik singgasananya. Sungguh, momen salat di tempat tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini adalah momen yang paling menggetarkan hati. Saya benar-benar merasakan, betapa mahaindahnya Karya Allah dan betapa kerdilnya diri ini tanpa kuasa Allah. Terima kasih kepada Allah Mahakasih yang telah memperkenankan saya menginjakkan kaki ini di bumi-Nya yang begitu menakjubkan. Jika ciptakaan-Nya saja sudah sangat menakjubkan seperti ini, apalagi wujud yang Menciptakan. Masya Allah. Allahu Akbar.

Setelah salat, saya bergabung dengan yang lainnya. Menikmati mahaindahnya karya  Allah yang Mahaindah. Kalimat subhanallah, tak pernah berhenti terlafazkan di mulut dan di hati. Langkah kaki yang tak mau berhenti, peluh yang membanjir, dan dingin angin yang membekukan jemari terbayar sudah dengan potret matahari terbit dari balik puncak gunung yang berbalut awan.

Matahari yang terbangun dari balik selimut awan di Negeri di Atas Awan

Kurang dari sepuluh menit, matahari sudah merangkak dari titik terindahnya di balik gunung dan awan yang menghampar. Aih, bayangkan, perjalanan mendaki ini ternyata hanya untuk sebuah “pertunjukan alam” yang berlangsung kurang dari 10 menit! Ckck. Betapa “gila”-nya kami para pendaki yang rela berlelah-lelah melangkah hanya untuk dibayar dengan fenomena yang terjadi kurang dari 10 menit :)

Ya, memang beginilah esensi dari sebuah perjalanan dan petualangan. Perjalanan yang panjang dan berlelah-lelah ini memang hanya untuk sebuah “pertunjukan alam” berdurasi kurang dari 10 menit. Tapi percayalah, kejadian kurang dari 10 menit di puncak Gunung Pakuwaja ini mempunyai nilai seumur hidup. 

Ketika tak ada mata yang ingin berpaling dari mahakarya-Nya. Subhanallah 

Kenangan di atas puncak Gunung Pakuwaja ini sejatinya tidak berusia kurang dari 10 menit, tapi berusia abadi di dalam memori. Menyaksikkan “pertunjukan alam” ini bisa menjadi sebuah cerita dan kenangan indah yang bisa saya wariskan kepada kalian yang membaca tulisan ini, kepada suami saya kelak, bahkan kepada anak-anak dan cucu-cucu saya suatu saat nanti :’)

Karena saya yakin, Allah tidak pernah menciptakan hal yang sia-sia. Pun itu dengan pengalaman yang terjadi kepada saya. Maka setiap pengalam adalah berarti dan memiliki misteri, sekalipun pengalaman itu buruk dan menyakitkan, apalagi kalau pengalamannya seindah ini ^_^

Sepuluh menit yang abadi di memori telah selesai dilewati. Ini saatnya kami turun melewati jalur berbeda untuk melihat apa yng disebut “Pakuwaja”, sebuah batu panjang yang sangat panjang, yang tertancap dari lembah terendah di Dataran Tinggi Dieng hingga menulang tinggi di antara tebing-tebing Gunung Pakuwaja.

Beristirahat di tengah penurunan Gunung Pakuwaja

Selama perjalanan turun, kanan dan kiri kami semuanya putih. Kabut mulai turun, saya pribadi merasakan sensasi seperti berjalan menelusuri awan. Sungguh semua letih hilang seketika seiring dengan mata yang selalu terperangah dengan indahnya mahakarya Allah swt ;)

Bersama dua sahabat. Menafakuri nikmat dan memanjatkan mimpi-mimpi di bibir tebing Gunug Pakuwaja

Saat perjalanan pulang ini, kami juga menyaksikkan kebun-kebun dan ladang sayur penduduk Dieng. Alih-alih di Jakarta hampir tidak ada kebun atau ladang sayur mayur, kami malah “menjarah” kebun orang sebagai objek berfoto ^^























"Menjarah" kebun penduduk sebagai view narsis

Di tengah perjalanan pun kami menemukan orang-orangan sawah. Saya dan kembaran saya yang sudah “menandai” orang-orangan sawah itu sejak mendaki juga tidak mau ketinggalan momen berfoto dengan orang-orangan sawah :D


Perjalanan turun ini kami lanjutkan ke Kawah Sikidang.  Sebuah Kawah yang terbentuk juga karena letusan gunung yang membentuk Dataran Tinggi Dieng. Di Negeri di Atas Awan ini, kami seperti tidak mengenal lelah. Langkah ini tidak pernah mau berhenti, mata ini tidak pernah beralih dari keindahan yang terhampar di kanan kiri dan di atas kami.


Hampir pukul 10.00 waktu Dieng, kami memutuskan kembali ke penginapan. Sebelum ke penginapan, kami  memutuskan untuk makan karena sedari mendaki, kami  memang belum memakan sesuap  nasi. Hanya biskuit dan gula merah yang mengganjal perut kami :)

Menu makan pagi yang terlalu siang ini tidak jauh beda dengan makanan di Jakarta. Ada sate, soto, sup, ayam bakar, daln lain-lain. Tapi, yang membuat beda adalah purwaceng, minuman tradisional khas Dieng yang bisa memberikan rasa hangat dan memulihkan stamina. Rasanya, nikmaaaat sekali. Subhanallah enaknya :9 (ini selera saya, karena menurut Erny, purwaceng tidak enak)

Waktunya kembali ke penginapan. Kami  semua membersihkan badan, sedikit beristirahat, dan menyiapkan kepulangan kami ke Jakarta ba’da zuhur.

Huaa. Rasanya tidak ingin balik ke Jakarta. Saya masih ingin berlama-lama di Negeri di Atas Awan ini. Saya ingin lebih lama lagi terperangah oleh keindahan alam ciptaan Allah yang Mahasempurna. Kalau boleh, ingin rasanya membawa sepotong Dieng untuk saya bawa pulang dan saya taruh di Jakarta. Agar orang-oarang di Jakarta yang sok sibuk dengan aktivitasnya bisa tahu bahwa ada tepian surga yang terjatuh di bumi Allah, agar semakin banyak yang tahu bahwa Indonesia luar biasa.

Sungguh, ini adalah perjalanan luar biasa bersama teman-teman yang luar biasa ajaib. Kenangan ini akan selalu saya kenang, Seperti yang saya tuliskan di atas, kenangan ini akan menjadi cerita di masa depan,  untuk kalian pemuda-pemudi yang katanya orang Indonesia,  untuk suami saya, anak-anak saya, dan cucu-cucu  saya.

Saya di mata kamera Kakek
This is the most my favorite picture :)

Terima kasih banyak kepada Allah swt.  yang telah Memberikan saya kesempatan untuk bisa melangkahkan kaki ini ke bagian-bagian bumi-Mu yang indah. Terima kasih juga atas naluri yang Engkau sisipkan di diri ini untuk menjadi wanita biasa yang senantiasa ingin tahu dan ingin bergerak menelusuri bagian bumi-Mu yang selalu memesona.

Terima kasih kepada orang tua saya yang  selalu memercayai saya untuk menempuh pilihan saya. Terima kasih kepada sahabat-sabahabat saya yang ternyata punya “keanehan” yang sama dengan  saya, yaitu berpetualang ke bagian bumi Allah yang berbeda. Terima kasih kepada teman-teman Kompas Khatulistiwa atas penngalaman luar biasa yang tak terlupa. Save culture, save nature, in “our” adventure!

Semoga Allah terus memercayai kita untuk membuka mata, menangguhkan langkah, dan menguatkan niat untuk terus menelusuri Karya-Nya yang Mahasempurna :’)

-Belum  Selesai-
(Karena ada banyak lagi kisah petualangan luar biasa yang masih menjadi  rahasia-Nya)
04 January 2013
Posted by Lisfatul Fatinah

Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag.3)

Selamat datang kembali di kisah Ekspedisi Negeri di Atas Awan. Setelah menikmati kejutan-kejutan di Bagian 1 dan Bagian 2, ini saatnya menikmati kejutan lainnya di Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 3)




 Alhamdulillah, kami akhirnya bisa beristirahat selama waktu Salat Jumat. Semuanya sudah bersih-bersih, sudah wangi. Ini waktunya melanjutkan petualangan, menelusuri tiap  lini di Negeri di Atas Awan :)

Sekitar pukul 14.00 waktu Dieng, kami berkumpul untuk melanjutkan perjalanan ke tempat penuh kejutan yang lainnya.  Sebelum ke tempat mahaindah selanjutnya, kami singgah di warung makan untuk mengisi perut.

Berburu Mie Ongklok

Di Dieng, salah satu makanan khasnya adalah mie ongklok. Serasa tidak afdhol kalau ke Dieng tidak makan mie ongklok. Maka, siang ini kami memutuskan untuk berburumie ongklok untuk memanjakan perut yang sedari tadi keroncongan. Di salah satu warung kecil di tengah perjalanan kami memutuskan berhenti menikmati mie ongklok yang kami cari.

Mie ongklok ini makanan yang mirip bakmi. Bedanya mie yang digunakan untuk me ongklok sama seperti mie yang biasa digunakan untuk soto mie di Jakarta. Bumbu yang digunakan juga beda, sepertinya memang dari rempah-rempah khas Dieng, karena rasa rempah-rempahnya khas sekali dan tidak pernah saya temui di Jakarta.

Mie ongklok disiram dengan kuah kental yang baunya khas sekali, mirip bau kayu. Mie ongklok ini ditaburi tahu dan makan menggunakan abon cabai juga kecap. Rasanya? Nikmat, alhamdulillah. Cocok dimakan di Dieng yang cuacanya dingin :)

Alien yang Tersesat di Dieng

Di pertengahan makan siang, tiba-tiba langit Dieng berubah kelabu. Satu satu titik hujan jatuh dan bergerombol menyerbu tanah Negeri di Atas Awan. The Rain is come ^_^

Meski hujan datang, tapi perjalanan kami tak boleh terhenti. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Belum separuh jalan, azan Ashar berkumandang. Saya dan teman-teman singgah di mushalah kecil untuk salat Ashar. Sekaligus berteduh karena hujan semakin deras.

Selesai salat Ashar, ternyata hujan belum juga reda. Actually, kami harus mengenakan jas hujan agar bisa melanjutkan perjalanan. Maka, semua manusia ajaib ini mengenakan kostum ajaib yang membuat kami semakin ajaib :P

Satu satu dari kami menggunakan jas hujan dengan warna yang beragam. Kami berjalan bergerombol, kadang membentuk barisan di pinggir jalan. Kalau dilihat-lihat, kenampakan kami persis  seperti alien di film-film. Lebih persis seperti tokoh Jadu di film Bollywood Koi Mil Gaya. Dan, sekali lagi hasrat narsis dengan kostum alien ini menyeruak :D


Komplek Candi Arjuna, Tanda Cinta-Nya pada Indonesia

Inilah tujuan kami sore ini, Komplek Candi Arjuna. Sebuah komplek candi yang terdiri dari berbagai macam candi. Di sini ada empat candi utama dengan masing-masing candi memiliki satu candi pendamping –kalau tidak salah begitu menurut penjelasan Rizki The Master. Ada Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Putradewa, dan Candi Sembadra.


Di Komplek Candi Arjuna ini hanya satu hal yang ada di benak saya. Betapa besar karunia Allah kepada Indonesia. Seakan semua keindahan dan kekayaan alam tumpah di negeri ini. Selama kurang dari duabelas jam terakhir ini, mata saya menyaksikan langsung mahaindahnya Indonesia, Sang Mahakarya Allah yang ada di bumi-Nya. Ditambah dengan keberadaan candi-candi yang ada di sekitar saya, sebuah keindahan dan kekayaan budaya dan keberagaman di tengah dominannya Muslim di Tanah Air tercinta. Sungguh, kemegahan Masjid  Baiturrahman dan gagahnya candi-candi di Komplek Candi Arjuna menjadi kekayaan langka yang hampir tak ada di belahan bumi Allah lainnya. Ini patut kita syukuri bersama. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah :’)

Buto, Dedemit yang Jadi “Rebutan”

Saat kami sedang asik menikmati kegagahan batu-batu yang membentuk candi-candi, tiba-tiba mata kami beralih pada sekumpulan orang berkostum mencolok. Mereka adalah sekumpulan penduduk asli Dieng yang mengenakan kostum tokoh perwayangan. Di antaranya ada Gatot Kaca dan beberapa Buto, si dedemit yang peling menarik perhatian.


Kostum Buto sangat menakutkan. Saya sendiri deg-degan saat dekat dengan para Buto. Tapi, debaran jantung ini terkalahkan dengan hasrat ingin tahu dan narsis yang begitu besar. Alhasil, para wanita di rombongan yang takut-takut tapi mau, berhasil mengalahkan rasa takut kepada Buto demi mengabadikan momen indah yang belum tentu bisa dirasakan di lain kesempatan. Ya, Buto pun jadi rebutan :P

Alhamdulillah, waktu Maghrib tiba. Semburat jingga yang terbentang di balik gumpalan awan menandakan senja telah singgah. Perjalanan menelusuri Komplek Candi Arjuna kami berakhir di warung makan kecil. Di sini kami menghangatkan badan dengan makanan dan minuman yang tersedia di warung. Saya sendiri memilih makan jagung bakar pedas dan minum cappucino panas untuk menghilangkan dingin. Tidak lupa juga membeli syal ungu sebagai pengurang dingin.



Malam, Hujan, dan Pick Up

Senja sudah pulang ke bumi Allah lainnya. Kini malam menemani siapa saja yang ada di Negeri di Atas Awan ini. Ulala, hujan ternyata tidak ingin berhenti. Seakan ia ingin berkata kepada kami, “Ayo, aku temani kamu malam ini :)”


Meski hujan semakin deras, kami harus segera kembali ke penginapan. Khawatir hari semakin gelap dan kami malah tidak bisa pulang. Well, kami memutuskan menerobos hujan.

Sudah hampir 50 meter kami berjalan. Tiba-tiba cahaya mobil mengejutkan langkah kami. Saat itu saya berjalan paling depan tanpa tahu ternyata teman-teman saya yang beberapa meter ada di belakang saya menghilang. O, mereka menumpang mobil pick up yang searah dengan kami. Saya pun turut naik ke mobil pick up. Jadilah, perjalanan pulang yang penuh kejutan ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan ^^



Alhamdulillah, kami tiba di penginapan. Saatnya makan malam dan beristirahat. Karena besok akan menjadi hari yang paling luar biasa  selama di Negeri di Atas Awan. Besok, sebelum matahari terjaga kami harus terjaga dan berlomba-lomba mengampiri “rumah” matahari untuk mencegatnya sebelum keluar “rumah” :)

(bersambung...,)


Posted by Lisfatul Fatinah

Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 2)


Selamat datang lagi di catatan perjalanan luar biasa saya. Setelah membaca Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 1), ini saatnya mengikuti kisah selanjutnya :)




Cabe Dieng

Trip selanjutnya adalah sejauh 3 Km dan kami melakukannya dengan berjalan kaki. Selama berjalan, mata ini serasa tidak ingin berkedip. Pemandangannya, subhanallah, indah nian. Di sebelah kiri kami berjejer penginapan-penginapan untuk para back packer dengan beragam variasi di selingi dengan hamparan pohon yang membentuk hutan. Sedangkan di sebelah kanan kami, puncak-puncak bukit, hamparan ladang, gagahnya tebing, dan awan yang bergerombol menjadi santapan mata kami di pagi ini.

Sekitar pukul 7.30 kami tiba di pintu gerbang Situs Wisata Telaga Warna. Sambil menunggu loket buka, kami singgah sejenak di salah satu warung makan yang sudah buka.

`Warung makan di Dieng tidak jauh berbeda dengan warteg di Jakarta, hanya saja menunya agak berbeda. Di warung makan yang kami singgahi ini, sistem makannya prasmanan atau ambil sendiri dan langsung bayar. Lauknya ada sayur daun singkong dengan kuah santan yang agak bening, sambal kentang balado, tahu goreng, ikan kembung goreng, ayam bumbu kuning yang semuanya adalah bagian paha dengan ceker yang masih menyatu, lalu terakhir ada makanan yang mirip dengan tempe orek tapi bukan tempe orek.

Saat makan, kebanyakan teman mengambil “tempe orek” yang belum kami ketahui bahwa namanya cabe dieng.  Mungkin karena kenampakannya awam di Jakarta. Tapi, ternyata ada yang berbeda. “Tempe orek” ala Dieng ini menggunakan cabai yang ada di Dieng. Rasanya? Pedaaaaaas minta ampun tapi nikmatnya luar biasa.

Meskipun kenampakannya sama seperti cabai hijau besar, rasanya lima kali lipat bakhan lebih dari cabai rawit. Bagi penikmat makanan pedas, cabe dieng adalah makanan yang harus coba saat ke Dieng. Tapi jangan mencoba Cabe Dieng saat sarapan pagi seperti rombongan saya.

Oke. Makan pagi dengan cabe Dieng selesai. Perus sudah cukup kenyang, alhamdulillah. Saatnya melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna :D

Kenangan Luar Biasa Bersama Kaki yang Berubah Warna ^_^

Inilah waktunya memanjakan mata lagi. Melangkah dengan penuh kekaguman pada-Nya lagi. Dan menasbihkan puja-puji pada mahakarya-Nya berkali-kali lagi.

Semak-semak yang tumbuh rendah dengan bebungaan menyambut kedatangan kami. Beberapa meter dari pintu masuk loket, kubangan air dengan warna toska terhampar membuat setiap dari kami yang ada di sana berseru memuja Allah. Telaga Warna terbentang di depan mata, dikelilingi lumpur yang menggempur, batang-batang pohon yang menjuntai ke tanah, dan semak yang menghijau indah.  Telaga Warna masih sepi. Jadi, kami masih bisa berpose sepuasnya dengan angel apa saja.

Bersama dua sahabat; Mbah Lina dan Kembaran saya ^^ 


Sesi foto-foto pertama di Telaga Warna selesai. Saatnya berjalan mengunjungi bagian lain dari Telaga Warna. Saat mata ini tak ingin berpaling dari hamparan mahakarya-Nya, tiba-tiba salah seorang teman kampus mengirim sms.

“Lis, sibuk gak? Mau tanya dong, tentang sesi sharing guru dan orangtua di SEOC itu bagaimana maksudnya? Ada usulan tema?”

Duh, pertanyaan dalam sms ini membuat saya perlu berpikir. Tapi, saya tetap membalas smsnya sejenak.

“Sharing biasa tentang kendala orangtua ABK di rumah yang bisa dibantu oleh guru. Temanya yang simpel aja Sinergitas Guru dan Orangtua dalam Mendidik ABK. Bagaimana? Paham gak?”

“Itu maksudnya gimana? Bisa jelasin gak?”

Saya membaca smsnya tapi belum mau membalasnya. Jadi, saya taruh hape saya dan memilih melanjutkan menikmati pemandangan Telaga Warna. Saya dan teman-teman menuruni semak-semak dan berjalan di atas tanah gembur untuk melihat Telaga Warna dari jarak yang lebih dekat. Lalu, sebuah sms masuk lagi.

“Liiisss. Pliiissss bantu gue. 10 menit lagi gue harus ketemu kepsek SLB :(”

Sms itu membuat saya tidak berpikir panjang. Saat itu juga saya menekan tombol call dan langsung menelepon teman saya. Karena tidak mau kehilangan kesempatan menelusuri setiap sudut Telaga Warna, sambil menjelaskan lewat hape, saya tetap terus berjalan dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Telaga Warna. Lalu, tiba-tiba…, jlep! Kaki kiri saya tidak bisa diangkat O,o

Kaki kiri saya kejeblos ke dalam lumpur Telaga Warna sampai setengah betis. Seketika, saya dan teman-teman panik. Saat saya berusaha mengangkat kaki kiri saya, ternyata kaki kanan saya ikutan kejeblos -,-“Alhasil, semakin paniklah, meski sambil cengar cengir melihat kaki saya yang mendem.

Saat itu, saya lupa menutup telepon. Di ujung sana, terdengar suara teman saya yang turut kebingungan dan panik, “Lis, lo gak kenapa-kenapa kan? Lis…, Liiis.” Klik. Telepon saya tutup. Saya malu, sekaligus bingung >,<

Tolong menolong dalam kejeblosan. Sudah kejeblos masih sempat ketawa aja :D

Di sinilah terdapat sesi tolong menolong yang sangat dramatis.


Kakek dan Rizki mencari bala bantuan, mengumpulkan ranting dan dedaunan kering sebagai pijakan saya. Sari memegangi tas saya, Erni, Kak Firdha, dan Ajeng bergotong royong menarik saya dari kubangan lumpur, sedangkan Mbah Lina aktif memotret kepanikan kami -,-“

Alhamdulillah, beberapa menit kemudian Kakek dan Rizki membawa ranting pohon dengan daun kering yang banyak dan datang bersama dua orang sepuh yang terbiasa dengan medan Telaga Warna. Kedua kaki saya berhasil keluar dari tanah Telaga Warna yang gembur. Alhasil, warna kaos kaki saya yang ungu muda jadi hijau kehitaman dan berbau sulfur. Gamis saya yang senada dengan air Telaga Warna menjadi belepotan lumpur. Terakhir, sandal gunung yang baru saya beli tidak jelas lagi warnanya :P

Sandal baru yang penuh lumpur. Tetap semangat, meski belepotan lumpur ^_^


Well, kami memutuskan berbalik arah ke loket. Saya sendirian menuju toilet untuk membersihkan lumpur di baju, kaos kaki, dan sandal. Saat saya membersihkan lumpur, yang lain asik banget foto-foto, angel-nya bagus-bagus pula >,<

Sekitar lima belas menit saya bersih-bersih. Baju saya sudah tidak berbau sulfur lagi meski bagian bawah gamis saya sudah tidak jelas warnanya. Sandal saya juga sudah kembali “baru”. Saatnya melanjutkan perjalanan kami :D

Gua-Gua Misterius

 Enam wanita dengan dua kakek :)

Kami langsung berjalan mengikuti jalur yang sudah ada. Di kawasan Telaga Warna ini ada banyak gua-gua kecil yang ditandai dengan pendopo-pendopo kecil berwarna hijau di depannya. Beberapa gua ini sepertinya sedang digunakan untuk bertapa oleh penduduk. Ini ditandai dengan banyaknya bunga di sekitar gua dan sepanjang pintu masuk gua.

Yup. Dieng masing kental dengan kepercayaan dinamismenya. Contohnya, di perjalanan menuju Telaga Warna ini kami menemukan banyak janur kuning melengkung, padahal tidak ada prosesi pernikahan. Dan, ternyata janur-janur ini ada juga di beberapa gua yang kami lewati.



Di depan gua-gua kecil ini biasanya ada patung-patung dewa-dewi atau tokoh perwayangan Jawa. Saya tidak hapal apa saja nama-nama gua yang ada di kawasan Telaga Warna. Hanya satu yang saya ingin, Gua Pengantin atau Couple Cave. Saya ingat nama gua ini karena namanya terpampang sangat jelas dibandingkan gua yang lainnya. Selain itu, hehe, saya juga punya doa di tempat ini, semoga saya datang lagi untuk kedua kalinya dengan pengantin saya. #ups ;)

Pohon Horisontal dan Manusia Pohon Dadakan :P


Lanjut. Semua gua-gua misterius di kawasan Telaga Warna sudah kami telusuri. Matahari Dataran Tinggi Dieng sudah merangkak naik. Cuacanya hangat, tapi kelembapannya tinggi. Jadi, udara di sini tetap terasa dingin meski matahari sudah membelakak. Kami melanjutkan perjalanan ke arah yang berlawanan menelusuri jalur yang sudah ada dan mulai bertemu dengan banyak back packer lainnya atau keluarga yang sedang berliburan di sini, bahkan kami sempat bertemu dengan back packer yang satu mini bus dengan kami tadi Subuh.

Di pertengahan jalan, kami melihat pohon terbentang bukan secara vertikal, melainkan horizontal. Terlihat unik dan menakjubkan. Seketika itu juga, sifat kampungan anak kota pun keluar. Karena di Jakarta tidak akan ada hal yang seperti ini, maka kami kompak memutuskan untuk berhenti dan bernarsis ria. Jadi deh, manusia pohon dadakan :P



Hehe, teori Darwin seperti terbukti di sini. Satu per satu dari kami langsung memanjat pohon horisontal ini. Padahal, kalau di Jakarta pasti bakalan takut manjat.

Padang Ilalang dan Naluri Narsis yang Kelewatan :d

Kami melanjutkan perjalanan lagi. Tereeeng! Tibalah kami di kejutan kesekian dari sekian banyak kejutan yang dihadirkan Telaga Warna. Kami tiba di padang ilalang yang sangat luas. Jujur, saat tiba di padang ilalang ini, saya seperti berada dalam location setting sebuah film Bollywood atau film koboi Amerika :)


Seperti biasa. Namanya juga anak kota, jarang-jarang nemu padang ilalang di Jakarta, kami semua serempak menurunkan ransel dan siap mengambil posisi untuk berpose. Saya sendiri sampai bingung, kayaknya hasrat narsis di sini sudah di ranah tidak sadar. Jadi, kalau melihat ada lahan kosong untuk narsis, gestur tubuh refleks ambil posisi di depan kamera :D

Olraig. Sementara kami ambil posisi terbaik di antara ilalang yang mencoklat, Kakek ambil posisi menempatkan three pot kamera agar kami semua bisa kebagian tempat bersamaan. Belum puas foto bersamaan, kami semua akhirnya foto satu satu di padang ilalang ini. Semuanya sibuk mencari pose terbaik mereka ^^

Telaga Kedua yang Tak Diduga

Selesai bernarsis ria di padang ilalang, kami melanjutkan langkah. Berjalan ke tempat yang tidak kami ketahui, kecuali Rizki dan Allah yang tahu saat itu. Tiba-tiba kubangan air yang luas terbentang di depan kami. Inilah telaga kedua yang kami jumpai di kawasan Telaga Warna, yang menjadi kejutan kesekian di antara banyak kejutan yang tak pernah kami bayangkan. Namanya Telaga Balai Kambang.

Bersama kembaran saya ^_^

Telaga Balai Kambang –menurut saya– adalah tempat sangat romantis. Airnya jernih, masih ada serpihan ilalang kering di sekelilingnya. Dikelilingi tebing yang menghijau dan sihiasi gerombolan burungyang terbang rendah di atas air. Semuanya subhanallah indahnya. Sejauh langkah ini berpijak, semakin banyak tasbih dan syukur terucap pada Rabbi. Subhanallah. Indah niah negeri ini. Terima kasih Allah, atas nikmat yang Kau berikan pada Indonesia :’)

Nonton Teater a.k.a Tidur Siang Bareng


Matahari sudah meninggi. Kawasan Telaga Warna sudah kami telusuri. Sebelum kami pulang, kami memutuskan untuk berkunjung ke Dieng Plateau Theater (Teater Dataran Tinggi Dieng). Letak teater ini menanjak ke atas. Untuk mencapai teater, kami harus menaiki puluhan anak tangga hingga ke atas.

Di teater ini kami disajikan video edukasi yang menceritakan sejarah terbentuknya Dataran Tinggi Dieng. Ternyata, Dataran Tinggi Dieng berasal dari letusan satu gunung yang sangat besar hingga dataran tinggi ini dikelilingi puncak-puncak gunung. Melalui video ini juga Kami akan tahu kapan waktu-waktu menyenangkan saat ke Dieng. Misalnya, kondisi terekstrem di Dieng adalah saat bulan Juni-Agustus. Saat bulan-bulan ini, suhu bisa di bawah 0o C, bahkan embun di pagi hari bisa membeku karena sangat dingin.

Tapi, sebagaimana subjudul bagian ini. Ternyata banyak teman-teman saya bukannya menonton, melainkan malah tidur. Jadilah acara menjelang siang itu bukan nonton teater bareng, tapi tidur siang bareng -,-“

Saat keluar dari pintu teater, salah satu berseru, “Tadi aku gak nonton, tapi tidur. Habisnya capek banget.” Satu orang berseru demikan, ternyata yang lain menyusul dengan satu jawaban, “Sama.” Ckck

Lalu, dengan datarnya Rizki berkata, “Kok pada tidur. Filmnya bagus banget loh.”

“Bagus sih, tapi gak bagus ditonton pas lagi capek. Apalagi instrumennya pas banget buat tidur.” Sahut salah satu di antara kami, saya lupa siapa yang bilang begini.


Sesi foto-foto sebelum "tidur siang bersama"


Oke. Acara nonton teater bersama eh maksudnya acara tidur siang bersama selesai :P


Eh, ada satu oleh-oleh lagi. Saat kami berjalan lagi kurang lebih 3 Km menuju penginapan, kami berbarengan dengan anak-anak yang pulang sekolah. Anak-anaknya kecil-kecil, imut-imut, dengan pipi yang merah-merah. Karena geregetan, kami memutuskan untuk berfoto dulu dengan sekumpulan anak sekolah yang sedang berjalan pulang ^_^

Bersama bocah-bocah Dieng ^_^

(bersambung…,)
27 December 2012
Posted by Lisfatul Fatinah

Ekspedisi Negeri di Atas Awan (Bag. 1)


 Bismillahirrahmanirrahim

Ratna mutu manikam, bagai mutiara yang bertebaran. Itulah kalimat yang layak untuk Tanah Air tercinta. Indonesia, Bumi Pertiwi  tercinta ini adalah secuil tepian surga yang dengan sengaja Allah turunkan ke bumi.

Sebuah Pengantar

Ada banyak cara untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita, anak-anak Pertiwi. Pun itu dengan banyak cara untuk mengenal dan mencitai Indonesia. Saya punya dua cara indah yang dapat membuat saya lebih mengenal dan mencintai Indonesia. Dua cara itu, saya sebut sebagai “dua tanjakan cinta”, yang semakin saya menanjaki keduanya, semakin saya memahami arti dari setiap langkah yang saya tempa. Sastra dan petualangan, inilah dua cara indah yang saya lakukan untuk belajar mencintai Tanah Air ini.


Sastra, untaian kata-kata indah dan bermakna sedalam samudera selalu mampu menghipnotis saya. Ia dapat membawa saya pada ranah imajinasi senyata mungkin, membayangkan hamparan tanah dan lautan yang Allah ciptakan sebagai tempat saya berpijak, mahacantiknya Indonesia.

Petualangan, serangkaian perjalanan luar biasa dari langkah-langkah kecil dengan kemauan besar. Berkunjung ke museum, ke hutan-hutan di kaki gunung, hiking ke bukit, pendakian ke gunung-gunung gagah dengan ribuan mdpl (meter di atas permukaan laut), dan membelah lautan adalah jejak-jejak “nekad” yang selalu memberikan kejutan tak terduga di setiap persimpangan jalan.

Petualangan, bagi saya, ke mana pun itu selalu memberikan kenangan luar biasa berkuadrat tak terhingga. Karena setiap perjalanan selalu memberikan saya sebuah pelajaran baru tentang arti sebuah persaudaraan, kehidupan, mimpi, dan perjuangan.

Sehubungan dengan cara kedua, satu punya satu cerita yang ingin saya bagi kepada teman-teman semua tentang sebuah perjalanan luar biasa yang saya lakukan satu bulan lalu.

Ekspedisi Negeri di Atas Awan, begitulah saya menyebut petualangan ini. Ekspedisi ini saya lakukan bersama dengan tujuh manusia yang tak kalah anehnya dengan saya. Mereka adalah  empat teman super unik dari Kompas Khatulistiwa dan tiga sahabat saya yang super ajaib.

Kak Firdha. She is the unic AB. Teman facebook yang bertemu di KOPAJA (Komunitas Peduli Anak Jalanan) ini bergolongan darah AB. Wanita bergaya pakaian amat sangat feminin ini ternyata juga penikmat travelling.

Ajeng. Mahasiswi Komunikasi UI yang seumuran dengan saya, selain feminin dan paling lembut di antara wanita aneh yang ada di antara kami, Ajeng juga selalu yang paling lebar senyumnya setiap bernarsis ria di depan kamera.

Sari. Mahasiswi Komunikasi UI, teman sekelasnya Ajeng. Meski jarang ngobrol dengan Sari, saya suka logatnya yang sangat Sumatera. Sangat senang juga saat keturunan Aceh ini bercertita tentang kampung halamannya.

Rizki. He is The Master. Bukan The Master Magician, tapi masternya travelling di antara kami. Semua itu tidak luput dari latar belakang Rizki yang seorang mahasiswa Arkeologi UI dan punya antusiasme tinggi untuk memperkenalkan kekayaan alam Indonesia kepada pemuda-pemuda Indonesia.

Mbah Lina. Siapa lagi kalau bukan salah satu sahabat saya yang ngomporin saya untuk ikut ke ekspedisi ini. Padahal saat itu keuangan saya sedang kritis. Tapi kalau sudah sama dia, tenang saja, tidak usah takut kekurangan ongkos. Kan Si Mbah bos Kami. Hehe.

Erny. Ini kembaran saya, kata orang-orang. Satu spesies dengan saya, hijabers dan bergamis tapi interest dengan kegiatan yang memicu adrenalin. Hijabers yang suka ngetrek ini sahabat saya, sahabatnya Mbah Lina juga.

Terakhir, Kakek Tiro. Kakek-kakek yang selalu mengaku masih muda ini adalah kakek saya, Mbah Lina, dan Erny. Kakeklah yang akan melindungi kami selaku cucu-cucunya selama ekspedisi ini. Kakek juga yang bertugas mengobati penyakit narsis kami dengan kameranya. Selama ekspedisi, kakek adalah fotografer terbaik sedunia. Secara, hanya kakek yang mau memotret rombongan kami.

Jumat 15 November 2012, Terminal Lebak Bulus

Schedule yang saya terima sebelum malam keberangkatan memberitahukan bahwa pukul 14.00 kami akan berangkat ke Wonosobo dari Terminal Lebak Bulus. Jadi, saya mem-planning harus tiba di Lebak Bulus maksimal pukul 13.30. Ternyata, kondisi lalu lintas Jakarta-Ciputat hari itu sangat mendukung saya. Pukul 12.05 saya berangkat dari Tanah Abang menuju Lebak Bulus dengan bantuan Metro Mini 102 dan tiba di Lebak Bulus pukul 13.15.

Hujan. Lagi-lagi, setiap ingin bepergian jauh, hujan selalu mengantarkan saya. Seakan hujan hendak berkata, “Semoga berkah perjalananmu, wahai makhluk yang disayangi Allah.”

Pukul 13.15 saya berdiri sendirian di depan warung-warung yang berjejer sepanjang terminal. Kakek dan sua sahabat saya ternyata masih membeli sejumlah bekal di mini market daerah Ciputat. Jadi, sambil menikmati denting air yang jatuh dan beradu dengan keramaian terminal, saya menunggu mereka di pinggir jalan.

Pukul 13.45. Tiga orang super rempong itu belum juga datang. Mereka terjebak macet di lampu merah Point Square. Ternyata mereka naik taksi dari Ciputat. Padahal kalau naik angkot dan turun di pasar Jumat, lalu jalan kaki tiga menit ke Lebak Buluk itu jauh lebih cepat. Eh, namanya juga super rempong, pasti yang dipilih yang rempong-rempong. #eh

Pukul 13.50 saya menelepon Kak Firdha yang berdasarkan kabar dari Kakek sudah tiba di bus. Alhasil, saya memutuskan masuk terminal dan meninggalkan tiga orang yang sedang terjebak macet itu. Pukul 14.00 setelah dijemput oleh Rizki, saya tiba di bus. Di bus sudah ada Ajeng, Sari, dan Kak Firdha. Kami berbincang sedikit, hingga tiga orang rempong dari Ciputat datang lima belas menit kemudian.

Eng ing eng. Sudah jam 14.15 tapi bus belum juga berangkat. Tiba-tiba Rizki yang sempat menghilang datang dan bilang, “Kami jalan jam 5 ya.”

“Kok jam 5? Lama amat?” satu per satu dari kami kaget dan langsung protes.

“Kata sopirnya juga jalan jam 5. Kan busnya belum isi,” kata Rizki sambil membetulkan rambut gondrongnya. Mendengar kabar itu semuanya kompak memasang wajah bete sambil berpikir apa yang akan Kami lakukan selama hampir dua jam menunggu? Baca novel? Ngeliatin orang? Melongo ke jendela? Atau tidur?

It’s Time to Go! Dieng, We are Coming!

Pukul 17.00 datang juga. Roda bus Jakarta-Wonosobo yang kami tumpangi akhirnya berputar membawa kami, delapan anak kota yang tak sabar ingin melihat sunrise dari balik Dataran Tinggi Dieng.

Sepanjang perjalanan, kami berbincang satu sama lain. Berhubung saya, Erny, dan Kak Firdha duduk dalam satu bangku, jadi selama perjalanan kami asik membicarakan masa depan KOPAJA hingga mata kami sama-sama terpejam. SeKamir pukul 20.00 bus yang kami naiki tiba di rumah makan, tempat singgah untuk shalat, buang air, dan membeli makan malam.

Bus melaju lagi. Perut sudah kenyang, muka sudah segar karena air wudhu, tapi mata tetap minta untuk dipejamkan. Alhasil, saya tidur. Sementara di samping saya, Erny, masih asik baca novel dengan penerangan seadanya dari senter yang dibawa.

Sabtu, 16 November 2012
Selamat Pagi, Wonosobo! Selamat Pagi, Sunrise Dieng!            

Sebelum matahari Wonosono terbit, mata kami perlahan terjaga. Meski kami tidak janjian untuk bangun di jam yang sama, uniknya kami bangun di jam yang hampir sama –sepertinya setiap perjalanan memang selalu mengikat hubungan antarpelaku perjalanan. Pukul 4.15 waktu Wonosobo kami turun di Plasa, sebuah pertigaan jalan yang dihiasi sebuah tugu besar yang ada di tengah taman.

Di Plasa, Wonosobo



Setelah bernarsis ria beberapa jepretan, kami melanjutkan perjalanan dengan sebuah mini bus ke arah Dieng. Di mini bus ini, penampilan penduduk setempat terlihat sangat berbeda dari kami. Mereka menggunakan jaket, penutup kepala, dan syal yang terlilit di leher mereka.

“Di atas nanti dingin. Pipi penduduk aslinya malah sampai pada merah-merah karena kedinginan,” Rizki yang menjadi orang serba tahu memberikan informasi. Kami yang tidak tahu apa-apa kompak berkoor O-.

Mini bus subuh itu penuh dengan pemuda-pemudi dengan tas-tas besar. Kami dan seluruh penumpang mini bus ini satu tujuan. Kami sama-sama back packer yang hendak melancong ke Dieng, menikmati mahakarya Allah di Negeri di Atas Awan.

Oh iya, di dalam mini bus ini, amat sangat rugi kalau tidur. Kenapa? Karena dari balik kaca mini bus terhampar pemandangan luar biasa langka yang tidak akan bisa ditemukan di Jakarta.  Tebing-tebing batu coklat muda dan kuning gading berdiri tegap bersisian dengan rumah-rumah warga dan disinari sercahan cahaya matahari yang baru terbangun. Subhanallah, mahaindah ^_^

Muka kucel saat di mini bus menuju Dieng


Kurang lebih pukul 5.20 kami tiba di Dieng. Kami mencari masjid terdekat untuk salat Subuh. Di Masjid Baiturrahmah ini kami beristirahat untuk pertama kalinya. Di sini kami juga bertemu dengan back packer lainnya yang semuanya pria. Nah, di sinilah uniknya, kami sesama back packer selalu bertegur sapa, yang lelaki saling berjabat tangan, berkenalan, dan menanyakan asal masing-masing. Setiap travelling, pasti momen seperti ini selalu terjadi. Kami, sesama treveller atau back packer serasa seperti keluarga yang disatukan oleh alam :)

Bbrrrr. Berwudu di masjid Baiturrahmah serasa tidak menggunakan air, tapi es. Airnya sangat dingin, bahkan lebih dingin dari air di Ciater saat Subuh. Tapi, rasa dingin ini serasa hilang ketika mata ini mengintip ke balik pagar dan memutar pandangan, menikmati hamparan ladang sayur mayur yang bersebelahan dengan masjid.

Selesai salat, kami sarapan seadanya dengan bekal yang masih ada di ransel. Eits, seperti biasa, di setiap persinggahan adalah wajib mengabadikan momennya. So, sebelum keluar dari masjid inilah kali pertama kami mengabadikan ekspedisi ini.

 Indahnya masjid Baiturrahmah di tengah bukit-bukit Dieng

Selepas dari masjid, kami tidak langsung ke penginapan, tapi langsung ke tempat penuh kejutan yang pertama, Telaga Warna. Perjalanan menuju Telaga Warna kurang lebih 3 Km. Dengan ransel yang masih menggantung di pundak, kami berjalan beriringan sambil menikmati hamparan pemandangan yang mahadahsyat.

(bersambung…,) 
26 December 2012
Posted by Lisfatul Fatinah

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -