Posted by : Fatinah Munir 12 January 2015

Beberapa menit setelah azan maghrib berkumandang, kereta yang aku naiki baru saja tiba di stasiun Tanah Abang. Rintik hujan menyambut kedatangan kami, penumpang kereta yang baru saja turun. Aku membentangkan payung biru sebelum menyatukan diri dengan kerumunan orang di jalanan.

Aku berjalan perlahan dengan pikiran yang melayang, teori-teori yang perlu direvisi untuk tugas akhir. Aku harus segera selesaikan tugas akhir ini. Kataku pada diriku sendiri. Lalu muncul beberapa.kalimat serta wajah-wajah yang membuat dadaku seketika sesak. Perlahan, tanpa kusadari, airmataku sudah mengalir.


Airmata ini terus mengalir, pelan-pelan. Beberapa meter mendekati rumah, aku menahan airmataku. Aku memasuki rumah dengan salam, menyapa keponakan dan kakak yang sedang duduk di ruang keluarga. Emak dan Bapak tak tampak, keduanya masih di kamar.


Aku melepas lelah dengan langsung menunaikan shalat maghrib di kamar. Selama shalat, airmataku terus mengalir. Tak sanggup kutahan barang setetes pun. Bahkan hingga baris-baris doa kusampaikan dengan lirih.


Beberapa menit kemudian, saat aku sudah berganti pakaian dan Emak sudah turun dari kamar atas, aku beranjak ke atas. "Udah pulang? Kok nangis?" tanya Emak di dapur. 


"Lis capek," jawabku singkat lalu berlari melintasi anak-anak tangga.


Aku duduk di bangku merah yang ada di depan kamar bapak, menunggu bapak keluar sambil tetap menangis. Beberapa menit kemudian bapak keluar.


"Baru pulang?" tanyanya.


"Iye," jawabku sambil menunduk.


"Udah shalat?" bapak bertanya lagi.


"Udah," aku menjawab dengan suara serak dan airmata masih mengalir.


"Kok nangis?" tanya bapak.


"Pusing," airmataku semakin deras. Tangisku semakin menjadi.


"Minum obat!" seru bapak sambil melangkah ke teras dan duduk di dekat pintu.


Aku menaikkan kakiku ke atas bangku. Melipat kaki dan membenamkan wajahku di antaranya. Aku tetap menangis hingga beberapa lama.


"Kamu kenapa?" bapak bertanya.


Aku sakit, Pak. Hatikusakit sekali. Ingin aku menyahut dan mengatakan kalimat itu. Aku malah menghampiri bapak dengan airmata yang terus mengalir. Aku duduk tepat di depan Bapak.


"Pak, kepala Lis sakit banget. Tolong pijetin!" kataku. Aku tak bisa melihat wajah bapak dengan jelas karena mataku penuh dengan airmata.


Tangan bapak memijat sisi kanan kiri kepalaku, tepat di samping mata. Saat jari-jari bapak memijat kepalaku, airmataku justru semakin deras mengalir.


"Pak, Lis sakit. Anakmu ini tersakiti. Pak, bagaimana bisa orang yang seharusnya melindungi dan bersikap lembut pada wanita justru malah menyakiti dan bersikap buruk pada wanita? Bapak, anakmu diperlakukan buruk. Lebih dari keburukan. Lebih dari kejahatan. Bapak..., Lis gak kuat!" aku berseru dalam hati. Melontarkan kalimat yang ingin aku sampaikan pada Bapak, tapi tak sanggup aku ucapkan.


Semakin lembut bapak bersikap padaku malam ini dengan memijat kepalaku, entah mengapa aku semakin mengingat kejahatan itu. Kemudian hatiku semakin sakit. Lebih sakit dari sebelumnya.


"Kamu pusing karena sakit atau karena mikirin sesuatu?" tetiba bapak bertanya masih sambil memijat kepalaku.


Aku terhenyak. Aku langsung merunduk. Membenamkan wajah di pangkuan bapak. Aku menangis di pangkuan bapak.

Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -