Posted by : Fatinah Munir 16 January 2015

"Kamu kenapa?" tanya bapak saat aku duduk di bangku merah yang selalu ada di depan kamar bapak.

Aku hanya diam. merunduk, menyembunyikan wajah di balik kedua kakiku yang terlipat di atas bangku.

"Kenapa jadi sering nangis?" bapak kembali bertanya. Posisi bapak masih sama. Duduk di teras, menghadap jalanan atau sambil menatap langit malam.

Aku tidak menjawab. Aku hanya bisa terus menangis.

Teringat lagi olehku saat kemarin, ketika aku datang menghampiri bapak yang baru saja selesai shalat maghrib dan meminta bapak untuk memijat kepalaku yang sakit. Sebenarnya bukan kepalaku yang sakit, melainkan diriku yang sakit. Lebih tepatnya tersakiti.

"Kamu pusing karena sakit atau karena mikirin sesuatu?" bapak bertanya kepadaku yang semakin mengucurkan airmata kala bapak menyentuh kepalaku yang sakit.

Lalu aku menyerbu bapak dengan pelukan, memendamkan wajahku dalam pangkuannya. Aku menangis dalam pangkuan bapak.

Kala itu ingin sekali aku tumpahkan semua sakit yang aku rasakan kepada bapak. Tapi seperi sebelum-sebelumnya, selalu saja tidak bisa. Aku hanya bisa diam dan memendam segala sakit ini sendirian.

Saat sedih seperti ini, yang aku inginkan biasanya hanya kesendirian. Tapi kali ini berbeda. Kali ini aku selalu ingin dekat dengan bapak. Aku ingin bertanya banyak kepada bapak. Aku ingin bertanya banyak hal kepadanya sebagai seorang lelaki, bukan sebagai bapakku sendiri.

Sama seperti malam ini ketika aku diam-diam ke lantai atas setelah memastikan hanya ada bapak di lantai atas. Aku ingin menangis di sini hingga sakitku sedikit berkurang.

***

"Bapak bingung lihat kamu nangis terus di sini," kata bapak setelah tidak menerima jawaban apapun dariku.

Aku masih terus menangis smabil menjawab, "Nggak apa-apa. Gak usah mikirin aku, Pak!"

"Orang tua selalu mikirin anaknya," jawab bapak sambil menoleh, melihatku yang terus merunduk.

"Pak..., bapak selalu nyuruh aku baik ke orang. Bapak selalu nyuruh aku jaga sikap dan lisan. Aku sudah berusaha untuk itu semua. Termasuk menjaga apa yang aku rasakan sejauh ini. Aku selalu diam dan menjaga sikap untuk menjaga kehormatan, harga diri, dan menjaga bapak sebagai orang tua. Tapi kenapa yang aku dapat malah seperti ini, Pak? Kenapa apa yang sudah aku jaga justru seperti telah dilecehkan, diejek, diremehkan, bahkan ditertawakan. Pak..., bapak selalu tunjukkan kepadaku kalau lelaki tidak pernah boleh bersikap kasar kepada perempuan, tidak boleh menyakiti perempuan, baik itu dengan sengaja ataupun tidak. Bapak selalu tunjukkan itu kepadaku dengan sikap bapak  selama ini yang tidak pernah memukul, berbicara kasar, bahkan menatap dengan menyeramkan ke perempuan di rumah ini. Bapak tunjukkan bahwa perempuan pada kodratnya adalah diperlakukan dengan lembut, apapun kondisinya. Tapi yang aku rasakan saat ini tidak. Yang aku rasakan saat ini adalah sebaliknya. Entah dengan sengaja atau tidak sengaja, Aku telah tersakiti, aku tersakiti dengan lembut sekali sampai aku tidak baru menyadari saat luka itu sudah sangat dalam dibuatnya. Bapak, apa yang aku lakukan dengan semua ini?" aku bergumam dalam hati. Meluncurkan segala geram dan sakit yang menggumpal. Tapi tak pernah benar-benar dapat aku sampaikan dengan lisan.

Aku diam.

"Kamu nangis karena mikirin apa? Bukan karena kuliah kan?" bapak membuka suara, "Biarlah orang lain bersikap seperti apa ke kamu. Tapi ingat, kamu tidak boleh seperti orang itu. Tetap berbuat baik ya!" kata bapak, seolah tahu bahwa aku disakiti.


{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. tetap berbuat baik yaa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa. Selalu berbuat baik meskipun orang lain berbuat buruk kepadamu :)

      Delete

Terima kasih atas komentarnya :)

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -