Posted by : Fatinah Munir 22 March 2014

Sembilan hari berselang setelah saya melewati fase mendebarkan yang melebihi kepanikan saya saat tersesat di hutan. Fase ini saya lewati bersama banyak mahasiswa lainnya yang “dianggap” berprestasi. Di sinilah saya, salah satu dari mereka yang dilabelkan berprestasi memasuki arena yang membawa saya pada berbagai rasa dan memaksa saya mengekstraksi sebuah pemahaman baru tentang diri dan lingkungan saya.

Sejak menjadi mahasiswa Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta pada 2011 silam, ada dua impian yang terpatri kuat dalam pikiran saya. Yaitu saya akan menjadi ketua BEMJ PLB dan saya menjadi mahasiswa berprestasi di universitas ini. Dua mimpi ini tertanam kuat dalam kepala dan hati saya dengan sebuah alasan, yakni demi membuktikan pada bapak ibu bahwa saya bisa memuliakan keduanya dengan prestasi.

Oktober 2013 sebuah pengumuman terbuka bagi siapa saja yang ingin ikut berlomba dalam arena prestasi. Ketika mendapat informasi tersebut, saya langsung mendaftarkan diri dan menyiapkan beberapa persyaratan yang satu di antaranya adalah karya tulis ilmiah.

Selama kurang dari dua pekan saya menyiapkan konsep dan merampungkan karya tulis ilmiah tersebut yang berhubungan dengan pendidikan. Setelah pengumpulan karya ilmiah tersebut tidak ada kabar atas kelanjutan dari karya ilmiah yang saya kirim, bahkan hingga detik ini.

Setelah hampir lima bulan berselang sejak saya mengirim karya tulis, sebuah sms memberitahukan bahwa saya diminta menghadap Sekretaris Jurusan untuk seleksi mahasiwa berprestasi. Ada senang dan kebingungan yang datang bersama sms pemberitahuan tersebut. Saya senang karena jalan menuju  terwujudnya impian saya telah terbuka. Tapi saya juga bingung dengan sebuah kata “seleksi” yang ditercantum dalam sms tersebut. Seleksi apa lagi ini? Lalu bagaimana nasib karya ilmiah yang saya kirim lima bulan lalu? Apakah pengumpulan karya ilmiah saya lima bulan lalu tidak benar-benar  diregulasi? Lantas ke mana muara dari karya ilmiah saya lima bulan lalu? Rentetan tanya terlontar pada diri saya sendiri.

Saya menghadap Sekterasi Jurusan pada tanggal yang telah ditentukan sebelumnya. Saya menbawa sejumlah pemberkasan dan bukti prestasi yang pernah saya raih. Di kantor jurusan, Ibu Sekjur melontarkan pertanyaan pertama setelah saya dan beliau saling memberi salam dan menanyakan kabar.

“IP kamu berapa, Lisfah? Sampai 3.7? Atau lebih? Karena syarat dari ajang ini IP harus 3.7,” tanya beliau sambil menatap saya dalam-dalam.

“IPK saya hanya 3.58, Bu,” saya menjawab dengan jujur.

“Kamu lancar berbahasa Inggris?” tanya beliau lagi.

“Saya bisa berbicara bahasa Inggris, tapi tidak lancar, Bu. Kalau X dan Y sepertinya memenuhi syarat IPK lebih dari 3.7 dan sangat lancar berbahasa Inggris, Bu,”

“Saya mau tanya ke kamu dulu. Apa saja prestasi kamu? Kamu ikut organisasi apa saja?” Ibu Sekjur bertanya kembali.

Saya jawab dengan sejujur-jujurnya tanpa harus melebihkan dan membanggakan diri saya. Lalu sebuah tanya terlontar kembali, “Karya tulis ilmiah apa saja yang pernah kamu tulis?”
Saya kembali menjawab apa adanya, menyebutkan beberapa karya tulis ilmiah yang pernah saya ikutkan perlombaan, termasuk yang pernah saya kirimkan lima bulan lalu sebagai syarat mendaftarkan diri di ajang ini.

“Lusa kamu siapkan semua berkasmu. Selamat mempelajari Pedoman Mahasiswa Berprestasi. Semoga sukses!” ujar Ibu Sekjen sambil menyalami tangan saya.

Sebuah perasaan aneh muncul di hati saya. Hanya itu? Tanya saya, kebingungan. Apakah itu artinya saya bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya? Memangnya apa yang sudah saya perbuat? Bagaimana dengan belasan nama lainnya yang ada dalam daftar mahasiswa yang dipanggil menghadap beliau? Sekali lagi, senang dan bingung berkecamuk dalam hati dan pikiran saya.

Kurang dari sepekan selanjutnya saya menyiapkan pemberkasan, fotokopi bukti prestasi, fotokopi sertifikat keikutsertaan saya dalam berbegai kegiatan, karya-karya saya yang pernah dimuat di majalah, serta karya ilmiah baru yang saya susun bersama sebuah permainan edukatif yang saya rancang untuk presentasi. Oh iya, belakangan saat mempersiapkan berkas, saya mendapat kabar bahwa belasan nama yang masuk daam daftar mahasiswa yang harus menghadap Ibu Sekjen tidak menghadap ke beliau. Saat itu  saya berpikir, mungkin itu alasannya mengapa saya langsung diperintahkan menyiapkan pemberkasan dan karya tulis ilmiah baru. Tapi sampai tulisan ini saya publikasikan, saya belum menemukan jawaban di mana dan bagaimana regulasi karya tulis yang saya kirim lima bulan lalu?

Tiga hari menjelang puncak pertarungan di ajang prestasi ini, saya bersama mahasiswa berlabel berprestasi lainnya berkumpul untuk mengikuti sejumlah agenda pembekalan. Saya berkenalan dengan banyak orang di ruang sidang yang menjadi tempat pertemuan kami. Saya melontarkan pertanyaan yang sama kepada semua peserta  yang saya temui: bagaimana proses kamu bisa sampai di sini?

Jawaban dari teman-teman sungguh beragam tapi dengan satu kesamaan, semuanya dinobatkan sebagai yag berprestasi atas dasar IP dan kemampuan berbahasa Inggris. Di kesempatan berbincang dan berbagi cerita dengan teman-teman lainnya saya mengungkapkan secara jujur bahwa IP saya tidak tinggi dan kemampuan bahasa Inggris saya biasa saja. Saya dinilai berprestasi karena saya pernah mendudukijabatan tertinggi di organnisasi pemerintahan tingkat jurusan, saya mendirikan sebuah komunitas yang bergerak di bidang pendidikan dan saya banyak menulis di majalah cetak ataupun online. Hanya itu.

Salah seorang teman kembali menimpali kejujuran saya dengan kejujurannya. Dia juga tidak ber-IPK tinggi dan tidak lebih baik kemampuan berbahasa Inggrisnya dibandingkan teman-temannya yang lain, tapi kemampuan bahasa Inggrisnya jauh di atas saya. Dia mendirikan komunitas tari dan mengikuti banyak ajang perlombaan seni tari.

Berangkat dari perbincangan ini saya berpikir, kami yang ada disini memiliki kemampuan dan prestasi yang berbeda untuk sebuah ajang yang “kaku” dan di sini kami dituntut untuk bertahan dengan sistem yang sama? Oh tidak! Ini bukan ajang berprestasi melainkan ini ajang menunjukkan IP besar dan jago berbahasa Inggris, tidak lebih dari itu!

Dalam Pedoman Mahasiswa  Berprestasi, Kemendikbud menyebutkan bahwa mahasiswa berprestasi adalah mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi tinggi, biak kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Lantas kriketria apa yang diinginkan Kemendikbud? Yang tertera jelas pada halaman tiga pada pedoman ini adalah persyaratan mahasiswa berpretasi adalah yang memiliki IPK minimal 3.00, menulis karya tulis ilmiah disertai ringkasan dengan bahasa asing, melampirkan daftar prestasi disertai buktinya, dan kemampuan berbahasa asing.

Sejujurnya saya tidak keberatan dengan sejumlah persyaratan di atas. Tapi bagaimana pelaksanaan seleski dari bawah hingga akhir, itulah yang menjadi titik permasalahan yang saya rasakan.

Ketika membaca persyaratan tersebut, yang ada dalam benak saya adalah sebuah proses seleksi yang cukup panjang. Saya berpikir bahwa IPK saya akan dipertanggungjawabkan dengan sejumlah tes yang berhubungan dengan keilmuan yang sedang saya dalami. Selanjutya karya tulis ilmiah yang saya susun akan dimintai pertanggungjawabannya pula, pun itu dengan permainan yang telah saya rancang jauh-jauh hari untuk ajang ini. Kemudian, saya berpikir bahwa saya akan diminta untuk menunjukkan atau minimal menceritakan prestasi dan kemampuan yang saya unggulkan saat terlibat dalam ajang ini juga akan ada tes psikologi untuk mengetahui kepribadian kami. Terakhir, dalam benak saya berpikir bahwa saya bersama peserta yang lain akan diminta berbicara dengan bahasa asing yang kami kuasai.

Begitu detail hal-hal yang saya pikirkan itu saya persiapkan demi mengoptimalkan usaha saya hingga semua perkiraan saya terjawab pada puncak ajang ini.

Pada puncak pertarungan, kami yang berlabel prestasi diberikan waktu 20 menit untuk tampil di podium dengan masing-masing waktu 5 menit untuk mempresentasikan data diri dan summary dari karya tulis, 7 menit untuk mempresentasikan karya tulis ilmiah yang telah dibuat, 3 menit untuk menjawab pertanyaan juri, dan 5 menit untuk menjawab pertanyaan dari fish ball menggunakan bahasa asing.

Seorang kakak tingkat yang tahun lalu mengalami hal serupa dengan kami menjelaskan bahwa ada tiga juri yang akan menilai dari tiga aspek berbeda, yakni dari aspek keilmiahan, bahasa asing, dankepribadian. Ketiga juri tersebut adalah dosen-dosen yang diperkirakan mumpuni di bidang penilaiannya.

Hari itu, saya maju di urutan ke lima. Saya menampilkan video profile saya yang berhubungan dengan aktivitas dan summary yang saya buat. Kemudian saya menjalani proses di atas podium sebagaimana rentang waktu yang telah disediakan.

Berlanjut hingga presentasi terakhir dalam ajang ini, saya terkejut dengan pernyataan panitia bahwa pengumuman atas siapa yang mendaatkan peringkat pertama di antara kami akan berlangsung 10 menit setelah peserta terakhir presentasi.

Hah? Are you serious? Hanya seperti ini prosesnya?

Saya berpikir setidaknya penilaian akan berlangsung dua hari di mana hari pertama unutk penilai prestasi akademik kami dan hari kedua untuk penilaian prestasi nonakademik atau keunggulan yang kami bawa hingga kami bisa ada di ajang ini. Kalau pun hanya prosesnya hanya satu hari, saya pikir akan tetap ada bagian di mana kami diberi kesempatan menunjukkan kemampuan yang kami unggulkan. Tapi kenyataannya tidak demikian. Bagi saya pribadi semuanya dalam proses menentukan siapa yang menjadiperingkat pertama dari kami lebih seperti sulap atau sihir. Semuanya terjadi dalam waktu singkat.

Saya pribadi bertanya-tanya bagaimana setiap juri memberikan nilai pada kemampuan akademik kami, terlebih pada kepribadian kami, sedangkna tes psikologi saja tidak ada. Apakah para juri itu memiliki ilmu menerawang pikiran dan jiwa para peserta? Oh, entahlah.

Di sini saya berpikir cukup panjang bahwa tampak bahwa universitas, mungkin lebih tepatnya fakultas yang mengatasnamakan ajang ini sebagai prestasi tapi proses yang dilakukan sama sekali tidak mendukung keberprestasian kami di berbagai bidang. Hal ini tidak bedanya dengan sistem penilaian yang dipukul rata, padahal kami memiliki kemampuan yang berbeda. Maka dari sini jelaslah sudah bahwa kebobrokan sistem yang mengatakan murid atau mahasiswanya cerdas atau berprestasi memiliki kemampuan yang beragam.  

Padahal sebagai civitas di kampus pendidikan seyogyanya kita memahami atau paling tidak mengetahui bahwa setiap manusia memiliki kecerdasan di berbagai bidang seperti yang disebutkan Howard Gardner dalam teori Multiple Intelegences. Pun itu setiap manusia memiliki kecerdasan dalam berbegai aspek seperti intelektual, emosional, spiritual dan kebertahananmalangan (adversity). Lantas cerdas dan berprestasi seperti apakah yang sebenarnya dijadikan acuan di ajang ini?

Saya tertarik dengan sebuah permisalan yang dibuat salah seorang teman dalam ajang ini. Dia mengatakan, “Ajang ini tidak bedanya seperti SNMPTN. Kita punya kemampuan yang berbeda dan ingin masuk ke jurusan yang berbeda tapi alat tes kita sama. Bayangkan yang mau masuk akuntansi mengerjakan soal yang sama dengan yang ingin masuk antropoligi. Lalu apa gunanya kita membawa bukti-bukti prestsi dan menulis sederetan kemampuan yang kita unggulkan?”

Ya, saya cukup setuju dengan permisalan tersebut. Lantas dari mana juri menilai satu di antara kami adalah lebih baik dan terbaik dari yang lainnya jika waktu yang kami miliki hanya 20 menit berbicara di atas podium, tanpa tes psikologi, tanpa tes bakat atau kemampuan yang kami unggulkan. Oh tidak, ini benar-benar membingungkan.

Menjadi bagian dari mahasiswa berprestasi dengan cara ditunjuk tanpa proses yang cukup panjang seperti ini membuat saya meragukan keabsahan dari ajang ini. Termasuk itu dalam hasilnya. Bagi saya ajang ini tidak berbeda jauh dari sebuah Hunger Games yang mana universitas berperan seperti layaknya Capitol. Peserta diseleksi dengan cara yang kurang cukup meyakinkan, hanya ditunjuk atau dipilih laksana menentukan pemenang lotre. Lalu kami yang menjadi utusan ke ajang ini dituntut untuk menang atau mati di tengah jalan. Persis seperti Hunger Games, tidak peduli apa kemampuan yang dimiliki setiap utusan yang penting adalah bisa bertahan hidup dan menjadi satu-satunya peserta yang hidup hingga akhir permainan. Bagi saya,  ini bagaikan ikan, tikus, dan burung yang berlomba renang.

Sekiranya jika ini memanglah ajang yang bergengsi di tingkat universitas hingga nasional, hendaknya prosesnya pun berlangsung dengan gengsi yang tinggi. Hendaknya semua tertata dan terjamin keabsahannya atas apa yang mereka sebut sebagai prestasi. Saya pikir perlu proses yang tidak sebentar untuk menentukan siapa yang paling berprestasi dibandingkan para mahasiswa berprestasi lainnya.

Perlu ada beberapa tes yang tidak hanya 20 menit. Sejatinya bukan hanya sebuah presentasi dan tanya jawab berbahasa Inggris yang perlu diperhatikan dalam ajang ini, melainkan keunggulan atau kemampuan khusus yang dimilik masing-masing peserta juga harus diujikan. Atau setidaknya berilah peserta waktu untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya di luar posisinya sebagai seorang penyaji makalah dan yang menjawab pertanyaan dari penguji.




Bermula dari sinilah setidaknya saya bisa tahu dan berintrospeksi untuk ikut berperan dalam pelaksanaan ajang di tahun mendatang. Saya bersama teman-teman lainnya bisa memperbaiki proses penyeleksian dengan sebenar-benarnya seleksi yang dijaga dari tingkat paling rendah hingga tingkat tertinggi nanti. Kendati hampir dari semua di antara kami yang bergabung di sini diutus dengan sebuah “undian” atau lebih sering dikenal dengan istilah diceburin, dijorokin, dan sebagainya, semua ini menjadi pelajaran agar tahun depan tidak boleh ada yang tercempulng atau terjatuh bahkan dipaksa untuk menjadi bagian ini. Karena prestasi adalah kesadaran dalam usaha mencapai titik optimal dari potensi, maka seharusnya tidak ada tekanan yang dilimpahkan pada kami atau mereka nantinya yang berlabel prestasi.

Setelah melewati proses yang sangat singkat ini saya berpikir juga bahwa setiap orang di antara kami memiliki prestasi dengan prestasi kami masing-masing di berbagai bidang. Tidak ada pukulan perataan untuk sebuah prestasi, apalagi hanya dengan dua indikator seperti karya tulis ilmiah dan kemampuan berbahasa asing. Apabila dua indikator ini tetap menjadi rujukan utamanya, mengapa tidak diubah saja nama ajangnya dari Pemilihan Mahasiswa  Berprestasi menjadi Pemilihan Mahasiwa Ber-IPK Tinggi dan Mampu Berbahasa Asing.

Saya pribadi meyakini bahwa prestasi bukanlah tentang nilai numerik di atas selembar kertas yang ditentukan beberapa orang apalagi dalam waktu yang begitu singkat. Prestasiadalah ketika saya bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya dengan usaha terbaik yang saya punya. Oleh sebab itu, melalui ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi ini saya semakin memahami bahwa prestasi bukan tentang predikat, prestasi adalah sebuah tanggung jawab di mana saya harus bisa melakukan yang terbaik di setiap kesempatan yang saya punya meskipun saya bukanlah manusia terbaik di antara banyak manusia di dunia.

Terlepas dari berbagai hal yang membuat saya begitu mengkritisi ajang ini, saya yakin pada setiap penyeleksian Mahasiswa Berprestasi pasti ada satu yang sebenar-benarnya berprestasi. Yaitu mahasiswa yang memiliki prestasi tidak sebatas karya tulis ilmiah yang inovatif dan kreatif serta lancar berbahasa Inggris, tetapi mahasiwa yang memiliki akhlak, budi pekerti, dan kemampuan yang patut dihargai dengan nilai tinggi. Tapi yang jelas, mahasiwa yang sesempurna itu bukanlah saya :)

Untuk setiap langkah dan usaha yang telah saya optimalkan selama melewati masa-masa menjadi mahasiswa yang berkutat dengan karya tulis ilmiah, produk, dan presentasi, saya sungguh bersyukur bisa menjadi satu di antara mereka yang dinilai sebagai berprestasi dan istimewa. Ya meskipun saya tidak seistimewa yang dipikirkan banyak orang.

Ketika melewati masa-masa penyeleksian ini, saya punya pengalaman luar biasa bersama orang-orang yang sangat mengagumkan. Mereka membuat saya terpana dan kembali mengakui akan banyaknya kekurangan yang saya miliki. Saya temukan satu pehaman baru yang begitu berharga bahwa setiap manusia adalah berprestasi di bidangnya masing-masing tanpa patokan dan pemukulrataan atas apa yang disebut prestasi.

Terakhir, hanya bapak ibu satu-satunya alasan saya ada di arena ini dan hanya Allah satu-satunya penyebab saya bisa melangkah sampai sejauh ini. Tak ada kata kalah atau menang dalam berprestasi, yang ada hanyalah siapa yang paling berusaha dan menikmati serta memetik pelajaran selama proses menuju puncaknya. Semoga pengalaman ini bisa menjadi ajang berlomba-lomba dalam kebaikan dan menjadi pundi-pundi amal baik yang bisa membantu kita menuju surga-Nya. Amin.

Saya persembahkan segala usaha saya untuk bapak ibu. Semoga setiap usaha yang bernilai kebaikan di hadapan-Nya turut Dia alirkan kepada bapak ibu tercinta demi termuliakan keduanya di mata Allah SWT. Amin.


Saya sudah turun dari roller coaster ini! Saatnya saya menaiki roller coaster selanjutnya! :)

{ 1 komentar... read them below or add one }

  1. ^_^
    Prestasi itu tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik di seriap kesempatan
    *hebat

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya :)

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -