Posted by : Fatinah Munir 29 August 2013

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu, saat saya masih sangat belia dan hanya mengenal sebuah kesenangan, ada satu kebiasaan unik yang sampai sekarang saya belum paham untuk apa kebiasaan itu dilakuka . Kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleb saya, tetapi juga oleh teman-teman sebaya saya. Sampai-sampai kebiasaan ini menjadi sebuah "musim" yang membanjiri pedagang kecil mengantungi sejumlah rupiah.

Menulis biodata, itulah kebiasaan saya duli bersama teman-teman yang -saya yakin- juga menjadi kebiasaan anak-anak lain seusia kami. Ya, biodata ini biasanya saya tulos di kertas warna-warni dengan berbagai gambar.

Apa yang di tulis dalam Biodata itu biasanya tidak jauh-jauh dari nama lengkap, tanggal lahir, zodiak, dan banyak hal lainnya. Akan tetapi, yang paling saya ingat dari bagian biodata itu adalah baris yang tertulis "cita-cita".

Dulu, saat saya masih sangat belia dan baru mengenal makna cita-cita, yang tertulis mengiringi kata itu adalah sebuah frase berbunyi "berbakti kepada kedua orang tua dan berguna bagi nusa bangsa". Ya, frase ini pun kadang tertulis di lembar Biodata teman-teman saya, meskipun beberapa teman lainnya menuliskan kata guru, dokter, insinyur, bahkan artis.

Kemudian, saat saya beranjak usia dan memasuki sekolah dasar, seorang guru berkata di depan kelas, "Kalian punya cita-cita? Kalau punya, tulis cita-citanya yang jelas mau jadi guru, dokter, atau apa". Saat mendengar kalimat itu, saya seperti tersihir dan langsung mengganti cita-cita saya menjadi dokter.
Lambat laun, saat usia saya semakin beranjak ke kepala dua, saat pemahaman akan hidup sedikit demi sedikit tertabung, saya tahu apa yang harus saya lakukan di balik kata cita-cita.

Entah apa arti cita-cita yang sesungguhnya. Apakah itu sebuah keinginan atau tujuan yang sempurna seperti termaktub dalam KBBI. Atau..., sebuah gelar dan profesi seperti kenyataan dan kebanyakan yang terjadi. Yang jelas, apapun itu cita-cita sepertinya merupakan barometer kesuksesan seseorang dalam bentuk keprofesian, seperti guru, dokter, arsitek, dan ssbagainya.

Lambat laun, seiring terkumpulnya pundi-pundi pemahaman akan makna kehidupan yang sesungguhnya, saya semakin memahami betapa kepolosan di masa belia adalah sebuah kesungguhan dari kehidupan itu sendiri. Misalnya saja pada cita-cita tadi. Saya tak habis berpikir, mungkin kita semua punya cita-cita untuk menduduki sebuah profesi bergengsi. Tapi lantas apa arti dari keprofesian tersebut?

Ketika kita hendak menjadi seorang guru, cukupkah dengan berseragam biru pekat dan berlantang di depan kelas menyampaikan pelajaran? Cukupkah demikian? Lantas adakah cita-cita dalam cita-cita itu sendiri yang membuat kita tak hanya mengejar posisi sebagai PNS, terima upah besar, dan mendapat sejumlah tunjangan? Adakah untuk menjadikan profesi sebagai sebentuk pengabdian pada Tanah dan Air yang telah sekian tahun menjadi tempat bernaung? Adakah teebersit keinginan membalas kebaikan Pertiwi yang telah menjadi pijakan selama ini?

Lebih jauh lagi, kadang saya terpekur melihat arti kehidupan ke belakang dan ke depan. Adakah apa yang saya lakukan ini bisa membalas segala kebaikan kedua orang tua saya? Adakah prestasi dan profesi bergengsi yang saya duduki turut memberi implikasi pada kedua oranf tua?

Entahlah. Setelah berpikir lama bersama makna-makna kearifan hidup saya temukan satu nilai cita-cita yang sesungguhnya. Yang dulu, saat di bangku sekolah dasar sempat diprotes seorang guru saya. Sebuah cita-cita di atas cita-cita yang niscaya menjadi lebih mulia dibandigkan kedudukan atau keprofesian apapun juga. Sebuah cita-cita yang sangat berarti meski apapun itu nanti profesinya. Cita-cita untuk menjadi insan yang senantiasa berbakti kepada kedua orang tua dan berguna bagi Indonesia.

Karena apapun dan semulia apapun kedudukan, prestasi, dan profesi saya, itu tiada arti jika saya meninggalkan bakti pada ibu bapak dan tidak berguna bagi sekitar saya. (nir)

-Fatinah Munir-
Perjalanan menuju Tanah Merah
Dalam perenungan panjang tentang arti kehidupan saya saat ini

{ 1 komentar... read them below or add one }

Terima kasih atas komentarnya :)

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -