Posted by : Lisfatul Fatinah 09 March 2012


     Setiap anak dengan pendengaran normal pada umumnya pasti mengalami fase pemerolehan bahasa dalam hidupnya. Masa pemerolehan bahasa ini berlangsung pada usia 0-2 tahun. Fase atau proses pemerolehan bahasa tersebut dapat diperoleh anak melalui empat tahapan berikut.

  1. Tahap mendengar bahasa. Yakni tahap di mana anak baru mampu mendengarkan suara-suara di sekitarnya.
  2. Tahap meniru bahasa. Yakni tahap di mana anak sudah mampu menirukan satu atau dua kata yang diberitahukan oleh lingkungannya. Anak memperoleh tahap ini ketika dia sudah pada masa mulai berbicara dengan satu atau dua kata yang serangkai.
  3. Tahap mengingat bahasa. Yakni tahap di mana anak sudah mampu meniru dan mengingat kata yang diucapkannya.
  4. Tahap mempresepsikan bahasa. Yakni tahap di mana anak tidak hanya mampu meniru dan mengingat, tapi anak juga sudah mulai bisa mengartikan kata yang didengarnya. 

Berbeda dengan anak dengar, anak tunarungu tidak melalui empat tahapan tersebut dan mengalami perkembangan bahasa yang berbeda dari anak dengar. Perbedaan tersebut dijelaskan oleh Myklebust dalam table di bawah ini:

Anak Dengar
Anak Tunarungu
Pengalaman (Situasi Bersama)
Mengenal bahasa batin (inner language) dan hubungan antar lambang pendengaran dengan pengalaman sehari-hari
Mengenal bahasa batin (inner language) dan hubungan antar lambang pengelihatan dengan pengalaman sehari-hari
Bahasa reseptif auditori (mendengar)
Bahasa reseptif visual (membaca ujaran atau isyarat)
Bahasa ekspresif auditori (bicara)
Bahasa ekspresif kinestetik (bicara)
Bahasa reseptif (membaca)
Bahasa ekspresif visual (menulis)
Perilaku bahasa verbal (sesuai dengan anak dengar)


Penjelasan Tabel:
  1. Pada tahap pertama, pengenalan bahasa anak dengan pendengaran normal dan anak tunarungu memiliki pengalaman berbahasa melalui situasi. Maksudnya, pada tahap ini anak dikenalkan dengan lingkungan oleh ibu dengan pendekatan yang sama (pendekatan seorang ibu yang mendidik anaknya).
  2. Pada tahap kedua, anak dengan pendengaran normal mengembangkan bahasa melalui bahasa batin hubungan antara lambang pendengaran dan pengalaman sehari-hari. Yakni dengan mengartikan lingkungan dan apa yang di dengarnya. Sedangkan anak tunarungu mengembangkan bahasanya melalui bahasa batin hubungan antara lambing pengelihatan dan pengalaman sehari-hari. Jadi, anak tunarungu hanya mampu mengartikan apa yang terjadi di sekitarnya melalui indra pengelihatannya. Pada tahapan ini, perkembangan bahasa anak tunarungu sangat bergantung pada lingkungan yang membinanya. Untuk mencapai perkembangan yang maksimal, biasanya guru menggunakan metode maternal reflektif (metode bahasa ibu).
  3. Pada tahap ketiga, anak dengan pendengaran normal akan mulai memasuki tahap Bahasa Reseptif Auditori (mendengarkan ujaran dan bahasa dengan perkembangan yang baru). Sedangkan pada anak tunarungu tahap ini merupakan tahap Bahasa Reseptif Visual (membaca ujaran dan isyarat). Pada tahap ini anak tunarungu dikembangkan untuk dapat berbahasa dengan isyarat.
  4. Pada tahap keempat, anak dengan pendengaran normal memasuki tahap Bahasa Ekspresif Auditori. Yakni tahap di mana anak sudah mulai bisa mengekspresikan apa yang didengarnya dan mengerti apa yang di dengarnya. Sedangkan pada tahap ini anak tunarungu memasuki tahap Bahasa Ekspresif Kinestetik, yakni tahap di mana anak mulai memahami dan berbahasa dengan gerakan atau gerak tubuh.
  5. Pada tahap kelima, anak dengan pendengaran normal dan anak tunarungu sama-sama memasuki tahap Bahasa Represif. Pada tahap ini anak dikembangkan lagi untuk dapat membaca.
  6. Pada tahap keenam, anak dengan pendengaran normal dan anak tunarungu sama-sama ada pada tahap Bahasa Ekspresif Visual. Yakni tahap di mana anak dikembangkan lagi untuk dapat menuliskan apa yang dilihatnya.
  7.  Tahap terakhir, tahap Perilaku Bahasa Verbal yang sesuai dengan anak dengan pendengaran normal. Pada tahap ini anak dengar maupun tunarungu berada pada perkembangan berperilaku dengan bahasa verbal.
Sekalipun pada tahapan di atas terdapat beberapa tahapan di mana anak dengan pendengaran normal dan anak tunarungu ada di posisi yang sama, pada kondisi nyatanya keduanya tetap harus di bedakan secara penganganan dan perkembangannya. Misalnya, pada tahap anak dikembangkan untuk dapat membaca. Kemampuan membaca anak tunarungu dan anak dengar dalam usia yang sama pastilah berbeda. Karena anak tunarungu membutuhkan waktu yang cukup banyak hanya untuk mengenal satu kata bahkan satu kalimat saja.

Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -