Showing posts with label Sepotong Inspirasi. Show all posts

Jingga; Tentang Sebuah Semangat yang Tidak Boleh Padam

Photo by Geronimo Giqueaux o Unsplash
Jingga. Setiap kali memikirkan kata ini, selalu ada satu hal yang muncul dalam di pikiran saya. Satu hal yang pernah saya mulai dan masih saya jalankan saat ini dengan semangat yang sangat fluktuatif. Satu hal yang membuat saya membuka lagi sebuah folder yang jarang saya tengok. Satu hal ini menggerakkan tangan saya untuk membaca ulang sebuah rancangan impian besar dan justru menjadi inspirasi saya untuk menceritakannya di tulisan ini.

Kitainklusi. Inilah satu-satunya hal yang terlintas di kepala saya setiap kali memikirkan kata jingga untuk tulisan hari ini. Ini bukan dua kata yang tanpa sengaja ditulis tanpa spasi. Ini adalah dua kata yang dengan sengaja digabungkan dan menjadi representasi dari impian besar di baliknya. Ini adalah sebuah komunitas kecil yang pernah saya bangun dan saya sempat ingin berhenti di tengah jalan.

Dua tahun lalu, saya sempat merasa gamang karena sedang berada dalam titik kebosanan dengan rutinitas monoton di tempat kerja. Saat itu saya sangat merindukan melakukan banyak hal sebagaimana dulu. Kebosanan ini menginspirasi saya untuk membangun sebuah komunitas kecil yang bergerak dalam mengedukasi kesadaran masyarakat untuk mengenal individu berkebutuhan khusus dan menerima keberadaan mereka.

Persis di bulan Oktober dua tahun lalu saya mengumpulkan beberapa teman kuliah dulu untuk mendengarkan kebosanan saya pada rutinitas dan keinginan saya untuk membentuk sebuah komunitas yang selinear dengan profesi kami. Harapan saya saat itu (dan sampai sekarang) adalah agar setiap orang dengan disabilitas bisa diterima dengan baik di lingkungannya, diberikan kesempatan yang sama seperti yang lainnya, dan diakui sebagai individu seutuhnya bukan dikenali atas kedisabilitasannya.

Sudah hampir dua tahun sejak program pertama Kitainklusi berjalan. Ini bukan waktu yang cukup matang untuk sebuah komunitas pastinya. Ada banyak sekali tantangan selama menjalankan program-programnya. Sempat juga hiatus beberapa kali dalam hitungan bulan. Tapi selalu ada banyak momen yang membuat saya kembali menghidupkan Kitainklusi. Momen-momen ini biasanya ketika saya mendapatkan pertanyaan di Instagram terkait kelanjutan program yang sudah dijalankan Kitainklusi. Termasuk ketika mendapatkan pertanyaan-pertanyaan terkait penanganan anak berkebutuhan khusus dari orang tua ataupun guru.

Program-program Kitainklusi sebenarnya bukan program-program besar, hanya tulisan-tulisan ringan di media sosial dan diskusi online terkait kedisabilitasan dan keinklusian, Tapi ternyata yang kecil buat saya bisa berarti besar buat orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang terus masuk ke akun Instagram Kitainklusi ataupun pribadi seperti menjadi teguran buat saya kalau tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil apapun kebaikan yang pernah dimulai. Berkali-kali hiatus dan berkontemplasi diri, saya tetap berusaha membangkitkan Kitainklusi. Berharap hal-hal kecil yang sudah dilakukan bersama Kitainklusi dapat memberi manfaat bagi banyak orang dan menjadi amal kebaikan yang tidak pernah putus buat saya dan tim.

Lalu apa hubungannya antara Kitainklusi dan kata jingga yang seharian ini saya pikirkan? Hubungannya ada pada warna identitas Kitainklusi. Jingga adalah warna identitas Kitainklusi. Desain apapun yang dibuat untuk keperluan Kitainklusi, pasti bernuansa jingga.

Kenapa jingga? Jawabannya kembali saya temukan ketika saya membaca ulang dokumen profile Kitainklusi tepat sebelum menulis tulisan ini.

“…………… Warna jingga yang merupakan turunan dari warna kuning melambangkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme yang merepresentasikan harapan-harapan Kitainklusi agar menjadi komunitas yang memberikan manfaat, kenyamanan, dan harapan bagi teman-teman yang terlibat dalam Kitainklusi. ……………”


Kalimat di atas tertulis dalam salah satu bagian penjelasan logo Kitainklusi. Saat membaca tulisan ini saya tersenyum sendiri, bertanya-tanya ke diri sendiri. Saya pernah menulis ini ya? Saya pernah merancang ini ya? Seperti ini ya impian saya dulu saat memulai Kitainklusi?

Karena kalimat di atas, hari ini saya jadi semakin ingin bercerita tentang Kitainklusi, tentang impian di dalamnya yang sempat saya lupakan, termasuk tentang semangat yang melekat di warna identitasnya. Saya juga menjadi semakin semangat untuk meneruskan hal kecil ini. Setelah membaca ulang dokumen profile Kitainklusi dan bercerita di tulisan ini, saya berharap semoga bisa memiliki kekuatan jingga seperti dalam penjelasan warna identitas Kitainklusi. Saya ingin tetap menjalankan komunitas ini dengan semangat yang bisa memancarkan kehangatan, kenyamanan, dan optimisme kepada banyak orang dengan disabilitas, keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan disabilitas, juga para profesional yang bekerja untuk orang-orang dengan disabilitas.

Lisfatul Fatinah Munir | 10 Oktober 2019
10 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Belajar dari Joker


Ternyata orang dengan gangguan mental sama seperti rembulan yang bercahaya. Mereka bisa bercahaya, tapi bukan sebenarnya cahaya yang mereka punya. Cahaya itu hanya biasan dari tempat lain, hanya delusi dari kehidupan lain. Rembulan itu tetap saja gelap walau disinari pantulan cahaya matahari. Sama seperti mereka yang memiliki gangguan mental tetap membutuhkan pertolongan meski tampak biasa saja ataupun bahagia.


Photo by Daniel Lincoln on Unsplash
Disclaimer:
Saya bukan orang yang memahami ilmu psikologi. Saya hanya penikmat film yang semangat menulis tentang film kalau saya menilai film tersebut memiliki banyak pelajaran hidup dan perlu ditonton oleh lebih banyak orang. Saya hanya orang yang senang mengamati perilaku orang-orang sekitar saya karena tuntutan profesi sebagai pendidik individu dengan autisme.

Awalnya saya tidak begitu tertarik menonton Joker. Satu-satunya alasan adalah karena saya tidak mengikuti serial Bat Man dan sama sekali tidak mengenal sosok Joker. Ya hanya sekadar tahu kalau Joker adalah musuh Bat Man. That’s it.

Tapi akhir pekan lalu rekan psikolog di tempat saya mengajar bilang kalau film ini sangat bagus dan dia terus ngomporin saya untuk menonton film ini. Rasa penasaran saya semakin menjadi ketika statement “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” yang mengiringi poster Joker berseliweran di media sosial. Akhirnya kemarin sepulang mengajar saya memutuskan menonton film ini.

Sepanjang film ini berputar, saya terus mengamati perilaku setiap tokoh yang ada di dalamnya. Beberapa scene yang katanya menyeramkan, justru membuat saya merasa miris. Ingin menangis tapi juga merasa sakit di saat bersamaan. Hingga setelah menonton film ini secara tuntas, ada satu hal besar yang muncul di kepala saya. Yakni betapa buruknya dampak dari ketidaksadaran dan ketidakpedulian masyarakat terhadap orang dengan gangguan mental di saat mereka berjuang menjadi “normal” di lingkungan masyarakat yang tidak sedikit pun memahami mereka.

“My mother always tells me to smile and put on a happy face. She told me I had a purpose to bring laughter and joy to the world.”


Kalimat ini diucapkan Joker alias Arthur Fleck beberapa kali dalam film ini. Saat pertama kali mendengar kalimat ini, saya langsung merasakan hal yang aneh. Apakah setiap orang harus terus tersenyum? Apakah setiap orang harus terus bahagia dan membahagiakan orang lain?

Saya jadi teringat film Inside Out, sebuah film animasi yang menceritakan betapa sulitnya menjadi seorang anak yang diatur untuk terus bahagia dan mengabaikan empat emosi utama lainnya; marah, sedih, jijik, dan takut. Padahal merasakan lima emosi utama adalah pengalaman yang penting untuk dapat melatih diri meregulasi emosi dengan benar.

Serupa dengan tokoh utama Inside Out yang dituntut untuk terus bahagia di berbagai kondisi, di film ini Joker juga terus tersenyum di berbagai kondisi yang dialaminya. Saat merasa bahagia ataupun tidak, “doktrin” ibunya membuat Joker terus tersenyum dan berusaha membuat orang-orang sekitarnya tersenyum juga.

Di bagian inilah saya mulai menyadari bahwa Joker dan kebanyakan orang dengan gangguan mental sama seperti bulan yang bercahaya karena pantulan sinar matahari. Senyuman mereka bukanlah karena mereka ingin tersenyum dan bahagia, tetapi karena lingkungan mereka memaksa mereka untuk “berpura-pura” bahagia. Apakah menjadi seperti ini tetap membuat mereka bahagia? Pasti tidak. Justru bisa membuat mereka semakin merasa tidak bahagia seperti salah satu kalimat yang ditulis Joker dalam jurnal hariannya.

Photo from Mothership

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t.”


Kalimat ini cukup menggambarkan betapa sulitnya menjadi orang dengan gangguan mental di tengah masyarakat yang tidak memahami mereka. Ketika mereka tetap dituntut menjadi “normal” tapi tidak diperlakukan secara “normal”. Saat scene Joker menulis kalimat ini, berbagai emosi kembali berkecamuk dalam hati saya. Sedih, sakit, dan kesal bersatu begitu saja, membuat saya ingin menangis sekaligus marah pada masyarakat yang menyepelekan kondisi mental seseorang.

Yang paling menyebalkan buat saya adalah ketika di dalam bus Joker berusaha membuat seorang anak kecil yang duduk di depannya tertawa, tetapi ibu si anak marah dan mengatakan kalau Joker telah mengganggu anak tersebut. Saat itu Joker bingung kenapa dia dimarahi padahal dia ingin menghibur. Lalu Joker tertawa terbahak-bahak di luar kontrolnya dan memberikan kartu identitas yang menjelaskan kondisi neurologisnya yang tidak bisa mengontrol tawa kepada ibu si anak. Bagaimana reaksi ibu ini? Bukannya berempati, dia hanya memasang ekspresi aneh sambil mengatakan maaf tanpa ekspresi dan tanpa menoleh ke arah Joker.

Mental Health Poster Campaign photo by Dan Meyer on Unsplash
Seperti rembulan yang bersinar karena bias cahaya, ada waktunya cahaya itu menghilang dan rembulan itu menjadi gelap sebagaimana dirinya yang sesungguhnya. Begitu pula Joker dan orang dengan gangguan mental lainnya. Ketika bias-bias bahagia hilang, mereka akan redup sebagaimana mereka sebenarnya. Bahkan pada kisah Joker, mereka bisa melakukan banyak hal yang bisa membahayakan keselamatan dirinya dan orang lain.

Joker mungkin tidak akan menjadi seorang pembunuh jika saja orang-orang di sekitarnya lebih peduli terhadap dirinya. Kejahatan-kejahatan yang dilakukannya tidak akan terjadi jika banyak orang yang memahami kondisinya dan ikut serta membantunya. Apalagi setelah di akhir cerita diungkap bahwa ternyata ibu Joker, Penny Fleck, juga seorang dengan gangguan mental yang tidak mendapatkan kepedulian masyarakat. Ibu dari Joker juga salah satu korban dari buruknya kesadaran masyarakat akan kondisi kesehatan mental.

Teringat lagi statement “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” yang berseliweran di media sosial, rasanya statement ini salah besar jika kita memahami betul kisah Joker dan latar belakang kehidupannya. Joker bukan orang baik ataupun jahat. Joker pun itu ibunya adalah orang dengan gangguan mental yang luput dari perhatian masyarakat, yang tidak dipedulikan, tersingkirkan, lalu retak dan rusak. Mereka membutuhkan orang-orang baik yang mau mempedulikan mereka, menyadari kondisi kesehatan mental mereka, dan membantu mereka berjuang menghadapi kondisi mental yang mereka punya.

Jangan biarkan orang dengan gangguan mental terus menjadi bulan dan menghilang dari langit malam karena hilangnya pantulan cahaya matahari, delusi kehidupan “normal” dari kita yang merasa “normal”. Mari rangkul juga mereka agar bisa menjadi matahari, menjadi bagian masyarakat sebagaimana kita mengaku “normal”.

Lisfatul Fatinah Munir | 9 Oktober 2019
Selamat merayakan kepedulian di bulan kesehatan mental!

09 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Alhamdulillah It’s Only Temporary Blackout


Photo by Yeshi Kankang on Unsplash.com

Kemarin, 4 Agustus 2019, hampir seluruh Jawa mengalami listrik padam selama kurang lebih 12 jam. Saat itu saya sedang beraktivitas di luar rumah, jadi selama beberapa jam pertama saya tidak terlalu merasakan dampak mati listrik. Saya tiba di rumah sore hari dengan kondisi rumah yang gelap sebagaimana rumah-rumah lain, lampu jalanan sekitar rumah yang biasanya sudah menyala kini tidak berfungsi, dan tidak ada suara azan yang saling menyahut di langit-langit saat waktu maghrib datang. Saat itu baterai hape saya pun hanya tersisa tigapuluh persen, jaringan internet dan telepon melemah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan menggunakan hape kecuali memanfaatkan flashlight hape.

Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.

Membaca keluhan-keluhan teman-teman, saya sempat berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah sebegitu menyebalkannya ketika listrik padam. Pemikiran ini muncul mungkin karena saya bukan termasuk orang yang sangat attached dengan gadget, bahkan saya pernah dengan sengaja melepas gadget beberapa hari. Jadi saat listrik padam, sejenak saya sempat tidak cemas ataupun gelisah.

Ya, hanya sejenak. Saya hanya sejenak merasa biasa saja dengan padamnya listrik. Karena semakin malam dan semakin gelap, saya mulai merasa gelisah. Bukan gelisah karena terputus akses internet atau semacamnya, tapi lebih karena kondisi sekitar saya yang sepi, gelap, tidak banyak aktivitas dan interaksi seperti biasanya. Hal-hal buruk mulai terbersit di kepala saya, bagaimana kalau tetiba ada kebakaran di sekitar rumah? Bagaimana jika ada tiba-tiba ada gempa besar, karena malam sebelumnya Jakarta terkena gempa imbas dari gempa Banten? Bagimana jika kemungkinan-kemungkinan buruk itu Allah SWT Takdirkan datang malam itu juga? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di atas, saat itu kepala saya pusing. Literally kepala saya menjadi sangat sakit.

Selepas shalat maghrib, setelah menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala, saya keluar rumah untuk membeli makan malam. Kepala saya masih terasa sakit. Saya mencari penjual makanan di sekitar perkampungan rumah sendirian.

Saat di luar rumah membeli makan malam, saya harus keluar gang rumah untuk ke tempat penjual makanan yang terletak di jalan yang lebih besar. Bukan jalan raya, tapi masih lingkungan perkampungan rumah dengan lebar jalan yang jauh lebih besar dan banyak deretan berbagai jenis ruko yang menjual keperluan keseharian warga perkampungan. Ternyata jalan besar terdekat rumah saya sangat ramai. Motor-motor berlalu lalang. Jaklingko masih beroperasi. Anak-anak berlarian, main sepeda, dan saling tertawa. Toko-toko ramai oleh pembeli dan orang-orang yang duduk untuk sekadar mengobrol tentang listrik yang padam.

Di sini saya merasakan suasana malam masih seperti malam-malam biasanya ketika listrik tidak padam. Di sini saya menyadari bahwa perekonomian di sekitar saya masih berjalan dengan baik, setidaknya untuk kalangan rakyat kecil seperti jual beli antar di permukiman warga walapun beberapa perusahan seperti KAI tidak beroperasi karena padamnya listrik. Saya juga menyadari meskipun listrik padam, anak-anak tetap bahagia dan bermain dengan imajinasi mereka. Masih banyak suara anak-anak tertawa dan bercanda. Saya lalu tersadar walau listrik padam, setiap rumah yang tanpa cahaya malam itu masih diisi oleh keluarga yang utuh, saling berbincang satu sama lain –yang mugkin akan jarang dilakukan kalau listrik tidak padam.

Di tempat lain, di negara-negara berkonflik dan sedang melewati masa peperangan, listrik padam diiringi degan suara-suara dentuman bom dan senapan. Perekonomian tidak berjalan dan untuk makan mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari relawan perang. Tawa anak-anak, mungkin hampir tidak dapat ditemukan. Mereka mungkin hanya punya dua pilihan, menangis atau diam di tengah gelap, dingin, dan lapar. Di daerah terkena bencana, setiap orang pasti banyak yang terpisah dengan keluarganya di tengah kegelapan, karena sangat mungkin menyelamatkan diri sendiri menjadi pilihan satu-satunya untuk bertahan hidup. Dan di pedalaman, harapan aliran listrik lebih kepada untuk akses kesehatan dan belajar, bukan sekadar untuk mengisi daya hape dan laptop untuk mengirim status di sosial media seperti kita penduduk ibukota.

Banyak lagi hal yang menyadarkan saya bahwa masih banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dari padamnya listrik semalam.


Photo by Dil Emcot on Unsplash.com
Semakin lama saya di luar rumah dan melihat sekitar saya lebih dekat, semakin banyak alasan saya untuk bersyukur walaupun di tengah gelap. Alhamdulillah, listrik hanya padam untuk sementara, bukan untuk waktu jangka panjang atau selamanya. Alhamdulillah, listrik padam untuk sementara dan masih sedang diperbaiki oleh ahlinya, bukan karena peperangan, kekurangan, atau bencana. Alhamdulillah, listrik padam hanya sementara dan saya masih bisa bersama dengan keluarga dengan kondisi sehat wal afiat dan bahagia. Alhamdulillah.

Belajar dari padamnya listrik selama belasan jam kemarin, mungkin kita perlu sesekali meninggalkan salah satu nikmat teknologi yang Allah SWT Berikan, agar kita bisa lebih dekat dengan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kita tapi selama ini menjauh karena teknologi-teknologi yang kita punya. Mungkin kita perlu sedikit mendekat dengan lingkungan kita, tidak hanya menghadirkan jasad tapi juga hati dan pikiran kita, agar kita bisa melihat betapa nikmatnya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita dan jarang sekali kita syukuri. Mungkin sesekali kita perlu menakar nikmat dengan melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kita sebagaimana saudara-saudara kita di tempat pengungsian peperangan, bencana, atau yang tinggal di pedalaman.

Alhamdulillah, listrik padam hanya untuk sementara tapi syukur kita harus tetap menyala.

Lisfatul Fatinah Munir | 05 Agustus 2019
05 August 2019
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -