Showing posts with label Pendidikan Khusus. Show all posts

Apresiasi Setiap Proses dan Progres

Photo by Suzanne D. Williams on Unsplash
Progres atau perkembangan yang signifikan dan terus-menerus pasti menjadi impian setiap orang tua dan pendidik untuk individu berkebutuhan khusus. Apalagi jika progres yang dipunya dapat membantu mereka untuk bisa lebih beradaptasi di lingkungannya atau untuk mencapai tujuan belajar yang lebih tinggi lagi. Tapi sayangnya kita, termasuk saya, sering sering sekali kecewa dengan progres yang tidak tampak. Pertanyaannya, apakah benar sama sekali tidak ada progres atau perkembangannya? Jangan-jangan sebenarnya ada progres yang dicapai tapi kita tidak pernah menganggapnya sebagai suatu progress?

Sepertinya sih banyak yang mengalami kondisi kedua, ya? Biasanya kita tidak pernah engeh atas progres-progres kecil yang telah diraih oleh murid atau anak. Padahal sekecil apapun pencapaian yang diraih, itu juga progress loh! Kalau sudah seperti ini yang keliru bukan progresnya yang tidak signifikan, tapi diri kita sebagai pendidik, terapis, ataupun orang tua yang membuat target terlalu tinggi. Alasannya cuma satu, yaitu karena kita tidak mengenal dengan baik siapa individu berkebutuhan khusus yang sedang ditangani.

Kalau sudah begini, biasanya kemungkinan yang terjadi pada pendidik adalah kecewa pada diri sendiri. Atau paling tidak pendidik jadi menyalahkan pihak lain atas minimnya progres yang didapat, salah satunya adalah menyalahkan pihak orang tua si murid. Kalau dari sudut pandang orang tua, biasanya orang tua akan menganggap kalau anaknya ditangani oleh pendidik atau terapis yang kurang kompeten. Ujung-ujungnya orang tua akan memindahkan anaknya ke sekolah atau tempat terapi lain. Siklusnya akan terus saja begini selama pendidik dan orang tua belum menyadari bahwa setiap progress, sekecil apapun perkembangan yang dimiliki anak adalah pencapaian yang perlu diapresiasi.

Hasilnya? Tidak ada hasilnya sama sekali. Coba deh teman-teman perhatikan setiap anak berkebutuhan khusus yang sering sekali berpindah sekolah ataupun berpindah tempat terapi. Apakah ada progres yang sangat signifikan? Pasti kebanyakan tidak menunjukkan progres yang signifikan.

Penanganan yang diberikan kepada setiap individu berkebutuhan khusus sama seperti titik-titik yang dihubungkan satu sama lainnya. Jika penanganan yang diberikan terus diganti dari satu sekolah ke sekolah lainnya dan dari satu tempat terapi ke tempat terapi lainnya, itu sama seperti menghubungkan titik-titik di tempat berbeda. Kalau sudah terus berpindah sekolah atau tempat terapi, apakah setiap titik yang terhubung akan menjadi sesuatu yang utuh. Tentu tidak, kan?

Berbeda dengan setiap titik yang terhubung dan terus dilakukan dengan konsisten, sehingga titik-titik tersebut menjadi garis utuh. Titik-titik kecil ini sama seperti progres-progres kecil yang muncul pada anak. Tidak tampak tapi tetap ada. Tentunya titik-titik ini akan tanpak setelah berkumpul menjadi garis. Dan yang bisa mengumpulkan setiap titik ini hanya konsistensi dan apresiasi kita atas titik-titik kecil atau progres-progres kecil yang dicapai anak.

Jadi untuk setiap kita, saya dan teman-teman yang membanca tulisan ini, tidak ada salahnya untuk mengapresiasi setiap progres yang telah kita capai bersama dengan individu berkebutuhan khusus yang telah kita bersamai. Jangan sia-siakan perjuangan bersama hanya karena kita luput mengapresiasi setiap progres yang dicapai.

Sekecil apapun progres yang diraih adalah sebuah pencapaian besar setelah berkali-kali pertemuan di ruang kelas ataupun di ruang terapi. Sekecil apapun progres yang didapat, ada lelah yang kita punya sebagai pendidik atau terapis, ada jerih payah usaha dari orang tua yang telah mengantar-menunggu-menjemput. Jangan lupa, ada juga perjuangan dari individu berkebutuhan khusus yang kita bersamai. Mereka juga berjuang untuk bisa mendengarkan dan memahami instruksi dengan benar dan melakukannya sesuai dengan instruksi yang diberikan. Semuanya punya peran untuk sama-sama berjuang menggabungkan setiap titik menjadi garis. Dengan mengapresiasi setiap proses dan progres yang dicapai, sama dengan mengapresiasi setiap usaha yang telah dilakukan selama membersamai individu berkebutuhan khusus.

Lisfatul Fatinah Munir | 16 Oktober 2019
Selamat merayakan syukur!



16 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Kenapa Memilih Menjadi Pendidik Autisme Dewasa?

Photo by Carli Jeen on Unsplash
Banyak yang bertanya kenapa saya sangat antusias ingin mendalami pendidikan autisme usia dewasa. Padahal mendidik individu dengan autisme usia anak-anak saja sudah sulit, bagaimana lagi dengan yang usia dewasa. Salah satu komentar yang datang kepada saya terima biasanya seperti itu. Atau yang lebih sering adalah komentar yang mengatakan kalau pilihan saya mendidik individu dengan autisme usia dewasa merupakan langkah aman. Hal ini karena kebanyakan orang percaya kalau setiap individu dengan autisme di usia dewasa sudah lebih bisa beradaptasi daripada individu dengan autisme usia anak-anak yang masih membutuhkan banyak bantuan dan masih perlu “dibentuk” perilakunya.

Lingkungan terdekat saya adalah alasan utama mengapa saya memutuskan memperdalam pendidikan autism dewasa. Qodarullah, keponakan saya diagnosis memiliki spektrum autisme sejak 2002, saat usianya dua tahun. Ketika saya memutuskan kuliah pendidikan khusus, keponakan saya sudah memasuki usia sebelas. Itu artinya keponakan saya akan meninggalkan usia anak-anak dan akan masuk ke usia remaja awal.

Selama menjalani perkuliahan, saya sangat berharap bisa mendapatkan ilmu pendidikan autisme dewasa. Sayangnya, hingga saya lulus tidak ada satupun matakuliah yang mengakomodasi harapan dan rasa ingin tahu saya. Saya tidak menemukan jawaban dari rasa penasaran saya, karena selama di kampus tidak ada satu pun matakuliah yang mempelajari pendidikan individu dengan autism di usia remaja dan dewasa –demikian juga dengan individu berkebutuhan khusus lainnya. Ya, semua yang pernah saya pelajari selama kuliah hanya pendidikan untuk individu berkebutuhan khusus di usia anak-anak. Dan sepertinya sampai saat ini pun belum ada matakuliah yang membahas pendidikan individu berkebutuhan khusus hingga usia dewasa. Daripada menyerah, tidak terakomodasinya rasa penasaran saya di kampus justru membuat saya semakin semangat untuk mempelajari sendiri pendidikan autisme dewasa. Oleh sebab itu saat mencoba mencari tahu sendiri, baca-baca sendiri walaupun tidak semaksimal belajar langsung dengan dosen.

Ketika itu beberapa dosen yang saya tanyakan mengenai pendidikan autism dewasa kerap kali mengatakan kalau sulit mempelajari pendidikan autisme dewasa, karena tidak banyak referensi dalam negeri. Setiap kali mendapatkan jawaban semacam ini, sejujurnya saya merasa sedih. Sebab itu artinya masih sedikit orang yang memikirkan solusi jangka panjang atas keberadaan individu dengan autisme.

Photo by Robin Worall on Unsplash

Bagaimana nasib mereka setelah menerima layanan pendidikan dan lulus sekolah? Apakah pendidikan yang sudah mereka terima cukup membuat mereka mandiri, seperti tujuan pendidikan nasional? Apa indikator mandiri untuk individu autisme dewasa? Akankah mereka terus tergantung pada lembaga pendidikan dan pelatihan hingga mereka tua?


Pertanyaan-pertanyaan di atas berputar di kepala saya dan alhamdulillah menjadi modal buat saya untuk terus semangat mempelajari pendidikan individu autisme dewasa walaupun katanya susah. Selepas kuliah, saya juga bertekad akan bekerja di lembaga pendidikan khusus untuk individu autisme dewasa. Alhamdulillah. Sekarang saya sudah berada di lingkungan yang sangat saya dambakan sejak dulu, mengajar individu autisme dewasa.

Memasuki tahun keempat membersamai individu autisme dewasa yang sering saya sebut murid-murid besar, tidak hanya membuat rasa penasaran dan keingintahuan saya sejak kuliah terbayar. Lebih dari sekadar itu, sampai saat ini saya justru menjadi merasa masing snagat minim pengetahuan tentang individu autisme dewasa dan lebih belajar banyak dari kasus murid-murid besar yang saya bersamai.

Semakin saya mengenal dunia pendidikan individu autisme dewasa, semakin saya sadar bahwa layanan pendidikan dan pelatihan untuk individu autisme dewasa saat ini masih belum cukup mengakomodasi kebutuhan mereka. Satu hal penting yang saya sadari adalah masih sangat banyak hal yang harus dipersiapkan di masa transisi mereka, yakni masa sebelum mereka memasuki usia dewasa. Belum lagi perencanaan jangka panjang terhadap kemandirian mereka. Di sinilah saya tahu kalau keponakan saya dan murid-murid besar saya membutuhkan layanan pendidikan dan pelatihan yang jauh lebih kompleks daripada yang mereka butuhkan di usia anak-anak.

Ditambah lagi dengan curhatan orang tua murid yang masih saja bingung harus kemana dan apa yang harus dilakukan setelah lulus dari tempat belajar sekarang. Padahal tempat saya mengajar sekarang adalah sekolah lanjutan untuk individu autisme dewasa yang telah lulus sekolah. Menemukan fakta ini membuat saya semakin sadar bahwa masih sangat sedikit awareness (kesadaran dan kepedulian) orang-orang akan keberadaan individu dengan autism secara utuh sebagai individu, seorang manusia yang juga layak hidup sebagaimana manusia pada umumnya. Seperti hidup mandiri, diterima di lingkungan sekitar, bersosialisasi dengan banyak orang, berteman, dan sebagainya.

Photo by Ian Schneider on Unsplash
Alih-alih patah arang karena kompleksnya permasalahan dan masih banyak PR yang harus dituntaskan untuk membersamai individu autisme dewasa, terjun langsung di dunia pendidikan individu autisme dewasa dan tinggal bersama individu autisme dewasa justru membuat saya semakin dan semakin ingin terus membersamai mereka. Ini justru membuat saya ingin terus mempelajari pendidikan untuk individu autisme dewasa, ingin terus melakukan penelitian dan praktik baik demi masa depan mereka yang lebih baik, ingin terus mencoba memulai hal baru demi memberikan solusi yang bisa digunakan oleh banyak orang yang terlibat dengan individu autisme dewasa, dan banyak lagi yang ingin saya lakukan untuk mereka.

Saya sempat berpikir sepertinya terlambat sekali bagi saya untuk mempelajari individu autisme dewasa, sedangkan keponakan saya yang menjadi alasan utama saya ada di sini sudah hampir memasuki usia duapuluh. Tapi tidak lama setelah pemikiran ini muncul, saya optimis insya Allah semua yang saya pelajari tidak terlambat dan tidak sia-sia. Walaupun terlambat untuk menangani keponakan saya, tapi semoga apa yang saya lakukan bisa bermanfaat buat lebih banyak individu autisme dewasa di luar sana, bisa membantu sesama pendidik dan orang tua. Bukan hanya karena ingin terus memberikan yang terbaik saat membersamai keponakan saya, tetapi juga ingin setiap individu autisme dewasa di Indonesia dan dunia menerima kebermanfaat ilmu yang saya punya dan program-program  temuan yang saya lakukan untuk masa depan individu denga autisme yang jauh lebih baik. Karena saya ingin setiap individu autisme dewasa di Indonesia kelak bisa diterima dengan baik di lingkungan masyarakat, diperlakukan selayaknya manusia, diberi kesempatan untuk mandiri dan mengaktualisasikan diri, serta menjadi bagian lingkungan sosial seutuhnya tanpa ada sekat ambigu bernama “normal”. Insya Allah, suatu hari nanti dan saya akan memulainya.

Lisfatul Fatinah Munir | 8 Oktober 2019
08 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Membersamai Individu Berkebutuhan Khusus di Antara Ketakutan dan Kesempatan

Photo by Joshua Sukoff on Unsplash
Di tulisan sebelumnya saya sedikit menyebutkan kalau saya dan beberapa rekan mengajar baru saja memulai sebuah projek Social Club untuk individu dengan autisme usia remaja dan dewasa. Kali ini saya ingin cerita bagaimana di awal langkah menjalankan Social Club ini membuat saya menyadari betapa sebenarnya murid-murid besar saya yang memiliki keautistikan hidup terombang-ambing di antara ketakutan dan kesempatan.

Jadi singkatnya dalam tahap awal Social Club ini setiap individu dengan autisme yang terlibat akan hangout tanpa orang tua mereka. Semua hal yang berkaitan dengan agenda hangout ini direncanakan oleh mereka sendiri. Saya dan rekan-rekan pengajar yang terlibat hanya bertugas sebagai pengikut dan menjembatani komunikasi mereka jika mereka saling tidak memahami maksud satu sama lainnya.

Beberapa hari sebelum hangout ternyata muncul hal-hal yang tidak terlalu saya perhitungkan, yaitu perasaan-perasaan orang tua mereka melepas mereka hangout sendirian tanpa orang tua. Takut dan khawatir adalah respon yang sewajarnya muncul dari orang tua mereka. Saat itu saya dan rekan-rekan pengajar lainnya juga takut dan khawatir sekali, tapi kami juga sangat ingin mencoba dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bisa merasakan bagaimana menjadi “orang dewasa” seperti pada umumnya.

Tapi sekali lagi, entah kenapa saya luput untuk memikirkan kecemasan yang akan muncul dari orang tua mereka. Di mana ketakutan dari orang tua mereka pasti jauh lebih besar dari ketakutan yang kami punya. Saat itu saya pikir orang tua mereka akan tenang saja karena tim kami sudah mengumumkan apa saja perencanaan yang sudah ditetapkan oleh anak-anak mereka. Tapi orang tua tetaplah orang tua dan sepertinya saya kurang memberikan empati saya di sini. Hiks T___T

Okay. Setelah saya meyakinkan orang tua mereka untuk melepas dengan hati bahagia dan percaya, agenda hangout yang sudah direncanakan akhirnya berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Huhuhuhu. Terharu sangat selama membuntuti mereka hangout. Terlebih ketika melihat bagaimana mereka berusaha sebisa mungkin untuk beradaptasi dengan kondisi dan tempat yang baru, termasuk ketika mereka berusaha untuk berperilaku adaptif, menentukan berbagai hal yang sangat kontekstual dan bisa jadi hal-hal tersebut adalah kali pertama mereka melakukannya.

Sepulang dari hangout, semua pertanyaan orang tua sama. “Bagaimana tadi? Bisa?”

“Iya! Sangat bisa!” itu jawaban yang kami sampaikan dengan sangat yakin.

Photo by Bram on Unsplash
Di sinilah saya mulai benar-benar menyadari bahwa hidup murid-murid besar saya benar-benar hanya terombang-ambing di antara ketakutan dan kesempatan. Sebagaimana pengalaman hangout bersama, pengalaman bepergian jauh dengan transportasi umum, dan beradaptasi di lingkungan luar tidak akan pernah terwujud jika kami tetap bertahan di rasa takut. Lalu mereka pun akan kehilangan kesempatan untuk mencapai itu semua.

Di sinilah saya mulai berpikir kalau saja saya dan orang tua mereka sama-sama takut dan saling menguatkan rasa takut untuk memulai Social Project ini, pasti kesempatan-kesempatan emas mereka untuk merasakan bagaimana “menjadi orang dewasa” yang bepergian ke tempat umum tidak akan pernah mereka rasakan. Terlebih lagi mereka pasti akan semakin jauh dari kesempatan diterima di lingkungan yang lebih luas.

Berangkat dari pengalaman ini, saya semakin dan semakin menyadari bahwa rasa takut untuk membersamai individu berkebutuhan khusus itu sangatlah wajar. Yang tidak wajar adalah ketika kita berlama-lama dalam rasa takut, memperkuat takut dengan kekhawatiran sehingga hilang sudah kesempatan mereka untuk belajar. Merasakan takut lalu mengubah takut menjadi semangat memberikan kesempatan adalah cara yang saya pilih untuk membersamai individu berkebutuhan khusus. Karena dari rasa takut yang saya punya, saya jadi bisa lebih peka untuk mematangkan persiapan dan perencanaan dalam memberikan mereka kesempatan yang lebih luas lagi untuk menjadi individu seutuhnya.

Lisfatul Fatinah Munir | 7 Oktober 2019

07 October 2019
Posted by Fatinah Munir

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -