Showing posts with label Disabilitas Tubuh. Show all posts
Pendidikan Jasmani Anak Berkebutuhan Khusus yang Adaptif
Pendidikan Jasmani
merupakan salah satu matapelajaran yang biasa kita temui di sekolah umum. Pada
matapelajaran ini, murid dituntut untuk memahami sejumlah teori tentang
kesehatan jasmani dan aktif dalam program kegiatan jasmani di sekolah, seperti
atletik.
Bertolak pada hal di
atas, bagaimana pola penerapan matapelajaran pendidikan jasmani bagi murid
dengan kedisabilitasan? Mengingat adanya Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang
Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki
Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, maka seluruh lini yang berhubungan
dengan persekolahan harus diinklusifkan. Misalnya saja dalam pelaksanaan
beberapa matapelajaran yang memang harus didiferensiasikan penerapannya untuk
murid-murid berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
Salah satu
matapelajaran yang membutuhkan pendiferensiasian untuk murid berkebutuhan
khusus adalah pendidikan jasmani. Dalam istilahnya, pendidikan jasmani yang
telah didiferensiasikan disebut dengan pendidikan jasmani adaptif.
Menurut Zeigler (1977)
dalam Sri Mulyati dan Murtadlo (2007) dikatakan bahwa pendidikan jasmani
adaptif adalah suatu program kegiatan jasmani yang aktif, bukan suatu program
alternatif yang tidak aktif. Hal ini mendukung pemerolehan manfaat kegiatan
jasmani dengan memenuhi kebutuhan para murid yang mungkin selain itu dialihkan
ke pengalaman pasif yang dikaitkan dengan pendidikan jasmani.
Pendidikan jasmani
adaptif pada umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus murid dalam
jangka panjang atau lebih dari 30 hari. Kebutuhan khusus tersebut mencakup
anak-anak berkebutuhan khusus sebagaimana yang dirincikan dalam UU Pendidikan
Individu Berkebutuhan Khusus atau Individuals with Disabilities Education Act
(IDEA). Mirip dengan pendiferensiasian pada matapelajaran lainnya, dalam
penerapannya pendidikan jasmani adaptif dirancang dalam bentuk PPI (Program
Pendidikan Individual) atau IEP (Individual Education Program). Seperti yang
dikemukakan Auxter D. P. J. dan Huetting (1993) dalam Sri Mulyati dan Murtadlo
(2007) berdasarkan IDEA dinyatakan bahwa murid berkebutuhan khusus (dengan
rentang usia 3-21 tahun) harus memiliki suatu program yang dibuat secara
individual.
Program individu yang
dirancang dalam pendidikan jasmani adaptif ini lebih menekankan pada apa
keterbatasan dan kekhususan murid dalam melakukan program kesehatan jasmani dan
bagaimana cara alternatif yang tepat agar murid bisa mengikuti pendidikan
jasmani seperti murid lainnya. Dalam membuat program-program pendidikan jasmani
adaptif ini hendaknya ada kerjasama antara orang tua murid, murid, guru,
administrator, dan profesional dalam berbegai disiplin, seperti dokter atau
psikolog. Proses penyelenggaraan pendidikan jasmani adaptif dapat dikembangkan
berdasarkan beberapa orientasi, misalnya berorientasi pada perkembangan murid,
berorientasi pada masyarakat sekitar sekolah atau sekitar anak, atau
berorientasi pada hal lainnya yang dapat diadopsi guru untuk mengajar.
Apa Sih Disabilitas Tubuh Itu?
Pernahkan teman-teman mendengar istilah disabilitas tubuh? Atau pernahkah teman-teman mendengar istilah cacat atau buntung? Nah, disabilitas tubuh sama adalah istilah resmi pemerintah RI untuk menyebut teman-teman kita yang mengalami keterbatasan dalam tubuhnya, seperti tidak memiliki tangan atau kaki, salah satu bagian tubuh kecil seperti tangan, kaki, atau kepala, dan banyak jenis keterbatasan bentuk tubuh yang lainnya.
Ahmad Toha Muslim dan M.
Sugiarmin (1996) mengemukakan bahwa anak disabilitas tubuh adalah anak yang
memiliki berbagai gangguan bentuk tubuh yang mengakibatkan gangguan fungsi dari
tubuh untuk melakukan gerakan-gerakan yang dibutuhkan. Toha meneruskan, bahwa gangguan
ini disebabkan oleh sebab-sebab yang terjadi saat masih dalam kandungan, saat
proses kelahiran, dan setelah kelahiran karenarusaknya perkembangan tubuh.
Banyak literatur yang
mengaitkan pembahasan tentang disabilitas tubuh dengan gangguan kesehatan,
sehingga kerap kali kita juga menemukan istilah “physical and health
imppairements” atau “kerusakan atau gangguan fisik dan kesehatan”.[1]
Sebagai contohnya, banyak kasus anak disabilitas tubuh yang mulanya disebabkan
oleh gangguan kesehatan seperti kerusakan fungsi otak dan lain-lain.
Berbeda dengan pengertian di
atas, Sutjiharti Somantri mendefinisikan disabilitas tubuh dengan lebih
spesifik. Mengacu pada definisi yang dikemukakan White House Conference (1931)[2],
Sutjihati menyatatak disabilitas tubuh adalah suatu keadaan rusak atau
tergangguanya tubuh sebagai akibat dari gangguan bentuk atau hambatan pada
tulang, otot, dan sendi dalam fungsinya yang normal. Di samping tu disabilitas
tubuh juga kerap kali didefinisikan sebagai suatu kondisi yang menghambat
kegiatan individu sebagai akibat dari kerusakan atau gangguan pada tulang dan
otot, sehingga mengurangi kapasitas normal individu untuk mendiri dan mengikuti
pendidikan.
Berdasarkan berbagai
pengertian di atas, saya simpulkan bahwa disabilitas tubuh adalah kondisi di mana
individu tidak dapat menjalankan fungus tubuhnya sesuai dengan kapasitas normal
dikarenakan kerusakan atau gangguan pada tulang, otot, dan sendi, sehingga
kondisi ini dapat menghambat individu tersebut untuk mandiri dan menjalan
pendidikan.