Posted by : Fatinah Munir 28 February 2018


Rasanya belum selesai memikirkan NHW #5 dan masih ingin merevisi setelah mendapat review tugas kemarin. Tapi apa daya, Selasa ini sesuai jadwal kelas, sudah waktunya belajar materi baru.

Alhamdulillah, materi baru kali ini ternyata menyenangkan, membikin saya semakin semangat dan melupakan pikiran yang bergejolak selama mengerjakan tugas-tugas sebelumnya. Eh tapi setelah ini pasti akan ada tugas lain yang mengaduk-aduk hati dan pikiran. 🤓

Materi kali ini bertemakan “Ibu Manajer Keluarga Handal”. Huaaa, It’s so exciting topic! Can’t wait to learn it. ^^*

Di bawah ini saya cantumkan materi keenam di kelas. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya 🤗

Motivasi Bekerja Ibu

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.

Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus selesai dengan manajemen rumah tangga kita. Kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga bagi kita yang yang memilih sebagai ibu yang bekerja di ranah domestik, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Bagi kita yang memilih menjadi ibu bekerja di ranah publik, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?

Apakah masih asal kerja, menggugurkan kewajiban saja? Apakah didasari sebuah kompetisi  sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain? Apakah karena panggilan hati sehingga kita merasa ini bagian dari peran kita sebagai Khalifah?

Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga. Jadi, kalau kita masih asal kerja maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, kita akan menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.


Kalau kita didasari kompetisi, maka yang terjadi kita akan stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses. Kalau kita bekerja karena panggilan hati , maka yang terjadi kita sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa mengeluh.

Ibu Manajer Keluarga

Peran ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga. Maka masukkan dulu di pikiran kita
“Saya manager keluarga!” Kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.


Hargai diri kita sendiri sebagai manajer keluarga. Pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas kita sebagai manajer keluarga. Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik. Lalu patuhi!

Buatlah skala prioritas. Kemudian bangun komitmen dan konsistensi kita dalam menjalankannya.

Menangani Kompleksitas Tantangan

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan. Baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan.

Pertama adalah put first things first. Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami. Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini. Bila perlu memanfaatkan gadget, kita bisa mengaktifkan fitur gadgetsebagai organizer dan reminder kegiatan.

One bite at a time. Apakah itu one bite at a time? Maksudnya adalab lakukan semuanya setahap demi setahap. Lakukan hal tersebut sekarang juga! Harua pantang menunda dan menumpuk pekerjaan. ^^3

Delegating. Maksudnya adalah delegasikan tugas yang bisa didelegasikan. Entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat kita adalah manager! Jadi bukan berarti menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain. Tapi kita perlu membuat panduannya. Kita perlu melatih dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.Latih - percayakan - kerjakan - ditingkatkan - latih lagi - percayakan lagi - ditingkatkan lagi. Begitu seterusnya. Nah, larena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau kita memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

Perkembangan Peran

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang (baca tentang 10.000 jam terbang di sini dan di sini) seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa kenyataannya tidak? Karena selama ini kita masih sekadar menjadi ibu.

Ada beberapa hal yang bisa ibu lakukan dan calon ibu persiapkan ketika ingin meningkatkan kualitas kita agar tidak sekedar menjadi ibu lagi. Di antaranya adalah mungkin saat ini kita adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis. Tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka tingkatkan ilmu di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manajer keuangan keluarga.


Mungkin kita adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak. Sudah itu saja, hal inilah yang membuat kita jenuh di dapur. Mari kita cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.^^*

Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, mungkin kita adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat kita tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak. Karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu-ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.

Mari kita cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi manajer pendidikan anak. Anak-anak pun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan, tidak harus selalu di jalur formal.

Cari peran apalagi, tingkatkan latihan, dan seterusnya. Jangan sampai kita terbelenggu dengan rutinitas baik di ranah publik maupun di ranah domestik, sehingga kita sampai lupa untuk meningkatkan kompetensi kita dari tahun ke tahun. Akhirnya yang muncul adalah kita melakukan pengulangan aktivitas dari hari ke hari tanpa ada peningkatan kompetensi. Meskipun kita sudah menjalankan peran selama 10.000 jam lebih, tidak akan ada perubahan karena kita selalu mengulang hal-hal yang sama dari hari ke hari dan tahun ke tahun.
Hanya ada satu kata BERUBAH atau KALAH.

Salam Ibu Profesional,

Tim Matrikulasi IIP

Referensi:

- Institut Ibu Profesional, Bunda Cekatan, sebuah antologi perkuliahan IIP,  2015
- Hasil diskusi Nice Homework Matrikulasi IIP Batch #1, 2016
- Irawati Istadi, Bunda Manajer Keluarga, halaman featuring, Success Mom's Story: Zainab Yusuf As'ari, Amelia Naim, Septi Peni, Astri Ivo, Ratih Sanggarwati, Okky Asokawati,Fifi Aleyda Yahya, Oke Hatta Rajasa, Yoyoh Yusroh, Jackie Ambadar, Saraswati Chasanah, Oma Ary Ginanjar, Pustaka Inti, 2009.
- Video materi Ibu Manajer Keluarga


Diskusi Ibu Manajer Keluarga Handal

Pertanyaan 1

Ibu sebagai manager keluarga, maksudnya berpakaian rapi dan chic itu bagaimana? saya kalau di rumah dasteran, rambut di kuncir seadanya, anter anak sekolah paling lipstikan sama alisan dikit.
Kadang aktivitas sudah sedemikian rupa direncanakan, namum 24 jam itu serasa kurang dan yang menjadi prioritas malah belum sempat di kerjakan. Bagaimana agar saya bisa berubah bukan hanya di niat dan komitmen saja? Terima kasih.

Jawaban 1

Berpakaian rapi itu layaknya berpakaian seperti kerja kantoran, Mbak. Tapi nggak harus rapi banget. Minimal pakaian rapi, bersih, dan wangi Jadikan rumah kita sebagi kantor utama.
Jadi, jangan pakai daster kucel, penampilan seadanya.

Belajar dari Bu Septi, ketika Bu Septi fokus memenuhi target 10.000 jam dalam mendidik anak-anaknya. bu septi membuat sebuah project yaitu "7 to 7 project".

Jadi, dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam, Bu Septi berpakaian rapi untuk mendidik anak-anaknya dengan sungguh sungguh. Menentukan waktu khusus untuk bermain dan mendidik anak, kalau tidak salah hingga pukul 14.00. Sampai pukul 14.00 tersebut jika ada tamu yang datang (misalnya tetangga ajak ngobrol, kumpul-kumpul, dan lainnya harus menunggu Bu Septi sampai selesai bermain dan belajar bersama anak.

Dari pengalaman Bu Septi itu, kita bisa juga belajar untuk menghargai peran kita bekerja di ranah domestik (rumah). bekerja di rumah dilakukan secara profesional layaknya ibu yang bekerja di ranah publik.

Nah, sekarang kita bisa lihat hasil dari kesungguhan Bu Septi dalam berproses menjadi ibu profesional. Bu Septi menyebut pekerjaannya dulu "Ibu rumah tangga profesional" dan memiliki kartu nama. Kartu nama diberikan saat bertemu orang ketika menemui acara-acara diluar rumah. keren kan. ^^3

Untuk management aktivitas, kita akan belajar tentang managemen waktu. ada 4 bagian nanti yang harus kita tentukan aktivitasnya, (1) penting, mendesak, (2) penting, tidak mendesak, (3) tidak penting, mendesak (4) tidak penting dan tidak mendesak.

Pertanyaan 2

Sebagai ibu yg mengurus keluarga ada kalanya kita merasa jenuh, gimana caranya supaya panggilan hati itu terus ada dan menjalaninya tanpa mengeluh.  Misalnya saya IRT yg sehari2 dirumah, dan memang senang beberes melakukan pekerjaan domestik. Tapi ada kalanya saya jenuh dan mengeluh pada akhirnya.

Jawaban 2

Agar panggilan hati terus ada, berdasarkan pengalaman pribadi biasanya Uni Trisa selalu mengingatkan dirinya sendiri tentang tujuan penciptaan saya (baik sebagai individu, istri dan ibu di keluarga dan di masyarakat). Hidup di dunia ini hanya sementara, kita harus terus melakukan yang terbaik yang kita bisa. Bismillah!

Kalau jenuh itu sangat biasa terjadi. Biasanya karena capek pekerjaan tidak ada habisnya. Selesai A, ada lagi B, selesai B ada lagi C, dan seterusnya. Maka solusinya yaitu kita membutuhkan waktu untuk sendiri walaupun hanya sebentar, mminta izin kepada suami dan anak agar kita diberikan waktu untuk diri sendiri. Istilah keren sekarang "Me Time"

Banyak hal yang bisa dilakukan tergantung kesukaan kita masing masing, hal yang membuat kita bahagia, misalnya berduaan dengan Sang Pencipta, membaca untuk yang hobi membaca, silaturahmi dan berkumpul sama teman, ada juga yang belanja, rekreasi, dan sebagainya sesuai dengan kesukaan masing-masing.

Jadi coba dicari tahu penyebab jenuhnya dan lakukan aktivitas yang membahagiakan kita. Sesekali juga perlu muhasabah dan evaluasi diri sendiri. Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Coba lihat juga ke orang-orang yang mungkin tidak seberuntung kita 😊

Pertanyaan 3

Bagaimana bila kita sudah sedemikian rupa menata dan mengatur peran-peran dan tugas masing-masing anggota keluarga termasuk PRT, namun ada anggota yang tidak menjalankan perannya dengan baik. Sudah dijelaskan kembali, namun masih mengulangi kesalahan yang sama.


Apa yang sebaiknya kita lakukan ya?

Jawaban 3

Untuk yang tidak menjalankan peran dengan baik, perlu dilakukan komunikasi produktif. cara berkomunikasinya disesuaikan dengan orangnya.

Misalnya suami, kadang suami melakukan kesalahan berulang karena memang disengaja atau memang tidak mau tahu merasa itu semua tugas istri. Nah, saya pernah mengalami ini, tapi setelah bicara dari hati ke hati, saat suasana yang pas, cara bicara yang baik, tatapan mata penuh cinta, dan tidak marah-marah atau emosi, alhamdulillah satu per satu bisa terselesaikan dengan baik dan kami bisa saling bekerja sama.

Jika itu anak, maka sangat wajar jika melakukan kesalahan yang sama terus terusan, karena memang mereka masih dalam tahap pembentukan karakter diri. Yang bisa ibu lakukan adalah bersabar dan terus mencontohkan bagaimana seharusnya (bukan hanya dimulut, tapi juga praktik).

Jika ART, tetap dikomunikasikan dengan baik. Tanyakan apa yang dia rasakan, apa alasannya, dan cari solusi bersama (bukan solusi yang menurut kita benar). Komunikasinya juga harus produktif.

Sebagai tambahannya bisa dibuka materi komunikasi produktif Bu Septi yang sangat banyak bertebaran di google.

Pertanyaan 4

Tentang perkembangan peran, apakah untuk jadi ibu profesional kita harus pandai dalam banyak hal seperti masak, berbenah, juga menggeluti ilmu yang mau ditekuni? Sebagai manajer keluarga, bagaimana caranya supaya bisa tetap saling menghargai dan tetap taat kepada suami? Terakhir mau tanya lagi tentang manajemen waktu. Pasti banyak sekali yang harus dikerjain oleh ibu (kerja publik/domestik). Bolehkah, Uni Trisa sebagai fasilitator sharing tips manajemen waktu yang sudah dipunyai sebagai ibu, istri, pengurus IiP, sekaligus menulis buku anak-anak juga?

Jawaban 4

Bagi saya sendiri (belajar dari Bu septi juga), kita tidak harus bisa semua ilmu dalam urusan rumah tangga. Saya hanya bisa memasak, namun tidak excellent. Memasak makanan untuk dikonsumsi sehari-hari. Sesekali belajar masakan baru. Jadi saya jarang sekali bikin kue dan lain-lain.  Dan itu saya komunikasikan kepada suami, saya tanyakan pendapat suami, dan akhirnya kami memutuskan kalau ingin makan makanan lain (cemilan misalnya), kami cukup pesan. Dan keluarga oke oke saja (tidak ada paksaan saya harus masak sendiri). Tapi sesekali saya juga bikin sendiri.  😊

Saya juga tidak suka sekali menyetrika. Menyetrika adalah salah satu hal yang membuat saya tidak bahagia, pekerjaan terasa lama sekali. Kembali lagi saya komunikasikan kepada suami, solusinya bisa cari mbak yang khusus menyetrika saja. Atau pakaian rumah cukup dilipat, hanya pakaian keluar saja yang di seterika. Saat membeli baju juga cari bahan yang mudah disetrika, bahkan kalau bisa tanpa disetrika pun masih oke :)

Untuk pertanyaan kedua, setiap hal yang kita lakukan dan melibatkan keluarga atau berhubungan dengan keluarga, di komunikasikan terlebih dahulu lebih baik. Dicari solusi yang sama-sama membuat kita nyaman dan bahagia. Tidak boleh ada ego.


Satu hal yang paling penting saat berkomunikasi adalah clear and clarify. Apa yang kita rasakan harus disampaikan sepenuhnya, tidak boleh ada yang dipendam. Dan tidak boleh merasa rasa tanpa kita mengklarifikasi, apakah yang kita rasakan tersebut benar-benar seperti itu terjadi. Soalnya kan perempuan sangat sensitif, suka merasa rasa (dia marah nggak ya sama saya, dia suka nggak ya kalau saya begini, dia kok begitu orangnya). Tapi tidak pernah ditanyakan (diklarifikasi kebenarannya secara jelas, suka memberikan kode. Hal ini dalam komunikasi produktif tidak diperbolehkan.

Untuk pertanyaan terakhir, aktivitas sehari-hari dikelompokkan menjadi empat aktivitas yang telah dijelaskan sebelumnya. Penting dan mendesak, penting dan tidak mendesak, tidak penting dan mendesak, dan tidak penting dan tidak mendesak.  

Pengalaman saya dulu saat perbaikan manajemen waktu, ternyata yang tidak penting dan tidak mendesak inilah yang paling lama saya lakukan. Misalnya main gadget dan buka sosial media sebentar-sebentar tapi jika dikumpulkan seharian jadi 2 jam bahkan 3 jam. Akhirnya saya berubah.


Saya membuat manajemen waktu berdasarkan empat prioritas tadi. Kapan saya harus mengurus keluarga, kapan saya harus mengurus rumah (beberes, masak, cuci baju, dan sebagainya), kapan saya harus belajar, baca atau nulis buku (ini me time saya), kapan waktu saya untuk komunitas (biasanya siang 1.5 jam dan malan 1 - 1.5 jam). Yang terpenting adalah patuhi waktu yang telah ditentukan.

Nah, tentang manajemen waktu, biasanya saat waktu berkomunitas habis, saya akan tinggalkan gadget dan saya kembali lagi bersama keluarga. Jika ada yang darurat saya akan minta izin terlebih dahulu.

Leave a Reply

Terima kasih atas komentarnya :)

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

Get My Articels for Your Email

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -