Karena Saya Tidak Ingin Menjadi Pendidik yang Biasa Saja

Daruma San and Sakura from Japanese Shop Ilustrasion 
Siang tadi selepas menikmati makan siang, saya berbincang sebentar dengan rekan psikolog di tempat mengajar. Salah satu hal yang kami bicarakan adalah tentang keinginan besar yang belum tercapai. Rekan saya bilang kalau dia sangat ingin menjadi psikolog di puskesmas. Walaupun saat ini dia tetap menikmati tugas sebagai psikolog di lembaga pendidikan, menjadi psikolog di puskesmas adalah profesi impiannya yang sejalan dengan gelar keprofesiannya sebagai psikolog klinis dewasa.

Tiba giliran saya berbicara. Saya merasa saat ini saya sangat mencintai pekerjaan saya sebagai pendidik individu dengan autisme usia dewasa. Tapi mencintai pekerjaan saya saat ini tidaklah cukup buat saya. Ada hal lain yang ingin saya capai. Bukan sekadar menjadi pendidik yang biasa saja, yang selalu berkutat dengan kelas dan materi ajar. Saya juga ingin menjadi pendidik yang luar biasa, yang tidak hanya memberikan pengaruh kepada murid-murid besar saya di dalam kelas tetapi juga memberikan pengaruh lebih luas lagi. 

Target besar yang saya punya adalah menjadi pakar pendidikan khusus individu dengan autisme, melakukan banyak penelitian di bidang ini, menemukan solusi dari kompleksnya berbagai permasalahan individu dengan autisme. Yang mana satu-satunya cara untuk mencapai target ini adalah dengan melanjutkan kuliah magister dan doctoral, hingga saya dapat terverifikasi di sebuah laboratorium pendidikan sebagai seorang pakar di bidang keautistikan.

Aaaaah~! T____T Memikirkan hal ini menjadikan saya kembali teringat kejadian empat bulan lalu. Empat bulan ini saya hiatus dari aktivitas begadang hampir setiap malam karena harus belajar secara mandiri yang telah saya lakukan selama hampir satu tahun. Itu berarti juga sudah empat bulan sejak saya secara resmi tidak lulus seleksi beasiswa Monbusho. Saya masih teringat berdebarnya jantung saya dengan sangat cepat dan dinginnya jemari saya ketika melihat hasil seleksi berkas. Saat itu bahkan saya harus mencari tempat duduk di antara kerumunan orang yang ada di stasiun, karena kaki saya bergetar hebat. Alhamdulillah, qodarullah, saya belum lulus.

Sedih? Pastinya! Tapi saya percaya, inilah saatnya saya utuk belajar lebih banyak lagi. Di sinilah saya bisa lebih memperbaiki diri lagi untuk melanjutkan sekolah ke Jepang. Ini waktunya memantaskan diri lagi demi mencapai tujuan besar saya menjadi seorang pakar pendidikan untuk individu dengan autisme.

Saya berpikir ulang, berkontemplasi, dan menengok kembali usaha-usaha yang sudah saya lakukan setahun persiapan untuk seleksi beasiswa. Lembar CV saya masih biasa-biasa saja, belum ada hal yang wah yang akan menarik perhatian pemerintah Jepang untuk memberikan saya beasiswa, terutama dalam bidang keilmuan saya. Jadi saya bertekad tahun depan, di kesempatan kedua mendaftar beasiswa, harus ada prestasi yang lebih bergengsi dalam bidang keilmuan saya untuk menarik perhatian pemerintah Jepang.

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal. Kurang lebih hampir dua bulan setelah berkas saya ditolak, saya bisa mempresentasikan tulisan saya di Asia Pasific Autism Conference 2019 di Singapura. Tidak tanggung-tanggung ternyata ini adalah konferensi autism terbesar sedunia dan tahun ini dilaksanakan di World Convention Centre, Sentosa Island, yang dikenal sebagai event venue termewah di Singapura. Ditambah lagi, selama enam hari konferensi lalu saya hampir tidak mengeluarkan uang dari kantung saya sendiri. Semua biaya konferensi dan akomodasi ditanggung oleh Autism Resource Centre Singapore sebagai tim penyeleksi tulisan saya dan biaya hidup saya ditanggung lembaga tempat saya bekerja. Alhamdulillah.

Lebih dari itu di sana saya mendapatkan hak sebagai delegasi khusus dan bisa belajar langsung dari para pakar pendidikan untuk individu dengan autisme yang selama ini hanya saya nikmati buku-bukunya atau seminarnya secara online di YouTube, seperti Dr. Patricia Howlin dari UCL, Dr. Peter Vermeulen dengan teori Context Blindness, dan Dr. Laura Klinger bersama tim TEACCH dari USA. Nikmat lainnya adalah ketika saya berkenalan dengan pembicara lain yang ternyata memiliki spectrum autisme. Di sini saya mendapatkan sebuah pencerahan dan semangat untuk menjalankan sebuah projek Social Club untuk autism dewasa. Insya Allah pilot projek dari projek ini akan berlangsung tanggal 6 Oktober 2019 ini. Hiks. Terharu dengan kesempatan-kesempatan yang sudah Allah SWT berikan.

Satu lagi kesempatan yang Allah SWT berikan kepada saya. Pekan lalu, alhamdulillah tulisan saya lulus seleksi di Temu Pendidik Nusantara 2019, sebuah konferensi pendidikan terbesar yang ada saat ini di Indonesia. Insya Allah akhir Oktober 2019 ini saya akan mempresentasikan hasil temuan lainnya yang berhubungan dengan pendidikan dan pelatihan individu dengan autisme untuk usia remaja dan dewasa di hadapan pendidik se-Indonesia.

Yang saya lakukan mungkin bukan hal besar bagi sebagian orang, tapi buat saya ini seperti sebuah panggilan hati. Seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini. Saya hanya tidak ingin menjadi pendidik biasa yang memberikan manfaat sebatas pada lingkup murid-murid besar saya di kelas. Kelak saya ingin menjadi seorang pendidik yang bisa memberikan manfaat untuk murid-murid besar lain di seluruh dunia melalui temuan-temuan saya. Saya ingin membantu pendidik-pendidik lain menemukan solusi dari kompleksnya kondisi individu dengan autism, baik yang usia anak-anak maupun dewasa. Semua ini bukan untuk karir atau kedudukan saya sendiri, tapi saya sangat berharap suatu hari Indonesia dan orang-orang di dalamnya bisa lebih ramah terhadap keberadaan individu dengan autisme. ^_^

Sejak kuliah sempat terbersit ingin sekali menjadi Autism Awareness Ambassador untuk Indonesia, tapi sepertinya tidak ada ambassador di hal ini ya. Hhihihihi. Sempat terlintas juga untuk menempati posisi menteri pendidikan Indonesia suatu hari nanti demi tercapainya target besar ini, tapi rasanya ini muluk sekali. Hahaha.
Daruma Dolls photo from Pinteres
Well, tidak lulus beasiswa pada percobaan pertama mungkin memang sudah menjadi jalan saya untuk bisa lebih fokus melakukan banyak hal bermanfaat untuk murid-murid besar saya saat ini. Ditambah lagi bertambahnya waktu untuk mencoba berbagai ide-ide baru untuk membantu lebih banyak lagi individu dengan autism agar bisa diterima dengan baik oleh masyarakat. Semoga dengan begini saya bisa lebih siap melanjutkan sekolah di Negeri Sakura. Aamiin.

Yang terpenting sekarang adalah saya harus tetap semangat, seperti Daruma San dalam ilustrasi tulisan kali ini yang selalu kembali berdiri tegak walau berkali-kali digoyangnya dan jatuh. 

Lisfatul Fatinah Munir | 4 Oktober 2019

04 October 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Terus Menuntut Individu dengan Autisme Melakukan Kontak Mata, Perlukah?

Photo by Yan Ots on Unsplash.com
“Lihat mata!”

Sejak saya masih menjadi mahasiswa pendidikan khusus hingga sekarang, kalimat di atas adalah kalimat yang paling sering saya dengar ketika seseorang sedang berinteraksi dengan individu dengan autisme. Dan tanpa saya sadari, hal ini juga saya lakukan kepada murid saya ketika saya baru mengajar hingga beberapa tahun belakangan saya memutuskan untuk tidak terlalu sering menggunakan kalimat ini dan menuntut murid untuk selalu melakukan kontak mata ketika sedang berinteraksi.

Semua ini bermula dari pembicaraan saya dengan rekan psikolog di tempat mengajar. “Mbak Lisfah, kenapa, sih, murid-murid kita harus selalu menatap kalau lagi bicara?” Tanya beliau yang secara akademik sebagai psikolog klinis dewasa dan belum pernah menangani individu dengan autisme.

“Untuk menjaga mereka tetap fokus dengan apa yang mereka lakukan, Mbak. Kalau sedang bicara, berarti agar mereka fokus ke orang yang sedang diajak bicara dan fokus ke topik pembicaraannya. Terus, itu kan salah satu bagian dari kemampuan sosial komunikasi. Jadi untuk melatih bagaimana menunjukkan ketertarikan ke lawan bicara kalau lagi bersosial.” jawab saya.

“Bener juga ya. Eh, tapi gimana kalau ternyata murid kita gak melakukan kontak mata karena itu keinginan dia dan refleks dari situasi tertentu? Karena kan ada momen-momen di mana kita memang menghindari menatap mata dengan lawan bicara.” beliau menjelasnya.

Sejak percakapan singkat ini saya mulai mengobservasi ulang perilaku murid-murid besar saya ketika berinteraksi, khususnya ketika sedang berbicara dengan orang lain. Memang benar apa yang disampaikan rekan psikolog saya, pada beberapa murid besar yang memiliki kemampuan kontak mata sangat bagus, kontak mata akan tidak ada ketika mereka berada di situasi yang tidak nyaman. Seperti ketika mereka melakukan kesalahan, berhadapan dengan orang yang kurang mereka sukai, dan ketika diingatkan oleh orang yang lebih tua dari mereka.

Saking penasarannya dengan seluk-beluk kontak mata dari berbagai sudut pandang keprofesian yang menangani individu dengan autisme, saya juga mencoba membaca beberapa artikel terkait dari berbagai pusat studi autisme. Dan hasilnya sangat mencerahkan buat saya. Bisa dibilang ini seperti penguatan buat saya akan pentingnya memahami bidang yang saya tekuni saat ini dari sudut pandang berbagai bidang ilmu.

Kalau ditanya kenapa harus melakukan kontak mata ketika berbicara atau berinteraksi? Jawabannya karena kontak mata adalah perilaku komunikasi nonverbal yang sangat penting, yang biasanya secara naluriah atau alami kita lakukan selama melakukan interaksi sosial. Walaupun kontak mata adalah perilaku yang muncul secara naluriah mengikuti kondisi seseorang, akan tetapi tidak demikian dengan individu dengan autisme. Bagi individu dengan autisme dewasa ataupun anak-anak, perlu usaha yang sangat besar untuk melakukan kontak mata ketika berinteraksi dengan orang lain.

Beberapa buku dan artikel yang ditulis oleh autisme dewasa menceritakan betapa stresnya dan tidak nyamannya mereka ketika orang tua dan guru mereka meminta mereka untuk melakukan kontak mata selama berkomunikasi, walaupun perintah melakukan kontak mata tersebut memiliki tujuan yang baik untuk mereka. Lebih lanjut lagi dalam tulisan-tulisannya mereka bercerita bahwa mereka justru sering kehilangan fokus dalam waktu yang panjang ketika mereka dituntut melakukan kontak mata sementara kondisinya tidak membuat mereka nyaman melakukan kontak mata.

Jadi kontak mata itu penting atau tidak, sih? Penting. Malah sangat penting dilatih pada individu dengan autisme di usia anak-anak. Lalu perlukah kita mendesak atau menuntut mereka untuk terus melakuka kontak mata? Jawaban terbaiknya adalah tergantung dengan situasi yang dihadapi oleh individu dengan autisme tersebut. Jika situasi yang ada adalah situasi yang memang membuat mereka tidak nyaman, maka tidak diperlukan tuntutan untuk melakukan kontak mata. Karena alih-alih mengharapkan mereka untuk lebih fokus, bisa jadi mereka justru menjadi lebih terdistraksi oleh tuntutan melakukan kontak mata. Tapi bagi individu dengan autisme yang sudah kita ketahui bahwa individu tersebut tidak bisa fokus tanpa kontak mata, maka kita tetap perlu mendorong mereka untuk melakukan kontak mata.

Lambat laun setelah memahami dari sudut pandang kelilmuan lain tentang kemampuan kontak mata pada individu dengan autisme, ada hal lebih dalam yang saya sadari dan syukuri. Alih-alih menuntut mereka melakukan kontak mata di berbagai kondisi, dengan lebih memperhatikan situasi dan kondisi murid-murid besar ketika melakukan interaksi sosial membuat saya mengenal mereka lebih jauh sebagai manusia seutuhnya.

Lisfatul Fatinah Munir | 3 Oktober 2019

03 October 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Efek Samping Gluten dan Kasein pada Individu dengan Autisme/ADHD



Photo by Sheri Silver on Unsplash.com

Bulan lalu ada salah satu murid besar saya yang merayakan ulang tahun di kampus. Seperti rutinitas biasanya ketika ada murid besar yang merayakan ulang tahun, maka seluruh murid besar yang hadir akan dikumpulkan dalam satu ruangan. Mereka akan memberikan ucapan selamat dan doa kepada yang berulang tahun, lalu menerima kue dari yang berulang tahun.

Hari itu ada satu murid besar yang heboh, terlalu senang, saat melihat kue ulang tahun yang penuh dengan lapisan cokelat. Tapi kami, saya dan seluruh pengajar, tahu kalau sebenarnya murid besar yang satu ini sangat menjaga pola makannya dengan diet gluten dan kasein sebagaimana umumnya individu dengan autisme. Well, syukurnya murid besar ini tidak tantrum ataupun marah ketika tidak diberikan kue ulang tahun yang sudah ditunggu-tunggu. Sebagai gantinya, murid besar ini hanya mendapatkan tambahan lauk dari nasi tumpeng yang juga menjadi salah satu menu makanan dari murid besar yang berulang tahun.

Cerita di atas mungkin hanya satu dari cukup banyak kasus individu dengan autisme yang menjalankan diet gluten dan kasein secara ketat. Banyak orang tua atau pendidik mungkin sering membaca kalau individu dengan autisme perlu menjauhi makanan atau camilan yang mengandung gluten dan kasein. Tapi sayangnya tidak banyak orang tua dan pendidik yang tahu secara gamblang alasannya kenapa mereka harus menghindari gluten dan kasein. Sama seperti pertanyaan beberapa mahasiswa magang yang tempo hari beertanya kenapa saya tentang hal ini. Padahal kan semua makanan dan camilan yang mengandung gluten dan kasein sangat enak. Hehehe. Berhubung beberapa bulan lalu saya sempat menuliskan artikel ilmiah terkait hal ini, kayaknya saya perlu juga, nih, menulis hal ini di blog saya dengan pemaparan yang santuy buat teman-teman pendidik dan orang tua yang penasaran.

Photo by Tom Sodoge on Unsplash.com

Efek Samping Gluten dan Kasein


Kebanyakan dari kita yang suka snacking pasti tahu rasanya bagaimana tangan dan mulut ini tidak bisa berhenti saat sedang menikmati camilan, entah itu camilan yang manis dari keju atau cokelat ataupun camilan yang asin. Dan setiap pecinta cokelat dan kopi pasti paham bagaimana nikmatnya setelah meneguk cokelat hangat dan kopi panas yang pahit. Seperti ada rasa tenang atau senang yang sangat lembut mengalir di seluruh darah dan membuat kita ingin terus mengeguk cokelat hangat dan kopi itu, kan?

Contoh di atas tanpa kita sadari adalah efek dari mengonsumsi gluten dan kasein pada orang tanpa autisme/ADHD. Gluten dan kasein dalam beragam makanan, camilan, dan minuman pasti membuat kita ketagihan (adiktif), ingin terus menikmati mereka, dan sering membuat kita merasa nyaman dan tenang. Efek ini kurang lebih sama seperti efek dari penggunaan morfin yang membuat penggunanya merasa tenang seperti ingin terbang dan jadi kecanduan.

Sekali lagi, contoh ini terjadi pada orang tanpa autisme, ya. Bagaimana efeknya jika individu dengan autisme/ADHD mengonsumsi gluten dan kasein? Kurang lebih efeknya sama tapi dengan intensitas perasaan nagih, rasa senang, dan energi yang jauh lebih tinggi. Hal ini dikarenakan pada dasarnya individu dengan autisme/ADHD yang kesulitan mengontrol diri, kesulitan memusatkan perhatian, dan memiliki hiperaktivitas.

Gluten dan Kasein yang Berubah Jadi Morfin


Efek samping mengonsumsi gluten dan kasein yang mirip dengan efek samping penggunaan morfin ini ada hubungannya, loh, dengan proses pemecahan gluten dan kasein dalam tubuh manusia. Ternyata ketika makanan atau minuman yang mengandung gluten dan kasein ini masuk ke dalam tubuh, gluten dan kasein akan hancur menjadi zat-zat yang lebih kecil lagi. Saat proses hancurnya ini, nih, gluten dan kasein akan berubah sebentar menjadi glutemorfin dan kasemorfin yang punya sifat mirip sekali dengan morfin. Walaupun berubahnya sebentar, tetapi efeknya tetap bisa kita rasakan seperti rasa kecanduan dan nyaman yang sudah saya tulis di atas.

Individu dengan autisme/ADHD yang pada dasarnya memiliki masalah pada perilaku, kurangnya kemampuan mengontrol diri, dan memiliki hiperaktivitas akan merespon glutemorfin dan kasemorfin ini dengan sangat berlebihan. Oleh sebab itu kebanyakan individu dengan autisme/ADHD akan tantrum, sulit fokus, dan semakin tampak perilaku hiperaktivitasnya setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten dan kasein.

Hal lainnya lagi, beberapa jurnal dan artikel kesehatan yang pernah saya baca juga menyebutkan kalau sistem pencernaan kita ternyata cukup sensitif terhadap glutemorfin dan kasemorfin. Sensitif di sini maksudnya sistem pencernaan kita mampu merespon dengan sangat baik kedua zat tersebut. Nah, sistem pencernaan individu dengan autisme/ADHD terlalu sensitif dengan glutemorfin dan kasemorfin, jadinya kedua zat ini akan direspon dengan terlalu baik juga. Hehehe, yang terlalu baik di sini justru menjadi tidak baik buat individu dengan autisme/ADHD, ya.

Photo by Andrew Neel on Unsplash.com

Efek Samping Lanjutan Glutemorfin dan Kasemorfin


Dianjurkannya diet gluten dan kasein untuk individu dengan autisme/ADHD karena ada banyak sekali, nih, efek samping lanjutan dari glutemotfin dan kasemorfin yang ada di gluten dan kasein. Ketika individu dengan autisme/ADHD mudah teralihkan fokusnya, bertambah intensitas hiperaktivitasnya, semakin tidak terkontrol perilaku dan emosinya, bahkan hingga tantrum, maka akan tetap begini untuk beberapa jam bahkan satu hari ke depannya, loh. Untuk individu dengan autisme/ADHD yang punya gangguan tidur, bahkan akan berefek pada pola tidurnya juga.

Sebegitu berbahayanya gluten dan kasein ini untuk individu dengan autisme/ADHD. Dan akan berefek lebih lanjut dalam proses belajar atau di lingkungan belajarnya. Kasus yang paling sering muncul adalah kemampuan fokus yang amat sangat menurun setelah mengonsumsi gluten dan kasein. Belum lagi ketika individu dengan autisme/ADHD menjadi tidak terkontrol perilakunya hingga tatrum. Biasanya jika satu murid sudah tidak terkontrol perilakunya dan tantrum, maka murid lain akan terdistraksi dan ikut tidak terkontrol perilakunya. Begitu terus siklusnya. Hal ini pastinya tidak kondusif untuk proses belajar apalagi untuk diri individu dengan autisme/ADHD. Lebih jauh lebih lagi dari program belajar dan terapi untuk individu dengan autisme/ADHD tidak akan berjalan dengan maksimal jika mereka tetap mengonsumsi gluten dan kasein.

Sepanjang itulah ternyata efek samping gluten dan kasein yang bisa membuat orang ketagihan dan merasa tenang tapi berbahaya untuk individu dengan autisme/ADHD. Oleh sebab itu banyak ahli dari lintas profesi yang menangani individu dengan autisme/ADHD menyarankan orang tua untuk menjaga pola makan tanpa gluten dan kasein, terutama untuk individu dengan autisme berspektrum tinggi. Diet gluten dan kasein ini hanya untuk kebaikan individu dengan autisme/ADHD, agar mereka memiliki progres dan pencapaian yang signifikan.

Lisfatul Fatinah Munir | 2 Oktober 2019

02 October 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

Awal yang Salah dari Guru Pendidikan Khusus

"It takes special people to teach special students"

Photo by Stephanie Harvey on Unsplash.com

Belakangan ini saya sering mendapatkan pesan lewat Instagram dari guru-guru muda yang baru bertugas di SLB ataupun Sekolah Inklusif. Menariknya ada beberapa pertanyaan yang mirip, yaitu tentang tahap awal penanganan anak dan keselarasan antara praktik di lapangan dengan teori yang sudah dipelajari di kampus. Beberapa contoh kasus dari pertanyaannya kurang lebih seperti di bawah ini.

Bagaimana kita bisa mengajar anak yang kita tidak tahu diagnosis disabilitasnya apa?

Bagaimana jika murid dengan spektrum autisme sekaligus disabilitas intelektual tidak dapat mengikuti materi belajar di kelas? Kenapa kita perlu mengajarkan materi akademik?

Bukannya mengajarkan life skills itu jauh lebih penting buat murid berkebutuhan khusus?

Duh! Aku bingung banget, nih, menghadapi murid di Sekolah Inklusif yang beragam banget kedisabilitasannya?

Beberapa tahun lalu saat pertama kali secara resmi menjadi pengajar di lembaga saya sekarang bekerja, saya juga sering mempertanyakan hal-hal seperti di atas. Pertanyaan tentang diagnosis ini, sih, yang sering sekali saya lontarkan di awal-awal. Sampai akhirnya saya teringat salah satu pesan dosen saya tentang kondisi murid-murid berkebutuhan khusus yang akan saya hadapi.

Diagnosis bukanlah senjata yang dibutuhkan guru pendidikan khusus, karena guru pendidikan khusus yang bisa mengenali dan memahami kebutuhan muridnya akan tetap bisa mengajar dengan baik tanpa tahu diagnosisnya. Begitu kurang lebih pesan beliau. Sejak saat itu, kurang lebih beberapa bulan setelah pertama kali saya mengajar, saya mencoba mengenyampingkan diagnosis dan mulai refleksi diri.

Salah Berpijak Hingga Salah Langkah


Kalau dipikir-pikir memang tidak sepenuhnya diagnosis kedisabilitasan murid itu tidak dibutuhkan. Mengetahui diagnosis kedisabilitasan murid memang perlu, tapi itu bukan hal utama yang dibutuhkan untuk mengajar. Apalagi kalau hasil diagnosis sudah menjadi label atau identitas pada anak, sehingga membuat kita para pendidik, staf di lembaga pendidikan, hingga orang tua hanya fokus pada diagnosis dan menutup mata atas kemampuan yang tampak dan mengenyampingkan kelebihan yang dimiliki murid.

Kalau bukan berangkat dari diagnosis, lalu harus mulai dari mana? Jawabannya ada di pesan dosen yang saya tulis di atas. Yakni mulailah dari mengenali dan memahami kebutuhan murid. Berangkatlah dari kondisi kelebihan dan kekurangan masing-masing murid. Kekurangan dan kelebihan murid, sekecil apapun itu, adalah hal yang semestinya menjadi pijakan utama guru pendidikan khusus sebelum melangkah ke dalam program belajar yang dirancang sesuai kebutuhan murid.


Photo by Suhyeon Choi on Unsplash.com

Ingat, Langkah Pertama Dimulai dari Kita!


Tapi beberapa tahun belakangan mengajar, saya menemukan hal yang cukup menarik tentang mengenali dan memahami kebutuhan murid. Ternyata mengenali kelebihan dan kekurangan murid saja tidak cukup untuk memulai langkah pertama dalam proses membersamai mereka. Ada hal yang luput dari diri banyak pendidik, termasuk saya, hal yang semestinya melekat pada setiap pendidik dan tidak hanya bersifat prosedural antara identifikasi murid, asesmen, penanganan, dan evaluasi. Ada satu hal yang sering kita lupa, yaitu kita jarang memandang murid-murid berkebutuhan khusus sebagai manusia dan secara tidak langsung malah memandang mereka sebagai objek dari suatu projek ataupun program. Sejujurnya saat masih memandang murid-murid saya sebagai objek, saya merasa sering tertekan dengan target-target program yang tidak tercapai.  

Awalnya saya merasa hal ini biasa saja, wajar kalau saya tertekan oleh target-target program yang tidak tercapai. Tapi untuk siapa program ini? Program ini bukan untuk saya, ini untuk murid-murid saya. Yang seharusnya menjadi fokus saya bukanlah keberhasilan saya, melainkan bagaimana murid-murid saya berproses dan mencapai target program sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya. Akhirnya, saya merasakan bagaimana program yang sudah dirancang tidak bisa berjalan secara maksimal jika saya tetap melihat murid-murid saya sebagai objek atau benda mati yang harus diperbaiki melalui program-program yang saya rancang.

Memulai dari diri sendiri dengan memahami diri sendiri sebagai guru pendidikan khusus yang mendidik murid-murid berkebutuhan khusus, ciptaan Tuhan yang juga bernyawa seperti saya, juga memiliki perasaan sebagaimana manusia pada umumnya, dan memiliki cara berpikir yang sedikit berbeda dari kita pada umumnya. Dan mereka sejatinya adalah murid-murid yang begitu menggemaskan dengan keunikan masing-masingnya. Memanusiakan hubungan dengan murid. Ini langkah pertama yang semestinya perlu dilakukan oleh setiap guru pendidikan khusus. Tidak peduli seminim apapun kemampuan mereka, sekecil apapun progres yang dimiliki, hubungan yang memanusiakan adalah langkah pertama yang harus kita ambil setelah menemukan pijakan yang tepat.

Praktik Memanusiakan Hubungan


Teman-teman guru pendidikan khusus mungkin bingung apa yang dimaksud dengan memanusiakan hubungan? Bagaimana memanusiakan hubungan? Apa bedanya dengan menjalankan hubungan seperti guru dan murid pada umumnya?

Melihat murid-murid berkebutuhan khusus yang kita bersamai adalah menyadari bahwa mereka juga sama seperti kita pada umumnya. Hanya saja, mereka memiliki keterbatasan untuk melakukan banyak hal seperti kita dan selebih sering mereka justru tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk berperilaku dan bersikap seperti kebanyakan orang.

Dalam melakukan langkah pertama dengan memanusiakan hubungan dengan murid-murid berkebutuhan khusus kita, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan. Ketiga hal ini bukan sesuatu yang rumit. Saya yakin setiap orang pasti bisa melakukannya, hanya butuh kesabaran yang dilipatgandakan dan komitmen untuk melakukannya. Cobalah untuk tetap tenang di kondisi apapun dan biasakan memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan.

Tetap tenang berarti kita tidak boleh panik walaupun murid-murid kita panik, marah, menangis, ataupun sangat mengganggu lingkungan sekitarnya. Ingat, loh, peran kita sebagai pendidik adalah membantu mereka untuk mengontrol cara mereka mengungkapkan emosi, bukan ikut masuk dalam emosi yang sedang mereka alami. Memberikan kesempatan kepada murid-murid berkebutuhan khusus untuk mengungkapkan apa yang mereka pikirkan atau rasakan adalah hal yang sangat membutuhkan kesabaran dan komitmen tinggi untuk membiasakannya. Nah, memberikan kesempatan di sini artinya bisa sangat luas. Bisa dengan cara mendengarkan apa yang ingin mereka sampaikan, bertanya tentang apa yang mereka rasakan, atau dengan terus mengobservasi perilaku yang muncul dan menemukenali penyebab munculnya perilaku-perilaku tersebut. Butuh waktu memang untuk melakukannya, mendengarkan murid yang mungkin belum mengungkapkan sesuatu melalui verbal ataupun mendengarkan murid yang belum mampu bercerita sesuai urutan. Tapi tetaplah berikan mereka kesempatan walau hanya beberapa menit.

Tidak mudah memang melakukannya. Tapi jika tidak dimulai sejak sekarang, akan ada banyak murid-murid berkebutuhan khusus yang terlantarkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya. Jika tidak dimulai dari sekarang, bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan profesi kita secara moral. Jika kita bisa segera memulainya dari sekarang, niscaya tidak ada lagi kebingungan dalam membersamai murid, karena sepanjang prosesnya kita akan semakin memahami setiap murid. 

Sekali lagi, diagnosis memang penting tapi bukan senjata utama untuk membersamai murid-murid berkebutuhan khusus. Pahami dan kenali setiap hal dari murid-murid spesial kita, sekecil apapun kelebihan dan kekurangannya, lalu jalinlah hubungan yang memanusiakan. Butuh waktu lama dari langkah pertama hingga kita meraih hasil dari target program belajar yang kita rancang untuk mereka, tapi percayalah selama prosesnya kita akan menjadi guru pendidikan khusus yang lebih bahagia dari sebelumnya dan mereka akan menjadi murid yang bahagia bersama kita. 

Photo by Leonardo Toshiro on Unsplash.com


“Students are like flowers. They bloom at different times.”

(@edutopia)


  Lisfatul Fatinah Munir | 1 Oktober 2019
01 October 2019
Posted by Fatinah Munir

Alhamdulillah It’s Only Temporary Blackout


Photo by Yeshi Kankang on Unsplash.com

Kemarin, 4 Agustus 2019, hampir seluruh Jawa mengalami listrik padam selama kurang lebih 12 jam. Saat itu saya sedang beraktivitas di luar rumah, jadi selama beberapa jam pertama saya tidak terlalu merasakan dampak mati listrik. Saya tiba di rumah sore hari dengan kondisi rumah yang gelap sebagaimana rumah-rumah lain, lampu jalanan sekitar rumah yang biasanya sudah menyala kini tidak berfungsi, dan tidak ada suara azan yang saling menyahut di langit-langit saat waktu maghrib datang. Saat itu baterai hape saya pun hanya tersisa tigapuluh persen, jaringan internet dan telepon melemah, sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan menggunakan hape kecuali memanfaatkan flashlight hape.

Sebelum benar-benar mematikan paket data, saya buka beberapa status whatsapp teman-teman walaupun hanya bisa mengakses status whatsapp berupa tulisan. Di beberapa status-status tersebut, kebanyakan teman-teman mengeluhkan mati listrik meskipun ada juga beberapa teman yang tidka mengeluh dan memilih membagikan informasi terkini terkait mati listrik yang sedang terjadi.

Membaca keluhan-keluhan teman-teman, saya sempat berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah sebegitu menyebalkannya ketika listrik padam. Pemikiran ini muncul mungkin karena saya bukan termasuk orang yang sangat attached dengan gadget, bahkan saya pernah dengan sengaja melepas gadget beberapa hari. Jadi saat listrik padam, sejenak saya sempat tidak cemas ataupun gelisah.

Ya, hanya sejenak. Saya hanya sejenak merasa biasa saja dengan padamnya listrik. Karena semakin malam dan semakin gelap, saya mulai merasa gelisah. Bukan gelisah karena terputus akses internet atau semacamnya, tapi lebih karena kondisi sekitar saya yang sepi, gelap, tidak banyak aktivitas dan interaksi seperti biasanya. Hal-hal buruk mulai terbersit di kepala saya, bagaimana kalau tetiba ada kebakaran di sekitar rumah? Bagaimana jika ada tiba-tiba ada gempa besar, karena malam sebelumnya Jakarta terkena gempa imbas dari gempa Banten? Bagimana jika kemungkinan-kemungkinan buruk itu Allah SWT Takdirkan datang malam itu juga? Memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di atas, saat itu kepala saya pusing. Literally kepala saya menjadi sangat sakit.

Selepas shalat maghrib, setelah menyingkirkan pikiran-pikiran negatif di kepala, saya keluar rumah untuk membeli makan malam. Kepala saya masih terasa sakit. Saya mencari penjual makanan di sekitar perkampungan rumah sendirian.

Saat di luar rumah membeli makan malam, saya harus keluar gang rumah untuk ke tempat penjual makanan yang terletak di jalan yang lebih besar. Bukan jalan raya, tapi masih lingkungan perkampungan rumah dengan lebar jalan yang jauh lebih besar dan banyak deretan berbagai jenis ruko yang menjual keperluan keseharian warga perkampungan. Ternyata jalan besar terdekat rumah saya sangat ramai. Motor-motor berlalu lalang. Jaklingko masih beroperasi. Anak-anak berlarian, main sepeda, dan saling tertawa. Toko-toko ramai oleh pembeli dan orang-orang yang duduk untuk sekadar mengobrol tentang listrik yang padam.

Di sini saya merasakan suasana malam masih seperti malam-malam biasanya ketika listrik tidak padam. Di sini saya menyadari bahwa perekonomian di sekitar saya masih berjalan dengan baik, setidaknya untuk kalangan rakyat kecil seperti jual beli antar di permukiman warga walapun beberapa perusahan seperti KAI tidak beroperasi karena padamnya listrik. Saya juga menyadari meskipun listrik padam, anak-anak tetap bahagia dan bermain dengan imajinasi mereka. Masih banyak suara anak-anak tertawa dan bercanda. Saya lalu tersadar walau listrik padam, setiap rumah yang tanpa cahaya malam itu masih diisi oleh keluarga yang utuh, saling berbincang satu sama lain –yang mugkin akan jarang dilakukan kalau listrik tidak padam.

Di tempat lain, di negara-negara berkonflik dan sedang melewati masa peperangan, listrik padam diiringi degan suara-suara dentuman bom dan senapan. Perekonomian tidak berjalan dan untuk makan mungkin hanya bisa menunggu bantuan dari relawan perang. Tawa anak-anak, mungkin hampir tidak dapat ditemukan. Mereka mungkin hanya punya dua pilihan, menangis atau diam di tengah gelap, dingin, dan lapar. Di daerah terkena bencana, setiap orang pasti banyak yang terpisah dengan keluarganya di tengah kegelapan, karena sangat mungkin menyelamatkan diri sendiri menjadi pilihan satu-satunya untuk bertahan hidup. Dan di pedalaman, harapan aliran listrik lebih kepada untuk akses kesehatan dan belajar, bukan sekadar untuk mengisi daya hape dan laptop untuk mengirim status di sosial media seperti kita penduduk ibukota.

Banyak lagi hal yang menyadarkan saya bahwa masih banyak sekali hal yang seharusnya saya syukuri dari padamnya listrik semalam.


Photo by Dil Emcot on Unsplash.com
Semakin lama saya di luar rumah dan melihat sekitar saya lebih dekat, semakin banyak alasan saya untuk bersyukur walaupun di tengah gelap. Alhamdulillah, listrik hanya padam untuk sementara, bukan untuk waktu jangka panjang atau selamanya. Alhamdulillah, listrik padam untuk sementara dan masih sedang diperbaiki oleh ahlinya, bukan karena peperangan, kekurangan, atau bencana. Alhamdulillah, listrik padam hanya sementara dan saya masih bisa bersama dengan keluarga dengan kondisi sehat wal afiat dan bahagia. Alhamdulillah.

Belajar dari padamnya listrik selama belasan jam kemarin, mungkin kita perlu sesekali meninggalkan salah satu nikmat teknologi yang Allah SWT Berikan, agar kita bisa lebih dekat dengan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kita tapi selama ini menjauh karena teknologi-teknologi yang kita punya. Mungkin kita perlu sedikit mendekat dengan lingkungan kita, tidak hanya menghadirkan jasad tapi juga hati dan pikiran kita, agar kita bisa melihat betapa nikmatnya hal-hal kecil yang ada di sekitar kita dan jarang sekali kita syukuri. Mungkin sesekali kita perlu menakar nikmat dengan melihat kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi pada kita sebagaimana saudara-saudara kita di tempat pengungsian peperangan, bencana, atau yang tinggal di pedalaman.

Alhamdulillah, listrik padam hanya untuk sementara tapi syukur kita harus tetap menyala.

Lisfatul Fatinah Munir | 05 Agustus 2019
05 August 2019
Posted by Fatinah Munir

My Hijab Story: Peduli Jilbab dan Peduli Masa Depan Muslimah



Sharing section with Britzone Community. Photo's taken by committee.
"Gaining knowledge is the first step to wisdom. Sharing it is the first step to humanity."
- Unkown

Teringat tugas menentukan divisi pilihan yang belum dikerjakan sampai saat ini. Saya coba memikirkan apa yang kiranya bisa saya berikan.

Sejenak saya mengevaluasi keberadaan diri saya di WhatsApp Grup Peduli Jilbab yang ternyata membuat saya tersadar bahwa banyak sekali muslimah-muslimah yang punya semangat tinggi untuk tetap produktif, berbagi, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tidak hanya dari kalangan mahasiswa yang sedang mencari jati diri ataupun menikmati masa-masa menjalankan passion, banyak juga muslimah yang pekerja publik dan  muslimah pekerja domestic (ibu rumah tangga) yang tetap memilih sibuk memberikan manfaat kepada umat di tengah kesibukan dan kewajiban yang sudah dimiliki.

Selama membaca setiap percakapan dan perkenalan di WAG, diam-diam saya bangga kepada mereka yang ada di sana. Kepada perempuan-perempuan muslim yang insya Allah tidak diragukan lagi kemampuan, potensi, dan kecerdasannya. Seperti ada harapan yang tidak padam atas masa depan Islam dan negara tercinta di tangan mereka sebagai muslimah, ibu dan calon ibu yang kelak atau sedang mendidik anak-anaknya, calon-calon pemimpin dan kebanggaan Islam untuk menebarkan Rahmat Islam kepada banyak orang. Saya berharap sekali keshalehan, kebaikan-kebaikan, dan kecerdasan dari mereka bisa tertular kepada saya yang biasa-biasa saja.

Photo by Liana Mikah on Unsplash.com

Berkontemplasi


Mencoba merenungkan apa-apa yang sudah saya lewati, sepertinya akan lebih adil untuk diri saya dan Peduli Jilbab, agar hal-hal yang saya lakukan tidak hanya sekadar karena saya ingin tetapi karena memang saya memiliki potensi dan mampu berdaya di dalamnya. Saya pun menengok kembali ke dalam diri saya sendiri, mengevaluasi siapa saya, apa yang telah saya lakukan sebelumnya, kekuatan dan kelemahan yang saya punya, dan alasan saya memutuskan berada di Peduli Jilbab.

Setelah berkontemplasi dengan diri sendiri, saya menemukan kalau saya lebih senang melakukan aktivitas belajar mengajar, berbagi ilmu, dan manajemen.. Sebab itu saya senang mengobservasi dan mengintervensi anak, meneliti, dan terlibat dalam aktivitas kependidikan. Misalnya beraktivitas dalam lingkup komunitas pendidikan, pengembangan diri, dan kerelawanan dalam bidang pendidikan dan kesejahretaan anak.

Memilih


Berkontemplasi dan melihat Peduli Jilbab secara keseluruhan, mulai dari program dan budaya keorganisasian di dalamnya, saya melihat ada peluang besar saya untuk semakin memfokuskan diri pada kekuatan diri dan kesempatan neyiasati kelemahan yang saya miliki. Bismillah, saya memutuskan untuk menjadi bagian dari tim Jilbab Share bersama dengan Kak Erni.

Di dalam tim Jilbab Share ini insya Allah saya akan membantu dalam projek berbagi ilmu dengan sesama muslimah. Mengingat kembali rencana-rencana yang ingin dilakukan bersama Peduli Jilbab di tulisan sebelumnya, sepertinya semua rencana itu akan terealisasikan jika saya bergabung dalam tim Jilbab Share.

Alasan lainnya dari memilih Jilbab Share adalah saya berharap dengan adanya berbagai edukasi untuk muslimah terkait ilmu keduniaan dan akhirat bisa membuat saya dan saudara-saudara muslimah lainnya menjadi perempuan yang tidak hanya shalehah dan unggul dalam ketaatan tetapi juga berwawasan luas dan layak menjadi (calon) pendidik utama untuk generasi Islam ke depannya. Lebih jauh lagi, saya juga berharap dengan bergabungnya saya di tim Jilbab Share menjadi titik awal untuk memperlihatkan kepada banyak orang yang menganggap perempuan muslim adalah perempuan-perempuan yang memiliki banyak keterbatasan, bahwasanya Islam itu luas dan memberikan Rahmat yang luas pula ke kehidupan kita. Salah satunya melalui aturan-aturan yang Islam punya untuk perempuan muslimah, agar setiap muslimah tidak hanya tumbuh menjadi perempuan yang cantik dan menarik secara fisik, tetapi juga secara sikap, sifat, dan kecerdasannya.

Bismillah!


"Sharing knowledge is not about giving people something, or getting something from them. That is only valid for information sharing. Sharing knowledge occurs when people are genuinely interested in helping one another develop new capacities for action; it is about creating learning processes."
- Peter Senge

Lisfatul Fatinah Munir | 30 Juli 2019



30 July 2019
Posted by Fatinah Munir

Circle Support untuk Individu Berkebtuhan Khusus

Sejak lahir, manusia secara alamiah akan membentuk lingkaran-lingkaran hubungan dengan sekitarnya. Mulai dari hubungan yang terikat kekeluargaan, hubungan pertemanan, hingga hubungan yang terbentuk karena kepentingan kedua pihak. Berbagai jenis lingkaran hubungan ini, tanpa kita sadari, walaupun terjadi secara natural tetapi membutuhkan kemampuan untuk membentuknya. Beberapa kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan kognitif, sosial skills, dan life skills.


Pada individu berkebutuhan khusus, kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan untuk membentuk lingkaran-lingkaran hubungan kerap kali menjadi hambatan bagi mereka. Atau pada teman-teman yang tidak memiliki kendala di kemampuan kognitifnya seperti teman-teman dengan hambatan fisik, self-esteem atau kepercayaan diri menjadi hambatan lainnya.  Karena berbagai hambatan tersebut, lingkaran hubungan yang umumnya untuk saling mendukung, memenuhi kebutuhan dasar sebagai manusia, dan salah satu sarana mengaktualisasikan diri menjadi lingkup yang sangat sulit dicapai oleh teman-teman bekebutuhan khusus. Dampaknya adalah teman-teman berkebutuhan khusus semakin sulit mendapatkan hak-haknya sebagai bagian dari komunitas di mana mereka berada.

Photo by Jon Tyson on Uns[lash.com

Judith Snow dan Circle Support


Pada tahun 1980-an (beberapa sumber menyebut di akhir 1970-an), seorang wanita berkebutuhan khusus menyadari hal ini. Judith Snow namanya. Judith adalah wanita asal Toronto, Kanada. Saat mencanangkan idenya, Judith sedang bekerja sebagai Direktur divisi Centre for Handicapped Students (Pusat Layanan Mahasiswa Berkebutuhan Khusus) di York University, Toronto. Sebagai wanita pengguna kursiroda, Judith mengkhawatirkan dukungan yang diberikan oleh lingkungannya kepada teman-teman berkebutuhan khusus seperti dirinya. Judith dibantu temannya yang bernama Marsha Forest dan Jack Pearpoint akhirnya mencetuskan idenya yang bernama “Circle Support”, yakni sebuah konsep lingkarang hubungan yang dimiliki individu berkebutuhan khusus.

Circle Support dibentuk untuk memetakan ruang lingkup hubungan intrapersonal individu berkebutuhan khusus. Melalui Circle Support ini Judith berharap ke depannya berbagai bantuan yang dibutuhkan individu berkebutuhan khusus dapat terpetakan dengan baik dan orang-orang awam akan mudah memahami bagaimana cara membantu mereka. Dengan kata lain, Circle Support adalah kelompok-kelompok yang dibentuk untuk membantu individu berkebutuhan khusus ketika dibutuhkan dan lebih jauhnya adalah untuk membantu individu berkebutuhan khusus mencapai tujuan hidup mereka. Judith menbagi Circle Support menjadi empat bagian, yaitu Circle of Intimacy, Circle of Friendship, Circle of Participation, dan Circle of Exchance.

Circle of Intimacy

Pada intinya, lingkaran ini hanya bisa dibentuk oleh hal-hal yang kita cintai. Di sinilah lingkup hubungan individu berkebutuhan khusus dengan hal-hal yang membuat mereka merasa tidak ragu berbagi hal-hal rahasia, nyaman, dan aman secara emosional. Yang ada pada Circle of Intimacy biasanya adalah orang atau benda yang kehadirannya dianggap penting secara emosional oleh individu berkebutuhan khusus. Anggota keluarga bisa menjadi salah satu bagian dari Circle of Intimacy, tapi tidak selalu. Hal ini dikarenakan pada individu yang memiliki gangguan neurodevelopment kerap kali menjadikan benda tertentu menjadi hal yang lebih berharga daripada orang.

Circle of Friendship

Lingkaran ini biasanya dibentuk oleh orang-orang yang kita ingin menghabiskan waktu-waktu tertentu dengannya. Misalnya orang-orang yang kerap ingin kita ajak makan bersama, pergi ke bioskop, atau melakukan aktivitas hobi bersama-sama. Orang-orang yang ada di lingkaran ini biasanya teman-teman dari individu berkebutuhan khusus, tapi bukan teman-teman yang sangat dekat dengan mereka.

Circle of Participation

Lingkaran yang satu ini dibentuk oleh kenalan-kenalan individu berkebutuhan khusus dari berbagai lingkungan atau bidang di mana mereka berpartisipasi. Misalnya lingkungan perkenalan di tempat belajar (sekolah atau kampus), tempat kerja, tempat ibadah, organisasi, atau komunitas hobi yang diikuti oleh individu berkebutuhan khusus. Orang-orang yang ada di lingkaran ini mungkin saya bukan orang-orang yang cukup dekat dengan mereka, tapi tidak memungkinkan orang yang ada di Circle of Participation ini juga termasuk dalam Circle of Friendship atau Circle of Intimacy.

Circle of Exchange

Lingkaran ini terdiri dari orang-orang yang sengaja dibayar untuk ada dalam kehidupan individu berkebutuhan khusus. Beberapa contohnya adalah guru pendidikan khusus, terapis, psikolog, dokter, penata rambut, dan sebagainya. Jadi hubungan yang ada di lingkaran ini adalah murni karena adanya aktivitas transaksional atas kebutuhan masing-masing.

Photo by Tim Marshall on Unsplash.com

Yang perlu dipahami dari Circle Support di atas adalah keempatnya bukanlah lingkungan fisik yang bisa ada begitu saja. Keempat jenis Circle Support ini merupakan lingkungan nonfisik alias hubungan yang hanya bisa dibentuk oleh setiap individu itu sendiri.

Nah, permasalahannya adalah kalau kita perhatikan, umumnya individu berkebutuhan khusus hanya memiliki lingakaran hubungan yang pertama keempat, yaitu Circle of Intimacy dan Circle of Exchange. Khususnya pada Circle of Exchange, bisa dibilang setiap individu berkebutuhan khusus secara otomatis akan masuk dalam lingkaran ini. Lalu bagaimana dengan lingkarang hubungan kedua dan ketiga? Di sinilah Judith melihat kebutuhan individu berkebutuhan khusus belum sepenuhnya terpenuhi di kedua lingkaran ini.

Ada banyak faktor yang menyebabkan begitu sedikit individu berkebutuhan khusus yang mampu mencapai Circle of Frienship dan Circle of Participation. Beberapa alasannya sudah saya tuliskan di awal, yakni kemampuan kognitif yang minim pada beberapa jenis gangguan, kurangnya kesempatan bekerja, buruknya akses ke lingkungan sosial termasuk ke lingkungan keagamanaan, ataupun minimnya jaringan untuk terlibat dalam komunitas sehobi ataupun pengaktualisasian diri.

Kurangnya akses untuk memiliki Circle of Friendship dan Circle of Participation ternyata juga dapat memberikan pengaruh buruk atas kondisi Circle of Intimacy, sehingga semua kebutuhan yang ada di Circle of Friendship dan Circle of Participation dituangkan di Circle of Intimacy. Hal ini membuat orang-orang yang ada di Circle of Intimacy harus menjadi satu-satunya tempat individu berkebutuhan khusus bergantung. Dampaknya yang sering kita lihat adalah individu berkebutuhan khusus seperti hanya memiliki dua arah hubungan eksternal yakni hanya ke rumah, ke keluarga Circle of Intimacy mereka, dan ke tempat sekolah atau terapi, di mana mereka bertemu dengan orang-orang yang dibayar untuk membantu mereka dalam Circle of Exchange.

Lalu bagaimana ke depannya agar individu berkebutuhan khusus bisa memiliki keempat Circle Support secara utuh?

Pastinya dengan membuka akses atau kesempatan untuk setiap individu agar terlibat dalam lingkungan sosial kita, sehingga mereka bisa menikmati lingkaran pertemanan dan keikutsertaan dalam aktivitas sosial sebagaimana dalam Circle of Friendship dan Circle of Participation.

Lisfatul Fatinah Munir | 28 Juli 2019

29 July 2019
Posted by Fatinah Munir
Tag :

You are The

Hallo Happy Readers!

Hallo Happy Readers!
Selamat datang di blog pribadi saya. Di blog ini teman-teman akan membaca tulisan-tulisan saya seputar pendidikan, kedisabilitasan dan inklusivitas, pengalaman mengajar, dan tulisan-tulisan lainnya yang dibuat atas inspirasi di sekitar saya. Semoga tulisan dalam blog ini bermanfaat dan menginspirasi pada kebaikan. Selamat membaca!

Contact Me

@fatinahmunir

fatinahmunir@gmail.com

Educator | Writer | Adventurer

Berbakti | Berkarya | Berarti

My Friends

- Copyright © Fatinah Munir -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -